Share

Bab 35

last update Last Updated: 2022-07-14 22:45:58

Kami semua menoleh, terlihat Mbak Rosa dengan senyum mengembang tengah berdiri di dekat Mas Andra yang duduk di pinggir. Ah, aku jadi menyesal sudah menyuruhnya untuk duduk di pinggir.

"Kok diam? Aku nanya, loh," ucap Mbak Rosa karena tak ada satu pun suara dari kami yang mdnjawabnya.

"Mbak Rosa bisa melihat kami di sini, tentu lah kami ada di sini. Kalo tidak, apa Mbak pikir kami ini arwah? Maaf, Mbak, lebih baik Mbak duluan saja," jawabku pada akhirnya. Mas Andra tersenyum, hampir saja tertawa jika tidak aku cubit pahanya.

"Dih, kamu nyumpahin saya mati, Ning? Nggak lah ya, nanti Mas Andra malah nangis bombay karena di dunia ini nggak ada yang kaya aku. Ya kan, Mas?" tanya Mbak Rosa sambil memeluk lengan Mas Andra. Anehnya, lelaki itu malah diam saja. Seolah menerima perlakuan Mbak Rosa yang sudah di luar batas.

"Mbak, sudah bukan mahramnya. Jangan nempel gitu lah," ucap Kino, seakan membelaku.

"La h, aku ini masih istri Mas Andra loh. Ya meskipun secara hukum saja. Tapi aku in
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 36

    Kusentak tangannya kasar. Lalu tersenyum sinis padanya, sepertinya Mbak Rosa terlalu menganggapku remeh. Pengalaman kekasihku direbut dulu, membuatku sedikit berani untuk melindungi apa yang telah menjadi milikku. "Mbak mengancam? Coba saja kalau bisa. Buat Mas Andra mencintaimu lagi. Kamu ini sudah seperti tak ada harga dirinya saja, Mbak. Sudah tak laku kamu sampai mencoba menggondol milik orang? Ah iya aku lupa, kalau kamu masih laku, tentu kamu takkan sampai open bo, ya?" tanyaku, masih dengan nada sinis dan tatapan meremehkan. Wajah Mbak Rosa seketika menegang mendengar ucapanku. Heh, dia pikir, aku ini terlalu polos hingga tak tahu apapun? "Atau jangan-jangan, dia pasanganmu yang sudah membookingmu, Mbak? Kalo aku jadi kamu sih jijik, lihat saja perut dia yang buncit, kumisnya yang berantakan. Tapi demi uang, kamu mengesampingkan itu. Dan yang utama, kamu lupa Allah pasti melihat semua perbuatanmu? Bertaubat lah, Mbak, sebelum akhirnya Allah mencabut nyawamu," ucapku, lalu be

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 37

    Mas Andra terkekeh, mungkin dikiranya aku sedang bercanda. Aku memang tak memberi tahu soal pembicaraanku dengan Mbak Rosa waktu di restoran tadi, karena aku beralasan ke toilet dulu sebentar. "Kenapa?" tanyanya sambil merengkuh tubuhku. "Pusing, Mas." "Rosa?" Aku mendongak. Apa dia bisa membaca pikiranku? Ngeri juga kalo iya. "Kok Mas nebaknya gitu?" Mas Andra tersenyum, tubuhnya semakin dirapatkan padaku. "Maafkan Mas ya, Ning.""Tak perlu minta maaf, Mas. Semuanya aku jalani dengan ikhlas," jawabku. Mas Andra tersenyum, kemudian mengajakku untuk pindah ke kamar atas karena Keysha sudah terlelap. Mas Andra membawaku ke peraduan, namun saat hendak naik ke atas ranjang, sesuatu terasa dari perut. Astaghfirullah."Ning, kenapa?" tanya Mas Andra. "Mas, sakit," lirihku. "Apanya?" "Aw, Mas!" "Ning? Nining? Kamu kenapa?""Perutku sakit. Aw!" Mas Andra nampak panik, ia segera keluar. Ya Allah, kenapa semakin lama semakin terasa sakit? Lalu pandanganku menggelap. --Aku terban

