Pasukan Draco bergegas menyebar ke sekeliling, berlari melewati para berandal yang bergelimpangan di lantai, menyerang para berandal. Sonic dan dua pemimpin berandal mengawasi keadaan sesaat, menyerang Draco yang tetap berdiri di tempatnya. “Pria sampah itu adalah pemimpin kelompok ini. Dia terlihat tangguh. Kau harus membuatku bergairah malam ini,” ujar Sonic.Draco melompat mundur, menghindari serangan dari berandal bertato dan berandal gondrong. Ia menguap beberapa kali, menangkis pukulan dan serangan pisau dengan mudah.“Brengsek! Dia meremehkanku!” ujar si berandal bertato harimau. Sonic menyerang dari belakang Draco. Ia terkejut saat Draco menahan tendangannya dengan tangan kiri tanpa berbalik dan melirik padanya. “Sial!”Draco mencengkeram kaki Sonic dengan kuat, lantas melemparkan Sonic pada dua pemimpin berandal yang lain hingga terjatuh. Ia seketika melompat mundur ketika tembakan mengarah padanya. Si berandal berkacamata melayangkan tembakan seraya bergerak cepat, menen
Ronny terbaring tak sadarkan diri di lantai. Pisau terjatuh dari tangannya. Ali dan para pengawal muncul dari lokasi persembunyian. Ali mengamati Ronny, menoleh ke lantai atas. “Cari tahu siapa berandal ini secepatnya. Dia tampaknya bukan berandal biasa.”“Kami mengerti.” Para pengawal sontak mengangguk. Ali menyalakan listrik, melirik para pengawal yang sedang memeriksa Ronny. “Pria ini adalah Ronny, pemimpin kelompok berandal bernama Red Sting,” ujar seorang pengawal seraya mengirimkan informasi pada Ali. Ali mengecek informasi Ronny di layar hologram yang terhubung dengan jam tangannya, membaca dengan cepat. Pengawal bernama Sammy melanjutkan, “Pria ini adalah pria yang melawanku saat aku berpura-pura sebagai Tuan Muda di vila tengah hutan tempo hari, Tuan. Dia menyerang bersama gerombolannya atas perintah Kevin dan teman-temannya.” Pengawal lain menambahkan, “Pemimpin berandal kota ini yang bernama Sonic adalah musuh bebuyutan dari Ronny. Berdasarkan informasi yang beredar,
Ronny meraba pakaiannya, mengamati tumpukan kotak sayur dan buah-buahan di sekelilingnya. “Brengsek! Seseorang mencuri ponselku!”Ronny menarik-narik rambut, terdiam saat mengingat kejadian di restoran. “Aku memang tidak boleh berada di Paulcity dalam waktu lama. Sonic dan para bawahannya mungkin akan menyadari keberadaanku. Aku akan bersembunyi di Sawatown sampai aku mendapatkan pesan dari ayah.”Ronny tersentak kaget ketika menyadari kehadiran seorang pria di ujung bak mobil. “Brengsek! Siapa kau? Apa kau yang membawaku pergi dari Paulcity?”Ronny mendengkus kesal. “Kau harus menjawab pertanyaanku, brengsek!”Seorang pengawal menunjukkan sebuah ponsel pada Ronny. “Dasar bajingan! Kau ternyata yang sudah mencuri ponselku!” Ronny menendang sebuah kotak sayur, melesat maju. Pengawal itu menendang kotak sangat kuat hingga Ronny terdorong dan ambruk. “Sial, tendangannya sangat kuat dan cepat. Dia kemungkinan orang yang sudah mengalahkanku di restoran.” Ronny bergegas berdiri, tetapi p
