Beranda / Young Adult / METAMORFOSA / HARI PERTAMA SEKOLAH II

Share

HARI PERTAMA SEKOLAH II

Penulis: Jezlyn
last update Terakhir Diperbarui: 2021-03-29 15:55:59

Wanita yang tengah menjerit kencang itu adalah Shelka. Dia, Shelka Amanda Pradipta. Wanita yang memiliki obsessi besar untuk mendekati seorang Matheo Demonte Azekiel.

"Sumpah demi apa, tadi Matheo? Matheo kakaknya Clarisa itu, kan?” Shelka tengah menepuk-nepuk pipinya sendiri. Ia merasa seperti habis bertemu Dewa Yunani yang tampannya tiada tara itu. Tanpa Shelka sadari, ia sudah terlalu lama berada di toilet. Alasan ke toilet sebetulnya untuk mencuci muka agar segar.

Klek!

“Eh, lo tadi anak yang pingsan saat upacara, kan?” tanya salah seorang siswa yang sama-sama memakai seragam SMP.

“Emm ... iya.” Shelka meringis tak enak. Belum genap sehari menjadi siswa sekolah Nusa Bangsa sudah terkenal aja. Mana terkenal karena pingsan pula. Sial!

“Kenalin, gue Vita.” Vita mengulurkan tangannya.

“Shelka.”

Mereka sama-sama tersenyum, tanpa sadar mereka tertawa terbahak tanpa tahu apa yang lucu. Mereka pun langsung menghentikan tawanya. Suasana pun langsung sedikit serius dibandingkan tadi.

“Oya, lo mau masuk jurusan apa?”

“Jurusan IPA aja kalau lolos.” Shelka membetulkan rambut panjangnya yang digerai.

“Sama, semoga kita bisa satu kelas.”

“Iya, semoga aja, ya.” Terjadi keheningan. “Btw, udah belum nih? Kita ke aula bareng, yuk?”

“Yuk.”

Kini Shelka merasa tenang, setidaknya ia sudah memiliki teman saat ini. Tidak sendirian lagi seperti tadi. Shelka dan Vita memasuki ruang aula mereka langsung duduk di tempat masing-masing.

Shelka merasa bosan mendengarkan arahan ketua osis yang belum kelar-kelar itu. Tanpa sadar, Shelka melamun dan membayangkan pertemuan dirinya bersama Matheo tadi. Pertemuan tak sengaja. Membayangkan itu membuat Shelka mesam-mesem tanpa sadar.

“Hei! kamu, kenapa cengar-cengir nggak jelas?”

Shelka masih saja tersenyum membayangkan wajah tampan Matheo. Baginya, Matheo itu sosok laki-laki sempurna versinya.

“Hei!”

Shelka merasa terkejut ketika bahunya ditepuk oleh salah satu kakak kelas yang wajahnya bisa dikatakan sangatlah galak.

“Hei! kamu, kenapa cengar-cengir nggak jelas?” tanyanya kembali.

“Eh, maksudnya saya, Kak?”

“Iya, kamu. Siapa lagi? Lagipula anak lain semua anteng memperhatikan ke depan kecuali lo.”

“Maaf, Kak.”

“Perhatikan ketua osis ngomong di depan.”

“Baik, Kak.”

Shelka segera menatap ke arah depan. Ia mulai memperhatikan ketua osis yang berbicara panjang lebar. Shelka mencari-cari lokasi duduk Vita. Ia menemukan kalau Vita duduk deretan depan.

Anjirlah, bisa budek itu si Vita duduk paling depan begitu.

Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu jam istirahat tiba. Seluruh siswa semuanya berhamburan keluar tak terkecuali Shelka.

“Vita.”

“Eh, Shelka.”

“Mau ke kantin, ya?" tanya Shelka. Vita pun hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. "Gue belum tahu nih lokasi kantin di mana?” tambahnya.

“Sama sih, eh kenalin temen gue nih. Temen baru kenal juga sih.” Vita memperkenalkan dua orang yang sama-sama pakai seragam seperti dirinya.

Shelka mengulurkan tangan ke arah dua teman Vita secara bergantian. “Shelka.”

“Dita.”

“Shelka.”

“Atika.”

“Nah, mendingan kita ke kantin bareng-bareng, yuk,” ajak Vita memecahkan keheningan.

Shelka mengangguk setuju. Ia juga mengecek ponselnya yang terdapat pesan whatsapp dari seseorang yang selalu menjaga dan melindunginya.

Shaqu : Gimana nih jadi anak SMA?

