Share

And I'm here

Author: Araitara
last update Last Updated: 2021-06-17 11:10:32

Tia baru saja selesai mandi dan sedang bersiap untuk duduk santai di depan televisi ketika ponselnya berdenting terus menerus. Memutar jalan balik menuju kamarnya, ia meraih ponsel yang sedang diisi ulang dayanya dan mengernyit.

3 missed call from unknown.

4 new messages from unknown.

Tia memilih membuka pesannya terlebih dulu, sambil mengusakkan handuk di rambutnya yang masih basah. Ia membelalakkan matanya saat membaca pesan-pesan tersebut.

Tia, lagi dimana? Pintunya dibukain, itu saya pesen makanan buat kamu.

Halo? Bener kan ini Tia? Ini Arka

Tia.. ini kamu nggak ngasih saya nomor palsu kan..

Tia itu bapaknya udah nunggu di depan lama, kasian..

Tia melepas sambungan ponselnya dengan kabel, lalu melempar handuknya ke sembarang arah. Ia celingukan mencari sweater agar penampilannya tidak terlalu gembel. Tia berlari ke gantungan pintu kamar dan meraih sweater hijau dengan gambar kermit the frog kecil di pojok sampingnya. Ia menyempatkan diri berkaca dan menggulung rambutnya ke atas asal. Penampilannya tidak lebih baik sebelumnya, celana pendek Tia sudah belel, sangat tidak cocok dengan sweater yang dipakainya.

Ia mendengar suara bel berbunyi tidak sabaran, dan memutuskan kalau penampilannya tidak sepenting si orang yang sudah menunggunya membuka pintu sejak belasan menit yang lalu.

Sambil berlari kecil ke depan pintu, ia berteriak “Sebentarrr,” pada siapapun yang berada di balik pintu tersebut.

Pintu dibuka, menampilkan seorang kurir makanan yang masih menggunakan helmnya dan mukanya terlihat lega ketika pintu dibuka.

“Akhirnya mbak, saya pikir ini yang pesen mau nipu,” ujarnya dengan kelegaan yang kentara dan mengarahkan tas plastik bening dengan rice bowl di dalamnya.

Tia meringis meminta maaf, ”Maaf ya pak ini nggak denger tadi,” katanya sambil menerima makanan yang diberikan si bapak kurir. “Ini siapa yang kirim, pak?” tanyanya memastikan.

Si bapak kurir merogoh ponsel di saku jaketnya, mengotak-atikannya sebentar lalu menjawab, “Mas Arka, mbak.”

Tia mengangguk paham, dan mengucapkan terima kasih setelah sebelumnya meminta maaf sekali lagi kepada bapak pengantar makanan.

Setelah memastikan si bapak sudah pergi, ia mengunci gerbang dan masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Ia tadi lupa mengunci gerbang rumahnya karena biasanya ada bapak yang membantu merapihkan taman kecil di belakang rumah yang selalu berjaga di gerbang. Hari ini si bapak sedang cuti, dan Tia lupa sama sekali akan fakta itu. Untung saja rumahnya selalu aman.

---

Berjalan menuju dapur, ia mengeluarkan rice bowl dan membukanya. Isinya ada nasi dengan topping ikan yang digoreng tepung dan juga dilumuri dengan saos. Entah saos apa, Tia akan mencicipinya nanti. Harumnya menguar sampai seluruh dapur.

Ponselnya yang ia taruh di counter dapur berdenting lagi, sebuah pesan masuk.

Tia teringat ia belum mengabari Arka yang mengirimkan makanan ini. Mungkin yang barusan itu dia. Ia meraih ponselnya dan mengecek, betul saja barusan adalah pesan dari Arka. Isinya masih sama, meminta Tia membukakan pintu untuk si bapak pengantar makanan. Padahal si bapak itu sudah pulang. Huh, gimana sih Arka ini.

Tia terkekeh kecil menyadari ia barusan mengomeli orang yang berbaik hati mengiriminya makanan. Lalu ia langsung menggeleng, menyadarkan dirinya sendiri. Tentu saja karyawan ayahnya pasti akan peduli dengannya. Setelah meyakinkan dirinya bahwa ini hanya basa-basi rekan kerja semata, ia mengetikkan balasan untuk Arka.

Udah aku terima ya kak makanannya. Makasih banyak, sori tadi lagi mandi.

Send.

Balasan dari Arka datang tidak sampai 1 menit, isinya bahkan bisa Tia baca dengan nada Arka yang lembut tetapi sambil sedikit mengomel, dengan bibir yang mengerucut. Lucu.

