Share

Aku Pasti Akan Kembali

Author: NHOVIE EN
last update Last Updated: 2024-11-30 10:01:11

Di salah satu kamar megah di sebuah rumah mewah di Bandung, Rita terduduk di sofa empuk yang menghadap ke sebuah jendela besar. Pandangannya terpaku pada foto lama di tangannya. Sebuah potret yang mulai menguning, memperlihatkan seorang bayi perempuan yang tersenyum polos dalam balutan kain putih lembut. Tangannya yang mungil mengepal, seolah menggenggam harapan yang telah lama hilang.

Rita mengusap lembut bingkai foto itu dengan ujung jarinya, air matanya tak berhenti mengalir. Hatinya terasa hampa, seolah ada lubang besar yang tidak pernah bisa terisi sejak kepergian putri kecilnya.

Pintu kamar terbuka pelan, menampilkan sosok Emma, sang asisten rumah tangga yang setia menemani Rita selama bertahun-tahun. Dengan langkah tenang, Emma membawa nampan berisi secangkir teh hijau hangat, berharap itu bisa sedikit menenangkan hati majikannya.

“Bu Rita,” suara Emma lembut, nyaris seperti bisikan. “Ini tehnya, saya taruh di sini, ya.”

Rit

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (17)
goodnovel comment avatar
Jihan Khanaya
siapa anak yang hilang dua puluh tujuh tahun itu ya. kenapa bisa hilang? semoga Bu Rita segera menemukan Clarissa. apa iya Rania itu Clarissa? kan Rania juga ada gelang giok nya. kalo iya, cucu itu orang yang menemukan Rania ya
goodnovel comment avatar
Jihan Khanaya
lebih baik bicarakan sekarang Rania daripada menghindar. kamu bisa ulti Bastian nya seandainya kamu jujur. kalo kamu gini terus, yang ada kamu akan ketakutan terus. kamu ingin hidup tenang lagi kan, jadi lebih baik jujur aja
goodnovel comment avatar
Fatimah Azzahra
bisa g sih si Bastian ini g ganggu hidup rania,bukannya ngurusin rumah tangganya sendiri malah kepo sama mantan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Dia Memang Anakmu!

    Malam ketiga di Lembang terasa lebih sunyi dibanding sebelumnya. Angin dingin menyapu pepohonan pinus di sekitar hotel tempat Bastian menginap, namun pria itu sama sekali tidak merasa nyaman. Pikirannya terus dipenuhi oleh pertanyaan yang belum terjawab. Ia duduk di balkon kamar, memandang gelapnya langit sembari menggenggam ponselnya.Tepat pukul delapan malam, pintu kamar diketuk. Bastian bangkit, menghela napas panjang, dan membuka pintu. Adrian berdiri di sana, membawa map cokelat di tangannya.“Masuk,” ujar Bastian singkat, memberi ruang bagi Adrian.Adrian masuk dan duduk di kursi yang menghadap meja kerja kecil di kamar itu. Wajahnya serius, menunjukkan bahwa informasi yang ia bawa bukanlah hal sepele.“Saya sudah mendapatkan informasi yang mungkin bisa menjawab semua pertanyaan anda, Pak,” kata Adrian sambil meletakkan map di meja.Bastian tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat jendela, memeluk tubuhnya sendiri. “Katakan,” ujarnya pelan namun tegas.Adrian membuka map itu d

    Last Updated : 2024-11-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bastian Menemui Cucu

    Bastian duduk di sofa hotel dengan gelas kopi yang hampir habis di tangannya. Pikirannya melayang, penuh dengan keraguan dan harapan yang bercampur menjadi satu. Adrian duduk di kursi seberang, memandangi layar ponselnya dengan saksama. Suasana terasa hening, hanya suara gemerisik AC yang mengisi ruangan.Adrian akhirnya mendongak. “Pak Bastian, saya punya kabar terbaru.”Bastian meletakkan gelasnya di meja. “Apa itu?” tanyanya cepat, dengan tatapan penuh perhatian.“Rania dan kedua karyawannya, Icha dan Citra, sedang pergi ke Bandung. Mereka punya pekerjaan dekorasi untuk sebuah pesta pernikahan. Tokonya tutup sementara hari ini,” jelas Adrian.Bastian mengernyit, merasa kecewa karena tidak bisa menemui Rania. “Jadi, tidak ada cara untuk bertemu dengannya sekarang?”Adrian menggeleng. “Tidak hari ini. Tapi, saya juga dapat informasi bahwa hanya Bu Cucu dan Bintang yang ada di rumah. Ini mungkin kesempatan kita untuk berbicara dengan Bu Cucu, tanpa tekanan dari Rania.”Bastian memirin

    Last Updated : 2024-11-30
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Mengatakan Pada Rania

    Rania melangkah masuk ke rumah dengan langkah gontai. Wajahnya memancarkan kelelahan yang mendalam setelah seharian berada di Bandung untuk menyelesaikan pekerjaan dekorasi. Pintu yang terbuka menyambut aroma harum wedang jahe yang sudah disiapkan oleh Cucu.Cucu langsung berdiri dari kursi rotannya di ruang tamu dan menyambut putrinya dengan senyum hangat. “Rania, kau terlihat sangat lelah. Cepat duduk, wedang jahe sudah Ibu siapkan untukmu.”Rania tersenyum tipis, mengambil napas dalam-dalam, lalu melepas tas kecilnya. “Terima kasih, Bu. Rasanya seharian ini tidak berhenti bergerak. Cuaca di Bandung tadi juga terlalu panas untuk hari kerja berat seperti ini.”Sementara itu, Icha dan Citra yang mengantar Rania langsung pamit pulang setelah memastikan semuanya beres. “Kami pulang dulu, Mbak Rania. Terima kasih atas hari ini,” ujar Icha seraya melambaikan tangan.“Hati-hati di jalan,” balas Rania sebelum menu

    Last Updated : 2024-12-01
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Mengirim Pesan Pada Bastian

    Rania duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang menyala dalam redupnya cahaya kamar. Hatinya penuh gejolak, pertarungan antara rasa takut dan keinginan untuk melindungi Bintang. Pernyataan Cucu di meja makan tadi terus terngiang, seperti gema yang tidak mau hilang.Ia menarik napas panjang, menenangkan dirinya meski matanya tetap tak mampu terpejam. Dengan tangan gemetar, ia membuka daftar kontak di ponselnya. Nama itu masih ada, meski telah lama ia blokir. Perlahan, ia mengetuk opsi untuk membuka blokir, merasa berat seolah keputusan ini akan membuka pintu menuju kenangan yang ingin ia tutup rapat.Rania mulai mengetik. Jari-jarinya bergetar saat menuliskan setiap kata.“Apa mau kamu, Bastian? Sudah aku katakan kalau kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Bukankah kamu yang sudah memutuskan semuanya? Lalu kenapa kamu kembali menteror hidupku dan anakku? Aku mohon, berhentilah mengikuti kami. Kami sudah bahagia tanpa kamu."S

    Last Updated : 2024-12-02
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Mencoba Merebut Kepercayaan

    Pagi itu, Bastian melangkah cepat menuju ruang rapat setelah tiba di kantornya. Meskipun terlihat tenang di luar, pikirannya terus bekerja mencari celah untuk mengungkap siapa dalang di balik masalah ini. Farel sudah menunggu di ruang rapat bersama beberapa kepala divisi, tim IT, dan Danang yang terlihat gelisah di sudut ruangan.“Oke, semua sudah di sini,” Bastian membuka rapat dengan suara tegas. “Kita langsung ke intinya. Saya ingin setiap kepala divisi menjelaskan langkah-langkah apa yang sudah diambil sejak masalah ini muncul.”Kepala IT, Anton, memulai penjelasan. “Kami sudah melakukan audit sistem, Pak Bastian. Data yang bocor berasal dari server utama, tapi aksesnya menggunakan akun milik Danang. Log menunjukkan aktivitas mencurigakan pada pukul satu dini hari sekitar dua hari yang lalu.”Bastian mengalihkan pandangannya ke Danang. “Danang, saya ingin mendengar penjelasanmu. Apa kamu pernah login atau memberikan akses ke akunmu?”Danang menggeleng cepat, suaranya terdengar gug

    Last Updated : 2024-12-02
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Kedamaian Yang Semu?