Shelka : Biasa aja.

Shaqu : Semangat.

Shelka : Pasti dong.

Shaqu : Udah istirahat?

Shelka : Ini mau ke kantin sama temen-temen.

Shaqu : Ya udah, makan yang banyak.

Shelka : Hmm, udah dulu, ya. Nggak enak sama temen-temen.

Shaqu : Ok.

Shelka langsung memasukan ponselnya ke dalam saku seragam. Ia langsung meringis tak enak menatap ketiga teman yang baru saja dikenalnya itu. “Maaf.”

“Gapapa, yuk,” ajak Vita kembali.

Kini keempatnya langsung berjalan menuju ke arah kantin. Meski tak tahu lokasi kantin di mana. Tapi mereka menggunakan insting sebagai seorang siswa. Baginya, kalau banyak siswa berjalan ke arah yang sama itu tandanya kantin. Sebab, kantin merupakan sebuah surga bagi para siswa untuk menggibah. Mulai dari gibahin gebetan, guru bahkan sampai artis idola.

Shelka tanpa sadar melihat Matheo berjalan ke arah atas gedung sekolah. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Matheo. Tanpa sadar senyum Shelka mengembang.

“Hei! Lagi lihatin apaan tuh?" tanya Vita yang penasaran melihat Shelka tersenyum sendiri.

“Ah, apaan sih.”

“Lihatin apaan sih?” Vita langsung mengikuti arah pandang Shelka. Vita tersenyum  paham dengan Shelka yang tersenyum semringah barusan. “Naksir, ya?”

Shelka tersenyum malu-malu. “Iya gitu deh.”

“Pepet aja terus. Pokoknya jangan kasih kendor.”

“Penginnya sih. Tapi bisa nggak, ya?”

“Pasti bisa. Tapi harus lo pastikan dulu nih, ada pawangnya nggak tuh? Secara dia cakep banget begitu.”

“Jomlo, gue udah kepoin dia lama. Makanya gue sekolah di sini.”

“Ya ampun, lo sekolah di Nusa Bangsa gegara tuh cowok?”

Shelka mengangguk lemah. Vita hanya menggelengkan kepala tak menyangka kalau Shelka akan segila ini.

“Kalian ngobrolin apaan sih?” tanya Atika yang kebingungan.

“Cowok tampan,” sahut Vita tersenyum.

“Whoa, mana tuh?” tanya Dita langsung.

“Tuh yang lagi jalan ke arah atas gedung. Lihat, kan?” Vita langsung menunjuk ke arah Matheo beserta teman-temannya.

Dita langsung menatap dan terkejut. “Astaga, kalian memperhatikan Matheo?”

“Lho, kamu kenal? Eh lo kenal?” tanya Shelka langsung bersemangat.

“Kenal lah,” jawab Dita sedikit bangga.

“Ih, kok bisa sih?” tanya Shelka merasa geregetan sendiri.

“Iya, Abang gue temenan sama dia.”

“Hah, siapa Abang lo?”

“Noh, yang rambutnya sedikit kribo.” Dita menunjuk ke arah Abangnya yang berjalan beriringan dengan Matheo.

Shelka tersenyum begitu lebar, entah ini doanya sedang dikabulin atau memang Tuhan sangat baik hingga membuka, kan jalan agar pendekatan kepada Matheo berjalan.

“Udah, kita bahas di kantin aja jangan di jalanan kayak begini,” sambung Vita.

Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin. Ternyata benar felling mereka kalau arah yang banyak siswa kunjungi itu kantin.

Shelka, Vita, Atika juga Dita kini memesan soto ayam untuk mengisi perut mereka. Sambil menunggu pesanan datang mereka gunakan waktu untuk melanjutkan perbincangan tadi.

“Dit, gue minta bantuan lo dong,” kata Shelka langsung.

“Bantuan apa?”

“Mintain nomor Matheo di Abang lo.”

“Duh nggak berani gue,” tolak Dita. Sebab Abangnya itu tipe orang yang pelit jika dipinjam ponselnya.

“Ya, terus gimana, dong." Shelka sedikit lemas. ”Usahain, Dit, please." Shelka begitu memohon juga memelas kepada Dita.

Dita sendiri bingung. Ia garuk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Dita sih pengin membantu, tapikan Abangnya itu lho ngeselin tingkat kabupaten.

“Bantu aja sih, Dit. Kasihan noh anak orang udah mohon-mohon begitu,” ujar Vita yang tak tega melihat Shelka sangat memohon.

