Gambar denah perumahan di tengah kota kecil hasil goresanku, sekaligus gambar desaign minimalis perumahan untuk rakyat terisolir yang kami buat bertiga bersama tim, mendapat apresiasi dari Yogi Gustaman.
Yogi menyampaikan pemilik gambar terpilih akan ikut meninjau proyek dan terlibat secara langsung di lapangan. Ya, Yogi tengah mendapat proyek pembuatan seribu rumah rakyat untuk daerah Tembilahan. Kota seribu parit yang cukup familiar dengan kopranya.Semua gambar yang kami desaign diterima oleh Yogi. Setelah kelebihan dan kekurangan dari gambar itu dijabarkan oleh Fahira istrinya, Istrinya--sekaligus ... mantan kekasihku."Deva. Saya sangat suka dengan desaign dan konsep minimalis yang kamu buat. Ini sangat luar biasa. Dana kecil hasil besar. Anggaran bisa dipangkas jika desaignnya sesuai yang kamu rancang." Suara berat Yogi mengagumi hasil karyaku."Fahira adalah CEO perusahaan Gustaman group, nyawa perusahaan ini ada di tangannya. Untuk itu kalian harus bekerjasama dengan istriku secara profesional." Yogi menatap kami satu persatu .
" Untuk desaign rumah dan interior bangunan bagian dalam saya serahkan kepada Devano Anggara, sedang bagian pembangunan jalan menuju perumahan serta tata letak lokasi saya serahkan pada Herton dan untuk pengukuran kapasitas tanah terhadap desaign, juga jumlah anggaran di handle Romi. Selamat bekerja!" Yogi berdiri.
Aku dan kedua temanku gegas mengangguk. Setelah mengucapkan itu Yogi beranjak pergi. Mobil Ubil menunggunya. Robert menyusul kepergiannya. Tinggallah aku, dan kedua temanku plus Fahira yang baru saja mendesah napas berat. Seolah kepergian suaminya suatu yang ia inginkan. Tak kulihat basa-basi ala suami istri. Yogi meninggalkan ruangan. Tidak ada adegan salam tangan apalagi kecup kening. Sampai di sini aku merasa ada yang aneh dengan pernikahan mereka.
Apakah ikatan sakral bagi mereka hanya sebagai formalitas semata.
Oh iya tadi Yogi mengatakan Fahira CEO diperusahaan Gustaman Group. Pantas saja. Dia kan cerdas. Peran CEO, hem. ya, aku tahu betul yang dimaksud dengan CEO, Chief Executive Officer bertugas sebagai pemimpin bisa di atas direktur utama. Bisa juga di bawah kendali direktur utama, tergantung job description yang diberikan oleh perusahaan. Job yang sangat bervariasi setiap interaksi, setiap perushaan memiliki job description masing-masing, satu perusahaan dengan perusahaan lainnya berbeda maintanance dalam melibatkan CEO.
Tata cara kerja Chief Executive itu tergantung pada tumbuh kembang dan besarnya perusahaan, termasuk kultur atau kebiasaan, serta struktur organisasi di dalam perusahaan itu sendiri.
Gustaman Group sebuah perusahaan yang mandiri secara finansial, CEO berperan mengurus keputusan strategis yang sifatnya sangat high level serta yang berkaitan dengan pertumbuhan perusahaan secara umum.
Artinya Fahira punya wewenang penuh dan bisa jadi selain menjabat sebagai CEO, Fahira juga memiliki saham di Gustaman group. bekerja merencanakan strategi dan membangun organisasi serta kulturnya. Secara khusus, Pantas Yogi menyuruh kami bertiga bekerjasama dengannya, ia juga akan mengawasi alokasi dana di dalam perusahaan dan memikirkan cara untuk mendorong timnya menuju kesuksesan.
Ya ampun, artinya aku memiliki waktu dua puluh empat jam bersama Fahira kurun waktu enam bulan ke depan. Fahira akan menghabiskan lebih dari tujuh puluh persen waktunya menghadiri meeting yang juga akan kuhadiri bersama tiga temanku, Membangun perumahan di kalangan jelata, pelosok desa bahkan masih banyak tanah rawa, banyak hal yang perlu diawasi serta dipastikan berhasil menajemannnya.
Catatan pentingnya. Kami akan pulang kampung. Proyek ini dikerjakan di Tembilahan. Kota di mana aku dan Fahira pernah menjalin kasih. Entah apa jadinya jika emak tahu hal ini. Semoga emak memberi restu pada pekerjaanku. Semoga juga Suminar tidak terganggu dengan aktifitas kami di sana jika nanti ia mengetahui aku bekerja untuk Fahira.
Sebagai CEO yang profesional Fahira juga harus memiliki perencanaan strategis, bekerja dengan Board of Directors dan mengoperasikan perusahaan dengan dana yang telah dianggarkan kurang ataupun lebih. Sungguh itu adalah pekerjaan yang super sulit.
Kuliah pada bagian arsitektur menjadikanku mengenal baik dunia bisnis perusahaan. Dulu semasa kuliah aku sering menjual jasa untuk mendesaig bangunan mewah dengan tanah berukuran minim.
Jadi tidak heran pengalaman merupakan tolak ukur kami diterima di antara kandidat lainnya. Enam bulan ke depan Fahira dan aku juga akan terlibat dalam manajemen operasional harian perusahaan Gustaman Group sebab desaign internal bangunan dipercayakan Yogi padaku.
Ya Tuhan, semoga saja aku bisa bekerja seprofesional mungkin.
Fahira sosok yang berposisi sebagai business leader kini akan beradu saling bekerjasama dengan mantan kekasihnya, sungguh ini sangat tidak lucu.
"Besok aku sama kamu akan berangkat ke Tembilahan," ucapnya setelah sekian lama hening. Aku merasa sedang berada di kutub selatan di temani pinguin dan binatang kutub lainnya. Wajah Suminar terlupakan sejenak. Suara dayu itu menerobos jantungku.
'Hai, Jantung. Mari berkompromi!'
Kemana Romi? Suara Herton yang meminta izin ke toilet masih sempat kudengar. Apa sedari tadi aku bengong memperhatikan detail bonus di kertas yang diberikan Yogi.
"Apa kamu mendengar aku, Deva?"
"Ah, tentu saja." Sial. Ingin kumengumpat jantung yang tidak bisa diajak kompromi. Darimana pula Fahira memakai kalimat kamu untuk berbincang denganku. Apa ia tengah canggung? Debur grogi dan desir gugup juga tengah mengerjainya.
"Ke mana Romi?" Daripada sungkan menyelimuti, aku akhirnya menanyakan temanku sholehah itu, eh sholeh maksudku.
"Dia sudah kembali ke rumah galeri sedari tadi, Herton juga. Di sini hanya tinggal kita berdua. Em ma-maksud aku, kamu dan aku," ucapnya pelan namun menimbulkan desir darah seakan listrik menyengat jantung ini.
Bisakah ia mengulang kembali kalimat "Kita Berdua"
"Kamu mendengar aku mengatakan keberangkatan kita?"
"Ya, ki-kita ber-dua. Tapi, Romi dan Herton?"
"Mereka berdua akan datang bersama Pak Robert. Pak Robert dan Romi akan pergi ke dinas tata kota, sedangkan Herton akan mengambil surat-surat penting ke dinas terkait."
"Apa kamu mau berdiri di situ selamanya?" Kalimat pengusiran halus dilontarkan Fahira. Aku tersenyum masam. Berpaling menuju pintu.
"Tuan Deva," sapa seseorang setelah kakiku mencapai halaman luas menuju galeri.
"Ya."
"Ini Apel dan Pir untuk Tuan Deva dan teman-teman, ini juga ada cemilan keripik bayam, sama rempeyek." Perempuan bernama Rin yang sudah pasti asisten rumahtangga Fahira membawakan dua plastik berisi buah dan makanan ringan.
"Terimakasih."
"Sama-sama, Tuan." Rin berlalu.
"Sebentar, Rin!" Aku mencegatnya. Rasa penasaran ini membuncah di dada.
"Ya, Tuan?"
"Maaf, Rin. Bolehkah saya bertanya?"
"Silakan, Tuan!"
"Apa ini perintah Fahira?" Rin mengulas senyum. Rempeyek dan keripik dari olahan bayam ini cemilan kesukaanku. Kerap menjadi kunyahan saat berdua dengan Fahira di tepi danau. Menghabiskan waktu melepas rindu. Perempuan itu masih mengingatnya.
"Ya, tadi Nyonya menyuruh saya untuk memberikan pada Tuan. Itu sudah sedari Tuan ada di dalam di persiapkan, mungkin Nyonya lupa memberikannya."
"Oh,"
"Ada yang ingin ditanyakan lagi, Tuan. Saya mau jenguk Khai."
"Khai?" Aku mengingat bocah cacat itu.
"Hmm. Maaf Rin. Apakah Khai cacat dari lahir? Ma-maaf, mu-mungkin ini pertanyaan privasi, tapi bila kamu tidak ingin menjawab, tidak apa-apa."
"Gak papa, Tuan. Nyonya Fahira tidak pernah mempermasalahkan pertanyaan dari orang-orang. Baik itu mengenai keluarganya maupun Khai. Khai bukan cacat lahir. Murni kecelakaan. Dua tahun lalu Nyonya Fahira baru saja lancar mengemudi mobil, beliau melakukan perjalanan pulang kampung. Ada saya juga Khai. Nyonya Fahira sangat bahagia. Katanya untuk pertama kali diizinkan Tuan Yogi mengemudi menuju kampungnya. Masih sampai gerbang gapura selamat datang di Indragiri Hilir. Mobil meleset sangat cepat. Kemudian rengsek masuk parit. Khai yang saat itu tidak memakai seltbelt kakinya terjepit, betisnya masuk pecahan beling besar. Saya duduk di bangku belakang justru tidak terkena apa-apa, Tuan. Mungkin sudah takdir."
"Fahira tidak kenapa-napa, eh ma-maksud saya Nyonya Fahira?"
"Syukurnya gak napa-napa, Tuan. Tapi Khai kehilangan betis dan Jari-jarinya."
Aku memejam mata. Mengapa tidak ada kabar sampai padaku perihal kecelakaan itu. Dua tahun yang lalu. Berarti aku masih di Jakarta. Tapi, seharusnya Emak tahu berita itu. Mengapa Emak tidak pernah cerita. Sebagai orang terkenal pasti kejadian itu menjadi berita viral di kampung.
"Tuan Dev, saya ke dalam dulu," pamit Rin menyadarkan aku yang melamun, ingin bertanya lebih banyak, malu rasanya. Ah, sudahlah. Besok-besok bisa kutanyakan. Aku tidak mungkin menanyakan kehidupan Fahira dengan orangnya sendiri.
Ah. Mengapa aku mau tau kehidupannya? Entahlah.
*
Pagi telah datang.
Sinar gading mencuri kesilauan mata. Aku tersenyum kekeh sepagi ini. Bagaimana tidak kekeh.
Herton mencoba handbody lotion milik Romi, ia lupa membaca sampul di casingnya. Ternyata bukan lotion body yang ia pakai, melainkan shampoo anti ketombe. Romi ngakak karena ia sendiri lupa menaruh shampoo ke dalam kamar mandi. Kaum Adam memang tidak sejeli para kaum hawa dalam hal beberes dan membedakan barang.
