Jantung Jasmine berdegup kencang.Zora menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap Jasmine dengan tatapan tajam yang berbeda dari sebelumnya. “Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan Noah sekarang, Jasmine. Tapi aku ingin kau tetap tahu tempatmu.”Jasmine mengepalkan tangan di pangkuannya.“Dan aku ingin memastikan satu hal….” Zora menghentika n ucapannya sejenak.Jasmine menatap Zora dengan sorot bertanya.“Jangan pernah membuat Noah jatuh cinta padamu,” bisik Zora dengan nada peringatan.Jasmine merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.Zora kemudian tersenyum tipis, menghabiskan minumannya, lalu berdiri. “Kuharap kita bisa tetap akur, Jasmine. Karena bagaimanapun… kita masih keluarga.”Jasmine hanya bisa menatap kepergian Zora dengan dada yang terasa sesak.’Apa yang harus ia lakukan sekarang?’Jasmine menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengirim pesan itu pada Zora. Hatinya berdebar, tapi ia sudah memutuskan.”Kak Zora, aku akan merahasiakan apa yang kau katakan
Jasmine melangkah pelan di trotoar, membiarkan pikirannya melayang. Setelah pertemuan yang cukup menguras emosinya dengan Zora, dia merasa butuh waktu sendiri sebelum kembali ke Raflesia Hills. Udara sore cukup sejuk, angin lembut membelai wajahnya, tetapi hatinya tetap terasa sesak.Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke sebuah area komersial kecil di pinggir jalan. Beberapa toko dan kafe berjajar rapi, memberikan suasana tenang yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota. Saat itulah dia mendengar seseorang memanggil namanya."Jasmine?!" Jasmine menoleh dan mendapati seorang pria berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan ekspresi terkejut sekaligus senang.“Ryan?” Jasmine ikut terkejut. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu.Ryan, teman kuliahnya dulu, berjalan mendekat dengan senyum lebar. “Astaga, ini benar-benar kamu! Sudah berapa lama kita nggak ketemu?”Jasmine tersenyum tipis. “Cukup lama.”Ryan menatapnya lebih saksama, lalu pandangannya turun ke perut Jasmine yang m
Jasmine duduk di dalam angkutan umum, memandangi jalanan yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota. Langit senja terlihat indah, tetapi pikirannya penuh dengan berbagai kekhawatiran.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Pram masuk: “Jasmine, sepertinya Noah mendapat masalah di perusahaan. Pihak Bulharm berkhianat.”Jasmine menegang, matanya langsung fokus membaca.“Vanesia kecewa karena dia ingin Noah menikahinya juga, tapi Noah menolak. Karena itu, Bulharm menghambat semuanya, dan sekarang saham Dirgantara sedang mendapat isu buruk serta turun.”Jasmine menggigit bibirnya. Dirgantara Group terkena imbas politik bisnis? Ini bukan kabar baik.Matanya kembali terpaku pada layar ponsel.“Jika saham mengalami kemerosotan, berarti saham milikku yang 3% juga dalam bahaya,” pikirnya.Jasmine menghela napas panjang. Dia tidak terlalu memahami dunia saham dan investasi, tetapi dia tahu bahwa jika situasi ini terus berlanjut, bisa saja Dirgantara kehilangan banyak investor.Tangan Jasmine gemetar s
Jasmine membuka pintu rumah dengan hati-hati. Begitu masuk, matanya langsung menangkap sosok Noah yang berdiri di ruang tamu. Wajahnya terlihat penuh frustasi, matanya tajam namun redup, dan dasinya sudah terlepas begitu saja, seolah baru saja dia melemparnya ke sembarang tempat.Jasmine menelan ludah. Dia belum pernah melihat Noah sekacau ini.Noah menatapnya sekilas sebelum membuang napas kasar dan berjalan ke arah minibar di sudut ruangan. Dengan tangan gemetar, dia menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal dan meneguknya sekaligus.Jasmine berjalan mendekat, ragu-ragu. "Noah…?" panggilnya pelan.Noah tidak langsung menoleh, tetapi tangannya mencengkeram tepi meja dengan kuat. Napasnya berat."Kenapa kau terlihat seperti ini?" Jasmine bertanya lagi, lebih lembut kali ini.Noah hanya tertawa pendek, getir. “Hari ini sangat menyebalkan, Jasmine.”Jasmine menatap pria itu. Dia tahu Noah sedang tertekan, dan dia bisa menebak sebagian besar penyebabnya.Perusahaan sedang dalam kris
