Share

Bab 75

Penulis: Gilva Afnida
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-11 18:00:12

Bibir Olivia semakin mengerut dan wajahnya semakin menggelap. "Apa yang akan aku lakukan padanya, itu bukan lagi urusanmu, Max. kau dan dia sudah lama berpisah, harusnya itu tidak jadi masalah."

"Tentu saja itu jadi urusanku!" bentak Max. "Kalau kau mengusik hidup Lily lagi, aku yang akan menghukum mu."

Olivia pun segera berdiri. "Kenapa? Apa kau masih mencintainya? Wanita itu, sudah pergi meninggalkanmu dan memilih bersama pria lain. Tapi kenapa kau masih membela si jalang itu?"

Plak!

Max menampar Olivia cukup keras hingga Olivia terjatuh di atas sofa.

Napas Max masih memburu dan dia melihat tangannya dengan tak percaya. Dia tak pernah lepas kontrol seperti ini sebelumnya.

Sedang Olivia memegang pipi sebelah kirinya dengan perasaan terluka. Kedua matanya memerah dan sudah basah. Max tidak pernah menamparnya seperti ini.

"Olivia... aku..." Max tak sanggup untuk bersuara, membela diri atas perbuatannya barusan.

Olivia menundukkan kepalanya dan suarany
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 76

    "Setelah mencari tahu, ternyata dalang dibalik kebakaran butik itu adalah Olivia." Lily tidak menunjukkan keterkejutannya. Dia malah menundukkan kepalanya dengan sedih. "Vina... maafkan aku. Sebenarnya aku sudah tahu tapi aku menyembunyikannya."Vina tertegun sejenak."Apa dia mengancam mu waktu itu?""Ya." Lily mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Dia melakukannya karena tidak suka denganku. Waktu itu aku berada di titik terendah. Tidak tahu harus berbuat apa-apa, jadi aku memilih diam dan menuruti perkataannya untuk pergi dari hadapan Max.""Kau tidak memberitahuku dan meminta bantuan? Malah diam saja?" Suara Vina terdengar kecewa. Teringat beberapa kali Lily telah menolak bantuan yang diberikan olehnya. Lily menatap Vina yang terlihat kecewa. "Aku sudah banyak merepotkan mu, jadi aku-""Kamu keterlaluan, Lily," potong Vina dengan kedua mata memerah."Apa aku memang tidak begitu berguna? Apa karena aku bukan dari keluarga berpengaruh seperti Fi

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-11
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 77

    Olivia sangat suka dengan pujian. Itu adalah hal yang selalu diingat oleh Fia. Sorot mata Olivia sedikit berbinar lalu menyeka ujung matanya yang sedikit basah dengan tisu. "Benarkan? Dia sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan aku. Apa bagusnya wanita jalang itu?"Perhatian Fia masih tertuju pada pecahan gelas yang berserakan, namun sebisa mungkin dia harus menanggapi cerita Olivia agar wanita itu lebih tenang. "Apa wanita yang menggoda pacarmu itu adalah rekan sesama model? Harusnya kau beri saja wanita itu sedikit pelajaran. Seperti yang biasanya kau lakukan."Bekerja dengan Olivia selama enam bulan telah membuatnya mengerti tentang kejamnya dunia kerja. Untuk menggapai posisi paling atas, orang-orang rela menyingkirkan kawannya sendiri demi mempertahankan posisinya.Olivia pernah berkata pada Fia saat tak sengaja memergokinya melakukan sesuatu yang keji pada salah satu rekan model, "Kalau bukan aku yang menyingkirkan mereka, pasti aku yang akan disingkirkan."Olivia sudah lama

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-12
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 78

    Melihat sorot mata Lily yang bergetar saat menceritakan masa lalunya, Finley tahu kalau dirinya masih tidak begitu mengenal tentang Lily. Banyak hal yang tidak dia ketahui, terutama penderitaan apa saja yang telah dialami Lily sejak dulu.Sebenarnya Finley ingin Lily mau bersikap terus terang padanya, namun wanita itu nampaknya malah terus menjaga jarak dengannya. Dia tahu kalau dirinya begitu serakah. Menginginkan Lily setelah merasa cukup membantu menyelesaikan beban hidupnya. Padahal dulunya dia adalah penyebab utama kesengsaraan yang dialami Lily selama ini.Entah sejak kapan perasaan Finley yang awalnya hanya dilandasi oleh rasa bersalah kini malah bertumbuh menjadi rasa kasih sayang.Finley tak mau mengungkit soal itu lagi. Sekarang dia bertekad menjadi orang egois yang hanya ingin memperjuangkan cinta."Baguslah, apapun yang kau lakukan aku akan mendukungmu. Bagaimanapun kau sendiri yang tahu bagaimana membalas dendam mu di masa lalu."Mendengar itu Lily menundukkan pandangann

