Share

Bab 52

Author: Mami ice bear
last update Last Updated: 2024-07-09 18:00:21

“Teganya Ibu mengatakan hal seperti itu pada makhluk yang bahkan tak bisa melawan Ibu!”

“Ya! Tentu aku tega! Memang siapa dia, sampai aku tak tega melakukannya?” berang Jubaedah yang kini semakin menatap marah pada sang menantu. Dari sorot matanya saja, sudah bisa menggambarkan, sebesar apa kebencian Jubaedah pada anak Lisa.

“Aarrghhh!” teriak Yogi frustasi. “Kalian ini benar-benar membuatku pusing, tau gak!”

“Ribut aja terus kerjaannya!”

Laki-laki itu mengayunkan langkah dengan rasa kesal yang membuncah. Bahkan suara tapak kaki yang sengaja dihentak-hentakkan, beradu dengan ubin lantai rumahnya. Yogi melangkah pergi meninggalkan dua wanita yang tak pernah tampak akur tersebut.

“Entah apa salah dan dosaku. Cobaan selalu datang bertubi-tubi, kayaknya kok betah banget,” keluh Yogi lemas, sembari meninggalkan kamar sang istri dan memilih pergi ke teras rumahnya.

Entah Tuhan memang sedang mengirimkan cobaan pada laki-laki 38 tahun tersebut. Atau memang Tuhan sedang mulai memberikan kar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mami ice bear
kak Ruri wong ngapak? samaan kalo gitu ...
goodnovel comment avatar
Rurit Haqqu
lho 5×....indent dlu to gasik...kyak bahasa desaku, ngapak²
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 53

    “Masuk kau! Dasar tak berguna!” “Lho … lho … pelan-pelan, Bu!”Bu Lastri terkejut, saat Jubaedah dengan kasar menarik lengan Lisa. Sementara istri dari Yogi tersebut tengah menggendong sang putri. Brak! Dengan keras Jubaedah menutup pintu utama rumah Yogi. Kemudian dengan kuat ia men-dorong tubuh sang menantu hingga terduduk di sofa ruang tamu, “Sudah kubilang, jangan sesekali kamu keluar rumah! Ngerti gak sih!”“Bu! Pelan-pelan! Aku lagi gendong Aurora!” Tanpa rasa takut, Lisa memprotes apa yang dilakukan oleh ibu mertuanya. “Perse-tan dengan kau dan anakmu itu! Aku mau kalian berdua pergi dari rumah ini sekarang juga!” bentak Jubaedah tak peduli. “Kau dan a-nak si-alanmu itu hanya akan mempermalukan keluargaku!”“Cukup!” Lisa tak lagi bisa menerima semua penghinaan yang dilayangkan Jubaedah setiap hari. “Apa kau tak ingat nenek tua?! Siapa yang merayuku untuk menjadi menantu keluarga ini. Sampai kau dan anak perempuanmu itu membuat skenario agar aku bisa segera menikah dengan Y

    Last Updated : 2024-07-13
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 54

    “Breng-sek!” “Ups, maaf ya Ibu Mertua dan Kakak Ipar,” tukas Lisa santai, tanpa merasa bersalah sedikitpun. “Ingat, uang yang kalian pakai, sudah seharga rumah ini. Bahkan sertifikat rumah ini pun sudah ada di tanganku. Jadi, jika ada yang harus angkat kaki dari rumah ini. Itu bukan aku, melainkan kalian!” Sembari melenggang pergi, Lisa memberikan ancaman kecil kepada sang mertua dan juga kakak iparnya. Jubaedah dan Yessi pun sontak saling melirik dan sama-sama meneguk ludah kasar. Rahasia yang selama ini dijaga baik-baik, kini justru terkuak karena kesalahan mereka sendiri. “Katakan padaku, apa keuntungan dari ju-di on-line yang kalian lakukan?” tanya Yogi dengan nada datar. “Jawab aku, Bu!” bentak Yogi kemudian. Saat laki-laki itu tak mendapat jawaban apapun dari mulut ibu maupun kakak perempuannya. Hingga gelengan kepala dari Jubaedah menjawab pertanyaan Yogi. Membuat Yogi yang masih belum bisa meredam amarah yang memuncak, kembali murka. Mantan suami Devi i

    Last Updated : 2024-07-15
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 55

