"Apa kau masih pemalu?" suara Noah terdengar menggoda.
Jasmine menghela napas panjang. "Aku hanya malas berurusan denganmu."
Noah terkekeh kecil sebelum naik ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping Jasmine.
"Aku tidak akan menggigitmu, Jasmine," katanya pelan.
Jasmine tetap diam. Ia mencoba menenangkan dirinya, tetapi keberadaan Noah begitu dekat membuatnya sulit berpikir jernih.
Lalu tiba-tiba, Noah menarik Jasmine ke dalam pelukannya, membuat wanita itu terkejut.
"Noah! Lepaskan aku!"
Noah tidak menjawab. Tubuhnya terasa hangat, aroma maskulin khasnya memenuhi indera penciuman Jasmine.
"Noah, aku serius!" seru Jasmine dengan tatapan tajam.
Namun, pria itu hanya mempererat pelukannya dan berbisik di dekat telinga Jasmine.
"Aku tidak akan melepasmu lagi, Jasmine. Kau milikku."
Jasmine berdiri di bawah pancuran air hangat, membiarkan alirannya mengalir di atas kulitnya. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang masih kacau setelah malam panjang bersama Noah. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam benaknya, terutama perasaan bersalah yang terus menghantui.’Apa aku harus jujur pada Zora? Tapi aku takut dia marah dan menyalahkanku,’ batin Jasmine.Setelah merasa cukup, Jasmine keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian santai. Saat ia berdiri di depan cermin, menyisir rambutnya yang masih sedikit basah, matanya menangkap pantulan sosok Noah yang berdiri tidak jauh darinya.Pria itu hanya bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat di dada, menatapnya tanpa ekspresi.Jasmine pura-pura tidak peduli dan segera meninggalkan kamar, menuju ruang makan. Namun, perasaan tidak nyaman tetap mengikuti langkahnya.Di dapur, Nikmah sedang menyiapkan mak
Jasmine menggeleng pelan. "Tidak, Nikmah. Aku hanya ingin makan dengan tenang."Nikmah tersenyum, lalu meletakkan sepiring nasi goreng pedas di hadapan Jasmine. "Silakan, semoga sesuai selera."Jasmine mengambil sendok dan mulai menyuap makanannya, tetapi pikirannya tetap berputar pada percakapan Noah di telepon.Apakah Zora tahu tentang dia dan Noah?Pertanyaan itu berulang di benaknya, membuatnya kehilangan selera makan.Saat Jasmine masih sibuk dengan pikirannya, suara ketukan di pintu depan terdengar. Nikmah segera beranjak untuk membukakan pintu."Nona, ada tamu," kata Nikmah setelah melihat siapa yang datang.Jasmine menoleh dengan cepat, dan wajahnya langsung berubah kaget.”Pram,” gumam Jasmine berbisik.Pria itu berdiri di ambang pintu dengan senyum kecil. "Hai, Jasmine. Aku tidak menyangka kau di sini."Jasmine dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya. Pram tidak tahu bahwa ia tinggal di rumah ini bersama Noah."Hai, Pram," Jasmine mencoba tersenyum santai. "Bagaimana kau
"Aku sudah bilang, Zora. Jangan ikut campur." Jasmine menahan napas, mendengar kalimat itu. Suara Noah penuh penekanan."Apa yang kau inginkan?!" bentak Noah kemudian, nada suaranya jelas tidak bisa ditoleransi lagi.Tidak ada jawaban dari seberang sana, tetapi ekspresi Noah semakin gelap. "Aku sudah cukup bersabar. Aku tidak peduli dengan masa lalu kita lagi, Zora. Kau yang memilih ini sejak awal!"Jasmine tertegun. ’Masa lalu?’Suasana sunyi beberapa detik sebelum Noah menghela napas panjang, kali ini terdengar lebih lelah. "Berhentilah mengusik Jasmine…"Jasmine terkejut. Ia langsung menutup pintu perlahan dan melangkah mundur.’Jadi… Zora tahu ia bersama Noah?’ Jasmine memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. ’Jangan bilang… Zora yang menelepon Noah tadi?’Tidak ingin berlama-lama, Jasmine segera berbalik dan kembali ke ruang makan. Namun, belum sempat ia duduk, ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk, dari Zora. Jasmine menatap layar dengan ragu, lalu akhirnya membuka pesan i
Jantung Jasmine berdegup kencang.Zora menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Jasmine dengan tatapan tajam yang berbeda dari sebelumnya. “Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan Noah sekarang, Jasmine. Tapi aku ingin kau tetap tahu tempatmu.”Jasmine mengepalkan tangan di pangkuannya.“Dan aku ingin memastikan satu hal….” Zora menghentika n ucapannya sejenak.Jasmine menatap Zora dengan sorot bertanya.“Jangan pernah membuat Noah jatuh cinta padamu,” bisik Zora dengan nada peringatan.Jasmine merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.Zora kemudian tersenyum tipis, menghabiskan minumannya, lalu berdiri. “Kuharap kita bisa tetap akur, Jasmine. Karena bagaimanapun… kita masih keluarga.”Jasmine hanya bisa menatap kepergian Zora dengan dada yang terasa sesak.’Apa yang harus ia lakukan sekarang?’Jasmine menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengirim pesan itu pada Zora. Hatinya berdebar, tapi ia sudah memutuskan.”Kak Zora, aku akan merahasiakan apa yang kau katakan
