Setelah Pak Kyai dan juga saksi yang disewa Damar pergi, hanya tinggal mereka berdua saja sekarang. Damar berniat langsung pulang setelah melangsungkan pernikahan siri itu karena masih ada urusan, tetapi mendadak Maya mual-mual dan langsung berlari ke kamar mandi. Damar menyusul dengan raut khawati
Ibunya Bening berusaha membantu sang anak yang tumbang dan duduk di lantai sambil memegangi perutnya. Beliau tampak sangat khawatir dengan kondisi Bening. Apalagi, wajah sang anak mendadak pucat pasi dan berkeringat dingin. “Bening… Bening… ya Allah, Nak. Kamu kenapa?” Ibunya Bening berjongkok di
Bening terdiam. Tes kehamilan? Sebenarnya tidak masalah juga, toh sangat wajar kalau misalnya ia hamil. Namun, tetap saja Bening ragu. Ia tidak kepikiran soal kemungkinan hamil sama sekali. “Iya, Dok. Saya setuju.” Bening pun melaksanakan tes kehamilan sesuai dengan yang disarankan oleh dokter. B
Kelompok berbahaya yang beberapa waktu terakhir semakin sering mengacau menjadi perhatian khusus bagi Kalingga dan anggotanya. Mereka memperketat penjagaan terutama di area yang seringkali dilalui oleh warga setempat. Kelompok berbahaya itu tidak pandang bulu. Bahkan warga sipil yang tidak berse nja
“Ning, kamu lagi hamil muda sekarang, jadi lebih baik berpikir yang baik-baik saja, ya? Siapa tau memang beneran cuma sibuk atau susah sinyal aja.” Bening menggeleng. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ini pertama kalinya ia merasa begitu gelisah dan tidak tenang. Makanya, diusahakan sekuat mung
Ketika di teras, panggilan Maya sudah mati. Namun, hanya berselang beberapa detik setelah panggilan itu mati, Maya menghubungi Damar lagi. Kali ini, Damar baru bisa menerima panggilan itu karena sudah berada di teras dan tidak akan berisiko didengar oleh Kinan. “Halo,” ucap Damar. “Lama banget ja
Bening membuka pintu dan ekspresinya semakin suntuk kala melihat Susan di sana. “Mau apa lagi sih, San? Sampai nyusulin ke sini? tolong jangan gangguin aku lagi, aku capek.” Susan terkejut melihat wajah Bening yang tampak berantakan. “Kamu kenapa?” Bening tak mau menjawab. “Nggak papa. Mending kam
“Argh!” Si algojo ambruk. Kalingga langsung menutupi wajahnya menggunakan kain hitam yang sebelumnya dipakai sebagai penutup wajah Kalingga. Si algojo tak sadarkan diri karena Kalingga memukul tepat di bagian tengkuknya. Kalingga segera bangkit. Ia sudah melepaskan tali yang mengikat tubuhnya se
Sudah dua jam berlalu sejak Langit keluar dari rumah. Dahayu mulai khawatir. Pasalnya, laki-laki itu sama sekali tidak menghubunginya. Pikiran Dahayu mulai tertuju kepada klub malam. Namun, dengan segera dia mengenyahkan kemungkinan itu. “Langit udah berubah. Dia nggak bakalan pergi ke klub malam l
“Ya Allah, beneran, Yu?” Bening sampai tidak percaya mendengarnya. Semua orang di meja makan terlihat tersenyum, terutama ibu Langit yang akhirnya mendapatkan cucu pertamanya. Dahayu malah malu sendiri karena menjadi pusat perhatian. Bening berdiri dari kursinya dan menghampiri Dahayu, memeluk putr
Bibir mereka tidak menempel lama. Karena tiba-tiba Dahayu mendorong Langit dan beringsut menjauh. Wajahnya memerah padam dan jantungnya berdebar tak karuan, tetapi dia justru menolak bertautan dengan Langit. Langit menatap Dahayu dengan kecewa. “Kenapa, Yu? Apa aku salah cium kamu? Aku ‘kan suami k
Buket bunga yang Langit bawa cukup besar. Dahayu sampai kesulitan membawanya dan hampir tidak bisa melihat apa pun. Sementara itu Langit tersenyum kecil melihat Dahayu kewalahan membawa buket itu. Dia mengikuti istrinya memasuki rumah singgah. Ini bukanlah kunjungan pertama Langit ke rumah ini, teta
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng