Ibu yang selalu lembut dalam ingatannya, tiba-tiba mengangkat kepala menatapnya dengan wajah penuh luka berdarah. Dia bertanya pada Aura, mengapa Aura mengakui musuhnya sebagai ibu.Aura tersentak dan terbangun dari tidurnya."Ah ...." Dia menghela napas pelan, lalu membuka mata dan mendapati Lulu sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Aura, kamu kenapa?"Aura terdiam sejenak. Kemudian, dia baru menyadari bahwa yang tadi itu hanyalah mimpi. Hanya saja, meskipun itu cuma mimpi, dadanya tetap terasa sesak."Kenapa kamu bisa ke sini?" tanyanya.Sambil menuangkan air panas ke dalam gelas, Lulu menjawab, "Tadi aku telepon kamu, yang angkat suster. Katanya kamu dirawat, jadi aku langsung datang."Aura hanya mengangguk dan menerima air dari Lulu. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Masalah aku dirawat ini, jangan beri tahu siapa pun."Lulu mengangkat alisnya sedikit. "Aku dengar dari suster, yang ngantar kamu ke sini adalah pria yang sangat tampan. Tapi sepertinya bukan Daffa, ya?
"Hari ini hari bahagiamu, adikmu bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap. Katanya nggak mau buat kamu malu." Serra menarik Aura maju, lalu berkata dengan ramah pada Donna, "Besan, mulai sekarang Aura kami serahkan padamu. Aku benar-benar tenang kalau dia ada di tanganmu."Nada bicaranya begitu akrab, seolah-olah sia benar-benar ibu kandung Aura. Donna tidak menanggapinya dan hanya menoleh ke arah lain.Sebagai sahabat dari mendiang ibu kandung Aura, Donna memang tidak pernah menyukai Serra sejak awal. Dalam situasi seperti ini pun, tidak langsung menyindir Serra saja sudah termasuk sangat berbaik hati.Melihat Serra agak canggung, Aura pun tersenyum dan menambahkan, "Ibu kandungku dan ibu Daffa itu sahabat dekat sejak dulu. Jadi ... kurasa Anda nggak usah khawatir."Aura sengaja menyebut ibunya, semata-mata untuk membuat Serra merasa tidak nyaman. Benar saja, ekspresi Serra langsung berubah. Senyum ramah yang tadi dibuat-buat nyaris tidak bisa dipertahankan.Saat itu pula, Daffa membuka pi
Aura menoleh dan melirik ke arah Ghea. Gadis itu mengangkat dagunya dengan sikap menantang, lalu berkata, "Kak, aku juga nggak ada kegiatan sore ini. Ayah minta aku menemani kalian belanja.""Nggak merasa terganggu, 'kan?"Aura menatapnya melalui kaca spion. Saat menangkap tatapan penuh rasa iri dari wajah Ghea, dia tersenyum sinis. "Tahu itu mengganggu tapi masih nekat ikut. Kulit wajahmu memang tebal."Ucapan Aura memang selalu blak-blakan mempermalukan seseorang. Ghea tercekat dan tidak bisa membalasnya.Aura kemudian mengangkat tangan untuk melihat kukunya yang baru saja dirapikan, lalu berkata, "Tapi kalau kamu memang mau ikut, ya silakan saja."Di sisi lain, Daffa sebenarnya tidak ingin Ghea ikut serta. Namun, karena Aura sudah bicara begitu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya, dia hanya diam dan mulai menyalakan mobil.Sepanjang perjalanan, Ghea duduk di kursi belakang sambil menatap Aura dengan penuh rasa dengki. Dia benar-benar iri.Terutama saat melihat Daffa yang
