Ayu mengangguk. "Baik, Kak. Terima kasih."
Ia menggenggam kertas itu erat. Dalam hatinya, ia berharap ini adalah jawaban atas masalahnya. Namun, tanpa ia sadari, senyum Rani semakin melebar, seakan menikmati permainan yang baru saja dimulai. Maharani menyandarkan tubuhnya ke sofa, bibirnya melengkung puas saat melihat punggung Ayu yang menghilang di balik pintu. Ada binar aneh di matanya, seolah menikmati sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu. Keesokan harinya, Ayu berdiri di depan cermin kecil di rumah megah milik suaminya. Meski sebenarnya rumah itu sangat bertolak belakang dengan keadaan Ayu sebenarnya. Wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi, meski lingkaran hitam di bawah matanya tak bisa hilang begitu saja. Ia mengenakan rok span hitam yang membalut kakinya hingga selutut, dipadukan dengan hem putih yang membuatnya tampak lebih rapi. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dan sedikit lipstik ia olPria itu tertawa kecil, nada suaranya terdengar geli. "Hahaha… Kamu tidak sedang pura-pura polos, kan?"Ayu mengerjap, matanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. "Sa-saya, maksud saya…"Pria itu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, wajahnya kini hanya beberapa inci dari Ayu. Aroma parfum maskulin bercampur alkohol menusuk hidungnya."Kamu seorang profesional, bukan?" suaranya merendah, nyaris seperti bisikan.Tenggorokan Ayu tercekat. "I-iya, saya profesional, Tuan. Saya bisa mencuci baju, membersihkan rumah, saya juga bisa memasak."Pria itu tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Apa menurutmu seragam itu bisa dipakai untuk bersih-bersih rumah?"Ayu menunduk, tangannya kembali menjembreng pakaian itu. Cahaya lampu membuat kainnya tampak semakin transparan.Darahnya berdesir. Mulutnya terasa pahit. Ayu yakin ada yang sangat salah di sini. Ia meneliti pakaian di tangannya.Kain itu sangat tipis, dengan corak totol hi
"Ada apa, Mbak?" tanya Baim, alisnya berkerut, tatapannya tajam menelusuri wajah Ayu yang pucat.Tapi sebelum Ayu bisa menjawab, suara langkah kasar mendekat. Sosok pria tua itu muncul di ambang lift, napasnya memburu, wajahnya merah padam seperti bara yang siap meledak."Sini! Ayo kembali bersamaku!" desisnya dengan suara berat, penuh tekanan.Baim melangkah keluar, tubuhnya tegak, berdiri di antara Ayu dan pria itu. Matanya menatap tajam, membaca situasi dengan cepat. "Tunggu. Ini ada apa?"Pria tua itu menyeringai, matanya menyipit. "Wanita itu! Berikan dia padaku!" suaranya tajam, tak sabar.Ayu mundur, tubuhnya meringkuk di belakang Baim. Kepalanya menggeleng kuat-kuat, air mata menggenang di sudut matanya. "Nggak… nggak… Saya nggak mau, Pak. Tolong, jangan berikan saya padanya," suara Ayu bergetar, hampir tak terdengar.Baim mengangkat satu tangan, menghentikan pria tua itu mendekat leb
Ayu masih menunduk, tapi perlahan, ia mengangkat wajahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Baim, dan saat itu juga, sesuatu bergetar di dadanya. Pria ini… bukan orang asing.Seketika, ia menunduk lagi, enggan membiarkan perasaan aneh itu muncul.Baim mengangkat alis. "Benar, bukan? Kita pernah beberapa kali bertemu di rumah sakit."Ayu menggeleng kecil. "Nggak, Pak. Itu hanya sekali."Senyum kecil tersungging di sudut bibir Baim. "Ya, karena pertemuan kedua, kamu nggak mau melihatku. Kamu fokus berjalan menuju ruang kandungan."Kalimat itu seperti petir yang menyambar udara. Suasana hening sejenak. Baim tampak berpikir, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah."Oh ya," katanya lebih pelan, seolah baru menyadari sesuatu. "Apa yang waktu itu kamu lakukan di ruang kandungan? Bukankah kamu masih di bawah umur?"Ayu tersentak.
