Share

7. TERBONGKAR

Penulis: Senja jingga
last update Terakhir Diperbarui: 2023-02-20 13:15:21

[Sayang, aku pulangnya malam, ya. Sekarang aku lembur. Jaga diri baik-baik ya, love you :*]

Malam ini, aku membaca pesan itu. Dulu, aku selalu percaya setiap kali dia mengatakan lembur. Tapi, tidak untuk sekarang.

Segera aku lihat GPS di handphone ku. Aku ingin melihat keberadaan Mas Amar sebenarnya.

"Sialan! Mas Amar membohongi ku!"

Benar saja kecurigaan ku. Mas Amar berbohong, ia tidak tengah di kantornya yang bernama PT Laskar Angkasa. Selama ini, mungkin sudah banyak sekali dia berbohong dengan alasan lembur seperti ini.

Dari GPS, justru dia tengah ada di sebuah apartemen yang lokasinya merupakan lokasi tempat dimana apartemen milik Mas Amar.

Aku mengepal tangan dengan erat. Rasa marah dalam dada seketika bergejolak.

"Brengs*k kamu, Mas! Kamu bohong! Kamu gak ada di kantor! Tapi di apartemen kita! Apa yang kamu lakukan disana, Mas ?! Apa kamu tengah bersama wanita busuk itu ?! Aku akan susul kamu, Mas!" decak ku dengan rasa marah.

*****

Aku menyetir mobil untuk menyusul ke apartemen. Dengan perasaan yang penuh amarah, aku tetap terus berusaha menyetir. Pikiranku sudah tidak bisa berpikir hal yang baik lagi. Hati ini benar-benar sudah tidak bisa tenang.

Benar saja, sesampainya di tempat parkiran apartemen. Ada mobil Mas Amar disana. Perasaan ku semakin memburu dengan penuh amarah. Aku segera turun dari pintu mobil.

Ruang apartemen kami ada dilantai dua nomor 17. Butuh waktu yang singkat untuk kesana. Aku naik lift agar lebih cepat sampai dan sedikit berjalan untuk menuju ruangan apartemen kami.

Sesampainya di depan pintu ruangan apartemen kami, aku menghela nafas, berusaha kuat menerima apapun yang akan terjadi.

'Kamu harus kuat, Vi. Harus kuat, gak boleh nangis disini!'

Pintu pun aku buka dengan kartu akses apartemen. hanya aku dan Mas Amar yang memiliki kartu itu. Satu lagi dipegang oleh Mas Amar.

Saat kartu pintu akses itu sudah berhasil membuka pintu, Aku membuka pintunya sedikit dengan pelan-pelan.

Clek!

Deg! Aku tertegun begitu melihat apa yang ada dihadapan ku. Mas Amar dengan tanpa memakai baju dan hanya memakai celana pendek (color) tengah mencumbui bibir wanita murahan itu.

Nura--wanita busuk itu begitu menikmati dengan mata yang terpejam dan dengan tubuh yang sepertinya telanjang yang terbalut selimut putih hingga dadanya. Mereka bahkan sampai tidak menyadari kehadiran ku.

'Benar-benar men-ji-ji-kan!'

Dadaku semakin bergemuruh penuh amarah. Dengan cepat aku mengambil handphone dalam tas ku, aku merekam perbuatan bejat mereka meski dengan tangan yang gemetar dan tubuh yang terasa akan runtuh.

Kali ini, perasaan ku bukan ingin menangis. Tapi lebih ke ingin marah dan segera menghajar wanita busuk itu. Setelah berhasil merekamnya, aku kembali memasukkan handphone ke dalam tas.

"Jadi ini yang kamu lakukan, Mas!"

Mas Amar terlihat langsung mengentikan apa yang tengah dia lakukan. Dengan cepat dia menoleh dan terlihat terkejut menatap ku.

Begitu juga dengan wanita busuk itu yang tercengang dan langsung terbangun duduk diatas ranjang sambil memegang selimut yang menutupi badannya.

"Vi ? Ka-mu ada kesini ? A-aku bisa jelaskan, sayang.." Mas Amar mengatakan itu dengan terbata. Ia terlihat begitu panik.

Hati ini benar-benar sudah merasa murka. Aku tak bisa lagi menahan emosi.

"Minggir kamu, Mas! Akan aku kasih pelajaran wanita murahan itu!"

Dengan tatapan kaget, Mas Amar segera beranjak dari tempat tidur.

Terlihat, wanita busuk itu juga menohok kaget. Namun, ia tak beranjak sedikitpun dari tempat tidur. Ia masih tetap memegang selimut yang menyelimuti dadanya.

"Kamu mau apa, Vi ?" tanya Mas Amar panik.

Tanpa menjawab pertanyaan Mas Amar, aku langsung berjalan menghampiri Nura. Aku naik ke atas ranjang. Dan segera aku menjambak rambutnya dengan kuat.

