"William?"Manik indah milik Clara seketika membesar. Ini sungguh mengejutkan. Meski William tahu tentang apartemen ini. Namun, tetap saja Clara merasa terkejut ketika William bisa menemukannya."Kenapa? Kamu terlihat tidak senang. Apa kamu sedang menunggu orang lain?" sindir William. "Jadi kamu sungguh menyukai bos kamu itu?" imbuhnya.Clara menggeleng. Dia ingin menyangkal. Namun, suaranya tertahan di tenggorokan. Yang dikatakan William memang benar. Dirinya menyukai Sebastian. Rasa suka itu tumbuh seiring kebersamaannya bersama pria itu.Rasa suka itu dipupuk dan disiram dengan sikap manis dan penuh perhatian yang diberikan oleh Sebastian dan berkembang menjadi rasa cinta. Namun, dia tidak mungkin mengungkapkannya di depan William. Dia masih memiliki hati untuk menjaga perasaan pria yang menjadi suaminya ini."Liam, apa kamu sungguh sudah sembuh? Kenapa kamu bisa ada di sini? Harusnya kamu masih di rumah sakit. Kamu masih belum sembuh betul," ucap Clara khawatir.William mendecak. "
119Ketegangan terjadi antara Sebastian dan William, membuat suasana di ruangan tersebut menjadi semakin memanas. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam, seolah-olah ingin menusuk satu sama lain dengan pandangan mereka. Masing-masing mencoba mempertahankan pergelangan tangan Clara.“Lepaskan tangan istriku!” seru William.Sebastian terlihat tenang dan santai, namun di balik ekspresi wajahnya yang damai, dia memiliki api kemarahan yang siap meledak. Dia memandang William dengan mata yang tajam, seolah-olah ingin menantang pria itu untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga.“Dia memang istrimu. Tapi dia mililkku!” ucap Sebastian tak mau kalah.Mendengar itu, William terlihat marah. Dia memandang Sebastian dengan mata yang merah padam, seolah-olah ingin mencekik pria itu. Dia terlihat seperti akan meledak setiap saat, dan Sebastian tahu bahwa dia harus terus memancing amarah William agar rencananya berhasil.“Kamu juga pasti tahu ‘kan kalau dia juga sedang mengandung anakku?”Tatapa
Hari itu, rupanya perjalanan Sebastian membawa kembali Clara pulang tidaklah mulus. William yang masih berstatus suami dari Clara tidak membiarkan dirinya begitu saja. Pria itu menyusul Sebastian dan Clara yang berjalan bergandengan menuju ke mobil. William, berlari dan menghadang dua orang itu."Berhenti! Tidak akan aku biarkan kamu membawa istriku begitu saja. Urusan kita belum selesai," pungkasnya tak gentar.Sebastian menghela napas jengah. Lelah dengan situasi ini. Sebastian ingin segera pulang dan bersama dengan Clara tanpa gangguan. Akan tetapi, pria ini seperti bayangan yang terus menghantuinya."Apa kamu tahu, kalau kamu mempersulit Clara? Dia harus menyelesaikan perjanjian ini, kalau jika tidak. Maka dia akan membayar pinalti yang lebih besar dari uang yang dia pinjam padaku," ujar Sebastian mencoba menahan diri."Apa?" William memandang Clara mencoba mencari sumber kebenaran. "Apa benar itu, Clara?" tanya William."Ya, benar."Jawaban yang diberikan Clara seolah memukul tela
