Share

Merasa Gelisah

Author: NHOVIE EN
last update Last Updated: 2024-12-28 09:31:49

Malam itu, keluarga kecil Boby berkumpul di ruang keluarga yang hangat. Di luar, udara Bandung terasa sejuk, tetapi di dalam rumah megah itu, suasana justru sedikit serius. Rita duduk di sofa besar, mengenakan kaus santai dan cardigan lembut. Boby, di sisi lain, membaca koran sebelum akhirnya melipatnya dan menatap putri mereka yang tengah bermain dengan Bintang di karpet.

“Rania,” panggil Rita dengan lembut, tetapi nadanya jelas mengisyaratkan sesuatu yang serius.

Rania menoleh, menunggu kelanjutan dari ibunya.

“Orang tua Satria mengundang kita semua untuk makan malam di rumah mereka besok,” ujar Rita sambil menatap Rania dengan penuh harap. “Mereka ingin mengenal kita lebih dekat. Tentu saja, mereka juga sangat ingin bertemu denganmu.”

Rania meletakkan mainan di tangannya dan menatap Rita, lalu Boby yang kini ikut memperhatikan. Ia mendesah pelan sebelum menjawab, “Mama dan Papa tahu aku belum tertarik dengan hal seperti ini, kan?”

Rita tersenyum tipis, mencoba membujuk. “Kami tahu,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
wieanton
Udah Rania jgn terlalu gundah gulana ttng itu jaliani. nikmati aja apa yg ada di depan mata yg penting kan hati kamu klo nyaman gk nyaman yg merasakan, tp gk ada salahnya berteman klo iya satria baik. klo jodoh mah gmn nanti.
goodnovel comment avatar
Wiediajheng
bu rita.... pak Boby rania tau satria laki-laki baik tapi masih ada hati rania yang belom baik hingga saat ini rania masih butuh menata hatinya yg telah hancur berkeping-keping akibat laki-laki... jadi tolong yaa bersabar dulu nanti juga ada saatnya rania akan membuka hatinya untuk sang pangeranya
goodnovel comment avatar
Eany Luphdieya
kamu ingin terlibat lebih dalam dengan irusan pribadi maya dan bastian untuk apa ran?? untuk menyelamatkan bastian atau untuk menghancurkan maya??
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Maya Mulai Frustasi

    Ruangan rapat utama di kantor pusat Perusahaan keluarga Gery dipenuhi ketegangan. Semua dewan direksi, termasuk beberapa investor kecil, sudah berkumpul di sana. Gery duduk di kursi pimpinan, wajahnya tampak kusut dan penuh amarah yang ia coba sembunyikan.Pengumuman bahwa Boby menarik penuh sahamnya dari Perusahaan ini seperti gempa yang mengguncang fondasi bisnis mereka. Apalagi, keputusan itu disampaikan langsung oleh Rania, sang wakil CEO dari Perusahaan besar milik Boby. Tidak hanya itu, beberapa kerja sama strategis yang selama ini menjadi pilar keberlanjutan bisnis Gery juga diputuskan.Ketika pintu ruangan terbuka, langkah anggun Rania menarik perhatian semua orang. Mengenakan blazer hitam dengan potongan rapi, ia tampak penuh wibawa. Di sampingnya, Boby berjalan dengan tenang, tatapan matanya tajam. Maya, yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan, memutar bola matanya kesal saat melihat kehadiran Rania.“Selamat pagi semuanya,” sapa Rani

    Last Updated : 2024-12-29
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Syarat Dari Rania

    Rania melangkah masuk ke ruang kantor Bastian dengan keanggunan khasnya. Pakaian sederhana namun elegan membalut tubuhnya memberikan aura yang tak terbantahkan. Di depannya, Bastian duduk dengan wajah dingin, menyandarkan tubuhnya di kursi besar di belakang meja. Tatapan pria itu tajam, nyaris menusuk, seolah siap melontarkan komentar sinis.Di dalam ruangan itu, suasana terasa tegang meski keduanya hanya berdua. Bastian, yang beberapa bulan lalu menunjukkan sisi lembutnya di Lembang, kini kembali menjadi sosok yang dingin dan sarkastis.“Sudah selesai dengan urusanmu?” tanya Bastian dengan nada sarkastis, matanya menelusuri Rania dari ujung kepala hingga kaki. Ia tahu Rania baru saja kembali dari kantor keluarga Maya.Rania tidak terintimidasi sedikit pun oleh nada suara itu. Dengan langkah tenang, ia mendekati meja, kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan Bastian. Ia mengangkat dagu sedikit, namun masih memancarkan aura lembutnya.

