Share

Bab 120. Penyamaran Welung Pati

Author: Andy Lorenza
last update Last Updated: 2025-02-04 23:23:28

Arus Sungai Berantas mengalun tenang di pagi yang cerah itu, sebuah perahu kecil meluncur perlahan melawan arus dari arah seberang. Di atasnya ada dua orang penumpang berpakaian seperti petani, yang satu berusia hampir setengah abad. Rambutnya yang disanggul di sebelah atas sebagian nampak putih. Raut wajahnya yang terlindung oleh caping lebar jauh lebih tua dari usia sebenarnya, kumis dan janggutnya lebat.

Tetapi jika orang berada dekat­-dekat padanya dan memperhatikan wajahnya dengan seksama akan ketahuan bahwa kumis dan janggut lebat itu adalah palsu, orang bercaping itu duduk di sebelah depan perahu. Kedua matanya memandang lurus-­lurus ke muka, sesekali tangan kanannya meraba sebilah keris yang terselip di pinggang, tersembunyi di balik pakaian hitamnya.

Orang kedua adalah pemuda berbadan kekar, pakaiannya lecek dan basah oleh keringat. Sehelai kain kuning terikat di keningnya, rambutnya yang panjang tidak disanggul di atas kepala, tapi dibiarkan terlepas menjela pundak.

"Ketua,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 121. Menghasut

    "Lihat saja dengan diriku, pengabdian dan jasa apa yang tidak aku lakukan untuk Kerajaan, aku tidak mengharapkan dianggap sebagai pahlawan besar. Jalan pikiranku dicurigai, perlakuan terhadap diriku sungguh menyakitkan. Aku dipaksa menerima nasib ditendang dari Kotaraja,” tutur Adipati Gadra."Siapa yang bisa hidup tenang dan leluasa saat ini Kangmas Adi," kata Adipati Seto Wirya pula."Lihat saja dengan diriku, pengabdian dan jasa apa yang tidak aku lakukan untuk Kerajaan, aku tidak mengharapkan dianggap sebagai pahlawan besar. Jalan pikiranku dicurigai, perlakuan terhadap diriku sungguh menyakitkan. Aku dipaksa menerima nasib ditendang dari Kotaraja,” tutur Adipati Gadra."Dimas, siapakah pemuda yang tampan ini?" sambung Adipati Gadra."Namanya Welung Pati, Dia Ketua Padepokan Gagak Timur. Dia orang kepercayaan ku yang bakal banyak memberikan bantuan dalam rencana kita. Dan dia pula lah yang aku minta tolong untuk berkirim pesan berupa surat kepada Kangmas Adi," jawab Adipati Seto W

    Last Updated : 2025-02-06
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 122. Dipermainkan

    "Aku meragukan hal itu Kangmas, lihat caranya duduk berjuntai di batang pohon. Makan cempedak sambil menggoyang-goyangkan kaki, seorang mata-mata tidak akan melakukan hal itu." ujar Adipati Seto Wirya alias Danar."Siapapun dia kita harus menyelidiki, aku akan memberi tahu para pengawal. Tempat ini harus segera dikurung, jangan sampai orang itu melarikan diri. Kau tunggu di sini, awasi dia.”"Cepatlah!" kata Adipati Seto Wirya."Suruh Gandita kemari!" sambungnya.Orang yang duduk di batang pohon sambil memangku buah cempedak matang dan harum sepertinya tidak tahu kalau dirinya di awasi, dia terus saja menyantap buah itu sambil duduk berjuntai goyang-goyangkan kedua kakinya.Kulit cempedak dan juga biji buah itu dibuang seenaknya ke bawah, beberapa potongan kulit dan biji malah ada yang jatuh ke dalam perahu milik Welung Pati yang ditambatkan di tepi Sungai Berantas itu.Kulit cempedak dan juga biji buah itu dibuang seenaknya ke bawah, beberapa potongan kulit dan biji malah ada yang ja

    Last Updated : 2025-02-07
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 123. Perintah Menangkap