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-12
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 79

    Finley meletakkan gelasnya dan menatap Vina dengan datar. "Ikut saja, acara itu telah bekerja sama dengan perusahaan ku.""Benarkah?" Mata Vina berbinar-binar kemudian menyadari sesuatu. "Apa karena itu kau datang kesini?"Finley menjawab dengan nada acuh tak acuh. "Ya, tapi bukan hanya itu tujuanku satu-satunya." Tatapannya yang sendu masih mengarah ke arah Lily.Vina tersenyum tipis, mengerti maksud dari ucapan Finley. Dia sudah hendak membuka mulutnya untuk menggoda Finley namun suara teriakan yang kencang terdengar dari dalam rumah yang membuat perhatian semua orang teralihkan."Arsan tenanglah!" Suara Inda juga terdengar dari dalam kamar.Mendengar keributan di dalam, Lily segera beranjak dari kursi dan segera masuk ke dalam.Finley dan Vina juga turut ikut masuk.Di dalam kamar, Arsan sudah mengetukkan kepalanya di tembok dan Inda berusaha memegangi keningnya agar tidak terluka.Melihat adegan yang tak biasa itu, membuat Finley teringat dengan masa lalunya yang menyedihkan. Kepa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 80

    Untungnya Ivan yang memiliki badan besar dan kuat itu bisa membantu mengatasi keadaan yang kacau di rumah Lily. Arsan sudah dibantu ditenangkan oleh Ivan dengan menahan badan Arsan. Setelah dirasa Arsan kehilangan banyak tenaga dan tidak melawa, Lily segera memberi obat penenang agar tenang dan terlelap dengan cepat.Keadaan Arsan sudah cukup membaik, jadi Ivan segera membawa Finley yang masih dengan keadaan sama seperti saat dia belum datang. Ivan berkata akan membawa Finley pulang ke ibu kota.Apartemen milik Finley berada di ibu kota yang jarak tempuhnya dua jam dari rumah Lily sekarang. Lily sempat memberikan beberapa makanan berat untuk Ivan sebagai ucapan terima kasih namun segera ditolak olehnya dengan sopan."Sudah sepantasnya saya membantu, Nona. Tidak usah merasa sungkan karena niat saya benar-benar hanya ingin membantu." Ucapan Ivan membuat Lily terharu karena masih ada orang baik yang dikirimkan oleh Yang Maha Kuasa padanya disaat keadaan benar-benar genting.Setelah Iva

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-14
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 81

    Satu jam setelahnya. Lily dan Inda sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan Arsan. Dia ingin konsultasi dengan dokter perihal perilaku Arsan yang tiba-tiba tidak terkendali lagi.Kebetulan dokter spesialis anak belum datang, jadi mereka harus menunggu selama beberapa saat sampai dokter tersebut datang.Awalnya, dalam poli tersebut hanya ada rombongannya. Namun lambat laun rombongan pasien lain mulai berdatangan. Arsan nampak mulai gelisah saat melihat banyak orang yang berada di sekitarnya.Lily menyadari itu, jadi dia memegang tangan Arsan agar sedikit tenang. Dalam hatinya dia Takut kalau Arsan akan tak terkendali seperti saat di rumah tadi pagi. Namun dia segera tersadar kalau dia sedang berada di rumah sakit. Kalaupun Arsan menjadi tak terkendali lagi, akan ada banyak petugas medis yang bisa membantunya menangani Arsan.Karena Arsan semakin terlihat gelisah, jadi Lily berinisiatif untuk bertanya pada perawat kapan dokter akan datang.Saat masih bertanya, Inda mendatanginya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-15
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 82

