Bab 45
KENANGAN DI AKHIR PEKANIbu Farhan mendekat dengan mata menyala penuh kemarahan. “Kau berani menuntut Salma? Kau pikir bisa sembarangan mempermalukan keluarga kami?! Kau memang perempuan yang tega menghancurkan rumah tangga anakku, dan sekarang kau ingin menghancurkan hidup anakku yang lainnya ?!”"Maaf, Nyonya, saya tidak mengerti maksud Anda," sahut Lisa berusaha tenang."Tidak mengerti? Jangan pura-pura bodoh. Salma di bawa ke kantor polisi karena dituduh melakukan tabrak lari. Kamu kan yang melakukannya?" sentak wanita paruh baya tersebut.Lisa pun mulai paham arah pembicaraan wanita di hadapannya tersebut. Semalam Kenzi sudah memberitahu dirinya mengenai masalah ini. Hanya saja, dia tidak menyangka jik pelakunya adalah. Salma, adik Farhan.Lisa berdiri dari kursinya, menatap ibu Farhan dengan tegas. “Nyonya Arum yang terhormat, ini masalah hukum. Apa yang Salma lakukan adalah sebuah pelanggaran, dan saya hanya ingin keadilan.”Bab 46Sepulang kantor, Lisa disambut oleh Davin yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah cemberut. Melihat ibunya datang, anak itu segera berlari dan merenggek, "Mama, ayo jalan-jalan. Davin bosan di rumah terus.”Lisa tersenyum lelah. Hari di kantor sungguh melelahkan dengan berbagai keributan dan bisik-bisik karyawan tentang dirinya dan Satria. Namun, melihat wajah cerah Davin, Lisa tak sanggup menolak permintaan putranya.“Mama capek, Nak. Tapi bagaimana kalau besok saja kita jalan-jalan, ya? Mama janji,” ucap Lisa sambil mengelus kepala Davin.Davin menggembungkan pipinya, tanda protes. “Tapi besoknya janji ya, Ma? Davin pengen main sama Mama.”Lisa tertawa kecil. “Iya, Davin. Besok, ya.”Keesokan harinya, Lisa memenuhi janjinya. Ia mengajak Davin ke Timezone, tempat favorit anak-anak untuk bermain. Dengan dikawal langsung oleh Kenzi, mereka menghabiskan waktu bersama.Ketika mereka sampai di Timezone, Davi
Bab 47FAKTA YANG TERUNGKAP Kenzi menatap Lisa sejenak sebelum melanjutkan, “Anda tahu, Nona ... apa pun yang terjadi, saya akan selalu ada untuk kalian. Tuan Muda adalah anak yang luar biasa. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan dan perlindungan.”Lisa terdiam mendengar kata-kata itu. Ia tahu Kenzi berkata dengan tulus."Aku tahu, kamu memang selalu bisa diandalkan," sahut Lisa. Jauh di dalam hatinya, Lisa tidak bisa mengabaikan betapa besar peran Kenzi dalam hidupnya dan Davin akhir-akhir ini. Dia selalu ada saat dibutuhkan. Meskipun kehadirannya karena tuntutan pekerjaan, namun hal itu sangat berarti untuk Davin.Namun, di balik keceriaan Davin dan perhatian Kenzi, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang bergulir—sebuah ancaman yang tidak mereka sadari.Sementara itu, Kenzi mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap Lisa semakin berkembang. Setiap kali dia melihat senyum lembut Lisa atau mendengar suaranya yang lembut saa
Bab 48Malam itu, Lisa berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamar. Pikiran-pikirannya berputar-putar, mencoba mencari jawaban atas semua kekacauan ini. Apa yang harus dia lakukan? Siapa yang bisa dia percayai? Dan bagaimana dia bisa melindungi Davin dari segala ancaman yang datang?Dalam kegelapan, Lisa tahu bahwa tidak ada jalan mudah ke depan. Tapi dia juga tahu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak bisa lagi lari dari kenyataan. Sebuah keputusan besar menantinya, dan dia harus siap untuk menghadapi konsekuensinya.Pagi itu, Lisa bangun dengan perasaan yang masih berat. Meskipun Satria sudah menegaskan akan selalu ada untuknya, ketakutan tentang Farhan dan masa depan Davin tidak juga hilang. Lisa tahu, waktu terus berjalan dan keputusan besar harus segera diambil.Saat Lisa tiba di kantor, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Para karyawan sesekali mencuri pandang ke arahnya, dan bisik-bisik terdengar di sudut-sudut ru