“Ya, udah deh nanti gue coba. Tapi, gue nggak janji, ya.”

“Iya, gapapa kok. Makasih banyak, Dit.” Shelka merasa senang. Setidaknya Dita akan berusaha untuk memintakan nomor Matheo.

***

Suasana rooftop kini sangatlah tenang bagi seorang Matheo juga teman-temannya. Apalagi suasana sekolah yang sangat ramai sekali di bawah. Mereka bisa maklum karena jam pembelajaran belum mulai. Jadi, masih banyak siswa yang berkeliaran.

“Mat, ngelamunin siapa sih?” tanya Rendi.

“Kepo lo.”

“Ck, Lita ya?” tuding Rendi selanjutnya.

“Apaan lo, Ren. Lita itu inceran gue ya sejak kelas sepuluh,” sambar Bagus.

“Elah, tapi lo nggak berani tembak dia,” ejek Rendi.

“Ya belum saatnya aja, Ren,” jawab Bagus mencoba mencari alibi. Padahal kalau boleh jujur sih, Bagus sudah nembak Lita sampai 7x. Tapi, ditolak terus menerus. Sengaja Bagus tak menceritakan itu. Malu. Harga diri bisa anjlog nanti.

“Ditolak tujuh kali dia,” ceplos Matheo.

“Njir, Mat,” kesal Bagus. “Bangsat lo,” umpat Bagus kemudian.

“Hahahaha, anjir lah. Udah ditolak bilangnya nunggu saatnya, pret,” kata Rizal meledek Bagus.

“Ah, sialan lo pada,” umpat Bagus kesal. Lebih tepatnya sih malu.

“Jelas lah Matheo tahu segalanya, secara dia teman Lita sejak SMP kalau lo lupa,” kata Rendi sedikit mengingatkan.

“Iya gue ingat pertemanan mereka bangsat,” ujar Bagus.

“Kalau gue nih mendingan milih Prita deh,” sambar Rizal yang memang suka dengan Prita.

“Ah, kampret lo. Suka Prita tapi baru dipelototin aja kabur lo,” sahut Rendi.

“Dari pada lo nggak ada gebetan,” seru Bagus dan Rizal secara bersamaan.

Rendi berdecak kesal. “Ada, belum dapat restu nih dari Kakaknya.” Matanya mengarah ke Matheo yang tengah tiduran di bangku panjang kosong.

“Njir, lo naksir sama Sasha?” tanya Bagus tak percaya.

“Emang kenapa? Dia cantik , baik.” Rendi membayangkan wajah imut dari Clarisa—adiknya Matheo.

“Whoa, nggak setuju gue. Sasha masih kecil. Masih balita. Jadi nggak cocok sama om-om modelan kayak lo,” ujar Bagus menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Anjir, kalian kalau ngomong nggak difilter. Sasha udah gede begitu lo katain balita. Parah lo, Gus.”

Matheo yang tiduran langsung bangkit dan berjalan saja tanpa mengajak ketiga temannya. Semua sikap dadakan Matheo membuat Rendi merasa sangat bersalah.

“Mat, lo mau ke mana?” tanya Rendi berteriak.

“Kelas.”

Rendi menatap ke arah Bagus juga Rizal, “Gara-gara lo nih, Matheo jadi ngambek adiknya kita omongin.”

“Dia mah emang begitu, gila,” bantah Rizal tak terima.

Kini ketiga orang itu langsung mengikuti Matheo untuk pergi ke kelas. Ternyata suasana kelas sangatlah sepi. Hanya ada Jelita seorang yang sedang bermain ponsel.

“Lho, Ta. Lo sendirian aja di kelas. Matheo ke mana?” tanya Rendi yang melihat kondisi kelas sepi.

“Lha, kenapa lo tanya gue. Kan dia sama lo.”

“Tadi bilang dia mau ke kelas, Ta.”

“Mana gue tahu.”

“Ck, sebelas duabelas nih orang. Sama-sama kayak es. Dingin.”

Baru akan berbalik badan. Sosok yang tengah dicarinya justru nongol dari arah belakang. Matheo langsung masuk kelas dan duduk di samping Lita.

“Njir, habis dari mana lo?” tanya Rizal yang berjalan dan duduk tepat depan Lita.

“Toilet.”

“Kita semua cariin lo malahan nemunya si Lita yang lagi sendirian,” kata Rendi.

“Kenapa? Ke toilet harus pamit kalian juga?”

“Hahaha, Nggak lah, gila lo,” elak Rendi.

