Hari yang cerah berubah menjadi petaka kecil saat mobil yang membawa Jasmine dan Noah melaju di jalan kecil menuju Rafflesia Hills.Suara letupan keras membuat Jasmine terlonjak dari kursinya, sementara Noah dengan sigap menepikan mobil ke bahu jalan.“Apa itu?” tanya Jasmine dengan nada panik, memegang erat sabuk pengamannya.“Ban pecah,” jawab Noah datar, keluar dari mobil untuk memeriksa.Jasmine membuka pintu dan ikut turun. Ia melihat Noah berdiri di dekat ban belakang, menggelengkan kepala sambil menendang pelan roda mobil yang sudah kempis total.“Jadi, gimana? Kamu bisa ganti ban?” tanya Jasmine dengan senyum penuh harap.Noah menatapnya sejenak sebelum berkata, “Aku punya banyak keahlian, Jasmine. Tapi ganti ban bukan salah satunya.”Jasmine mendengus. “Hebat. Ternyata Mr. Perfect, eh salah Es Batu Berbulu Domba, punya kelemahan juga.”“Diam saja dan biarkan aku berpikir,” balas Noah sambil membuka ponselnya.Namun, saat ia mencoba menghubungi seseorang, sinyal teleponnya nih
Malam tiba, dan hujan deras mulai turun tanpa ampun. Suara rintiknya membentur atap rumah sederhana itu, memberikan kesan bahwa badai tidak akan berhenti dalam waktu dekat.Jasmine dan Noah terpaksa menerima kenyataan bahwa mereka harus menginap di tempat asing ini.Bapak tua yang ramah tadi menyediakan satu kamar kecil untuk mereka. Namun, kamar itu jauh dari sempurna, hanya ada sebuah ranjang kayu tua dengan kasur tipis dan selimut usang.“Ini... tempat kita tidur?” Jasmine bertanya sambil melirik ranjang kecil itu dengan skeptis.Noah mengangguk, berdiri di pintu sambil memandangi hujan deras di luar. “Setidaknya kita punya atap.”“Atap yang bocor,” balas Jasmine dengan nada sarkastik. Ia menunjuk ke sudut ruangan yang sudah mulai tergenang air karena rembesan dari langit-langit.Noah mendesah panjang. “Kamu mau mengeluh sepanjang malam atau bantu cari ember untuk menampung air itu?”Jasmine mendelik padanya. “Kenapa aku? Kamu kan yang lebih kuat!”“Aku sudah cukup kuat membawa kit
Pagi hari datang membawa hawa segar setelah semalaman diguyur hujan deras. Jasmine yang terbangun lebih dulu merasa tubuhnya lebih hangat daripada sebelumnya.Jasmine menoleh ke arah Noah, yang masih duduk bersandar di dinding, tampak lelap dengan jaket tipis yang ia kenakan.“Hah, bahkan tidur saja kelihatan arogan,” gumam Jasmine pelan, sambil memutar matanya.Tidak lama kemudian, suara kendaraan mendekat dari kejauhan. Jasmine segera berdiri dan melihat ke luar. Sebuah SUV hitam berhenti di depan rumah kecil tempat mereka menginap. Dari dalamnya, Pram keluar dengan wajah bingung bercampur lega.“Jasmine! Noah!” panggil Pram, melangkah cepat mendekati rumah.Noah yang terbangun karena suara itu langsung berdiri, melirik Jasmine sejenak sebelum membuka pintu. “Akhirnya datang juga.”Begitu masuk, Pram tertegun melihat keadaan di dalam. Jasmine yang masih mengenakan pakaian kering dengan rambut terurai tampak begitu santai, sementara Noah terlihat acuh tak acuh seperti biasa.“Kalian.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan penuh drama, mobil Noah akhirnya berhenti di sebuah halte bis. Pram menoleh ke Noah dengan alis terangkat.“Kita antar Jasmine dulu, baru antar aku,” pintanya dengan nada santai, seolah memberi perintah.Namun, Noah hanya menatapnya sekilas melalui kaca spion, lalu menjawab dengan dingin, “Kau turun di sini saja.”“Apa?” Pram terkejut, mengira ia salah dengar. “Serius, Kak Noah? Ini halte, lho! Aku kan nggak—”Pram belum selesai berbicara ketika Noah membuka kunci pintu mobil dan menatapnya dengan tegas. “Cepat turun.”Jasmine yang duduk di kursi penumpang depan melirik ke arah Noah, merasa situasinya agak berlebihan. “Noah, kamu nggak bisa begitu. Kasihan Pram kalau harus naik bis dengan barang-barangnya.” Jasmine menunjukkan wajah tidak suka.“Aku sudah bilang, Pram turun di sini,” jawab Noah singkat, tidak memberi ruang untuk diskusi.Pram mendengus kesal, tetapi ia tahu lebih baik tidak membantah Noah saat pria itu sudah memutuskan sesuat