Bab 49CEMBURULisa menghela napas panjang. “Farhan, kita sudah membahas ini tadi malam. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Davin dari hidupku.”Farhan menyilangkan tangannya, nada suaranya tegas. “Aku tidak ingin memisahkan kalian. Tapi aku juga ingin menjadi bagian dari hidupnya. Dia anakku juga, Lisa. Kamu tidak bisa terus menyembunyikan kebenaran ini.”Sebelum Lisa bisa merespons, Davin tiba-tiba muncul dari balik pintu dan melihat Farhan. “Mama, itu siapa?”Farhan terdiam sesaat, matanya tertuju pada anak laki-laki kecil itu. Ada rasa haru yang tidak bisa dia sembunyikan. Meskipun ini bukan pertama kalinya dia melihat Davin, kali ini terasa berbeda. Farhan sadar bahwa dia adalah bagian dari bocah itu, darah dagingnya.Lisa dengan cepat mendekap Davin dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. “Davin, masuk dulu ya, Mama mau bicara sebentar.”Setelah memastikan Davin masuk ke kamarnya, Lisa kembali ke depan pintu dan berhad
Bab 50Setelah beberapa saat keheningan, Kakek Rio menarik napas dalam-dalam. “Baiklah, aku akan memberikan kalian waktu untuk berpikir. Tapi ingat, masalah ini tidak bisa berlarut-larut. Semakin lama kita menunda, semakin banyak kesempatan Farhan untuk memengaruhi situasi.”Malam harinya, Lisa duduk di kamarnya sambil memandang Davin yang sudah tertidur pulas. Pikiran Lisa terus berputar tentang lamaran Satria dan apa yang harus dia lakukan.Di satu sisi, dia merasa terlindungi dengan adanya Satria di sampingnya. Satria adalah pria yang tegas dan dapat diandalkan. Tapi di sisi lain, perasaannya pada Kenzi semakin menguat, meski dia tahu bahwa Kenzi selama ini bersikap profesional dan menahan perasaannya.Lisa merasa terjebak di antara dua pria, di antara cinta dan kewajiban, di antara masa lalu dan masa depan. Dan di balik semua itu, Farhan kini sudah tahu tentang Davin.Masa depan terasa semakin tidak pasti.Sementara itu, di tempat
Bab 51Mendengar nama Farhan membuat Lisa terdiam. Dia tahu bahwa kenyataan Farhan adalah ayah Davin kini menghantuinya setiap saat. Namun, yang lebih menakutkan adalah pikiran bahwa mungkin Farhan tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Lisa kembali.---Sementara itu, di sisi lain kota, Farhan duduk di ruang kantornya dengan ekspresi penuh tekad. Surat hasil tes DNA ada di tangannya. Dia sudah menghubungi pengacaranya, bersiap untuk langkah berikutnya. Dia tidak akan membiarkan Lisa membawa pergi anaknya begitu saja. Jika Lisa menolak rujuk dengannya, maka dia akan memperjuangkan hak asuh Davin di pengadilan.Farhan tahu bahwa perjuangannya untuk mendapatkan Davin tidak akan mudah. Lisa pasti akan melakukan apa saja untuk mempertahankan anak mereka. Tapi setelah mengetahui bahwa Davin adalah anaknya, Farhan merasa dia berhak untuk memperjuangkan hak asuhnya.Namun, di tengah semua rencananya, Farhan masih merasa ada sesuatu ya