Bagus sendiri duduk terpisah. Ia tak mau dekat dengan Lita. Ia takut kalau hatinya tak kuat.

“Eh, Gus. Kenapa lo duduknya jauh amat sampai sekilo meter gitu,” ceplos Rendi. Dalam otak Rendi saat ini sudah memiliki ide untuk meledek Bagus depan Lita.

“Deket sama lo ngeri ketularan jelek,” balas Bagus sarkas.

“Whoa, kurang ajar nih bocah,” ujar Rendi pura-pura kesal.

“Kalian ke sini mau adu mulut aja?” tanya Lita.

“Enggak kok, ya udah kita keluar deh.” Rendi langsung mengajak Rizal untuk keluar kelas.

Bagus merasa jika keberadaannya itu hanya akan menjadi nyamuk dua sahabat. Mendingan ia pergi saja. Bagus takut jika hatinya akan ambyar melihat kedeketan antara Matheo juga Lita.

Kini suasana kelas hanya ada Lita juga Matheo saja. Tak ada obrolan yang tercipta di antara keduanya hingga tanpa sadar Matheo langsung menarik tangan Lita ke arah pipinya.

“Kenapa?” tanya Lita.

“Susah move on gue, Ta.”

“Astaga! Cepet-cepet deh cari cewek.”

“Nggak segampang itu. Nyari yang nyaman itu susah.”

“Lha, terus gimana?”

“Nggak tahu.”

Jelita jadi merasa iba juga kasihan dengan sahabatnya ini. Sekalinya suka sama cewek malahan diputusin. Mana pacaran cuma seminggu doang lagi. Miris!

“Ya, udah mendingan lo sibukin diri deh, lagi pula kita udah kelas tiga mau ujian juga, kan?”

“Iya, Ta. Jangan ngomong lagi, ya. Lagi puyeng kepala gue.”

“Ah, sialan lo. Yang ngajakin ngomong dulu juga lo barusan.”

Jelita memperhatikan Matheo yang memang tiba-tiba diam sambil menutup kedua matanya. Ia langsung menepuk-nepuk punggung Matheo dengan sebelah tangannya. Jelita benar-benar kasihan dengan sahabatnya ini. Jelita itu ngeri kalau Matheo akan gila nantinya.

Tak lama, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Jelita dan Matheo langsung bergegas pulang. Tapi, Jelita merasa heran dengan Matheo yang mengikutinya terus-menerus.

“Ada apa?” tanya Jelita.

“Lo mau ke mana?”

“Pulang.”

“Gue antarin.”

“No! Gue bisa pulang sendiri.”

“Tidak menerima penolakan.” Matheo langsung menarik tangan Jelita menuju ke arah parkiran motor. Ia pun memasangkan helm di kepala Jelita.

Jelita yang diperlakukan seperti anak TK pun hanya diam saja. “Lo kenapa sih?”

“Gapapa, lagi pengin antarin lo aja.”

“Bohong.”

Matheo diam, ia memang sulit untuk berbohong di depan Jelita. “Cepetan naik, Ta.”

Di saat Jelita akan naik ke atas jok motor belakang. Tiba-tiba saja terdengar panggilan yang membuat keduanya menoleh ke arah sumber suara.

“Matheo!”

Bab terkait

  • METAMORFOSA   PENDEKATAN

    “Matheo!”Jelita merasa tak asing dengan orang yang tengah berjalan ke arahnya. Jelita pun memperhatikan seksama. Benar, kan tidak asing. Cewek itu yang tadi ditangani di ruang kesehatan sekolah.“Lo kenal sama dia, Mat?”“Enggak.”Kini Shelka sudah berdiri di depan motor Matheo. Ia menampilkan senyum yang begitu manis. “Kak Matheo,” katanya.“Ada apa?”Shelka diam membisu. Kini ia merutuki dirinya yang kelepasan memanggil Matheo. Giliran sudah di depan orangnya malahan bingung sendiri. “Gapapa, Kak. Cuma mau bilang hati-hati.”Matheo hanya menggelengkan kepalanya saja. Tak ingin membuang waktu percuma, Matheo langsung menarik gasnya. Matheo segera melajukkan motornya melewati Shelka.Jelita menengok sekilas ke arah Matheo. Dapat Jelita lihat tatapan kesedihan yang dipancarkan oleh adik kelasnya itu. “Mat,” panggi