Saya kira kamu kasih nomor palsu.. Oke selamat makan, dihabisin ya!

Tia tersenyum dan mengetikkan Yep, thanks! Lalu mematikan layar ponselnya. Ia membawa rice bowl-nya dan mengambil sebuah sendok dari dalam laci, dan berjalan senang ke arah sofa.

Setelah menemukan saluran televisi yang akan ia tonton sambil makan, Tia mulai melahap makanan di tangannya. Berdoa semoga ia bisa menghabiskannya setelah siang tadi makanannya keluar semua.

Butuh waktu lama sampai Tia menghabiskan makanannya, yang penting adalah ini kali pertama setelah sekian lama dimana Tia bisa menghabiskan makanannya tanpa perlu membuang sisanya.

---

Tia baru saja mau menyeruput kopi instannya pagi itu. Bukan betulan pagi hari, tapi Tia baru saja bangun, jadi ia akan mengkategorikan saat ini adalah pagi hari. Yang sebetulnya sudah jam 1 siang.

Ah iya, kembali lagi. Jadi kegiatannya menyeruput kopi hitam panas itu diganggu oleh suara pesan yang berdenting dari ponselnya.

Ia mengerang kesal, dengan menghentakkan kakinya berjalan ke sofa dimana ponselnya tadi ia geletakkan begitu saja. Oh, pesan dari Arka. Tia membukanya sambil melanjutkan menyesap kopinya. Isi pesan dari Arka membuatnya hampir saja tersedak.

Ajakan makan siang.

Oke mungkin ini hal yang biasa dilakukan oleh teman terhadap teman lain. Tetapi masalahnya adalah, mereka bukan teman. Dibilang hanya kenalan pun sepertinya tidak cocok karena Arka sudah berbaik hati menolongnya kemarin. Jadi, apa niatnya kali ini mengajaknya makan siang?

Tia menimbang-nimbang, ia tidak terlalu merasa nyaman makan siang dengan orang yang tidak ia kenal dekat. Oh, dan ia masih ada hutang cerita ke Juna! Oke, alasan sudah ada.

Ia mengetikkan balasannya, berujar maaf dan mengatakan sudah ada janji dengan orang. Padahal Juna sedang ada dimana juga Tia tidak tahu.

Setelah selesai memberi jawaban ke Arka —yang langsung dibalas dengan Yah.. Okay, next time ya— ia langsung mengetikkan pesan ke Juna, bilang akan mampir ke kafenya satu jam lagi.

Tanpa menunggu balasan dari Juna, ia kembali duduk di sofa dan menyesap kopinya siang itu. Rumahnya sepi, dan Tia diliputi ketenangan yang entah kapan terakhir kali ia rasakan. Kenapa ya? Apakah ini efek dari kopi? Atau efek dari perhatian seseorang yang sudah lama tidak Tia rasakan?

Sebenarnya kesepian Tia ini tidak disebabkan oleh orang-orang yang menjauhinya. Sebaliknya, Tia tidak nyaman menghabiskan waktu dengan orang-orang yang bermuka dua dan melabeli diri mereka sebagai teman Tia. Teman yang Tia anggap betulan teman hanyalah Juna, dan Tia sangat menyayangi sahabatnya itu. Ah, ia jadi rindu dengan Juna.

---

Tia duduk manis di salah satu kursi yang langsung bersebelahan dengan kaca transparan dengan pemandangan orang yang berlalu-lalang. Ia menunggu minuman pesanannya sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Tia paling suka memperhatikan orang-orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Pemikiran bahwa mereka semua sedang menuju ke tempat yang berbeda-beda membuat Tia merasa seperti hanya tinggal dirinya sendiri yang tidak memiliki tujuan di hidupnya.

Tia terkekeh dengan pemikirannya sendiri, merasa ironis. Entah apakah ia benar merasa senang memperhatikan orang-orang, ataukah ia iri dengan mereka semua? Apakah Tia menyukai perasaan tidak punya beban ini, atau ia sebetulnya membutuhkan suatu “beban” yang membuatnya menjadi seorang manusia dewasa yang normal?

Ia tidak bisa melanjutkan berkhayal tentang dirinya menjadi salah satu dari mereka yang sibuk itu karena di depannya sudah ada Juna yang datang sambil mengomel.

“Sumpah ya lo tuh, gue buru-buru kesini tau nggak!” omelnya, menegak botol air mineral yang dipegangnya sampai setengah.

Tia tertawa keras, penampilan Juna terlihat seperti anak kuliahan di akhir bulan yang sedang dikejar deadline skripsi. Amat berantakan, kemeja berwarna krem yang tidak dikancing sampai atas, celana hitam yang terlihat agak kusut, dan rambut yang terus-terusan disisir ke atas karena tidak sempat ditata.

Juna menatap Tia kesal, tetapi omelannya harus berhenti karena pelayan sudah mengantarkan minuman yang dipesan oleh Tia. Satu teh chamomile hangat, dan satu ice americano untuk Juna yang Tia yakin belum meminum kopinya hari ini.

Setelah melihat ice americanonya di depan mata, Juna urung melanjutkan omelannya. Ia hanya menyedot minuman tersebut dan menopangkan tangan kanannya di dagu, memusatkan perhatiannya pada Tia.

“Cerita.” Ucapnya singkat.

Tia menyesap minumannya sebelum mengikuti pose Juna, bedanya kedua tangannya menopang kepalanya.

“Gue ketemu orang. Aneh,” ucapnya sebagai pembuka dengan wajah serius.

Juna menaruh gelas yang tadi dipegangnya, dan memajukan tubuhnya. Biasanya Tia tidak akan cerita tentang “orang”. Biasanya hanya kejadian-kejadiannya, dan tidak menjelaskan mengenai orang-orang yang terlibat dalam ceritanya itu.

Menceritakan tentang kejadian kemarin siang (sampai sore) dan juga pesan dari Arka siang tadi, teh yang tadi masih hangat pun menjadi dingin. Tia tidak memedulikannya dan menegak habis teh tersebut.

“Menurut lo aja nih ya, emang ada rekan kerja ayah lo yang perhatian sampe segitunya?” tanya Juna, memilih untuk tidak mengomentari kejadian Tia yang “tidur” dengan lelaki asing setelah sekian lama, dan memfokuskan ke si bintang utama dalam cerita Tia kali ini.

Tia berpikir sebentar, yah, posenya sih berpikir, tapi Juna tahu Tia sudah paham dengan niat Arka yang sesungguhnya. Hanya saja anak itu belum mau mengakuinya.

“Daripada lo kebanyakan pura-pura mikir, nih ya, gue kasih tau aja,” ujar Juna, menyingkirkan gelas-gelas ke samping dan mengarahkan kepala Tia ke arahnya. “Tuh mas-mas, demen sama lo,” sambil menyentil pelan dahinya.

Tia meringis, menyentuh tempat Juna menyentilnya di dahi dan mengaduh pelan.

“Tapi kenapa?” tanya Tia.

Juna menghela napasnya, ia bingung juga mau menjelaskan bagaimana ke sahabatnya ini. Ini jelas bukan pertama kali ada lelaki yang menunjukkan ketertarikan terhadap Tia, tetapi mereka semua memang sudah jelas mengincar sosok Tia yang “dingin” dan berlomba-lomba untuk membuat Tia bertekuk lutut di hadapan mereka, mencoba menjadikan Tia lebih dari sekedar teman menghabiskan malam di kamar hotel dan memenangkan hatinya. Yang tentu saja belum ada yang berhasil karena tembok Tia terlalu tinggi bahkan mereka sedikitpun tidak ada kesempatan untuk melompatinya.

“Ini bukan pertama kalinya ada cowok yang perhatian ngirimin lo makanan,” jawab Juna, tidak menghiraukan pertanyaan Tia sebelumnya. “Tapi ini pertama kalinya lo terima makanan itu, dan diabisin. Orang lain kirim makanan kan lo selalu buang tuh makanan, takut diracun,” ujarnya lagi, terkekeh.

Mau tak mau Tia juga ikut terkekeh, memang kemarin ia sudah terlalu berani untuk memakan makanan yang dikirim oleh orang yang tidak terlalu dikenalnya. Tapi dari penampilan Arka, sikapnya terhadap Tia, dan nada suaranya yang selalu menenangkan itu seolah menyuruh Tia untuk percaya pada lelaki itu, dan menanamkan dalam otaknya kalau tidak apa-apa untuk menerima kebaikan orang satu kali saja tanpa berprasangka buruk.

“Tia, nggak selamanya orang yang deketin lo itu berniat jahat sama lo,” kata Juna, menggenggam tangan kanan Tia dan mengelus punggung tangannya dengan lembut.

“Tapi orang-orang manfaatin lo yang terlalu baik sama mereka,” sanggah Tia, matanya menatap Juna sedih. Ia benci sekali dengan perempuan-perempuan yang sempat menjalin hubungan dengan sahabatnya. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari Juna, menurutnya.