Sonic dan Draco memasuki gedung. Para bawahan Draco tampak sibuk memeriksa keadaan setiap ruangan. Mereka bahkan mengangkat beberapa kotak dan kursi yang terbalik.Sonic memaksakan berjalan meski ia meringis kesakitan. Draco dan para bawahannya memukulinya saat di perjalanan menuju gedung. “Sial, aku terjebak dengan orang-orang sialan ini. Aku tidak seharusnya mengatakan lokasi gedung ini,” gumamnya.Sonic menggigit bibir ketika Draco menendang punggungnya hingga ia terjatuh di tangga. Ia berusaha berdiri, berpegangan pada kayu. “Ada sebuah ruangan khusus di lantai tiga. Aku melihat Ronny dan ayahnya memasuki kamar itu saat aku menyelinap,” ujar Sonic sembari menuju lantai dua.Draco mendorong Ronny hingga terjatuh. “Tunjukkan jalannya dan jangan membuang waktuku lebih lama!”Sonic menaiki tangga dengan napas terengah-engah. Ia meringis kesakitan karena sekujur tubuhnya babak belur. Draco mengawasi keadaan sekeliling, sesekali menendang Sonic. “Para bawahanku belum mendapatkan tanda
Arnold, Aaron, dan Andy berjalan di sebuah lorong, melewati para pelayan yang membungkuk hormat pada mereka. Mereka terlihat bahagia setelah mendengar kabar baik dari Tonny Romildo.“Kita seharusnya melakukan hal ini sejak dahulu,” ujar Aaron. Andy menyahut, “Kau benar, Aaron.”Arnold mengepalkan tangan erat-erat, tersenyum saat melihat sebuah ruangan. “Jangan terlalu senang hanya karena rencana kita berjalan lancar. Kita justru harus khawatir dan waspada. Kita bisa hancur hanya karena kesalahan kecil.” Aaron dan Andy saling menatap sekilas. Dua orang pelayan seketika membukakan pintu. Arnold, Aaron, dan Andy memasuki ruangan. Tonny Romildo dan ketiga pemimpin pulau sontak membungkuk hingga ketiga pria itu duduk di sofa. “Aku sangat senang melihat kalian berada di ruangan ini.” Arnold mengambil segelas teh dari nampan, memberi tanda pada pelayan untuk meninggalkan ruangan. Arnold meneguk teh perlahan. “Kau bekerja sangat baik, Tonny. Aku tidak menduga ketiga orang itu akan mengik
Hujan mengguyur deras Paulcity sejak satu jam lalu. Para pejalan kaki tampak berlarian, mencari tempat berteduh. Kendaraan terlihat lelang di jalanan. Meski demikian, Tarung restoran semakin ramai dari waktu ke waktu. Para pekerja tampak sibuk melayani pelanggan.“Ah, brengsek! Pria tadi hampir mengalahkanku. Mereka tertarik dengan bonus dan hadiah baru,” ujar Brody seraya merenggangkan badan, meneguk minuman hingga habis. Ia duduk di sofa, memeriksa lukanya.Althon mengamati informasi para pelamar kerja di laptop.“Sialan! Kau mengabaikanku,” ketus Brody.“Aku pikir kau sedang berbicara seorang diri, Brody.”“Aku bukan orang gila!” Brody mendekat, mengamati laptop. “Tiga puluh orang mendaftar untuk bekerja di restoran ini. Bukankah ini kabar bagus?”“Aku harus memilih enam pekerja baru yang cocok bekerja di restoranku.”Brody berdecak. “Kau membayar mereka dengan gaji yang kecil.”“Besaran gaji paruh waktu di restoran ini sesuai dengan besaran gaji paruh waktu di kota ini. Aku bahkan
“Bagaimana menurutmu dengan rencana kami, Ton?” tanya salah satu pemilik restoran, “aku sengaja memalsukan identitas putraku agar kedua berandal sialan itu tidak curiga. Selain itu, putraku tidak mungkin berkhianat seperti wanita sialan itu.”“Aku pikir itu rencana yang sangat bagus.” Ton tersenyum, tetapi ia tiba-tiba terdiam.“Apa yang terjadi, Ton? Kenapa kau tiba-tiba terdiam? Apa kau tidak menyukai rencana kami, atau kau berubah pikiran untuk bekerja sama dengan kami? Katakan.”Para pemilik perusahaan saling bertatapan.“Aku menyukai rencana kalian. Hanya saja, entah mengapa aku berpikir dua berandal itu akan curiga hingga akhirnya mengetahui rencana ini. Mereka tidak sebodoh yang kita kira.”Ton duduk di sofa. “Aku berada di restoran saat kejadian kemarin. Aku berpikir rencana kalian akan berhasil, tetapi berandal itu berhasil membalikkan keadaan. Kalian justru tersudut dan kalah, sedangkan dua berandal itu menang dengan bukti-bukti kuat.”“Apa kau memiliki rencana yang lebih ba
“Bagaimana Alicia bisa tiba-tiba muncul di kafe ini?” tanya Ronald seraya mengamati Alicia yang menghilang setelah keluar dari kafe. “Dia seperti hantu di film-film.”“Dasar wanita gila! Alicia hampir membuat ponsel baruku terjatuh!” Max memeriksa ponselnya. “Dia semakin bertingkah dari waktu ke waktu.”Randy menggertakkan gigi, menggebrak meja hingga perhatian semua orang tertuju padanya. Ia mengabaikan perhatian semua orang, bergegas mengejar Alicia. “Randy!” teriak Ronald dan Max seraya mengejar. “Alicia, tunggu!” Randy menahan bahu Alicia ketika wanita itu akan memasuki mobil. “Apa yang sebenarnya kau rencanakan?”Alicia menepis tangan Randy. “Jangan menyentuhku! Apa yang kau inginkan?”“Akulah yang seharusnya bertanya hal itu padamu, Alicia.”Ronald dan Max mendekat, saling bertatapan sesaat, menatap tak suka Alicia.“Kenapa kau tiba-tiba muncul dan merebut ponsel Max? Kau bertingkah tidak sopan.” Randy mengepalkan tangan erat-erat. Alicia memutar bola mata, menoleh ke arah la
Semua kandidat menyiapkan semua hal dengan sebaik mungkin. Para pembeli mulai berdatangan. Beberapa kandidat masih cukup canggung saat berhadapan dengan pembeli maupun menyiapkan hidangan. Meski demikian, mereka bekerja sebaik mungkin untuk bisa lolos ke tahap berikutnya. Kesempatan menjadi CEO Star Company adalah sesuatu yang tidak akan datang dengan mudahWaktu terus berlalu. Beberapa kandidat mulai sibuk dengan kedatangan pembeli, sebagian yang lain harus berupaya agar pembeli terus berdatangan. “Sial!” Philip melirik seorang partner yang terus membuat kesalahan. “Aku benar-benar keliru memilih sampah itu! Itu pasti akan menjadi poin minus bagiku dalam ujian ini. Star Company menguji sejauh mana kemampuanku untuk memilih partner yang tepat dalam sebuah tugas. Selain itu, para pembeli tidak mengunjungi truk makananku, dan itu akan menjadi masalah.”Philip mengawasi keadaan sekeliling. “Aku yakin tim pengawas terus mengawasiku sejak tadi. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.”Phili
Rombongan mobil mulai meninggalkan gerbang, melaju cukup kencang di hutan. Ryan mengamati kepergian pasukannya di teras, melirik sekeliling sesaat. “Aku tidak melihat orang-orang bertopeng itu hari ini.”Ryan mendengkus kesal, memasuki mobil. Ia membuka jendela, menghubungi Ronny. “Kau dan yang lain harus memastikan jika semua anggota tiba dengan selamat, Ronny. Kau dan yang lain juga harus melaporkan keanehan sekecil apa pun.”“Aku mengerti, Ayah,” sahut Ronny seraya mengamati gedung yang mulai mengecil. Ia menggertakkan gigi saat melihat seorang pria bertopeng berdiri di dahan pohon. “Sial! Aku masih kesal dengan orang bertopeng yang bertarung dengan ayah. Dia sengaja mengalah sehingga ayah sangat marah.”Ronny melirik Gon yang tampak serius dengan ponselnya. “Kenapa kau sangat serius hanya karena melihat ponsel bodohmu, Gon?”“Salah satu bawahanku mengirimkan pesan jika orang-orang sialan itu sudah sepenuhnya meninggalkan berbagai kota. Bos mereka yang bernama Draco kemungkinan su