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   PENDEKATAN II

    Matheo benar-benar sangat merutuki teman laknatnya itu. Gara-gara dia saat ini dirinya terjebak dengan Shelka di kondisi yang sangat akward.“Kak Matheo, mau minum?” tanya Shelka mencoba bersikap ramah tamah.Matheo hanya melirik sekilas tanpa menjawab pertanyaan Shelka sedikit pun. Ia langsung mengeluarkan ponselnya. Mengecek ada pesan masuk atau tidak. Padahal, tanpa dicek pun Matheo akan merasa ada getaran atau tidak pada ponselnya.Matheo berdecak. “Ren, gue balik, ya.”“Ya elah, baru juga duduk. Temenin Shelka dulu, lah. Nggak kasihan apa lo anak orang dicuekin begitu.” Rendi terus asyik bermain playstationnya tanpa mau menatap Matheo yang sudah sangat terlihat bosan. “Duduk dulu, lah.”“Gue ada urusan penting. Waktu gue nggak mau terbuang percuma seperti ini.” Matheo langsung bangkit dari tempat duduknya. Tanpa sadar tangan mungil Shelka sudah

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   KEGIGIHAN SHELKA

    SMA Nusa Bangsa.Pagi ini Matheo sudah berada di sekolahnya. Lebih tepatnya ia sudah ada di dalam kelas.“Mat, tumben lo udah sampai duluan,” sindir Rendi.Matheo berdecak kesal menatap wajah Rendi yang tengah tersenyum menatapnya. “Semua gara-gara lo. Rasanya ingin gue hajar wajah lo, Ren.”“Kenapa sih?” tanya Rendi pura-pura tak paham. “Cerita dong, Bro.”“Cewek itu telepon gue semalam.”“Maksud lo, Shelka?” tanya Rendi yang tidak percaya. Bagi Rendi pribadi, tak ada wanita yang mampu mendekati Matheo. Kalian tahu sendiri lah sikap Matheo yang ketus, dingin, dan tak bersahabat dengan kaum perempuan. Teman-teman Jelita saja suka pada lari ngibrit kalau ada Matheo. “Woy, malahan diam aja.”“Ya, siapa lagi.”“Hahaha, gila sih. Hebat lho dia. Bagi gue lo harus banyak bersyukur karena dia sangat gig

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   KEGIGIHAN SHELKA II

    Matheo tak menjawab pertanyaan dari Jelita. Matheo lebih menatap pergerakan seorang Shelka yang berjalan masuk dan menghampiri ke arahnya.“Gimana nasi gorengnya, enak?”Matheo masih diam. Ia justru menoleh menatap ke arah Jelita yang tengah tersenyum menatapnya.“Gue, ke kantin dulu, ya,” bisik Jelita pelan sambil tersenyum serta mengedipkan salah satu matanya.Matheo berdeham pelan, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.“Lo ngapain ke sini, sih?”“Mau ketemu sama Kakak.”Matheo berdecak pelan. “Tapi kedatangan lo ke sini bikin gosip baru tahu nggak sih.”Shelka yang paham sikap dingin Matheo hanya diam sambil tersenyum manis. “Gapapa, aku suka kalau digosipin sama Kak Matheo.”“Gue yang nggak suka. Dan, gue belum makan nasi gorengnya.”Terdapat raut kecewa di wajah Shelka. Namun, dengan cepat Shelka segera menampilk

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   FAMILY TIME

    “Hai, Mom,” sapa Matheo. Matheo langsung cipika cipiki kepada Kaila. Ia segera berjalan ke arah dalam rumah menuju ke kamarnya. Saat melewati ruang keluarga ternyata sudah ada Clarisa tengah cekikikan sendiri menatap layar ponselnya. Pokoknya adiknya itu sudah mirip orang nggak waras.“Kak Mamat, sini deh,” teriak Clarisa yang membuat Matheo terkejut sendiri.“Apa?”“Kak, sini.”Matheo mau nggak mau jalan menghampiri Clarisa. Clarisa menunjukkan layar ponsel ke arahnya. Dahi Matheo mengerut bingung, ia tak paham dengan tindakan Clarisa itu.“Belikan bando ini, ya,” pinta Clarisa dengan senyum manisnya yang sulit Matheo tolak.Matheo menghela napas kasar, ternyata dirinya dipanggil hanya untuk membelikan sebuah bando. Matheo udah mengira akan diberikan nomor cewek secantik Song Hye Kyo, tahunya ada udang dibalik bakwan.“Iya.”“Asik!” seru Claris