"Eughhh!! Dasar pelakor! Murahan kamu, Ra! Rendahan! Gak punya harga diri! Pengkianat kamu, Ra!" Cercaku bertubi-tubi.

Ia meringis kesakitan. Satu tangannya berusaha melepaskan tanganku dari rambutnya. Sedangkan, satu tangannya lagi tetap memegang selimut. Jika saja selimutnya tidak dia pegang, ia pasti akan telanjang dan memperlihatkan seberapa murahan-nya dia sampai memberikan tubuhnya pada Mas Amar.

Aku tidak peduli dengan rintihannya. Aku terus semakin kuat menjambak-nya.

Hati ini benar-benar sakit. Benar-benar terasa nyeri. Perih sekali. Aku tidak terima ia sampai memiliki semua raga Mas Amar!

"Via.. lepasin Vi.. sakit.."

"Aku gak peduli! Aku yang lebih sakit disini! Tega kamu, Ra! Murahan kamu, Ra! Kenapa harus suami aku, hah ?!"

"Sayang.. sudah sayang.. kasihan dia.." pinta Mas Amar yang dari tadi berdiri. Ia bahkan masih membela wanita busuk itu. Yang jelas-jelas sudah menghancurkan rumah tangga ku dan dia. Hatiku semakin hancur dan marah.

Aku menatapnya tajam tanpa melepaskan tanganku dari rambutnya Nura.

"Diam kamu, Mas! Kamu juga sama aja! Brengsek kamu, Mas!"

Kembali aku melihat pada Nura.

"Ra! Kenapa, Ra ?! Kenapa kamu tega rebut suami aku ?! Jawab aku, Ra ?!" tanganku semakin kuat menjambak rambutnya.

"Aduhh!! Via.. lepasin dulu, Vi. Sakit. Aku bisa jelaskan."

"Aku gak peduli, Ra! Ma-ti sekalian kamu, Ra! Dasar perempuan busuk kamu, Ra! Kamu udah nusuk aku dari belakang! Benar-benar busuk kamu, Ra! " antara sadar dan tidak sadar, aku benar-benar marah dan tidak peduli jika Nura ma-ti sekalipun.

"Sayang, kamu bisa dihukum jika berbuat kasar kepada Nura," ucap Mas Amar.

Mendengar itu, segera aku melepaskan tanganku dari rambutnya wanita busuk itu. Nafas ini tersengal-sengal karena marah. Hati ini Panas dan pedih sekali rasanya.

"Silakan laporkan aku ke polisi, Mas! Aku yakin! Wanita diluaran sana akan banyak yang membela aku dari pelakor ini!"

Aku mengatakan itu sambil menunjukkan telunjuk pada Nura. Wanita itu kembali menunduk, tak memperlihatkan sifat aslinya seperti ketika dia menusukku dari belakang dengan selingkuh dengan Mas Amar.

Mas Amar terdiam. Aku beranjak dari tempat tidur. Tatapanku kembali melihat dengan penuh kebencian pada Nura.

Sedangkan, ia tidak menatap ku sama sekali. Ia masih menunduk dan menangis. Entah apa yang dia tangisi. Bukankah aku disini yang dikhianati ?!

"Kamu ini udah aku anggap sebagai sahabat aku, Ra! Aku udah anggap kamu orang yang paling aku percaya! Kenapa kamu jahat kayak gini sama aku, Ra ?!"

"Maafkan, aku Via. Aku mencintai Mas Amar. Kami saling mencintai." ia mengucapkan itu setelah dia mendongakkan kepalanya.

PLAK! Dengan penuh rasa benci, aku menamparnya. Wanita itu menyentuh pipinya.

"Cinta kamu itu salah, Ra! Mas Amar itu udah punya istri! Kamu juga tau itu! Dan Harusnya kamu ngerti, kalo kamu salah jika sampai menjadi selingkuhan Mas Amar! Apalagi sampai memberikan tubuh kamu seperti ini! Murahan kamu, Ra!"

Lagi-lagi dia hanya terdiam. Mu-ak sekali rasanya dengan sifat munafik-nya.

"Via.. aku khilaf, sayang. Aku bisa jelaskan semuanya." ucap Mas Amar yang ada di sebelah ku.

"Sudah berapa lama kamu selingkuh sama dia, Mas ?!" tatapanku tajam menatapnya. Wajahnya Mas Amar sangat gugup.

"Sa-satu tahun, Vi. Aku minta ma-af, aku benar-benar khilaf, sayang.."

PLAK! Aku menamparnya dengan keras. Aku tidak peduli apapun yang dia katakan lagi. Rasanya sangat benci dan muak akan kelakuannya.

lelaki yang tengah tidak memakai baju itu menyentuh pipinya. Namun, tak lama ia kembali menatap ku dengan tatapan lirih.

"Via.. aku mohon dengarkan aku dulu.."

