Beranda / Pendekar / LANTING BRUGA / Kisah Silam Klan Batu 2

Share

Kisah Silam Klan Batu 2

Penulis: Pancur Lidi
last update Terakhir Diperbarui: 2021-12-15 18:45:38

50 tahun yang lalu, di Klan Batu yang berdiri di atas gunung batu hitam dikelilingi oleh cadas-cadas tinggi, terbakar oleh serangan musuh yang datang tak terduga, dengan pasukan tak terhitung jumlahnya.

Kala itu terdengar jerit ketakutan Klan Batu ketika petinggi-petinggi Darah Besi datang tak kenal ampun.

Apa yang ada dihancurkan, semua yang bernyawa dimatikan, atau ditangkap untuk dijadikan tawanan.

"Ketua Klan Batu, serahkan Kitab Aura Batu Hitam kepada kami, hanya dengan itu semua klanmu akan diampuni ..." suara Ketua Agung Aliran Darah Besi begitu mengintimidasi.

Kala itu, Ketua Agung ke empat mendengar kabar mengenai teknik langka yang sakti mandraguna. Itu adalah Kitab Aura Batu Hitam, yang dimiliki oleh Klan Batu.

Ketua Agung 4 berniat mendapatkan kitab tersebut, dan mempelajarinya secara langsung.

Dikirim puluhan tim rahasia untuk menemukan lokasi keberadaan Klan Besi, dan pada akhirnya timbullah mala petaka hari ini.

"Kau ti

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (15)
goodnovel comment avatar
nasibmagang00
Zzzzzzzzzzzz
goodnovel comment avatar
K. Sarman
sdh ku kasih byk diamond thor, bsk wajib bab min 5 ...
goodnovel comment avatar
Deni Raditia
tambah dongg thorr
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • LANTING BRUGA   Masahiro Bertindak

    Serangan yang diciptakan oleh Garuda Kencana berhasil memicu semua lawan untuk keluar dari dalam goa mereka.Teriakan dan umpatan keluar dari mulut para pendekar, memaki Lanting Beruga yang terbang bersama Garuda Kencana.Setiap bulu perak yang dilancarkan oleh siluman burung berkaki empat itu, mampu melukai pendekar yang berada di bawah level tanpa tanding."Berlindung!" teriak para pendekar rendahan itu.Sementara di sisi lain lagi, Mura dan dua temannya nyaris saja muntah darah melihat tindakan Ketua Aliran Barat yang bodoh itu.Mereka sedang menyusun rencana untuk menyerang pasukan musuh, tapi belum pula selesai rencana itu mereka buat, Lanting Beruga lebih dahulu menyerang mereka."Oi ..., kalian ada di sana?!" teriak Lanting Beruga.Semua musuh serentak melihat ke arah dinding cadas, dimana Mura dan dua temannya yang lain sedang bersembunyi."Kalian tidak tersesat!" teriak Lanting Beruga."Sial, kenapa dia berteria

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-16
  • LANTING BRUGA   Pertarungan Sengit

    Pertarungan antara Hantu batu dan Masahiro terjadi begitu sengit. Dalam beberapa saat saja, kedua orang itu telah bertukar puluhan serangan mematikan. Sesekali muncul batu besar ke arah Masahiro, kadang kala berbentuk seperti mata bor yang tajam, kadang kala pula berbentuk seperti tombak. Namun, dengan penguasaan aura alam elemen air, Masahiro berhasil menahan semua serangan itu dengan cukup baik. Lanting Beruga sedikit takjub melihat kehebatan Masahiro, dan berpikir pemuda itu memang layak menjadi salah satu kandidat Ketua Aliran Barat. Satu-satunya yang kurang dari Masahiro adalah kecepatannya. Dia tidak lebih cepat dari Akemi, tapi serangannya sangat kuat dan tajam. Setiap ayunan pedang yang mengirim tebasan air dapat dengan mudah memotong beberapa pohon atau batu di sekitar Masahiro. "Hujan Batu!" teriak Ki Emon alias Hantu Batu. Ratusan batu berukuran roda kereta kuda berjatuhan dari langit, mengarah ke tubuh Masahiro.