Sudut bibir Aura menyunggingkan senyuman. "Hari ini nggak ada kegiatan, jadi aku mampir untuk lihat Daffa lagi ngapain."Begitu dia selesai bicara, Donna tampak sedikit tersendat. Aura tahu, kemungkinan besar Daffa memang belum pulang.Benar saja, Donna menariknya duduk di sofa dan berkata, "Tadi malam ada urusan kantor, ayahnya suruh dia lembur. Jadi sampai sekarang belum pulang. Kamu duduk dulu ya, biar aku telepon Daffa sebentar."Lembur?Yang disebut "lembur" itu kalau Daffa dan Ghea sedang "bekerja keras" di ranjang. Melihat Ghea juga tidak pulang semalam, sepertinya mereka cukup menikmati malamnya.Wajah Aura tetap tenang saat menampilkan sosok calon menantu yang manis dan lembut. "Nggak masalah, Ibu. Kalau Daffa memang sedang sibuk urusan kantor, nggak usah diganggu."Dia menoleh ke sekeliling, lalu berkata seolah tanpa maksud, "Kalau begitu, boleh aku menunggu di kamar Daffa saja?"Sejak kecil, Aura memang sering berkunjung ke rumah Keluarga Santosa, jadi dia sangat akrab denga
Di dalam lingkaran sosial mereka, semua orang tahu bahwa Aura Tanjung adalah anjing penjilat Daffa Santosa. Wanita ini selalu bersikap rendah diri di hadapan Daffa.Jadi, ketika Aura mengenakan gaun seksi dan mengetuk pintu kamar hotel Jose Alatas, pria itu pun mengangkat alisnya dengan heran."Kamu nggak takut Daffa tahu?" tanya Jose.Aura terkekeh-kekeh sinis, lalu menarik Jose dan menciumnya dengan penuh inisiatif, bahkan terlalu berani. Tercium aroma samar tembakau yang cukup wangi.Semua orang tahu Jose adalah seorang ahli dalam urusan ini. Aura memilihnya bukan tanpa alasan. Pertama karena latar belakang dan kemampuan Jose yang jauh lebih hebat daripada Daffa, jadi ini cukup untuk membuat Daffa marah.Kedua karena Jose adalah tipe pria yang tidak pernah mempertahankan seorang wanita lebih dari sebulan. Habis manis sepah dibuang!Aura yakin dengan tubuh dan parasnya. Jadi, ketika dia tahu Daffa berselingkuh dengan adik tirinya, dia segera mencari Jose.Bukankah Daffa selalu menyom
Kemudian, Aura membuka pesan dari Lulu.[ Tsk, kamu belah duren sama Daffa? Bukannya kamu bilang mau tunggu sampai nikah? ]Aura tertawa ringan dan membalas.[ Siapa bilang itu Daffa? Jangan bicara seolah-olah aku ini nggak laku. ]Begitu pesan itu terkirim, Lulu langsung menelepon. Segera, terdengar jeritan yang nyaring. "Serius, Aura? Akhirnya kamu sadar? Kamu beneran ninggalin Daffa si anjing itu?"Lihatlah, semua orang bisa melihat bahwa Daffa adalah pria berengsek. Dulu, Aura memang telah dibutakan oleh cinta karena selalu merasa Daffa berbeda dari pria lain.Setelah terbangun dari mimpinya, Aura pun menyadari betapa bodohnya dirinya. Namun, semua itu tidak penting lagi.Dia mengangguk ringan. "Ya, biarkan saja. Yang jelas, aku yang ninggalin Daffa."Daffa paling peduli soal harga dirinya. Aura ingin memastikan pria itu kehilangan muka di lingkaran sosial mereka."Terus, siapa pria itu?" tanya Lulu.Aura mengusap bahunya yang terasa pegal. "Aku balik dulu, mau ganti baju. Nanti ki
Daffa segera menangkap Ghea yang hampir jatuh, sementara Aura bahkan tidak melihat ke arah mereka dan langsung pergi. Hanya dengan melihat mereka berdua, dia sudah merasa muak.Saat Aura melangkah keluar, teriakan Anrez terdengar dari belakang. "Aura, kembali ke sini! Siapa pria yang bersamamu itu?"Lihatlah, ayah kandungnya selalu fokus pada kesalahannya. Saat dia mengatakan Ghea dan Daffa berpelukan dan berciuman, pria itu seperti tuli.Namun, Aura sudah terbiasa. Sejak 5 tahun lalu saat ibu tirinya membawa Ghea masuk ke rumah ini, dia sudah tidak punya tempat lagi di sini.Kalau bukan karena takut barang-barang peninggalan ibunya dihancurkan oleh orang-orang ini, Aura pasti tidak mau menginjakkan kakinya di rumah ini.Setelah menenangkan emosinya, Aura sampai di kantor. Lulu langsung menghampiri. "Aura, klien sudah datang. Bosnya sendiri yang hadir, kelihatannya mereka benar-benar mementingkan kerja sama kali ini.""Mereka secara khusus memintamu yang memimpin pembicaraan. Semangat!
