Home / Romansa / Mempelai yang Tak Diharapkan / Udah kayak istri durhaka.

Share

Udah kayak istri durhaka.

Author: iva dinata
last update Last Updated: 2024-10-10 22:02:49
"Sebenrnya Papa juga sudah mengetahui rencana Tante Nura dan Om Angga yang ingin mengambil alih perusahaan."

"Benar kata Jihan, mereka hanya berpura-pura baik karena ingin Sandra menikah denganku. Setelah Sandra gagal, Alfa diminta pulang untuk menikahimu. Itu mereka lakukan untuk menguasai perusahaan. Sudah ada beberapa bukti Om Angga berusaha menghasut beberapa pemilik saham."

"Kemarin orang kepercayaan kita juga sudah mendapatkan bukti tentang penggelapan dana yang dilakukan Om Angga. Tapi, melihat Alfa, Papa tidak tega. Itulah sebabnya Papa mengusulkan perjodohan Sandra dengan Erik, putra bungsu Ridwan Gunawan. Papa berjanji akan berinvestasi dengan nilai yang cukup besar atas nama Sandra di Gunawan group's jika pernikahan terjadi."

"Tapi sepertinya rencana investasi itu diketahui oleh Rendra, dia datang saat pertemuan keluarga. Dia mengungkapkan hubungannya dengan Sandra juga kehamilan Sandra. Akhirnya Perjodohan gagal."

"Pada saat yang sama Keluarga Joseph menarik semua i
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yuana Eviyanti
cinta saja gak bisa jadi modal pernikahan tp karakter n watak yg gak bisa berubah itu sulit sekali menyatukan 2 hati
goodnovel comment avatar
Marietha Erika
makin lama2 makin berat baca cerita nya..........
goodnovel comment avatar
Ayu Nida
lanjut thorrrr...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Berita pagi ini

    Pagi hari saat Satya bangun Tari sudah tak ada. Pria itu panik dan langsung turun dari ranjang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan yang didominasi warna biru muda favorit Tari. "Dimana Tari?" Gumamnya, berjalan menuju kamar mandi di pojok kamar. "Tari," panggilnya membuka pintu kamar mandi. Kosong, Satya pun berlari keluar kamar. Jantungnya berdegup kencang. Dia sudah terbiasa dibangunkan istri setiap pagi dan hari ini berbeda istrinya tak ada saat dirinya membuka mata. Pikiran buruk tiba-tiba muncul di otaknya. Apa lagi teringat ucapan Tari, jika dirinya tak pernah berubah? "Tari," panggilnya berlari kearah tangga. Saat hendak menuruni tangga dilihatnya Tari baru keluar dari musholla yang ada di lantai atas. tepat di samping kamar mertuanya. "Ya Allah Tari..." Pekik Satya sambil berlari dan langsung memeluk Tari. "Kamu dari mana saja?"tanya tanpa melepas pelukannya. "Habis sholat," jawab Tari masih enggan memeluk Satya. "Kamu membuatku takut," ucapnya mengera

    Last Updated : 2024-10-10
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Klarifikasi

    Dari pagi Satya sibuk dengan urusan kantor di perusahaannya. Sejak perusahaan Joseph Hope's memutuskan kerja sama dengan Aditama food's, satu persatu investor mulai mengikuti jejak perusahaan besar itu sehingga harga saham Aditama food's perlahan mulai menurun. Jika keadaan ini terus dibiarkan, kehancuran perusahaan yang telah dibangun Farhan Aditama akan menjadi ujungnya. Entah alasan apa yang melatarbelakangi Jordan menginginkan Satya menikahi putri keduanya sebagai syarat kelanjutan kerja sama mereka. Satya menolak tegas begitu juga Farhan. Mereka bahkan sudah mengatakan status Satya yang sudah beristri namun Jordan masih kekeh dengan keputusannya. "Pernikahan sebagai Syarat penyatuan perusahaan kita. Baik putramu juga putriku punya hak yang sama atas perusahaan Aditama food's." Ucapan Jordan papa Erika sebulan yang lalu. Awalnya Satya ingin menyelesaikan masalah perusahaannya sendiri dan menolak bantuan Ibra, mertuanya. Namun kondisi perusahaan yang semakin sulit, b

    Last Updated : 2024-10-11
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Ternyata Sandra.