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-16
  • LANTING BRUGA   Jangan Harap Selamat

    Pergi! banyak orang berteriak saat ini ketika Ketua Aliran Sesat melepaskan tekanan kuat dari tubuhnya.Gelombang kejut itu meratakan wilayah kecil ini, menyapu bersih pohon-pohon yang ada.Tubuhnya memancar aura yang tidak biasa, bersama dengan ledakan cakra yang menggebu-gebu.Dia mulai melayang ke udara, seraya mengangkat satu tangan ke atas. Mendadak, menggumpal energi berwarna biru kehitaman di tengah telapak tangan Ketua Aliran Sesat itu."Hancur!" ucap pria itu.Dia menjatuhkan energi itu ke arah Lanting Beruga, jatuhnya terlihat begitu lambat padahal sangat cepat.Lanting Beruga melompat ke belakang, menghindari serangan tersebut, tapi hal besar terjadi setelah energi biru tua itu menyentuh tanah.BOOOM.Ledakan dahsyat akhirnya terjadi, semuanya terhempas, batu besar lenyap menjadi debu, pohon tinggi hancur lebur.Semua orang berteriak, termasuk pula para petinggi aliran sesat ini.Mura melarikan diri sek

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-17
  • LANTING BRUGA   Akhiri Pertarungan Ini

    Di sisi lain lagi, Akemi dan Masahiro harus berjuang keras dari serangan kombinasi dua petinggi aliran sesat ini.Ki Emon menyerang dengan ratusan batu yang menerjang benda apapun, sementara temanya berdiri di atas kepala raksasa batu dan melepaskan serangkaian panah yang kuat.Meskipun Akemi berusaha keras untuk mendekati lawannya, akan sulit dilakukan sebab Hantu Batu selalu melindungi temannya.Panah-panah berwarna hijau tua itu benar-benar cepat, atau mungkin perasan Akemi saja? entahlah, yang jelas kombinasi dua petinggi aliran sesat itu benar-benar berbahaya.Bom bom bom.Tiga ledakan terjadi di dalam hutan di dekat cadas ini, itu ulah dari panah-panah tersebut."Semburan Batu!" teriak hantu batu, suaranya menggelegar memekakkan telinga, seperti guntur.Seketika, ada ratusan batu sebesar kereta kuda mengarah ke tubuh Akemi dan Masahiro.Masahiro berhasil menebas beberapa batu yang hampir membuatnya celaka, tapi Akemi nyar

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-17
  • LANTING BRUGA   Serangan Dahsyat

    Mendengar hal itu, Lanting Beruga hanya tersenyum tipis dia setuju dengan ucapan Ketua Aliran Sesat ini.Ketua Aliran Sesat kembali melayang di udara, kali ini dia menggunakan dua telapak tangannya ke arah langit, mendadak muncul bola energi berwarna biru kehitaman.Pancaran bola energi itu membuat seisi binantang di dalam hutan lari karena ketakutan.Bumi kembali berguncang, tanah merekah dan ada lebih banyak bebatuan yang terangkat ke atas, seolah kehilangan gaya gravitasinya.Pijaran kuat bola energi itu membuat bulu kuduk para penduduk yang ada di atas permukaan berdiri. Mereka benar-benar khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan desa kecil, tampaknya akan terjadi kiamat kecil di sana.Tangisan beberapa anak masih terdengar nyaring di telinga, beriring dengan rentak para hewan ternak yang gelisah di kandang mereka.Udara kala itu bergerak tidak beraturan, terasa sedikit lebih dingin dibandingkan dengan udara di pagi hari.Bola

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-18
  • LANTING BRUGA   Kota Diluar Peta

    Masahiro menyadari sesuatu, Ki Emon melarikan diri. Dia berniat mengejar Hantu Batu itu, tapi apalah daya tenaganya kini telah terkuras habis. Yang tersisa hanya sedikit tenaga dalam, digunakan untuk menyembuhkan luka-luka yang diterimanya. Setelah kematian Ketua Aliran Sesat itu, Lanting Beruga nyaris saja jatuh berlutut di permukaan tanah gersang yang berbentuk seperti kawah. Tidak ada apapun di sekitar pemuda tersebut, kecuali tanah kering nan tandus. Semua pohon telah lenyap, bebatuan besar telah hancur, bahkan setengah dari dinding cadas tinggi di sekitarnya telah runtuh. Pemuda itu berjalan mendekati tiga temannya, dengan tubuh terhuyung dan mata kiri yang tertutup. Untuk beberapa waktu kemudian, Lanting Beruga mungkin tidak dapat menggunakan mata kirinya, karena sekarang kepalanya benar-benar terasa begitu sakit. "Apa yang akan kita lakukan?" tanya Mura, ketika empat orang itu kini telah berkumpul di atas permukaan dinding tebin

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-18
  • LANTING BRUGA   Bidadari Abadi