    Dua minggu berlalu dengan intensitas tinggi di kantor Bastian. Tim IT bekerja tanpa kenal lelah, dipimpin oleh Farel yang memastikan semua langkah diambil dengan cermat. Mereka berhasil melacak jejak digital penyusup, memulihkan data yang hilang, dan memperkuat sistem keamanan. Hari ini adalah hari yang sangat penting, laporan akhir akan disampaikan ke PT. Satria Jaya, dan Bastian merasa yakin bahwa semua telah terkendali.Di ruang rapat utama, Bastian duduk bersama Farel, kepala IT, dan beberapa staf senior. Layar besar di depan mereka menunjukkan hasil analisis terakhir. Kepala IT membuka presentasi dengan nada serius.“Pak Bastian, kami berhasil mengidentifikasi pelaku di balik serangan ini. Berdasarkan jejak digital yang tertinggal, pelaku adalah orang dalam.”Ruangan menjadi sunyi seketika. Bastian mengerutkan kening. “Orang dalam? Siapa?”Kepala IT melanjutkan. “Seseorang dengan akses tingkat tinggi ke sistem kami. Berdasarkan audit log, kami menemukan bahwa pelaku adalah—bu May

    Last Updated : 2024-12-03
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Meminta Perlindungan, Lagi

    Maya berdiri di depan pintu rumah orang tuanya dengan wajah penuh keputusasaan. Tangisannya belum reda sejak kabar buruk itu menghantamnya dua hari lalu. Ia tak menyangka Bastian akan setega ini, melibatkan hukum dalam masalah mereka.“Mami... Papi...” lirih Maya dengan suara bergetar setelah pintu dibuka.Ami—ibunya—memandang putrinya dengan raut khawatir, sementara Gery—ayah Maya—mengerutkan dahi. “Ada apa lagi, Maya? Kenapa kamu datang ke sini dengan wajah seperti ini?”Tanpa menjawab, Maya langsung merangkul Ami dan menangis terisak. Ami membawa putrinya masuk ke ruang tamu, sementara Gery hanya berdiri diam, memperhatikan sikap Maya dengan kecurigaan.“Maya, tenang dulu. Ceritakan semuanya dengan jelas. Apa yang terjadi?” tanya Ami lembut, meski nada suaranya terdengar waspada.Maya duduk di sofa, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. “Bastian... dia melaporkan aku ke polisi

    Last Updated : 2024-12-04
  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Drama Maya Yang Terencana

    Maya duduk di kamarnya dengan tatapan kosong, memandangi layar ponsel yang menunjukkan pesan dari ibunya. Pesan itu mengabarkan bahwa Bastian tetap bersikeras melanjutkan laporan ke polisi. Ia menggigit bibirnya dengan geram, lalu mulai menyusun rencana manipulatif yang menurutnya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya dari kehancuran.Sore ini, Maya memanggil kedua orang tuanya ke kamarnya. Ia berbicara dengan nada penuh keputusasaan.“Mami, Papi, aku nggak tahu lagi harus gimana. Kalau Bastian nggak mau mencabut laporan itu, hidupku selesai. Aku nggak bisa masuk penjara, aku nggak bisa kehilangan semuanya!” ujar Maya dengan suara bergetar, meski air mata yang mengalir di pipinya adalah hasil dari keahlian aktingnya.Gery dan Ami saling bertatapan. Ami mencoba menenangkan putrinya. “Maya, tenang. Kita sudah mencoba bicara dengan Bastian, tapi dia keras kepala. Kalau kamu benar-benar salah, kamu harus siap menerima konsekuensinya.

    Last Updated : 2024-12-05

Latest chapter

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Berpisah

    “Selamat pagi, Bintang…” Dengan senyum merekah, Nora dan Prakas datang dengan sebuah buket bunga berukuran besar. Mereka sengaja memesan buket khusus untuk cucu mereka yang kini kondisinya sudah jauh lebih baik.“Terima kasih, Oma,” balas Bintang.“Bintang sekarang sudah segar ya, sudah ganteng. Hari ini, kita akan pulang ke rumah. Tapi oma sedih deh, karena nggak akan bisa bebas lagi bertemu dengan Bintang.” Nora sedikit cemberut. Namun manyun itu malah membuat Bintang tertawa.“Siapa bilang jeng Nora dan mas Prakas tidak bisa bebas datang ke rumah. Kalian bisa datang kapan pun untuk bertemu dengan Bintang. Selama di rumah sakit, kami sadar kalau ikatan darah tidak dapat dipisahkan begitu saja,” ucap Rita.“Iya, Tante. Tante dan om boleh kok datang kapan saja dan bertemu dengan Bintang.” Rania menggenggam lembut tangan kanan Nora.Nora tersenyum lembut. Ia belai pipi Rania sekali, lalu ia pun kembali mengalihkan pandangan ke arah Bintang. “Terima kasih, Rania. Kamu memang sangat baik

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Patah Hati

    Setelah beberapa jam berada di ruang observasi pascaoperasi, Bastian dan Bintang akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sama, kamar VVIP terbaik di rumah sakit itu, yang telah disiapkan sebelumnya oleh keluarga mereka. Meski keduanya sudah sadar, kondisi mereka masih sangat lemah. Namun, Bastian terlihat lebih baik dibandingkan dengan Bintang yang masih tampak pucat dan lemah.Rania duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecil putranya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi anaknya yang masih begitu rapuh. Sesekali, ia mengusap rambut Bintang dengan penuh kasih sayang. Di tempat tidur sebelah, Bastian menatap ke arah mereka dengan senyum tipis. Meski tubuhnya masih terasa nyeri akibat operasi, hatinya terasa lebih ringan karena telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan putranya.“Bagaimana perasaanmu?” tanya Rania lirih, suaranya penuh perhatian.Bastian mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja. Jangan khaw

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Operasi pun Dimulai

    “Hasilnya..." dokter berhenti sejenak, melihat ekspresi cemas mereka. Semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat dokter."Bastian cocok menjadi donor untuk Bintang."Ruangan itu seketika dipenuhi helaan napas lega. Rania menutup wajahnya dengan tangan, menangis tanpa suara. Bastian mengangguk mantap, matanya berkaca-kaca. Namun, dokter belum selesai. "Namun, ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan lebih lanjut. Operasi ini harus dilakukan secepat mungkin."Rania menghapus air matanya dengan cepat. "Secepat mungkin? Seberapa cepat, Dok?""Idealnya, dalam 24 jam ke depan. Kondisi Bintang semakin melemah. Jika kita menunda lebih lama, risiko kegagalan akan semakin besar. Kami akan segera menyiapkan jadwal operasi dan memastikan semua persiapan berjalan lancar."Bastian langsung mengangguk. "Saya siap, Dok. Kapan pun operasi akan dilakukan, saya siap."Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera mempersiapkan ruang operasi dan tim bedah. Un

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Hasil Pemeriksaan Bastian

    Di dalam ruangan dokter, suasana terasa begitu tegang. Rania menggenggam jemarinya sendiri, sementara Bastian duduk dengan wajah serius menatap dokter ahli yang akan menangani transplantasi hati Bintang."Sebelum kita melanjutkan ke tahap pemeriksaan, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu risiko yang mungkin terjadi dalam operasi ini," ujar dokter dengan nada hati-hati.Bastian mengangguk mantap. "Tolong jelaskan, Dok. Saya ingin tahu semua risikonya."Dokter menarik napas sejenak sebelum mulai berbicara. "Pertama, operasi transplantasi hati merupakan prosedur besar yang memiliki risiko komplikasi. Bagi pasien penerima, dalam hal ini Bintang, ada kemungkinan tubuhnya menolak organ baru meskipun sudah cocok secara medis. Jika ini terjadi, kita harus segera mengambil langkah medis tambahan untuk mengatasinya."Rania menelan ludah, hatinya semakin gelisah. "Lalu bagaimana dengan risiko untuk pendonor? Maksud saya... untuk Bastian?"Dokter menatap keduanya dengan tenang. "Sebagai pendono

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Keputusan Berat

    Ruangan rumah sakit dipenuhi keheningan yang mencekam. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang ketika pintu kamar terbuka dan seorang dokter spesialis masuk dengan raut wajah serius. Semua mata langsung tertuju padanya.Dokter itu berjalan mendekati ranjang tempat Bintang terbaring lemah. Ia memeriksa kondisi bocah itu dengan seksama, mencatat beberapa hal di berkasnya sebelum akhirnya menatap seluruh keluarga yang berkumpul di dalam ruangan.“Saya ingin membicarakan hasil pemeriksaan terbaru Bintang,” kata dokter dengan suara tenang namun tegas.Rania menggenggam tangan kecil putranya yang terasa dingin. Hatinya berdebar kencang. Begitu pula dengan Rita, Boby, Nora, Prakas, dan tentu saja Bastian yang berdiri dengan wajah tegang di sudut ruangan.Dokter menarik napas dalam, lalu berkata, “Hasil menunjukkan bahwa Bintang mengalami gagal hati akut. Kondisinya cukup serius, dan kami harus bertindak cepat untuk menyelamatkannya.”Ruangan kembali sunyi. Pernyataan itu seperti petir di sia

