Jasmine duduk perlahan di tempat tidur, mencoba menghilangkan rasa lelah yang masih tersisa. Setelah Noah pergi, suasana kamar kembali sunyi, namun kehadiran Zora di ambang pintu membawa atmosfer yang sedikit lebih ringan. Meski ketegangan masih terasa, Jasmine berusaha tetap tenang.Zora melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Dengan gerakan lembut, ia duduk di sisi tempat tidur, menatap Jasmine dengan penuh perhatian."Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanyanya, berusaha terdengar casual meski jelas ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Zora mengupas buah apel untuk Jasmine, sambil memberikan potongan apel yang sudah terkupas pada Jasmine.Jasmine mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah. Bayi ini membuatku cepat kehabisan tenaga." Rasa buah apel itu sangat enak, Zora memperhatikan Jasmine mengunyahnya perlahan, hingga senyuman terlukis di wajah Zora.Zora menatap perut Jasmine yang mulai membuncit, lalu tanpa ragu, ia meletakkan tangannya di sana. "Apa dia ak
Sore itu, Noah melangkah cepat di lorong rumah sakit dengan wajah muram. Sejak kejadian tadi, emosinya tertahan, menahan kemarahan yang membara.Penolakan Jasmine masih terngiang di telinga Noah, menyesakkan dadanya. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa wanita itu akan menolaknya.Setelah meninggalkan rumah sakit, ia langsung ke kantor, berharap kesibukan bisa meredam emosinya. Namun, rasa kesal tetap membara. ’Apa yang kurang darinya hingga Jasmine menolaknya begitu saja?’Begitu masuk ruang kerja, ia melepas jaket hitamnya dan melemparkannya ke kursi. Tatapannya tajam, berusaha fokus pada pekerjaan, tapi pikirannya tetap terpaku pada, Jasmine.“Tuan, Noah?” Maya, sekretarisnya, menghampiri dengan langkah cepat. “Ada yang bisa saya bantu?”Noah menatap Maya dengan tatapan tajam. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menekan amarah yang masih menggelora di dalam dirinya.“Maya, tolong kumpulkan semua berkas dan jadwalku untuk seminggu ke depan,” perintahnya dengan suara yang datar,
Malam kembali menyelimuti langit kota, dan Noah melangkah masuk ke rumah sakit dengan langkah mantap.Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia memilih untuk kembali, memastikan Jasmine tidak sendirian di tempat ini. Ruangan itu masih sunyi seperti sebelumnya, hanya terdengar suara alat medis yang terus berbunyi pelan.Jasmine berbaring di tempat tidurnya, tubuhnya tampak lemah, namun matanya tetap terbuka, menatap kosong ke arah jendela.Zora sudah pulang, meninggalkan Noah seorang diri untuk menemani Jasmine. Tanpa banyak bicara, Noah mengambil tempat di sisi ranjang, lalu membuka kantong plastik berisi anggur hijau yang baru saja dibelinya dari luar.Dia membawanya ke wastafel kecil di sudut ruangan, mencuci setiap butirnya dengan hati-hati. Namun, saat kembali ke sisi ranjang, Jasmine tetap tidak menatapnya. Noah tidak tersinggung, dia tahu Jasmine masih belum ingin berbicara dengannya."Aku sudah mencucinya," ucap Noah pelan, meletakkan piring kecil berisi anggur di atas meja di sa
Pagi itu, cahaya matahari menerobos masuk melalui celah tirai rumah sakit, membangunkan Jasmine yang masih terbaring di ranjang.Matanya yang masih berat perlahan terbuka, dan saat kesadarannya pulih sepenuhnya, dia merasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggangnya.Jasmine tersentak pelan. “Hm?” Gumamannya nyaris tak terdengar saat dia menoleh dan mendapati tangan Noah masih melingkar di tubuhnya. Detak jantungnya seketika berdetak lebih cepat.Wajah Noah terlihat tenang dalam tidurnya, tetapi ada garis-garis lelah yang jelas tergambar di sana.Jasmine menggigit bibir bawahnya, menahan dorongan untuk mengusap wajah pria itu. ’Kenapa dia ada di sini? Sejak kapan dia tidur di sebelahku?’Sejenak, Jasmine hanya memperhatikannya. Ada perasaan aneh yang menyelinap di hatinya, campuran antara kehangatan dan rasa bersalah. Meski begitu, bibirnya tanpa sadar membentuk senyuman kecil.’Noah terlihat begitu lelah... tapi tetap saja, dia masih menjagaku seperti ini,’ batin Jasmine.Namun, sa