    "Tuan, Nona Lily ingin bertemu. Apa sebaiknya saya suruh masuk saja?" Hana berdiri di depan ranjang Finley, menjaga jarak dari Finley yang berdiri di balkon kamar. Finley nampak tengah menikmati semilir angin pagi yang begitu dingin. "Suruh dia pulang." Sosoknya yang memunggungi Hana, membuat Hana tak dapat melihat bagaimana ekspresi yang ditampakkannya saat ini.Dengan raut wajah kecewa, Hana menjawab, "Baiklah, akan saya sampaikan." Lalu Hana berbalik badan dan keluar kamar.Helaan napas panjang keluar setelah mendengar suara pintu kamar yang tertutup. Finley menundukkan kepalanya--menatap ke arah bawah. Di sana ada mobil milik Lily yang terparkir rapi. Tak lama dari itu, terlihat Lily berjalan keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil.Pandangan Finley mengikuti kemana arah mobil itu pergi lalu menghilang dari pandangan. Kejadian beberapa hari yang lalu membuat kenangan pahit yang selama ini dia pendam kembali terbuka lebar. Finley baru menyadari betapa lemahnya dia.Dia kir

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-16
  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 83

    Usai pulang dari rumah Finley, Vina mengajak Lily ke studio desain yang sengaja dia sewa untuk Lily. Nantinya, dia akan menyuruh Lily membuat desain di situ untuk proyek fashion show mereka."Bagaimana? Kalau ada hal-hal yang tidak kamu suka, aku bisa merenovasinya lagi." Lily menatap ke sekeliling studio yang sudah disewa oleh Vina. "Ini sudah bagus, aku tidak terlalu mempedulikan soal desain ruangan. Yang terpenting semua peralatan sudah tersedia.""Tentu saja, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu." Vina mendekatkan diri ke arah Lily. "Aku sangat berharap kalau fashion show ini nanti akan berlangsung dengan baik. Elvi harus mendapat tempat dulu di hati masyarakat, baru aku berani meluncurkan produk di sini."Vina sudah menceritakan soal papanya yang ingin kerja sama untuk membuat Vina bisa melaunchingkan produk-produk Elvi di sini. Tentu saja Lily menyetujuinya. Dia sudah lama berada di Paris. Soal urusan sekolah desain sudah selesai dan sudah lama putus kontrak dengan Larissa B

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17

Bab terbaru

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 161

    "Adik, Nona?" Kedua alis si sopir saling menyatu. "Kayaknya gak ada siapapun yang keluar lewat sini, Nona. Dari tadi saya duduk di kursi teras ini kok."Pikiran Lily langsung kacau. Arsan bukanlah anak yang suka keluar dan bertemu dengan orang. Kalau sampai Arsan panik dan tantrum di jalan, itu bisa membahayakan dirinya sendiri. Apalagi jalanan sangat ramai oleh kendaraan pribadi.Lily memutuskan untuk mengecek seluruh isi rumah sekali lagi. Setelahnya dia baru sadar kalau Arsan keluar melalui pintu belakang, tepatnya yang menjadi penghubung antara teras belakang dengan dapur. "Kemana kamu, Arsan?" gumam Lily penuh khawatir.Karena Lily tidak tahu harus mencari dimana, Lily mengajak sang sopir untuk mencari Arsan dengan mobil. "Mau dicari kemana, Nona?" tanya si sopir."Kemana aja, Pak. Asal adik saya bisa ketemu.""Tapi, Non. Kata Nyonya Wina, Anda harus segera pulang. Kalau saya gak bisa nganterin Nona pulang tepat waktu, bisa-bisa saya yang akan kena omel nantinya.""Gak usah kha

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 160

    Lily tersentak dan menjadi canggung. "Mmm... baru saja," jawabnya sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Seketika dia tersadar atas apa yang dilakukannya. Dia pun kembali meluruskan anak rambutnya.Max tersenyum lebar. Rasanya dia sudah lama tidak melihat Lily. Wajahnya nampak lebih segar dan pipinya semakin bulat. Jika dia pikir-pikir, keadaan Lily jauh berbeda dibanding saat menikah dengannya dulu."Mau ketemu dengan Arsan? Kebetulan aku mau pulang karena ada urusan, jadi aku bisa menitipkannya padamu sebentar," ucap Max."Memangnya Inda kemana? Kenapa dia menitipkannya padamu?""Tadi pagi dia ditelepon kalau ada saudaranya yang meninggal. Jadi dia harus pulang selama sehari semalam. Mungkin besok pagi dia baru pulang."Kening Lily mengerut dalam. "Kok dia gak ngabarin aku? Malah ngasih tahu kamu?"Max mengangkat kedua bahunya. "Entah. Mungkin karena kamu sulit untuk dihubungi? Ini bukan pertama kalinya kok. Dia juga pernah menitipkan Arsan padaku selama dua hari.""Dua