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Suasana Yang Berbeda

    Pagi itu, udara rumah sakit masih terasa dingin. Rita dan Boby tiba lebih awal dari biasanya, membawa sekantong penuh buah segar dan makanan untuk Rania. Keduanya berjalan menuju kamar tempat Bintang dirawat dengan hati yang dipenuhi kecemasan.Saat mereka masuk, mata mereka langsung tertuju pada sosok Bastian yang tertidur di sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengannya, dan nafasnya terdengar teratur namun lelah. Selimut tipis yang diberikan perawat tadi malam masih membungkus tubuhnya.Rania yang sedang duduk di tepi tempat tidur Bintang, menoleh dan tersenyum lemah melihat kedua orang tuanya.“Dia tidak tidur semalaman,” bisik Rania, sebelum mereka sempat bertanya.Rita menghela napas panjang. Meski dalam hatinya masih ada sedikit ganjalan terhadap Bastian, ia tidak bisa menyangkal bahwa lelaki itu benar-benar peduli terhadap anaknya.“Bagaimana keadaan Bintang?” tanya Boby, suaranya lirih.Rania menatap buah hatinya

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Bersama-sama Menjaga Bintang

    Satria berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Bastian duduk di samping tempat tidur Bintang, menggenggam tangan kecilnya dengan penuh kepedulian. Ada sesuatu dalam tatapan Bastian—ketulusan, ketakutan, sekaligus rasa tanggung jawab yang begitu besar. Hal yang selama ini Satria ingin berikan untuk Rania dan Bintang, namun nyatanya, dia hanya orang luar dalam kisah ini.Ia menghela napas panjang. Melawan perasaannya sendiri, ia akhirnya memilih untuk mundur. Untuk saat ini, Bintang memang membutuhkan orang tua kandungnya. Tidak ada ruang untuknya di sini. Dengan langkah pelan, ia mendekati Rita dan Boby yang masih berdiri di dekat pintu.“Tante, Om... Aku pamit dulu,” katanya dengan suara rendah.Rita menatapnya dengan sorot mata penuh pengertian. “Terima kasih sudah datang, Satria. Kami sangat menghargainya.”Satria tersenyum tipis. “Tidak masalah, Tante. Jika ada yang bisa aku bantu, aku selalu siap.”Boby menepuk pundaknya dengan ringan, tanda penghormatan dan terima kasih

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Butuh Transplantasi?

    Suasana di rumah sakit masih dipenuhi kecemasan. Setelah diputuskan untuk dirawat inap, Bintang kini berada di kamar VVIP dengan perawatan terbaik. Monitor di samping tempat tidurnya terus berbunyi pelan, menampilkan angka-angka yang mengukur kondisi tubuhnya. Rania tak bergeming dari sisi putranya, menggenggam tangan mungil itu dengan erat. Di wajahnya tergambar kelelahan, namun ia tak ingin pergi barang sejenak pun.Di ruang tunggu rumah sakit, Prakas dan Nora berdiri dengan gelisah. Sesekali, Prakas melirik jam tangannya, menanti kedatangan Bastian yang sudah dalam perjalanan dari Singapura. Nora memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri meski hatinya terus bergetar memikirkan cucunya.Tak lama, langkah cepat terdengar dari arah pintu masuk. Bastian muncul dengan wajah yang penuh kecemasan, masih mengenakan pakaian dari penerbangannya yang terburu-buru. Matanya langsung mencari kedua orang tuanya. Begitu melihat mereka, ia berjalan cepat dan langsung bertanya,“Mami, Papi!

  • Menjadi Ibu Untuk Anak Sang Miliarder   Diagnosa Yang Mengejutkan

    Di lorong rumah sakit yang terasa begitu dingin, Nora dan Prakas berjalan mendekati Rita dan Boby. Ekspresi wajah mereka menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Sebagai orang tua Bastian, mereka memang harus menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Namun, saat ini, hati mereka benar-benar tak tenang melihat kondisi Bintang yang terbaring lemah di ruang IGD.“Rita... Boby...” suara Nora bergetar saat berbicara, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap penuh simpati. “Kami sangat prihatin dengan kondisi Bintang. Apa yang sebenarnya terjadi?”Boby menarik napas panjang, seolah berusaha menahan emosinya yang sudah meluap-luap sejak tadi. Sementara itu, Rita hanya mampu mengusap air matanya yang terus mengalir. “Kami masih menunggu hasil lab,” ucapnya dengan suara lirih. “Dokter masih melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.”Prakas menatap Rita dan Boby dengan penuh empati. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Bintang bukan hanya cucu mereka, tetapi juga cucu kandungnya s

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status