Herton kembali masuk kamar mandi jika tidak ingin bulu-bulu di tangannya semakin panjang dan halus akibat diberi shampo.
"Pagi!"
Robert Pattison dengan stelan kemeja hitam dan celana jins biru laut, berdiri di depan pintu. Aku yang kebetulan berada di ruang depan langsung berdiri mengangguk. Ada Ubil di belakang Pak Robert.
"Dev, kau segera berangkat. Kami akan menyusul setelah semua administrasi tidak ada kendala lagi." Pak Robert memberikan map. Aku mengangguk lagi. Ia kemudian menepuk bahuku.
"Selamat bekerja."
"Siap, Pak. Tender kali ini anggarannya dipangkas ya, Pak. Artinya ini proyek tidak menguntungkan untuk Gustaman Group," ucapku sebelum melangkah mengikuti Ubil.
Mengingat kembali perbincangan di group internal. Aku, Romi dan Herton sudah masuk dalam group internal Whatsapps yang adminnya Pak Robert, beranggotakan sekitar 15 orang. Proyek transparan. Sangat aneh. Semua anggaran sampai cara pembuatan dipublikasikan.
"Semua sudah tau, proyek ini tidak menguuntungkan, bahkan mengeluarkan dana yang sangat tidak sedikit. Lihat saja bonus yang kalian dapat sebagai arsiteknya." Aku manggut-manggut.
"Mengapa terus dilanjut kalau tidak menguntungkan, Pak?" tanyaku penasaran.
"Karena ini proyek cinta. Begitu kata ponakanku Fahira. Aku tidak mengerti maksudnya apa. Ia ingin menunjukkan bukti cinta pada Kota kelahirannya. Cinta tidak harus ada untung dan rugi, bukan?" Aku terdiam, menelan saliva.
Proyek Cinta? untuk apa?
"Kau akan tau setelah semua selesai, Anak Muda? Bekerjalah profesional hanya itu tugasmu. hal lainnya bukan bagianmu."
Ucapan Pak Robert menyentil tajam. Ia benar. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Bukan mengurusi hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.
Aduh, Emak. Anakmu salah bicara.
"Dev, Nyonya Fahira sudah menunggu."
"Oh. Oke. Maaf. Saya pamit Pak Robert." Aku menundukkan kepala tanda hormat. Beranjak menuju mobil yang dikemudikan Ubil. Hmm. Aku kira kami akan pergi berdua. Aku bisa menyetir kok. Ternyata ada Ubil yang ikut serta.
Hadeuh otakku!
"Kita Putus?""Maaf!""Aku bosan dengan kalimat maaf yang kau sebut," ujarku keras di depannya dengan suara menahan geram."Ayah menjodohkanku dengan anak saudaranya." Linangan air matanya berhamburan."Karena kalian berdarah ningrat, sedangkan aku hanya anak petani bawang?""Bu--bukan itu, percayalah! Aku mencintaimu. Tapi, ini karena ayah.""Ayah ... Ya, ayahmu. Orang yang gila kehormatan, tak mampu kau elak perintah darinya.""Plis, jangan benci padaku." Gadis itu masih saja menunduk. Berulang menyeka sudut matanya."Baiklah! Bukankah cinta butuh pengorbanan seperti yang sering kau gembor-gemborkan, mungkin ini saatnya aku meminta bukti itu.""Tidak, aku tidak mampu melawan ayahku, maaf!""Kalau begitu pergi dari sini! jangan kau tunjukkan lagi rupamu di sini.""Maaf.""Cukup!"Gadis itu berlari, menyusuri setapak, merambas tanaman pandan-pandan raksasa, ia membiarkan lengan mul
"Siang, Mas. Saya mau ketemu Pak Yogi bisa?""Sudah janjian?""Sudah, Mas. Ini?"Aku memberikan kode di layar. Hadeh. Pak Yogi cuma anggota dewan, harusnya jelata sepertiku dengan mudah masuk rumahnya, aku pikir tidak rumit untuk bersua, ah, ternyata lebih rumit daripada bertamu ke istana kepresidenan.Kok, bisa begitu? Usut punya usut selain anggota dewan, Pak Yogi juga pebisnis handal, pengusaha pertambangan, memiliki beberapa perusahaan penyedia alat berat.Orang kaya tanpa utang.Kagum--tentu saja. Jarang ada pejabat yang begitu. Mungkin Yogi Gustaman satu-satunya.Sebelum berangkat Pak Robert memberi padaku satu nomor kode agar diizinkan masuk dalam apartemen milik Pak Yogi. Mirip kode tiket masuk bandara, yang ditunjukin via ponsel ke satpam biar bisa masuk buat check in. Bedanya ini hanya untuk masuk apartemen."Silakan masuk! Pak Yogi sedang tidak ada. Mungkin sekitar agak sorean baru tiba. Apakah
"Jangan pernah sakiti wanita, Deva. Dia ciptaan Allah yang harus dilindungi, beri obat untuk rasa sakitnya, Wanitalah yang pertama sekali begitu percaya Allah mengangkat nabi kita sebagai utusan di dunia, sedangkan lelaki justru banyak mengoloknya." Nasehat emak padaku suatu waktu.Ah, siapa yang berani menyakiti wanita yang menangis itu?Siapa wanita berkalung luka di atas sana?Mengapa pula aku terlalu penasaran?Titt. Ponselku berdering.Mataku menangkap mobil Ubil meninggalkan kediaman Pak Yogi.Astaghfirullah. Aku sampai lupa mau nelpon emak. Sibuk mengurusi yang bukan urusanku. Malah emak nelpon duluan. Belum jadi apa-apa di kota aku sudah lupa daratan begini. Semoga Allah mengampuni, sepertinya tadi setan mendadak menggodaku. Terhanyut dengan kehadiran sosok bernama wanita.Aku harus sadar. Suminar menanti proses ijab kabul. Kata emak Suminar gadis baik-baik, jika seorang emak rhido Allah pun juga rhido.
Pukul 22.08 alu melirik pergelangan tangan. Melingkar pengingat waktu hasil perlombaan catur tingkat jurusan. Aku menang sebagai juara satu. Ya Karena lawannya cuma dua orang. Coba seluruh jurusan, bisa KO. Acara tahunan yang diadakan jurusanku gagal total. Inilah hadiahnya jatuh ke tanganku.Indah memang mengenang semuanya, pantas filem kampus biru laris manis. Duduk di serambi depan rumah, aku mulai memainkan pensil. Di sisi kiri kutaruh bolpoin ukuran sedang. Rapidho 0.1 Mili, sengaja kuletak tepat depan mata, untuk memudahkan mengambil saat tangan ini mulai mengarsir garis tipis."Bagaimana gambarmu? Sudah selesai?" Herton datang membawa plastik beridi kacang pilus. Teman baru satu ini hobi sekali ngemil cemilan jajanan seperti itu.Setelah makan malam dengan kesunyian kata, beradu debar jantung riuh bergemuruh, muka yang sengaja kupilih untuk menunduk. Untungnya Fahira lebih menguasai situasi. Wajar. Dia itu Magister. Kabar angin bakal calon dok
Minimal tidak bersirobok tatap dengan mata yang pernah kupindai lamat di kala dulu. Mata sungguh masih sangat indah. Bening bak telaga di kelilingi hutan alami. Senyumannya ...Tuhan, selamatkan jantungku! Rasanya jantung benar-benar hendak tanggal dari gantungannya. Mengapa dunia ini begitu sempit. Ada hubungan apa antara Fahira dan Robert Pattinson? Begitu terkesan akrab. Hah. Kuraba spontan debur di dada. Meyakinkan diri bahwa ini bukan cemburu. Dia sudah istri orang. Yang