Mereka bangun saat mendengar suara berisik di tepi danau.Tampak harimau dan buaya bertarung antara hidup dan mati.Harimau kabur setelah mendapat banyak luka."Hari sudah siang," kata Arjuna. "Kita tidur lelap sekali."Matahari sudah naik sepenggalahan, udara dingin menyengat tubuh, sehingga mereka enggan untuk bersentuhan dengan air.Areal yang ditinggali mereka merupakan daerah kekuasaan buaya, saat ada binatang lain mencari mangsa, maka buaya berusaha menghalau.Pertarungan itu memperebutkan seekor kijang yang kini menjadi santapan kawanan buaya."Kita turun setelah mereka pergi dari bawah pohon," kata Arjuna. "Mereka secara tidak langsung telah menjaga kita dari binatang buas lain.""Aku syok setiap waktu terjadi pembunuhan," sahut Chitrangada dengan wajah pucat. "Kita cari tempat yang aman.""Tidak ada tempat yang aman di hutan ini. Aku sangat mengandalkan kujang emas untuk keselamatan kita."Kujang emas adalah satu-satunya perlengkapan untuk bertahan hidup. Separuh nyawanya ter
Mereka menempuh perjalanan sudah bermil-mil, namun belum menemukan perkampungan.Sejauh mata memandang pemandangan yang terlihat hanyalah pepohonan dan semak belukar.Mereka senang saat menjumpai parit kecil dengan air sangat jernih."Air ini dapat menyambung hidup kita," kata Arjuna. "Dingin sekali...!"Arjuna membasuh muka, kemudian mengisi dua bumbung yang nyaris kosong.Arjuna melempar pandang ke sekitar mencari tempat untuk bermalam.Mereka bisa tidur di dahan besar dan rimbun, cukup nyaman ketimbang di atas batu ceper, ada juga pohon buah."Kita istirahat di sini," ujar Arjuna. "Kita lanjutkan perjalanan besok."Seekor ayam hutan muncul dari rumpun semak. Arjuna berjalan mengendap-endap mendekat, lalu melemparkan kujang emas.Kujang pusaka itu menghunjam tepat di bagian leher sehingga ayah hutan mati seketika.Padahal Arjuna serampangan saja melempar, kemudian kujang emas berputar balik ke arahnya, ia menangkapnya."Kujang ini bisa menjadi senjata berburu," kata Arjuna kagum. "I
Hujan turun sangat deras disertai badai angin. Arjuna dan Chitrangada terbangun ketika terkena tempias hujan. Mereka mencari tempat berlindung yang aman, cuaca dingin sangat mencucuk kulit. "Aku mencari daun dulu," kata Arjuna. "Kau berlindung di balik akar." Arjuna naik ke atas pohon, menebas beberapa ranting, lalu turun dan menutupi tubuh Chitrangada. "Lumayan cukup hangat," ujar Chitrangada. "Kau tidak menutupi tubuhmu dengan daun?" "Aku tidak kedinginan." Ada aliran hangat dari kujang emas menjalar ke seluruh tubuh melindungi dirinya dari cuaca buruk. Hujan belum ada tanda berhenti, badai angin semakin menggila. "Kita beruntung bermalam di areal ini," kata Arjuna. "Di bagian lain terjadi hujan badai." Pepohonan tampak meliuk-liuk, beberapa dahan patah, hujan bercampur angin terdengar bergemeruh. Mereka cukup terlindung di bawah pohon rimbun. Keselamatan mereka terancam jika ada petir. Arjuna lega tidak ada petir hingga hujan reda. "Alam seakan marah dengan kedatangan
"Ada orang datang...!" Arjuna berbisik kepada Chitrangada yang tengah menikmati kelinci bakar. Tampak seorang kakek berpakaian resi berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Kakek itu berjalan dengan berkelebat, sehingga dalam sekejap saja sudah berada di sekitar mereka. "Ia sepertinya mencari sesuatu," bisik Chitrangada. "Apakah mungkin ia mencari dirimu?" Mereka bersembunyi di balik akar dengan wajah tegang. Arjuna memandang heran ke arah kakek berjenggot putih itu. Kelihatannya ia seorang pandita. Kakek itu berpakaian putih tanpa jahitan, kain selempang menutupi sebagian badan kurusnya. "Maksudmu ia ayahku?" Arjuna balik bertanya. "Aku ragu jika melihat selera ibuku, ia seorang perfeksionis." "Apakah ibumu masih memikirkan seleranya saat ia dikuasai nafsu? Obat yang dibubuhkan temannya barangkali sangat kuat sehingga menyilapkan matanya." "Kakek itu pergi ke mana?" Arjuna mendelik melihat kakek berselempang putih itu lenyap secara tiba-tiba
Mereka berjalan menelusuri sungai kecil yang seakan tiada ujung. "Tidak semua tanaman berbuah," kata Arjuna. "Ada juga yang berumbi." Chitrangada mengakui ia kurang pengetahuan tentang tumbuhan di hutan. Ia semakin kagum kepada Arjuna. Di balik hatinya yang dingin, tersimpan pengetahuan yang luas. "Kau mengisi waktu senggangmu dengan baca buku ya?" tanya Chitrangada. "Jadi kau lebih suka membuka-buka buku ketimbang membuka-buka...?" "Membuka-buka apa?" "Membuka-buka ... masa lalu barangkali?" Chitrangada heran mereka dapat mempertahankan hubungan selama empat tahun tanpa kehangatan. Barangkali perjalanan cinta mereka diawali dengan hati yang luka, sehingga kebersamaan bukan sekedar kemesraan. "Sejujurnya bagaimana perasaanmu kepadaku?" Arjuna terkejut mendapat pertanyaan itu. Perempuan jika dalam kesulitan sering berpikir aneh-aneh. "Apakah aku sekedar pelarian dari cinta masa lalu?" Arjuna tersenyum kecut. "Bukankah pertanyaan itu tepatnya untuk diri sendiri?" "Aku suda
Kakek berselempang putih adalah seorang resi bernama Kamandalu, ia meninggalkan pertapaan karena mendapat wangsit untuk mencari anak muda yang tersesat di hutan roban. Resi Kamandalu sudah seharian menjelajah hutan itu. "Aku mencarimu, anak muda," kata Resi Kamandalu. "Apakah kau pemilik kujang emas?" Arjuna menoleh ke arah Chitrangada dengan sinar mata seolah membenarkan perkiraannya, bahwa kakek itu adalah ayah kandungnya. Namun Arjuna sangsi, ibunya seorang perfeksionis, ia pasti mencari pertolongan ke pria lain untuk membebaskan pengaruh obat itu. "Bagaimana kakek tahu aku pemilik kujang emas? Siapa kakek ini sebenarnya?" "Namaku Kamandalu, aku seorang resi. Aku mendapat wangsit untuk mencari pemuda yang memegang kujang emas." "Jadi kakek bukan ... ayahku?" Resi Kamandalu balik bertanya, "Bagaimana kau berpikiran demikian?" Arjuna merasa perlu berterus terang untuk kejelasan asal usul kujang emas. Wangsit itu pasti ada kaitannya dengan pemilik kujang itu. "Sepe
Arjuna agak kecewa saat mendengar jawaban Resi Kamandalu yang kurang memuaskan. "Kujang itu adalah benda pusaka kerajaan Pancala. Ia mendadak hilang sewaktu Widura akan dinobatkan menjadi raja. Kujang emas adalah simbol tahta. Widura butuh kujang itu supaya diakui rakyat sebagai raja Pancala." Kujang ini berarti dibawa raja sebelumnya, pikir Arjuna. Ia kabur ke masa depan. Kemudian kujang ini tertinggal di meja hotel, barangkali ia terburu-buru pergi karena hendak ditangkap prajurit kerajaan. "Widura mencurigai kakaknya membawa kabur kujang itu. Maka itu ia mengadakan sayembara dengan hadiah sangat besar untuk menangkap Panduwinata. Selama Widura belum memegang kujang emas, maka rakyat masih mengakui Panduwinata sebagai raja." Arjuna tidak mau tahu bagaimana sampai terjadi perselisihan antara kakak beradik itu hingga terjadi kudeta. Tahta sudah membutakan Widura, tapi itu bukan persoalan dirinya. "Aku berusaha mengerti kisah ini," kata Arjuna. "Panduwinata barangkali merasa teran
Chitrangada mencoba menghibur kegundahan Arjuna, "Aku kira Datuk Cakil tidak berani gegabah kepada ibumu, ini menyangkut hubungan dua negara." "Datuk Cakil bukan warga Melayu." "Tapi ia tinggal di Melayu dan beranak pinak selama seperempat abad. Aku kira ia banyak pertimbangan untuk membuat hubungan kedua negara memanas." Datuk Cakil juga mesti mempertimbangkan anak istrinya di Kuala Lumpur. Namun semua bisa dikorbankan demi kerajaan. "Kau sudah separuh jalan untuk mencari ayahmu," kata Chitrangada. "Janganlah berhenti, boleh jadi hal ini adalah kesempatan satu-satunya." Arjuna jadi bimbang. Ia tidak mau pencarian bertahun-tahun menjadi sia-sia karena sebuah kekhawatiran. Sekarang sudah ada titik terang, kujang emas milik raja Pancala, tinggal siapa yang membawa kujang itu ke hotel bintang lima, Panduwinata atau abdi setianya. Ia kira raja terguling menyuruh ksatria untuk membawa kabur kujang emas dan akhirnya tertinggal di meja kamar atau ... sengaja ditinggal? "Kau menjadi
Sebuah kereta dengan enam penumpang berwajah sangar melaju cukup kencang di atas jalan berkerikil. Di belakang kereta itu terdapat tali yang menarik beberapa pendekar dengan tubuh terikat rantai. Dua orang tampak terseret karena tidak kuat lagi berlari. Pakaian robek-robek. Tapi tidak ada sepotong keluhan pun meluncur dari mulut mereka. Mereka adalah pengikut setia Senopati Aryaseta yang terbongkar penyamarannya. "Aku kira Senopati Aryaseta sudah keluar kalau ada di hutan roban," kata Ki Jagatnata. "Ia pasti marah orang-orangnya diperlakukan seperti binatang." "Hutan roban sangat luas, kita belum separuhnya menempuh perjalanan," ujar Ki Trenggalek. "Bagaimana jika persembunyian mereka berada di perbatasan dengan Laut Selatan? Usaha kita sia-sia." "Aku kira senopati takut melihat kita," tukas Ki Amarta. "Lima Peminum Teh adalah penguasa kegelapan." Mereka sedang memancing Senopati Aryaseta untuk keluar dari sarangnya. Tersiar kabar bahwa senopati itu berada di hutan roban.
Kong berhasil mengalahkan si Surai Singa dan membiarkan kabur dengan menunggang kuda. Pendekar berkumis panjang itu takkan bertahan lama dengan luka dalam di dadanya, ia akan tewas sebelum sampai perkampungan.Kong menyodorkan kacamata hitam dan jubah kepada Arjuna. "Buat kau saja," kata Arjuna. "Kau cocok pakai jubah dan kacamata." Kong tampak senang sekali. Ia segera memakai jubah dan kacamata. Dengan pataka itu Kong secara otomatis menjadi ketua rimba persilatan. Ia akan banyak musuh dan paling diburu para pendekar. "Kau akan membuat gempar dunia persilatan," komentar Bajang. "Manusia dipimpin binatang." "Asal jangan pemimpin binatang," kata Ulupi. "Kong binatang berhati manusia." "Maksudmu apa memberikan pataka pada Kong?" tanya Larasati separuh protes. "Kau ingin merendahkan dunia persilatan?" "Aku mempersilakan siapa saja mengambil pataka dari Kong jika merasa direndahkan." Larasati terlalu kaku dengan peradaban sehingga sulit berpikir objektif. Siapapun berhak menja