Sebastian dan Clara akhirnya kembali ke mansion setelah menjalani hari penuh ketegangan. Begitu mereka melangkahkan kaki ke halaman depan, aroma bunga segar dari taman menyambut mereka dengan keharuman yang menenangkan.Pintu besar mansion terbuka lebar, dan di ambangnya berdiri Andrew, kepala pelayan yang setia, bersama para pelayan lainnya. Senyum merekah di wajah mereka, mencerminkan rasa bahagia yang tulus atas kembalinya kedua tuan muda itu."Selamat datang kembali, Tuan Bastian dan Nona Clara!" seru Andrew dengan penuh suka cita, membungkuk hormat.Para pelayan lainnya ikut berseru riang, beberapa bahkan meneteskan air mata haru. Kehangatan yang terpancar dari mereka membuat Clara merasa benar-benar berada di rumah. Setelah hari yang sulit Clara lalui sendirian, akhirnya dia kembali ke tempat yang penuh kenyamanan ini.Sebastian memberikan perintah kepada para pelayan agar menyiapkan air mandi hangat untuk Clara. Sebastian yakin Clara akan membutuhkan itu. Setelah memastikan Clar
Clara menengadah, menatap wajah Sebastian yang terlihat tenang, teduh, dan lembut. Tak seperti biasanya yang terlihat dingin dan arogan. Clara mencoba mencari keyakin dari tatapan Sebastian. Apakah benar yang pria itu katakan?"Apa itu sungguhan?" tanya Clara. "Bukankah kamu ingin mengembalikan aku pada suamiku setelah kontrak selesai?"Sebastian berdecak. Wanita ini ingatannya memang sangat kuat. Batinnya. "Aku hanya menggertak suamimu saja.""Jadi itu tidak sungguhan?" tanya Clara lagi."Asal kamu bersedia. Maka aku akan menghapus kontrak itu," kata Sebastian yang membuat Clara seketika terdiam. Dia merasa senang ketika mendengar ucapan Sebastian, namun di sisi lain dia juga kepikiran.Bagaimana nasib William. Kalau dirinya menerima tawaran Sebastian. Itu artinya dirinya harus meninggalkan pria itu. Dan itu akan menyakiti William. Padahal pria itu tidak salah."Kenapa kamu diam? Jangan bilang kamu meragukanku?" tanya Sebastian.Clara menarik sudut bibirnya singkat. Kepalanya kembali
Sebastian terdiam. Tatapannya terlihat dingin dan tajam, seolah tengah menekan sesuatu dalam dirinya. Sebuah emosi. Meski begitu Sebastian tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Dia dengan tenang lantas membalas ucapan "Aku akan ke sana sekarang."“Baik, Tuan.” Andrew segera kembali pada tugasnya.Sementara Sebastian kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Dia tidak menghampiri Clara yang terlanjur terlentang di atas kasur. Melainkan berjalan ke arah lemari untuk meraih pakaian.Melihat raut wajah Sebastian yang tak sedap dipandang, Clara segera bertanya. "Ada apa?""Aku harus pergi. Ada urusan penting."Kecewa Clara mendengarnya. Begitu mudahnya Sebastian melupakan hasratnya. Namun, itu bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan. Clara justru khawatir terjadi sesuatu yang buruk."Apa ada masalah?" tanya Clara lagi."Bukan masalah yang besar." Sebastian mengenakan pakaiannya dengan cepat. Sesekali melirik ke arah Clara. "Kamu istirahat saja, atau ingin bersantai? Kamu juga m
Sebastian membulatkan matanya dengan kuat, seperti tidak percaya pada apa yang dia lihat. Keterkejutan terlihat jelas di wajahnya, dengan alis yang terangkat dan mulut yang terbuka lebar. Dia terlihat seperti telah melihat sesuatu yang sangat mengejutkan dan tidak terduga, sesuatu yang membuatnya kehilangan kata-kata.Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali sekarang terlihat penuh dengan emosi, dengan percampuran antara kekagetan, keheranan, dan bahkan sedikit ketakutan. Sebastian seperti telah terpaku di tempat, tidak bisa bergerak atau berbicara, hanya bisa memandang pada apa yang ada di depannya dengan mata yang terbuka lebar."Ramon!" teriak Sebastian.Pria yang dipanggil hanya bisa mengangkat kepalanya dengan sangat pelan."Saya tidak apa-apa, Tuan." Suara Ramon terdengar serak.Sebastian mengepalkan kedua tangan. Melihat kondisi Ramon yang seperti itu membuat darah Sebastian mendidih. Entah apa yang telah dilalui oleh orang kepercayaannya itu. Mengingat Ramon memiliki kemam
Panggilan berdering. Namun tidak mendapat jawaban. Hal itu membuat Sebastian didera rasa khawatir yang berlebihan. Nomor Clara kembali ditekan. Nada dering terdengar beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari Clara. Keheningan itu menimbulkan rasa cemas dalam diri Sebastian, membuatnya berpikir apakah sesuatu telah terjadi pada Clara.Sebastian lantas menghubungi Andrew untuk mencari kepastian akan kondisi Clara.“Ya, Tuan.”“Di mana, Clara?” tanya Sebastian ketika mendengar suara dari seberang.“Sepertinya Nona sedang beristirahat, Tuan,” jawab Andrew."Oh, syukurlah!" Sebastian merasa lega. Wajahnya yang dipenuhi kekhawatiran seketika berubah sedikit terang. Setidaknya Clara saat ini berada dalam situasi aman. Meski sebenarnya Sebastian ingin mendengar suaranya. Mengingat tabiat Maxime, Sebastian tidak dapat meremehkan pria itu yang dapat melakukan apa saja. "Andrew, perketat penjagaan, larang siapa pun yang datang berkunjung ke rumah sekali pun itu kakekku!" titah Sebastian."Bai
Di mansion, kehidupan terus berjalan dengan suasana yang semakin hangat. Hari-hari Sania dihabiskan bersama Kaisar dan Clara, menciptakan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Sebastian, yang dahulu kaku dan menjaga jarak, mulai menunjukkan sisi lembutnya. Ia tak lagi canggung menyaksikan interaksi ibunya dengan Clara dan putranya.Suatu sore, Sania membawa Kaisar ke taman kecil di belakang mansion. Clara menemaninya, membawa selimut kecil untuk alas duduk mereka. Kaisar yang mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya tampak begitu ceria dalam dekapan neneknya."Dia semakin aktif setiap hari," kata Clara sambil tersenyum.Sania mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Ya, dia tumbuh dengan sangat baik. Aku bahagia bisa melihatnya berkembang seperti ini."Clara menatap Sania dengan penuh penghargaan. "Mom, aku ingin berterima kasih. Kehadiran Mom benar-benar membuat keluarga ini lebih lengkap. Aku bisa melihat Sebastian juga mulai menerima Mom sepenuhnya."Sania menatap Clara deng
Sebastian merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut. Malam itu, setelah memastikan Clara dan Kaisar sudah tidur, ia duduk di ruang kerjanya, menatap foto-foto yang bertebaran di mejanya. Pikirannya berputar, mencoba menghubungkan titik-titik yang belum tersambung. Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan: "Siapa kau dan apa yang kau inginkan?" Pesan terkirim. Namun, tak ada balasan. Sebastian mendengus kesal. Ia tahu orang ini tidak akan memberi jawaban dengan mudah. Ia perlu mencari cara lain. Di sisi lain kota, pria berjas hitam kembali menerima pesan. Ia menyeringai. "Sebastian mulai gelisah," katanya kepada pria di seberangnya. "Itu berarti rencana kita berjalan sesuai harapan," jawab pria itu tenang. "Tapi jangan gegabah. Kita harus membuatnya semakin terpojok." "Aku punya sesuatu yang akan membuatnya tak bisa menghindar lagi," kata pria berjas hitam sambil mengeluarkan sebuah amplop lain dari dalam tasnya. Pagi harin