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 159

    Di tengah keramaian kafe, Lily melihat Vina yang duduk di salah satu kursi sendirian di antara banyaknya pengunjung. Dia sudah menghubungi Vina untuk bertemu di kafe saja.Mata Lily berkilat senang, pasalnya sudah lama dia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Tangannya segera terangkat untuk melambai dan memanggil namanya. Sahabatnya itu segera menoleh dan senyuman lebar langsung merekah di wajahnya."Lily!" teriaknya sambil berdiri menyambut kedatangan Lily.Mereka berdua pun saling berpelukan erat."Bagaimana kabarmu?" tanya Vina begitu pelukan mereka sudah terlepas."Aku baik. Bahkan lebih baik."Vina bernapas lega, ada perasaan senang melihat wajah Lily yang nampak lebih cantik dan segar. "Syukurlah... apa Tuan Kenneth dan Nyonya Wina memperlakukanmu dengan baik?""Tentu saja. Mereka orang tua kandungku, tidak mungkin mereka menyia-nyiakan anak yang telah lama mereka kira sudah meninggal." Lily meneliti wajah Vina yang nampak kusam dan juga letih. "Lalu bagaimana denganmu? Kuden

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 158

    Vina menatap ke arah halaman rumah dari jendela kaca kamar. Mobil Finley sudah menghilang dari pandangan, segera dia menutup kembali tirai jendela.Sandra membuka pintu kamar dan berjalan menghampiri Vina. "Maafkan Mama karena sudah membukakan pintu."Vina memaksakan senyumannya sambil duduk di tepi ranjang. "Tidak apa-apa, bukan salah Mama."Melihat senyuman Vina, Sandra semakin merasa bersalah. Dia pun ikut duduk di samping Vina dan berkata, "Kulihat dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Kenapa kamu gak sepertinya tidak percaya padanya?""Menikah bukan perkara mudah, Ma. Apalagi aku dan Finley tidak saling mencintai. Biarlah aku mengurus anakku sendirian tanpa harus melibatkannya," jawab Vina sambil mengelus perutnya."Mengandung dan melahirkan anak sendirian itu terasa berat, Vina. Mama rasa akan lebih mudah kalau kamu menerima Finley untuk bertanggungjawab."Vina memegang kedua lututnya erat. "Bukannya ada Mama dan Papa yang akan membantuku? Aku tidak mencintai Finley, Ma. Men

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 157

    Di tengah terpaan angin sepoi malam yang dingin. Vina memegang erat cangkir mug yang berisi susu cokelat hangat.Vina sendiri merasa heran, sejak kapan dirinya jadi menyukai segelas susu rasa cokelat sedang dulunya dia lebih menyukai kopi susu yang diberi es batu di dalamnya.Mungkin sejak dirinya diberitahu dokter untuk tidak mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol dan kafein. Vina jadi lebih memperhatikan minuman yang akan dia minum.Sebuah senyuman tipis terbit di wajahnya yang manis sambil mengelus perutnya yang masih rata."Meskipun nanti kau lahir dari keluarga yang tidak lengkap, tapi aku pastikan kasih sayang untukmu tidak akan pernah kurang," ucapnya pada janinnya yang berada di dalam rahim.Vina belum bisa menerima kehamilannya, sampai seminggu yang lalu dia memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan dan melihat janin kecil yang tumbuh dengan menakjubkan.Suara detak jantung janin yang teratur dan pernyataan dokter kalau janinnya berkembang sehat dan baik membuat pe