    “Mas ….”“Ada apa ini? Siapa dia? Kenapa-”Sosok lain tiba-tiba memekik dari arah ruang tamu, tepat menghadap ke arah Yogi yang masih melakukan keme-sraan dengan sang istri. “Lho, kamu ….”Namun tiba-tiba, sosok asing itu justru mengatupkan bibir rapat-rapat. Kala melihat siapa dua orang yang masih terlihat intim tersebut. “Li-lisa,” ucapnya lirih dan tergagap. Tapi suaranya masih bisa didengar dengan baik oleh Yessi yang kini sudah ada di sisi kanannya. Mantan kakak ipar dari Devi tersebut tampak mengernyit heran, sebab dengan jelas ia mendengar sang suami menyebutkan nama adik ipar barunya. Meski dengan suara lirih dan terbata. “Kamu kenal wanita mu-rahan ini, Mas?” tanyanya penasaran. Hening! Tak ada sedikitpun jawaban yang diterima oleh Yessi, hingga dengan tak sabaran ia menarik lengan kanan suaminya tersebut. “Mas! Kamu denger aku ngomong gak sih!” sentak Yessi kasar. “Bukannya jawab, ini malah sibuk ngeliatin be-tina gatel ini!”“Mas Hans? Kok kamu disini, Sayang?”Mata k

    Last Updated : 2024-07-28
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 56

    “Syukurlah pembukaan toko sejak kemarin sampai hari ini, berjalan dengan lancar.”“Iya, Bu. Semoga hari ini juga lancar seperti dua hari kemarin ya, Bu,” timpal sosok lain yang memakai setelan berwarna merah bata tersebut. Yang langsung kembali ditimpali oleh wanita cantik di hadapannya, “Aamiin, semoga saja ya, Put.“Saya izin ke belakang dulu ya, Bu,” ucapnya lagi.Ya! Hari ini, adalah hari ketiga pembukaan toko roti baru milik Sri Devi atau yang biasa dipanggil Devi, mantan istri Yogi. “Semoga ini adalah buah dari do’a dan kesabaran kami,” ungkap Devi lirih.Pada hari ini bukan hanya hari ketiga pembukaan toko milik Devi, melainkan juga hari dimana Devi dan Yogi genap satu tahun bercerai. Sejak sebelum bercerai dengan Yogi, Devi memang sudah lebih dulu bekerja sebagai freelancer perusahaan Arya. Hingga saat dirinya benar-benar sudah menyandang status janda, Devi akhirnya bekerja sebagai salah satu staff di kantor Arya.“Wah, tokomu boleh juga, Dev. Congrats yaa …”Tiba-tiba sebuah

    Last Updated : 2024-07-30
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 57

    “Lebih baik pecat aja karyawan macam dia. Pemalas dan tak tau diri!”“Tolong jaga sikap Anda di sini, jika masih ingin dihargai layaknya seorang tamu,” ucap Siska yang tak suka dengan sikap yang ditunjukan oleh mantan ibu mertua dan kakak ipar Devi tersebut.Melihat reaksi yang ditunjukan oleh Siska, membuat Jubaedah dan Yessi seketika saling pandang. Mungkin mereka cukup heran, sebab upaya keduanya membuat nama Devi jelek di muka umum, kali ini gagal. “Biar saya aja yang melayani mereka, Put.”Tiba-tiba suara Devi terdengar, membuat Siska menoleh dengan tatapan heran. Srett!Siska menarik lengan Devi dengan cepat dan sedikit men-cekal lengan sang sahabat. Tatapan wanita berambut pendek itu tampak menakutkan. Ditambah dengan suara berbisik yang sengaja ditekan, menambah aura mencekam dari wanita yang masih memakai blazer hitam tersebut. “Kamu apa-apaan, sih?!”Devi menatap lekat manik mata Siska dan melepaskan cekalan tangan wanita itu secara perlahan. Dengan senyum mengembang, wani

    Last Updated : 2024-07-31
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 58

    “Jadi gimana, Bu? Siapa yang mau bayar?”“Kalo gak bisa bayar jangan sok-sokan!” ucap salah satu pengunjung toko roti tersebut.Beberapa orang tampak mulai gelisah. Menunggu giliran untuk membayar di kasir. Namun, setelah ditunggu hingga beberapa waktu. Jubaedah dan Yessi justru masih saling menunjuk, siapa yang harus membayar. Tanpa ada tanda-tanda kapan masalah itu akan terselesaikan.“Bayar buruan, Bu!” Tanpa, menghiraukan beberapa pelanggan yang sudah menggerutu, Yessi masih bersikukuh meminta sang ibu untuk membayar. Namun, Jubaedah pun sebelas dua belas dengan sang anak. Dengan pendirian teguh dan sifat keras hatinya, Jubaedah tetap tak mau menuruti permintaan sang putri, “Kok Ibu, sih? Kamulah yang bayar!”“Ck! Kalo emang gak bisa bayar mending kalian minggir, deh!” Seorang ibu-ibu yang sudah habis kesabarannya, segera maju dan menyingkirkan ibu dan anak tersebut. “Kere tapi sok sugih! Gak punya duit tapi sok jadi nyonya!”Gerutuan ibu-ibu itu tentu jelas terdengar oleh Yessi