Juna tersenyum manis, matanya menyipit. “Jangan salahin mereka dong, kan guenya aja yang emang gampang jatuh cinta,” ujarnya.

“Ya maka dari itu, Jun, gue takut mereka bersikap sama kayak mantan-mantan lo. Ngebiarin gue jatoh sendiri, dan mereka langsung pergi bukannya ikut jatoh bareng gue,” Tia menatap kosong ke tangannya yang masih digenggam oleh Juna, kali ini lebih erat. “Gue gamau ngerasain patah hati sama cowok lain, Jun. Cukup patah hati dari ayah gue aja, ini udah sakit banget.” cicitnya, suaranya di akhir retak, tangisnya ditahan sekuat mungkin. Tia sudah tidak mau menangisi sikap ayahnya terhadapnya, cukup kehancuran hatinya di tahun pertama ibunya meninggal, selebihnya ia akan melakukan apapun untuk mendistraksi kesedihannya akan kesunyian dalam keluarganya yang dulu hangat.

Juna bangkit dari duduknya, berpindah ke sebelah Tia sebelum menariknya dalam dekapan, menenggelamkan kepala Tia di dadanya. Ia paham jika Tia akan merasa tenang lebih cepat jika ia merasakan orang lain ada di sampingnya secara fisik. Sebuah pelukan dan tepukan pelan di belakang kepalanya selalu membantu Tia untuk dapat bernapas dengan lebih tenang, dan seakan menarik kembali air mata yang sebelumnya hendak turun membasahi pipinya.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
alanasyifa11
sejauh ini suka banget ama ceritanya! bakal lanjut baca setelah ini~ btw author gaada sosmed kah? aku pingin follow nih
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Lend Me Your Wings   Sunset glow

    Tia terbangun siang itu dengan Juna yang masih mendekapnya dari belakang. Tia tersenyum, akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa terbangun di setiap jamnya kali ini. Mengusap matanya perlahan, ia membalikkan badannya pelan agar tidak membangunkan Juna yang masih terlelap. Sahabatnya ini sudah dipastikan akan dapat protes dari karyawan kafenya karena melewatkan briefing tiap pagi mereka.Merapatkan badannya lebih dekat ke tubuh Juna, Tia mengalungkan tangannya ke punggung Juna dan menenggelamkan wajahnya di dadanya. Tia menghembuskan napasnya lega, ia paling suka bangun tidur dengan Juna disampingnya karena ia yakin Juna tidak akan meninggalkannya saat pagi datang.Tia mengingat lagi kejadian kemarin sore. Setelah Tia bercerita tentang Arka (dan juga rasa rendah dirinya terhadap kata cinta), mereka memutuskan untuk berbelanja bersama di sebuah pusat perbelanjaan. Katanya untuk menjauhkan Tia dari pikiran-pikiran buruknya, alasan lainnya adalah Juna membutuhkan bantu

    Last Updated : 2021-06-19
  • Lend Me Your Wings   Boy with a star

    Usai membaca pesan tersebut, Tia hanya bisa tertawa keras. Juna yang mendengarnya melongokkan kepalanya dari dalam kamar mandi, wajahnya menuntut penjelasan dari tawa kerasnya. Tia hanya menggesturkan tangannya agar Juna lanjut mandi, dan Juna hanya menggumamkan “Oke..” sebelum menutup pintu kamar mandi kembali.Tia ingat, hari ini adalah hari dimana perusahaan papanya rutin mengadakan makan malam dengan keluarga karyawannya. Hanya plus one, sih. Dan biasanya mereka membawa pasangan mereka; suami, istri, maupun kekasih mereka. Tiga tahun lalu, ayahnya masih pergi ke acara tersebut dengan ibunya. Dua tahun lalu, Tia diajak ikut dan berakhir dengan Tia yang pulang kelelahan meladeni orang-orang yang mengajaknya berbicara. Tetapi dari tahun lalu, Tia sudah tidak diajak untuk datang ke acara tersebut.Harusnya Tia tidak perlu merasa kecewa, toh tahun lalu juga sama. Walau begitu, Tia tidak bisa menahan rasa kecewa bercampur sedihnya. Satu tahu

    Last Updated : 2021-06-21
  • Lend Me Your Wings   Look at me

    Saat mereka sudah sampai di taman kompleks, mereka duduk di salah satu kursi taman di bawah sinar lampu taman yang menyinari. Suara gemericik air dari air mancur kecil tidak jauh dari mereka mengisi kesunyian malam itu. Memang tetangga rumahnya tidak banyak yang menghabiskan waktu di taman, kecuali saat sore hari dimana banyak anak kecil yang bermain bersama di taman kecil tersebut.Sedari pertengahan jalan tadi, Arka banyak bercerita mengenai keluarganya. Kini, mereka berdua sedang duduk berdekatan berbagi kehangatan, tapi Tia sudah melepaskan lengan Arka, merasa terlalu berlebihan jika ia masih bergelayut di lengannya saat duduk.“—yang gede namanya Ethan, sekarang umurnya 8 tahun dan sekolah di tempat yang sama kayak dulu saya sekolah. Kalau adiknya, namanya Aria, masih ­pre-school ­sekarang, tapi mereka semua full day. Kakak saya sama suaminya sama-sama aktif kerja. Mereka sering nginap di rumah orangtua saya. Oh, dan saya juga

    Last Updated : 2021-06-24
  • Lend Me Your Wings   The reason behind it

    “Takdir nggak sih, ketemu terus gini?” tanya si penyelamatnya sambil tersenyum lebar, senyum manis khasnya yang selalu membuat Tia kehilangan napasnya selama sepersekian detik saat melihatnya.Salah tingkah, Tia hanya bisa tertawa garing dan berdiri dengan benar lalu merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Arka masih melihat kearahnya tanpa menghilangkan senyumannya, matanya melengkung lucu dan Tia harus menahan diri untuk tidak mencubit gemas tulang pipinya yang tinggi itu.“Mau jajan, kak?” tanya Tia mengalihkan pembicaraan, ia melihat Arka memegang sebuah kaleng kopi instan di tangan kanannya.Arka hanya menggoyangkan kaleng kopi tersebut di depan wajah Tia, mengiyakan.Tia mengernyit, ia tidak menyangka kalau Arka memilih membeli minuman instan di minimarket dibandingkan kopi di kedai kopi dekat kantornya.“Tadi saya liat kamu dari depan situ,” jelasnya menunjuk ke warung makan di seberang mini market.

    Last Updated : 2021-07-01
  • Lend Me Your Wings   Hard for me

    Berkebalikan dari yang ia inginkan, sekarang dirinya sedang duduk di restoran Itali yang tadi disebutkan oleh ayahnya. Duduk di salah satu kursi di meja bundar dengan total 3 buah kursi. Ayahnya duduk di kanannya, sedangkan di sebelah kirinya ada si wanita tadi. Yang ia tidak mau memikirkan kenapa ayahnya mengajak wanita ini untuk makan siang bersama mereka. Tia pikir ini kencan makan siangnya dengan ayahnya.Ia mengatur napasnya perlahan, dan melanjutkan makan siangnya dengan tenang. Ia menanggapi beberapa pertanyaan singkat dari ayah dan wanita asing (yang sampai sekarang belum memperkenalkan dirinya ke Tia), dan meminum sampai habis air di hadapannya.“Dek, kenalin ini tante Susan, partner kerjasama papa akhir-akhir ini,” ucap ayahnya saat melihat Tia sudah menyelesaikan makannya. Walaupun makannya hanya habis setengah dan wajah Tia terlihat tidak nyaman, perutnya sakit karena ia memaksa memakan pasta di depannya dengan terlalu cepat, menginginkan pergi

    Last Updated : 2021-07-06
  • Lend Me Your Wings   Where to go?

    Tia yang melihatnya merasakan hatinya sedih juga. Ia melepas tangan Juna dari pipinya lalu meraih leher pria itu, memeluknya dan menepuk-nepuk kepalanya. “Kenapa gue yang ditepuk-tepuk kepalanya?” tanya Juna, ia kini menekuk lututnya agar Tia bisa memeluknya lebih nyaman. “Soalnya gue belum mau sedih-sedih, sedangkan lo keliatan sedih.” Tia melepas pelukannya, meraih kedua tangan Juna dan menggoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. “Nggak sekarang ya, Jun, gue ceritanya? Gue mau seneng dulu. Boleh, kan?” “Bolehh, lo butuh waktu berapa lama juga gue jabanin.” “Makasih ya Jun,” kata Tia, senyumnya mengembang. Tertular senyuman Tia, Juna juga ikut tersenyum. Kali ini senyuman pasrah, ia akan ikut Tia untuk menghabiskan hari dengan senang, dan mengundur kesedihan yang pasti akan turut ia rasakan jika Tia memutuskan untuk menceritakan apa yang membuatnya sampai menunggu Juna di luar berjam-jam, dan tidak masuk ke apartemennya walaupun ia tahu kode sandinya.