iya saja, kalau aku sempat cemburu. Terserah dia mau punya hubungan apa dengan Robert. Bukan urusanku. Cih. Alam sadarku kembali terlempar pada dunia fakta. Fahira hanya bagian masa lalu. Bukan siapa-siapa.Memejam mata lagi. Kali ini aku membayangkan wajah lugu Suminar.Suminar. Suminar. Suminar. Ulangku bersenandika. Huh. Gagal. Mana mungkin aku bisa menghadirkan wajah Suminar di depan mata. Sementara perempuan si mantan itu berdiri kokoh di hadapan. Tetap saja wajah Perempuan berjilbab sorong bermode Malaysi
Gambar denah perumahan di tengah kota kecil hasil goresanku, sekaligus gambar desaign minimalis perumahan untuk rakyat terisolir yang kami buat bertiga bersama tim, mendapat apresiasi dari Yogi Gustaman. Yogi menyampaikan pemilik gambar terpilih akan ikut meninjau proyek dan terlibat secara langsung di lapangan. Ya, Yogi tengah mendapat proyek pembuatan seribu rumah rakyat untuk daerah Tembilahan. Kota seribu parit yang cukup familiar dengan kopranya. Semua gambar yang kami desaign diterima oleh Yogi. Setelah kelebihan dan kekurangan dari gambar itu dijabarkan oleh Fahira istrinya, Istrinya--sekaligus ... mantan kekasihku."Deva. Saya sangat suka dengan desaign dan konsep minimalis yang kamu buat. Ini sangat luar biasa. Dana kecil hasil besar. Anggaran bisa dipangkas jika desaignnya sesuai yang kamu rancang." Suara berat Yogi mengagumi hasil karyaku."Fahira adalah CEO perusahaan Gustaman group, nyawa perusahaan ini ada di tangannya. Untuk itu kalian harus bekerjasama dengan istriku
Minimal tidak bersirobok tatap dengan mata yang pernah kupindai lamat di kala dulu. Mata sungguh masih sangat indah. Bening bak telaga di kelilingi hutan alami. Senyumannya ...Tuhan, selamatkan jantungku! Rasanya jantung benar-benar hendak tanggal dari gantungannya. Mengapa dunia ini begitu sempit. Ada hubungan apa antara Fahira dan Robert Pattinson? Begitu terkesan akrab. Hah. Kuraba spontan debur di dada. Meyakinkan diri bahwa ini bukan cemburu. Dia sudah istri orang. Yang iya saja, kalau aku sempat cemburu. Terserah dia mau punya hubungan apa dengan Robert. Bukan urusanku. Cih. Alam sadarku kembali terlempar pada dunia fakta. Fahira hanya bagian masa lalu. Bukan siapa-siapa.Memejam mata lagi. Kali ini aku membayangkan wajah lugu Suminar.Suminar. Suminar. Suminar. Ulangku bersenandika. Huh. Gagal. Mana mungkin aku bisa menghadirkan wajah Suminar di depan mata. Sementara perempuan si mantan itu berdiri kokoh di hadapan. Tetap saja wajah Perempuan berjilbab sorong bermode Malaysi
Pukul 22.08 alu melirik pergelangan tangan. Melingkar pengingat waktu hasil perlombaan catur tingkat jurusan. Aku menang sebagai juara satu. Ya Karena lawannya cuma dua orang. Coba seluruh jurusan, bisa KO. Acara tahunan yang diadakan jurusanku gagal total. Inilah hadiahnya jatuh ke tanganku.Indah memang mengenang semuanya, pantas filem kampus biru laris manis. Duduk di serambi depan rumah, aku mulai memainkan pensil. Di sisi kiri kutaruh bolpoin ukuran sedang. Rapidho 0.1 Mili, sengaja kuletak tepat depan mata, untuk memudahkan mengambil saat tangan ini mulai mengarsir garis tipis."Bagaimana gambarmu? Sudah selesai?" Herton datang membawa plastik beridi kacang pilus. Teman baru satu ini hobi sekali ngemil cemilan jajanan seperti itu.Setelah makan malam dengan kesunyian kata, beradu debar jantung riuh bergemuruh, muka yang sengaja kupilih untuk menunduk. Untungnya Fahira lebih menguasai situasi. Wajar. Dia itu Magister. Kabar angin bakal calon dok