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   FAMILY TIME II

    Pagi ini kota Jakarta diguyur hujan yang membuat siapa pun akan malas untuk melakukan aktifitas. Namun, tidak berlaku di keluarga Azekiel. Kaila pagi-pagi sudah membangunkan Clarisa juga Matheo yang sulit sekali bangkit dari tempat tidur. Menjadi seorang Ibu memanglah sangat tidak mudah. Harus bisa mengatur waktu dalam segalanya."Sha, bangun, Nak.""Euumm, ngantuk Mom.""Bangun sudah siang. Cepet!" Kaila langsung menyibak selimut yang membungkus tubuh mungil Clarisa. "Cepetan Sasha, itu Daddy udah rapi lho. Jangan sampai nanti Daddy marah.""Iya, Mom, iya."Kaila mengembuskan napas lega ketika melihat Clarisa sudah membuka matanya dan mau turun dari ranjang menuju ke arah kamar mandi. Sekarang giliran menuju ke arah kamar Matheo.Tok. Tok. Tok."Mat, Mamat, buka pintunya, bangun sudah siang," teriak Kaila dari depan pintu. Tangan Kaila pun tak segan-segan terus menggedor pintu yang terkunci dari dalam.

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   KEINGAT MANTAN

    Matheo terus mengikuti Jelita menuju ke arah parkiran sekolah. Seharian ini moodnya benar-benar naik turun tidak jelas. Mana perintah dari mommy yang menyuruh Jelita ke rumah belum sempat ia sampaikan pula.“Kak Matheo.”Matheo langsung berhenti ketika melihat cewek bernama Shelka tengah memanggil dan tersenyum begitu manis ke arahnya. Mata Matheo pun tetap mengawasi pergerakan Jelita yang sudah berjalan jauh dengan Prita juga Siena.“Kak,” sapanya.“Ada apa?”“Aku nggak dijemput sama sopir, boleh nebeng nggak?” tanya Shelka sambil harap-harap cemas menunggu jawaban Matheo.“Hmm.”“Apa nih? Hmm itu tandanya boleh, ya?” tanya Shelka yang merasa girang sendiri.“Iya.”Shelka langsung tersenyum begitu lebar. “Makasih banyak, Kak.”“Hmm.”Matheo langsung berjalan b

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29
  • METAMORFOSA   KEINGAT MANTAN II

    Terkadang cinta itu bisa membuat orang menjadi gila tanpa disadarinya.-Matheo Demonte Azekiel-Suasana makan malam di keluarga Azekiel terlihat begitu tenang seperti malam-malam biasanya. Tapi, malam ini ada yang sangat terlihat berbeda dari sikap Matheo yang tidak mengeluarkan suara sekata pun meski sudah dipancing Clarisa berulang kali. Yang dilakukan oleh Matheo hanya mengangguk dan menggeleng saja.“Daddy dapat undangan pernikahan dari rekan bisnis Daddy, tapi sepertinya Daddy nggak bisa hadir, tolong nanti kamu gantikan Daddy, ya, Mat.” Melviano mulai membuka pembicaraan serius kali ini.Matheo sendiri langsung menghentikan suapan di sendoknya yang menggantung dengan sempurna.“Undangan dari siapa, Mel?” tanya Kaila—sang istri.“Dari Barra.”“Whoa, Kak Rere nikah, Dad?” tanya Clarisa sangat begitu antusias juga langsung melirik ke arah

    Terakhir Diperbarui : 2021-03-29

Bab terbaru

  • METAMORFOSA   EPILOG

    Jelita, sahabatku.Terima kasih sudah menjadi sahabat gue selama ini. Terima kasih karena lo selalu ada di saat kondisi gue terpuruk, bahkan patah hati karena diputusin cewek untuk pertama kali. Lo benar-benar tak pernah lelah hibur gue, bahkan mencarikan cewek baru buat gue supaya cepat move on. Tapi ... dunia kadang lucu banget, ya, Ta. Gue malahan jatuh cinta sama lo saat ini. Kocak banget nggak, sih.Jelita tersenyum, pikirannya langsung melayang di mana kala Matheo galau karena diputusin cewek untuk pertama kali, lebih parahnya dia hanya pacaran seminggu aja. Bego.Tapi, lagi-lagi kisah percintaan gue nggak seindah acara FTV yang sering tayang itu, nggak pernah mulus. Entah diputusin, atau gue yang kayak bajingan nyakitin cewek. Tapi, ini lebih parahnya ditolak, sih.Lo tahukan siap