Pagi itu, Sebastian tiba di kantornya lebih awal dari biasanya. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang pesan misterius yang ia terima. Ia berjalan melewati lorong-lorong dengan ekspresi serius, nyaris tak menyadari sapaan para karyawan yang lewat. Sesampainya di ruangannya, ia melemparkan jasnya ke kursi dan duduk di balik meja.Ia membuka laptop dan mulai memeriksa email. Namun, sebelum sempat berkonsentrasi, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama seperti sebelumnya."Kau pasti sudah melihatnya. Kita akan bertemu segera. Bersiaplah."Sebastian mengepalkan tangannya. Ia tidak suka permainan seperti ini. Jika seseorang ingin menemuinya, kenapa tidak datang secara langsung? Namun, ia tahu lebih baik untuk tetap tenang dan menunggu langkah selanjutnya dari si pengirim pesan.Sementara itu, di mansion, Clara merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Sebastian memang tidak banyak bicara pagi ini, dan cara ia menghindari pertanyaan hanya menamba
Di mansion, kehidupan terus berjalan dengan suasana yang semakin hangat. Hari-hari Sania dihabiskan bersama Kaisar dan Clara, menciptakan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Sebastian, yang dahulu kaku dan menjaga jarak, mulai menunjukkan sisi lembutnya. Ia tak lagi canggung menyaksikan interaksi ibunya dengan Clara dan putranya. Suatu sore, Sania membawa Kaisar ke taman kecil di belakang mansion. Clara menemaninya, membawa selimut kecil untuk alas duduk mereka. Kaisar yang mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya tampak begitu ceria dalam dekapan neneknya. "Dia semakin aktif setiap hari," kata Clara sambil tersenyum. Sania mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Ya, dia tumbuh dengan sangat baik. Aku bahagia bisa melihatnya berkembang seperti ini." Clara menatap Sania dengan penuh penghargaan. "Mom, aku ingin berterima kasih. Kehadiran Mom benar-benar membuat keluarga ini lebih lengkap. Aku bisa melihat Sebastian juga mulai menerima Mom sepenuhnya." Sania menatap Clara
Hari-hari berlalu dengan penuh kehangatan di mansion. Sania semakin sering datang, selalu membawa berbagai perlengkapan bayi atau hadiah kecil untuk Kaisar. Hubungan antara dirinya dan Clara pun semakin akrab.Sebastian yang awalnya masih menjaga jarak dengan ibunya, perlahan mulai menerima kehadiran Sania dalam kehidupan mereka. Ia melihat betapa ibunya benar-benar berusaha menebus kesalahan di masa lalu.Suatu sore, saat Sebastian baru saja pulang dari kantor, ia mendapati pemandangan yang menghangatkan hati. Sania tengah duduk di ruang keluarga, memangku Kaisar yang sudah tertidur pulas. Di sampingnya, Clara tersenyum sambil menyesap teh hangat.Sebastian berjalan mendekat dan duduk di samping istrinya. "Sepertinya Kaisar semakin dekat dengan Mom," ujarnya pelan.Sania mengangkat wajahnya dan tersenyum. "Tentu saja. Dia adalah cucuku, dan aku ingin berada di sisinya sebanyak mungkin."Sebastian terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Terima kasih, Mom."Sania menatap putranya de
Dareen mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman dengan nada tegas pria di hadapannya. "Apa maksud Anda?" tanyanya dengan nada kesal.Pria itu tetap tenang, tatapannya dingin dan profesional. "Reservasi Anda telah dibatalkan, Tuan. Kami menerima perintah langsung dari pemilik hotel. Anda memiliki waktu satu jam untuk meninggalkan tempat ini."Dareen terkekeh sinis. "Batal? Aku sudah membayar untuk satu bulan penuh!""Benar, namun pemilik hotel memiliki kebijakan untuk tidak menerima tamu dengan riwayat... mencurigakan," jawab pria itu tanpa ekspresi.Dareen semakin bingung. "Riwayat mencurigakan? Omong kosong macam apa ini?"Pria itu tidak menjawab, hanya menyerahkan sebuah amplop berisi dokumen. Dareen merobeknya dengan kasar dan membaca isi surat di dalamnya. Matanya membelalak saat melihat sebuah nama yang tidak asing baginya—Abraham."Brengsek..." gumamnya, meremas kertas di tangannya. Jadi ini ulah Abraham? Dia bahkan tidak menyangka pria tua itu masih memiliki pengaruh sebesar ini