"Jangan pernah sakiti wanita, Deva. Dia ciptaan Allah yang harus dilindungi, beri obat untuk rasa sakitnya, Wanitalah yang pertama sekali begitu percaya Allah mengangkat nabi kita sebagai utusan di dunia, sedangkan lelaki justru banyak mengoloknya." Nasehat emak padaku suatu waktu.Ah, siapa yang berani menyakiti wanita yang menangis itu?Siapa wanita berkalung luka di atas sana?Mengapa pula aku terlalu penasaran?Titt. Ponselku berdering.Mataku menangkap mobil Ubil meninggalkan kediaman Pak Yogi.Astaghfirullah. Aku sampai lupa mau nelpon emak. Sibuk mengurusi yang bukan urusanku. Malah emak nelpon duluan. Belum jadi apa-apa di kota aku sudah lupa daratan begini. Semoga Allah mengampuni, sepertinya tadi setan mendadak menggodaku. Terhanyut dengan kehadiran sosok bernama wanita.Aku harus sadar. Suminar menanti proses ijab kabul. Kata emak Suminar gadis baik-baik, jika seorang emak rhido Allah pun juga rhido.
"Siang, Mas. Saya mau ketemu Pak Yogi bisa?""Sudah janjian?""Sudah, Mas. Ini?"Aku memberikan kode di layar. Hadeh. Pak Yogi cuma anggota dewan, harusnya jelata sepertiku dengan mudah masuk rumahnya, aku pikir tidak rumit untuk bersua, ah, ternyata lebih rumit daripada bertamu ke istana kepresidenan.Kok, bisa begitu? Usut punya usut selain anggota dewan, Pak Yogi juga pebisnis handal, pengusaha pertambangan, memiliki beberapa perusahaan penyedia alat berat.Orang kaya tanpa utang.Kagum--tentu saja. Jarang ada pejabat yang begitu. Mungkin Yogi Gustaman satu-satunya.Sebelum berangkat Pak Robert memberi padaku satu nomor kode agar diizinkan masuk dalam apartemen milik Pak Yogi. Mirip kode tiket masuk bandara, yang ditunjukin via ponsel ke satpam biar bisa masuk buat check in. Bedanya ini hanya untuk masuk apartemen."Silakan masuk! Pak Yogi sedang tidak ada. Mungkin sekitar agak sorean baru tiba. Apakah
"Kita Putus?""Maaf!""Aku bosan dengan kalimat maaf yang kau sebut," ujarku keras di depannya dengan suara menahan geram."Ayah menjodohkanku dengan anak saudaranya." Linangan air matanya berhamburan."Karena kalian berdarah ningrat, sedangkan aku hanya anak petani bawang?""Bu--bukan itu, percayalah! Aku mencintaimu. Tapi, ini karena ayah.""Ayah ... Ya, ayahmu. Orang yang gila kehormatan, tak mampu kau elak perintah darinya.""Plis, jangan benci padaku." Gadis itu masih saja menunduk. Berulang menyeka sudut matanya."Baiklah! Bukankah cinta butuh pengorbanan seperti yang sering kau gembor-gemborkan, mungkin ini saatnya aku meminta bukti itu.""Tidak, aku tidak mampu melawan ayahku, maaf!""Kalau begitu pergi dari sini! jangan kau tunjukkan lagi rupamu di sini.""Maaf.""Cukup!"Gadis itu berlari, menyusuri setapak, merambas tanaman pandan-pandan raksasa, ia membiarkan lengan mul