    Di atas perutnya dia memegang buah cempedak dan mulutnya saat itu sudah mengunyah buah itu kembali, tentu saja semua orang terkejut melihat hal itu. Bagaimana tubuh seseorang bisa jatuh ke atas perahu tanpa mengeluarkan suara, bahkan kelihatannya perahu itu hampir tidak bergoyang.Air Sungai Berantas pun tidak tampak beriak, di atas pohon Welung Pati marah bukan main. Dia benar-benar merasa dipermainkan di hadapan orang banyak, segera dia melompat ke bawah ke arah perahu.Sambil melayang turun kaki kanannya ditendangkan ke kepala pemuda yang duduk di dalam perahu itu. Kali ini pria berpakaian putih rupanya jadi merasa jengkel juga diserang terus-terusan begitu rupa, kaki kanannya diinjakkan ke kayu pendayung di lantai perahu, pendayung itu melesat ke atas, melayang ke arah Welung Pati.Welung Pati menggeram marah, tendangannya yang seharusnya mengenai kepala pemuda itu, kini terhalang oleh kayu pendayung.“Praakk!” Kayu pendayung patah dua, mencelat ke udara lalu jatuh ke dalam Sunga

    Last Updated : 2025-02-08
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 124. Welung Pati Gusar

    "Penghinaannya sudah keterlaluan!" geram Adipati Gadra sambil mengepalkan tinju"Lepaskan panah beracun!" teriaknya.Tiga orang anak buahnya segera menyiapkan busur dan panah beracun. Tetapi ketika tiga panah itu melesat ke seberang Sungai, Pendekar Rajawali Dari Andalas sudah lenyap, hanya suara tertawanya yang masih terdengar di kejauhan."Manasia itu tidak gila!" kata Adipati Gadra."Kalau dia memang sempat mendengar pembicaraan kita, keadaan bisa sangat berbahaya," ujar Danar pula, raut mukanya tampak jadi gelisah."Aku akan sebar orang untuk mencari jejaknya." Adipati Gadra juga tampak tidak tenang.Yang paling terpukul adalah Welung Pati, Ketua Padepokan Gagak Timur itu berulang kali kelihatan mengepalkan kedua tinjunya bahkan membanting-banting kaki. Dia memisahkan diri dari orang-orang di tepi sungai itu.Dalam hatinya dia tidak habis pikir,“Tamparanku seharusnya sudah cukup membuat pemuda itu cedera berat, tapi bahkan jotosanku seperti tidak ada apa-apanya! Aku malu sekali!

    Last Updated : 2025-02-10
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 125. Keusilan Arya

    Meskipun agak geli-geli Arya mengangkat Ulat Daun dari atas daun lalu dilemparkannya ke atas pohon. Si gemuk di atas pohon yang masih terus tertawa gelak-gelak tampak kaget ketika sebuah benda hijau bergelung melesat ke arah mulutnya yang terbuka lebar.Cepat dia meniup ke bawah, Ulat Daun itu mental tetapi kini justru jatuh dan menempel di perutnya yang tersembul di sela baju yang tidak terkancing."Wadauuuuw….! Ulat! Ulat Daun…! Tolong..!"Sekujur tubuh si gemuk menggigil, mukanya yang tadi merah karena tertawa terus­terusan kini menjadi pucat pasi. Ternyata dia takut sekali pada Ulat Daun yang kini menempel di perutnya yang gendut berlemak itu.Kedua kakinya digoyang-goyangkan, kedua tangannya bergerak kian kemari kalang kabut. Dia coba pergunakan tangan untuk menjentik binatang itu tapi tak jadi karena merasa sangat jijik.Saking bingungnya dia melompat ke cabang pohon yang lain, bergelantungan sambil melejang-lejangkan kedua kakinya."Tolong! Wadauwww…. Ulat…. Tolong!" teriak si

    Last Updated : 2025-02-10
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 126. Dewa Pesing

    "Aku melihat… Ha… ha.., ha… ha…! Ada beberapa orang prajurit Kerajaan Kediri dipreteli orang celananya hingga waktu mereka keluar dari air dalam keadaan bugil! Anunya pada bergelantungan ke mana-mana….! He… ha… ha! Apakah itu menurutmu tidak lucu? Mereka kelabakan! Berusaha menutupi anu mereka itu! Lucu….! Ha…. ha… ha…" tiba-tiba suara tawanya berhenti, kedua matanya yang sipit memandang lekat-lekat kepada Arya.“Apa yang ada dalam pikiran si gendut ini?” Arya bertanya dalam hati."Heh?" Bukankah… Bukankah kau orangnya yang menelanjangi delapan prajurit Kerajaan Kediri itu?!" Arya pun tertawa lebar, sambil garuk-garuk lehernya dia mengangguk dan berkata."Memang aku yang menelanjangi mereka, mereka hendak menangkapku!" Si gemuk tertawa mengekeh."Kau ternyata pemuda jahil juga! Lain kali kalau mau menelanjangi orang, jangan lelaki tapi perempuan! Ha… ha… ha…!" Arya jadi ikut-ikutan tertawa."Mengapa mereka hendak menangkapmu?""Karena aku makan cempedak." jawab Arya."Apakah seseorang

    Last Updated : 2025-02-12
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 127. Dewa Penangis

    Rombongan itu bergerak dalam kesunyian tanpa ada yang bicara, di satu tempat telinga Adipati Gadra mendengar sesuatu, dia hentikan kudanya dan memandang berkeliling."Ada apakah Sri Baginda?" tanya seorang pengawal.Para pengikut Adipati Gadra yang setia selalu memanggil Adipati Gadra dengan sebutan Sri Baginda, walaupun pemimpin mereka itu tidak lebih dari seorang raja kecil yang tidak berdaya di satu wilayah yang kecil pula, namun mereka tetap menganggap Adipati Gadra adalah raja mereka, Raja Kerajaan Kediri yang baru."Aku mendengar sesuatu…" jawab Adipati Gadra, beberapa pengawal memasang telinga dan saling pandang.Beberapa saat kemudian salah seorang dari mereka berkata."Kami tidak mendengar suara apa-apa."Tentu saja para prajurit itu tidak atau belum mampu mendengar suara yang datangnya sangat sayup-sayup di kejauhan di dalam rimba belantara itu, karena kesaktiannya Adipati Gadra bisa mendengar suara itu yang tidak mampu didengar oleh para pengikutnya."Ikuti aku… Tapi harap

    Last Updated : 2025-02-13
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 128. Prabu Jayabaya

    "Kalau kau memang mau mati, tidak usah menunggu lama. Di hutan ini banyak binatang buas dan binatang berbisa. Kau tinggal memilih mati cara bagaimana? Diterkam harimau atau dipatuk ular berbisa?!" mendengar kata-kata Adipati Gadra itu paras Dewa Penangis berubah, dia seperti ketakutan tetapi anehnya raut mukanya justru kelihatan kuyu sedih."Kalau begitu biar aku ikut bersama Raden," kata Dewa Penangis dan cepat bangkit berdiri."Ikut aku itu sudah pasti Dewa Penangis, tapi aku mau tahu di mana saudara mudamu yang berjuluk Dewa Pesing itu? Sebenarnya aku ingin dia ikut bergabung bersama kami.""Ah, si kentut gendut Dewa Pesing itu aku tidak pernah mengaku saudara padanya. Aku selalu diejeknya, dihina dan ditertawai.""Itu urusanku nanti kalau dia masih begitu terhadapmu, yang penting kau tahu di mana kita bisa menemukannya?" tanya Adipati Gadra, Dewa Penangis Menggeleng."Coba lihat di telapak tanganmu," kata Adipati Gadra pula."Ah, kau betul Raden. Aku baru ingat…"Masih sesenggukan

    Last Updated : 2025-02-15

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 183. Pria Berpakaian Coklat

    Seorang pria berbadan kekar berparas cukup tampan mengenakan pakaian coklat berjalan santai menuju Lembah Neraka, pria itu datang dari arah selatan dan mulai memasuki kawasan yang saat ini diawasi oleh para mata-mata dan para anggota yang dipilih Padepokan Neraka yang di pimpin Pangeran Durjana itu.Baru saja menjejakan kaki masuk di kawasan itu, seorang mata-mata padepokan datang menghadang yang diikuti beberapa orang bersenjata golok dan tombak.“Berhenti..! Kau memasuki kawasan padepokan kami, kau siapa dan ada keperluan apa masuk ke sini?” tanya mata-mata padepokan.“Hemmm, saya hendak bertemu dengan Ketua kalian Pangeran Durjana,” jawab pria berpakaian coklat itu.“Katakan dulu kau siapa dan ada perlu apa menemui Ketua kami..!”“Kalau berkenaan dengan keperluan apanya saya menemui Ketua kalian itu rahasia dan tak perlu juga kalian ketahui, jika saya tidak diperbolehkan ke padepokan kalian tidak apa saya tunggu saja di sini. Yang pasti katakan pada Ketua kalian itu bahwa saya Seta

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 182. Menuju Kerajaan Mandalu

