Sementara dua orang laki perempuan yang membantunya ada di dalam untuk bernegosiasi, Ibra dan pamannya masih berbincang dengan tenang di ruangan penyidik."Si Bodoh tampak terkejut saat Mario melancarkan serangannya, Paman. Kita bisa memanfaatkan kebingungannya untuk merongrong hubungan mereka lebih jauh," ungkap Ibra dengan wajah angkuh."Paman setuju, Ibra. Dengan merebut perhatian media dan publik, mereka akan terjebak dalam perang publik yang akan mengganggu bisnis mereka.""Dan kita dapat memperluas jarak antara mereka, kalau bisa keluarga besar Mario juga. Dengan menggali lebih dalam tentang masalah ini, kita bisa menemukan informasi yang bisa kita manfaatkan."Dengan tersenyum puas, keduanya masih melihat siaran TV yang menunjukkan perkembangan terbaru. Mereka merasa bahwa rencana atau strategi mereka mulai berbuah hasil.Dan sang paman, puas dengan hasil rencananya sendiri. Rencana yang sebenarnya sudah dirancang khusus olehnya sedari dulu."Pastikan kita menjaga kerahasiaan i
"Apakah kamu sudah mencoba berbicara dengan Gilang sebelumnya? Apa yang dia inginkan dari insiden ini?"Belum juga Saras menjawab pertanyaan sebelumnya, mamanya sudah mengajukan pertanyaan lagi.Saras, mencoba menjelaskan dengan sebaik mungkin supaya mamanya lebih tenang."Saras setuju, Mama. Tetapi saat ini Saras sedang bersama Mama, jadi tidak tahu apa-apa. Hanya memiliki sedikit informasi, itupun dari berita media sosial."Dia berusaha menjelaskan, menunjukkan layar ponsel supaya mamanya ikut membaca berita yang ada di beberapa media sosial.Sayangnya, Diana terus saja mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada anaknya. Karena menurutnya, semua informasi yang ada di media sosial tidak cukup memuaskan.Meskipun cemas dan canggung, Saras berusaha menjelaskan sebaik mungkin meskipun informasi yang ia miliki terbatas. Dia juga khawatir dengan keadaan suaminya, yang tentunya terus dikepung wartawan dan orang-orang yang berada di pihak lawan."Mama tidak menyangka, itu benar Gilang?" tany
"Brengsek! Kau, dan Ryan itu para pecundang!"Mario kembali kehilangan kendali. Memaki dan terus berkata kasar dengan menunjuk-nunjuk ke arah Gilang dan Ryan."Dengarkan, semua orang!" teriak Mario dengan suara lantang."Kalian semua hanya melihat permukaan! Gilang bukanlah apa yang dia klaim! Dia mengatur semuanya, mengendalikan setiap langkah dan rencana kemudian dia memutarbalikkan faktanya!"Dalam konferensi pers yang semakin rumit ini, tampaknya tidak ada jalan keluar yang jelas.Suasana yang semakin gaduh dan tegang, para peserta di konferensi pers ini terus bergerak dan berbicara. Keadaan semakin rumit, dan jawaban atas semua pertanyaan yang muncul tampaknya semakin sulit untuk ditemukan.Kedua pemimpin bisnis berhadapan dengan permasalahan pribadi, sementara wartawan dan orang-orang di sekitar mereka terus menerjang dengan pertanyaan dan emosi yang semakin memanas."Tenang, harap tenang!""Pak Mario, Anda bisa kembali ditahan jika tidak bisa mengendalikan diri!""Sialan kalian
Di kantor polisi, Ibra dan pamannya akhirnya bisa bebas bersyarat. Semua itu karena koneksinya yang sangat kuat di semua bidang sehingga pihak kepolisian juga menaruh hormat pada mereka berdua."Ini adalah langkah pertama menuju kebebasan, Ibra. Kita harus tetap waspada dan berhati-hati," kata sang paman menasehati."Ya, setuju Paman."Saat ini mereka berdua sedang menandatangani surat pembebasan bersyarat dengan tenang."Ya, paman. Kita harus berterima kasih pada koneksi kita yang kuat. Tidak banyak orang yang bisa keluar dari situasi semacam ini dengan begitu mudah," ucap Ibra--mengangguk.Salah satu anggota Polisi memberikan surat pernyataan kepada mereka."Berdasarkan perintah dari atas, kami melepaskan Anda berdua dengan status bebas bersyarat. Namun, ini tidak berarti penyelidikan kami berakhir."Sang paman menatap polisi tersebut dengan tersenyum ramah dengan mengangguk hormat."Kami sepenuhnya mengerti, Pak. Kami akan patuh pada semua ketentuan dan kewajiban yang ada," ucapnya
"Maaf, Mama Diana. Gilang tahu situasi ini tidak pantas, dan saya sangat menyesal telah berperan bodoh."Di perusahaan, Gilang sedang menghadapi mama mertuanya yang mengamuk. Diana merasa kecewa, tapi juga malu atas sikapnya selama ini terhadap Gilang"Menyesal? Apa yang bisa kau harapkan dengan sikapmu yang memalukan ini, Gilang? Kamu merusak reputasi keluarga dan bisnis keluargamu sendiri!" teriak Diana dengan wajah marah."Gilang, mengakui telah melakukan kesalahan besar. Tapi, ini juga bahwa situasi yang bukan keinginan Gilang."Untungnya, saat ini mereka bertiga ada di ruangan tersendiri. Dan Ryan sedang menangani masalah lainnya, bersama dengan tim eksklusif lainnya.Diana tertunduk, merasa malu. Anaknya--Saras, mengusap-usap lengannya untuk menenangkan.Reaksi Diana, sama seperti yang dialami Saras beberapa waktu yang lalu. Merasakan perasaan campur aduk, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata."A-ku, aku eharusnya tidak mengabaikan tanda-tanda bahwa sesuatu tidak beres.