  • METAMORFOSA   BYE MASA SMA

    Beberapa bulan kemudian.Setelah melewati banyak drama sekolah yang dimulai dari bolos jam pelajaran, nggak mengerjakan PR, hingga digembleng untuk materi tambahan selama semester dua. Bahkan tak lupa banyak pelajaran hidup yang bisa diambil di dalamnya. Mulai suka sama teman nggak berani tembak, suka sama teman tapi yang disukai udah pacaran sama orang lain, bahkan sudah sama-sama dekat tapi nggak jadian, ada juga yang saling suka hingga jadian seminggu, sebulan, setahun doang habis itu putus. Tak hanya soal cinta saja yang kita dapat semasa SMA. Ada banyak hal yang kita dapat. Kita mengerti artinya persahabatan, saling memahami antara teman sekelas, sebangku bahkan satu sekolah. Masa SMA digunakan sebagai ajang pencarian jati diri bahkan sering sekali hal yang dilarang justru membuat rasa penasaran yang menggebu-gebu hingga terkadang terdapat rasa penyesalan di kemudian hari. Semua itu kita dapat saat masa SMA. Masa di mana semua orang mengan

  • METAMORFOSA   MASA PUTIH ABU-ABU

    Dua minggu kemudian.Waktu liburan sekolah telah usai, kini semua anak-anak siswa SMA Nusa Bangsa kembali ke aktifitas seperti biasa. Menerima pelajaran dari Bapak/Ibu guru seperti biasanya. Namun, berbeda untuk anak-anak kelas 12 yang menerima jam tambahan hingga membuat pulang sedikit sore.Suasana kelas 12IPA1 kini sangatlah kondusif. Semua siswanya benar-benar tengah memperhatikan materi dengan begitu serius.Apalagi materi kali ini membahas ulang materi kelas sepuluh dan sebelas.Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah sore hari. Kini tiba saatnya kelas 12 mengakhiri jam tambahan pelajaran. Suara sorak-sorak siswa sangat menggema di setiap kelas ketika bel dibunyikan.“Horeee ... akhirnya balik juga, kepala udah mau botak begini,” seru Rendi yang mendapat pelototan dari Pak Kartono.Pak Kartono sendiri hanya bisa menghela napas lelah, ia memperhatikan anak didiknya yang sebentar lagi akan m

  • METAMORFOSA   PENERIMAAN RAPOR

    Dua minggu kemudian.Satu minggu sudah siswa SMA Nusa Bangsa melakukan ulangan semester, ditambah waktu seminggu untuk remidial bagi siswa yang belum memenuhi nilai KKM. Dan, tepat hari ini pula semua orangtua/wali murid menerima hasil rapor atas pembelajaran anaknya selama satu semester.“Udah lama nggak ketemu, Jeng Kaila,” sapa Marinka.“Iya Jeng, lama saya tidak ke butik.”Kini Marinka dan Kaila justru mengobrol sendiri tentang kehidupan orang dewasa. Marinka sedikit bercerita tentang butiknya yang sedikit sepi. Tak lupa juga Marinka memiliki keniatan ingin pindah ke kampung halamannya—Yogyakarta.“Terus nanti Lita gimana sekolahnya?”“Palingan nunggu Lita lulus dulu, kemudian saya ingin pindah saja.”“Memangnya suami—““Saya sudah bercerai. Dia lebih memilih wanita lain dibanding saya sama Lita,” tuturnya. Ta

  • METAMORFOSA   BERDAMAI

    Kurang lebih dua puluh menitan Shelka dan Matheo duduk di kafe setelah persoalan mereka selesai. Kini Shelka langsung berdiri untuk bersiap-siap keluar kafe.“Mau ke mana?”“Kakak aku udah sampai, dia nunggu depan.”“Suruh masuk aja dulu, minum.”“Katanya langsung pulang aja, gitu.”“Yaudah, aku bayar dulu. Kamu tunggu.”Matheo langsung menuju ke arah kasir untuk membayar lemon tea yang sudah dipesan barusan. Selesai membayar mereka berdua langsung menuju keluar kafe. Lebih tepatnya Matheo mengantar Shelka untuk bertemu kakaknya itu.Matheo merasa tak asing dengan mobil yang dituju oleh Shelka, ia merasa familiar dengan mobil itu. Baru saja otaknya berpikir mengingat mobil di depannya, sang pemilik mobil keluar yang membuat keduanya sama-sama terkejut.“Mamat.”“Mas Shaqu.”“Kalian