Akhirnya, Noah melancarkan aksinya secara perlahan, dia melakukannya dari belakang, dengan sangat hati-hati. Tanpa waktu lama, kegiatan intim itu selesai.Kali ini, Jasmine merasa biasa saja. Dia juga merasa bahwa ini adalah balas budi karena Noah telah menjaganya saat demam. Setelah itu, Noah kembali menikmati bibir Jasmine sampai benar-benar puas.Noah merasakan bahwa Jasmine, saat hamil, sangat menggoda dan berbeda. “Maaf, aku sudah melewati batas. Kalau kamu mau marah setelah ini, silakan. Jangan salahkan aku, semua ini bukan kehendakku. Semua ini pasti akan terjadi,” ujar Noah, seolah menjelaskan.Jasmine, yang masih merasakan kehadiran Noah di dalam tubuhnya, tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa mengeliat dan mempertahankan perutnya yang sedikit terasa sensitif.“Noah, bisa cepat selesaikan? Sepertinya bayimu tidak betah dan kesempitan,” pinta Jasmine.Noah tersenyum, sedikit puas karena Jasmine tidak melawan. “Kenapa kamu tidak marah dan menolak?” tanya Noah, masih bergerak ma
Juan menatap Jasmine dengan tatapan yang penuh arti. Dia tahu bahwa Jasmine sedang menghindari pembicaraan tentang masa lalu mereka, dan dia menghormati itu untuk saat ini. Juan tidak ingin memaksakan Jasmine untuk mengingat hal-hal yang mungkin terlalu berat untuknya saat ini.“Kamu bisa pulang setelah semuanya stabil dan aku yakin kamu bisa menghadapinya. Tapi, kita akan tetap memantau kondisi bayimu. Kesehatanmu adalah yang terpenting,” jawab Juan, sambil menulis sesuatu di catatan medisnya.Jasmine hanya mengangguk, merasa sedikit lega karena topik yang tak ingin dibahas sudah berlalu.Namun, dalam hatinya, ia merasa sedikit terganggu dengan kata-kata Juan tentang janji yang tidak pernah ia tepati. Jasmine tidak tahu kapan dia akan siap untuk berbicara tentang masa lalu itu.Namun, untuk saat ini, Jasmine hanya ingin fokus pada bayinya, pada kesehatannya, dan mencoba untuk menjalani hidup tanpa terus-menerus dihantui oleh kenangan itu.Jasmine terbaring dengan nyaman di ranjang ru
Oma Dursila terlihat semakin penasaran. “Soalnya tadi di kamar mandi ada bekas air di lantai. Kok bisa ya? Jangan-jangan kamu mandi diam-diam?” tanya Oma dengan nada menggoda, tapi matanya tetap serius.Jasmine merasa panik. “Ah, Oma... Mungkin... mungkin tadi kak Zora yang meminta Noah menemaniku malam ini, jadi aku... aku nggak sempat mandi,” jawabnya dengan gugup, berusaha memberi penjelasan.Zora yang mendengar hal itu langsung tersenyum sinis dan segera bergerak untuk mengalihkan perhatian Oma Dursila.“Oma, jangan curigai Jasmine. Mungkin dia cuma keburu-buru dan lupa mandi. Lagian, kamu kan tahu, dia ini kadang suka nggak perhatian sama diri sendiri,” Zora menjelaskan sambil melirik ke arah Jasmine yang tampak tertekan.Oma Dursila terlihat sedikit ragu, namun Zora dengan cepat melanjutkan. “Jangan khawatir, Oma. Jangan terlalu serius deh. Lagian, soal Jasmine itu urusan kita. Nanti juga dia sembuh dan kembali ke rutinitas seperti biasa.”Zora lalu beralih topik pembicaraan. “N
Zora dan Oma Dursila akhirnya berpamitan untuk pulang setelah seharian menemani Jasmine di rumah sakit. Sebelum keluar, Zora menoleh kembali dan berkata, “Nanti malam Noah yang akan menemanimu, ya.”Jasmine tersenyum lembut mendengar itu. Meski ia tidak berkata apa-apa, ada sedikit rasa nyaman yang menghangatkan hatinya.“Ada yang mau aku bawakan?” tanya Zora sambil merapikan tasnya.Jasmine berpikir sejenak, lalu menjawab, “Aku hanya ingin makan manisan.”Oma Dursila yang sedang mengenakan syalnya langsung menoleh ke arah Zora dan bertanya dengan nada menggoda, “Kamu tidak ingin manisan juga, Zora? Mengingat usia kandungan kalian hampir sama.”Zora tertawa pelan. “Oma, tidak semua ibu hamil mengidam yang sama,” jawabnya santai.“Tapi aku benar-benar penasaran,” lanjut Oma Dursila, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Anak kalian nanti cewek atau cowok, ya?”Jasmine tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. “Oma, perut kami saja masih belum terlalu besar, ini baru mau masuk trimeste
Setelah semua yang terjadi, Jasmine merasa ada jurang tak kasat mata di antara dirinya dan Noah. Meskipun Juan telah ditangkap, skandal Zora terbongkar, dan Jorse Corp kini berada di tangannya, hati Jasmine masih diliputi kebingungan.Di dalam kamar yang sunyi, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wanita di sana tampak lebih kuat daripada sebelumnya, tetapi ada sesuatu yang masih menggantung di matanya—keraguan.Noah mengetuk pintu sebelum masuk. "Kenapa masih belum tidur?" tanyanya, mendekat.Jasmine tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir."Noah duduk di sampingnya, menatapnya lekat. "Tentang apa?"Jasmine menghela napas. "Tentang kita. Setelah semua yang terjadi... aku masih bertanya-tanya, apa aku pantas berada di sisimu? Apa aku benar-benar bagian dari hidupmu, atau hanya seseorang yang kebetulan terjebak dalam pusaran masalah ini?"Mata Noah menggelap, rahangnya mengencang. "Jasmine, aku tidak pernah mengang
Berita tentang penangkapan Juan menyebar dengan cepat. Media menyebarkan informasi mengenai keterlibatannya dalam berbagai kejahatan, mulai dari konspirasi bisnis yang melibatkan Jorse Corp hingga skandal gelap keluarga Santika yang kini terungkap ke publik. Setiap detik, nama keluarga Santika semakin tercoreng, dan banyak pihak mulai berbalik melawan mereka. Dengan ini, hanya tinggal menunggu waktu hingga hukum akan menjatuhkan vonis pada semua yang terlibat.Di rumah keluarga Dirgantara, Jasmine duduk di ruang kerja Noah. Matanya menatap layar laptop yang penuh dengan dokumen-dokumen penting mengenai Jorse Corp. Keberadaan perusahaan itu di ambang kehancuran, tetapi kesempatan kini ada di tangannya untuk merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi warisan keluarganya. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya, hal yang lebih dalam dari sekadar bisnis. Ia harus membersihkan nama orang tuanya, membersihkan setiap noda yang ditinggalkan oleh pengkhianatan yan
Noah duduk di ruang kerja, menatap layar laptopnya dengan rahang mengatup. Serangkaian dokumen tentang perusahaan terpampang jelas di layar. Ancaman dari keluarga Bulharm bukan hanya rumor belaka—mereka benar-benar berusaha mengambil alih Dirgantara Group secara diam-diam.Namun, kali ini, dia merasa lebih tenang. Tidak ada lagi tekanan dari Zora, tidak ada lagi permainan licik yang harus dia hadapi darinya. Perceraian mereka sudah final, dan Zora kini menjalani hukuman 15 tahun penjara bersama Leonard Wijaya. Semuanya terasa lebih ringan, tetapi ancaman belum benar-benar berakhir.Pintu ruangannya diketuk. Jasmine masuk dengan ekspresi tenang tetapi penuh perhatian. “Ada masalah baru?”Noah menghela napas. “Bulharm mencoba mengambil saham mayoritas dari tangan investor kecil. Mereka ingin menguasai Dirgantara Group.”Jasmine duduk di hadapannya, matanya menatap Noah dengan serius. “Apa yang bisa kita lakukan?”
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di tepi pantai, pasir putih lembut di bawah kaki mereka, sementara ombak berkejaran menuju bibir pantai. Angin laut menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin yang khas.Noah menatapnya dalam, menggenggam tangannya erat. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini hidup yang kita pilih, dan aku ingin menjalaninya bersamamu."Jasmine menghela napas, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan pria itu. "Aku juga ingin itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kita tidak akan menyesal."Noah tersenyum kecil, mengangkat tangan Jasmine dan mengecup punggung tangannya lembut. "Tidak ada penyesalan. Hanya masa depan yang akan kita bangun bersama."Jasmine mengangguk, hatinya dipenuhi kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia benar-benar merasa berada di tempa
"Kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh keyakinan. Mereka berdiri di depan teras rumah kayu mereka, angin laut bertiup lembut membawa aroma asin yang menenangkan. Langit mulai berubah jingga, menandakan sore akan segera berganti malam.Noah tersenyum kecil, menatap mata Jasmine yang penuh dengan harapan. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Kita sudah terlalu jauh untuk kembali. Ini adalah awal baru kita."Jasmine mengangguk pelan, menggenggam tangan Noah erat. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar meninggalkan masa lalu. Aku ingin hidup kita dipenuhi kebahagiaan, tanpa gangguan."Noah mengusap punggung tangannya lembut. "Dan itu yang akan kita lakukan. Tidak ada lagi yang bisa mengusik kita. Kita memilih jalan kita sendiri."Jasmine menarik napas panjang, menikmati ketenangan yang selama ini sulit mereka dapatkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa sepenuhnya bebas.