Baim menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi."Sudahlah. Semoga nanti dia memilih jalan yang lebih baik. Anak zaman sekarang benar-benar mengkhawatirkan," gumamnya pelan.Namun, meski ia berusaha menepisnya, ada perasaan aneh yang mengendap di dadanya. Entah kenapa, ia merasa ini bukanlah pertemuan terakhirnya dengan gadis itu.Setelah mendapat jamuan mewah di hotel Baim, Ayu melangkah keluar dengan langkah berat. Aroma parfum mahal masih samar di bajunya, tetapi tak ada lagi yang bisa ia nikmati. Yoga membukakan pintu taksi untuknya."Pak, turunkan saya di area pertokoan," katanya lirih.Supir taksi mengangguk. Ayu menatap kosong ke luar jendela sepanjang perjalanan. Gedung-gedung tinggi berkelebat, jendelanya menyilaukan di bawah terik matahari. Di kaca, ia melihat bayangannya sendiri—mata lelah, wajah kusut, bibir terkatup rapat.Taksi berhenti di kawasan pertokoan Kebayoran Baru. Ayu menarik napas dalam, menggen
Petugas itu mengecek data di komputernya. "Jika menuju alamat yang tertera di sini, satu juta lima ratus, Bu."Jantung Ayu mencelos.Tiga ratus ribu rupiah. Itu semua yang ia punya sekarang.Tangannya yang menggenggam uang mengepal lebih erat, seolah mencoba menciptakan keajaiban agar jumlahnya bertambah. Tapi tetap sama.Ia menundukkan kepala, kelopak matanya terasa panas. Dadanya naik-turun tak beraturan, lalu—air matanya jatuh.Tanpa suara, tanpa isakan. Hanya tetesan yang mengalir begitu saja, membasahi pipinya.Tangan kirinya naik ke dahi, memijit pelan bagian yang terasa berdenyut. Lelah. Kosong.Ia menghapus air matanya cepat, lalu mengangkat wajah dengan sisa keberanian yang ia punya. "Saya bawa sendiri saja, Pak," suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Petugas menatapnya sejenak, seperti ing
"Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui anak Anda meninggal karena sesuatu yang sebenarnya bisa dihindari?""Ada yang mengatakan Anda sengaja membiarkan keadaan ini terjadi. Bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda bukan ibu yang lalai?""Jika bisa mengulang waktu, apa yang akan Anda lakukan berbeda? Atau Anda memang sejak awal tidak siap menjadi seorang ibu?"Pertanyaan dari wartawan itu menekan Ayu secara emosional. Namun ia memilih untuk mengabaikannya.Ayu mengeratkan pelukannya pada jenazah Bintang. Tubuh mungil itu terasa semakin ringan di dekapannya, seolah angin bisa saja menerbangkannya kapan saja. Kakinya gemetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena amarah yang mulai berdesir di dadanya.Dari mana mereka tahu? Dari mana datangnya semua orang ini? Keluarga Jaka bahkan tak peduli. Tidak ada seorang pun di rumah sakit, tidak ada yang menanyakan keadaannya. Tapi sekarang, di sini, mereka berkumpul seolah mereka peduli.Langkahnya
"Tapi jangan harap, aku akan melupakan apa yang Kak Rani lakukan padaku."Maharani membelalakkan mata, napasnya tersengal. Tangannya terangkat, jemarinya menegang, nyaris menghantam Ayu. Namun, sebelum pukulan itu melayang, Narendra mencengkeram pergelangan tangannya."Jaga sikapmu, sayang." Suaranya rendah, tapi tegas. "Di sini banyak orang."Maharani membeku. Rahangnya mengeras, matanya berkilat marah, tetapi hanya sekejap. Bibirnya sedikit bergetar sebelum akhirnya ia menarik napas dalam, menurunkan tangannya dengan gerakan terkendali. Seketika, wajahnya kembali seperti semula—tenang, nyaris tanpa cela, seolah ledakan amarah tadi tak pernah ada.Di sudut lain, Sambo menghela napas panjang, lalu berkata cukup lantang, seolah ingin semua orang mendengar, "Jangan terlalu keras pada mereka, Ayu. Kita semua sangat kehilangan hari ini."Ayu berbalik, menatap ayah mertuanya itu."Kita?" tanyanya, dengan nada suara yang nyaris terdengar sep
"Ini terlalu menyakitkan... terlalu menyakitkan." sahut Hayati, sesenggukan.Namun Ayu hanya berdiri diam. Gamis sederhana yang ia kenakan berkibar pelan ditiup angin. Wajahnya kosong, seakan semua rasa sudah habis terkuras bersama kepergian Bintang. Tidak ada air mata. Tidak ada lagi isakan.Tatapannya beralih ke gundukan tanah merah di hadapannya. Jemarinya meremas kain rok yang ia kenakan. Bintang kini telah pergi, dan tak ada yang bisa mengubah itu. Apapun yang keluarga Jaka lakukan hari ini, semua hanya tampak seperti panggung sandiwara di matanya.Setelah pemakaman usai, para pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman.Jaka menelan ludah, matanya terasa perih oleh cairan yang baru saja diteteskan ibunya. Namun, ia tahu betul bahwa ini bukan waktu untuk mengeluh. Kamera wartawan masih terus mengawasi dia dan keluarganya, menunggu momen kesedihan yang bisa dijadikan berita utama.Kini ia mendekati Ayu, agar terlihat seperti suami yang san