Tiada hari tanpa kehadiran Sania. Pagi-pagi sekali wanita itu datang dengan beberapa tas belanja di tangan. Kedatangan wanita itu jelas membuat heboh penghuni mansion. Para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaan dapur, perhatian mereka teralihkan oleh perhatian Sania. Penasaran lantaran kedatangan Nyonya besar mereka sepagi ini. Menimbulkan berbagai macam pertanyaan di benak mereka. "Apa yang membuat Nyonya Besar datang sepagi ini?" "Ada urusan apa?" Suara-suara bisikan itu menggema di antara suara dentingan peralatan dapur. Para pelayan yang belum terbiasa dengan kedatangan Sania jelas merasa heran. Seperti yang mereka tahu, tuannya sempat tidak menghendaki kedatangan kedua orang tuanya lantaran sempat berselisih paham dalam kurun waktu yang cukup lama.Namun, keberadaan Clara mampu mencairkan hubungan mereka yang sempat memanas. Kedatangan Clara dalam keluarga ini memang benar-benar membawa keberuntungan. "Semua berkat Nyonya Clara. Hubungan Tuan dan kedua orang tuanya jadi mem
Sejak hari itu, hubungan Clara dan kedua orang tua Sebastian mulai membaik. Sania kembali datang, kali ini dia seorang diri karena Leonard tengah disibukkan oleh urusan Abraham Group. Pria itu kembali menjadi pemimpin perusahaan tersebut dan kembali membangun kekuatan dari nol. "Nyonya Sania di sini, Nyonya." Clara yang tengah bersantai dengan Kaisar sembari berjemur segera menatap pelayan yang memberi laporan. Wanita cantik itu menyunggingkan senyumnya. Tidak terkejut, lantaran Sania sudah berkata akan kembali esok hari. Rupanya wanita itu menepati ucapannya. Clara lantas bangun, bersiap untuk menyambut kedatangan sang ibu mertua. Kaisar yang kini lelap dalam kereta bayi itu didorong masuk. Sania berdiri dari duduknya ketika mendengar suara ketukan sepatu yang mulai menggema, ketika dia menoleh, wajah antusiasnya segera terlihat. "Cucuku!" Sania melangkah cepat, sedikit berlari menghampiri Kaisar. Dia bahkan tidak menyapa Clara karena terlalu bersemangat terhadap cucunya. Bayi
Clara mendelik, pupil matanya membesar. Dari pada mendengarkan ucapannya, sepertinya suaminya ini tetap bersikeras dengan keinginannya untuk tidak memaafkan kedua orang tuanya. Sementara Clara memiliki pemikiran yang berbeda dengan pria itu. Bagi Clara, berhubungan baik dengan kedua orang tua adalah hal yang penting. Sania yang mendengar itu, wajahnya seketika berubah sendu. Sementara Leonard seperti sebelumnya, terlihat dingin dan datar seolah apa yang dikatakan oleh Sebastian adalah hal yang biasa. Kenyataannya, dia memang mulai terbiasa dengan sikap puteranya. Sebastian memperhatikan perubahan wajah Sania. Sedikit iba. Namun, dia masih tidak bisa melupakan perlakuannya terhadap Clara. Bisa jadi, hal itu akan terulang kembali suatu hari nanti. "Kalian pergi saja, acara sudah selesai. Hadiahnya juga sudah kami terima." Kali ini Sebastian bicara dengan nada sedikit ringan. Kemarahan yang sempat menghiasi wajahnya sedikit mereda. Clara yang sejak tadi mengamati, kini mendekati sua