VOTE DULU YA
Ditengah keramain para tamu undangan yang sudah mulai berpamitan pergi, Anelies menangkap tatapan Tuan Jalal dan menerima isyarat anggukan kepalanya dari kejauhan. Walaupun Aneleis memiliki rencananya sendiri tapi dia tetap merasa seperti sedang bersekongkol dengan tokoh jahat di belakang Pangeran Serkan.Meski kemarin Anelies sudah bisa membaca pikiran Tuan Jalal, tapi Anelies tetap tidak menyangka jika rencananya bakal berakhir seperti ini. Tuan Jalan memang memiliki rencana untuk mengadu domba Pangeran Serkan dengan ibunya tapi pada akhirnya tindakan mengejutkan Pangeran Serkan sendiri yang menyempurnakan hasilnya. Sekarang semua orang tahu jika hubungan Yang Mulya seika dan kakaknya aka jadi bermasalah dan semua orang tahu jika Yang Mulya Seika tidak sepakat dengan putranya sendiri. Kesimpulan yang perlu Aneleis ambil dari kejadian ini adalah 'harus lebih berhati-hati!' entah itu dengan Tuan Jalal atau Selir Kumaira.Anelies juga melihat ke arah Selir Kumaira yang berjalan pulang d
Begitu keluar dari kamar mandi Anelies heran melihat kamarnya kosong, Pangeran Serkan tidak ada. Anelies segera berjalan menghampiri pintu untuk memastikan."Oh Sial!" Pintunya terkunci.Anelies tidak suka terkunci dan di tinggal sendirian seperti tahanan. Tapi kali ini Anelies sedang tidak berani berteriak atau menggedor pintu karena ingat sedang berada di lingkungan istana. Untung Anelies segera ingat jika dia punya ponsel. Anelies buru-buru mencari benda tersebut dan memilih nomor pangeran Serkan."Ayo angkat!" Anelies mulai gemas setelah tiga kali panggilannya terus diabaikan.[Aku tidak mau dikurung, kita sudah sepakat untuk saling menghargai dalam kerja sama!] Anelies mengirim pesan untuk mengingatkan kesepakatan mereka.Pesan Anelies juga diabaikan sampai lama-lama Anelies capek menggerutu dan pilih pergi merangkak naik ke atas tempat tidur. Dari sana Anelies mulai iseng membuka browser di ponselnya kemudian mengetik nama panjang Pangeran Serkan. Ternyata Pangeran Serkan memilik
Anelies diantar ke toilet oleh seorang pelayan wanita."Apa perlu saya bantu, Nona Muda?""Terima kasih, aku bisa sendiri." Aneleis buru-buru masuk ke dalam toilet sementara pelayannya menunggu di luar.Anelies segera mencuci sedikit tumpahan teh di lengannya, kemudian mengambil tisu untuk mengeringkan. Sambil mengeringkan lengannya Anelies menatap ke depan kaca besar di hadapannya. Anelies memperhatikan netra kelabunya sendiri dan berpikir.Dari kegiatannya beramah-tamah dengan anggota keluarga istana Kumaira, Aneleis menangkap banyak pikiran acak dari orang-orang di dalamnya, terutama Selir Kumaira dan ketiga putra-putranya. Meski sama sekali belum ada yang mengarah pada kasus kematian Tuan Husain, tapi rencana mereka untuk melengserkan Pangeran Serkan tetap jadi yang paling lantang. Pangeran Serkan tetap harus hati-hati karena musuh-musuhnya bisa bertindak nekat. Terutama putra kedua yang lebih tempramen dan kurang berpikir dalam bertindak.Saat Anelies keluar dari toilet, pelayan y