Bab 52Lisa menggigit bibir bawahnya, pikirannya berputar. "Aku tidak tahu. Farhan memang ingin hak asuh Davin, tapi aku tidak berpikir dia akan mengancamku seperti ini. Setidaknya, bukan dengan cara yang pengecut seperti ini."Kenzi mengangguk pelan, mencoba menganalisis situasi dengan lebih tenang. "Kalau begitu, kita harus berjaga-jaga. Siapa pun pengirimnya, kita tidak bisa meremehkan ancaman ini. Saya akan memastikan keamanan di sekitar tuan muda diperketat."Lisa mengangguk, tapi wajahnya masih tampak cemas. "Aku hanya ingin memastikan Davin aman. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Aku hanya... aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padanya.""Anda jangan khawatir. Saya akan memastikan semuanya aman."Mata Lisa berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan air mata. “Terima kasih, Mas.”Kenzi menatap Lisa sendu. Seandainya bisa, dia ingin membawa wanita yang sudah mengisi hatinya itu ke dalam pelukann
Bab 53Keesokan harinya, di kantor, Lisa duduk gelisah di kursinya, memandangi ponselnya yang sejak tadi tidak berhenti berdering. Pesan ancaman dari nomor tak dikenal terus masuk, memerintahkannya untuk menjauhkan Davin dari Farhan atau dia akan mengambil langkah drastis. Lisa tidak tahu harus bagaimana lagi.Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Tubuh Lisa berjingkat seketika saking terkejutnya. Dia menatap layar ponselnya. Hatinya semakin gundah saat menyadari siapa yang sedang melakukan panggilan."Halo," ujar Lisa."Aku tunggu di cafe depan kantormu jam makan siang. Jangan sampai terlambat." Belum sempat Lisa mengatakan apapun, panggilan sudah dimatikan.Lisa menghela nafas panjang sejenak, lalu melirik layar ponselnya. Sudah waktunya makan siang. Tanpa banyak pertimbangan, Lisa segera bangkit dan menerima ajakan pertemuan tersebut.Mau tidak mau, suka tidak suka, dia tahu dia harus berangkat. Lisa tidak m
Bab 128Tubuh Najwa menegang, tetapi bukan karena ketakutan. Ada sesuatu yang asing menjalar di dalam dirinya. Sensasi yang membuatnya bingung.Tangan Farhan yang semula hanya mengusap pipinya, kini bergerak turun, meremas gundukan kenyal dengan lembut. Tanpa sadar, Najwa mendesis lirih.Merasa mendapat respon, Farhan semakin intens melancarkan serangannya. Sementara itu, Najwa semakin tak dapat mengendalikan diri merasakan sensasi baru yang terasa candu.Tiba-tiba, Farhan mengehentikan aksinya. Ditatapnya gadis di bawahnya dengan intens. Sementara itu, Najwa balik menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya."Wa, bolehkah?" tanya Farhan dengan suara berat. Untuk sesaat, Najwa meragu. Meskipun belum berpengalaman, namun dia paham arah pembicaraan pria di hadapannya tersebut.Beberapa saat kemudian, Najwa menganggukkan kepalanya. Akhirnya, Farhan kembali melancarkan aksinya dengan lembut dan hati-hati. Dia paham betul jika ini pengalaman pertama bagi wanita di hadapannya tersebut.Aksi
BAB 127PERASAAN YANG TAK TERDUGASesampainya di apartemen, Najwa segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan sedikit lebih keras dari biasanya. Ia berjalan menuju ranjangnya, lalu duduk di tepinya dengan wajah kesal. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian di kafe tadi.Bayangan Farhan bersama wanita lain terus mengusik benaknya. Tatapan mata wanita itu, senyum genitnya, cara dia menyentuh lengan Farhan, semua itu membuat dadanya terasa sesak.Najwa menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, perasaan aneh yang menggelayuti hatinya tak kunjung pergi.Tak lama kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Tok tok tok...."Najwa?"Najwa mendongak sejenak, mengenali suara itu. Namun, alih-alih menjawab, ia malah memalingkan wajahnya.Farhan, yang tak mendapat respons, akhirnya memutuskan untuk masuk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri gadis itu hingga hanya berjarak dua jengkal."Kamu kenapa?" tanyanya tenang.Najwa tetap tak melihat ke arahny