    Sore hari setelah mandi Tari dan Jihan berjalan-jalan di sekitar komplek sambil mendorong Sabia yang duduk anteng di strollernya sambil menikmati susu dotnya. Sambil berbincang dua wanita itu menikmati angin sejuk menjelang senja. Hembusannya sepoi-sepoi menyapu wajah cantik mereka membuat rambut keduanya terurai sampai ke pinggiran wajah. Sesekali Tari menyelipkan rambutnya ke balik telinga. "Eh itu ada tukang cilok. Beli yuk," ajak Tari menunjuk ke luar gerbang pintu masuk perumahan. "Dipanggil aja, jangan keluar perumahan." Jihan mengingatkan. Ganendra sudah berpesan untuk sementara tidak boleh keluar komplek perumahan untuk menghindari kejadian kemarin. "Kayaknya cuma kedepan situ gak papa," ujar Tari memaksa keluar. "Ada security yang berjaga-jaga di pos," Tari menunjuk beberapa pria yang berseragam keamanan berdiri di depan pos keamanan yang berada di antara dua jalan masuk komplek perumahan. "Ya sudah ayo, tapi langsung balik ya!!" Jihan mengikuti Tari ya

    Last Updated : 2024-10-12
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Temukan dia sebelum aku menemukannya

    Satya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Pulang ke rumah mertua itu tujuannya. "Security menelpon. Memberi tahu, Jihan terluka dan Tari diculik." Beritahu Genendra beberapa menit yang lalu melalui sambungan telpon. Kakak iparnya itu juga dalam perjalanan pulang saat ini. "Brengs*k," Beberapa kali Satya mengumpat saat terjebak kemacetan dan lampu merah. Setelah kima belas menit perjalanan akhirnya mobil sampai di depan rumah. Ada banyak security dan bodyguard di depan rumah. Satya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Baru mencapai teras sudah terdengar tangis Sabia yang membuatnya panik. Duduk di sofa ruang tamu Jihan dengan luka di kepala yang sedang di obati oleh Ganendra. Tampak juga ada beberapa luka seperti bekas goresan di tangan dan kaki Jihan. "Satya," panggil Aisyah sambil menggendong Sabia yang menangis meronta-ronta. Mata bayi itu terlihat sembab menandakan telah lama menangis. Dan yang membuat hati satya tersayat ketika retina

    Last Updated : 2024-10-12
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Permintaan Alfa.

    Sampai pukul 10 malam Sabia belum juga tidur. Bayi itu rewel karena terus mencari ibunya selain itu badannya juga panas. Dan sejak sore tadi terus menolak dikasih susu formula sehingga tubunya jadi lemas. Dokter sudah dipanggil, obat juga sudah diminumkan tapi suhu badannya masih tetap tinggi. Bayi cantik itu seperti trauma. Akan langsung menagis jika ada yang mendekati dan hanya mau digendong Satya. "Mungkin Sabia lesuh Mas," ucap Bik Tutik yang sejak tadi mengerkori Satya. "Biasanya dipanggilkan tukang pijat khusus bayi," sambungnya menatap sendu bayi yang sudah diasuhnya sejak baru lahir. Satya menghela nafas, bagaimana mau dipijit digendong bibik yang biasanya mengasuhnya saja tidak mau apalagi dipegang tujang pijit. "Bagaiamana mau dipijit Bik? Bibi lihat sendiri Sabia langsung nangis kalau ada yang mendekat," sahut Satya dengan wajah frustasi. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Panik memenuhi otaknya saat memikirkan keberadaan istrinya saat ini. Ingin sekali ber

    Last Updated : 2024-10-14
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Bukann saudara yang harus selalu mengalah

    Saat Bestari membuka matanya dia sudah berada di atas ranjang di sebuah kamar. Jendela kaca yang ditutup tirai tipis hal pertama yang dia lihat sebelum dirinya menyadari jika tangan dan kaki terikat. Ingatan akan kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya sadar jika saat ini dirinya sedang berada ditempat yang tidak aman. Kepalanya yang berdengut nyeri tak menjadi alasan untuk dirinya tetap meringkuk di atas tempat tidur. Dengan susah payah Bestari bangun dan bersandar. Dipandanginya sekeliling ruangan ruangan itu. Sebuah kamar dengan meja kayu lengkap dengan kursi di pojok kamar. Taknm jauh dari meja itu ada sebuah pintu, sepertinya itu kamar mandi. Dan dua meter dari pintu itu terdapat sebuah pintu yang lebih besar. "Dimana ini?" gumamnya sambil menggerak-gerakkan tanganya yang terikat. Ceklek, Tiba-tiba pintu terbuka, sesosok wanita berambut sebahu berjalan masuk. Sebuah senyum sinis nampak di wajah yang tak asing baginya. "Sudah bangun?" tanya wanita yang tak l

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Tipu daya Rendra.

