Hartono benar-benar tidak berkutik. Yang dilakukan hanyalah duduk, diam dan menatap tanpa kedip. Jika tidak sedang berada di dalam penjara, ia sudah pasti menghajar Rasti habis-habisan. Kini, dirinya hanya bisa menahan marah seorang diri . Ingin melampiaskan, tapi yang bersamanya adalah orang-orang yang ia sayang.“Apa itu artinya, kita akan hancur? Semua yang kita miliki adalah harta peninggalan keluarga Rasti. Jika kembali lagi pada dia, itu artinya kita tidak punya apa-apa. Danang, lakukan sesuatu. Jangan biarkan keluarga kita hancur. Mau ditaruh dimana muka kita, Danang? Dan secepatnya carilah bantuan agar kami bisa keluar.” Wening berkata sambil menangis sesenggukan.“Harta kita milik kita. Kita yang sudah mengelola selama ini. Rasti tidak melakukan apapun setelah kematian orang tuanya,” sahut Hartono tegas. “Danang, cari pengacara yang terbaik di kota ini, suruh dia datang ke sini untuk menangani kasus kita.”“Pak, apa yang akan kita perjuangkan? Tidakkah bapak lihat? Semua asse
Danang tidak bisa menjawab.“Ayo, ceraikan! Kamu ucapkan talak untuk aku.” Firna terus menantang.Danang menjadi bimbang. Jauh di lubuk hatinya, ia sudah mulai jatuh cinta pada Firna. Dan ia sadar, jika pernikahannya dengan Rasti berada di ujung tanduk.“Kenapa diam? Kamu ragu melakukannya?” tanya Firna sambil berjalan mendekati Danang. “Kenapa kamu ragu, Mas?” Firna bertanya lagi. Kali ini, ia berbicara sambil melepas jaketnya. Hingga menyisakan kaus tanpa lengan yang dikenakan.Danang terpana melihat tubuh Firna yang terlihat jelas lekukannya.“Kenapa tidak mau? Kamu takut tidak akan merasakan tubuh molekku ini?” Kini, Firna hanya menyisakan pakaian dalam bagian atas. “Kenapa kamu selalu menyakitiku, Mas?” ucapnya lirih.“Firna, pakailah baju kamu. Sudah malam, dingin,” ucap Danang sambil menelan salivanya.“Kenapa kamu tidak mau melepaskan aku, tapi kamu juga menggantungku, Mas?” Firna terus mendesak. Kini, ia telah berurai air mata. “Pengorbanan ku terhadap kamu sudah banyak. Pera
“Terima kasih sudah datang di rumah sederhana kami,” kata Cokro memulai pembicaraan resmi. “Perkenalkan, ini menantu saya yang baru. Suami Firna,” jelasnya.Meski dalam suasana bahagia, tapi tidak bisa dipungkiri jika ada raut kegelisahan yang terpancar di wajah seluruh keluarga Firna.“Oh, jadi ini rumah yang akan dihadiahkan di pernikahan Farhan dengan Safira? Ini kalau direnovasi sedikit saja, terlihat megah,” jawab salah satu anggota keluarga calon besan.Cokro dan yang lainnya saling berpandangan.“Safira beruntung. Baru nikah nantinya sudah dapat warisan rumah,” celetuk salah seorang.Cokro hanya tersenyum sedikit menanggapi omongan tersebut.Terdengar deru mobil berhenti di depan rumah. Ternyata, rombongan pengacau yang dikirim Rasti sudah datang. Bak sebuah grup bedah rumah, pasukan yang sudah ditambah personil lebih banyak dari sebelumnya, kompak berjalan sambil mengucapkan yel-yel penyemangat. Mereka beriringan membawa perlengkapan yang akan digunakan untuk renovasi rumah la
