Bening geram. Tangannya mengepal kuat hingga mati rasa. Bening tidak pernah semarah ini. Wildan menggunakan kelemahannya untuk menghancurkan harga diri Bening di depan keluarga suaminya. Apalagi pria itu baru saja sadar dari komanya. Sudah mendapatkan teguran sampai koma, tapi malah sama sekali tida
Bening mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. "Kamu..." Wildan senyam-senyum di depan Bening, membuat wanita itu semakin muak saja melihat wajahnya. "Kamu cantik banget kalau lagi marah gini, Ning. Gemes ya," goda Wildan. Ia mendekat dan hendak menjawil dagu Bening, tetapi tangan Bening lebih
Ketika Bening sedang tenggelam dalam isi pikirannya sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bening sedikit berjengit kaget mendengarnya. Jujur, ia agak khawatir. Bagaimana kalau Wildan nekat mengikutinya hingga ke rumah? Bening mengembuskan napas panjang. “Tenang, Bening… Nggak mungkin bajingan
Sorenya, Kalingga pulang. Bening sama sekali tidak menyahut. Ia sedang mencuci piring di dapur. Kalingga langsung menghampirinya, tetapi ia melihat wajah sang istri begitu lesu. “Kenapa?” tanya Kalingga. Bening menggeleng. “Enggak papa.” Kalingga menghela napas. Rupanya Bening masih belum bisa b
“Jawabannya adalah, karena semua warna ada di mata kamu yang indah.” Bening otomatis membeku. Apa tadi katanya? “Ha?” Kalingga sudah tersenyum mempesona, sementara Bening malah cengo luar biasa. Ini Kalingga sedang menggombal sok romantis kepadanya atau bagaimana? “Kok kamu malah heran begitu,
Seperti yang dikatakan Wildan sebelumnya, hari ini ia sudah mulai masuk lagi ke battalion setelah cukup lama cuti pasca kecelakaan dan koma. Wildan percaya diri sekali kembali ke battalion dan santai-santai saja tidak takut meskipun nanti berhadapan dengan Kalingga sebab ia sudah memberikan ancaman
Bening terlalu lama diam karena kepikiran siapa yang memblokir nomor Risky dari ponselnya. Masalahnya, Bening yakin bukan dirinya yang melakukan itu. Apa mungkin yang memblokir nomor Risky itu… “Ning? Halo… halo…?” Bening mengerjap dan tersadar dari lamunannya. “Oh, ya Mas Risky?” “Kamu baik-baik
“Iya, kalau nggak habis nanti biar dihangatin aja buat tambahan sarapan besok.” Kalingga mengiyakan. Kalau soal makanan, Kalingga aman-aman saja, tidak terlalu pemilih. “Oh iya Ning, saya mau bicara sesuatu.” Bening yang sedang memidahkan makanan-makanan itu dari kotak ke piring langsung menoleh.
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s