Danny memasuki ruangan dan duduk di kursi paling ujung. Bukan hanya untuk mendengar presentasi dari Betty, tapi seolah juga ingin mengamati seluruh tim baru Bethany.Danny menyilangkan tangannya di dada, melihat satu per satu seluruh wajah yang ada di ruangan tersebut. Dia menatap mereka dengan tatapan yang tidak dapat didefinisikan. Ia hanya terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri.Alex duduk di sebelahnya, ia berbisik sesuatu yang tidak dapat didengar oleh seisi ruangan tersebut. Danny terlihat tersenyum dengan kata-kata Alex.“Jadi, kita akan memulai ini segera. Kirim desain ini ke tim produksi dan kita akan segera memproduksinya secara masal.” Danny menutup kalimatnya dan langsung berdiri, seolah puas dengan apa yang ia lihat dan dengar.Sebelum keluar ruangan, Danny memanggil Bethany, dengan nama samarannya. “Bella, ikut ke ruanganku sekarang.” Bethany mengangkat sedikit alisnya, merasa heran dengan permintaan yang sangat tiba-tiba tersebut. Ia memandang Alex untuk menanyaka
Alex mengajak Bethany untuk kembali ke penthousenya. Bethany merasa bahwa Alex tidak terlalu nyaman berada di apartemen yang ia tinggali. "Jangan berpikir macam-macam. Aku bukan melihat tempatnya. Aku hanya merasa kau selalu sedih ketika berada di sana." Alex mencoba menebak isi pikiran Bethany. Bethany tersenyum, Alex benar-benar memahaminya. "Ya, kau benar. Aku selalu teringat Bella ketika berada di sana. Terang saja, itu apartemen milik Bella." "Beth, sampai kapan kau berencana akan tinggal di sana?" tanya Alex sambil menyetir mobilnya. "Mungkin, sampai seseorang membawaku pergi untuk tinggal bersamanya." Alex tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. Ia kini menatap Bethany dengan serius. "Kau mengatakan itu dengan serius?" tanya Alex yang mengerti maksud dari arah pembicaraan Bethany. Bethany mengangguk untuk mengkonfirmasi. "Kau mau tinggal bersamaku? Di apartemenku?" Alex lagi-lagi masih tidak mempercayainya. Bethany tersenyum, mengerti bahwa hal itu sulit dimengert
Bethany dan kedua rekannya yang lain sudah di sambut oleh Wendy. Wendy menyuruh mereka segera masuk ke area pabrik. "Ini benar-benar sudah bisa beroperasi?" tanya Bethany dengan takjub. "Ya, sebagian besar sudah bisa digunakan. Bagian lainnya sudah 80% dalam proses pembangunan," ujar Wendy dengan senyuman. "Ayahmu benar-benar mencurahkan uangnya untuk ini semua?" Vallery bertanya dengan rasa yang sama takjubnya dengan Bethany. Wendy terkekeh mendengar pertanyaan Vallery. "Walaupun tidak semua uangnya habis untuk ini. Ya, kurasa dia memang sangat memprioritaskan pabrik ini. Terutama karena pabrik ini menjadi salah satu mata pencaharian sebagian besar penduduk desa." "Bagaimana bantuan yang dikirim perusahaan selama para pekerja tidak bisa mencari nafkah?" tanya David penasaran. "Sesuai yang kalian janjikan sebelumnya. Bantuan itu terus menerus datang. Beberapa bahkan berasal dari seorang relawan yang tidak diketahui namanya, " jelas Wendy. "Relawan?" Bethany menyip