    "A-pa mak-sudnya?" Wajah Sandra mendadak pucat. Tangannya kembali meraih tangan pria yang sangat dicintainya itu. Pria yang deminya Sandra rela mengkhianati orang-orang terdekatnya. "Apa maksudmu dengan berbohong?" tanyanya lagi. Rendra menengua kasar dan kembali menepis tangan Sandra kasar. Tak ketinggalan ekspresi jijiknya yang seketika membuat Sandra tertegun. "Apa kamu sebodoh itu? Belum juga mengerti." Rendra berkacak pinggang. "Harus kuperjelas, semua yang aku katakan itu bohong. Aku tidak akan pernah membun*h Tari, karena dia satu-satunya wanita yang aku cintai." "Lalu aku?" Sandra melangkah maju, mencoba meraih tangan Rendra dan menggenggamnya erat. "Aku sudah sudah mengorbankan segalanya untukmu, teganya kamu mengkhianatiku." Rendra tergelak. "Hanya orang bod*h yang mencintai wanita sepicik kamu. Mengorbankan persaudaraan dan persahabatan demi cinta dari seorang pria." Ibarat pukulan ucapan Rendra membuat Sandra ambruk. Wanita itu terduduk dilantai dengan w

    Last Updated : 2024-10-15
  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Melarikan diri.

    "Pilihannya ada padamu," kata Rendra dengan seringai yang membuat Tari bergidik ngeri. "Kamu mau melihat Sandra meregang nyawa karena senjat* ini atau kamu turuti permintaanku dengan menandatangani surat permohonan gugatan cerai," Rendra mengarahkan ujung pist*l tepat ke dahi Sandra. Sontak Tari membelalakkan matanya. Dia tak percaya Rendra akan melakukan hal sehina itu. Mempermainkan nyawa manusia demi ambisinya. Namun dengan cepat Tari merubah mimik kagetnya dengan ekspresi datar. "Apa kalian pikir aku akan percaya?" ujar Tari dengan senyum sinis. Rendra mengerutkan dahinya, sorot matanya penuh dengan tanya. "Maksudmu?" "Jangan berpura-pura di depanku! Itu membuatku muak," jawab Tari dengan ekspresi jijik. "Jadi kamu pikir aku bersandiwara? Kau ingin bukti?" Rendra tersenyum aneh. Persis psikopat. Tari berdecih. "Tak perlu. Aku tahu kalian bersengkokol untuk menculikku. Dan sekarang ingin menipuku. Kau tak mungkin membunuhnya." "Begitu, apa itu artinya kau ingin

    Last Updated : 2024-10-16

Latest chapter

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Tiba-tiba menghilang

    Tak terasa seminggu sudah berlalu dan tibalah hari dimana acara akad nikah Ayra dan Kaisar akan digelar. Di sebuah hotel mewah milik keluarga besar Gibran. Kaisar dan keluarganya yang berasal dari Singapura sudah datang sejak sehari sebelumnya. Tak hanya keluarga Kaisar, kerabat dekat dan jauh keluarga Ayra juga sudah datang dan menginap di hotel. Berbeda dengan keluarganya, Gibran dan Anindya masih berada di rumah mereka. Gibran menolak saat diminta ikut menginap di hotel. "Aku akan datang pagi-pagi sekali. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau Anin, terserah sama dia," tolak Gibran saat makan malam di rumah orang tuanya dua hari sebelum hari H. Sama seperti suaminya. "Aku bareng Mas Gibran aja Ma. Suami istri kan datang dan pergi harus bareng Ma," ucap Anindya ikut menolak saat sang mertua memaksanya untuk ikut menginap di hotel. Namun Atika seperti tak mau menyerah, wanita itu terus membujuk Anindya dengan rayuan dan banyak kata-kata manis. "Ikut ya An

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Memasang topeng gadis polos.

    Sudah jam sembilan pagi namun kendaraan milik Gibran masih terparkir di halaman rumah. Itu menandakan pria itu belum berangkat ke kantor. Padahal hari ini bukan hari libur tapi kenapa pria itu belum juga berangkat kerja. Berbeda dengan Gibran, hari ini Anindya tidak ada kelas karena kemarin baru selesai ujian. Dua jam sudah gadis berwajah manis itu duduk di sofa dekat jendela kamarnya. Matanya setia memandang ke arah halaman rumah yang ada di bawah. Tepatnya pada mobil hitam milik suaminya. "Kenapa belum berangkat juga?" keluhnya sedikit kesal. "Apa dia gak kerja hari ini? Kan masih hari jum'at." Monolognya pada diri sendiri. Bibirnya mengerucut karena kesal dan lapar. Semalam dia tidak menghabiskan makan malamnya karena buru-buru mengikuti Gibran dan Ayra. Sampai rumah moodnya jelek jadi tidak berminat untuk makan lagi. Jadilah sejak selesai solat shubuh perutnya meronta-ronta minta segera diisi. Gadis itu mendengus kasar, dielus-elus perut rampingnya yang kembali berbunyi.

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Cinta? Apa mungkin bisa mencintai jika sering disakiti?

    "Tunggu!" Atika menahan lengan Gibran. "Papamu menelpon," katanya sambil menunjukkan ponselnya yang bergetar. Gibran menghentikan langkahnya. "Kenapa Papa nelpon?" Gibran mengerutkan dahinya. Mendengar itu Anindya memegangi lengan Guntur lalu menariknya kembali bersembunyi. "Papa pasti mencari kita, sebaiknya kita segera kembali." Ayra menyahut. "Halo Pa," Atika menerima panggilan suara dari ponsel suaminya. "Iya Pa. Ini Mama nyari Anindya Pa. Iya...iya... Mama balik sekarang Pa," jawab Atika sebelum mengakhiri panggilan. "Papa kalian marah-marah. Katanya, malu sama keluarga Kaisar karena semuanya pergi tinggal Papa dan Gia saja." "Kak Guntur kemana?" tanya Gibran. "Tadi dia pamit angkat telpon. Mungkin sekarang ada di luar," jawab Atika."Telpon dari siapa? Kenapa lama sekali?" tanya Gibran lagi, merasa curiga. "Sudah-sudah gak usah bicarakan anak itu, kita balik aja keburu Papamu tambah marah." Atika menarik tangan Ayra dan Gibran. Namun Gibran menolak. "Mama s

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Ternyata dia juga,

    "-----Anindya hanya pion yang akan aku tumbalkan untuk melancarkan rencana kita." Degh...... Seperti badai yang menghantam di saat cuaca sedang cerah. Mendadak sinar di wajah Anindya meredup. Matanya dipenuhi kaca-kaca yang hanya dengan kedipan mata seketika menjadi hujan. 'Jadi kau menipuku?' batinnya dengan hati yang terasa sesak. Ternyata semua perlakuan manis ya beberapa hari ini hanya kepura-puraan saja. Tak sampai di situ, Gibran kembali memberi luka yang lebih dalam lagi. "Anindya wanita hanyalah wanita bodoh yang haus kasih sayang, sangat mudah dibohongi dengan kata-kata manis. Dia tidak pantas disandingkan denganmu. Jadi berhentilah cemburu padanya." Serasa hatinya dicabik-cabik Anindya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa perih dan ngilu. Rasa sakit itu membuatnya lelehan bening merangsek keluar dari kedua bola mata indahnya. "Tapi sikapmu terlalu manis padanya dan itu membuatku kesal." Ayra mendekati Gibran. Tangannya merambat pelan meraba lengan, punda

  • Mempelai yang Tak Diharapkan    Ternyata penipu.

    "Hari pulang jam berapa?" tanya Gibran yang duduk dibalik kemudi. "Jam 12-an," jawab Anindya tanpa menoleh. Gadis itu sibuk menghafal catatan yang diberikan Bagas kemarin siang. "Hari ini kamu ada ujian?" tanya Gibran melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Sejak kemarin malam Anindya sibuk dengan buku-buku pelajarannya. "Iya." Kembali, Anindya menjawab singkat. Gibran menghela nafas. Anindya yang dilihatnya dulu dan sekarang sudah berbeda jauh. Dulu Gibran sempat menolak saat pertama kali Ibra Rahardian menawarkan perjodohan dirinya dengan Anindya, putri bungsu Farhan Aditama. "Anindya Savira Aditama, putri kedua dari Farhan Aditama. Sikapnya sombong, suka dengan kemewahan dan memiliki banyak catatan buruk baik di sekolah juga di kampus. Pernah bermasalah dengan pembullyan dan hampir dikeluarkan dari kampus." Informasi yang Gibran dapatkan tentang adik Abisatya itu tidak ada yang baik. Tapi setelah hidup bersama Gibran baru tahu ternyata Anindya tidak seburuk itu.

