Masuk
“Apakah Kevin sudah datang?”
Bola mata Marissa memindai keadaan sekeliling. Ia tidak menjumpai tunangannya, Kevin Aldous Benneth. Ruang tunggu Galeri Antalya terlihat sepi, hanya beberapa pasang calon pengantin yang sedang melihat desain terbaru galeri tersebut.
"Kenapa kalian diam saja? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?" Marissa menatap satu persatu karyawan Galeri Antalya, wajah mereka terlihat pucat pasi.
Marissa dan Kevin telah sepakat, jika tepat jam 2 siang akan melakukan fitting baju pengantin di salah satu galeri ternama di pusat kota. Tapi saat Marissa sudah tiba di lokasi, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Bahkan dari sekian karyawan di sana, tidak ada satupun yang angkat bicara.
“Nona, Nona, tunggu!” cegah salah satu karyawan tersebut ketika melihat Marissa melanjutkan langkahnya ke dalam galeri.
“Ya! Ada apa? Kenapa dengan kalian hari ini ….?" kedua tangan Marissa direntangkan dengan bebas. Tampak dahinya berkerut karena merasa heran dengan keanehan yang terjadi siang ini.
"M-Maaf, Nona." Karyawan tersebut buru-buru melepaskan pegangan tangannya, lalu mereka berdua hanya bisa menatap dalam kebungkaman.
Kepala Marissa menoleh ke arah lain dengan cepat, saat ada sesuatu yang mengusik pendengarannya.
“Nona. Jangan ….!” kepalanya menggeleng pelan dengan tatapan yang—entah.
"Diamlah! Aku tidak butuh alasan kalian," jawab Marissa yang memperlihatkan gestur wajah tak suka.
Seketika itu juga karyawan galeri tidak berani membantah. Mereka pun menunduk dan meremas kedua telapak tangan. Sehingga semakin menimbulkan keanehan di benak, Marissa.
"Jangan berhenti! Aku mohon," sayup terdengar suara dari salah satu ruangan. Suara itu bagai terbawa angin lalu dan sampai di gendang telinga, Marissa.
"Sepertinya aku mengenal suara itu …." gumam Marissa dengan langkah sedikit terburu-buru.
“Tidak, Nona. Sebaiknya Anda jangan ke sana!”
Gadis berambut ikal tersebut tidak menghiraukan suara karyawan galeri yang berusaha mati-matian menghentikan aksinya. Marissa tetap masuk ke dalam meski ia harus menahan seluruh tubuhnya yang mulai gemetar hebat.
“Lebih cepat, Kevin! Aku sudah tidak bisa menahannya ….”
Suara desahan di balik pintu itu benar-benar mengusik telinganya. Ia mengepalkan tangan kanan dengan erat. Bibir Marissa mengatup hingga memperlihatkan rahangnya yang mengeras. Entah mengapa ia bisa merasakan jika akan ada hal buruk setelah Marissa berhasil mengetahui sesuatu di balik pintu ruang fitting itu.
"Huft ….! Tenanglah, Marissa!” Marissa mencoba untuk meredam perasaannya sendiri.
Ia harus menerima kenyataan saat tangannya berhasil membuka handle pintu. Hampir saja Marissa terjatuh karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa ringan. Untung, gadis bermata kecoklatan itu memegang handle pintu dengan cukup kuat.
"K-Kevin, J-Joanna ….! A-Apa yang sudah kalian lakukan?"
Kelopak mata Marissa terbuka lebar saat mendapati calon suami dan adiknya sedang melakukan sesuatu yang tidak senonoh di dalam ruangan itu.
"Sial ….!" Joanna kebingungan ketika hendak bersembunyi dan menutupi tubuhnya yang sudah terbuka sebagian.
"Joanna, tunggu dulu! Jangan pergi!" Marissa berusaha menghadang adik perempuannya itu agar tidak meninggalkannya begitu saja.
Ya! Joanna harus menjelaskan semua kekacauan yang telah dilakukannya sore ini. Bisa-bisanya gadis itu langsung hengkang tanpa pamit. Bahkan ia tidak mengucapkan satu kalimat permintaan maaf kepadanya.