“Sebagian orang, keluarkan barang-barang mereka! Sudah saatnya para benalu ini dikeluarkan dari rumahku,” teriak Rasti memberi perintah.“Rasti tolong,” Rianti segera berlari dan memeluk kaki Rasti. “Beri kami kesempatan untuk bisa tinggal sementara, kami janji akan mencari rumah untuk pindah” rayunya.Rasti bersikap acuh. Menarik kakinya hingga terlepas.Semua barang telah dikeluarkan. Farhan masih emosi, tapi untuk mengungkapkannya, ia tidak berani. Karena tukang parkir yang menyamar menjadi bodyguard selalu mengikuti Rasti sambil berlagak galak.Yasmin yang terus berada di belakang Firna, menangis keras. Ia merasa takut dengan apa yang terjadi di hadapannya. Balasan yang tepat, karena mental anak-anaknya juga sempat dirusak Firna. Pikir Rasti.Tidak ada pilihan lagi bagi keluarga Cokro selain mengambil semua barang mereka yang berserakan di halaman. Cokro menelpon seorang kenalan yang memiliki truk untuk datang mengangkutnya.“Ayo, Mas,” ajak Firna berusaha membangunkan Danang yang
“Carikan bapak pengacara yang handal!” Hartono menekan Danang saat waktu kunjungan.“Aku sudah tidak punya uang, Pak. Mencari pengacara juga butuh uang,” jawab Danang.“Apa kamu sudah tidak punya tabungan sama sekali?” tanya Wening.“Buku tabungan asliku, dulu aku serahkan sama Rasti. Sedangkan uang showroom, sudah aku belikan mobil semua. Sisanya, bukankah ada sama bapak?”“Kenapa kamu gegabah seperti itu?” Hartono menyalahkan.Danang hanya diam. Ia tidak menyangka jika suatu ketika, Rasti akan berubah menjadi monster penghancur keluarganya.“Di kamar bapak ada ATM. Di laci lemari, ada nomer PIN bapak . Coba kamu gunakan. Sekalian, kamu cek toko kita dan urus sementara waktu,” perintah Hartono.Sepulang dari kantor polisi, Danang menuju sebuah toko besar yang menjual onderdil mobil dan motor milik Hartono. Usaha yang dibangun dari hasil pengelolaan aset milik ayah Rasti. Di sana ada seorang karyawan yang sudah menjadi orang kepercayaan, sehingga Hartono tidak selalu datang ke sana.D
Danang menunduk malu atas jawaban yang diberikan sang istri. “Rasti, tidak bisakah kamu mengampuni mereka sedikit saja? Kenapa kamu menghancurkan semua dari segala arah seperti ini?” lirihnya.“Apa kalian pernah minta ampun sama aku, Mas? Kamu sendiri, apa kamu pernah minta maaf atas hal ini? Bahkan, kamu ikut menyembunyikannya. Kalian bahkan semakin melukai aku dengan menyuruh kamu menikahi Firna. Lalu, setelah aku tahu semuanya, baru saja tahu, aku harus langsung memberi ampun, begitukah keinginan kamu? Orang bodoh mana yang mau seperti itu, Mas?”“Rasti, bukan begitu maksud aku.”“Lalu apa? Sudah jelas bukan kamu meminta aku mengampuni orang tuamu. Ah, tidak, mereka belum minta ampun. Kamu hanya ingin aku tetap menjadi Rasti yang bodoh, begitu?” Suara Rasti mulai meninggi.“Apa mau kamu sekarang, Ras?” tanya Danang.“Aku mau orang-orang yang terlibat dalam semua ini, mereka mendapatkan hukuman yang setimpal,” jawab Rasti lantang.“Aku tahu, aku telah melukaimu dengan pernikahan ke
“Kamu diusir atau?” tanya Firna saat melihat Danang pulang naik taksi.Danang tidak menjawab. Ia langsung membawa barang-barang menuju kamarnya. Kamar pribadi dengan Rasti dulu kala.“Mas,” panggil Firna yang mengikuti di belakang.“Firna, aku butuh waktu untuk sendiri. Tolong tinggalkan aku,” pinta Danang lirih. Wajahnya terlihat kusut.“Oh, iya,” jawab Firna singkat.“Tutup pintunya!” perintah Danang sebelum Firna berlalu pergi.Setelah helaan napas panjang, Firna menutup pintu.Di dalam kamar, Danang menangis seorang diri. Ia bingung, bagaimana cara mengatakan semua yang terjadi pada Hartono. Dan bagaimana pula ia harus mencari pengacara dalam keadaan tidak memiliki uang. Uang yang tersisa, telah habis untuk membayar losmen selama berhari-hari. Tinggal beberapa lembar saja di dalam dompet.***Hari ini, Rasti telah memutuskan untuk pindah. Meski dengan berbagai drama yang Raline tunjukkan, tapi akhirnya, bungsu dari dua bersaudara itu mau juga.“Tapi kalau aku mau ke sini, Mama ha
“Mulai sekarang, Raline tidak boleh tanya Papa lagi, ya? Papa sudah sama Yasmin dan tidak akan pernah lagi tinggal serumah dengan kita.” Dengan terpaksa, Rasti harus mengatakannya. Ia tidak mau, jika Raline terus menerus akan mengharapkan sesuatu hal yang tidak akan pernah terjadi lagi dalam hidup mereka.“Papa sudah tidak jadi papa kita lagi?” tanya Raline lirih.“Papa masih jadi papa kalian. Tapi, sekarang tinggal di rumah berbeda,” jawab Rasti.“Itu sama juga Mama, kalau kami sudah tidak punya papa.”Hati Rasti berdenyut nyeri saat Raline terlihat tidak terima. Ia melirik Nadine yang sama-sama memancarkan aura kesedihan. Namun, sulungnya itu bisa menutupi.“Karena Papa sudah memilih untuk tinggal bersama Yasmin. Maafkan Mama ya, Sayang? Papa sudah pergi dari hidup kita,” uap Rasti sedih.‘Andai kamu tidak berpaling pada Firna, aku masih bisa bertahan, Mas. Meski kamu bohongi. Tapi, hatimu sudah terbagi dengan yang lain. Maafkan aku mengatakan ini pada anak-anak,’ kata Rasti dalam h
Melihat hal itu, tentu saja Rasti merasa lega. Karena ia tidak akan menghabiskan waktu berdua saja dengan Huda di kamar rumah sakit.“Makan dulu, ya? Nanti minum obat,” ucap Huda seolah memberi kesan bahwa ia adalah orang yang menjaga Rasti.“Jangan sentuh makanan itu! Biar aku yang nyuapi mama,” kata Nadine sewot.“Baiklah,” ucap Huda mengalah.Beberapa jam, Danang terpaksa duduk memperhatikan segala gerak-gerik Huda yang begitu perhatian terhadap mantan istrinya. Meski berkali-kali Nadine menunjukkan ketidaksukaannya pada Huda, tapi lelaki itu seolah tidak peduli.Rasti hanya terbaring dalam posisi lemah dengan perasaan yang cemas. Takut, bila terjadi sebuah pertengkaran di saat ia tengah sakit.Danang hanya duduk diam di kursi, merasa dirinya hanya datang untuk menemani Nadine, dan tidak ada hak lagi atas Rasti.“Dari mana kamu tahu aku sakit?” tanya Rasti setelah didudukkan oleh Nadine pandangan matanya tertuju pada Huda. Saat itu, Nadine tengah keluar untuk membeli minuman. Hanya
Mentari pagi terasa hangat menyentuh kulit tangan Rasti yang tengah terampil memetik cabai di kebun. Kesehatan sang nenek sudah memburuk akibat usia yang sudah senja. Ia merasa takut kehilangan Watri, setelah sebelumnya Priono disusul Muryani menghadap Sang Pencipta. Kini, ia lebih memilih fokus merawat ibu dari ayahnya itu.Sebuah suara mobil terdengar memasuki halaman rumah watri. Rasti berhenti dari aktivitasnya, gegas berjalan menuju halaman yang posisinya berada di atas kebun. Ia memicingkan mata, melihat kode plat mobil yang menandakan area Jogjakarta. Tangannya masih memegang sebuah baskom plastic kecil berisi cabai.“Tante!” Sebuah sapaan lembut terucap dari mulut gadis yang baru saja turun dari mobile.“Alea!” Reflex, mulut Rasti menyebut nama seorang gadis yang terlihat kurus.“Tante ….” Alea kembali memanggil Rasti dengan mata berkaca-kaca.“Maaf, menyusul kamu ke sini.” Hanung yang baru saja turun dari mobil langsung menyahut.“Mama, siapa yang datang?” tanya Nadine yang b