Pangeran Serkan adalah pria yang bisa sangat keras dengan keteguhannya pada keyakinan. Dia tidak memiliki rasa takut untuk menghadapi orang-orang yang telah berani bermain jahat entah itu dengan terang-terangan atau bersembunyi-sembunyi di belakangnya.Pangeran Serkan tidak pernah gentar dan selalu yakin meskipun hanya seorang diri berada di barisan paling depan. Dia sadar telah dilahirkan dari darah seorang penguasa, maka di sanalah perannya untuk jadi pemimpin yang mampu bersikap tegas dengan kebijakan.Di balik segala sosoknya yang begitu tegas dan keras, sebenarnya Pangeran Serkan tetap berhati lembut. Semua itu dapat dilihat dari kecintaanya pada anak-anak, dukungan besarnya pada gerakan perdamaian, kepeduliannya pada kelestarian lingkungan, bahkan kecintaanya pada satwa yang juga bisa dia kasihi seperti keluarga.Berciuman didalam lift adalah tindakan yang terhitung sembrono dan tergesa-gesa. Anelies terhuyung lemas sampai Pangeran Serkan harus memapahnya keluar dari lift."Apa
Entah sejak kapan Anelies jadi tipe yang bisa tidur seperti batu sampai tidak terasa jika tubuhnya sudah dipindahkan dari bak mandi ke atas ranjang. Anelies juga sudah berpakaian dan tidur hangat di dalam selimut. Rasanya sangat nyaman sampai gadis itu malas untuk bangun.Hari sudah kembali pagi seperti biasanya dia terbangun kesiangan. Anelies menggeliat untuk meregangkan ototnya. Saat itu Anelies baru ingat jika kemarin dirinya ketiduran di bak dan buru-buru menyibak selimut untuk memeriksa pakaiannya."Hmmm ..." Anelies bergumam melihat pakaiannya yang komplit.Anelies pikir, pasti pelayan yang memberinya pakaian, sampai kemudian Anelies menoleh bantal kosong di sebelahnya dan memikirkan Pangeran Serkan. Anelies tidak tahu di mana Pangeran Serkan tidur jika dia terus menempati ranjangnya. Tiba-tiba Anelies tertarik untuk meraih bantal tersebut dan menciumnya."Harum ...!" Anelies kaget kemudian mengendus lagi.Sarung bantalnya sangat harum persis aroma sampo milik Pangeran Serkan.
Sepulang dari istana Kumaira dan mendapatkan nasehat dari Anelies, Pangeran Serkan bergegas pergi mencari ibunya."Masuklah." Yang Mulya Seika mempersilahkan putranya masuk."Apa Ibu sedang beristirahat?"Pangeran Serkan bertanya dengan lembut kepada sang ibu dan hal itu membuat Yang Mulya Seika terkejut."Kau pikir apa obat mujarab bagi seorang ibu jika bukan kunjungan dari putranya.""Maaf, bukan maksudku untuk menentang Ibu." Pangeran Serkan mendekati ibunya dan segera mencium punggung tangan Yang Mulya Seika untuk meminta maaf."Maafkan aku.""Kapan kau akan berhenti membuat ibumu cemas?""Ibu hanya perlu percaya padaku, aku bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuan siapapun.""Ingat Serkan, hanya kau yang ibu punya!"Yang Mulya Seika memang tetap seorang ibu persis yang dikatakan Anelies, dia hanya tidak mau anaknya celaka."Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapapun bersekongkol dalam kejahatan di belakang kita!""Kau sendirian dan terlalu banyak yang akan menjadi musuhmu!""Aku
"Apa sudah selesai?" Tanya Anelies setelah menandatangani dua lembar surat perjanjian berlapis. "Ya, terimakasih." Notaris Pangeran Serkan segera merapikan kembali lembar berkas di hadapan mereka untuk dimasukkan ke dalam map khusus. Yang pasti surat perjanjian ini sudah jauh menyimpang dari kesepakatan awal, tapi Pangeran Serkan memang bisa berbuat apa saja sesuka hatinya. Sebenarnya Anelies juga tidak bodoh dia hanya polos layaknya gadis muda yang memang kurang bergaul. "Apa sekarang aku bisa pergi?" Anelies minta ijin keluar. "Ya, silahkan." Anelies langsung pergi seolah tanpa beban. Begitu keluar dari pintu Anelies kembali berputar melalui lorong menuju sayap bangunan sebelah kiri istana Zubair. Anelies kembali diam-diam menemui pangeran Rasyid. "Apa aku boleh masuk?" Anelies bertanya pada perawat yang bertugas menjaga Pangeran Rasyid. "Tentu, Nona Muda." Begitu kembali mendapat kesempatan untuk melihat Pangeran Rasyid, Anelies segera menyentuh punggung tangannya pelan-pel