“Lepaskan aku, Marissa!” bola mata Joanna membulat, hingga membuat Marissa terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh adik perempuannya tersebut.
"Dia tidak ada urusannya denganmu. Hadapilah aku, Marissa!" Kevin meraih tangan Marissa agar gadis itu tidak mengejar, Joanna Spencer.
“B-Bisa-bisanya kalian berkhianat di belakangku?” ia memandang Kevin dengan tatapan tak percaya.
Beberapa karyawan Galeri Antalya yang berdiri di ambang pintu pun menyingkir dengan sendirinya ketika Kevin meraih pintu dan menutupnya dengan satu kali gerakan. Sudah seharusnya mereka tidak mencampuri urusan orang lain, apalagi saat ini kejadian yang tengah diributkan adalah sesuatu yang sangat memalukan.
"Apa yang sudah kamu lakukan? Jangan menyentuhku! Singkirkan tanganmu itu dariku! Sangat menjijikkan,” Marissa menghempaskan tangan Kevin yang telah berani menyentuhnya. Ia tidak sudi bersinggungan setelah tangan itu berhasil menggerayangi tubuh adiknya.
“Jangan munafik, Marissa!” hardik Kevin dengan emosi meluap karena hasratnya tidak tersalurkan seperti keinginannya.
“Kamu yang munafik, Kevin! Kamu ingin memutar balikkan fakta dan menyalahkan aku?" Marissa menunjuk dirinya sendiri tepat di depan dada. Raut wajahnya mendeskripsikan perasaan kecewa yang mendalam.
"Kenapa ini terjadi di saat tanggal pernikahan kita sudah di depan mata?" tatapannya begitu tajam menatap Kevin dengan begitu muak. Marissa merasa sia-sia telah menjaga kesetiaannya selama ini, jika pada akhirnya ia masih saja ditikung dengan saudaranya sendiri.
"Atau, kalian memang sengaja menggagalkan pernikahan ini?" Marissa mencoba untuk mencari jawaban, kenapa kedua orang terdekatnya sepakat berkhianat.
Marissa memandang pria itu dengan tatapan tak mengerti, kedua alisnya saling bertautan. Ia melihat Kevin kini tengah berkacak pinggang setelah mengacak rambutnya yang ikal. Pria bertubuh jangkung dengan postur 175 centimeter tersebut tiba-tiba terkekeh. Kevin menertawakan Marissa yang terlihat bodoh di matanya.
“Kenapa ….?” Marissa bertanya dengan nada suara dan bibir yang bergetar.
“Kenapa harus dengan adikku, Kevin? Apa tidak ada perempuan lain selain dia?” Marissa terlihat begitu menyedihkan meski ia berusaha untuk bisa berdiri dengan tegak.
“Sudah puas kamu menghancurkan semuanya?” ia berusaha untuk menahan agar titik embun yang hendak lolos dari kelopak matanya tidak jatuh membasah di kedua pipi.
"Kita tetap menikah!" ujar Kevin dengan suara yang terdengar begitu—dalam.
Marissa menoleh dengan segera, "Apa?! Jangan gila kamu, Kevin!”
“Setelah apa yang kamu lakukan dengan adikku dan sekarang kamu menuntutku untuk terus menjalankan rencana pernikahan ini?” panjang lebar Marissa menumpahkan kekesalan hatinya.
“Jangan mimpi kamu, Tuan! Bangunlah! Tidurmu sudah terlalu lama." Sindir Marissa yang berusaha untuk menyadarkan posisi Kevin saat ini.
"Tidak bisa! Kita harus tetap menikah apapun kondisinya. Karena …."
"Apa?! Karena apa, hah? Agar kamu bisa bersenang-senang dengan Joanna dan aku sampai puas?" buru-buru Marissa memotong kalimat, Kevin. Pria itupun menghentikan ucapannya, lalu menatap Marissa dengan enggan.
"Dasar maniak!" tuding Marissa saat ia melanjutkan ucapannya kembali.