“Akhirnya kamu datang, Mbak. Dan baru kali ini kita bertemu,” ucap Huda.Rasti yang kini telah berbalik sedikit mundur.“Jangan takut, Mbak! Aku tidak akan melukai Mbak Rasti lagi. Aku datang untuk minta maaf. Maaf, aku telah berpesan pada tetangga Mbak Rasti untuk menghubungiku saat Mbak datang.”Rasti masih belum percaya apa yang dikatakan Huda. “Untuk apa?” tanyanya ketus.“Aku ingin minta maaf, Mbak. Duduklah sebentar denganku,” ajak Huda.Dengan ragu-ragu, Rasti mengikuti Huda yang duduk di tepi teras. Lantai masih terlihat bersih karena setiap pagi dibersihkan oleh karyawan.“Aku sudah bercerai dari Maryam. Aku benar-benar telah menyakiti hatinya. Tapi, aku tidak berbohong jika rasa cintaku hilang terhadap dia saat Mbak Rasti datang kembali dalam hidupku dulu kala. Dan sampai saat ini, aku masih memendam rasa itu.” Huda berhenti sebentar lalu memandang Rasti dengan posisi kepala menoleh. “Aku masih mencintaimu. Maaf, aku telah berusaha mendapatkanmu dengan cara yang salah. Maaf,
“Saya terima nikah dan kawinnya Rasti Efrianti binti Rusdi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai ….”Ucapan sah menggelegar di ruang tamu rumah Rasti yang ada di kampung. Senyum Nadine dan Raline mengembang dengan sumringah.Rasti yang memakai hijab syari dengan riasan sederhana mencium takzim tangan lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Mereka lalu saling tatap dan mengurai senyuman.Setitik air mata jatuh dari pria yang memakai kemeja berwarna putih.***Rasti memperhatikan orang yang dibayar untuk memotong rumput yang sudah meninggi di rumahnya yang di Jogja. Anak-anaknya tidak ikut serta karena mereka tidak mau. Setelah pekerjaan orang suruhannya selesai, ia bersiap untuk kembali masuk rumah.“Rasti ….” Sebuah suara membuatrnya urung masuk.Mata Rasti menatap pria yang baru datang tanpa berkedip. “Pak Hanung,” sapanya dingin.“Akhirnya kamu kembali,” sahut Hanung. “Aku sering datang ke sini untuk menunggumu pulang. Dan hari ini, aku bertemu denganmu.”“Unt
Mereka basa-basi sebentar, saling menceritakan hidup yang dialami masing-masing. Setelah lama berbincang, Firna menyampaikan maksud kedatangannya menemui Rasti. “Aku minta maaf atas semuanya, Mbak. Aku telah bersalah sama Mbak Rasti. Aku sudah egois dalam mencintai Mas Danang. Dan pada akhirnya aku sadar, aku hanyalah pelampiasan baginya. Cinta Mas Danang sepenuhnya untuk Mbak Rasti. Aku menikah dengan seorang pria yang hidupnya di jalan, tapi mengajarkanku banyak hal. Kami memulai semua dari bawah. Dia tahu semua kisah hidupku dan perlahan mengubah sifat egoisku. Dia juga pria yang sangat baik. Melindungi dan menyayangi Yasmin seperti anaknya sendiri. Bahkan, saat aku marah sama Yasmin, Mas Dion tak segan memarahiku bali. Aku merasa beruntung. Ini bukan hal yang penting bagi Mbak Rasti. Tapi, perlu aku ceritakan agar Mbak tahu bagaimana aku saat ini,” ucapnya lalu berhenti. Memandang Danang dengan ragu, kemudian mengeluarkan sebuah kotak. Rasti tertunduk. Hampir saja ia berpikir buru
Part 93 Semua sibuk dan larut dengan perasaan masing-masing. Nadine dn Raline yang bahagia bertemu ayahnya. Firna yang terlihat malu-malu pada Rasti. Dan Rasti yang sibuk menenangkan hati. ‘Aku sudah bercerai sama Mas Danang. Aku harus bersikap biasa saja melihat mereka,’ tekan Rasti dalam hati. “Mbak, apa kabar?” tanya Firna sopan. Seyogyanya seorang tamu dipersilahkan masuk, tapi yang terjadi justru tamu Rasti yang menyapa lebih dulu. “Ba-baik. Kamu apa kabar?” tanya Rasti kaku. “Baik, Mbak. Alhamdulillah,” jawab Firna. Rasti mengamati penampilan sederhana dari mantan madunya. Anak Firna menangis merengek di dalam gendongan. “Yas, tolongin Bunda, pegangin adek. Bunda pengen ke belakang,” pinta Firna pada anaknya yang terlihat lemas. “Aku pusing dan mual, Bunda. Ayah saja dipanggil,” tolak Yasmin. Entah mengapa, Rasti serasa tidak kuat melihat pemandangan keharmonisan keluarga Firan dan Danang. Ia mencoba menahan segala rasa yang berkecamuk agak tidak terlihat. “Ayah, ini p
