RENCANA RESIGN "APA? SERIUS?" Wulandari hampir menyemburkan gulai patin yang tengah dimakannya bersama Arini di teras mushola swalayan Basmalah. Wanita itu melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan Arini. Buru-buru dia menenggak air putih di botol minumnya hingga sisa separuh. "Jangan main-main, Rin. Kamu yakin?" tanya Wulandari sambil menghentikan aktivitasnya. Arini baru saja menceritakan niatnya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tentu saja hal tersebut membuatnya tak percaya. Rasanya amat mustahil Arini mengambil langkah seberani ini. "Sepertinya aku yakin, Lan. Rasanya nggak bisa selamanya seperti ini. Lagi pula aku benar-benar kepikiran Rafa yang harus tinggal sendirian selama aku bekerja." Arini menatap kotak nasi miliknya. Semenjak tinggal di rumah Bu Ningrum, Arini sudah bisa menikmati makanan yang lebih layak. Uang yang biasanya digunakan untuk menyewa kos bisa dia gunakan untuk makan sehari-hari dengan layak. Tak ada lagi aroma gurih mie instan yang sangat
HANTAM DEWI "Umi senang, tentu saja Umi dukung kamu, Rin. Sudah saatnya kamu berkembang. Kamu punya potensi, itu yang Umi yakini semenjak pertama melihat kamu bekerja di sini." Arini menangis haru. Wanita itu nyatanya menunjukkan kebesaran hati untuk melepaskan dirinya pergi. Dia khawatir sekali dianggap tak tahu balas budi, pergi begitu saja saat swalayan tengah membutuhkan tenaganya karena bulan ini ada dua orang yang juga mengajukan resign. Satu karena menikah, yang lain alasan klasik. Dia tak diperbolehkan suaminya untuk bekerja. "Rencananya mau kapan mulai usahamu itu?" tanya Umi sambil menepuk punggung Arini. Gerakannya menunjukkan bahwa dia mendukung seratus persen langkah Arini. "Mulai Minggu depan, Umi. Kami sedang survai bahan baku dan juga mencari market yang tepat. Beberapa kali keluar masuk pasar untuk membandingkan harga yang sudah beredar di lapangan. Mudah-mudahan tak lama setelah itu usaha kami tersebut segera terwujud." Jawaban Arini membuat Umi menautkan alisny
KEJUTAN UNTUK YUDADiandra tersenyum tipis melihat Yuda menautkan alis. Bukan dia tidak tahu suaminya itu mencari seseorang sejak tadi. Namun, wanita yang mengenakan blus putih dengan jeans navy itu diam saja. Dia tahu persis Yuda tidak akan menemukannya.“Arini sudah keluar dari swalayan, Mbak.” Telepon dari Dewi kemarin membuat Diandra yang saat itu sedang istirahat makan siang langsung menghentikan kegiatan. Kabar yang Dewi sampaikan membuatnya bingung seketika. Senang dan heran memenuhi hatinya. Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepala hingga dia hanya bisa mematung.“Kapan? Kenapa?”“Dia mengundurkan diri. Mungkin mau fokus jual diri. Sepertinya lebih menjanjikan.” Ucapan sarkas Dewi dari ujung telepon membuat Diandra tertawa kencang. Wanita itu mati-matian menahan tawa karena menjadi pusat perhatian karyawan lain yang juga sedang makan di kantin.“Simpan semua informasi ini sendiri, Dew. Siang ini aku kirim uang biar kamu bisa merayakan perginya anak emas menyebalkan itu dari s