Jasmine menatap mata Noah yang penuh dengan badai emosi. Frustrasi, kelelahan, kemarahan, dan mungkin sesuatu yang lebih dalam dari itu—sesuatu yang bahkan Noah sendiri tidak bisa jelaskan.Dengan suara yang lirih namun mantap, Jasmine berbisik, "Kali ini… kamu boleh memiliki tubuhku sesukamu, selama itu bisa mengembalikan pikiran jernihmu."Noah terdiam. Matanya menyelidik wajah Jasmine, mencari kebohongan atau keraguan. Namun, yang ditemukannya hanyalah ketulusan dan penerimaan.Perlahan, jemari Noah menyentuh wajah Jasmine, mengusap pipinya sebelum turun ke lehernya. Jasmine tetap diam, tubuhnya terasa panas karena sentuhan pria itu.Noah mulai melepaskan satu per satu penghalang di antara mereka. Jemarinya bergerak dengan perlahan, nyaris menyiksa, seolah ingin menghafal setiap inci dari dirinya. Jasmine hanya bisa menggigit bibir, matanya berkabut saat tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Noah.Ciuman yang diberikan Noah kali ini berbeda. Tidak sekadar pelampiasan, tapi penuh inte
Noah juga tak berkata apa-apa. Matanya masih terpejam, namun pelukannya semakin erat.Dalam keheningan yang nyaman itu, mereka akhirnya tertidur.Malam masih panjang, dan keheningan menyelimuti kamar mereka. Jasmine dapat merasakan ritme napas Noah yang mulai teratur, menunjukkan bahwa pria itu mulai terlelap. Namun, dirinya sendiri masih terjaga, matanya menatap samar ke arah langit-langit kamar yang remang.Pelukan Noah tetap erat, lengannya melingkari pinggangnya seolah tak ingin membiarkan Jasmine pergi ke mana pun.Jasmine menghela napas pelan, hatinya terasa sedikit aneh. Ia tahu ini bukan pertama kalinya mereka berada dalam situasi seperti ini, tetapi kali ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang lebih dalam di mata Noah tadi sebelum ia benar-benar terlelap—sesuatu yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.Pelan, Jasmine mengangkat tangannya, jemarinya menyentuh garis rahang Noah. Pria itu tetap diam, tetapi gerakan kecil dari napasnya membuat Jasmine menyadari bahwa ia belum benar-ben
Ketika mereka turun ke ruang makan, aroma makanan sudah menyambut mereka. Jasmine tersenyum lega melihat meja yang penuh dengan hidangan yang ia inginkan.Nikmah, yang sudah menyiapkan semuanya, segera menyambut mereka dengan ramah."Seperti yang Nona minta, ini beberapa hidangan yang sudah saya siapkan," kata Nikmah sambil mulai menyebutkan satu per satu nama makanannya. "Ada sup ayam dengan rempah, nasi goreng dengan sedikit cabai, tumis sayuran, dan tentu saja, dessert manisnya puding cokelat dan buah segar."Jasmine tersenyum senang. "Terima kasih, Nikmah. Seperti biasa, kamu memang tahu seleraku."Noah hanya duduk di kursinya sambil memperhatikan Jasmine dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia terlihat santai, tetapi jelas ada sesuatu di kepalanya yang sedang dipikirkan.Saat Jasmine mulai makan, Noah akhirnya membuka suara."Setelah ini, kita harus membahas sesuatu, Jasmine," katanya serius.Jasmine menghentikan gerakan sendoknya dan menatap Noah. "Membahas apa?"Noah tidak langs
Jasmine semakin ingin menghilang dari dunia ini saat dokter Wibisono menghela napas kecil, lalu berkata dengan nada bijak, "Saya sarankan agar sedikit dikurangi, terutama di trimester ini. Takutnya akan berdampak tidak baik pada janin. Jangan terlalu sering, terutama jika ada kontraksi ringan setelah berhubungan."Jasmine tidak berani menatap dokter, apalagi menatap Noah. Ia hanya mengangguk dengan malu-malu.Dokter kemudian mulai menjelaskan, "Pada trimester pertama, hubungan intim masih boleh dilakukan, tetapi dengan sangat hati-hati. Pada trimester kedua, intensitasnya bisa ditingkatkan karena kondisi janin sudah lebih stabil. Namun, saat memasuki trimester ketiga, apalagi menjelang bulan-bulan akhir, sebaiknya lebih dibatasi. Ada waktu-waktu tertentu di mana hubungan suami istri justru dapat membantu proses persalinan nanti, tetapi jangan terlalu sering atau terlalu berlebihan."Noah mendengarkan dengan serius. "Baik, Dok. Saya akan lebih berhati-hati."Jasmine mengerjap pelan. En