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 38

    Mas Andra terus menatapku, ditambah kini dengan tatapan setajam elang. Membuatku menghela napas dan akhirnya mengalah. "Jadi, tadi itu aku nggak ke kamar mandi, Mas," ucapku mengawali. "Ya, Mas tahu." Aku membeliakkan mata. Dia, tahu? Sungguh? Aku mengerjapkan mata sekali lagi. "Benar, Mas?" "Ya, kamu berbohong. Karena saat kamu tak kunjung kembali, Mas mengecek ke dalam. Ternyata kamu sedang bersama Rosa. Awalnya Mas ingin mendekat, takut jika ia melakukan hal yang buruk. Tapi kemudian Mas sadar, kalau kamu bukan lagi anak kecil yang harus dijaga dua puluh empat jam. Tapi, Mas menyesal karena telah mengambil pilihan itu. Andai saja, Mas nggak ninggalin kamu, mungkin saat ini kamu takkan di sini," ucap Mas Andra sambil menundukkan kepalanya. Kuusap kepalanya, lelaki sedingin kulkas itu telah pergi. Berganti dengan sesosok suami yang teramat peduli pada istrinya. Dan aku bangga, sudah bisa mengubah sikapnya padaku, menjadi selembut ini. "Ini bukan salah Mas. Memang semua ini sa

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 39

    "Lain kali jaga kesehatanmu, Ning. Jangan hiraukan Rosa. Ibu ga suka, selain membahayakan kehamilanmu, Ibu juga ga suka dia mengusik keluarga kita," ucap Ibu setelah Keysha dibawa pergi Sinta. "Iya, Bu. Maafin Nining ya, kemarin lepas kontrol." "Iya. Ibu sudah mengirimkan supir ke kampung kamu, Ning.""Loh? Ngapain, Bu?" "Ya jemput keluargamu, lah. Jangan bikin mereka khawatir karena memikirkan kamu yang masuk rumah sakit. Mending mereka datang, melihatmu secara langsung. Lagipula, semenjak pernikahan kalian, Ibu belum bertemu lagi dengan keluargamu." "Tapi, apa nggak papa, Bu? Nanti repotin." "Hus, kamu ini kaya sama siapa aja! Ibumu itu kan keluarga Ibu juga. Jadi jangan ngomong kaya gitu lagi, ya?" "Hehe, iya, Bu." Pukul dua belas siang, Ibu, Keysha dan Sinta pulang. Tentu saja setelah drama Keysha nangis karena tak mau pulang. "Kamu apakan sih Keysha itu, Ning? Lengket banget sama kamu?" tanya Mas Andra. "Jangankan Keysha, papanya aja bisa lengket banget. Padahal dulu kan

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 40

    "Key mau ke bawah dulu ya, Ma." "Key sini saja. Nanti kita ke bawah bareng. Mama mau ke kamar mandi dulu." Anak itu mengangguk. Dorongan untuk buang air besar kian terasa karena seharian ini memang belum membuang hajat. Saat keluar, tak kudapati Keysha di atas ranjang. Hemm, bocah itu memang selalu saja kepo. Dengan pelan, aku menuruni tangga. Terlihat Ibu tengah terduduk lemas, sementara Bik Minah di sampingnya. Aku mendekat pada Desi dan Sinta yang bersembunyi. Selepas mengantarku, Mas Andra pamit mau ke kantor sebentar. Mengingat jam menunjukkan pukul tiga, masih ada sisa satu jam sebelum kantor tutup. "Kalian ngapain di sini?" tanyaku saat sampai di bawah. "Eh, astaghfirullah. Ibu, ngagetin aja!" ucap Sinta sambil mengelus dadanya. Aku nyengir, rasa bersalah menyergap. Harusnya aku tak mengejutkan mereka. Tapi penasaran juga, kenapa Ibu sampai begitu? "Ada apa, Des?" "A-anu, Bu...""Anu apa?" Aku semakin penasaran. "Keysha mana?" tanyaku lagi karena mereka terlihat gugup