Bab 126Rahasia yang TerpendamFarhan menyesap kopinya perlahan, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba merayapi benaknya. Ia menatap David yang duduk di hadapannya, pria itu terlihat tenang, tetapi jelas sedang mengamati setiap gerak-geriknya."Jadi?" David mengangkat alisnya. "Aku hanya ingin memastikan sesuatu, Farhan. Apa hubunganmu dengan Najwa?"Farhan menaruh cangkir kopinya dengan gerakan yang terkendali. "Maaf, tapi itu bukan urusan Anda."David tersenyum tipis. "Sebenarnya, itu urusanku. Najwa adalah anak tiriku sekarang dan aku ingin memastikan dia berada di tangan yang tepat."Farhan tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di sana. "Anda tidak perlu khawatir soal itu. Najwa baik-baik saja."David mencondongkan tubuhnya, tatapannya semakin tajam. "Dengar, aku tidak bodoh, Farhan. Fara sudah memberitahuku bahwa mantan suaminya tidak memiliki kerabat. Jadi bagaimana mungkin kau bisa menjadi 'om' bagi Najwa?"Farhan tetap tenang, tetapi jari-jarinya mengepal di bawa
Bab 125Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Fara masih dihantui rasa bersalah.Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Dari dalam laci, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama ia simpan. Perlahan, ia membuka tutupnya, memperlihatkan sebuah foto usang, foto dirinya bersama Najwa dan Suratman.Air matanya langsung mengalir. Ia menyusuri wajah kecil Najwa dalam foto itu dengan jemarinya yang bergetar."Najwa, sedikit saja, apakah tidak ada perasaan rindu untuk ibu?"Pertanyaan itu terus mengganggunya sejak pertama kali dia bertemu kembali dengan putrinya. Putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa.***Farhan masih sibuk memeriksa laporan keuangan ketika suara pintu ruang kerjanya terbuka tanpa izin."Farhan!" suara Arum terdengar tajam. Wanita paruh baya itu berjalan masuk dengan wajah kesal.Farhan menutup map di hadapannya dan mengusap wajah dengan lelah. "Ada apa, Ma?""Apa maksudmu bertanya ada apa?" Arum melipat tangan di depan dada. "Uang yan
Bab 124SURAT CERAITangannya bergetar saat menatap lembaran itu. Nama Fara tertera jelas di sana. Ia nyaris tidak bisa percaya dengan apa yang ia baca."Ini tidak mungkin. Fara tidak mungkin melakukan ini," gumam Suratman dengan suara bergetar."Sudah cukup. Jangan cari dia lagi. Kalian sudah bukan siapa-siapa."Suratman menatap pria tua itu dengan mata membelalak. "Kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan pada Fara?"Pak Karim tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum akhirnya menutup pintu tanpa sepatah kata lagi.Suratman berdiri di sana, masih memegang surat cerai itu dengan tangan gemetar.Dengan langkah gontai, ia kembali ke rumahnya. Sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana mungkin Fara meninggalkannya begitu saja? Kenapa tanpa penjelasan?Ketika ia tiba di rumah, Najwa berlari menghampirinya. "Ayah! Ibu sudah pulang?"Suratman menatap wajah polos putrinya dan seketika dadanya sesak. I
Bab 123SAAT-SAAT TERAKHIRHari demi hari berlalu, dan kondisi Najwa semakin membaik. Warna di wajahnya mulai kembali, senyum kecilnya sudah lebih sering muncul, dan suaranya tak lagi selemah dulu. Fara selalu berada di sampingnya, membacakan cerita sebelum tidur, menyuapinya makan, dan menggenggam tangannya setiap kali Najwa merasa kesakitan.Namun, di balik senyum yang ia tampilkan, ada kesedihan yang semakin dalam. Setiap kali melihat Suratman tertidur di kursi samping ranjang Najwa, Fara ingin menangis. Setiap kali pria itu bangun dan tersenyum padanya, seolah mereka adalah keluarga yang utuh, hatinya semakin hancur.Di saku tasnya, surat panggilan dari pengadilan agama telah berulang kali ia lipat dan sembunyikan. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Proses perceraiannya dengan Suratman hampir selesai, dan saat Najwa benar-benar pulih, ia harus pergi.***Suatu sore, ketika Suratman pulang sebentar untuk mengambil beberapa barang di rumah, Fara duduk di samping Najwa yang tengah ter
Bab 122TAWARANFara berdiri di depan rumah orang tuanya dengan dada sesak. Tangannya gemetar saat hendak mengetuk pintu. Selama ini, ia sudah dianggap tidak ada oleh keluarganya setelah memutuskan menikah dengan Suratman, seorang pedagang keliling yang menurut mereka tidak pantas untuknya.Namun, sekarang ia tidak punya pilihan lain.Ia mengetuk pintu dengan ragu. Tak lama, suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu terbuka, memperlihatkan wajah sang ibu, Bu Halimah, yang langsung berubah dingin begitu melihatnya."Untuk apa kamu kemari?" suara wanita paruh baya itu terdengar tajam.Fara menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh."Ma, aku butuh bantuan," suaranya bergetar.Bu Halimah melirik anaknya dari ujung kepala hingga kaki, lalu mendengus. "Jadi sekarang kamu ingat keluarga setelah sekian lama menghilang?"Fara menggeleng cepat. "Aku nggak pernah melupakan papa dan mama. Aku hanya… aku hanya tidak punya keberanian untuk kembali.""Tapi sekarang kamu kembal
BAB 121SEPULUH TAHUN YANG LALULangit sore mulai meredup ketika suara tawa anak-anak masih terdengar di gang sempit perkampungan kecil di pinggiran kota. Najwa, bocah perempuan berusia delapan tahun, berlari kecil mengejar bola plastik yang meluncur ke jalan raya. Tanpa sadar, langkah kakinya melampaui batas aman dari gang sempit itu.Tiba-tiba, suara klakson yang keras menggema di udara. Dalam sekejap, tubuh kecil Najwa terpental ke aspal, diikuti oleh jeritan histeris dari anak-anak lain yang menyaksikan kejadian itu. Mobil yang menabraknya melaju kencang tanpa sedikit pun mengurangi kecepatan, menghilang di belokan sebelum ada yang sempat mencatat nomor platnya."Najwa!"Seorang wanita berlari dari dalam rumah, wajahnya pucat pasi saat melihat tubuh kecil putrinya tergeletak tak bergerak di jalan. Darah mengalir dari pelipis dan hidungnya, membentuk genangan kecil di aspal.Orang-orang mulai berdatangan. Beberapa ibu berteriak panik, sementara beberapa bapak berusaha menenangkan i
BAB 120KERINDUAN YANG TAK TERPADAMKANFara duduk di sofa ruang keluarga dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Matanya yang sembab menunjukkan bahwa ia sudah menangis cukup lama. Di tangannya, ia menggenggam erat selembar foto lama, foto seorang gadis kecil dengan senyum polos yang begitu dirindukannya.David duduk di sampingnya, tangannya dengan lembut mengusap punggung istrinya, berusaha menenangkan. Namun, Fara tetap terisak, rasa sesak yang menghimpit dadanya tak kunjung mereda."Aku tidak bisa terus seperti ini, Mas. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin memeluknya setidaknya sekali saja. Aku ingin menebus semua kesalahan yang telah aku buat," ujar Fara dengan suara bergetar.David menarik napas dalam. Ia paham betul bagaimana perasaan istrinya. Setiap malam, ia melihat Fara duduk termenung di depan jendela, matanya menerawang jauh, pikirannya entah ke mana."Sayang, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus bersabar sedikit lagi. Jangan gegabah, kita harus menunggu waktu yang te