Napasnya terdengar begitu memburu, ia meluapkan semua emosi yang sedari tadi ditahan. Tapi sia-sia bagi gadis itu. Semakin Marissa marah, semakin Kevin tertawa senang. Seolah-olah pria itu adalah—pemenangnya.
“Diamlah! Tutup mulutmu!” Tangan kanan Kevin sudah menjepit dagu, Marissa.
Perempuan itu mendongak seiring pergerakan tangan Kevin yang memaksa dirinya untuk menatap wajah menyebalkan tersebut.
“Kamu pikir, kamu adalah wanita yang hebat? Jangan sombong kamu, Marissa!” ujar Kevin dengan bola mata yang melotot.
“Aku terpaksa menyetujui pernikahan ini karena ada sesuatu yang selama ini tidak kamu ketahui,” Kevin semakin mendekatkan wajah. Marissa bisa merasakan hembusan napas itu menerpa sebagian wajahnya yang dimiringkan.
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” wajah Marissa kembali berpaling dan menatap Kevin dengan tajam.
Siang Hari, Apartemen JoannaJoanna yang sedang merayakan kemenangan kecilnya, terkejut ketika pintu apartemennya digedor. Dia ditangkap tak lama setelah Kevin, sebagai istri yang tidak pernah diakui sekaligus kaki tangan utama dalam manipulasi data.Dalam beberapa jam, nama Kevin dan Joanna menjadi berita utama di seluruh dunia, bukan sebagai pengusaha sukses, tetapi sebagai penjahat kelas dunia. Bursa Efek menangguhkan perdagangan saham VantaCorp, dan penyelidikan pun resmi dimulai.Dua Bulan Kemudian, Pagi Hari yang CerahMarissa duduk di balkon apartemen mereka, menghirup udara segar. Di sampingnya, berita pagi di tablet menampilkan headline terakhir:Keputusan Akhir: Kevin dan Joanna Dinyatakan Bersalah atas Tuduhan Federal, Dijatuhi Hukuman Penjara Berat.Kevin dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena penipuan sekuritas dan manipulasi data yang mengakibatkan kerugian investor bernilai miliaran. Joanna, sebagai kaki tangan utama dalam manipulasi data internal, merebut peru
Pukul 11:00 Pagi, Markas Genovua TechDeniz memarkir mobilnya dengan kasar dan langsung menuju kantornya. Dia melewati ruang-ruang kerja yang penuh dengan timnya yang bersemangat, tetapi pikirannya tertuju pada satu hal—pembalasan.Dia bukan lagi Deniz yang percaya pada etika bisnis yang bersih. Kevin telah mengajarinya pelajaran yang brutal, bahwa benteng pribadi adalah titik terlemah. Sekarang dia akan meruntuhkan seluruh kemunafikan Kevin, satu demi satu.Deniz memanggil kepala keamanan dan Kepala Tim Analisis Datanya, Tuan Hadi, untuk rapat darurat.“Tuan Hadi, saya ingin Anda membuka kembali semua file, setiap data, dan setiap transaksi yang berkaitan dengan merger Genovua Tech dan VantaCorp beberapa tahun yang lalu,” perintah Deniz, matanya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. “Fokus pada semua akuisisi Kevin, terutama yang ada di luar negeri. Saya tidak mencari kesalahan akuntansi, saya mencari pencucian uang dan penipuan saham.”Tuan Hadi mengerutkan kening. “Itu
Tiga Minggu Kemudian, Galeri Seni KontemporerUdara di Galeri Seni Kontemporer terasa dingin dan mewah, beraroma anggur putih dan parfum mahal. Ratusan tamu berpakaian elegan membanjiri aula, mata mereka menyapu karya-karya yang dipajang. Ini adalah acara pembukaan pameran seni bergengsi yang menampilkan seniman-seniman yang sedang naik daun dari seluruh Asia.Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri Marissa Sawyer. Ia tampak memukau dalam gaun malam berwarna gelap. Namun, perhatiannya tertuju pada tiga lukisan besar yang tergantung di dinding utama—karya-karyanya. Lukisan abstrak yang dipenuhi dengan warna-warna berani dan emosi mentah, mewakili perjalanan pribadinya dari kegelapan menuju harapan.Deniz berdiri di sampingnya, memegang tangan istrinya erat-erat. Wajahnya berseri-seri bangga.“Kau luar biasa, Sayang,” bisik Deniz di telinga Marissa. “Lihat, semua orang mencintai karya-karyamu.”Deniz memang sedang berada di puncak. Genovua Tech telah pindah ke kantor baru yang berkilau