Semua kandidat tampak bersiap untuk mendengarkan arahan ujian hari ketiga. Beberapa pegawai memberikan sebuah jam tangan pada setiap kandidat. Paul dan beberapa pegawai Star Company berdiri di hadapan semua kandidat, tersenyum. “Selamat pagi, Nona-nona dan Tuan-tuan. Aku sangat senang melihat kalian hari ini. Kalian tampil dengan sangat semangat. Kalian membuktikan jika kalian adalah orang-orang yang layar menjadi kandidat CEO Star Company.”“Aku yakin kalian sudah menyadari tujuan dari dua ujian yang sudah kalian lalui.” Paul tersenyum. “Ujian ketiga akan sangat berbeda dibandingkan dengan ujian pertama dan kedua.”Paul bertepuk tangan. Rombongan truk seketika memasuki gerbang, berbaris rapi di belakang semua kandidat. Philip, Lily, Randy, dan kandidat lain sontak terkejut, mulai menerka-nerka. Tak lama setelahnya lima puluh orang berseragam turun dari mobil, berbaris di samping kendaraan. Philip tersenyum, mengepalkan tangan erat-erat. “Apa yang sebenarnya Tuan Paul rencanakan? A
Malam semakin larut, dan suasana pusat kota semakin ramai dengan para berandal yang bermunculan di beberapa titik. Di beberapa gang, beberapa pria tengah menghajar para berandal hingga tumbang di tanah. Sebagian berandal melarikan diri hingga beberapa kali nyaris tertabrak mobil. Kerusuhan terjadi di beberapa titik pusat kota. Beberapa pria terus mendatangi kerumunan berandal, bertanya soal keberadaan para pemimpin pasukan berandal yang menghilang beberapa hari lalu. Jika tidak mampu menjawab, mereka berakhir menjadi samsak dan harus tidur di dinginnya malam dan jalan yang becek. Sonny, Ling, Lung, dan Lex bersembunyi di sebuah gudang. Beberapa bungkuk roti terlihat berserakan di lantai. Mereka terbaring di atas kotak kayu dan tumpukan jerami, larut dalam lamunan masing-masing. Kehidupan mereka berubah drastis setelah kemunculan kelompok itu. Sonny beranjak dari kursi, mendekati jendela, mengamati keadaan luar yang remang-remang. Ia bergegas sembunyi saat beberapa berandal berlaria
Arnold masih sibuk memeriksa beberapa dokumen. Ia menoleh ke arah pintu saat seseorang berbicara. “Masuklah.”Seorang pria memasuki ruangan, membungkuk singkat. “Aku datang sesuai dengan perintah Anda, Tuan.”Arnold mengembus napas panjang, merapikan beberapa dokumen. “Aku ingin mendengar kabar baik sekarang.”“Aku sungguh minta maaf karena aku justru membawa kabar buruk, Tuan. Aku masih belum bisa membujuk Tuan Sean agar mau menjadi bawahan Anda. Dia justru menamparku dan memberi teguran yang sangat keras padaku.”Arnold mendengkus kesal, menggebrak meja, berdiri dari kursi. “Aku tampaknya harus berbicara langsung padanya. Sayangnya, aku masih cukup sibuk sekarang.”Arnold tersenyum bengis. “Dasar sampah sialan! Hanya karena ayahku sedikit memanjakannya, dia bertingkah seolah bisa melakukan apa pun, padahal aku adalah penerus ayah. Jika dia tidak mau menjadi bawahanku dalam waktu dekat, dia akan menjadi orang pertama yang akan aku habisi.”Arnold berjalan menuju jendela, mengamati pe
Paul menekan sebuah tombol. Layar menampilkan nama-nama kandidat yang bergerak secara acak. Sebuah angka berukuran besar seketika tampil di tengah layar. “Nilai minimum untuk ujian tahap kedua adalah sembilan ratus. Kandidat yang memiliki nilai kurang dari sembilan ratus otomatis gagal.”Nama-nama kandidat terus bergerak acak sampai akhirnya tertulis berurutan sesuai nilai masing-masing. Philip, Lily, Randy, dan para kandidat lain menatap layar tidak berkedip selama beberapa waktu.Philip tersenyum saat ia berada di urutan pertama. Lily berada di posisi kedua dengan selisih poin yang sangat tipis dengan Philip, sedangkan Randy berada di posisi keempat.Semua kandidat seketika menoleh pada Althon. Pria itu mendapatkan nilai sembilan ratus tiga puluh dua, dan berada di posisi terakhir, selisih satu poin dengan seorang pria.“Sial! Si idiot itu kembali lolos ke tahap selanjutnya. Meski dia berada di posisi terakhir, tetapi nilainya hampir menyamai salah satu peserta.” Philip mengepalkan
Althon mengamati penampilan setiap kandidat di ruangannya. “Mereka masih menampilkan penampilan yang luar biasa. Mereka sangat tenang meski berada di bawah tekanan. Ya, mereka pasti sudah terbiasa dengan keadaan itu.”Althon mengepalkan tangan erat-erat, menonton penampilan seluruh kandidat hingga selesai. “Aku harus kembali menyamar.”Althon memberi tanda pada Paul.Paul membungkuk, berbicara dengan seluruh kandidat melalui layar. “Nona-nona dan tuan-tuan, semua kandidat harus kembali ke ruangan untuk beristirahat. Tes berikutnya akan diselenggarakan setelah makan siang. Terima kasih.”Satu per satu kandidat kembali ke ruangan. Mereka berbincang-bincang mengenai tes kedua. Para pelayan mulai berdatangan sembari makanan dan minuman.Lily mengembus napas panjang, mengambil segelas minuman. “Aku melakukan yang terbaik hingga sejauh ini. Tes kedua juga tidak sesulit yang aku bayangkan. Akan tetapi, aku merasa kedua tes ini bukan tes sungguhan.”“Kau sungguh berpikir demikian, Lily?” tany
“Kalian memiliki waktu setengah jam untuk mempersiapkan diri kalian,” ujar Paul.Paul dan beberapa pegawai meninggalkan ruangan. Para kandidat tampak bersiaps-siap. Mereka mulai menduga-duga tugas apa yang harus mereka selesaikan.Althon mengemati semua kandidat melalui layar hologram di saat ia berpura-pura mempersiapkan diri. “Mereka langsung mempersiapkan diri tak lama setelah kepergian Paul dan para pegawai Star Company. Aku harus memuji sikap mereka. Randy juga terlihat fokus pada persiapannya. Dia seolah menjadi sosok yang berbeda.”Philip melirik Althon, tersenyum sinis. “Aku benci saat melihatnya sangat serius. Sekeras apa pun dia mencoba, dia tidak akan bisa mengubah apa pun. Dia akan tetap tersingkir di ujian kedua. Aku yakin itu.”Setengah jam kemudian, Paul dan para pegawai memasuki ruangan kembali. Semua kandidat kembali bersiap, berdiri di kursi masing-masing.“Semua kandidat akan memasuki ruangan berbeda dalam waktu bersamaan. Kalian harus bisa melalui ujian ini dengan
Philip membungkuk hormat, tersenyum. “Aku terkejut karena kau berkunjung, Ayah. Aku minta maaf karena aku tidak menyambutmu saat kau datang.”“Aku sudah mendengar kabar jika kau lolos seleksi pertama posisi CEO Star Company dan mendapatkan nilai terbaik dari seluruh peserta. Akan tetapi, kau tidak boleh terlalu bangga dengan pencapaian itu, Philip. Poinmu hanya berbeda lima poin dari Lily Donteno. Aku tidak ingin kau lengah hingga posisi tergeser.”Pedro berdiri dari kursi, menarik dagu Philip. “Di antara putra-putraku yang lain, kau adalah putraku yang paling lemah. Saat kakak pertamamu seusiamu, dia sudah mendapatkan posisi yang luar biasa. Jika kau tidak meniru kakak-kakakmu, setidaknya kau tidak boleh membuatku malu.”Philip merasakan dadanya sangat sesak. Ayahnya selalu saja membanding-bandingkannya dengan kakak-kakaknya yang lain tanpa pernah memberikan apresiasi apa pun padanya atas semua keberhasilannya. Ia akan mendapatkan hukuman jika gagal, dan tidak akan pernah dianggap ad