    Last Updated : 2021-07-17
  • Lend Me Your Wings   Bestfriend's help

    “Juna, jadi pacar gue yuk?” bisik Tia serius. “Nyebut, anjing.” Jawabannya datang tidak lebih dari satu detik. “Juna seriusan!” bisiknya lagi. Tia mengekor Juna ke bagian dapur untuk menaruh notes pesanan baru. Berbalik badan menghadap Tia yang kini memasang wajah khawatir? Takut? Grogi? Juna menyejajarkan wajahnya dengan Tia, ia ikut memasang wajah serius. “Mending gue pacarin mas Arka lo itu,” bisiknya. “AW!” pukulan Tia datang lagi, kali ini keras sekali karena suara PLAK terdengar mungkin sampai tempat duduk para pelanggan. Wajah Tia memerah lebih kentara dari pada sebelumnya. Juna bersumpah ia bisa melihat asap keluar dari hidung dan telinga perempuan itu. “Dia bukan mas Arka GUE,” desisnya kesal. Terdiam sebentar, Juna paham kalau hal ini cukup sensitif untuk Tia. Ia memang pernah meminta Tia untuk membuka hatinya agar Arka bisa masuk, tetapi apa yang terjadi kemarin kemungkinan besar membuat segala kesempatan untuk Arka

    Last Updated : 2021-07-19
  • Lend Me Your Wings   Way to go

    Langkah kaki Arka terasa sedikit lebih enteng hari ini. Tadi sore, ia sedang penat sekali dengan urusan kantornya. Ditambah kejadian kemarin dimana ia bertemu Tia di tengah jalan dalam keadaan yang tidak dapat dibilang baik-baik saja. Sebetulnya tadi ia hanya berniat mengambil uang tunai di salah satu minimarket, lalu ia melihat sebuah kedai kopi yang terlihat cukup ramai. Tanpa ia sadari, ia sudah meninggalkan mobilnya di parkiran minimarket itu dan memasuki kedai kopi yang tadi menarik perhatiannya. Tidak terbesit di dalam pikirannya bahwa ia akan bertemu dengan wanita yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya. Ia khawatir sekali dengan keadaan Tia kemarin, tetapi pemandangan yang terpajang seperti mengejek kekhawatirannya. Disana, Tia terlihat mesra dengan seorang lelaki tampan dan berpostur tubuh tidak jauh dengannya. Kulitnya lebih terang dan seketika Arka merasa tidak percaya diri dengan kulitnya yang lebih gelap. Dari bahasa tubuh Tia, Arka bisa

    Last Updated : 2021-07-21

Latest chapter

  • Lend Me Your Wings   Everyone can see his love

    Arka memang butuh bicara dengan Tia, tapi kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bicara dengan Tia ini tidak terlalu bisa ia apresiasi.Mundur ke 5 menit yang lalu, Arka sedang berjalan santai menikmati malam sabtunya. Ia sudah berganti pakaian menjadi pakaian santai, dan berjalan mengitari sebuah taman dimana banyak orang yang juga menghabiskan waktunya disana.Beberapa foto berhasil ia abadikan, itu sebelum dirinya terlempar sebuah bola dengan cukup keras, membuatnya mengaduh hebat dan berjongkok sambil menekan kepalanya yang nyut-nyutan.“天啊,真的不好意思!你的头好吗?” ­(ya Tuhan, maaf banget! Kepalamu nggak kenapa-kenapa?). Arka memberikan jempolnya walaupun kepalanya masih menunduk menahan sakit. Saat tangan si penanya ikut memegang kepalanya, ia mendongak.Ia mendapati orang yang mendekatinya ini adalah orang yang sama dengan yang ia lihat sedang berduaan dengan Tia di area kampusnya waktu itu.Sepertinya si anak