Mereka berhenti di antara pepohonan besar. Mata mereka melayang ke dataran rumput di lereng hutan. Si Surai Singa tampak tertawa terbahak-bahak menyaksikan empat kawannya yang terkapar mati. "Ha ha ha! Sekarang kalian mengakui bahwa akulah yang pantas menjadi ketua rimba persilatan!" Larasati memandang sinis. "Demi pataka ketua, mereka sampai saling bunuh sesama kawan, naif sekali." "Arjuna sudah tahu hal ini akan terjadi," ujar Bajang. "Makanya ia menyerahkan pataka itu untuk mengurangi kekuatan musuh. Menghemat tenaga." Larasati mengakui Arjuna berotak cerdik. Ia malu sendiri teringat perkataannya yang kurang pantas beberapa waktu lalu. Resi Kamandalu pernah memberi tahu para pendekar berilmu tinggi yang malang-melintang di rimba persilatan, di antaranya si Surai Singa dan komplotannya. Mereka pemberontak yang melarikan diri dari Jepara, buronan Ratu Kalinyamat. "Sayang sekali kujang emas terbang entah ke mana! Pataka ketua sudah cukup bagiku! Aku akan kaya raya den
Mereka meneruskan perjalanan setelah memberi makanan cukup pada kuda. Chitrangada belum selesai dengan persoalan pataka dan kujang emas. "Kau belum menjawab pertanyaanku," kata Chitrangada. "Pertanyaan apa?" "Bagaimana kau pulang secepatnya dengan membawa ayahmu?" Arjuna tahu jawaban dari pertanyaan itu sangat menentukan masa depan mereka. Chitrangada kelihatannya butuh kepastian. Padahal Arjuna sudah menghindari pertanyaan itu. Chitrangada seharusnya tahu bahwa Arjuna menyerahkan keputusan kepadanya. "Aku menunggu takdir," jawab Arjuna. "Aku sudah cukup berusaha untuk menemukan ayahku." "Kau kelihatannya menyerah." Arjuna sudah banyak menjumpai kekecewaan dalam pencarian ini, bahkan ia menjadi sosok yang tak diharapkannya. Arjuna mendapat warisan ilmu kuno untuk menguasai dunia, menjadi pejuang kebenaran di masa lampau dan masa depan. Padahal kebenaran adalah relatif. Tergantung di mana bumi dipijak. "Menyerah dan menyadari perbuatan bodoh adalah dua hal yan
Perjalanan jadi kurang menyenangkan, keributan terjadi hampir di sepanjang jalan. Bajang memilih diam, Kong juga. Ketiga perempuan itu tidak puas dengan keputusan Arjuna menyerahkan pataka dan kujang emas. Padahal Arjuna seharusnya menjaga baik-baik, melaksanakan amanat gurunya dengan penuh tanggung jawab. "Kelihatannya kalian begitu ingin aku menjadi ketua persilatan," kata Arjuna. "Padahal aku sendiri ingin pulang secepatnya." "Kau sudah jauh melangkah," sahut Chitrangada. "Sekarang kau ingin pulang tanpa ayahmu." "Apakah aku bilang begitu tadi? Jangan berasumsi." "Bagaimana kau pulang secepatnya dengan membawa ayahmu?" Mereka melewati dataran rumput hijau yang dikelilingi pepohonan. Arjuna turun dan melepas kuda untuk makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian ia mencari air untuk minumnya. Bajang dan kingkong turut pergi mencari air. "Aku dapat membaca siasatmu, maka itu aku diam," kata Bajang. "Kau ingin menghemat energi dengan membiarkan mereka bertarung memperebutkan patak
Arjuna menghentikan kudanya. Lima pendekar dengan rambut panjang dipilin menghalangi jalan kudanya. "Jadi kabar yang tersiar benar," kata pendekar berkumis panjang. Kuku tangannya juga panjang. Wajah saja yang menjadikan dirinya pantas disebut lelaki. "Resi Kamandalu sudah menyerahkan ketua rimba persilatan kepada muridnya." "Resi Kamandalu terlalu merendahkan kita," ujar pendekar berjenggot panjang bak rambut jagung. "Padahal seharusnya diadakan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling pantas." "Arjuna!" seru pendekar berhidung buntet persis burung kakatua. "Kau serahkan pataka ketua secara baik-baik, atau kami paksa!" Arjuna heran mereka mengenal dirinya. Ia baru bertarung dengan Sepuluh Utusan Neraka dan semua tewas, kemudian berjumpa dengan legiun prajurit. Mereka berhasil dilumpuhkan dengan racun kodok emas dan lupa dengan kejadian itu, seakan mereka tak pernah berjumpa. Lalu lima pendekar itu mendapat kabar dari mana? Barangkali ada pendekar yang luput dari perhatian