Malam itu, setelah meninggalkan rumah yang disiapkan Noah untuk mereka, Jasmine memilih untuk kembali ke rumah keluarga Dirgantara. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri—hati kecilnya mengakui bahwa apa yang dilakukan Noah untuknya sangat berarti. Namun, bayangan masa lalu, ketakutan akan masa depan, dan keberadaan Ryan serta Pram masih menghantuinya.Ketika ia memasuki mansion keluarga Dirgantara, suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Tapi begitu Jasmine melewati ruang tengah, suara seseorang menghentikan langkahnya.“Jasmine, duduklah sebentar.”Suara berat namun berwibawa itu berasal dari Dursila Dirgantara, nenek Noah. Wanita tua itu duduk dengan anggun di salah satu sofa besar, matanya meneliti Jasmine dengan tajam. Di sebelahnya, Tari, sepupu Noah, ikut menatap Jasmine dengan ekspresi yang sulit dibaca.Jasmine menelan ludah, lalu melangkah mendekat dan duduk di kursi
Jasmine masih memikirkan pertemuannya dengan Ryan saat Noah tiba-tiba mengajaknya keluar. Mata pria itu serius, tanpa memberikan kesempatan untuk menolak. "Kita pergi sekarang.""Ke mana?" tanya Jasmine curiga. Tangannya masih menggenggam ponsel, seakan enggan untuk melepaskan bayangan percakapan terakhirnya dengan Ryan.Noah hanya tersenyum kecil, tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang tegas, yang tidak bisa dibantah. "Kau akan tahu saat kita sampai di sana."Dengan berat hati, Jasmine akhirnya menurut. Mereka melaju dalam diam, hanya suara mesin mobil yang terdengar. Aroma kulit jok mobil yang khas, suara lembut gesekan roda dengan aspal, dan tatapan tajam Noah yang sesekali melirik ke arahnya dari kaca spion membuat perjalanan ini terasa lebih panjang daripada yang seharusnya.Pikiran Jasmine terus berputar. Kata-kata Ryan masih menghantuinya. "Jika semua ini tidak pernah terjadi—jika tidak ada kontrak, tidak ada Noah, apakah kau akan m
Setelah semua yang terjadi, Jasmine merasa ada jurang tak kasat mata di antara dirinya dan Noah. Meskipun Juan telah ditangkap, skandal Zora terbongkar, dan Jorse Corp kini berada di tangannya, hati Jasmine masih diliputi kebingungan.Di dalam kamar yang sunyi, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita di sana tampak lebih kuat daripada sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang masih menggantung di matanya—keraguan.Noah mengetuk pintu sebelum masuk. "Kenapa masih belum tidur?" tanyanya, mendekat.Jasmine tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir."Noah duduk di sampingnya, menatapnya lekat. "Tentang apa?"Jasmine menghela napas. "Tentang kita. Setelah semua yang terjadi... aku masih bertanya-tanya, apa aku pantas berada di sisimu? Apa aku benar-benar bagian dari hidupmu, atau hanya seseorang yang kebetulan terjebak dalam pusaran masalah ini?"Mata Noah menggelap, rahangnya mengencang. "Jasmine, aku tidak pernah mengang
Berita tentang penangkapan Juan menyebar dengan cepat. Media menyebarkan informasi mengenai keterlibatannya dalam berbagai kejahatan, mulai dari konspirasi bisnis yang melibatkan Jorse Corp hingga skandal gelap keluarga Santika yang kini terungkap ke publik. Setiap detik, nama keluarga Santika semakin tercoreng, dan banyak pihak mulai berbalik melawan mereka. Dengan ini, hanya tinggal menunggu waktu hingga hukum akan menjatuhkan vonis pada semua yang terlibat.Di rumah keluarga Dirgantara, Jasmine duduk di ruang kerja Noah. Matanya menatap layar laptop yang penuh dengan dokumen-dokumen penting mengenai Jorse Corp. Keberadaan perusahaan itu di ambang kehancuran, tetapi kesempatan kini ada di tangannya untuk merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi warisan keluarganya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya, hal yang lebih dalam dari sekadar bisnis. Ia harus membersihkan nama orang tuanya, membersihkan setiap noda yang ditinggalkan oleh pengkhianatan yan