  • Lend Me Your Wings   Everything's a mess

    Gelapnya ruangan klub malam ini tidak membuat mata Arka kesulitan untuk mendapati Tia di dalamnya.Dengan matanya, ia melihat Tia yang mungkin kini kesadarannya sudah tidak penuh lagi. Tubuh wanita itu berdempetan dengan seorang lelaki, pinggangnya dipeluk dari belakang dan kini kepala Tia menoleh ke belakang, membuat dirinya bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu.Juga, sayangnya, melihat bagaimana Tia membalas ciuman lelaki yang rambutnya ditarik pelan olehnya, menikmati tiap detik bibir mereka berdua bersentuhan.Arka buru-buru mengalihkan pandangannya dari pasangan yang masih tenggelam dalam kegiatannya itu. Lalu melangkahkan kakinya keluar dengan cepat, tidak mengindahkan bouncer yang memandangnya bingung.Ia terus berjalan cepat tanpa arah, pandangannya kosong tetapi berbanding sangat terbalik dengan isi pikirannya sekarang.Seingat dia, Tia bukanlah orang yang bisa melakukan skinship dengan frontal di tempat umum. Tia yang ia kenal adala

  • Lend Me Your Wings   A day in a life of Arka

    Di dalam sebuah kafe dengan interior minimalis tetapi cantik, terlihat sepasang lelaki dan perempuan yang menyesap minumnya masing-masing.Di depan kedua orang itu ada segelas yoghurt frappe dan juga vanilla latte yang masih mengebulkan asap panasnya.Yang lelaki sambil mengetikkan pesan untuk kakaknya di negeri seberang, yang perempuan melihat-lihat ke interior kafe untuk menghilangkan rasa canggung.Tawarannya tadi ditolak oleh halus oleh si atasan.“Makasih tawarannya, El. Tapi saya rasa nggak sopan kalau saya ke apartemen kamu sendirian.”Wajahnya langsung memerah saat itu juga, dan dalam pikirannya, ia memukul kepalanya berulang kali karena bisa-bisanya menawarkan hal seperti itu ke atasannya? Jika orang kantor tahu, mau ditaruh dimana wajahnya?Teringat kembali dengan kejadian memalukan tadi, ia mengangkat gelasnya dan menempelkan gelas dingin itu ke pipinya yang menghangat kembali. Tak sengaja matanya bersitatap d

  • Lend Me Your Wings   El

    Semenjak melihat Tia dan teman lelakinya di kampus perempuan itu minggu lalu, Arka belum menemukan waktu yang tepat lagi untuk bertemu dengan Tia. Seperti yang ia bayangkan sebelum datang kesini, bahwa pekerjaan yang menantinya di kantor cabang ini begitu menyita waktunya.Tidak jarang ia pulang ke apartemennya jam 9 malam, itu pun dengan membawa sisa pekerjaannya yang belum selesai agar besok ia bisa menyerahkan pekerjaannya pada atasannya. Harga yang sepadan dengan tingkatan jabatannya yang juga selain melenceng, juga melompat tinggi.Jika ia tidak ada hal yang perlu dikerjakan secara terburu, tetap saja ia memiliki bawahan yang membutuhkan bimbingannya hampir setiap saat. Tapi ini juga merupakan distraksi yang lumayan agar ia tidak berat sebelah dan hanya mengejar Tia saja.Timnya disini ada 4 orang, semuanya sangat berpengalaman dan ia sebagai orang yang bisa dibilang baru saja berkecimpung langsung dalam pengembangan produk mereka, juga tidak serta merta be

  • Lend Me Your Wings   The storm

    “Maksudnya?” tanya Tia lirih. Ia tidak salah tangkap, kan? Yang Arka maksud itu pernikahan papanya...... kan? Melihat Arka yang tidak menjawab dan hanya memberi tatapan yang sulit diartikan, intonasi suara Tia meninggi. “Siapa yang nikah, kak?”“Pak Reza,” bisiknya.“Ha!” Tia rasanya ingin menertawakan dirinya sendiri. Dirinya dan juga hidupnya ini selalu saja bisa membuatnya tertawa. Terlalu membingungkan.“Aku pikir papa waktu itu masih nunggu waktu buat aku nerima kehadiran calon istrinya?” tanyanya tidak percaya. Nada tinggi itu masih menempel di suaranya. Beruntung tidak ada yang memahami percakapan mereka. Mungkin orang yang lewat hanya berpikir mereka sepasang kekasih yang sedang bercekcok.Arka tidak tahu harus merespon bagaimana, ia hanya mengeratkan genggamannya di tangan Tia.“Papa beneran nikah tanpa kehadiranku? Tanpa kabar?” cercanya lagi.“Pak Reza u