Jasmine melangkah pelan di trotoar, membiarkan pikirannya melayang. Setelah pertemuan yang cukup menguras emosinya dengan Zora, dia merasa butuh waktu sendiri sebelum kembali ke Raflesia Hills. Udara sore cukup sejuk, angin lembut membelai wajahnya, tetapi hatinya tetap terasa sesak.Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke sebuah area komersial kecil di pinggir jalan. Beberapa toko dan kafe berjajar rapi, memberikan suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Saat itulah dia mendengar seseorang memanggil namanya."Jasmine?!" Jasmine menoleh dan mendapati seorang pria berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan ekspresi terkejut sekaligus senang.“Ryan?” Jasmine ikut terkejut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu.Ryan, teman kuliahnya dulu, berjalan mendekat dengan senyum lebar. “Astaga, ini benar-benar kamu! Sudah berapa lama kita nggak ketemu?”Jasmine tersenyum tipis. “Cukup lama.”Ryan menatapnya lebih saksama, lalu pandangannya turun ke perut Jasmine yang m
Jasmine duduk di dalam angkutan umum, memandangi jalanan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota. Langit senja terlihat indah, tetapi pikirannya penuh dengan berbagai kekhawatiran.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pram masuk: “Jasmine, sepertinya Noah mendapat masalah di perusahaan. Pihak Bulharm berkhianat.”Jasmine menegang, matanya langsung fokus membaca.“Vanesia kecewa karena dia ingin Noah menikahinya juga, tapi Noah menolak. Karena itu, Bulharm menghambat semuanya, dan sekarang saham Dirgantara sedang mendapat isu buruk serta turun.”Jasmine menggigit bibirnya. Dirgantara Group terkena imbas politik bisnis? Ini bukan kabar baik.Matanya kembali terpaku pada layar ponsel.“Jika saham mengalami kemerosotan, berarti saham milikku yang 3% juga dalam bahaya,” pikirnya.Jasmine menghela napas panjang. Dia tidak terlalu memahami dunia saham dan investasi, tetapi dia tahu bahwa jika situasi ini terus berlanjut, bisa saja Dirgantara kehilangan banyak investor.Tangan Jasmine gemetar s
Jasmine membuka pintu rumah dengan hati-hati. Begitu masuk, matanya langsung menangkap sosok Noah yang berdiri di ruang tamu. Wajahnya terlihat penuh frustasi, matanya tajam namun redup, dan dasinya sudah terlepas begitu saja, seolah baru saja dia melemparnya ke sembarang tempat.Jasmine menelan ludah. Dia belum pernah melihat Noah sekacau ini.Noah menatapnya sekilas sebelum membuang napas kasar dan berjalan ke arah minibar di sudut ruangan. Dengan tangan gemetar, dia menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal dan meneguknya sekaligus.Jasmine berjalan mendekat, ragu-ragu. "Noah…?" panggilnya pelan.Noah tidak langsung menoleh, tetapi tangannya mencengkeram tepi meja dengan kuat. Napasnya berat."Kenapa kau terlihat seperti ini?" Jasmine bertanya lagi, lebih lembut kali ini.Noah hanya tertawa pendek, getir. “Hari ini sangat menyebalkan, Jasmine.”Jasmine menatap pria itu. Dia tahu Noah sedang tertekan, dan dia bisa menebak sebagian besar penyebabnya.Perusahaan sedang dalam kris
Jasmine menatap mata Noah yang penuh dengan badai emosi. Frustrasi, kelelahan, kemarahan, dan mungkin sesuatu yang lebih dalam dari itu—sesuatu yang bahkan Noah sendiri tidak bisa jelaskan.Dengan suara yang lirih namun mantap, Jasmine berbisik, "Kali ini… kamu boleh memiliki tubuhku sesukamu, selama itu bisa mengembalikan pikiran jernihmu."Noah terdiam. Matanya menyelidik wajah Jasmine, mencari kebohongan atau keraguan. Namun, yang ditemukannya hanyalah ketulusan dan penerimaan.Perlahan, jemari Noah menyentuh wajah Jasmine, mengusap pipinya sebelum turun ke lehernya. Jasmine tetap diam, tubuhnya terasa panas karena sentuhan pria itu.Noah mulai melepaskan satu per satu penghalang di antara mereka. Jemarinya bergerak dengan perlahan, nyaris menyiksa, seolah ingin menghafal setiap inci dari dirinya. Jasmine hanya bisa menggigit bibir, matanya berkabut saat tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Noah.Ciuman yang diberikan Noah kali ini berbeda. Tidak sekadar pelampiasan, tapi penuh inte