    Sembari menunggu matahari agak condong ke barat, tengah hari itu mereka manfaatkan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Dari arah barat tampak pula 3 orang yang tengah berjalan santai meniti pematang sawah menuju dangau tempat beberapa petani sedang makan siang bersama itu, mereka terdiri dari satu orang wanita dan dua orang pria.Para petani di dangau sempat arahkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah meniti pematang itu, mereka saling pandang seperti bertanya apakah ada di antara mereka yang mengenal tiga orang yang berjalan di pematang sawah menuju ke arah dangau mereka itu.Keseluruh para petani itu menampakan raut wajah yang bingung pertanda tak ada satupun di antara mereka yang mengenali tiga orang yang saat itu telah dekat dengan dangau tempat mereka duduk makan siang bersama, dua orang di antara petani itu hentikan makan lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri ketiga orang yang telah tiba di depan dangau itu.“Maaf, jika kehadiran kami telah mengganggu is

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 181. Raja Setan Segajad

    Bayangan hitam yang sangat besar tiba-tiba saja muncul tepat di depan Setan Tanduk Neraka duduk bersila melakukan semedi, saking besarnya puncak kepalanya menyentuh langit-langit goa padahal dia juga memposisikan tubuhnya duduk di atas batu besar di depan Guru Pangeran Durjana itu.Makin lama bayangan itu semakin jelas wujudnya yang tak kalah menyeramkan dengan wujud Setan Tanduk Neraka, kehadirannya di sana membuat dinding-dinding goa bergetar hebat seakan mau runtuh.“Ha.. ha.. ha..! Ada gerangan apa kau memanggilku ke sini, Setan Tanduk Neraka..?!” kembali dinding-dinding goa itu bergetar hebat, Setan Tanduk Neraka membuka matanya.“Terimalah sembahku yang mulia Raja Setan Sejagad,” ucap Setan Tanduk Neraka memberi sembah, sosok raksasa di depannya itu hanya anggukan kepala.“Maafkan saya yang mulia jika saya lancang memanggil yang mulia Raja datang ke sini, adapun tujuannya hendak meminta bantuan menyempurnakan ilmu tanduk neraka yang mulia sematkan di kepala saya. Yang mulia berk

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 180. Pangeran Durjana Cemas

    Para anggota atau anak buah Pangeran Durjana yang mendiami padepokan itu telah mencapai 2.000 orang, itu semua karena Padepokan Neraka memang memiliki daya tarik kuat untuk bergabung menjadi anggota sebab merasa terjamin kehidupan mereka di sana dengan berlimpah ruahnya upeti yang mereka terima dari berbagai Kerajaan dan padepokan yang telah mereka taklukan.Namun begitu Pangeran Durjana yang serakah itu masih belum puas dengan menguasai kawasan timur Pulau Jawa itu saja, ia ingin dapat menguasai seluruh Pulau Jawa dari timur hingga kawasan barat seperti yang dikehendaki Gurunya Si Setan Tanduk Neraka itu.Kedatangan Pangeran Durjana di halaman padepokan di sambut oleh Dipo Geni sebagai tangan kanannya atau di Kerajaan sebagai Panglima, melihat raut wajah junjungannya tidak terlihat gembira Dipo Geni tak berani bertanya selain mengiringi junjungannya itu hingga ke dalam ruangan kebesaran Padepokan Neraka itu.“Dipo Geni, selama saya pergi meninggalkan padepokan ini apakah ada Kerajaan

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 179. Roh Sura Brambang

    Tanpa menunggu waktu lama lagi Pangeran Durjana segera meninggalkan goa itu, ia menuju ke arah timur itu artinya di akan kembali ke padepokannya di Lembah Neraka di kawasan Gunung Merapi.Setan Tanduk Neraka sebenarnya sosok mahkluk astral sejenis jin yang sebelum dimasuki roh Sura Brambang sosok bertubuh empat kali lipat manusia biasa itu tidak pernah bisa dilihat dan dia pun tak bisa juga menunjukan dirinya setiap saat kepada manusia.Roh Sura Brambang yang selalu gentayangan berupa arwah penasaran itu, takan pernah merasa senang jika Tanah Jawa belum mengalami kehancuran karena memang semasa hidupnya dulu merupakan dedengkot tokoh golongan hitam. Melalui raga halus mahkluk astral yang mengerikan itulah, ia dapat berkomunikasi dan bisa dilihat oleh Pangeran Durjana sebagai murid sekaligus jalan mewujudkan keinginan jahatnya itu yang ingin melihat kehancuran di muka bumi terutama Pulau Jawa.Sosok Setan Tanduk Neraka bukan saja berwujud mengerikan tapi juga memiliki ilmu yang luar bia