Di dalam mobil, Aura kembali mengoleskan lipstik agar wajahnya yang agak pucat terlihat lebih segar.Setengah jam kemudian, taksi yang dia tumpangi berhenti di depan kelab bernama Allure. Dengan sepatu hak tingginya, dia masuk dan mendorong pintu ruang privat. Begitu pintu terbuka, tampak pria dan wanita yang berpelukan, juga terdengar nyanyian bercampur dentingan gelas.Aroma kuat dari asap rokok bercampur alkohol dan parfum langsung menusuk hidungnya, membuatnya terbatuk kecil. Matanya segera mencari sosok Efendi di dalam ruangan.Namun, bukan Efendi yang dia lihat, melainkan Daffa yang bersandar di sofa. Pria itu duduk dengan posisi miring, terus-menerus menuangkan alkohol ke mulutnya tanpa henti.Aura menggigit bibir dan mengumpat dalam hati, 'Sial sekali.'Dia tahu Efendi sengaja bekerja sama dengan Daffa untuk memancingnya ke sini. Hal ini benar-benar membuatnya marah.Saat Aura berbalik untuk pergi, Daffa sudah lebih dulu melihatnya. Mata pria yang tadinya redup langsung berbina
Sudut bibir Aura menyunggingkan senyuman. "Hari ini nggak ada kegiatan, jadi aku mampir untuk lihat Daffa lagi ngapain."Begitu dia selesai bicara, Donna tampak sedikit tersendat. Aura tahu, kemungkinan besar Daffa memang belum pulang.Benar saja, Donna menariknya duduk di sofa dan berkata, "Tadi malam ada urusan kantor, ayahnya suruh dia lembur. Jadi sampai sekarang belum pulang. Kamu duduk dulu ya, biar aku telepon Daffa sebentar."Lembur?Yang disebut "lembur" itu kalau Daffa dan Ghea sedang "bekerja keras" di ranjang. Melihat Ghea juga tidak pulang semalam, sepertinya mereka cukup menikmati malamnya.Wajah Aura tetap tenang saat menampilkan sosok calon menantu yang manis dan lembut. "Nggak masalah, Ibu. Kalau Daffa memang sedang sibuk urusan kantor, nggak usah diganggu."Dia menoleh ke sekeliling, lalu berkata seolah tanpa maksud, "Kalau begitu, boleh aku menunggu di kamar Daffa saja?"Sejak kecil, Aura memang sering berkunjung ke rumah Keluarga Santosa, jadi dia sangat akrab denga
Aura menoleh dan melirik ke arah Ghea. Gadis itu mengangkat dagunya dengan sikap menantang, lalu berkata, "Kak, aku juga nggak ada kegiatan sore ini. Ayah minta aku menemani kalian belanja.""Nggak merasa terganggu, 'kan?"Aura menatapnya melalui kaca spion. Saat menangkap tatapan penuh rasa iri dari wajah Ghea, dia tersenyum sinis. "Tahu itu mengganggu tapi masih nekat ikut. Kulit wajahmu memang tebal."Ucapan Aura memang selalu blak-blakan mempermalukan seseorang. Ghea tercekat dan tidak bisa membalasnya.Aura kemudian mengangkat tangan untuk melihat kukunya yang baru saja dirapikan, lalu berkata, "Tapi kalau kamu memang mau ikut, ya silakan saja."Di sisi lain, Daffa sebenarnya tidak ingin Ghea ikut serta. Namun, karena Aura sudah bicara begitu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya, dia hanya diam dan mulai menyalakan mobil.Sepanjang perjalanan, Ghea duduk di kursi belakang sambil menatap Aura dengan penuh rasa dengki. Dia benar-benar iri.Terutama saat melihat Daffa yang
"Hari ini hari bahagiamu, adikmu bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap. Katanya nggak mau buat kamu malu." Serra menarik Aura maju, lalu berkata dengan ramah pada Donna, "Besan, mulai sekarang Aura kami serahkan padamu. Aku benar-benar tenang kalau dia ada di tanganmu."Nada bicaranya begitu akrab, seolah-olah sia benar-benar ibu kandung Aura. Donna tidak menanggapinya dan hanya menoleh ke arah lain.Sebagai sahabat dari mendiang ibu kandung Aura, Donna memang tidak pernah menyukai Serra sejak awal. Dalam situasi seperti ini pun, tidak langsung menyindir Serra saja sudah termasuk sangat berbaik hati.Melihat Serra agak canggung, Aura pun tersenyum dan menambahkan, "Ibu kandungku dan ibu Daffa itu sahabat dekat sejak dulu. Jadi ... kurasa Anda nggak usah khawatir."Aura sengaja menyebut ibunya, semata-mata untuk membuat Serra merasa tidak nyaman. Benar saja, ekspresi Serra langsung berubah. Senyum ramah yang tadi dibuat-buat nyaris tidak bisa dipertahankan.Saat itu pula, Daffa membuka pi
Ibu yang selalu lembut dalam ingatannya, tiba-tiba mengangkat kepala menatapnya dengan wajah penuh luka berdarah. Dia bertanya pada Aura, mengapa Aura mengakui musuhnya sebagai ibu.Aura tersentak dan terbangun dari tidurnya."Ah ...." Dia menghela napas pelan, lalu membuka mata dan mendapati Lulu sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Aura, kamu kenapa?"Aura terdiam sejenak. Kemudian, dia baru menyadari bahwa yang tadi itu hanyalah mimpi. Hanya saja, meskipun itu cuma mimpi, dadanya tetap terasa sesak."Kenapa kamu bisa ke sini?" tanyanya.Sambil menuangkan air panas ke dalam gelas, Lulu menjawab, "Tadi aku telepon kamu, yang angkat suster. Katanya kamu dirawat, jadi aku langsung datang."Aura hanya mengangguk dan menerima air dari Lulu. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Masalah aku dirawat ini, jangan beri tahu siapa pun."Lulu mengangkat alisnya sedikit. "Aku dengar dari suster, yang ngantar kamu ke sini adalah pria yang sangat tampan. Tapi sepertinya bukan Daffa, ya?
Mungkin tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih memalukan dari ini. Saat mereka hendak memasuki fase intim, menstruasi Aura datang tepat pada waktunya.Siklusnya memang tidak pernah teratur. Setiap kali datang bulan, rasa sakit di perut bagian bawahnya terasa seperti disayat pisau. Kali ini juga tidak terkecuali.Awalnya Jose mengira dia hanya berpura-pura. Namun, saat tangannya menyentuh kening Aura yang basah oleh keringat dingin, alisnya langsung berkerut."Ada apa?" tanyanya dingin.Padahal baru beberapa menit yang lalu dia masih memburu dan berusaha menaklukkan bak binatang buas. Namun kini, suaranya terdengar jernih dan tenang, sama sekali tidak menyisakan jejak emosi yang tadi sempat membara.Aura menggeliat kesakitan dan tubuhnya meringkuk. Perutnya terasa seperti sedang ditusuk-tusuk dari dalam. Namun di hadapan Jose, dia masih ingin menjaga sedikit harga dirinya.Dengan sisa tenaga yang dia kumpulkan, Aura berbisik, "Aku nggak apa-apa. Pulanglah."Suaranya sangat pelan, se
Jose sengaja menekankan kata "tunangan".Aura mengangkat alis menatapnya. "Pak Jose mau bilang apa?"Jose menyeringai dingin. Dia mematikan rokok di tangannya, lalu melangkah masuk tanpa izin dan mendesaknya. Aura terpaksa mundur dua langkah ke belakang.Rumahnya ini memang tidak besar. Lokasinya di pusat kota, kawasan premium, tapi luasnya tidak sampai 100 meter persegi. Begitu tubuh Jose yang tinggi dan tegap masuk, ruang itu langsung terasa sempit."Aku cuma mau bilang, kamu cukup berani juga."Jose menekan tubuhnya hingga Aura bersandar di dinding. "Bukannya kamu bilang sudah putus sama Daffa?"Aura menatapnya. Dari sudut ini, dia bisa melihat jelas garis rahang pria itu yang tajam. Wajahnya benar-benar terlalu tampan, kulitnya bahkan lebih mulus dari wanita mana pun. Saking mulusnya, Aura nyaris ingin bertanya produk perawatan kulit apa yang digunakannya.Menyadari Aura tidak fokus, Jose mengerutkan kening, lalu mencengkeram dagunya. "Jawab aku."Dalam hati, Aura mendecak. Kalau b
