“Saya kenal Maya dari kecil, Bening. Saya bisa melihat kalau ada yang berbeda dari anak itu. Dan benar, dia memang mau menjebak saya. Dan soal kenapa saya minta maaf sama kamu malam itu, bukan karena saya sudah melakukan hal hina dengan Maya, tetapi karena saya merasa nggak becus dan kurang maksimal
Bening melotot ganas. Enak saja Maya mau meminta tanggung jawab. Tidak ada kepastian apakah anak yang dikandung Maya itu benar anaknya Kalingga atau bukan. Siapa tahu selama berada di Indonesia, Maya bersama dengan pria lain. Namun meski berusaha berpikir positif seperti itu, Bening tetap saja meras
Berhubung Bu Rita merasa tidak terlalu penting memikirkan soal Damar, jadi ia pun beralih menatap Maya yang masih berdiri di depan pintu depan. “Bude dengar kamu sudah pulang ke Prancis, May? Kok masih di sini?” Maya tersenyum. “Iya, Bude. Rencananya sih gitu, tapi sebelumnya ‘kan Maya kerja di pe
Bening kaget sekali ketika menerima panggilan itu dan ternyata bukan suara ibunya yang ia dengar. Itu adalah suara tetangga dekat rumahnya yang kebetulan juga akrab dengan keluarga Bening dari dulu. Nadanya terdengar panik. Beliau mengabarkan kalau ibunya Bening sekarang ada di rumah sakit. Bening
Bening bernapas lega. “Alhamdulillah. Sekali lagi, makasih ya Bu Meli.” “Iya, sama-sama.” “Oh iya, Ibu sama suami mau pulang dulu. Kamu sendirian nggak papa? Soalnya setelah ini kami ada janji pertemuan sama saudara.” Bening mengangguk. “Nggak papa, Bu Meli. Silakan, mohon maaf karena udah ngerep
Ekspresi Bening langsung tampak tidak suka ketika melihat Susan di sana. Mengapa pula ia harus bertemu dengan wanita itu? memang Bening dan Susan tinggal di kampung yang sama, tetapi Bening tidak tahu kalau Susan ada di sini. Masa iya bertemu di pasar seperti ini hanya sekadar kebetulan? “Kamu ngik
Tak lama setelah nada sambung berbunyi, Maya langsung menerima panggilan itu. Maya benar-benar kegirangan ketika tahu bahwa Kalingga menelepon dirinya. “Halo, Bang Lingga?” “Ya, May.” Maya senang sekali mendengar suara Kalingga, apalagi ketika berangkat satgas, Maya tidak dikabari. “Wah, Bang Li
Melihat bawahannya panik, Kalingga langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi. “Kenapa? Apa yang darurat?” tanya Kalingga. “Lapor, Kapten, ada penyerangan dari anggota kelompok berbahaya di pemukiman warga sipil.” Kalingga membelalak mendengar laporan tersebut. Memang permasalahan ini sudah cu
Sudah dua jam berlalu sejak Langit keluar dari rumah. Dahayu mulai khawatir. Pasalnya, laki-laki itu sama sekali tidak menghubunginya. Pikiran Dahayu mulai tertuju kepada klub malam. Namun, dengan segera dia mengenyahkan kemungkinan itu. “Langit udah berubah. Dia nggak bakalan pergi ke klub malam l
“Ya Allah, beneran, Yu?” Bening sampai tidak percaya mendengarnya. Semua orang di meja makan terlihat tersenyum, terutama ibu Langit yang akhirnya mendapatkan cucu pertamanya. Dahayu malah malu sendiri karena menjadi pusat perhatian. Bening berdiri dari kursinya dan menghampiri Dahayu, memeluk putr
Bibir mereka tidak menempel lama. Karena tiba-tiba Dahayu mendorong Langit dan beringsut menjauh. Wajahnya memerah padam dan jantungnya berdebar tak karuan, tetapi dia justru menolak bertautan dengan Langit. Langit menatap Dahayu dengan kecewa. “Kenapa, Yu? Apa aku salah cium kamu? Aku ‘kan suami k
Buket bunga yang Langit bawa cukup besar. Dahayu sampai kesulitan membawanya dan hampir tidak bisa melihat apa pun. Sementara itu Langit tersenyum kecil melihat Dahayu kewalahan membawa buket itu. Dia mengikuti istrinya memasuki rumah singgah. Ini bukanlah kunjungan pertama Langit ke rumah ini, teta
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng