Share

Bab 253

Author: BELLA
"Nggak apa-apa," kataku dengan suara serak, lalu berpamitan. "Aku pergi sebentar."

Aku memasang senyum saat berjalan keluar dari ruang pesta, lalu keluar ke lorong belakang yang mengarah ke tangga. Peralihan dari pesta yang meriah ke lorong yang sepi sangat mengejutkan.

Aku mengerutkan dahi. Di sini ada lift, tidak ada yang pernah menggunakan tangga, jadi apa masalahnya? Ruang percetakan dan ruang istirahat di sini juga jarang digunakan, tetapi aku tetap melangkah melalui lorong.

Mungkin ada masalah dengan mesin cetak? Mungkin salah satu anggota tim administrasi baru membutuhkan suatu bantuan di belakang sini? Namun, kenapa harus aku? Kenapa bukan Rachel atau manajer pemasaran utama?

Saat aku membuka pintu ruang percetakan, jari-jari hangat melingkari pergelangan tanganku yang satunya dan menarikku ke arah yang berlawanan.

Gerakan itu cepat dan lembut, tetapi hampir membuatku jantungan.

Saat pintu ruangan yang aku masuki terhempas tertutup, aku menoleh begitu cepat sehingga leherku ham
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 254

    Sudut pandang Anastasia:Ya Tuhan! Aku tahu tidak seharusnya kutinggalkan Amie untuk acara sebodoh ini."Aku datang sekarang," ucapku terbata-bata kepada Clara, suaraku bergetar karena khawatir. Kemudian, aku berbalik begitu saja dan hampir menabrak Aiden yang sudah ada di sampingku."Ada masalah?" tanya Aiden, tepat saat panggilan telepon itu tiba-tiba terputus.Aku meraih tas dari sofa, terburu-buru membuka kaitnya. Kemudian, aku berjalan ke pintu sambil menggumamkan sesuatu seperti, "Aku permisi dulu."Kemudian, aku berlari keluar tanpa menoleh lagi. Tenggorokanku serasa tercekik saat aku terus menelepon nomor Clara. Kenapa panggilan itu tiba-tiba terputus?"Ana?" Rachel tiba-tiba ada di depanku dan aku hampir menjatuhkan nampan yang ada di tangannya. Gelas-gelas di atasnya bergetar.Aku mengalihkan pandanganku dari ponselku ke wajahnya. Matanya penuh keingintahuan, fokus menatap wajahku. Matanya lebar dengan kekhawatiran, mencari jawabanku."Kamu nggak apa-apa? Mau ke mana?" tanya

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 255

    "Nggak akan terlambat, taksiku dalam perjalanan," ucapku berbohong, kata-kata itu terasa pahit di lidahku."Kamu sudah di luar lebih dari lima menit," ungkap Aiden. "Berapa lama lagi taksinya sampai?" tanyanya, mengangkat alis saat mengatakan 'taksi'."Satu menit. Dua menit?" Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. "Taksinya segera sampai.""Jangan bodoh! Ana, naiklah ke mobilku! Aku nggak tahu kondisi darurat apa yang kamu hadapi, tapi kalau kamu keluar dengan terburu-buru seperti itu, jelas itu sangat penting." Suaranya sedikit meninggi.Aku menggertakkan gigi dan menggenggam ponselku lebih erat."Baiklah!" geramku sambil berlari mengelilingi mobil untuk masuk ke kursi penumpang depan."Kita mau ke mana?" tanyanya, pandangannya lurus ke depan, tangannya menggenggam setir.Aku mengernyit. Kenapa dia harus mengatakan 'kita'?"Aku mau ke RS Drey," jawabku sambil memastikan bahwa kata 'aku' terdengar jelas untuk menyampaikan pesan yang tepat.Aku melihat bibirnya bergerak-gerak da

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 256

    Sudut pandang Anastasia:"Kamu lupa ini.""Oh!" Aku mengeluarkan suara tinggi. "Terima kasih." Kemudian, aku merebut benda itu dari tangan Aiden.Kenapa aku merebut seperti itu? Aku mengomeli diriku sendiri dalam hati, tetapi Aiden bahkan tidak tampak memperhatikan karena dia tidak melihat ke arahku lagi.Apakah Aiden mendengar ucapan Amie? Aku bertanya-tanya sambil memicingkan mata ke sisi wajahnya saat dia menatap Clara yang berjalan cepat memasuki rumah sakit bersama Amie yang aman di pelukannya. Aku tidak bisa memastikan siapa yang ditatapnya dan itu membuatku makin khawatir.Namun, aku mencoba menenangkan pikiranku. Aiden tidak tampak seperti telah mendengar sesuatu. Amie masih linglung dari tidur selama perjalanan, jadi suaranya tidak keras. Aiden tidak mendengar, 'kan? Pasti tidak. Aku hanya paranoid akibat semua skenario bagaimana Aiden menemukan Amie yang sudah kuciptakan dalam kepalaku selama perjalanan ini.Aku mengikuti arah pandangan Aiden yang masih terpaku dan aku terbaw