Sambo meremas ponselnya, rahangnya mengatup rapat. Sorot matanya menajam saat membaca komentar-komentar yang membanjiri berita daring. Ia melangkah cepat mendekati Hayati yang baru saja melempar gelas, jemarinya masih menggenggam remote televisi."Apa yang terjadi, Ma?" suaranya terdengar berat. "Masyarakat justru menyerangku. Kalau begini, reputasiku bisa hancur."Hayati mengangkat wajahnya. Matanya memerah, napasnya tertahan sesaat sebelum ia menghembuskannya perlahan. Bibirnya melengkung tipis, nyaris seperti sebuah senyum."Tenang aja, Pa," katanya, suaranya rendah, terukur. "Kita cuma perlu membalik pendapat mereka."Tiba-tiba, suara langkah cepat menggema dari koridor. Maharani muncul dengan wajah panik, ponsel tergenggam erat di tangannya."Ma… kacau!" suaranya meninggi, hampir histeris. "Akun sosmedku penuh hinaan. Kalau kayak gini, followers-ku bisa turun!"Hayati tak langsung menjawab. Mat
Ayu menyeringai sinis, lalu berbalik. Tanpa kata lagi, ia melangkah pergi, meninggalkan pesta dengan kepuasan yang berpendar di matanya.Setelah usai melakukan misi di pesta itu, Ayu bergegas keluar ballroom. Ia bertemu dengan Baim yang mengawasinya sedari tadi. Ayu mengangguk memberi kode, Baim membalasnya dengan anggukan yang sama. Ayu kemudian berlalu dari pesta itu, kembali masuk ke dalam Limosin yang menjadi sorotan awak media. Kilatan lampu kamera masih berusaha menembus kaca gelapnya, tapi Ayu sudah tak peduli. Ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit mobil dengan napas masih memburu.Tangannya menggenggam erat gaunnya yang sedikit kusut. "Ya Allah… akhirnya aku bisa melewati ini. Aku gak percaya bisa seberani itu di depan umum," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri."Bagus, Ayu."Suara itu datang dari belakang
Maharani mengangkat tangan, gelagapan. "Aduh… Rani lupa mau kasih tahu Mama! Pokoknya bukan itu intinya!"Ia menarik lengan ibunya, suaranya semakin mendesak."Sekarang apa yang harus kita lakukan? Gimana kalau Ayu bicara aneh-aneh ke wartawan?!"Hayati terdiam sesaat, napasnya mulai memburu.Di luar ballroom, kilatan kamera dan suara sorakan masih terdengar.Ayu ada di sini.Dan itu hanya bisa berarti satu hal—badai akan segera datang.Mata Hayati membesar, nyaris keluar dari rongganya. Rahangnya mengatup rapat, garis-garis kemarahan terukir jelas di wajahnya. "Kamu gak diundang," suaranya tajam seperti pisau. "Rakyat jelata dilarang ikut pesta orang kaya."Tawa Ayu meledak, nyaring dan penuh ejekan. Ia melangkah santai, tubuhnya condong ke depan, mendekati Hayati. "Mama… Mama…
"Ke mana Anda selama ini?"Suara-suara itu bertubi-tubi, menusuk gendang telinga Ayu dari segala arah. Dadanya mulai sesak, napasnya tersendat. Jemarinya yang menggenggam tas mulai bergetar.Kerumunan terasa semakin mendekat, seperti dinding yang siap meremukkannya kapan saja. Lututnya lemas, instingnya berteriak untuk kabur.Namun, di antara sorotan kamera yang menyilaukan, matanya menangkap sosok yang familiar.Baim.Berdiri tak jauh dari sana, mengenakan setelan jas hitam yang elegan, tangannya diselipkan ke dalam saku.Ia tidak berkata apa-apa.Hanya sebuah senyum tipis yang menghiasi wajahnya, tatapan matanya tenang, penuh keyakinan.Seakan-akan ia sedang berbisik tanpa suara, "Semuanya akan baik-baik saja."Ayu menelan ludah. Jemarinya yang gemetar perlahan mengendur. I