JUAL DIRI?“Nanti kita sekalian makan saja di resto, pulangnya kita bungkus untuk Ibu. Aku lapar.” Yuda melirik jam tangan. Hampir menjelang tengah hari. Wajar kalau perutnya sudah berontak minta diisi.Di sini, terpisah belasan kilometer dari swalayan tempat Yuda dan Diandra belanja. Arini bersenandung kecil mengikuti lagu yang mengalun dari MP3 player mobil. Suara Audy yang membawakan lagu Dibalas dengan Dusta terdengar merdu dan empuk di telinga.Menyakitkan, bila cintaku dibalas dengan dustaNamun mencintamu takkan kusesaliKarena aku yang memilihmuArini memejamkan mata. Dia tersenyum tipis. Ya, seperti lirik lagu yang dia dengar. Seharusnya dia tidak menyesali apa yang telah terjadi. Kalau tidak menikah dengan Yuda, maka tidak akan ada Rafa.Bahkan, kematian Naya juga ada alasannya. Kalau bukan karena dia melamun sehabis mendatangi rumah mantan mertuanya untuk meminta biaya pengobatan anaknya, tidak mungkin dia bertemu dengan orang sebaik Bu Ningrum.Takdir memang bekerja sesuai
PEMBELAAN YOVAN “Dasar wanita murahan!” Diandra mengambil gelas salah satu pengunjung dan menumpahkannya pada Arini. Cairan kuning memenuhi jilbab dan baju yang Arini kenakan.“Astaghfirullah!” Arini yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi langsung berdiri. Dia mengibas-ngibaskan bajunya yang basah. Aroma wortel tercium. “Ada apa, Di?” Arini yang kebingungan menatap Diandra tidak mengerti.“DIANDRA!” Yuda menggertakkan gigi. Dia langsung berjalan cepat dan mencengkal tangan istrinya. Lelaki itu tidak menyangka Diandra akan menyerang Arini hinga menyebabkan kekacauan di tempat itu.“Lepas, Mas!” Diandra menyentakkan tangan. “Aku muak kau terus-terusan memperhatikan perempuan murahan ini. Biar semua orang tahu kalau dia tidak pantas disini. Dasar p*la*ur! Disini bukan tempat jual diri.” Diandra menarik jilbab Arini“Ah!” Arini menahan jilbabnya agar tidak terlepas. Mati-matian dia menahan sekuat tenaga hingga kepalanya terseret kesana-kemari.“Apa-apan ini?! Lepas!” Yovan men
KECEMBURUAN TAK BERALASAN Yuda mendengus pelan mendengar ucapan Yovan. Sementara Diandra hampir saja berteriak senang mendengarnya. Tanpa kata, Yuda menarik tangan Diandra. Dalam diam, mereka menjauh dari meja Yovan dan Arini.“Huuuuuuu.” Seperti ada yang mengomando, pengunjung di tempat itu secara bersamaan menyoraki Diandra dan Yuda.“Ganggu makan siang orang aja!”“Tahu, ngamuk-ngamuk nggak jelas sok-sokan pengen ngegampar orang. Emang situ OK?”“Sok kecakepan! Iket tuh suaminya, Mbak, biar nggak jelalatan kemana-mana.”“HAHAHAHAHA.”Tempat makan itu ramai oleh sorakan dan suara tawa. Pengunjung merasa kesal karena makan siang mereka terganggu. Mereka juga bersimpati pada Arini yang pakaiannya kotor dan basah terkena siraman jus wortel“Maaf, Pak, Bu, Manajer kami ingin bicara terkait kekacauan yang terjadi juga gelas dan piring yang pecah.” Salah satu pelayan menahan langkah Yuda dan Diandra yang akan keluar dari resto.“Lah iya, sudah membuat kekacauan eh mau main lepas tangan b
MENGHINDAR PILIHAN TERBAIK“Saya bisa sendiri,” ucap Arini lirih saat Yovan sudah meraih pintu mobil untuknya. Gerakan tangan Yovan terhenti seketika. Matanya menubruk mata Arini yang kini berjarak kurang dari satu meter. Bahkan aroma tubuh laki-laki itu tercium cukup jelas oleh indra penciuman Arini. “Masuklah,” perintah Yovan dengan suara cukup tegas. Arini masuk tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Sementara Yovan sekilas menatap ke arah Yuda dan istrinya yang masih mematung di tempatnya semula. Jelas sekali di penglihatannya bahwa Yuda menyimpan kecemburuan yang tak terbantahkan. Yovan tersenyum dalam hati. Miris sekali melihat keadaan Yuda yang menurutnya amat memalukan. Bisa-bisanya seorang laki-laki cemburu pada mantan istrinya sementara istri sahnya berada di sisi laki-laki tersebut. Pantas saja Diandra semarah itu. Harga dirinya tak ada nilainya lagi. Yovan melajukan mobilnya tepat di hadapan Yuda dan istrinya. Ekor matanya melihat kekaguman yang diperlihatkan Diandra. Hal
TERIMA KASIH Yovan membeku mendengar jawaban Arini. Pemikiran Arini bahkah lebih bijak dari perkiraannya. Atau memang pemikiran seorang Ibu yang selalu mengedepankan perasaan anak dari pada perasaannya sendiri. Yovan menatap lurus ke jalanan di depannya. Pikirannya menerawang. Benar jika ibunya dulu tak memperbolehkan dirinya membenci bahkan menyumpahi ayahnya karena telah menghancurkan pernikahan kedua orangtua Yovan. Melihat Arini yang berbuat seperti itu membuatnya mengerti alasan ibunya mengatakan bahwa Arini adalah visualisasi dirinya di masa lalu. Langkah-langkah yang Arini tempuh bahkan memiliki kemiripan di berbagai sisi. Yovan masih ingat bagaimana dia mendapat perundungan dari teman-teman seusianya dulu karena dirinya terlihat berbeda dengan mereka. Tak ada kemewahan sama sekali. Bahkan dia harus puas dengan sepeda butut ke sekolah hingga selesai menempuh sekolah dasar. Jika Bu Ningrum melihat Arini sebagai cerminan dirinya di masa lalu, maka dia pun punya penilaian yang
“Mama, senyum! Lihat kemari!” ucap Rafa sambil melambaikan tangan ke arah ibunya. Sebuah buket raksasa berisi foto-foto ibunya dihadiahkan anak laki-laki itu pada Arini. Wanita itu pun memeluk buketnya meski sedikit kepayahan. Berbagai karangan bunga berisi ucapan selamat untuk para wisudawan menghiasi setiap sudut halaman auditorium yang digunakan untuk acara wisuda kali ini.Senyum Arini mengembang sempurna. Suaminya berhasil menegakkan kepala wanita yang sempat kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Yovan pun terlihat amat puas dengan hasil kerjanya membujuk wanita itu. Senyuman menawan laki-laki itu membuat Arini merasa begitu dicintai laki-laki pemilik hidung mancung itu.“Papa ambil posisi di sebelah Mama. Jangan lupa Mama dipeluk!”Arahan dari Rafa membuat Arini dan Yovan tertawa. Mereka takjub sekali dengan perubahan pada diri Rafa. Apalagi setelah dia diberitahu bahwa adiknya akan lahir dalam hitungan hari. Dia makin menunjukkan sikap protektifnya pada sang ibu.“Sekarang Pa
Tentang Bahagia Arini memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin. Kebaya berwarna hijau sage dengan kain batik yang membelit tubuh bagian bawahnya tak membuat dirinya berpuas diri. Matanya berkaca-kaca saat berkali-kali memutar dirinya di depan cermin. Kehamilannya di usia sembilan bulan ini membuat berat tubuhnya melonjak drastis. Pipinya membulat sempurna, belum lagi dagu yang seolah berjumlah dua hingga membuat dia kesusahan mengenakan kerudung untuk menutupi mahkotanya.Arini menjatuhkan dirinya di atas tepian kasur. Acara wisuda yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi tiba-tiba membuat dirinya meragu. Penampilannya yang dia nilai akan menjadi bahan tertawaan banyak orang membuat Arini hampir menyerah untuk mempersiapkan diri. Sebuah ketukan ringan dari arah pintu membuat kepalanya menoleh.“Loh, belum siap juga? Kita harus datang di gedung satu jam lagi. Kenapa toga pun belum kamu pakai?” Suara suaminya membuat Arini makin tak bisa menahan laju air matanya. Make up natural