Noah tiba di rumah Zora dengan kepala penuh pikiran. Kompleks yang mewah dan terawat di dekat Raflesia Hills itu biasanya membuatnya merasa nyaman. Namun kali ini, langkahnya terasa berat.Saat ia memasuki rumah, Zora menyambutnya dengan senyuman lebar, mengenakan gaun santai yang membuatnya terlihat sangat menawan.“Noah! Akhirnya kamu pulang juga,” seru Zora, berdiri dan menghampirinya.Zora melingkarkan lengannya di leher Noah dengan mesra, namun Noah hanya memberikan respons datar, melepaskan diri dengan lembut.“Ya, aku hanya mampir untuk mengambil pakaian,” jawabnya singkat.Zora mengerutkan kening, merasa ada yang berbeda. Ia memiringkan kepala, menatap Noah penuh tanya. “Kamu kenapa? Biasanya kalau kita ketemu setelah beberapa hari, kamu lebih hangat dari ini.”Noah menghela napas panjang, lelah setelah perjalanan y
Pagi itu, suasana di rumah Jasmine terasa berbeda. Noah, dengan ekspresi dingin dan sikap tegas, berdiri di ruang tamu sambil memegang ponsel. Jasmine memperhatikan dari kejauhan, merasa ada sesuatu yang tidak beres.“Noah, ada apa?” tanyanya ragu.Tanpa menoleh, Noah menjawab dengan nada yang datar. “Nikmah libur hari ini. Aku sudah memintanya untuk tidak datang.”Jasmine terkejut. “Kenapa? Nikmah biasanya datang setiap hari. Aku butuh bantuannya untuk beres-beres.”Noah meletakkan ponselnya di meja dan menatap Jasmine dengan dingin. “Aku tidak ingin ada orang lain di rumah ini hari ini.”Jasmine merasa darahnya berdesir. “Apa maksudmu? Kamu tidak bisa memutuskan itu sepihak!”Noah mendekati Jasmine perlahan, auranya begitu menekan hingga membuat Jasmine melangkah mundur tanpa sadar.
Jasmine kabur malam itu melalui jendela kamarnya. Setelah konflik besar dengan Noah, pikirannya kalut. Ia memilih untuk menginap di rumah temannya yang berada dekat Universitas Artaloka. Di tempat itu, setidaknya ia bisa menghirup udara tanpa bayang-bayang Noah yang terus mengintai setiap gerak-geriknya.Namun, keesokan harinya, Noah menemukannya. Pria itu berdiri di depan pintu apartemen temannya dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk Jasmine meremang. Temannya, yang tak ingin terlibat dalam konflik mereka, hanya bisa mundur dan membiarkan Jasmine menghadapi pria itu sendirian."Ikut aku!" Suara Noah berat, hampir tak memberikan ruang untuk penolakan.Jasmine menatapnya dengan tajam, tapi ia tahu bahwa perlawanan verbal tidak akan ada gunanya. Akhirnya, dengan gerakan enggan, ia mengambil tasnya dan keluar dari apartemen itu.Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah kata pun yang terucap. Mobil yang dikendarai Noah melaju dengan kecepatan stabil, tetapi atmosfer di dalamnya terasa
Jasmine merasa seseorang masuk ke kamarnya. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Noah berdiri di depannya dengan sebuah lingerie hitam tembus pandang di tangannya.“Pakai ini,” pinta Noah dengan nada dingin.Jasmine, yang setengah sadar dari tidurnya, menolak sambil mengibaskan tangan. Ia kembali menutup kepalanya dengan bantal, mencoba mengabaikan Noah.Namun, Noah seperti kesetanan. Ia menarik tubuh Jasmine hingga duduk, membuat wanita itu marah.“Apa-apaan sih? Kamu gila, ya? Aku ngantuk!” umpat Jasmine kesal.Ia pikir Noah akan mengerti dan membiarkannya kembali tidur. Namun, dugaan Jasmine jauh dari kenyataan.Noah menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya dengan erat, lalu mulai membuka piyama yang dikenakan Jasmine. Mata Jasmine terbuka lebar karena terkejut.“Dasar gila! Kamu pikir aku—” kalimatnya terhenti ketika Noah membungkam mulutnya dengan ciuman.Tanpa memberikan ruang untuk melawan, Noah dengan perlahan mengganti pakaian Jasmine. Bahkan, ia melepas semua pelindung ya
"Kita tidak punya waktu banyak."Suara Noah terdengar dalam ruangan yang sunyi, nadanya penuh ketegangan. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan video rekayasa yang baru saja mereka temukan. Jasmine duduk di sampingnya, ekspresi wajahnya tidak kalah serius."Aku sudah menyebarkan informasi ke beberapa kontak di media. Kita harus memastikan video ini tidak menyebar sebelum kita bisa membuktikan itu palsu," kata Jasmine sambil mengetik cepat di laptopnya.Noah mengetuk jemarinya di atas meja, berpikir cepat. "Leonard dan Zora akan mencoba menjatuhkan kita secepat mungkin. Kita harus membalikkan situasi sebelum mereka mendapatkan kesempatan itu."Jasmine menatap Noah dalam-dalam. "Aku punya ide. Bagaimana jika kita membiarkan mereka berpikir bahwa rencana mereka berhasil? Biarkan mereka merasa percaya diri, lalu kita serang balik dengan bukti yang lebih kuat."Noah tersenyum tipis. "Aku suka caramu berpikir. Tapi kita harus ekstra hati-hati. Ji
"Kita harus bergerak sekarang sebelum mereka mendahului kita."Suara Noah terdengar dalam ruangan yang sunyi. Matanya menatap tajam ke arah Jasmine, yang tengah sibuk meneliti dokumen di layar laptopnya.Jasmine mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku sudah menghubungi beberapa orang di pihak berwenang. Jika semua berjalan sesuai rencana, dalam waktu 24 jam, Leonard dan Pradipta tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."Noah menyilangkan tangannya di dada, ekspresinya tetap tegas. "Aku ingin ini berakhir secepat mungkin. Zora dan Juan juga tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas setelah semua yang mereka lakukan."Jasmine menutup laptopnya dan menatap Noah. "Kita harus memastikan mereka tidak bisa menyusun rencana lain. Jika mereka punya celah, mereka akan menyerang balik."Noah menarik napas dalam. "Itulah kenapa kita harus menyelesaikan ini sekali untuk selamanya."Di tempat lain, Zora menatap layar ponselnya
"Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."Suara Noah terdengar tajam saat dia meletakkan dokumen di atas meja. Matanya menatap Jasmine dengan intensitas yang sulit diartikan.Jasmine yang duduk di hadapannya menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya terlipat di atas meja. "Aku setuju. Tapi kita harus memastikan semua langkah kita sudah benar. Kalau kita terburu-buru, Leonard bisa berbalik menyerang kita."Noah mendesah pelan, lalu mengusap wajahnya. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka bergerak lebih jauh. Zora sudah mencoba menjebakmu. Aku tidak akan membiarkan dia mencoba lagi."Jasmine tersenyum kecil. "Aku tidak akan membiarkan mereka menang, Noah. Kita harus tetap fokus."Noah menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk. "Baik. Kita akan memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk melawan."Di sisi lain kota, Zora duduk di sebuah bar mewah, menyesap anggur merahnya dengan elegan. Di hadapannya, Leonard duduk dengan tenang,
"Ini tidak akan berakhir begitu saja, Jasmine. Mereka akan menyerang balik."Suara Noah terdengar tegas saat dia menutup laptopnya dengan gerakan mantap. Matanya menatap tajam ke arah Jasmine, yang masih menelusuri laporan investigasi di layar komputernya.Jasmine menghela napas dalam. "Aku tahu. Dan itu berarti kita harus lebih cepat dari mereka. Jika Leonard, Pradipta, dan Zora sedang merencanakan sesuatu, maka kita harus memastikan mereka tidak punya kesempatan untuk menjalankannya."Noah menyilangkan tangannya di dada, rahangnya mengencang. "Leonard bukan orang yang mudah dijatuhkan. Dia licik dan selalu selangkah lebih maju."Jasmine menatapnya dalam-dalam. "Tapi dia bukan satu-satunya yang licik. Kita juga bisa bermain dengan cara mereka."Di apartemennya, Zora berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya dengan ekspresi penuh perhitungan. Di belakangnya, Juan sedang duduk di sofa sambil menyesap segelas anggur."Kau yakin ini ak
Jasmine memandangi layar ponselnya dengan ragu. Pesan misterius yang baru saja masuk masih terpampang jelas di layar:"Aku bisa memberimu bukti, tapi kau harus menemuiku sendirian."Tangannya sedikit gemetar saat ia mengetik balasan. "Di mana?"Beberapa detik berlalu sebelum pesan lain masuk. "Midtown Hotel, lantai 15, kamar 1507. Datang jam 10 malam. Jangan bawa siapa pun."Jasmine menggigit bibirnya. Ini bisa jadi jebakan, tapi nalurinya mengatakan bahwa ini adalah kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang bisa benar-benar menghancurkan Zora, Juan, Leonard, dan Pradipta.Ia menoleh ke arah Noah, yang masih berbicara di telepon dengan ekspresi tegang. Ia tahu Noah tidak akan membiarkannya pergi sendirian. Tapi untuk pertama kalinya, Jasmine merasa bahwa ini adalah sesuatu yang harus ia lakukan sendiri.Dengan cepat, ia mengunci layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia sudah men
Langkah kaki Noah terdengar mantap saat ia berjalan memasuki ruang kantornya. Mata tajamnya menyapu seluruh ruangan, memastikan bahwa hanya ada orang-orang kepercayaannya di sana. Jasmine duduk di sisi meja, jemarinya mengetik cepat di laptopnya, memverifikasi ulang rekaman yang mereka dapatkan tadi malam."Semua data sudah kuamankan," kata Jasmine tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Rekaman ini cukup kuat untuk menjatuhkan Leonard dan Pradipta."Noah menarik napas dalam, menatap layar yang menampilkan wajah dua pria yang selama ini menjadi duri dalam dagingnya. "Kita tidak bisa gegabah. Aku ingin semua bukti ini tersusun rapi sebelum kita melangkah lebih jauh."Jasmine mengangguk. "Aku akan menghubungi tim hukum kita. Dengan semua bukti ini, mereka tidak akan bisa mengelak lagi."Tapi sebelum Jasmine sempat melanjutkan pekerjaannya, ponsel Noah bergetar di meja. Ia meraihnya dan membaca pesan yang masuk.“Jangan pikir kalian sudah menang.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka menang," kata Noah dengan nada tajam. Matanya yang gelap penuh determinasi menatap layar komputer yang menampilkan data dari penyelidikan terbaru.Jasmine duduk di seberangnya, menyilangkan tangan di dada. "Kita harus memastikan langkah kita benar. Jika kita terburu-buru, mereka bisa membalikkan keadaan dan menjebak kita."Noah mengangguk, rahangnya mengencang. "Aku sudah menghubungi beberapa orang kepercayaanku. Kita harus menangkap mereka dengan tangan kosong. Bukan hanya Zora dan Juan, tetapi juga Leonard dan Pradipta."Jasmine menatap layar komputer itu dengan tajam. “Video yang mereka coba sebarkan tentangmu… kita harus memotongnya sebelum sampai ke media.”Noah mengetuk jemarinya di meja, berpikir dalam-dalam. "Aku punya seseorang di dunia media yang bisa membantu kita. Jika mereka mencoba menjatuhkan kita dengan cara ini, kita harus mengendalikan narasi sebelum terlambat."Jasmine menyipi
"Kau yakin ini tidak akan menjadi bumerang bagi kita?" Jasmine bertanya dengan nada serius, matanya menatap Noah yang sedang memeriksa kembali perekaman audio yang mereka dapatkan dari gudang tadi malam.Noah menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya tetap dingin. "Mereka sudah terlalu lama bermain di belakang kita. Sekarang saatnya kita mengambil langkah lebih dulu."Jasmine menekan jemarinya ke pelipis, mencoba berpikir lebih jernih. "Zora, Juan, Pradipta… semuanya terhubung. Dan sekarang, kita juga tahu Leonard ada di balik layar. Ini bukan hanya sabotase bisnis, Noah. Mereka mengincar lebih dari itu."Noah menutup laptopnya perlahan. "Aku tahu. Dan justru karena itu, kita tidak bisa membiarkan mereka bergerak lebih jauh. Kita harus menyusun strategi."Jasmine menatap pria itu dalam-dalam, mencari tanda-tanda keraguan di wajahnya, tapi ia tidak menemukannya. Noah sudah mengambil keputusan. Dan begitu pula dirinya.Di tempat lain, Zora b
Noah menatap layar ponselnya dengan ekspresi gelap. Video yang dikirim seseorang barusan terus berulang dalam pikirannya. Gambar Zora yang sedang berbicara mesra dengan Juan, disertai rekaman suara yang jelas membuktikan pengkhianatan mereka.Jasmine, yang berdiri di sampingnya, membaca setiap perubahan emosi di wajah pria itu. “Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya pelan.Noah menghela napas dalam, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku tidak bisa langsung bertindak gegabah. Jika aku menyerang sekarang, mereka akan menyembunyikan bukti lain yang mungkin lebih besar.”Jasmine mengangguk setuju. “Kita harus memastikan bahwa ini bukan hanya sekadar balas dendam pribadi. Kita perlu menghancurkan mereka dengan bukti yang tidak bisa disangkal.”Noah menatap Jasmine sejenak sebelum mengangguk. “Mulai sekarang, kita akan bermain lebih cerdas.”***Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, Zora du