Baru berjalan beberapa langkah, ponsel Aura tiba-tiba berdering. Panggilan itu dari Daffa. Aura menjawab panggilan itu dengan kesal, lalu terdengar suara Daffa yang ragu-ragu, "Halo, Aura ... kamu ke mana?"Nada bicaranya terdengar sangat hati-hati, jelas karena dia sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Aura berusaha menahan diri, lalu menjawab pelan, "Aku minum sedikit tadi, kepala agak pusing. Jadi aku pulang duluan.""Kalian lanjutkan saja acaranya. Selamat bersenang-senang."Daffa terdiam sejenak, lalu kembali bertanya dengan ragu-ragu, "Aura ... kamu marah, ya?""Nggak." Aura menahan perasaan mual yang hampir menyelimuti seluruh tubuhnya. "Sampai ketemu besok. Bukannya besok keluarga kita sudah sepakat mau ketemu untuk membahas prosesi dan lokasi pertunangan?"Mendengar hal itu, Daffa tampak lebih tenang. "Baiklah ... hati-hati di jalan, ya."Aura tidak menjawab, melainkan langsung menutup panggilan begitu saja. Malam sudah cukup larut. Klub ini cukup eksklusi
Daffa menoleh ke sekeliling, lalu suaranya pun melembut. "Sudahlah ... kamu pulang dulu. Nanti kalau sempat, aku cari kamu lagi ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Ghea tiba-tiba melangkah maju dan mencium bibir Daffa. Cahaya lampu taman di malam hari memang redup, tapi Aura tetap bisa melihat semuanya dengan jelas.Aura menggigit bibir bawahnya pelan. Melihat adegan ini lagi, tidak membuatnya marah seperti pertama kali. Yang ada hanya rasa geli.Ciuman itu berlangsung lebih dari satu menit sebelum akhirnya berhenti. Suara Daffa terdengar sedikit serak, "Ghea, kamu gila ya? Jangan seperti ini!""Aku memang gila. Aku takut setelah kamu bertunangan sama Kak Aura, kamu benar-benar akan meninggalkanku."Lalu, dia mulai memainkan drama panas dengan memeluk pinggang ramping Daffa sambil berkata, "Kak Daffa, aku nggak peduli sama status ataupun pandangan orang. Asalkan aku bisa tetap berada di sisimu, itu sudah cukup bagiku.""Tapi aku tahu, kalau aku terus berada di dekatmu, Kak
Aura memicingkan mata menatapnya. "Aku capek. Mau pulang dan istirahat."Begitu selesai bicara, dia langsung berbalik hendak pergi. Namun, Daffa kembali menahan lengannya. Pria itu menundukkan kepala, lalu mendekat ke telinganya dan berbisik, "Aura, anggap saja hargai aku, ya? Lagian kamu sudah sampai sini.""Kamu nggak mau aku jadi bahan tertawaan teman-temanku, 'kan?"Aura mendadak teringat sebuah peristiwa. Saat itu, dia sedang dinas luar kota. Di tengah malam, Daffa menelepon dan mengaku sedang sakit serta merindukannya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung menyetir dua jam pulang hanya untuk menemui Daffa.Lalu, apa yang dia temukan?Daffa sedang berpesta dengan segerombolan teman laki-lakinya yang menyebalkan. Waktu itu, Daffa bilang apa?"Oh, aku cuma mau tunjukkan ke mereka seberapa besarnya pacarku mencintaiku."Sekarang jika dipikirkan kembali, Daffa bukan sedang menguji perasaan cinta Aura. Dia hanya ingin tahu sejauh mana Aura bisa merendah demi dirinya. Dan malam ini ... s