Bethany merasakan pelukan Alex yang membuat tubuhnya seketika menjadi rileks. Ia hanya terdiam beberapa saat, hingga akhirnya membalas pelukan Alex dengan erat. "Kita berbaikan, ya?" tanya Alex sekali lagi. Bethany tidak menjawab apapun. Ia kemudian hanya mengangguk dengan pelan mengkonfirmasi hal tersebut. Alex tersenyum dan makin mempererat pelukannya. "Tunggu sebentar lagi. Biarkan aku seperti ini." "Bagaimana kau bisa datang ke sini?" tanya Bethany pada akhirnya. "Tentu saja untuk menemui pacarku." Alex membuat keyakinan dalam suaranya. "Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu di sana?" tanya Bethany begitu mengingat pembagian tugas darinya. Alex melonggarkan pelukannya sedikit, ia menatap Bethany seolah-olah sedang merajuk. "Oh, jadi sekarang kau sedang berperan sebagai ketua tim?" Bethany terkekeh mendengar pertanyaan itu. Ia kembali mengikuti permainannya. "Oh tentu saja. Aku ketua tim dan kau hanya anggota. Seharusnya kau menyelesaikan pekerjaanmu di sana
Masker sudah tidak menutup wajah wanita itu. Bethany siap untuk melihat siapa yang ada di baliknya. "Bella?" Bethany berusaha mengintip wajah yang hampir tertutup rambut itu. "Kau bukan Bella." Seketika Bethany menjadi lemas, harapannya bertemu kembarannya telah sirna. Alex, Vallery dan David berlari menghampirinya. Mengkhawatirkan keadaannya. Alex memeluk Bethany, seolah sudah menduga hal ini. "Tenanglah. Kita akan menemukannya nanti," ucap Alex sambil mengelus rambut Bethany. Wanita yang dikira adalah kembaran Bethany tadi berusaha menjauhi mereka. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan setelah salah dikira orang lain. "Tunggu," pinta Alex ketika wanita itu hendak pergi. Wanita itu sontak berhenti dan menoleh ke arahnya. "Ada apa?" "Siapa yang mengirimmu ke sini?" tanya Alex merasa curiga. "Tidak ada. Aku hanya relawan," jawab wanita itu masih dengan memalingkan wajahnya. "Kau pikir aku akan percaya?" tanya Alex lagi mempertegas kalimatnya. "Aku
Keesokan harinya, Alex sudah memindahkan beberapa posisi meja di ruangan yang akan menjadi meja kerja barunya dengan tim barunya. Lebih tepatnya, dia melakukannya dengan terpaksa untuk partner kerja barunya, Cathy. "Good morning Alex!" Dengan suara yang begitu riang, Cathy memasuki ruangan dan langsung menyorkan wajahnya untuk memberikan Alex ciuman selamat pagi. "Kau tidak bisa melakukan itu, Cathy," jawab Alex ketika ia dengan sigap memundurkan badannya dari wanita itu. "Pekerjaan baru. Ruangan baru. Tim baru. Ya, semua terlihat sangat baru." Alex melihat Robert memasuki ruangan sambil bergumam pada dirinya sendiri. Diikuti David yang masuk ke dalam ruangan dengan malas-malasan. Tak lama kemudian, Bethany datang. Alex menghampirinya dan memberikan sedikit kecupan pada pipinya. Bethany sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba tersebut. "Kau sengaja?" tanya Bethany sambil berbisik. "Biarkan dia melihat ini." Alex menunjuk Cathy dengan sudut matanya. "Kalau be
Semakin hari, Cathy semakin muak dengan tingkah laku Bethany dan teman-temannya. Mereka hanya datang ke kantor untuk melakukan pekerjaan kecil sesekali. Bersantai-santai di meja masing-masing. Dan yang paling parah, mereka hanya datang untuk mengisi tanda kehadiran dan pergi lagi untuk bersenang-senang. Sementara Cathy, dia sangat sibuk dengan pekerjaan project Beauty Reborn yang sangat menumpuk. Hanya berdua dengan Alex dalam satu tim, dia pikir akan menjadi surga baginya. Namun, Alex bahkan tidak berbicara dengannya sama sekali. Pekerjaan pun dia lakukan semuanya sendiri. Alex juga lebih sering keluar menemui beberapa influencer yang tergabung dalam project ini. *** Satu bulan menjelang hari peluncuran produk dari Beauty Reborn .... Bethany mengunjungi penthouse Alex. Ia sudah mengabari Alex bahwa dirinya akan datang. Namun, Alex tidak menyambutnya dan hanya menyuruhnya masuk sendiri ke dalam ruangan. Bethany melihat Alex dikelilingi oleh banyak sekali dokumen yan