"Baiklah, Gilang pikir sudah waktunya kita pulang," ajak Gilang, yang diangguki istrinya."Ya sudah, ayo!" Diana juga setuju.Setelah mereka selesai berbincang-bincang, Gilang mengajak istri dan mama mertuanya pulang. Dia meminta dapat Ryan untuk mengatasi permasalah di kantor yang masih sedikit kacau"Mama berharap semua bisa dikendalikan. Dan maaf, Gilang, atas sikap Mama selama ini." Lagi, mama mertuanya meminta maaf."Tidak perlu minta maaf, Ma. Yang penting sekarang semuanya sudah terbuka," sahut Gilang, yang tidak ingin terus bicarakan hal yang sama.Mereka keluar ruangan, dan melihat Ryan yang sedang bekerja lebih keras untuk membuat keadaan membaik."Apakah kamu bisa melakukannya sendiri?" tanya Gilang, belum benar-benar pulang.Ryan mengangguk mengerti, bahwa ia perlu berusaha lebih keras untuk mengatasi semua masalah ini dengan tidak membiarkan situasi semakin buruk.Tangan kanannya itu sudah terbiasa situasi yang seperti sekarang, bahkan jauh lebih kacau saja pernah."Siap,
"Aku tahu, mama terlalu bahagia dengan perubahan Mas Gilang dan bagaimana cara Mas Gilang mengatasi situasi di perusahaan. T-api, kadang aku merasa sedikit terlupakan di antara semua pujian itu."Gilang tersenyum mendengar keluhan istrinya barusan. Ini baru hari pertama, bagaimana dengan hari-hari berikutnya nanti?Tapi pria itu tidak mau membuat istrinya semakin merajuk. Dia mengambil kedua tangan istrinya, membawanya ke depan dadanya sendiri."Aku mengerti perasaanmu, Saras. Aku berusaha untuk memperbaiki hubungan antara kita semua, tetapi aku juga tidak ingin kamu merasa tidak dihargai dan diabaikan. Maaf," ucap Gilang dengan atensi penuh."A-ku ... a-ku tahu kamu berusaha, Mas. Aku bangga atas prestasimu. Tapi, terkadang rasanya sulit ketika semuanya hanya berfokus padamu yang ternyata jauh dari pemikiran orang-orang."Sepertinya Gilang paham dengan maksud istrinya yang merasa terabaikan. Dia jadi merasa bersalah karena istrinya salah paham."Aku menyesal jika kamu merasa seperti
"Pekerjaan hari ini bener-bener bikin kepala pusing," keluh Ryan sambil mengemudi."Iya, bener banget. Tapi setidaknya udah beres untuk hari ini, kan?" sahut Gilang santai."Iya, senangnya pulang dan bisa santai sekarang. Kamu sudah lama kerja denganku, Ryan. Ada saran buatku nggak dalam menghadapi tekanan kerja?" tanya Gilang kemudian.Dalam keadaan santai, mereka berdua memang seperti layaknya teman. Tidak ada batasan antara atasan dan bawahan.Gilang, tidak ragu dan gengsi untuk bertanya atau meminta pendapat Ryan. Itu karena selama ini, yang bekerja di "lapangan" adalah Ryan, sedangkan Gilang sendiri hanya memantau dari rumah.Ryan tampak memikirkan jawaban yang tepat sejenak, sebelum mengatakannya sebagai saran yang sesuai dengan ekspektasi Gilang saat ini."Yap, pasti. Jadi, yang penting pertama adalah jangan sampai terlalu banyak menumpuk pekerjaan. Kalau merasa overwhelmed, lebih baik bicarakan dengan saya, Mas Gilang. Atau bisa juga pada tim untuk mencari solusi.""Oke, itu m