“Diminum, Bu.” Arini meletakkan es jeruk dan setoples kue kering. Wanita itu langsung duduk di sofa yang kosong. Dia tersenyum tipis saat melihat sejak tadi tangan Ratna terus-terusan memegang tanga Rafa.“Terima kasih.” Ratna mengambil gelas dan meminumnya beberapa tegukan. Rasa asam, manis dan segar memenuhi mulut Ratna. Minuman itu cocok sekali dinikmati saat hari cerah seperti siang ini. “Sudah berapa bulan?” Ratna memperhatikan perut Arini yang mulai menyembul.“Masuk lima.” Arini refleks mengelus perut. “Apa yang mau dibicarakan, Bu? Tidak biasanya Ibu pergi sendirian. Jarak rumah kesini lumayan jauh.” Arini memperhatikan wajah Ratna yang sejak tadi tampak mendung. Mata wanita tua itu dipenuhi kabut seakan menyimpan kesedihan yang tak berujung.“Ibu mau minta maaf ….” Ucapan Ratna terpotong karena tangis. Mantan mertua Arini mendadak terisak kencang. Dia tidak bisa mengendalikan air mata saat mengingat perlakuan buruknya pada Arini dulu. “Ibu mau minta maaf atas semua kesalahan
“Jadi, nanti perut Mama akan membesar ya, Ma? Terus Adik bayinya keluar dari mana?”Arini menarik napas panjang. Rafa memang banyak bertanya setelah mengetahui kalau di perutnya ada bayi. Anak lelaki itu sangat senang sekaligus juga penasaran. Berbagai pertanyaan dia lontarkan. Pertanyaan yang kadang membuat Arini harus memutar otak dengan keras agar bisa menjawab sesuai dengan umur dan pemahaman anaknya.“Manusia akan melalui tiga alam selama hidup. Pertama, alam dunia, tempat kita saat ini. Kedua, alam barzah, tempat kita menanti hari kiamat tiba. Ketiga, alam akhirat, tempat kita mempertanggungjawabkan semua perbuatan.” Arini menjawab setelah cukup lama terdiam. “Sudah dapat pelajaran di sekolah ‘kan tentang alam-alam ini?” Arini mengelus kepala Rafa pelan.Rafa mengangguk pelan. Anak itu ingat kata guru agamanya, kalau anak nakal, nanti dia akan mendapat balasan di akhirat. Kalau mencuri tangannya akan dipotong berkali-kali. Sebaliknya, kalau dia menjadi anak rajin dan senang memb
IRI “Mas, sudah kubilang percuma kita kemari. Memang Tuhan itu belum ngasih karena dia lihat Mas Yuda belum mampu menafkahi anak kita nantinya, jadi dia lebih milih buat nunda. Kok kamu jadi maksa-maksa gini? Buang-buang waktu tahu nggak?”Diandra mendekap kedua tangannya. Baru saja dia dan Yuda sampai di sebuah klinik kandungan yang direkomendasikan salah seorang temannya. Klinik yang saat Diandra melihat list harga konsultasi dan tindakan yang dilakukan cukup membuat matanya melotot tak percaya. Rasanya sayang sekali uang sebesar itu digunakan untuk hal tidak penting seperti ini.“Mas. Mending uangnya buat liburan atau memanjakan diri di spa seharian. Paling tidak untuk senang-senang dari pada ngendon di rumah seharian. Bukan nggak mungkin gara-gara stress di rumah yang membuatku susah hamil begini!”Yuda hampir membentak istrinya jika tak menyadari posisi mereka saat ini. Rasanya telinganya gatal mendengar istrinya berbicara kasar seolah ibunyalah penyebab dia belum juga diberi ke
KECEMASAN ARINI Arini meremas tangan suaminya. Laki-laki itu tersenyum. Setelah perdebatan panjang akhirnya Arini bersedia ke klinik yang sudah direkomendasikan dokter Wisnu saat Yovan menanyakan dokter kandungan yang bagus untuk istrinya. Sebenarnya bisa saja dia membawa Arini ke klinik yang dulu selalu dia datangi bersama Raline saat istri pertamanya itu hamil.Tetapi dia mengurungkan hal tersebut demi menjaga perasaan istrinya. Pasti Arini akan merasa tak nyaman karena menganggap Yovan sengaja membawa dirinya ke tempat dimana kenangannya bersama Raline sebagian besar terekam di sana. “Mas?”“Ya?” Senyum di bibir Yovan belum juga pudar. Bayangan tentang detik-detik pertama istrinya memberikan benda yang dia angsurkan sebelumnya membuat laki-laki itu tak bisa kehilangan kebahagiannya. Arini menunjukkan trip dua pada benda yang dibeli suaminya melalui layanan aplikasi belanja online itu. Yovan yang sebelumnya berdiri menyederkan tubuhnya di tembok depan itu hampir melompat kegiranga