    Last Updated : 2024-08-03
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 59

    “Kenapa diem, Bu?”Semua orang yang ada di toko itu sontak menoleh bersamaan. Pada sosok lain yang kini berdiri di ambang pintu masuk toko.“Li-Lisa …,” gumam Jubaedah pelan.Bukan hanya itu, bahkan kini wajah wanita paruh baya itu tampak pias dan memucat. Terlebih saat sosok yang ternyata adalah Lisa, istri dari Yogi, tampak memandang Jubaedah dan Yessi dengan tajam.“Kalian!” Hingga tak lama setelahnya, seorang ibu-ibu lainnya terlihat menyusul masuk ke dalam toko. Sembari membawa beberapa paper bag di tangannya. “Dasar cu-rut tak bertanggung jawab! Bisa-bisanya kalian meninggalkan belanjaan begitu saja. Kalo ilang, apa kalian yakin bisa menggantinya?!”Alis Devi bertaut menjadi satu. Ia bisa mengenali Lisa, tapi Devi tak mengenali sosok lain yang kini berdiri bersisian dengan istri dari mantan suaminya tersebut.“Apa Ibu masih menganggap Devi itu menantu Ibu? Begitu maksud Ibu, bukan?” Tanya Lisa pada Jubaedah yang kini berdiri mematung dengan keringat yang hampir membanjiri waja

    Last Updated : 2024-08-04
  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 60

    “Sebaiknya kalian semua pulang dan bawa saja roti itu !”Perdebatan keluarga mantan suami Devi itu sudah semakin tak bisa ditolerir. Entah apa yang ada di pikiran mereka, jika Devi saja merasa malu tapi hal yang sama seolah tak dirasakan oleh empat wanita itu.“Apa kau sedang mengusir kami?!” Bukannya pergi, Jubaedah justru semakin meradang dan menganggap devi merendahkan mereka dengan cara mengusir secara terang-terangan.“Maaf, Bu. Saya tak bermaksud mengusir sama sekali. Tapi, perdebatan keluarga kalian tak seharusnya menjadi konsumsi publik. Jadi saya sarankan lebih baik kalian selesaikan masalah kalian di rumah,” ucap Devi mencoba memberi pengertian.Seperti apapun perlakuan Jubaedah sekeluarga kepada dirinya, di masa lalu. Namun Devi juga tak bisa membiarkan empat orang tersebut semakin mendulang malu atas ulah mereka sendiri.“Bagaimanapun juga, Ibu dan Mbak Yessi adalah Nenek dan Bibi dari kedua anakku. Rasa malu yang akan kalian tanggung, mau tak mau nantinya juga akan berim

    Last Updated : 2024-08-05

Latest chapter

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 97

    “Jadi, Tante Yessi sakit apa?”Roni, bocah delapan tahun itu, akhirnya tak mampu lagi menahan rasa ingin tahunya. Sejak tadi, ia mendengar percakapan yang tak sepenuhnya ia pahami, namun bocah polos tersebut menangkap ada sesuatu yang besar sedang dibahas oleh orang-orang dewasa di ruangan itu.“Ibu... Tante Yessi sakit?” Roni mengulang pertanyaannya, kali ini menatap ibunya, Devi, dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Devi menelan ludah, rasanya kering, seperti ada duri menyangkut di tenggorokannya. Sejujurnya, ia sendiri belum melihat Yessi sejak terakhir kali mereka menemukan wanita itu dalam kondisi memprihatinkan di rumah sakit. Sejak itu, ia lebih memilih menjaga jarak, takut jika keterlibatan emosionalnya kembali menguak luka lama.“Roni, mau nggak nengokin ibuku?” Suara Rossi memotong keheningan, membuat semua perhatian tertuju padanya. Wajah gadis itu terlihat lebih segar, meski tubuhnya masih kurus, membawa sisa-sisa dari beban b

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 96

    "Kenapa kamu takut? Nenek nggak gigit, kok!"Selorohan Jubaedah terdengar canggung di telinga kedua anak Devi. Kata-kata yang seharusnya ringan justru menciptakan suasana yang makin tegang. Ruang tamu kafe yang mereka tempati mendadak sunyi, seolah udara terasa lebih berat.Rayyan meringis, melirik adiknya, Roni, yang mulai beringsut mundur, ekspresi wajahnya menyiratkan rasa cemas yang berusaha ia sembunyikan. Yogi, yang duduk di samping Jubaedah, ikut merasa kikuk. Tatapannya bergantian tertuju pada Jubaedah dan kedua anak laki-lakinya, mencoba mencari celah untuk mencairkan suasana.“Roni, santai aja, Ayah sama Nenek nggak jahat, kok,” Yogi mencoba tersenyum, berusaha meyakinkan.Roni hanya mengerjap, tetap diam, ekspresinya sulit diterjemahkan. Bayang-bayang masa lalu seakan menekan hatinya, menahan mulutnya untuk sekedar menyapa. Dibenaknya masih terlintas kenangan pahit—perkataan kasar, tatapan dingin, dan perlakuan tidak adil yang pernah di

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 95

    “Tapi, Bu…” Roni mengeluh pelan, wajahnya tampak enggan. Kedua matanya menghindari tatapan ibunya, Devi, yang baru saja menyampaikan pesan dari ayah mereka. Devi mendesah panjang, memandang kedua putranya yang masih duduk di hadapannya dengan ekspresi serba salah. Beberapa hari yang lalu, mantan suaminya, Yogi, meminta waktu untuk bertemu dengan anak-anak mereka, yakni Roni dan Rayyan. Namun, ia tahu bahwa membujuk anak-anak, khususnya Roni, bukanlah perkara mudah. “Nak, bagaimanapun juga, dia tetap ayah kandung kalian,” ucap Devi berusaha lembut, meski nada suaranya mulai terasa putus asa. Ada perasaan bersalah yang selalu muncul setiap kali dia mengangkat topik ini. Hatinya teriris melihat bagaimana Roni, putra bungsunya, menunjukkan ekspresi menolak yang begitu kuat. Rayyan, putra sulungnya yang kini berusia sebelas tahun, menghela nafas panjang dan mengangguk pelan. Dia mengerti perasaan ibunya dan tampak lebih tenang darip

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 94

    "Entah kenapa aku malah curiga sama keluarga mantan suamimu itu, Dev..."Suara Siska yang tegas memecah keheningan di ruangan toko bakery yang baru saja dibuka. Devi, yang sejak tadi terlihat melamun, tersentak mendengar kalimat itu. Ia menarik nafas panjang, mencoba mengendalikan pikirannya yang seolah melayang-layang entah ke mana. Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Yogi, mantan suaminya, namun kata-katanya masih terngiang di kepala. Seperti duri yang tertinggal di luka lama, pertemuan itu membuka kembali ingatan tentang masa lalu yang tak ingin ia ingat.Devi menatap jalanan dari balik kaca toko bakery-nya, memandang kosong pada lalu lalang orang yang tak dikenalnya. Ia tampak letih, seolah banyak beban yang ia pendam sendiri. Pembukaan cabang baru toko roti miliknya dan tanggung jawab mengurus dua anak seorang diri. Hari ini adalah hari besar bagi Devi, namun bayangan masalah keluarga mantan suaminya seolah membayangi setiap langkahnya.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 93

    Suasana yang masih tenang di toko roti milik Devi seketika berubah menjadi penuh kecanggungan. Ruangan itu terasa lebih sesak meskipun hanya ada beberapa pengunjung yang tampak sibuk memilih kue di sudut ruangan. Devi sedang membantu Siska, sahabatnya, menyusun kue ke dalam etalase. Seolah Siska adalah pemilik toko tersebut, padahal justru sebaliknya. Mereka berbagi percakapan ringan tentang jenis kue yang baru tiba pagi itu.“Aku lebih baik membicarakan roti yang wangi ini, daripada membicarakan orang-orang yang masih ada hubungannya dengan keluarga mantan suamimu itu,” ucap Siska ditengah perbincangan. Namun, ketenangan itu mendadak pudar ketika pintu toko bakery berderit pelan, diikuti oleh langkah kaki seseorang yang masuk ke dalam. Devi berhenti bergerak, menatap sosok yang tidak asing itu. Berdiri di depan pintu dengan ekspresi ragu namun mantap, dia adalah Yogi, mantan suaminya. Untuk sesaat, Devi tertegun, seperti sedang berusaha memastikan apakah dirinya

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 92

    “Bu Lilis, tolong, saya butuh penjelasan!” Devi menatap Lilis dengan pandangan memohon, sementara jemarinya tetap menggenggam lengan wanita itu erat.Lilis mengalihkan pandangan, wajahnya tampak resah. “Aku… aku sudah katakan, bukan. Kukatakan sekali lagi, Lisa meninggal karena overdosis!”“Jika hanya karena alasan kematian Lisa. Itu bukan alasan cukup untuk lari seperti pecundang, Bu!” Devi membalas, nada suaranya mulai meninggi. “Kalau memang Ibu tidak bersalah, kenapa harus takut? Apa ada hal lain yang Ibu sembunyikan?”“Devi, tolong jangan paksa aku…” Lilis mencoba menarik diri, tapi tangan Devi lebih kuat.“Tidak, Bu Lilis! Ibu tidak boleh lari dari semua ini. Lisa meninggal dengan kondisi yang… aneh. Semua orang membicarakan dia, dan jangan sampai mereka justru menuduh Ibu kalau Ibu lari seperti ini. Jika Ibu benar-benar peduli pada mendiang Lisa, jelaskan semuanya!” Devi menatap tajam, mencoba menahan rasa frustasi.Lilis

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 91

    Devi tertegun, matanya membulat tak percaya ketika mendengar penuturan wanita paruh baya yang bertugas memandikan jenazah Lisa.“A-apa? Kenapa bisa sampai separah itu?” tanyanya dengan suara bergetar, mencoba mencerna kenyataan tragis yang disampaikan kepadanya.Wanita paruh baya di depannya, yang mengenakan kerudung lusuh, hanya bisa menggeleng pelan. “Saya juga kurang paham, Mbak Devi. Tapi, saat kami memandikan almarhumah… ya, memang kondisinya sudah begitu.” Suaranya bergetar, seakan-akan kata-kata itu membuatnya ngeri mengingat kembali apa yang ia lihat.Devi menutup mulutnya dengan tangan gemetar, seolah-olah ingin menahan rasa mual yang tiba-tiba menghantam dadanya. Matanya berair, dan ia mencoba membayangkan kondisi Lisa di akhir hidupnya. Bagaimana mungkin mantan adik madunya mengalami akhir yang begitu menyedihkan?“Sa-saya… saya tak bisa berkata-kata…” ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.Di sisi Devi, Bu RT yang ikut mendengar penuturan tersebut terlihat terkejut.

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 90

    “Li-lisa?”Handoko tergagap, tubuhnya kaku. Berita yang baru saja dikatakan oleh Devi membuat dirinya tak bisa berfikir jernih. Hingga beberapa saat kemudian… “Kapan, Devi? Dan.. darimana kamu tau kabar itu?” ucap Handoko lagi. “Mas Handoko… beneran gak tau kabar terakhir Lisa?”Suara Devi lirih namun tegas, menusuk di antara deru langkah mereka di koridor rumah sakit.“Aku bahkan tak tau apa-apa, Devi.”Jawaban Handoko terdengar datar, hampir tak terdengar, namun ia menatap Devi dengan tatapan tajam. “Aku memang meninggalkan dia tadi pagi, tapi.. Saat itu dia masih…”“Soal itu…”Devi berhenti sejenak, menarik napas, seolah-olah menunggu kata-katanya diserap penuh oleh Handoko. “Dia baru saja ditemukan tidak bernyawa, sekitar satu jam lalu.”Handoko membeku. Sorot matanya berubah, seolah kata-kata Devi baru saja menghantamnya dengan kenyataan yang selama ini ia hindari. “Kamu serius?”Devi mengangguk pelan. “Aku

  • Maaf, Aku Memilih Mundur   Bab 89

    “Kapan kejadiannya?” tanya Devi dengan nada khawatir. “Baru tadi sore, Mbak. Kemungkinan kami akan mengurusnya besok…” ucap seseorang dari seberang sana. Devi menganggukkan kepala, meski lawan bicaranya tak akan melihat apa yang ia lakukan. Sebuah ponsel masih menempel di telinga kanan Devi. Mantan istri dari Yogi tersebut tampak serius mendengarkan apa yang diucapkan oleh sosok nan jauh disana. “Kami bingung harus mengabari siapa dan kemana. Jadi, aku memutuskan mengabari Mbak Devi. Meski aku tau, mereka nggak ada sangkut pautnya dengan Mbak…”“Ya sudah tak apa,” ucap Devi, merespon lawan bicaranya. Namun, manik mata wanita itu tampak melirik sekilas ke arah mantan kakak iparnya. “Aku tak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan mengusahakannya. Aku tau apa yang bisa kulakukan.”“Makasih ya, sudah mengabariku,” imbuh Devi yang kemudian langsung dijawab oleh sosok di seberang sana. Berikutnya, wanita berambut panjang itu segera

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status