    Last Updated : 2024-12-29
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Tidur Dengan Lelaki Asing

    Malam itu, rumah megah keluarga Bastian yang biasanya sunyi mendadak gaduh oleh langkah kaki Maya yang tergesa-gesa. Wajahnya memerah, matanya menyala penuh amarah, dan tangannya menggenggam erat sebuah amplop putih. Sudah berbulan-bulan rumah ini kehilangan hangatnya hubungan mereka sebagai pasangan. Meskipun masih tinggal di bawah atap yang sama, kamar yang berbeda mencerminkan jurang besar yang telah lama menganga di antara mereka.Maya menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Bastian yang terletak di lantai satu. Tanpa basa-basi, ia mengetuk pintu dengan keras, nyaris seperti menggedor.“Bastian! Buka pintunya!” teriak Maya dengan nada tinggi, penuh emosi.Tidak lama kemudian, suara kunci yang diputar terdengar. Pintu terbuka, memperlihatkan Bastian yang berdiri santai di ambang pintu dengan pakaian kasual. Ekspresinya dingin, nyaris tak terganggu oleh kemarahan yang jelas terlihat di wajah Maya.“Ada apa?” tanyanya pendek, nada suaranya sedingin ekspresinya.Tanpa menjawab, M

    Last Updated : 2024-12-29
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kehilangan Banyak Hal

    Waktu menunjukkan pukul empat pagi. Maya membuka matanya perlahan, masih terasa berat karena pengaruh alkohol. Pandangannya kabur, dan rasa sakit di kepalanya seperti mengguncang seluruh tubuhnya. Ia mencoba duduk, menyandarkan tubuhnya di dinding. Dalam hitungan detik, ia mulai sadar bahwa ia tidak berada di rumah, melainkan di sebuah kamar asing yang tidak dikenalnya.Saat Maya melihat ke bawah, ia tertegun. Tubuhnya tak berbalut sehelai kain pun, penuh dengan bekas-bekas merah yang tidak bisa ia jelaskan. Jantungnya berdegup kencang.“Apa yang terjadi semalam?” gumam Maya dengan suara serak, mencoba mengingat apa yang baru saja ia alami.Ia memandang ke sekeliling kamar. Sepi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di ruangan itu. Maya mencoba mengingat kembali, tapi pikirannya kabur. Semua yang tersisa hanyalah ingatan samar-samar tentang dirinya yang sedang tertawa dan menenggak alkohol bersama seseorang.Maya bergegas meraih pakaian

    Last Updated : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Sangat Kontras

    Pukul tujuh pagi, sinar matahari pagi Jakarta menyapa dengan lembut. Di taman belakang rumah, suasana terasa damai. Udara segar dan aroma dedaunan yang masih basah oleh embun melengkapi pemandangan indah pagi itu. Bastian memutuskan untuk menikmati sarapannya di meja makan outdoor yang terletak di samping taman.Secangkir kopi hitam panas mengepul di atas meja, menggoda dengan aromanya yang kuat. Di sampingnya, sepiring nasi goreng seafood dengan berbagai topping seperti udang, cumi, irisan cabai, dan telur mata sapi tampak begitu menggugah selera.Ketika salah seorang ART menuangkan air mineral ke gelasnya, Bastian memandang ke arah wanita itu.“Maya belum turun?” tanyanya ringan namun penuh arti.ART itu berhenti sejenak, lalu menjawab dengan nada hati-hati. “Ibu Maya pulang tadi pagi, Pak, sekitar jam empat. Saya yang membukakan pintu karena beliau memencet bel. Tumben sekali beliau tidak membawa kunci rumah.”Ba