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Berbaikan dengan Mama

    "Jujur sama Mama, sebenarnya tadi kamu tiba-tiba menghilang karena kamu ingin kabur kan? Kamu sudah tidak tahan dengan sikap kasar Gibran kan?" Anindya menggelengkan kepalanya, "Nggak seperti itu Ma?" "Gak usah bohong sama Mama. Mama sudah tahu semuanya," kekeh Aisya pada pendiriannya. Anindya memandang Jihan yang juga memandangnya dengan tatapa sendu. Ada rasa bersalah tersirat dalam tatapan wanita cantik itu. Karena dirinya yang cemburu buta Anindya dipaksa menikahi Gibran. "Ini salah faham Ma, Mas Gibran tidak seperti yang kalian pikirkan. Dia memang kaku dan tegas tapi dia baik. Mas Gibran yang menolongku saat aku dibully di kampus. Bahkan dia menolak untuk damai," terang Anindya. Aisyah memcingkan matanya. Wanita yang telah melahirkan Anindya itu tidak serta merta mempercayai ucapan putrinya itu. Dia tahu betul seperti apa Anindya. Dia pandai berbohong. "Aku nggak bohong Ma," kekeh Anindya berusaha meyakinkan sang Mama. "Kalau Mama tidak percaya Mama bisa telp

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Dendam Danisa.

    "Satu... dua... ti...." Anindya sontak menutup matanya, jantungnya berdegup kencang membayangkan rasa sakit yang akan dirasakannya saat cairan keras itu mengenai kulit mulusnya. 'Yaa Allah..... Hanya Enkaulah penolongku dan hanya pada-Mu aku bersandar.' Dalam hati Anindya terus merapalkan doa meminta pertolongan dari Tuhan. Namun sampai beberapa menit tidak ada yang terjadi, suasana mendadak hening. Hanya terdengar deru mesin mobil yang berjalan. Tangan yang memeganginya juga mengendur. Perlahan Anindya membuka matanya. Nampak dua orang disamping kanan kirinya menatapnya lekat. "Takut?" ucap Danisa yang di sambut decak tawa dua orang teman Danisa. "Sepertinya dia penasaran dengan rasa sakitnya?" sahut seseorang yang duduk dibalik kemudi. "Rasanya sangat panas dan menyakitkan. Kulitmu akan melepuh dan terasa perih. Rasa sakitnya masih terasa meski lukanya sudah kering. Kamu mau lihat?" Danisa memegangi maskernya seolah akan melepaskan kain penutup mukanya itu. "A-a

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Dia benar-benar datang.

    Anindya tertegun, lidahnya kelu dan pikirannya tiba-tiba kosong. Pandangannya menatap Gibran dengan tatapan tak percaya. "Kamu tidak salah dengar, Ayra anak haram papa dengan selingkuhan." Gibran memperjelas pernyataan sebelumnya. "Oh astaga...." ucap Anindya shock. "Jadi, maksudnya kamu mencintai saudara tiri kamu?" tanya Anindya dengan mata melebar. Dia benar-benar tidak pernah mengira akan akan bertemu dengan orang yang mencintai saudara sendiri. "Ini nyata kah? Bukan cerita novel?" tanyanya lagi. "Iya, benar." Gibran mendengus kasar, sedikit kesal karena merasa reaksi Anindya terlalu berlebihan. "Astaghfirullah...." pekik Anindya lalu membekap mulutnya sendiri. Tiba-tiba gadis itu teringat dengan ucapan Atika yang menunjukkan penolakan hubungan Gibran dna Ayra. "-----mereka tidak boleh bersama----" Ucapan Atika waktu itu terngiang kembali di telinga Anindya. Kini Anindya mengerti kenapa Atika berusaha membujuk dirinya untuk tetap bersama Gibran. Anindya semakin bin

  • Mempelai yang Tak Diharapkan   Semakin dekat.

    Malam ini Anindya dan Gibran pergi makan malam di rumah orang tua Gibran. Seperti biasanya, setiap satu bulan sekali mereka diharuskan ikut makan malam di rumah keluarga Gibran. Dan satu kali makan malam bersama keluarga besar dari kakek Gibran. Anindya memakai dress putih bermotif bunga-bunga kecil berwarna pink senada dengan renda yang menghiasai bagian lengan dan perut juga bagian bawah dress. Sedangkan Gibran memakai kemeja putih lengan pendek dan celana kain berwarna krem. Untuk pertama kalinya sepasang suami istri itu datang bersama dengan pakaian yang senada. Hal itu membuat Atika terkejut juga terharu. Wanita yang telah membesarkan Gibran itu terlihat sangat bahagia melihat kemajuan hubungan Anindya dna Gibran. Saat Gibran dan Anindya datang Atika dan Ayra yang menyambut dan membukakan pintu. "Astaga.... kalian kompak sekali. Mama senang lihatnya," ucap Atika terlihat sangat bahagia. Dipeluknya Anindya sayang. Berbeda dengan sang mama, Ayra kakak kedua Gibran te

DMCA.com Protection Status