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 257

    Saat kami berjalan, aku tidak bisa mengabaikan betapa sepinya rumah sakit pada jam-jam seperti ini. Hanya terdengar suara gemuruh mesin dan bisikan percakapan yang samar-samar, mengisi keheningan yang ada.Dokter mempersilakan kami masuk, lalu dia menunjuk kursi dan tersenyum. "Selamat malam.""Selamat malam, Dokter," jawab Clara dan aku serentak.Setelah duduk, aku langsung memulai pembicaraan. "Jadi, Amie kenapa? Temanku ini bilang bahwa Amie diopname untuk beberapa tes." Aku maju sedikit lebih dekat ke meja dan duduk di ujung kursi. "Dia baik-baik saja tadi pagi. Apa ada yang serius dengan kondisinya?"Dokter menggelengkan kepala. "Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Saat ini, gejalanya mengarah pada flu biasa, tapi bisa jadi lebih dari itu, jadi kami akan melakukan beberapa tes untuk memastikan semuanya aman."Aku merasakan Clara memberi pelukan empati di bahuku saat mendengarkan penjelasan dokter. Kehadirannya memberikan rasa nyaman, mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian me

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 258

    Sudut pandang Aiden:Aku kesulitan untuk tetap fokus di jalan. Mataku tertuju kepada jalan yang remang-remang di depan, tetapi yang kupikirkan dan kubayangkan hanya Anastasia. Garis-garis kuning itu kabur saat pikiranku melayang mengingat momen-momen dari masa lalu kami dan membayangkan apa yang bisa saja terjadi.Aku berharap bisa kembali ke sana dan tinggal bersamanya. Aku berharap bisa menariknya ke pelukanku dan mengatakan betapa aku merindukannya, sekaligus mengomel tentang betapa marahnya aku karena dia bahkan tidak mau repot-repot memberikan penjelasan.Tanganku menggenggam kemudi lebih erat saat aku berjuang melawan dorongan untuk memutar balik mobil dan kembali ke Anastasia.Aku ingin menciumnya dan memberitahunya bahwa ketika dia dahulu pergi, dia telah membawa sebagian dari diriku. Sakit di dadaku terasa sama segarnya seperti lima tahun yang lalu, sebagai pengingat terus-menerus akan kekosongan yang ditinggalkannya.Setiap lagu di radio sepertinya berbicara tentang cinta yan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 259

    Aku berharap Anastasia akan datang ke pesta dan hampir saja meminta manajerku untuk menjadikan pesta itu wajib bagi semua karyawan yang masih dipertahankan, tetapi aku menahan diri. Aku tidak ingin memaksakan sesuatu.Aku memutuskan untuk menunggu dan melihat apakah dia akan datang. Jika iya, bagus, aku akan berbicara dengannya di pesta. Jika tidak, aku akan membicarakannya di tempat kerja.Namun, dia datang. Aku melihatnya begitu dia masuk ke ruangan, menerangi tempat itu dengan kehadirannya yang memukau. Saat aku melihatnya berdiri di pintu masuk dan mengagumi perubahan besar di ruangan yang tadinya adalah area resepsionis, aku menahan diri untuk tidak berlari ke arahnya dan memeluknya.Aku tidak yakin bagaimana reaksinya jika aku mencoba berbicara dengannya di depan orang banyak. Sejauh yang aku tahu, Ana yang aku kenal dahulu tidak akan ragu untuk melemparkan minumannya ke wajahku meskipun aku adalah bosnya. Jadi, aku mengirim salah satu pelayan untuk memanggilnya.Namun, Ana tidak

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 260

    Sudut pandang Anastasia:Ya Tuhan, tidak.Tidak.Aku terus mengulang kata-kata itu dalam pikiranku saat air mata jatuh dari mataku ke telapak tangan dan membasahi sela-sela jari-jariku.Bukan Amie-ku. Bukan dia. Gadisku yang sangat kucintai, yang memiliki tawa yang menular dan energi tanpa batas. Bagaimana ini bisa terjadi?Aku masih menundukkan kepala ketika dokter mulai berbicara dengan penuh simpati dan secara profesional."Aku paham bahwa kabar ini sangat berat, Bu Anastasia. Aku ingin Ibu tahu bahwa kami memiliki tim berdedikasi yang siap membantu dan membimbing Ibu melalui proses perawatan ini."Pikiranku merasa asing dengan kata-katanya, seolah-olah bahasa yang tidak bisa aku mengerti sedang diucapkan kepadaku. Aku ingin mengangkat kepalaku dan bertanya bagaimana mungkin anak perempuan lima tahunku bisa didiagnosis dengan penyakit seperti ini.Mungkin ada kesalahan di suatu tempat.Namun, aku bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Jika aku mencoba berbicara, aku hanya a

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 261

    Aku berdengus. "Terima kasih, Dokter." Aku membungkuk sedikit, lalu bertanya lagi, "Lalu, setelah perawatan dan terapi, bagaimana prognosisnya? Apa dia akan baik-baik saja?""Tentu saja, dia akan baik-baik saja. Selama dia mendapatkan perawatan dan pengobatan yang memadai, dia akan baik-baik saja dan sehat total saat perawatannya selesai."Jawaban dokter itu memberiku harapan, tetapi memikirkan Amie harus menjalani semua perawatan dan terapi itu membuat hatiku patah lagi.Setelah beberapa kalimat panjang penuh dorongan dan jaminan bahwa Amie akan baik-baik saja setelah perawatan selesai, aku berterima kasih kepada dokter dan keluar ke lorong.Saat berjalan menuju ruangan Amie, aku tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir di pipiku, juga tidak bisa menghentikan isak tangisku.Aku berhenti di depan pintu kamar Amie dan berusaha menghentikan air mataku. Aku menghabiskan beberapa detik mengusap air mata yang terus mengalir sambil terisak pelan. Akhirnya, aku tidak merasakan lagi jeja

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status