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 41

    "Sebenarnya, tadi Bu Rosa datang baik-baik ingin menjemput Keysha. Minta izin juga untuk membawanya menginap sampai tiga hari. Tapi Nyonya melarang, Ning. Bu Rosa sepertinya kepancing, sampai ribut. Nggak lama kemudian Keysha datang. Lelaki yang bersama Bu Rosa langsung membawa Keysha pergi ke mobilnya. Lalu Bu Rosa ngikutin dari belakang. Nyonya sudah mengejar keluar, tapi kan dari fisik pun sudah kalah, Ning. Mereka masih muda, lari dari sini ke luar itu mudah. Sementara Bibik tadi lagi nyuci piring. Tahu sendiri kalau asisten rumah tangga pantang untuk ikut campur keluarganya," jelas Bik Minah. "Laki-laki? Mbak Rosa datang ke sini kapan memangnya, Bik?" "Tepat saat kamu naik, Ning." "Tapi, Bik, rasanya berlebihan sekali. Apalagi kan Mbak Rosa adalah ibu kandung dari Keysha. Masa iya, mau nyakitin gitu aja?" Bik Minah hanya menunduk, seolah ada yang ingin disampaikan, namun urung. "Ada apa, Bik?" "Nggak apa-apa, Ning. Ya sudah, Bibik sama yang lain ke belakang dulu. Tadi Pak

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 42

    "A-apa?" "Bik, bawa Nining ke kamar. Saya mau ke luar lagi. Pastikan dia nggak ke mana-mana." "Baik, tuan.""Mas!" "Ayo, Ning, kita ke kamar." "Tapi Bik." Bik Minah tak mengindahkan perkataanku, dia tetap menarik tubuh ini ke atas. Aku pun menurutinya, mungkin nanti aku bisa menanyakan hal ini pada Bik Minah di kamar. Saat sampai kamar, segera kucekal tangan Bik Minah saat hendak meninggalkanku, meskipun berat, akhirnya ia mau duduk juga. "Bik, Nining mau nanya," ucapku. "Tanyalah Ning," ucap Bik Minah. "Sebenarnya, apa maksud Mas Andra lagi? Keysha, bukan anak Mbak Rosa?" Bik Minah menghela napas. Ia seperti melepas beban yang seakan berat di pundaknya. "Bibik takut nanti dimarahi sama Pak Andra dan Nyonya, Ning." "Nining janji, nggak akan kasih tahu Ibu, Bik. Janji!" ucapku sungguh-sungguh. Meskipun ragu, akhirnya Bik Minah mulai membuka mulutnya. Menceritakan kembali saat kedatangan Keysha ke sini. "Jadi, Keysha itu bukan anak Pak Andra maupun anak Bu Rosa. Dulu, Bu R

    Last Updated : 2022-07-14
  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 43

    Sampai sore hari, Mas Andra belum juga pulang. Aku ingin menghubunginya terlebih dahulu, namun takut jika nanti aku dimarahi. Apalagi wajah Mas Andra tadi sangat geram mengetahui Keysha dibawa oleh Mbak Rosa. Aku duduk di sofa, menanti kedatangan suami yang belum juga kelihatan mobilnya. Ibu sedari tadi di kamar, bahkan terdengar juga isak tangisnya sesekali jika aku melewati kamarnya. Wajar kurasa, karena Keysha merupakan kesayangan mereka. Mengingat cucu satu-satunya keluarga ini, dilihat dari pandangan orang lain. "Bu, tadi Bapak menelepon Nyonya, saya dengernya kalau Keysha belum juga ditemukan." Aku menghela napas, makin pelik saja. Sudah seharian ini dicari, namun tak kunjung ketemu. "Bapak juga sudah cari ke rumah saudara Bu Rosa, tapi tak ada tanda-tanda Bu Rosa membawa Keysha ke sana." "Iya, makasih ya, Des." "Iya, Bu." Kupijit pelipis, terdengar suara mobil masuk. Aku langsung berdiri dan mengeceknya. Namun harus menelan pil kecewa karena ternyata yang datang adalah

    Last Updated : 2022-07-14

Latest chapter

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 91-TAMAT

    "Des?" panggilku. "Ah, iya, Bu." Lalu muncul Ibu dengan tergesa-gesa. Beliau langsung berlari ke tempat anak bungsunya itu. Bukannya memeluk, beliau malah memukulnya. "Bagus, ya! Kerjaanmu itu gak jelas! Pergi-pergi terus gak pulang-pulang! Sekalian aja lupain kalau Ibu sudah meninggal!" "Ibu! Kok gitu? Ibu gak boleh meninggal sebelum Kino menikah." "Menikah? Alhamdulillah, Ya Allah! Kamu sudah punya pacar, Kin? Siapa itu?" "Ada, Bu. Nanti Kino kenalkan. Sekarang dia lagi jauh." Jauh? Ah, tentu saja. Kenapa aku berpikir kalau Kino ada hubungan dengan Desi? Ibu pun mengajak Mas Kino ke meja makan dan mengambilkan jus jambu kesukaannya. "Kok pulang nggak ngasih kabar?" "Kan surprise, Bu." "Ya sudah, Ibu tinggal dulu ke kamar. Kamu habis ini istirahat." Ibu menarik tanganku ke kamar, lalu menutup pintu meski tak rapat. "Bu, ngapain?" "Sssst! Diem dulu." Tak lama kemudian, Kino ke depan, menghampiri Desi yang tengah duduk di tangga. Mataku membulat, saat melihat Kino memeluk

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 90

    Aku tersenyum, dasar mirip bocah! Selesai menyuapi Ghani dan Shani, aku pun mengajak mereka ke kamar Keysha untuk kususui sambil menunggu Keysha pulang sekolah. Kuminta Desi untuk ikut, sambil menjaga Shani yang nanti menunggu giliran kususui. "Pacarmu orang mana, Des?" tanyaku. "Eh? Emmm, gak jauh dari sini kok, Ning.""Aku kenal?" Pelan, Desi mengangguk. Hal itu membuatku makin bingung dengan teka-teki pacarnya Desi ini. Jika aku mengenalnya, lantas ia siapa? "Siapa?" "Ada deh, nanti juga dia datang ke sini." Aku mengangguk saja, tak ingin mengorek lebih dalam lagi. Aku sadar akan privasinya. Jika ia mengatakan akan mengenalkannya padaku suatu hari nanti, maka aku tinggal menunggu saja. Lalu kami bercerita lagi, tentang apapun. Sampai aku tak sadar jika Ghani sudah terlelap. Kupindahkan Ghani ke tempat Shani, lalu Shani pindah ke tempat Ghani untuk kuberi asi. "Nikah itu, enak gak sih, Ning?" tanya Desi tiba-tiba. "Ya ada enaknya, ada gak enaknya. Tinggal gimana kita dan

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 89

    "Bu Nining tenang saja, Pak Andra ga mungkin nikah lagi. Orang kaya kulkas gitu, siapa yang mau?" "Buktinya, Mbak Nesha mau tuh. Andai Mas Andra ngeladenin, pasti mangsanya itu Mas Andra.""Untungnya Pak Andra gak nanggepin, ya?" Aku mengangguk. Lalu fokus mengambil bayam yang sangat menggoda mataku itu. "Bu Wina juga katanya nemuin duit di tumpukan selimut yang nggak pernah dipake. Pas ditanya, katanya mau buat gugurin kandungannya Bu Nesha." "Apa?" Kami semua terkejut mendengar penuturan Bu Dian. Selama ini, Bu Wina memang lebih dekat dengan Bu Dian, sehingga beliau selalu up to date tentang temannya itu. "G*la, ya? Jadi perempuan itu sudah hamil?" Aku benar-benar tak menyangka dengan berita pagi ini. Mbak Nesha, pantas saja akhir-akhir ini sering pakai baju kegedean, nyatanya ada yang tengah coba ia sembunyikan?Setelah membayar belanjaan, aku pun pamit pulang pada ibu-ibu yang lain. Kasihan Shani dan Ghani yang belum sarapan. "Des, sudah siap sarapan si kembar?" "Sudah, Bu

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 87

    "Hampir, andai Winto tak melihatmu, mungkin orang itu sudah membawamu pergi.""Ah, nggak sampai hutang budi kok, Mbak. Biasa aja." "Jadi, Nesha yang centil itu, istrimu?" "Mantan istri, Mbak." "Kok, semalem aku nggak lihat kamu? Kapan datangnya?" "Pak Winto datang setelah Ibu pulang. Paling selisih tiga menit Ibu masuk, mobil Pak Winto datang." "Oh, iya. Bagus lah kalau kamu ceraikan dia. Bukan bermaksud mengompori, tapi istrimu itu emang benar-benar, kok! Masa rumah tangga anakku mau dirusakin?" "Ah, masa, Mbak? Benar begitu, Bu Nining?" "Panggil Nining saja, Pak. Iya, begitu lah, Pak." "Ah, kan Bu Nining istrinya Pak Andra, jadi saya harus menghormati. Sebelumnya, saya mau minta maaf kalau kelakuan mantan istri saya keterlaluan ya, Pak, Bu, Mbak." "Nggak papa, Win. Namanya manusia. Tapi untungnya anakku nggak goyah. Mantan istrimu itu pakaiannya sexy banget. Sampe mau muntah aku lihatnya." "Bu...." Mas Andra mengingatkan Ibu, supaya jangan terlalu jauh menceritakan tentang

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 86

    "Betul." "Ingat, ya. Kalau aku jadi Bu Wina, bukan hanya kupukul kalian, tapi kumusnahkan senj*t*mu dan kucabein punya si perempuan. Jangan main-main sama aku, Mas." "Ish! Ngeri amat, sih?" protes Mas Andra dengan wajah meringis, aku malah jadi ingin tertawa melihatnya. "Makanya, mau gitu, nggak?" "Ya nggak, lah." "Bagus!" "Punya satu aja pusing, apa lagi dua." "Apaaaa?" --Pagi hari. Biasanya aku hanya mengurus Keysha, namun kali ini juga ada Aura. Meski mempunyai Sinta dan Desi, tapi aku tetap akan turun tangan jika itu urusan anak-anak. "Aura, nanti setelah mandi, ambil seragam sekolah di rumah, ya? Biar diantar sama Mbak Desi. Soalnya Kalau bareng sama Keysha, beda arah," ucapku sambil mengolesi salep di bekas lukanya. Memar yang terlihat seperti baru, kupikir hanya bagian lengan saja, tapi ternyata saat Desi membuka bajunya, makin banyak terlihat. Aku sampai bergidik ngeri, kok ada ibu sejahat ini pada anaknya? "Aura, kenapa banyak luka begini?" "Karena Aura nakal, T

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 85

    Aku membeliakkan mata saat melihat Mbak Nesha terkena tinjuan Pak Winto. Lelaki itu bukannya merasa bersalah telah meninju istrinya malah makin menjadi. Beruntung, semua itu bisa dipisahkan dan akhirnya Pak RT duduk di antara mereka. "Jadi bagaimana ini, Pak Winto? Bu Wina?" "Saya sih sudah nggak mau tahu, Pak RW. Pokoknya saya mau mereka diusir dari sini." "Ma, kan tadi Papa sudah bilang..." "Maaf, Pa, tapi kami menolak kehadiran Papa di tengah-tengah kami lagi," ucap Wandi sambil berdiri di samping Bu Wina, begitupun Meriska. "Begini saja, silakan selesaikan urusannya secara pribadi. Tapi, kami mengharapkan hal seperti ini tak akan terulang kembali, alis Pak Adi dan Bu Nesha pergi dari komplek ini," ucap Bu Dian. "Saya setuju." "Saya juga." Terdengar sahutan dari yang lain. Begitu pula aku dan Mas Andra. Lelaki itu sibuk menggenggam jemariku. "Tapi, Papa mau ke mana kalau nggak di rumah kita, Ma?" "Ya terserah. Pergi saja sama wanita selingkuhanmu itu. Lagi pula, itu rumah

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 84

    "Mas!" teriak Bu Wina. Namanya wanita, maka akan tetap berperilaku seperti wanita. Di luar tadi, Bu Wina mengatakan takkan mengeluarkan satu tetes pun air mata untuk kedua pasangan zina itu. Nyatanya, kini wajahnya sudah bersimbah air mata. "Mama." Bu Wina merangsek maju, menarik selimut yang digunakan oleh Mbak Nesha untuk menutupi badannya. Saat semuanya tersingkap, aku langsung menyuruh Mas Andra untuk keluar. "Iya, Ning, aku juga takkan melihat." Ibu-ibu lain sudah menjambaki Mbak Nesha, sementara aku masih bingung harus berbuat apa?"Ibu-ibu, jangan main hakim!" teriak Pak RW, sementara Pak RT sudah dalam cengkeraman Pak Satpam. Teriakan Pak RW nampaknya tak dihiraukan oleh ibu-ibu itu, sementara warga lain yang mungkin mendengar suara bising dari rumah ini pun keluar. "Sudah, Bu Wina. Jangan disiksa, nanti kalau dia mengadu pada polisi bagaimana?" "Biarkan saja, Ning! Dasar lakor murahan kamu, ya! Sudah jadi bini kedua, masih aja nggaet suami orang. Sadar woy! Busuk m***

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 83

    "Sudah kamu hubungi, Mas?" Mas Andra mengangguk. Aku melihat jam di dinding, sudah pukul sebelas malam. Apakah tindakanku ini tak sembrono? Ah, semoga saja tidak. Bismillah, semoga ini adalah titik terang di balik siapa sebenarnya suami Mbak Nesha itu. "Kamu benar melihat Pak RT di sana, Ning?" tanya Bu Mega. Beliau kuberi tahu karena melihatku dan Mas Andra turun dengan tergesa."Iya, Bu. Masa Nining bohong?" Ibu hanya nyengir saja, kemudian ikut kami keluar. Bu Aisyah dan suaminya sudah keluar, Bu Isah, Bu Dian, pun begitu. Kami semua berkumpul di depan rumah Bu Dian. "Memang siapa yang di rumah itu, Bu Nining?" "Suaminya Bu Wina," jawabku sambil berbisik. "Hah? Pak RT?" Aku mengangguk, kemudian kami menoleh saat ada yang baru bergabung. Dia Bu Wina. Aku terkesiap saat melihat di tangannya banyak perkakas. "Sebenarnya aku sudah curiga kalau suamiku ada main sama perempuan tak jelas asal-usulnya itu." Kami semua terperanjat. Niat hati ingin menenangkan dan memberi kesabaran,

  • Malam Pertama Dengan Majikan    Bab 82

    "Ma?" "Eh, iya, Sayang?" Aku tersentak saat Keysha memanggilku. "Ayo masuk. Adek Shani bangun." Aku mengangguk, kemudian menuju kamar dan menggendong Shani yang tengah digendong oleh Mas Andra. "Papa, minggu depan ada acara rekreasi sama teman teman sekolah," ucap Keysha seraya mengulurkan selembar kertas yang memiliki cap sekolahan TK. Darul Iman itu. "Tanya Mama dulu, Key, mau nggak?" "Gimana, Ma?" "Harus sama wali murid?" Keysha mengangguk. Aku bimbang. Jika aku ikut, maka kasihan Shani dan Ghani karena kuajak pergi terus. Tapi, tak apa kan? Bukannya itu bagus? "Ke mana rekreasinya?" "Ke taman mini, Ma." Aku mengangguk, lalu terkekeh saat melihat anak kecil itu melompat riang.--"Kamu yakin mau ikut rekreasi?" tanya Mas Andra saat kami hendak bersiap untuk tidur. "Iya, Mas. Sekalian kita jalan-jalan. Nanti ajak juga Desi. Kebetulan, besok pagi Bik Minah datang, kan?" "Iya, sih. Emang hari apa perginya?" "Tuh, kan? Makanya kalau ada surat dari sekolahan begitu, usahak

DMCA.com Protection Status