Ayu mengangguk, meski hatinya masih berdegup kencang.Baim melangkah pergi, meninggalkan Ayu dengan debaran hebat di dadanya. Punggungnya semakin menjauh, tetapi jejak kehadirannya masih tertinggal di hati Ayu, menggetarkan seluruh perasaannya."Ya Allah, Mas… Bagaimana mungkin aku bisa menahan perasaan ini?" batinnya lirih.Ia menarik napas panjang, mencoba meredam kekacauan dalam dirinya. Matanya jatuh pada tas yang tergeletak di dekatnya—tas yang dibelikan Baim tempo hari. Perlahan, ia meraihnya, jemarinya menelusuri permukaannya seakan mencari jawaban.Ia teringat kata-kata Baim saat memberikannya tas itu. "Kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti."Ayu tersenyum miris. "Ternyata dia benar."Siapa sangka, hari itu telah tiba. Hari di mana ia harus berdiri tegak, menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain di pela
Ayu mengangguk, meski keraguan masih menyelimuti dirinya. "Tapi... mungkinkah saya bisa cantik?"Baim menatap mata Ayu dalam-dalam, seolah ingin meyakinkan bahwa perkataannya benar. "Kamu sudah cantik, Ayu. Polesan ini hanya akan membuat kecantikanmu semakin bersinar."Ayu terenyuh. Baim adalah orang pertama yang pernah memujinya. Sementara Jaka, suaminya, bahkan tak pernah sudi menatap wajahnya lama-lama. Terlebih lagi mertua dan iparnya—yang selama ini hanya memberinya cacian dan hinaan. Hal itu membuatnya tidak percaya diri dan yakin bahwa dirinya memang sehina itu."Ayu… apa yang membuatmu ragu?" tanya Baim."Saya… saya tidak yakin bisa terlihat menarik, bahkan dengan riasan sekalipun.""Ayu, lupakan mereka yang merendahkanmu. Orang yang menganggapmu tak berharga hanyalah mereka yang tak mampu melihat keistimewaanmu. Di tangan yang tepat, kamu akan selalu bernilai."Setelah berpikir sedikit lama, Ayu akhirnya mantap u
Baim mengangguk, matanya lurus ke jalan di depan. "Yah. Di pesta itu, pasti akan banyak wartawan. Kamera di mana-mana. Kamu harus berdiri di sana sebagai seorang ratu." Ia menoleh lagi, menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam namun hangat. "Tegakkan kepalamu. Jangan pernah tertunduk, setakut apa pun kamu nantinya. Tetaplah pura-pura berani seperti sekarang."Ayu terpaku. Kata-kata itu menyusup ke dalam dirinya, menggetarkan sesuatu yang selama ini rapuh. Ia menatap Baim dalam-dalam, seakan mencari kepastian."Tapi… bagaimana kalau saya gagal, Mas?" suaranya pelan, nyaris berbisik.Baim tak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu tersenyum, kali ini lebih lembut. "Kamu nggak boleh gagal," ucapnya mantap. "Aku akan mengawasimu dari kejauhan."Ayu menggigit bibirnya. Pikirannya berkecamuk. Kata-kata Baim seperti sebuah perisai, tapi di saat yang sama, ketakutan itu tetap men
Mak Ti mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju telepon. "Biar saya panggilkan lewat saluran telepon, Pak."Baim mengangguk. "Terima kasih, Mak..." Suaranya terdengar lebih lembut kini, seraya matanya kembali menyapu ruangan, menangkap sisa kehangatan yang sempat terhenti oleh kehadirannya.Matanya sesekali melirik ke arah Fatma dan Sari yang duduk di sofa. Ia menyandarkan satu tangan ke pinggang, lalu berkata dengan nada tenang, "Oh ya. Fatma... Sari. Aku sudah ambil ASIP di rumah sakit. Kalian ambil di mobil, ya."Fatma menegakkan punggungnya, sementara Sari menoleh dengan tatapan bertanya."Hari ini Ayu ikut denganku. Kemungkinan sampai malam. Jadi kalian susui si kembar dengan ASIP dulu."Fatma dan Sari segera bangkit. "Baik, Pak," jawab mereka hampir bersamaan, lalu bergegas keluar rumah.Dari sudut ruangan, Indri menyipitkan mata, bibirnya sedikit mengerucut. Ada yang menggelitik rasa ingin tahunya. Ia akhirnya melangkah mendekat, me
Seperti api tersulut bensin, wajah Indri memerah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Hei, Ayu!" suaranya melengking. "Gak tahu diri banget kamu, ya! Pak Baim itu masih punya istri! Kamu juga punya suami!"Ia melangkah lebih dekat, hampir menudingkan jari ke wajah Ayu. "Teganya ya kamu jadi pelakor!"Udara di dapur seketika menjadi lebih panas. Fatma dan Sari menahan napas, mata mereka melebar, sementara Bi Imah yang baru kembali dari sudut ruangan hanya menggeleng pelan, menghela napas panjang.Ayu masih diam, tapi kali ini tatapannya mulai berubah. Tidak lagi penuh sindiran, tapi lebih tajam. Seolah dalam kepalanya, ia sedang memutuskan apakah akan membalas... atau membiarkan Indri tenggelam dalam amarahnya sendiri.Ayu menyandarkan satu tangan di pinggang, bibirnya melengkung tipis. Tatapannya menusuk langsung ke mata Indri."Indri... Indri," suaranya terdengar pelan, tapi penuh ejekan. "Kasihan kamu ya. Gak dapet respon dari Mas Baim. Makanya