TEST PACKMata Yovan kembali menyipit. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan istrinya saat ini. Yang dia lakukan langsung beranjak ke kamar mereka di lantai dua. Dia kehilangan daya saat melihat istrinya bermuram hingga tak berani sama sekali dia mendebatnya. Laki-laki itu pun merasa mati langkah saat hari liburnya justru bertepatan dengan jadwal Rafa di rumah Yuda.Laki-laki itu bahkan ingin sekali melarang anaknya pergi ke rumah ayah kandungnya jika tak ingat hal itu akan membuat suasana sejuk yang tercipta dengan laki-laki itu akan kembali memanas dan tentu akan berdampak pada hubungan mereka. Apalagi Yuda sudah menjanjikan anaknya melakukan kegiatan yang sama lagi seperti saat itu. Memancing di danau dan membakar ikan di tepian yang membuat bibir mungil Rafa tak henti-hentinya bercerita aktivitas yang menyenangkan itu.Baru saja hendak memakai kaos berwarna merah miliknya, Arini yang tiba-tiba masuk mencegah laki-laki itu.“Jangan yang itu, Mas. Warna itu merusak pandangan mataku.
SIKAP ANEH ARINIArini duduk di atas sofa ruang belakang. Tatapannya tertuju ke arah luar jendela dimana pohon palem yang berderet rapi di halaman terlihat meliuk-liuk diterpa angin. Hujan yang turun membuat pepohonan di luar sana tampak segar. Aroma petrikor yang berasal dari tanah kering yang tersiram air hujan terasa sekali di indra penciuman Arini.Tetapi kali ini reaksi yang dirasakan Arini terasa lain. Tidak seperti biasanya saat hatinya bersorak menikmati aroma khas yang keluar saat awal-awal hujan turun. Arini bahkan beranjak dari posisi duduknya saat ini demi menutup jendela berharap bau khas itu segera menghilang secepatnya.“Kucari-cari kenapa justru di sini?”Suara suaminya membuat Arini tersentak. Beberapa saat kemudian dia membetulkan anak rambut yang berkeliaran bebas di dahinya. Keheningan rumah itu membuat mood Arini mudah sekali memburuk. Suaminya itu langsung mengambil posisi berhimpitan dengannya. Aneh, seketika Arini menggeser tubuhnya hingga menambah jarak di ant
“Mama!” Rafa berteriak senang saat mobil Yovan memasuki halaman. Bocah laki-laki itu langsung berlari saat Arini keluar dari mobil. “Kangen.” Rafa tertawa-tawa saat Arini memeluknya erat-erat. Dia semakin terkekeh geli saat Arini menciumi wajahnya bertubi-tubi.“Papa.” Rafa langsung menyalami Yovan setelah berhasil lepas dari pelukan Arini. Dia mengangguk senang saat Yovan dengan mudah mengangkat tubuhnya.Disini, Yuda mengeluh pelan melihat keharmonisan keluarga di hadapannya. Rafa tampak sangat senang digendong Yovan. Sementara Arini menggandeng tangan Yovan dengan sebelah tangan menenteng paper bag biru. Keluarga kecil yang terlihat sangat harmonis. Siapapun pasti akan mengira kalau Rafa adalah anak Arini dan Yovan.“Assalamualaikum, Mas.”“Waalaikumussalam.” Lamunan Yuda terhenti mendengar salam Arini. Dia langsung berdiri dan membalas jabat tangan Arini dan Yovan. “Masuk dulu. Mama dan Diandra sedang keluar. Mama mertua mau mengadakan hajatan jadi mereka bantu-bantu.”“Kami dilua