  • Lend Me Your Wings   Enjoy the calmness

    Tadi Arka bilang kalau dirinya ingin makan hotpot. Jadi Tia langsung meminta rekomendasi restoran dari temannya. Siapa lagi kalau bukan Figo?Figo itu tipe teman yang jika Tia mengiriminya pesan, pasti akan dibalas dengan panggilan telepon. Awalnya Tia risih karena kan maksudnya menggunakan pesan, agar tidak perlu mengobrol?Tetapi berbicara dengan Figo selalu menyenangkan, jadi Tia tidak ambil pusing.Itu juga yang terjadi 10 menit lalu. Tia yang sedang mengeringkan rambutnya mengirimi pesan ke Figo untuk meminta rekomendasi restoran. Tapi anak itu langsung menelponnya dengan jarak waktu tidak lebih dari 1 menit.“Lo mau makan, kak? Ikut dong, siang ini gue free nih,” sapa Figo riang di seberang sana. Tia mematikan pengering rambutnya sebentar dan menjawab sembari memilah-milah pakaian. Arka yang sedang tiduran hanya menolehkan kepalanya guna mengikuti arah Tia berjalan.“Gue lagi sama orang lain, nantian aja sama lo-nya. Lagian

  • Lend Me Your Wings   Waiting for you

    Tidak terasa niatnya kemarin itu betulan terwujud. Memasuki satu bulan perkuliahan, bisa dihitung mungkin Tia hanya tidur dengan orang lain sebanyak 7 kali. Semuanya terjadi di akhir pekan maupun di malam sabtu, dimana dirinya tidak memiliki kegiatan di kampus keesokan harinya.Akhir pekan kali ini juga ia habiskan di hotel dengan orang yang ditemuinya di bar tadi malam. Tubuhnya super pegal karena partner tidurnya kali ini terlalu bersemangat hingga dirinya baru bisa tidur di jam 4 pagi, lalu ditinggal oleh si lelaki saat matahari menampakkan dirinya.Untung sekali ini bukan Indonesia, dirinya yang mengenakan pakaian minim tidak mendapatkan lirikan apapun dari orang-orang yang berlalu lalang.Suasana siang hari disini selalu membuatnya senang karena ramainya jalanan di kota ini. Ia sengaja turun satu stasiun lebih awal dari stasiun terdekat apartemennya.Sambil menyisipkan permen lollipop dalam mulutnya, ia bersenandung pelan sendirian. Matanya berlarian

  • Lend Me Your Wings   Freshening up

    Keringat menetes dari dahi Tia, dan terjatuh ke tanah yang dipenuhi oleh rumput. Kedua tangannya sedang memegang tongkat baseball dengan erat. Konsentrasinya tertuju pada bola yang kini sedang terlempar kencang ke arahnya.PAK!Melihat bola yang berhasil dipukul keras olehnya, ia langsung berlari kencang dan berhenti di base ke dua saat melihat tim lawan sudah memegang bola yang tadi dilemparnya.Seminggu ke belakang, Tia rajin ikut tim baseball kampusnya latihan. Sebetulnya bukan latihan serius karena dirinya bukan anggota tim baseball, tapi karena salah satu anggotanya ada yang merupakan orang Indonesia, jadi ia diperbolehkan ikut ketika mereka sedang bermain santai.“Nggak join kita aja, kak?” tanya penjaga base yang sedang ditempati Tia. Oh, itu Figo, mahasiswa berkebangsaan Indonesia yang tadi ia ceritakan. Umurnya baru 21 tahun, dan sedang menempuh pendidikan S1nya disini.“Kenapa? Gue keren ya?” Tia bertanya balik sam

  • Lend Me Your Wings   A new old country

    Tia menyibakkan gorden berwarna pink pastel dan menyipitkan matanya saat melihat terangnya sinar mentari yang mengintip ke kamarnya. Setelah membuka jendelanya sedikit, ia melangkahkan kakinya ke sisi kamarnya untuk menuangkan dirinya minum.Kursi komputer yang empuk didudukinya. Tangan kanan mengoperasikan ponsel pintar, tangan kirinya menggenggam gelas berisikan air dingin. Cuaca di Shenzhen hari ini cukup sejuk, jadi ia matikan pendingin ruangannya dan membiarkan udaranya tergantikan oleh udara segar dari luar.Tempat tinggal Tia kali ini seperti mengingatkannya pada kamar tidur teman tidurnya beberapa saat lalu di Indonesia. Jika kamar Tia di Indonesia juga berukuran sama seperti ini, bedanya adalah kali ini ruangan ini berfungsi sebagai seluruh rumah untuknya.Keputusan Tia untuk melanjutkan studinya disini bisa dibilang agak impulsif. Ia menghabiskan waktu seharian penuh merenung di kamarnya dan membutuhkan beberapa saran dari Juna untuk akhirnya mengambil

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status