    Kelakukan Lanting Beruga berhasil menarik perhatian lawan-lawannya. Satu persatu dia menculik penjaga gerbang cadas alami, dan melucuti semua pakaiannya.Sisa dari 20 orang pada akhirnya menjadi sibuk dan khawatir, dengan pedang terhunus, mereka mengejar bayangan merah yang masuk ke dalam hutan."Laporkan masalah ini kepada yang lain!" perintah salah satu penjaga kepada temannya.Yang diperintah hanya mengangguk, kemudian bergegas memasuki lorong panjang setelah melewati gerbang utama Kota.Namun, orang itu tidak melaporkan kejadian yang sebenarnya, dia malah berjalan ke sisi lain seraya menundukkan kepala."Huuuhhh..." orang itu menghela nafas panjang, "Seragam ini membuatku sesak," ucapnya, yang tak lain adalah Lanting Beruga. "Dasar penjaga bodoh," dia kemudian tertawa terbahak-bahak.Pemuda itu mulai berkeliaran di dalam kota, seperti bagian dari kota tersebut. Namun, tiba-tiba seorang pendekar menyadari keberadaannya."Apa yang k

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-19
  • LANTING BRUGA   Sumber Daya Pelatihan

    Wanita cantik itu menaikan alisnya, sepertinya mengetahui bahasa yang digunakan oleh Lanting Beruga, tapi sayangnya dia sudah begitu kesal. Lanting Beruga diserang dengan membabi buta.Sekalipun pemuda itu tidak menyerang balik, dia sibuk memperingatkan wanita itu untuk mengenakan baju. Sangat memalukan jika sampai orang lain melihat tubuh mulus wanita tersebut, apa lagi jika itu adalah laki-laki.Tunggu! bukankah Lanting juga laki-laki? ah dia tidak masuk dalam perhitungan.Karena tidak melawan, Lanting Beruga terkena pukulan di wajahnya, membuat pemuda itu terjungkal beberapa depa, sebelum kemudian hilang lagi di dalam telaga pemandian.Namun, tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi.7 sumur keramat mengeluarkan air yang melimpah, seolah air di tempat ini hidup dan memiliki nyawa.7 aliran air menyatu ke dalam pemandian keramat, dan hal tak terduga terjadi setelahnya."Tunggu, apa yang terjadi?" wanita itu benar-benar heran. "Semua sumu

    Terakhir Diperbarui : 2021-12-19

Bab terbaru

  • LANTING BRUGA   TAMAT

    Satu minggu telah berlalu, dan kini sudah waktunya bagi Rambai Kaca untuk pergi dari dunia lelembut.Dia telah menyiapkan semuanya, mental dan keberanian, bertemu dengan manusia untuk kali pertama bagi dirinya.Ibunya hanya bisa pasrah dengan pilihan Rambai Kaca, dia hanya bisa menyeka air mata yang setiap saat keluar membasahi pipi.Sementara itu, Pramudhita tampaknya begitu tabah melepaskan kepergian putra angkat yang telah dibesarkan00000000 dari bayi.Namun, ada yang lebih parah, yaitu Nagin Arum. Dia bersikeras untuk pergi bersama Rambai Kaca ke alam manusia, bahkan setelah ayahnya menjelaskan mengenai kehiudapan manusia, dia tetap bersikeras untuk pergi ke sana.Ya, impian Nagin Arum adalah keluar dari alam ini, dan berniat untuk menjelajahi seluruh dunia. Menurut dirinya, di sini dia tidak bisa hidup dengan bebas, ada batas-batasan yang ada di dalam alam lelembut tersebut.“Ayah, apapun yang terjadi, kau harus memikirkan caranya agar aku bisa pergi bersama Rambai Kaca!” ketus N

  • LANTING BRUGA   Keinginan

    Dua hari telah berlalu, pendekar dari Padepokan Pedang Bayangan terlihat sedang berbenah saat ini. Membenahi apa yang bisa dibenahi, seperti bangunan dan beberapa peralatan lainnya.Terlihat pula, ada banyak pendekar yang dirawat di dalam tenda darurat. Para medis bekerja cepat, memastikan tidak ada satupun dari korban yang mati.Di salah satu tenda darurat tersebut, tiga anak Pramudhita masih terkapar dengan kondisi tubuh penuh dengan ramuan obat-obatan.“Apa mereka baik-baik saja?” Rambai Kaca bertanya kepada salah satu tabib muda di sana. Dia sudah berada di tempat itu sejak tiga saudara angkatnya dibawa oleh Pramudhita.Meskipun Rambai Kaca juga terluka cukup parah, tapi tubuhnya luar biasa kuat, dia mampu bertahan, bahkan masih bisa berdiri atau bahkan berlari.Ditubuhnya sengaja dililit oleh banyak perban, menunjukan jika Rambai Kaca sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, hal biasa bagi pemuda itu merasakan sakit seperti ini, jadi ini bukanlah hal yang harus dipikirkan.“Ketig