Jasmine berdiri di depan Ryan, hatinya berdegup kencang. Pria itu masih menatapnya, menunggu jawaban yang selama ini ia nantikan. Hujan tipis mulai turun, menyisakan embun di rerumputan taman keluarga Dirgantara. Udara yang dingin membuat napas Jasmine berembun, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya terasa membeku. Melainkan pertanyaan yang Ryan ajukan padanya.“Jika semua ini tidak pernah terjadi—jika tidak ada kontrak, tidak ada tekanan dari keluargamu atau Noah—apakah kau akan memilihku?”Jasmine menutup matanya sejenak. Seakan mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri. Ia telah mengajukan pertanyaan itu berkali-kali dalam pikirannya, dan sekarang, saat ia harus mengatakannya dengan lantang, dadanya terasa sesak.Ryan tetap menunggu, tidak mendesak, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat menginginkan jawaban yang berpihak padanya.Jasmine mengangkat wajahnya, menatap Ryan lurus-lurus. “Ryan... jika se
Jasmine mengikuti langkah Pram dengan hati yang berdebar. Setiap langkah yang ia ambil menuju ruang kerja Noah terasa semakin berat. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan Noah, tetapi ia bisa merasakan bahwa pertemuan ini akan menjadi sesuatu yang mengubah segalanya.Saat mereka tiba di depan pintu ruang kerja, Pram mengetuk dua kali sebelum membukanya. "Noah menunggumu di dalam," katanya dengan suara datar.Jasmine menatap Pram sejenak sebelum melangkah masuk. Di dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu meja, Noah duduk di kursinya, jari-jarinya mengetuk permukaan meja kayu dengan ritme pelan. Matanya langsung tertuju pada Jasmine begitu ia masuk."Duduklah," ujar Noah tanpa basa-basi.Jasmine menurut. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, tetapi hawa di ruangan ini terlalu berat. Atmosfernya terlalu menekan.Noah menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. "Ryan masih mencarimu. Aku tahu dia ingin jawaban darimu."
Malam itu, setelah meninggalkan rumah yang disiapkan Noah untuk mereka, Jasmine memilih untuk kembali ke rumah keluarga Dirgantara. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri—hati kecilnya mengakui bahwa apa yang dilakukan Noah untuknya sangat berarti. Namun, bayangan masa lalu, ketakutan akan masa depan, dan keberadaan Ryan serta Pram masih menghantuinya.Ketika ia memasuki mansion keluarga Dirgantara, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tapi begitu Jasmine melewati ruang tengah, suara seseorang menghentikan langkahnya.“Jasmine, duduklah sebentar.”Suara berat namun berwibawa itu berasal dari Dursila Dirgantara, nenek Noah. Wanita tua itu duduk dengan anggun di salah satu sofa besar, matanya meneliti Jasmine dengan tajam. Di sebelahnya, Tari, sepupu Noah, ikut menatap Jasmine dengan ekspresi yang sulit dibaca.Jasmine menelan ludah, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi
Jasmine masih memikirkan pertemuannya dengan Ryan saat Noah tiba-tiba mengajaknya keluar. Mata pria itu serius, tanpa memberikan kesempatan untuk menolak. "Kita pergi sekarang.""Ke mana?" tanya Jasmine curiga. Tangannya masih menggenggam ponsel, seakan enggan untuk melepaskan bayangan percakapan terakhirnya dengan Ryan.Noah hanya tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tegas, yang tidak bisa dibantah. "Kau akan tahu saat kita sampai di sana."Dengan berat hati, Jasmine akhirnya menurut. Mereka melaju dalam diam, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Aroma kulit jok mobil yang khas, suara lembut gesekan roda dengan aspal, dan tatapan tajam Noah yang sesekali melirik ke arahnya dari kaca spion membuat perjalanan ini terasa lebih panjang daripada yang seharusnya.Pikiran Jasmine terus berputar. Kata-kata Ryan masih menghantuinya. "Jika semua ini tidak pernah terjadi—jika tidak ada kontrak, tidak ada Noah, apakah kau akan m