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 156

    "Apa? Hamil?" Lily hampir berteriak jika tidak mengingat kalau dirinya ada di sebuah acara penting."Finley, kau becanda kan?" bisik Lily takut ada seseorang yang mendengar.Helaan napas keluar dari mulut Finley. "Aku tahu ini terdengar seperti lelucon. Tapi aku berkata jujur, kami tak sengaja melakukan..."Finley ikut memelankan suaranya. "...hubungan intim saat kami mabuk."Lily tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan karena saat ini dia benar-benar terkejut.Vina dan Finley? Berhubungan intim? Terdengar tidak masuk akal."Aku tahu kamu pasti kaget, tapi ini benar adanya. Aku hanya khawatir padanya karena beberapa hari ini dia tidak bisa dihubungi. Dia bahkan bersembunyi, seolah tidak mau diajak bertemu." Raut wajah Finley nampak muram membuat Lily sedikit merasa kasihan.Keheningan terjadi sesaat."Kamu datang ke acara ini berharap aku bisa memberi informasi soal Vina?" tanya Lily yang dijawab Finley dengan anggukan kepala."Sayangnya aku sudah lama tidak menghubunginya," ujar L

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 155

    "Lily?"Suara dari arah belakang yang memanggil membuat Lily menoleh. Kedua matanya terbelalak lebar mendapati Finley berjalan perlahan ke arahnya."Finley?" serunya yang membuat orang-orang disekitarnya terheran-heran."Ah, Tuan Finley. Kau sudah bersedia datang ke acaraku. Sungguh suatu kehormatan untukku." Arneth dan Samantha mendekati Finley yang membuatnya menghentikan langkah.Finley menoleh ke arah mereka berdua dan berkata, "Oh, Nyonya Arneth? Kau sudah sembuh? Ku dengar kau sehabis mengalami cidera di pergelangan tangan setelah bermain golf."Arneth tersenyum senang mendengar Finley sedikit perhatian padanya. "Benar, tapi sudah sembuh berkat putri saya yang telaten mengurus."Beberapa keponakan Kenneth memutar kedua bola matanya malas. Semua orang yang melihat pasti bisa menduga kalau Arneth sedang mempromosikan putrinya di depan Finley."Apa Tuan sedang mencari sesuatu?" tanya Samantha dengan memegang lengan Finley. Berada dekat dengan Finley adalah suatu kebanggan. Ketampan

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 154

    "Dia adalah putriku, Laura Owen," jelas Kenneth sambil memperhatikan reaksi dari anggota keluarga besarnya.Beberapa dari mereka nampak terkejut hingga tidak bersuara tapi ada juga yang tertawa sinis seperti Samantha."Paman Kenneth, apa karena saking putus asa nya Paman sampai menganggap wanita murahan itu sebagai Laura?" Kenneth menatap tajam ke arah Samantha yang lagi-lagi bermulut tajam."Jangan marah dulu, Paman. Itu karena ucapan Paman terdengar mengada-ada." Ucapan Samantha dibenarkan oleh anggota keluarga yang lain."Samantha benar, Ken. Ucapanmu terdengar mengada-ada. Mana mungkin Laura yang dulunya sudah dinyatakan meninggal malah tiba-tiba muncul sebagai wanita yang sehat? Aku yakin dia pasti sudah menipumu!"Wina nampak panik, tetapi tidak dengan Lily. Dia yakin kalau Kenneth telah menyiapkan semuanya untuk menjelaskan kebenaran pada anggota keluarganya sendiri."Usir dia sekarang, Ken! Aku tidak sudi kalau dia mengotori hariku yang bahagia!" seru Arneth memojokkan Wina,

  • Layunya Cinta sang Nyonya   Bab 153

    Sama seperti dirinya, Wina mengenakan gaun buatan Lily yang nampak mewah.Gaun panjang berwarna hijau emerald yang sudah lama Lily buat akhirnya dia pakai sekarang. Warna gaun itu menjadikan kulit Wina nampak lebih putih dan bersih. Meski gaun tersebut memiliki potongan yang sederhana, tetapi hiasan berupa berlian putih dua karat yang berada di sekeliling gaun menjadikannya nampak mewah dan istimewa.Lily menatap bangga pada hasil buatannya sendiri. Terlebih aura old money yang terpancar dari tubuh Wina menjadikan gaun itu melekat sempurna ditubuhnya."Mama juga nampak luar biasa," ujar Lily tersenyum bangga."Berkat karyamu yang sangat luar biasa, Sayang."Wina juga merasa begitu bangga mengenakan gaun buatan putrinya sendiri. Apalagi saat bercermin, Wina seperti merasa tidak mengenali diri sendiri.Bahkan perias yang memoles wajahnya tadi sempat terkejut dan menatapnya kagum dengan gaun yang nampak mewah."Anda terlihat sepuluh tahun lebih muda, Nyonya," puji si perias tadi tanpa di

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status