“Kalau ketemu lagi, namaku Dion,” ucap preman itu kemudian melangkah cepat.“Jangan mengemis lagi. Bentar lagi Bunda akan bisa beli mesin cuci. Bunda mau buka laundry saja. Biar bisa bekerja di rumah. Nanti, Bunda akan pasang iklan,” ucap Firna.Hari setelah itu, pria yang mengaku bernama Dion sering datang ke kontrakan. Lama kelamaan, Yasmin menjadi terbiasa dan akrab. Dibalik tubuhnya yang kekar dan sangar, ia ternyata memiliki sebuah kepedulian. Sikap Firna masih cuek. Namun, berkali-kali pria itu datang membawakan setumpuk cucian kotor. Lalu memaksa Firna untuk memberikan cucian yang sudah bersih dan mengantarkannya ke pelanggan.Terkadang Dion datang di pagi hari, membawa cucian kotor, lalu mengantarkan yang bersih sambil mengantar Yasmin ke sekolah. Lalu ia akan pergi dan kembali lagi keesokan harinya. Seolah hal seperti itu adalah rutinitas Dion saat ini.Di dalam sel tahanan, Danang mengenal seorang narapidana yang sangat taat beragama. Hal itu membuat ayah Nadine dan Raline s
Part 91 Gadis kecil memakai seragam itu berlari menuju rumahnya. Segera berganti baju setelah sampai. Berlalu kembali dengan membawa plastic bungkus permen yang sudah using. Ia menengadahkan tangan ada setiap motor dan mobil yang berhenti di perempatan lampu merah. Setelah dirasa cukup, ia lalu bersiap pulang. “Ayo, setoran!” hardik seorang preman membuatnya ketakutan. “Jangan ambil, Om. Aku butuh uang ini,” pinta Yasmin memelas. “Hanya kamu pengemis yang tidak pernah setor. Mau kamu, aku bawakan satpol PP buat menangkap kamu biar masuk penjara?” Yasmin menggeleng. “Tapi aku butuh uang ini,” ucapnya dengan bibir bergetar. “Ibu kamu kemana?” “Bunda mengamen, mau buat beli mesin cuci biar bisa kerja di rumah,” jawab Yasmin jujur. Di saat bersamaan, serombongan satpol PP bergerak menertibkan pengemis yang dirasa semakin banyak. Biasanya akan ada pembinaan dan pelatihan kerja bagi orang dewasa. Preman yang menghardik Yasmin dengan cepat mengangkat tubuh anak kecil dan membawanya
“Aku belum memikirkan itu,” sahut Rasti. “Kamu harus memikirkannya. Kamu harus menikah lagi dan mempunyai seseorang yang menemani dan melindungi kamu. Kamu tidak bisa hidup seorang diri selamanya. Usia kamu masih muda.” “Jangan membahas hal itu, Mas.” Rasti merasa sedih dengan perkataan mantan suaminya. Ada ruang hampa yang seketika hadir dalam hati. “Rasti. aku serius. Anak-anak butuh figur ayah penggantiku. Dengan siapapun, aku akan merestui. Aku yakin sekali, kamu bisa memilih orang yang tepat. Doakan aku, bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tinggalkan alamat. Setelah aku bebas, aku akan mencari Nadine dan Raline. Semoga mereka masih mengingatku.” Danang tersenyum getir. Berusaha keras menahan tangisnya untuk tidak keluar. “Iya. Aku berdoa semoga kamu juga bisa menjadi suami dan ayah yang baik buat Firna dan Yasmin. Salam buat mereka.” Danang tertawa. Namun, saat tawa itu keluar, tangisnya juga pecah. “Aku sudah menceraikannya. Aku tidak mencintainya. Itu hanya akan meny