    Last Updated : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Mendapatkan Bukti Baru

    Maya membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur. Suara jam dinding di kamar yang berdetak teratur memberitahunya bahwa waktu telah beranjak siang, pukul sebelas. Wanita itu mendesah pelan, merasakan kepala yang masih sedikit berdenyut akibat malam yang penuh emosi dan alkohol.Setelah menarik napas panjang, Maya memutuskan untuk bangkit. Ia berjalan ke kamar mandi, membersihkan dirinya dengan air hangat. Rasanya cukup membantu mengurangi rasa tidak nyaman di tubuhnya.Selesai mandi, Maya mengenakan pakaian santai—kaus longgar dan celana pendek—lalu mengambil perangkat telepon rumah khusus yang terletak di sudut meja di kamarnya—intercom telepon internal—yang langsung terhubung ke bagian lain rumah.Maya menekan nomor yang terhubung ke dapur, menunggu beberapa detik hingga suara ART menjawab dari seberang.“Selamat siang, Bu Maya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya ART dengan sopan.“Siapkan sarapan untuk saya. Bawa ke kamar,” perintah Maya singkat. Suaranya terdengar datar, tanp

    Last Updated : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Menunjukkan Bukti Pada Bastian

    Rania melangkah dengan anggun menuju kantor Bastian. Hari ini, ia memutuskan untuk menyelesaikan pembicaraan penting yang beberapa waktu lalu sempat tertunda. Saham dan investasi yang menjadi topik utama antara dirinya dan Bastian kini harus dituntaskan.Setibanya di lantai kantor Bastian, seorang resepsionis menyambutnya dengan hormat.“Selamat siang, Bu Rania. Pak Bastian sudah menunggu di ruangannya,” ucap sang resepsionis sambil mempersilakan Rania masuk.Dengan langkah tenang, Rania berjalan menuju ruang pribadi Bastian. Tanpa menunggu lama, ia mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendengar izin dari dalam.Di balik meja kerjanya, Bastian duduk dengan postur tegak. Ekspresi wajahnya tetap dingin, seperti biasanya. Tatapan tajam pria itu seolah menembus setiap gerak-gerik Rania.“Kau akhirnya datang,” ucap Bastian tanpa basa-basi. Nada suaranya penuh ketegasan namun tidak bersahabat.Rania mengangguk kecil. “Tentu saja, aku datang untuk membahas apa yang menjadi perhatianmu,” jawabn

    Last Updated : 2024-12-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bastian Pun Mulai Mengawasi

    Setelah beberapa saat termenung, Bastian akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu bahwa dirinya tidak bisa terus larut dalam kebingungan. Ada satu hal yang pasti—Maya harus diawasi. Kalau memang ada bukti kuat tentang perselingkuhan, ini akan menjadi jalan keluar yang ia butuhkan dari hubungan pernikahan yang sudah lama kehilangan maknanya.Bastian meraih ponselnya dan membuka kontak. Jari-jarinya berhenti di nama Adrian—salah satu agen rahasia yang dulu pernah disewa Bastian untuk mengawasi Rania. Ia menekan tombol panggil, menunggu beberapa detik hingga suara khas Adrian terdengar di ujung telepon.“Adrian di sini,” jawab pria itu dengan nada formal dan tegas.“Adrian, ini aku, Bastian,” ujar Bastian, suaranya dingin namun tegas.“Oh, Tuan Bastian. Apa kabar? Sudah lama sekali sejak terakhir kita berbicara,” balas Adrian, terdengar sedikit terkejut namun tetap profesional.“Ya, sudah cukup lam

    Last Updated : 2024-12-30

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Berpisah

    “Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Patah Hati

    Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Operasi pun Dimulai

    “Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Hasil Pemeriksaan Bastian

    Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Berat

    Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Berbeda

    Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bersama-sama Menjaga Bintang

    Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Butuh Transplantasi?

    Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diagnosa Yang Mengejutkan

    Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status