Noah duduk di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan rahang mengatup. Serangkaian dokumen tentang perusahaan terpampang jelas di layar. Ancaman dari keluarga Bulharm bukan hanya rumor belaka—mereka benar-benar berusaha mengambil alih Dirgantara Group secara diam-diam.Namun, kali ini, dia merasa lebih tenang. Tidak ada lagi tekanan dari Zora, tidak ada lagi permainan licik yang harus dia hadapi darinya. Perceraian mereka sudah final, dan Zora kini menjalani hukuman 15 tahun penjara bersama Leonard Wijaya. Semuanya terasa lebih ringan, tetapi ancaman belum benar-benar berakhir.Pintu ruangannya diketuk. Jasmine masuk dengan ekspresi tenang tetapi penuh perhatian. “Ada masalah baru?”Noah menghela napas. “Bulharm mencoba mengambil saham mayoritas dari tangan investor kecil. Mereka ingin menguasai Dirgantara Group.”Jasmine duduk di hadapannya, matanya menatap Noah dengan serius. “Apa yang bisa kita lakukan?”
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di tepi pantai, pasir putih lembut di bawah kaki mereka, sementara ombak berkejaran menuju bibir pantai. Angin laut menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin yang khas.Noah menatapnya dalam, menggenggam tangannya erat. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini hidup yang kita pilih, dan aku ingin menjalaninya bersamamu."Jasmine menghela napas, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan pria itu. "Aku juga ingin itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kita tidak akan menyesal."Noah tersenyum kecil, mengangkat tangan Jasmine dan mengecup punggung tangannya lembut. "Tidak ada penyesalan. Hanya masa depan yang akan kita bangun bersama."Jasmine mengangguk, hatinya dipenuhi kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa berada di tempa
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh keyakinan. Mereka berdiri di depan teras rumah kayu mereka, angin laut bertiup lembut membawa aroma asin yang menenangkan. Langit mulai berubah jingga, menandakan sore akan segera berganti malam.Noah tersenyum kecil, menatap mata Jasmine yang penuh dengan harapan. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini adalah awal baru kita."Jasmine mengangguk pelan, menggenggam tangan Noah erat. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku ingin hidup kita dipenuhi kebahagiaan, tanpa gangguan."Noah mengusap punggung tangannya lembut. "Dan itu yang akan kita lakukan. Tidak ada lagi yang bisa mengusik kita. Kita memilih jalan kita sendiri."Jasmine menarik napas panjang, menikmati ketenangan yang selama ini sulit mereka dapatkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa sepenuhnya bebas.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di depan meja makan kecil di rumah kayu mereka, lilin yang menyala lembut di tengah meja menciptakan suasana hangat. Di luar, suara deburan ombak terdengar tenang, seolah dunia akhirnya memberikan mereka kedamaian setelah sekian lama berjuang.Noah menaruh sendoknya, lalu menatap Jasmine dalam. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin hidupku bersamamu, tanpa ada gangguan dari siapa pun."Jasmine menggigit bibirnya, lalu menundukkan kepala. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar siap. Aku tidak ingin ada lagi yang mengganggu kita."Noah tersenyum, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jasmine dengan lembut. "Tak ada yang bisa mengganggu kita lagi. Ini adalah awal baru kita."Jasmine menghela napas, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kita jalani bersama."Di tempat lain, dalam d
"Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan serius, mencoba mencari keraguan di matanya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah kayu kecil yang berada di atas bukit, menghadap ke laut biru yang berkilauan. Angin menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin khas pantai.Noah tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin tempat ini menjadi awal baru bagi kita."Jasmine menghela napas, matanya kembali menatap rumah sederhana yang berdiri kokoh di hadapan mereka. "Aku tidak menyangka kau ingin menetap di sini. Aku pikir kau lebih suka kehidupan kota."Noah melangkah mendekat, meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. "Kota hanya penuh dengan ingatan tentang masa lalu. Aku ingin sesuatu yang segar, yang benar-benar milik kita. Di sini, kita bisa membangun sesuatu tanpa ada yang mengusik."Jasmine mengangguk pelan, merasakan ketulusan dalam ka