Beberapa Jam Kemudian, Kantor Genovua TechGenovua Tech adalah anak perusahaan yang terlupakan, terletak di lantai paling bawah sebuah gedung tua milik perusahaan induk. Begitu masuk, Anda akan disambut oleh aroma kopi basi, debu di sudut-sudut, dan suara kipas komputer yang berisik.Namun, di sore hari itu, aura tempat tersebut berubah total.Deniz berdiri di tengah ruangan kecil itu, dikelilingi oleh sekitar dua puluh insinyur muda dan desainer yang tampak kelelahan namun bersemangat. Mereka adalah tim Genovua Tech—tim yang selama ini bekerja dalam bayang-bayang tanpa dana yang cukup, tetapi memiliki ide-ide inovatif tentang teknologi green energy dan sistem smart-grid.“Selamat pagi,” sapa Deniz, suaranya tenang namun penuh otoritas. Ia sudah berganti pakaian menjadi kemeja kasual yang lebih santai.“Tuan Deniz,” sapa pemimpin tim, seorang wanita bernama Luna, dengan wajah terkejut. Mereka tidak menyangka sang CEO akan datang secepat ini.“Mulai hari ini, Genovua Tech bukan l
Apartemen, Pukul 07:00 MalamSetelah badai emosi berlalu, keheningan yang penuh kebahagiaan menyelimuti kamar. Deniz tidak lagi mengenakan jas biru mudanya. Ia hanya memakai kaos putih dan celana piyama, duduk di tepi ranjang sambil memeluk Marissa yang bersandar di bahunya. Kotak mint itu tergeletak di karpet, terlupakan, digantikan oleh kenyataan yang jauh lebih berharga.“Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?” tanya Deniz lembut, mengelus rambut Marissa.Marissa mendongak, matanya masih sedikit bengkak karena tangisan bahagia. “Aku menunggu saat yang tepat, Mas. Aku nggak mau membebani pikiranmu dengan ini saat kamu sedang berjuang di kantor.”Deniz mencium keningnya. “Sayang, kamu adalah alasan aku berjuang. Kamu bukan beban. Kamu adalah rumahku yang sesungguhnya.”Ia kemudian bangkit. “Aku harus melakukan sesuatu. Kabar gembira ini butuh perayaan besar.”“Tapi, Mas,””Sttt… aku nggak mau dengar alasan apa pun.”Deniz meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat.Li
Kantor, Pukul 11:30 Pagi Ruang rapat direksi terasa seperti arena gladiator modern. Lampu kristal di langit-langit memantul pada permukaan meja mahoni yang mengkilap, menciptakan siluet tajam bagi 12 pasang mata yang menatap Deniz. Mereka adalah para veteran bisnis, pemegang saham yang kuat, dan juga para opportunist yang sigap dan tanggap jika terjadi bahaya sekecil apa pun. Kevin tidak hadir, tetapi kehadirannya terasa melalui ketegangan yang menggantung. “Dasar pecundang,” gumam Deniz. Deniz berdiri di ujung meja, menyandarkan tangan di permukaan meja. Tidak ada proyektor, tidak ada PowerPoint. Hanya dia, dan ketenangannya. Jas biru mudanya terlihat mencolok di antara setelan abu-abu tua dan hitam. Ia membiarkan keheningan itu berlarut selama beberapa detik, membiarkan detak jam dinding seolah menjadi hitungan mundur. “Selamat siang. Saya tahu mengapa kita semua ada di sini,” Deniz memulai, suaranya pelan tapi menusuk, “Kecemasan. Sebuah emosi yang disebarkan dengan sangat