  • LANTING BRUGA   Maaf

    Satu gerakan dari pemuda itu melesat sangat cepat, tepat menuju leher pria tersebut yang saat ini tengah bersiap dengan serangan yang di berikan oleh Rambai Kaca barusan.Melihat pemuda itu bergerak sangat cepat, Reban Giring menggigit kedua rahangnya, sembari menatap Rambai dengan tajam, kemudian bersiap dengan gerakan kuda-kuda.Nafasnya kembali teratur ketika dia melakukan gerakan barusan, lalu menyilangkang senjata yang dia miliki tepat ke arah dada.Sesaat kemudian, dia melesat kearah Rambai Kaca lalu melepaskan jurus Murka Pedang Bayangan.“Dengan ini, matilah kau..!!”Satu teriakkan pria itu menggema di udara, yang membuat siapapun yang mendengarnya, akan merinding ketakutan.Namun, hal itu tidak berlaku pada Rambai Kaca, yang seakan meminta hal tersebut benar-benar terjadi terhadap dirinnya.Dengan jurusnya tersebut, Reban Giring melepaskan semua tenaga yang dia miliki berharap ia dapat mengenai pemuda itu tepat sasaran.Wush.Tebasan itu di lepaskan ketika jarak mereka tingg

  • LANTING BRUGA   Terserah

    Di sisi lain, Pramudita yang saat ini telah berhasil membunuh semua sosok hasrat berukuran besar, sempat terdiam beberapa detik, ketika ia melihat dari kejauhan langit berubah warna menjadi hitam pekat.Tidak hanya itu, dari sumber cahaya kehitaman tersebut, sempat terjadi kilatan petir di ikuti dengan beberapa ledakan yang mengguncang area tersebut.Dari sana, dia dapat menebak, jika saat ini terdapat seseorang yang sedang bertarung di tempat itu, akan tetapi ia bahkan telah menebak jika serangan beberapa saat yang lalu di akibatkan olah anaknya sendiri.“Rambai Kaca, apa yang sedang terjadi?” gumamnya bertanya.Namun pada yang sama, dia mulai menyadari jika dari cahaya berwarna hitam pekat itu, tidak lain ialah kekuatan yang di timbulkan dari kegelapan.Saat ini, Pramudita dapat menebak, jika Rambai Kaca tengah bertarung dengan sosok yang tidak lain ialah Reban Giring.Anggapan itu di landasi oleh tindakan yang telah di lakukan Reban Giring sebelumnya, ketika memulai pertempuran yan

  • LANTING BRUGA   Matilah

    Pedang Bayangan...." Satu jurus tersebut melesat, dengan terbentuk nya beberapa pedang bayangan yang melesat kearah sosok hasrat. Bom. Ledakan terjadi cukup besar, ketika jurus yang di lepaskan Pramudita berhasil mengenai musuh. Ya, satu serangan tersebut berhasil membunuh setidaknya, tiga atau lebih sosok hasrat yang berukuran besar. Tentu hal tersebut tidak dapat di lakukan oleh siapapun, selain Maha Sepuh Pramudita. Jabatan yang pantang bagi seseorang dengan kemampuan sangat tinggi. "Berakhir sudah."Di sisi lain, saat ini tengah terjadi gejolak batin yang mendalam bagi seorang pria ketika tengah merasa sangat kehilangan akan kehadiran sosok seorang adik. Isak tangis tidak dapat terbendung, ketika ia berusaha untuk menghampiri adiknya tersebut.Dengan langkah yang tertatih ia berusaha sekuat tenaga, tetapi langkah yang ia lakukan, bahkan tidak sebanding dengan jumlah tenaga yang dia keluarka"Adik...""Bertahanlah!"Langkah demi langkah berhasil membuatnya tiba di tempat ya