  • METAMORFOSA   BERAKHIR

    Jelita menoleh sambil tersenyum begitu canggung. Matanya menatap ke arah empat cowok yang tengah berjalan mendekat.“Lo ngapain di sini, Ta?” tanya Rizal.“Gue—““Nguping lo, ya,” tuding Rendi tepat sasaran.“Ih, jangan nuduh sembarangan lo, Ren,” sangkal Jelita cepat.“Ta, tumben naik ke rooftop? Ada perlu apa?” tanya Bagus begitu lembut.Matheo hanya diam memperhatikan makhluk ciptaan Tuhan yang paling indah itu dengan sudut bibir terangkat sebelah. Kalau dipikir-pikir melihat Jelita gugup seperti ini sangat begitu lucu. Apalagi bibirnya yang tipis manyun ke depan bikin pikiran nakal Matheo meronta.Jelita langsung menyingkir ke samping saat Rizal berjalan menuju ke arah pintu. Matanya membola sempurna ketika melihat Rizal dengan gampang membuka pintu. Mulutnya melongo tanpa disadarinya.“Kenapa, Ta?” tanya Bagus.

  • METAMORFOSA   ULANGAN SEMESTER

    Pagi ini sekolah Nusa Bangsa tengah mengadakan ulangan semester. Semua siswa pun tengah fokus mengerjakan soal-soal ulangan dengan khusyuk. Guru pengawas terus memperhatikan gerak-gerik siswa yang mencurigakan.“Wawan, sedang apa kamu nengok ke belakang?”“Emm, ini Bu mau pinjam tip-ex.”“Yang ketahuan mencontek akan Ibu keluarkan dari kelas, dan sudah pasti akan langsung remidial.”Semuanya langsung menunduk menatap soal ulangan. Semuanya benar-benar nggak berani menoleh ke arah kanan kiri. Nasib nilainya yang menjadi taruhan nanti. Mereka semua nggak mau remidial yang kadang bikin pusing.Waktu terus berjalan hingga suara bel terdengar begitu nyaring yang mempertandakan kalau waktu mengerjakan ulangan telah usai. Mereka disuruh istirahat selama sepuluh menit yang kemudian dilanjut untuk mengerjakan ulangan berikutnya.“Sumpah sih mikir matematika bikin kepala mau bot

  • METAMORFOSA   NASIHAT ORANGTUA

    Setelah mengantar Shelka pulang ke rumah. Kini Matheo sudah berada di ruang kerja daddynya. Matheo tengah duduk di sofa sambil ditatap kedua orangtuanya. Ada gurat kecewa di mata keduanya. Matheo benar-benar menyesal tidak mendengarkan nasihat daddynya untuk fokus sekolah semasa SMA.“Daddy kecewa sama kamu, Matheo.”“Maaf, Dad.”“Daddy nggak tahu harus bilang apa sama kamu. Daddy juga nggak bisa mencegah perasaan kamu untuk jatuh cinta dengan siapa karena Daddy juga dulu seperti itu. Nggak ada bayangan untuk mencintai Mommy kamu ini. Karena dia buka tipe wanita Daddy, tapi entah kenapa hati Daddy dibuat jatuhcinta sama dia.”Kaila yang mendengar sanjungan dari suaminya langsung tersenyum malu-malu layaknya seorang ABG sedang kasmaran.“Setelah ini apa yang ingin kamu lakukan? Besok bukannya sudah ulangan semester?”“Pertama mau menegaskan kepada Shel

  • METAMORFOSA   TAMPARAN KERAS

    Kini Matheo terdiam seribu bahasa di depan orangtuanya. Entah kenapa sekarang urusan menjadi sangat rumit. Padahal ia masih SMA bukan orang dewasa yang akan nikah.Matheo menoleh ke arah Shelka dan Jelita bergantian. Dapat Matheo lihat kalau keduanya sama-sama habis menangis. Matheo benar-benar bingung sekali saat ini.“Masih mau diam saja?”“Enggak, Dad.”“Ya sudah cepat jelaskan.”Matheo meremas kedua tangannya, ia mengepal kuat untuk mengumpulkan keberanian berbicara di depan daddynya itu. Matheo menoleh kembali menatap ke arah Shelka yang sangat terlihat begitu rapuh.“Aku pacaran sama Shelka, Dad,” ucapnya lirih.“Lalu?”“Tapi, aku nggak mencintai dia,” katanya sembari menunduk merasa bersalah.Kaila yang mendengar langsung tampak terkejut, Clarisa sendiri tersenyum senang karena merasa menang, Melviano sendiri ha

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status