Bening meremas kepalanya sendiri. Siapa sangka Wildan memikirkan ide busuk sedetail itu. Tentu, Bening sendiri juga merasa bodoh karena percaya saja dengan semua ocehan Wildan. Kalingga yang mendengar seluruh penjelasan lengkap Bening syok berat. Tentu ia marah mendengarnya. Bawahannya sendiri ber
Kalingga langsung melompat dari kasur. Kepalanya masih agak pening karena belum mengumpulkan kesadaran tapi tiba-tiba sudah kaget perkara Bening tidak ada. Ia langsung keluar kamar dan mencari-cari keberadaan wanita itu. Rasa cemas dan takutnya menggelora, membuat Kalingga sampai berkeringat dingin.
“Beli di situ aja. Di situ bubur ayamnya enak,” kata Bening. Kalingga mengernyit. Sebenarnya, ia tidak masalah juga mau makan di mana. Meski keluarga Kalingga lumayan berada, bukan berarti ia tidak pernah makan jualan gerobak di pinggir jalan. “Tahu dari mana?” tanya Kalingga. “Aku tahu dari…”
Kalingga tidak menyangka kalau Maya mendengar semuanya. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu kalau gadis itu ada di rumah mamanya. Kalingga pikir, waktu itu Maya hanya menginap semalam saja di rumah mamanya, ternyata sampai sekarang ia masih ada di sana. “Maaf May, tapi…” “Tapi apa?” sahut Maya. Kedu
Sampai akhirnya, Maya lulus SMA dan saat itu Kalingga masih menjadi taruna AKMIL. Kalingga tidak tahu kejadiannya secara langsung karena memang sedang tidak di rumah. Rupanya, terjadi konflik antara Bu Rita dengan ibunya Maya. Bu Rita dan ibunya Maya sebenarnya bukan saudara kandung. Ibunya Maya ad
Kalingga memucat, sementara Maya terkejut. Bu Rita menghampiri mereka berdua dengan tampang menuntut jawaban. Awalnya, Bu Rita tidak mendengar perdebatan Kalingga dan Maya. Namun, ketika ia kembali ke ruang tamu untuk mengambil sesuatu, ia melihat ada Maya di depan. Bu Rita heran, kapan Maya keluar
Kalingga mendadak kikuk sendiri. “Ini… Bukan ulang tahun teman saya, tapi kejutan dari saya untuk kamu, Bening.” Bening sontak menoleh dengan ekspresi bingung. “Kejutan? Kan aku enggak ulang tahun.” “Kejutan ‘kan nggak harus nunggu ulang tahun, Bening.” Setelah mendengar jawaban itu, Bening malah
Kalingga mengembuskan napas berat. “Bang Lingga udah memutuskan semuanya, May. Lebih baik kita tetap menjadi saudara saja. Jadi, mari akhiri semua hubungan kita yang nggak seharusnya ada ini.” “Bang Lingga jangan bercanda! Bang Lingga nggak bisa kayak gini. Apa-apaan ini? Bang! Abang!” Kalingga ti
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s