  • LANTING BRUGA   Satu Serangan

    Tubuh Reban Giring saat ini, tengah terdorong mundur akibat mendapat serangan tak terduga oleh Rambai, yang menyerang lehernya.Beberapa pohon bahkan telah tumbang dibuatnya, akibat bertabrakan dengan tubuh pria tua itu, sementara Rambai Kaca masih melakukan gerakan mendorong dengan tangan yang mencekik leher pria tua tersebut.Tidak banyak yang dapat pria itu lakukan, selain berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman jurus yang telah Rambai Kaca berikan. Brak. Brak. Beberapa pohon kembali tumbang, sementara mereka melesat dengan cepat, yang pada akhirnya gerakan tersebut berhenti ketika Rambai Kaca merasa cukup terhadap aksinya. "Bocah sialan!" "Kau bebas untuk berkata sesuka hatimu." timpal Rambai Kaca."Hiat.!"Kerahkan semua kemampuan yang kau miliki, Bocah!" Dalam keadaan ini, Reban Giring sempat menggigitkan kedua rahangnya, untuk bersiap menerima serangan dari Rambai Kaca, ketika telah mencapai titik dimana pemuda ini akan melepaskan tekanan tenaga dalam yang tinggi.

  • LANTING BRUGA   Terlambat

    Melihat Eruh Limpa dan Nagin Arum yang sudah tidak berdaya, Reban Giring berniat untuk segera mengakhiri nyawa kedua orang tersebut. Perlahan pria itu mendekati Nagin Arum yang terlihat masih berusaha untuk meraih tangan kakaknya, akan tetapi bergerakan wanita itu terpaksa berhenti, ketika Reban Giring menginjak tangannya. Tidak hanya itu, saat ini, Reban Giring sedang menekan kakinya dengan cukup kuat, sehingga membuat Nagin Arum berteriak. "Aggrr..!" Rasa sakit tiada tara sedang di rasakan oleh Nagin Arum yang berusaha untuk melepaskan tangannya dari injakkan kaki Reban Giring saat ini. Melihat hal tersebut, Eruh Limpa hanya bisa memaki pria itu, lalu mengutuknya beberapa kali dengan melampiaskan rasa amarahnya menggunakan kata-kata. Namun sayang, hal tersebut bahkan tidak dihiraukan sama sekali oleh Reban Giring dengan tetap melakukan aksinya, seakan sedang menikmati rasa sakit yang dialami oleh wanita tersebut. "Ini belum seberapa!" ujarnya, "Setelah ini, akan ku pastik

  • LANTING BRUGA   Ingin Menjadi Mahasepuh

    Kedua kakak beradik tersebut lantas langsung mengejar keberadaan Reban Giring yang sempat mereka lihat tengah terluka. Hal itu menjadi sesuatu yang sangat mereka nantikan, karena menduga jika mereka akan dapat mengalahkan pria itu dengan cukup mudah. Namun di saat yang sama, salah satu pria juga menyadari kepergian Eruh Limpa dan Nagin Arum, akan tetapi saat ini, pria itu masih sibuk berhadapan dengan musuh yang seakan tidak pernah habis. "Mau kemana mereka pergi?" batinnya bertanya. Saat ini, pemuda yang tidak lain memiliki nama Saka ini, tengah menjadi pusat perhatian, ketika dia menggila dengan jurusnya yang mematikan. Tebasan demi tebasan berhasil membunuh sosok hasrat yang berada di dalam jangkauannya, sehingga hal itu membuat para sepuh sempat merasa kagum atas aksi yang telah dia lakukan. Bukan hanya kagum, bahkan beberapa sepuh, berniat untuk mengangkat menantu pria itu, akan tetapi jika Pramudita mengiyakan tentunya. "Menarik, sungguh menarik!" ujar salah satu Sepuh.

  • LANTING BRUGA   Apakah Terluka

    Di sisi lain, Rambai Kaca dan Tabib Nurmanik yang saat ini tengah menyusul rombongan yang berada paling depan, perlahan mulai mendekat kearah pasukan yang tengah bertarung melawan musuh-musuh mereka. Melihat hal tersebut, kedua orang yang baru saja tiba ini, lantas lasung mengambil posisi masing-masing untuk berhadapan dengan para sosok hasrat yang semakin menggila. Dengan beberapa gerakan, Rambai Kaca berhasil membunuh satu sosok hasrat dan menyelamatkan hidup satu orang pasukan mereka yang hampir saja tewas, akibat tidak dapat mempertahankan diri, dari serangan sosok hasrat yang menyerangnya. "Tuan muda, terimakasih!" Mendengar jawaban dari pria itu Rambai Kaca hanya mengangguk satu kali, sebelum dirinya bergegas menuju pasukan paling depan, seakan tidak begitu peduli dengan kondisi yang menimpa orang tersebut. Tampaknya pemuda itu sedang merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi, sehingga membuat dia bergerak lalu mengeluarkan jurus kilat putih yang membantunya seakan m

DMCA.com Protection Status