"Apa kau yakin ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan sorot mata penuh pertimbangan. Mereka berdiri di depan meja makan kecil di rumah kayu mereka, lilin yang menyala lembut di tengah meja menciptakan suasana hangat. Di luar, suara deburan ombak terdengar tenang, seolah dunia akhirnya memberikan mereka kedamaian setelah sekian lama berjuang.Noah menaruh sendoknya, lalu menatap Jasmine dalam. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin hidupku bersamamu, tanpa ada gangguan dari siapa pun."Jasmine menggigit bibirnya, lalu menundukkan kepala. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kita benar-benar siap. Aku tidak ingin ada lagi yang mengganggu kita."Noah tersenyum, mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Jasmine dengan lembut. "Tak ada yang bisa mengganggu kita lagi. Ini adalah awal baru kita."Jasmine menghela napas, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kita jalani bersama."Di tempat lain, dalam d
"Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?"Jasmine menatap Noah dengan serius, mencoba mencari keraguan di matanya. Mereka berdiri di depan sebuah rumah kayu kecil yang berada di atas bukit, menghadap ke laut biru yang berkilauan. Angin menerpa wajah mereka dengan lembut, membawa aroma asin khas pantai.Noah tersenyum, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini, Jasmine. Aku ingin tempat ini menjadi awal baru bagi kita."Jasmine menghela napas, matanya kembali menatap rumah sederhana yang berdiri kokoh di hadapan mereka. "Aku tidak menyangka kau ingin menetap di sini. Aku pikir kau lebih suka kehidupan kota."Noah melangkah mendekat, meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. "Kota hanya penuh dengan ingatan tentang masa lalu. Aku ingin sesuatu yang segar, yang benar-benar milik kita. Di sini, kita bisa membangun sesuatu tanpa ada yang mengusik."Jasmine mengangguk pelan, merasakan ketulusan dalam ka
"Kau yakin dengan keputusan ini?"Jasmine menatap Noah dengan mata penuh keyakinan. Mereka berdiri di balkon vila yang menghadap ke laut biru jernih, angin sepoi-sepoi mengibarkan helaian rambutnya. Suasana di tempat itu begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota yang selama ini membebani mereka.Noah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap hamparan air yang tenang. "Aku tidak pernah lebih yakin dari ini. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk terus melihat ke belakang. Ini waktunya untuk benar-benar melangkah maju."Jasmine mengangguk pelan. "Aku setuju. Tapi aku juga ingin memastikan bahwa kita tidak terburu-buru. Aku ingin semua ini nyata, bukan sekadar pelarian dari masa lalu."Noah berbalik, meraih tangan Jasmine dan menggenggamnya erat. "Jasmine, aku tidak akan pernah menjadikan ini sebagai pelarian. Aku ingin kita membangun sesuatu yang baru. Bersama."Jasmine menatap matanya dalam-dalam, mencari ketulusan di sana, dan
"Akhirnya, kita bisa benar-benar bernapas lega."Jasmine menatap ke luar jendela apartemen mereka, mengamati pemandangan kota yang berkilauan di bawah sinar bulan. Lampu-lampu jalan bersinar lembut, menciptakan bayangan samar di permukaan kaca. Udara malam yang sejuk menyelinap masuk melalui celah jendela, membawa aroma hujan yang tersisa di aspal.Tangannya menggenggam cangkir teh hangat, uap tipis mengepul, menebarkan aroma melati yang menenangkan. Pikirannya masih mencoba mencerna kenyataan bahwa semua ini telah berakhir. Tidak ada lagi ancaman dari Zora, tidak ada lagi bayang-bayang Leonard yang menghantui kehidupan mereka. Untuk pertama kalinya, dunia terasa lebih damai.Langkah kaki terdengar mendekat. Lalu, Noah melingkarkan lengannya di pinggang Jasmine, menariknya ke dalam dekapan hangatnya. Tubuhnya kokoh, dan aroma khasnya—maskulin dengan sedikit wangi sandalwood—begitu familiar, membuat Jasmine tanpa sadar menghela napas pelan."Ap