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 178. Setan Tanduk Neraka

    Dari sisi kiri depan mulut goa tampak berkelebat sebuah bayangan merah, sosok itu seperti berlari-lari meniti dinding goa lalu salto di udara beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk bersila pula di atas batu besar berhadap-hadapan dengan mahkluk aneh dan menyeramkan itu.“Ha.. ha.. ha..! Sudah lama kau tak datang mengunjungiku di sini bocah bejad..!” terdengar suara dan tawa dari makhluk mengerikan itu menggelegar memekakan telinga.“Maafkan saya Guru, saya baru sempat datang saat ini karena sebelumnya sibuk dengan rencana yang pernah saya sampaikan membuat sebuah padepokan dan sekarang semua itu telah terwujud. Bukan hanya itu saja Guru, saya juga telah berhasil menguasai kawasan timur Pulau Jawa ini,” tutur sosok yang baru masuk ke dalam goa itu, seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba merah.“Ha.. ha.. ha..! Ternyata selama ini kau hanya dapat menguasai kawasan timur saja, murid bodoh kenapa tidak seluruh Pulau Jawa ini?!” seru mahkluk aneh yang di panggil dengan sebut

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 177. Di Sebuah Goa Besar

    “Dia merasa sangat tertekan dan merasa terhina sekali di bawah kendali Pangeran Durjana, sebagai seorang raja dia tak memiliki harga diri lagi. Dia mengajak kerja sama untuk melawan Pangeran Durjana itu, sebagai imbalannya Satrio Mandalu bersedia menyerahkan beberapa daerah kekuasaannya pada kami di perbatasan utara sana. Saya sebenarnya sangat kasihan dan sama sekali tak menginginkan daerah itu kalaupun kami bersedia membantunya, hanya saja sampai saat ini saya belum memberi keputusan karena saya masih disibukan untuk mengurus Kesultanan dan daerah-daerah kekuasan di Demak ini,” jelas Sultan Demak.“Mungkin ada baiknya kami nanti akan ke Kerajaan Mandalu itu bertemu dengannya, tentu dia tahu persis kediaman Pangeran Durjana dan para anak buahnya itu.”“Benar Dezo, saya juga hendak mengusulkan itu padamu. Pangeran Durjana memang telah keterlaluan beberapa tahun ini terkesan memperbudak Kerajaan-kerajaan dan padepokan di kawasan timur itu,” ujar raja Kesultanan Demak itu.“Saya juga pe

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 176. Pernah Dikalahkan Arya

    “Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu Mas Tapa, panggil saja saya Arya,” ujar murid Nyi Konde Perak itu yang merasa risih dipanggil Tuan Pendekar.“Baik Arya apakah benar pria pengacau itu tidak akan datang kembali ke desa kami ini?” tanya Tapa Diwo.“Saya kenal dengan pria itu, dia adalah Pangeran Durjana musuh bebuyutan saya dan kami pernah bertarung dulunya sebelum saya dikabarkan tewas,” jelas Arya memastikan.“Oh, kalau begitu kami ucapkan terima kasih dan kami sudah tak merasa kuatir lagi akan kemunculannya di kawasan desa kami ini,” ucap Tapa Diwo.“Sama-sama Mas Tapa, sekarang kami mohon diri untuk kembali ke istana Kesultanan Demak, jika ada hal-hal yang mencurigakan atau apa saja itu yang menguatirkan warga di sini segera laporkan pada pihak istana,” tutur Arya sembari berpamitan.“Baik Arya,” Tapa Diwo dan para warga Desa Damai yang berada di sana lambaikan tangan saat Arya dan rombongan kembali ke istana Kesultanan Demak.Memang tidak ada luka dalam yang di derit

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 175. Penyamaran Terbongkar

    “Jahanam..! Saya yang akan bertarung denganmu..!”Panglima Kerajaan Demak maju menerjang, pria bertopeng hanya mengelak beberapa langkah ke samping lalu dengan santai ia memasukan pedang di tangannya ke dalam sarung yang ia sandang dipunggungnya.“Hemmm, ternyata kau punya nyali juga Panglima. Baik saya akan melayanimu dengan tangan kosong pula,” ujar pria bertopeng.Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menegangkan, jual beli pukulan tangan kosong pun terlihat.“Buuuuuuuuk..!”Sebuah tendangan keras tak terduga bersarang di dada Panglima hingga membuatnya terguling-guling beberapa kali di tanah, pria bertopeng sepertinya hendak menghabisi Panglima Kerajaan Demak itu terlihat dirinya melesat ke udara lalu menghujamkan kepalan tinjunya ke arah perut Panglima.Angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu hebat mengarah tubuh Panglima yang tergeletak mendekap dadanya yang nyeri, beberapa jangkauan lagi kepalan tangan itu akan menghantam dan bisa saja membuat perut Panglima itu meled

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status