Setelah Danny memberitahu bahwa dia menyerah untuk membiarkan Alex dan Cathy menangani project ini, Bethany tampak senang dan segera memberitahu rekannya yang lain. "Hei! Buang keripik kentang kalian! Hari ini kita akan mulai bekerja lagi," teriak Bethany ketika masuk ke dalam ruang kerja yang sudah penuh dengan sampah makanan ringan di atas meja. "Akhirnya kalian mau bekerja? Sepertinya Danny cukup memarahimu di ruangannya tadi, ya?" kata Cathy dengan sindiran. "Kau salah paham Cathy. Sebenarnya, di sini kaulah yang posisinya sangat terancam," ucap Alex ketika menyusul memasuki ruangan. Cathy mengerutkan keningnya, mencari tahu maksud dari perkataan Alex barusan. "Maksudmu?" Tiba-tiba, Danny memasuki ruangan Dan membuat semua mata terpaku padanya. "Cathy, kau dipindahkan ke divisi lain. Dan sisanya, cepat kerjakan project itu hingga tuntas." Setelah mengucapkan beberapa kata perintah tersebut, Danny kembali keluar ruangan. Vallery dan Betty saling memandang. Memp
"Apa alasanmu melakukan semua ini? Betty," tanya David, salah satu orang yang memergoki Betty setelah hampir menghancurkan dokumen-dokumen penting tim mereka. Betty hanya terdiam mematung. Dirinya seperti sedang ditelanjangi. Saat ini, ia hanya ingin kabur dari sana secepatnya. Ia hampir saja melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tiba-tiba.... "Kau pikir aku akan membiarkan kau pergi dari sini telah tahu kau adalah pelaku yang merundungku selama ini?!" ucap Bella yang juga telah tiba beberapa detik lalu dengan baju yang sama dan tidak basah sedikit pun. Betty memperhatikan hal itu dan menyadari sesuatu. Apa rencananya yang itu juga gagal? "Apa? Kau bingung kenapa aku tidak basah sama sekali setelah kau siram di toilet tadi?" tanya Bella berusaha menebak apa yang dipikirkan oleh wanita yang merundungnya itu. "Aku sudah mengetahui semua rencanamu. Tingkahmu sudah aneh sejak Bella memberitahu kita bahwa dia bukan Bethany pagi tadi. Aku membiarkan kau berdua dengan Bella tin
Wanita itu terkejut ketika seseorang memanggilnya dengan sebutan pengkhianat. Ia menengok ke belakang dan telah berdiri seseorang yang baru saja menyaksikan perbuatannya. "Sudah kuduga. Kaulah orangnya. Aku sudah curiga sejak awal saat kau menyebutkan bahwa aku pernah membobol sistem utama Magesty. Aku memang pernah hampir dipecat, tapi tidak ada yang mengetahui alasannya selain Alex dan pimpinan di divisiku," ucap David dengan geram. "Jadi, dia tahu darimana?" tanya seorang wanita di sebelahnya yang baru saja tiba. "Dia lah yang selama ini kita cari. Seseorang yang menampilkan video Bethany yang sedang berganti pakaian saat peluncuran product Beauty Reborn. Seorang hacker yang lebih handal dariku." David menghentikan sedikit pengungkapannya dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Apa alasanmu melakukan semua ini? Betty," lanjut David. Betty hanya terdiam mematung di tempat. Dia pikir rencananya kali ini sudah sempurna. Dia bahkan sudah menyiram Bella di toilet, mengulur wa
Ketika Alex mengatakan bahwa di luar terjadi badai salju, Bethany seketika panik. Ia sangat mengkhawatirkan Bella dan berharap sinyal segera muncul di layar ponselnya. Ia menggoyang-goyangkan ponselnya. Berharap tiba-tiba sinyal akan muncul. Meskipun ia tahu bahwa hal itu akan sia-sia. *** Di kantor Magesty 10 jam kemudian. Bella yang sudah mulai beradaptasi dengan ruangan barunya, mencoba mengobrol dengan teman-teman satu timnya. Setelah pengakuan atas dirinya yang merupakan Bella yang asli, beberapa di antara mereka memilih untuk tidak bicara padanya. Terutama Vallery, gadis periang itu tiba-tiba menjauhinya. "Tenanglah. Dia hanya belum terbiasa dengan auramu yang sangat berbeda dari kembaranmu." Tiba-tiba sebuah suara yang persis di sebelahnya muncul. Betty, anggota Revenge Squad yang paling dewasa mendekatinya dan mencoba menenangkannya. "Memangnya, aku dan Bethany sangat terlihat jelas perbedaannya?" tanya Bella dengan sedikit sedih. "Bethany, dia memiliki
Alex hanya mematung di tempat. Ia masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Ia baru saja membongkar semua rahasianya di depan Bethany dan dia malah mendapatkan pelukan? "Kenapa kau diam saja? Cepat pakai bajumu dan kemasi barang-barangmu. Oh aku lupa, kau tidak membawa apa pun ke sini. Bahkan tidak membawa uang juga," ucap Bethany sambil memasukan beberapa barang penting ke dalam tas kecilnya. "Apa kau tidak marah?" tanya Alex yang masih kebingungan. "Soal apa?" "Soal orang tuaku yang ingin mencelakaimu dan kembaranmu." "Aku juga mengenal orang tua yang sering bersikap kejam kepada anaknya. Jadi, aku tidak terlalu kaget kalau ada orang tua lain yang kejam seperti itu. Dan, tidak ada alasan bagiku untuk marah padamu. Kau telah menyelamatkan nyawaku dan semua itu bukan ulahmu." Bethany selesai berkemas, dia melangkahkan kakinya ke sebuah lemari tua di pojok ruangan. "Seharusnya masih ada di sini." Bethany bergumam kepada dirinya sendiri. "Apa yang kau ca
"Apa kau bilang? Dia pengkhianatnya?!" tanya Bethany setengah berteriak ketika Alex menyebutkan salah satu pengkhianat dalam timnya. "Bisa dikatakan, dia tidak berkhianat, tapi memang memiliki motif sejak awal bergabung dengan Revenge Squad." "Kenapa kau baru memberitahuku sekarang, Alex?" Bethany mulai kecewa dan sedikit kesal. "Maaf, aku juga baru mengetahuinya belakangan ini. Semenjak aku diangkat menjadi CEO, aku baru bisa memiliki akses penuh untuk membuka cyber inti dari Magesty. Termasuk meminta bantuan para Intel untuk menemukan peretas yang telah menayangkan videomu saat di peluncuran Beauty Reborn beberapa waktu lalu." "Jadi, itu benar-benar video diriku?" meskipun sudah mendengarnya dari David beberapa waktu lalu, ia tetap merasa kaget setelah Alex mengkonfirmasi hal tersebut. "Sayangnya, iya. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah meminta seluruh Intel perusahaan untuk menghapus video tersebut," jawab Alex berusaha menenangkan. Bethany mencoba merangkai s
Bethany terbangun dari tidurnya. Cahaya matahari sudah memasuki ruangan dari sela-sela jendela kamarnya. Cahaya itu sedikit menyorot sosok yang kini masih terlelap berbaring di sebelahnya. Udara dingin dari luar sudah mulai terasa hingga menusuk kulitnya yang sedang minim pakaian. Ia menarik selimutnya lagi perlahan agar tidak membangunkan Alex dari tidurnya. Seketika ia lupa beberapa waktu yang ia lewatkan tanpa Alex di sisinya. "Rasanya seperti baru kemarin," ucap Bethany yang terdengar lebih seperti bisikan. "Kau akan melubangi wajahku jika terus menatapku seperti itu." Bethany tiba-tiba terkejut dan sedikit malu karena dirinya ketahuan sedang memperhatikan wajah Alex sejak tadi. "Kau sudah bangun? Kenapa masih berpura-pura tertidur?" tanya Bethany menahan rasa malunya. "Aku hanya memberimu waktu sedikit lama menikmati ketampananku," jawab Alex dengan sangat percaya diri. Bethany menyeringai. Namun, ia tidak menyangkalnya. Ia hanya berbalik badan membelakang
"Kau tidak akan kembali, kan?" tanya Alex dengan tatapan serius. "Maksudmu ke Magesty?" "Ya, Bella sudah kau temukan. Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk kembali ke Magesty, kan?" tanya Alex sekali lagi. Kali ini, pertanyaannya lebih terdengar seperti permohonan. Bethany terdiam sesaat. Ia memang tidak memiliki alasan lagi untuk menemukan Bella. Tapi, rasanya seperti ada yang janggal. Alex masih tidak mengerti apa yang membuat Bethany ragu. Ia kembali memastikan hal yang ia lihat. "Apa yang kau pikirkan?" "Entahlah. Seperti semua yang kukerjakan dengan timku terasa sia-sia." "Apa maksudmu? Bukankah tujuanmu tercapai? Bella sudah ditemukan dan dia baik-baik saja sekarang." "Kemunculannya memang sangat tak terduga. Aku awalnya menduga dia sudah mati. Tapi, dia tiba-tiba muncul dengan utuh tanpa luka sedikit pun. Aku malah merasa aneh." "Aneh?" Alex mengambil tangan Bethany dan menggenggamnya. "Bethany, kau tidak perlu khawatir lagi. Bella sudah baik-baik saja da
Bethany akhirnya menuruti saran Bella untuk mundur dari misi balas dendam yang ia lakukan dengan timnya. Tanpa disadari, dia terlalu menikmati peran tersebut. Peran sebagai kembarannya. Dia kini sudah berada di kampung halamannya. Sebuah desa kecil tempat masa lalunya dengan keluarga kecilnya yang bahagia. Setidaknya sebelum kejadian itu terjadi. Sejak kecil, Bethany selalu merasa bahwa orang tuanya hanya mencintai Bella dan menganggap dirinya hanya anak malas yang tidak memiliki tekad untuk melakukan apapun. Berbeda dengan Bella dengan segudang prestasi sejak kecil, Bethany lebih suka mengerjakan apa yang ia suka dan menghindari apa yang ia benci. Pernah suatu ketika saat Bethany mendapat medali perak atas turnamen karate junior di bangku sekolah dasar, ia memamerkannya kepada orang tuanya. Namun, orang tuanya lebih membanggakan Bella yang saat itu menjadi juara umum olimpiade matematika. Di lain hari, untuk pertama kalinya Bethany berusaha dengan sungguh-sungguh dalam
Setelah Alex menerima alamat rumah lama Bethany, ia segera meninggalkan apartemen Bella tersebut dan bergegas pergi ke luar. Ia lupa bahwa ia tidak membawa mobil ke sana. Daripada memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan harus kembali diikuti oleh para pengawalnya, ia akhirnya memutuskan untuk menaiki taxi dan bersiap untuk menempuh perjalanan panjang dari New York ke New Jersey. Sepanjang perjalanan dia hanya memikirkan apa yang akan ia katakan ketika bertemu dengan Bethany nanti. Meminta maaf padanya? Menanyakan kabarnya? "Arrggh. Sial!" Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dan tanpa sengaja mengeluarkan racauannya. Supir taxi yang sejak tadi diam-diam menyaksikan kegelisahannya akhirnya mengeluarkan suara. "Apa Anda tidak membawa uang?" tanya supir itu merasa curiga. Alex tertegun sejenak. Ia merogoh saku celananya dan lupa bahwa ia meninggalkan dompetnya di mobil yang dikendarai oleh pengawalnya. Ia panik. Namun, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apapun. "Saya