Setelah Tuan Husain meninggal, Pangeran Serkan yang sekarang menempati ruang kerja ayahnya. Ruang kerja tersebut juga cuma bersebelahan lorong dengan kamar utama Tuan Husain dan istri senior. Begitu diberitahu oleh pelayannya jika Pangeran Serkan sudah keluar, Yang Mulya Seika langsung masuk ke ruang kerja putranya, dia tidak tahu jika sedang ada Anelies yang bersembunyi di lemari rak buku. Anelies terus membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara karena degup jantung dan napasnya tiba-tiba juga jadi berisik. Anelies pikir dia bisa benar-benar dipancung jika sampai ketahuan oleh ibu Pangeran Serkan. Yang Mulya Seika terlihat sedang mencari sesuatu di laci bawah meja dan brankas penyimpanan file yang cuma bisa di buka dengan kode. Ternyata Yang Mulya Seika tahu kode brangkas milik Pangeran Serkan. Setelah meng acak-acak isinya dan tidak menemukan yang dia cari, Yang Mulya Seika mulai kesal dan menutup pintu brankas tersebut dengan suara kasar. Pintu brankas yang dibanting tapi jan
BAB 35 TERUS DI INTAIHari masih pagi, Pangeran Yusuf bergegas pergi ke Istana Zubair agar bisa tiba-tiba lebih dulu sebelum Pangeran Al-Waleed. Yusuf harus meyakinkan Putri Sofia jika Pangeran Al-Waleed sangat berbahaya. Pangeran Al-Waleed tidak akan segan melakukan tindakan kejahatan demi mencapai tujuannya.Matahari sudah terik dengan langit biru cerah. Kira-kira lima belas menit dari istana Zubair, di tengah kondisi jalanan yang sedang sepi, rombongan pengawal Pangeran Yusuf dihadang di tengah jalan."Kenapa kalian berhenti?" Yusuf melihat tidak ada kemacetan. "Ayo tetap jalan!"Mobil tetap berhenti, sama sekali tidak ada yang mematuhi perintah Pangeran Yusuf. Saat itu Pangeran Yusuf mulai sadar ada yang tidak beres."Ada apa dengan kalian?"Ketika Pangeran Yusuf ingin keluar membuka pintu, ternyata pintu mobilnya dikunci."Buka pintunya!"Perintah Pangeran Yusuf tetap tidak dihiraukan, seluruh pengawalnya tidak ada yang bergeming. Pangeran Yusuf sedang terjebak seorang diri dan s
BAB 34 TIDAK MAU KALAHPangeran Yusuf melepaskan cengkeramannya dengan sebuah ancaman tegas. Yusuf yakin seharusnya Pangeran Al-Waleed segera mengambil pelajaran untuk tidak lagi berbuat macam-macam.Meski cengkeraman di pergelangan lengan Pangeran Al-Waleed telah dilepaskan, tapi rasanya masih seperti remuk hingga ke tulang. Pangeran Al-Waleed semakin terkejut ketika melihat jejak memar kebiruan di kulitnya yang mulai membengkak. Padahal cuma cengkeraman dari satu tangan, mustahil bisa meninggalkan jejak memar seperti itu. Diam-diam Pangeran Al-Waleed juga masih menahan nyeri sampai dia mengantar Pangeran Hamdan di pintu keluar istana.Setelah Pangeran Hamdan serta Pangeran Yusuf pulang, Pangeran Al-Waleed buru-buru pergi ke kamarnya dengan langkah cepat terburu-buru."Suruh pelayan untuk mengantar kantong es ke kamarku!" Pangeran Al-waleed memberi perintah pada Abdul sambil terus berjalan cepat.Sesampainya di dalam kamar, Pangeran Al-Waleed langsung pergi ke toilet untuk melepas
BAB 33 GARA-GARA PANGERAN YUSUFPutri Sofia memang sudah bicara jujur pada Zahra mengenai kebohongannya selama dia kabur dari istana. Putri Sofia sudah mengaku telah bersembunyi di rumah Zahra dengan dibantu oleh adik laki-lakinya, tapi Sofia tetap tidak akan membiarkan Zahra sampai tahu jika Faaz sudah mencium bibirnya.Setiap kali Putri Sofia juga masih sering diam-diam meraba bibirnya yang seperti masih berjejak pekat tanpa sepengetahuan Zahra. Kali ini Putri Sofia sedang dalam perjalan menuju resort pantai untuk mengunjungi Yang Mulya Seika dengan di temani Zahra, tiba-tiba saja mobil mereka berhenti di tengah jalan."Kenapa berhenti?" Putri Sofia menoleh Zahra yang duduk di sebelahnya."Tunggu, biar saya periksa."Zahra lekas keluar untuk memeriksa. Kondisi jalan sudah gelap dan sepi, rasanya memang agak aneh. Putri Sofia yang ditinggal seorang diri di dalam mobil mulai was-was karena Zahra tidak kunjung kembali setelah hampir sepuluh menit. Tiba-tiba saja seorang pria berbadan
BAB 32Putri Sofia sedang tidak dapat berkelit dari tatapan Zahra yang mustahil tertipu oleh kegugupannya. Putri Sofia benar-benar tidak memiliki pilihan."Kau harus berjanji tidak akan memberitahu siapapun!"Akhirnya Putri Sofia bercerita, mulai dari dia salah masuk ke mobil Zahra, hinga mengancam Faaz untuk membantunya bersembunyi. Putri Sofia juga mengaku dirinya yang memaksa Faaz berbohong untuk mengantarnya pulang ke istana. Putri Sofia cuma tidak bercerita jika Faaz sudah mencium bibirnya karena marah."Oh, Tuhan ...!" Tiba-tiba Zahra merasa seperti kakak perempuan dengan dua adik kecil yang kompak berbohong. "Yang Mulya Serkan bisa sangat murka jika sampai tahu hal ini!""Tidak ada yang tahu asal kau tidak bercerita!" Sofia melempar tatapan tegas pada Zahra sambil menjentikkan jari. "Ingat kau sudah berjanji untuk menjaga rahasia!"Zahra kembali terhenti syok karena baru sadar dirinya bakal terlibat dalam kejahatan. Putri Sofia bisa sangat enteng berbohong tapi sungguh Zahra se
BAB 31 PUTRI SOFIA KETAKUTAN"Aku akan menebus semua hutang ciumanku di bibirmu!" Kalimat itu terus terngiang di telinga Putri Sofia sampai kemudian dia melihat Faaz melompat ke dalam lautan api. Putri Sofia menjerit histeris dan langsung sontak terbangun. Putri Sofia sangat takut, entah mimpi mengerikan itu pertanda untuk apa. Sebuah mimpi yang membuat Putri Sofia terbangun dalam linangan airmata membingungkan."Cuma mimpi, Sofia ...!" Bibir Putri Sofia bergumam sendiri sembari membasuh dadanya yang masih terus berdebar.Sekarang Putri Sofia bukan cuma takut memikirkan Faaz yang sedang berada di medan pertempuran, gadis muda itu juga mulai takut memikirkan perasannya sendiri. Bila mimpi adalah sebagian luapan perasaan yang terpendam, lantas apa benar Sofia ingin Faaz menebus setiap ciumannya?Tepat ketika Putri Sofia menjerit histeris dan sontak terbangun saat itu juga Faaz perlahan membuka kelopak mata."Dia siuman!" Kemal segera mendekati ranjang Faaza yang sudah berbaring pingsan
BAB 30 PERSAINGANDengan cukup cerdik, Putri Sofia berhasil mengulur waktu perjodohannya dengan Pangeran Al-Waleed tanpa menciptakan konflik. Putri Sofia juga sedang menantang Pangeran Al-Waleed untuk membuatnya jatuh cinta. Putri Sofia sama sekali bukan gadis yang gampang terpukau hanya dengan harta, tahta dan ketampanan.Sayangnya Putri Sofia tidak tahu bila wanita yang menantang untuk ditaklukkan justru bakal menjadi sangat menarik bagi Pangeran Al-Waleed. Pangeran Al-Waleed tidak akan melepaskan Putri Sofia, bahkan dia bakal semakin posesif untuk menjaga calon ratunya.Putri Sofia masih duduk di depan cermin untuk menyisir rambut panjangnya yang mulai pudar dari warna perak. Tiba-tiba ponsel Putri Sofia bergetar, sebuah pesan masuk dari Pangeran Yusuf.[Kau sudah bertemu Pangeran Al-Waleed?] Pangeran Yusuf benar-benar ingin tahu mengenai pertemuan tersebut.[Ya] Putri Sofia cuma mengetik jawaban singkat.[Bagaimana dengan pertemuan kalian?] Pangeran Yusuf terus penasaran dengan de