Setelah semua yang terjadi, Jasmine merasa ada jurang tak kasat mata di antara dirinya dan Noah. Meskipun Juan telah ditangkap, skandal Zora terbongkar, dan Jorse Corp kini berada di tangannya, hati Jasmine masih diliputi kebingungan.Di dalam kamar yang sunyi, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita di sana tampak lebih kuat daripada sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang masih menggantung di matanya—keraguan.Noah mengetuk pintu sebelum masuk. "Kenapa masih belum tidur?" tanyanya, mendekat.Jasmine tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir."Noah duduk di sampingnya, menatapnya lekat. "Tentang apa?"Jasmine menghela napas. "Tentang kita. Setelah semua yang terjadi... aku masih bertanya-tanya, apa aku pantas berada di sisimu? Apa aku benar-benar bagian dari hidupmu, atau hanya seseorang yang kebetulan terjebak dalam pusaran masalah ini?"Mata Noah menggelap, rahangnya mengencang. "Jasmine, aku tidak pernah mengang
Berita tentang penangkapan Juan menyebar dengan cepat. Media menyebarkan informasi mengenai keterlibatannya dalam berbagai kejahatan, mulai dari konspirasi bisnis yang melibatkan Jorse Corp hingga skandal gelap keluarga Santika yang kini terungkap ke publik. Setiap detik, nama keluarga Santika semakin tercoreng, dan banyak pihak mulai berbalik melawan mereka. Dengan ini, hanya tinggal menunggu waktu hingga hukum akan menjatuhkan vonis pada semua yang terlibat.Di rumah keluarga Dirgantara, Jasmine duduk di ruang kerja Noah. Matanya menatap layar laptop yang penuh dengan dokumen-dokumen penting mengenai Jorse Corp. Keberadaan perusahaan itu di ambang kehancuran, tetapi kesempatan kini ada di tangannya untuk merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi warisan keluarganya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya, hal yang lebih dalam dari sekadar bisnis. Ia harus membersihkan nama orang tuanya, membersihkan setiap noda yang ditinggalkan oleh pengkhianatan yan
Noah duduk di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan rahang mengatup. Serangkaian dokumen tentang perusahaan terpampang jelas di layar. Ancaman dari keluarga Bulharm bukan hanya rumor belaka—mereka benar-benar berusaha mengambil alih Dirgantara Group secara diam-diam.Namun, kali ini, dia merasa lebih tenang. Tidak ada lagi tekanan dari Zora, tidak ada lagi permainan licik yang harus dia hadapi darinya. Perceraian mereka sudah final, dan Zora kini menjalani hukuman 15 tahun penjara bersama Leonard Wijaya. Semuanya terasa lebih ringan, tetapi ancaman belum benar-benar berakhir.Pintu ruangannya diketuk. Jasmine masuk dengan ekspresi tenang tetapi penuh perhatian. “Ada masalah baru?”Noah menghela napas. “Bulharm mencoba mengambil saham mayoritas dari tangan investor kecil. Mereka ingin menguasai Dirgantara Group.”Jasmine duduk di hadapannya, matanya menatap Noah dengan serius. “Apa yang bisa kita lakukan?”
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di tepi pantai, pasir putih lembut di bawah kaki mereka, sementara ombak berkejaran menuju bibir pantai. Angin laut menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin yang khas.Noah menatapnya dalam, menggenggam tangannya erat. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini hidup yang kita pilih, dan aku ingin menjalaninya bersamamu."Jasmine menghela napas, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan pria itu. "Aku juga ingin itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kita tidak akan menyesal."Noah tersenyum kecil, mengangkat tangan Jasmine dan mengecup punggung tangannya lembut. "Tidak ada penyesalan. Hanya masa depan yang akan kita bangun bersama."Jasmine mengangguk, hatinya dipenuhi kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa berada di tempa
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh keyakinan. Mereka berdiri di depan teras rumah kayu mereka, angin laut bertiup lembut membawa aroma asin yang menenangkan. Langit mulai berubah jingga, menandakan sore akan segera berganti malam.Noah tersenyum kecil, menatap mata Jasmine yang penuh dengan harapan. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini adalah awal baru kita."Jasmine mengangguk pelan, menggenggam tangan Noah erat. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku ingin hidup kita dipenuhi kebahagiaan, tanpa gangguan."Noah mengusap punggung tangannya lembut. "Dan itu yang akan kita lakukan. Tidak ada lagi yang bisa mengusik kita. Kita memilih jalan kita sendiri."Jasmine menarik napas panjang, menikmati ketenangan yang selama ini sulit mereka dapatkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa sepenuhnya bebas.