Arjuna keluar dari goa. Ia cukup lama menunggu, tapi ratu ular tidak muncul. Arjuna melihat mereka menunggunya di pinggir sungai. Mereka tampak ceria, kekhawatiran mendapat serangan anaconda hanyalah kesalahpahaman belaka. "Kau cepat sekali muncul," kata Chitrangada. "Aku kira purnama depan baru selesai." Arjuna dapat menguasai kitab kuno dengan cepat berkat bantuan energi kujang emas. Arjuna demikian mudah mempelajari gerakan- gerakan di dalam kitab, termasuk jurus pedang. Kujang emas adalah separuh jiwanya. "Aku tidak melihat ratu ular," kata Arjuna. "Apakah kalian membunuhnya?" "Ratu ular pergi ke hilir sungai," sahut Chitrangada. "Ia ingin bersenang-senang karena sudah bebas menjalankan tugas." "Ia tampak kecewa," bisik Bajang. "Ia sudah menunggu ratusan tahun tapi tidak mendapatkan upah." Arjuna tersenyum kecut. "Aku menunggunya di dalam goa." Arjuna tahu apa yang diinginkan ratu ular, tapi ia malah pergi tanpa pamit. Arjuna hanya dingin kepada calon istrinya, Chitra
Kitab itu berusia ribuan tahun, dan tertulis pesan supaya dihancurkan setelah dipelajari. Inti dari ajaran itu adalah meditasi, menyatukan ruh dan jasad dengan semesta alam untuk mengendalikan energi tubuh dalam mencapai tujuan tertentu. Meditasi yang diajarkan Resi Kamandalu berguna sekali, menjadi dasar untuk menguasai ilmu dalam kitab kuno itu. "Ajian Saifi Angin adalah ilmu meringankan tubuh dan berpindah tempat." Arjuna membaca aksara kuno pada lembaran mukadimah. "Ilmu ginkang tertinggi di Jawa Dwipa, satu tingkat di atas Kidang Kuning dan Asma Gunting." Ajian Saifi Angin adalah ilmu para wali di pantai utara, ilmu ini sering digunakan untuk pertemuan di lokasi yang jauh dengan padepokan mereka. Arjuna heran bagaimana ilmu itu tercatat di kitab ribuan tahun lalu, kemudian dimiliki para wali. Apakah ada kitab lain? Padahal kitab ini adalah kitab satu-satunya. Barangkali hasil tirakat dengan menggabungkan ruh dan jasad dalam kegaiban alam semesta. "Eyang resi saja
Beberapa jam lalu Arjuna menelusuri tepian sungai mencari Ulupi, tiba-tiba anaconda muncul dari permukaan air dan menyambar dirinya. Arjuna menghindar dengan berjumpalitan di udara, anaconda memburu, merasa terdesak ia mengeluarkan kujang pusaka. Anaconda terdiam kaku dengan mata tak berkedip memperhatikan kujang yang dipegangnya. Kemudian wujudnya berubah menjadi sosok ratu cantik jelita. "Jadi kau pemuda yang bernama Arjuna?" tanya sang ratu. "Aku mendapat wangsit untuk menunggumu di sungai ular." Arjuna mengusap-usap kepala. Ia jadi penasaran siapa sebenarnya yang memberi wangsit itu. "Leluhur Jawa Dwipa memberi wangsit padaku," kata sang ratu. "Resi Kamandalu juga menerima wangsit dari sosok yang sama." "Kau juga ingin menurunkan ilmu padaku?" Arjuna tampak lesu. Sebenarnya ia tidak butuh ilmu kanuragan, ia butuh informasi tentang ayahnya. "Aku sudah menunggumu selama ratusan tahun. Aku diminta untuk menyerahkan beberapa kitab kuno dan pedang Mustika Manik kepadamu sebaga