BAB 29 PERJUANGAN LAKI-LAKIMisi pasukan bantuan bukan untuk terlibat dalam pertempuran, mereka netral atas dua belah pihak yang bertikai. Fokus pasukan bantuan adalah melindungi warga sipil yang ikut terjebak dalam konflik bersenjata, mengevakuasi mereka dari zona pendudukan musuh, serta pembebasan sandera dan memberi bantuan apapun yang berkaitan dengan kebutuhan hidup warga sipil.Tapi nampaknya pihak musuh tetap kurang suka dengan kehadiran pasukan bantuan dari beberapa negara sahabat. Mereka memblokir akses masuk seluruh tim bantuan untuk masuk wilayah yang telah mereka kuasai. Masyarakat sipil terisolasi, kelaparan dan mendapat serangan fisik yang sebenarnya sangat dikecam oleh peraturan perang internasional.Faaz dan pasukan yang telah tiba selama tiga hari di larang melakukan evakuasi terhadap warga sipil di zona pertempuran. Mereka dijaga ketat di area perbatasan. Beberapa tentara bantuan mulai geram dengan sikap pihak yang tidak mematuhi hukum humaniter internasional."Kita
BAB 28 PANGERAN AL-WALEEDAbdul bergegas menghadap Pangeran Al-Waleed untuk segera menyampaikan berita dari Yang Mulya Serkan. Ketika Abdul tiba, Pangeran Al-Waleed terlihat sedang membahas strategi kerja sama ekonomi dengan salah satu negara barat. Rapat pembicaraan penting itu langsung dihentikan oleh Pangeran Al-Waleed begitu dia melihat Abdul datang dengan sebuah isyarat mengenai Putri Sofia."Pembicaraan ini kita lanjutkan Minggu depan."Pangeran Al-Waleed berdiri dari tempat duduknya untuk membubarkan semua orang yang duduk di sekeliling meja besar. Setelah semua orang berangsur pergi Pangeran Al-Waleed segera menatap Abdul."Apa yang ingin kau sampaikan?""Yang Mulya Serkan baru memberi kabar bila Putrinya telah pulih dari sakit. Yang Mulya Serkan ingin kembali mengatur pertemuan Putri Sofia dengan Anda, Pangeran."Pangeran Al-Waleed cukup terkejut. Artinya selama ini Putri Sofia memang benar-benar sakit, gadis itu tidak kabur dari perjodohannya."Segera atur pertemuan kami sec
BAB 27 PANGERAN YUSUFPangeran Albani sedang berkuda di halaman istal Istana Ar-Rasyid bersama Pangeran Yusuf. Diam-diam Pangeran Yusuf terus memperhatikan ayahnya dan akan selalu teringat kilasan pertengkaran orang tuanya. Pertengkaran yang penuh kebencian seolah sama sekali tidak ada cinta di antara mereka. Merasa terlahir dari kebencian membuat Pangeran Yusuf merasa seperti anak yang tidak seharusnya ada."Yusuf, ayo kejar adikmu!" Pangeran Albany memberi perintah agar Pangeran Yusuf mengejar Pangeran Rasyid yang keluar dari jalur berkuda.Pangeran Yusuf segera menyentak kekang kudanya untuk mengejar. Pangeran Rasyid yang masih anak-anak masih sangat ceroboh ketika menunggangi kuda besar, anak laki-laki itu bisa jatuh terlempar dari punggung kuda."Rasyid, berhenti!" Yusuf mengejar sambil berteriak. "Kau akan terlempar!"Pangeran Yusuf terus mengejar sampai cukup dekat tapi tiba-tiba Pangeran Yusuf melambat dan Rasyid benar-benar terjatuh."Ao!"Pangeran Rasyid terlempar cukup kera