"Kita pisah, Mas!"

Mas Amar menohok.

Sebelum pergi, aku mengambil air dalam gelas yang ditaruh diatas laci apartemen. Aku menggugurkannya dengan keras pada wajah wanita busuk itu.

Byurrr! Ia mengusap wajahnya yang basah, dan tak ada perlawanan sama sekali. Mas Amar juga terdiam saja, ia tidak membela Nura.

"Silahkan ambil suamiku! aku sudah tidak butuh!"

Prank! Gelas sisa tadi, aku lempar ke lantai hingga menimbulkan suara. Segera aku melangkah pergi dan keluar dari pintu apartemen.

"Via! Tunggu, Sayang!"

Terdengar suara Mas Amar menyeru. Aku tidak peduli, aku terus berjalan dengan hati yang terasa remuk. Air mata yang sejak tadi ditahan agar tidak menangis, akhirnya jatuh juga tak tertahan.

Aku cepat-cepat berjalan menuju pintu lift, hingga aku menuju lobby apartemen untuk segera ke parkiran mobil. Aku tergesa-gesa berjalan cepat untuk menghindari Mas Amar.

Bruk!

"Awh!"

Bahuku sedikit kesakitan begitu bertubrukan dengan seseorang yang tengah berjalan masuk ke lobby.

"Eh, ma-af, ma-af. Aku gak sengaja," ucapnya, terdengar oleh ku.

Aku mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.

Deg! Jantungku rasanya berdebar kencang. Tubuhku rasanya mau runtuh.

Aku dan lelaki berjas putih seperti pakaian dokter itu saling bertatapan. Wajah yang tak asing. Laki-laki seusia-ku yang sudah bertahun-tahun tidak ada kabar.

Seseorang yang juga ada kaitannya dengan tante Sinta yang merupakan ibunya Nura yang dulunya seorang wanita pelacur.

Dan kini, aku bertemu dia lagi setelah sekian lamanya.

*****

Bersambung...

Komen (4)
goodnovel comment avatar
Hersa Hersa
turunan lontee ya, pantas sepertii ibunya yg lonteee juga
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
Turunan LONTE ya LONTE
goodnovel comment avatar
Louisa Janis
harusnya beri kesempatan Via kosongkan rekening suami nya thor biar nyahoo atau mereka punya Perjanjian Pra Nikah MISKINKAN Amar
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   8. RASYA

    Membalas pengkhianatan suami dan Sahabatku (8)"Ka-kamu, Via ' kan ?" Lelaki dihadapanku itu menatap ku terlihat sama terkejut.Aku manggut-manggut dengan air mata yang berlinang. Untuk bicara saja rasanya sesak. Setelah lama tidak bertemu, sekarang dia ada di Indonesia. "Via kamu kenapa ? A-apa yang tengah terjadi ?!" Ia terlihat ikut panik."Aku gak bisa jelaskan sekarang, Rasya. Aku harus cepat pergi," ucapku pada Rasya. "Via! Tunggu sayang!" Mas Amar sudah sampai di lobby. Sejenak aku menoleh, lalu cepat-cepat berjalan menuju mobil. Aku cepat-cepat membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Bruk! Bruk! Bruk! Saat aku parkir, Tangan Mas Amar terus menggedor-gedor kaca mobilku. Aku tidak peduli. Langsung aku lajukan mobilku menuju keluar area apartemen. Saat ini, aku sudah tidak sudi lagi melihat wajahnya.*****Aku pulang ke rumah, lalu langsung mengunci pintu rumah. Aku tak ingin Mas Amar masuk ke dalam rumah. Ingin rasanya pulang ke rumah

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   9. PERGI

    Setelah kembali masuk ke kamar, aku memasukkan beberapa pakaian ku ke dalam koper. Besok pagi, aku harus pergi dari rumah ini.Tiba-tiba aku teringat pada Rasya. Aku sangat kaget dengan kehadiran Rasya di Indonesia. Ia sahabat ku sejak kecil. Setelah lulus SMA, ia pergi ke Singapura untuk kuliah kedokteran di Singapura. Kemarin, ingin sekali rasanya aku bisa berbincang kembali dengannya setelah lama tidak bertemu. Namun, keadaannya tidak memungkinkan.Delapan tahun kita tidak pernah bertemu langsung. Dalam delapan tahun itu, enam tahun masih saling berkabar meski hanya dengan saling mengirim pesan, telponan, dan video call. Enam Tahun itu saat aku masih kuliah hingga aku kerja sebagai sekretarisnya Mas Amar. Sedangkan, saat aku sudah kerja menjadi sekretaris, saat itu Rasya tengah kuliah lagi. Ia kuliah spesialis jantung, cita-citanya sejak dulu. Namun, Dua tahun yang lalu, aku benar-benar tidak pernah tahu kabar Rasya sama sekali. Entah apa yang terjadi. Ia bahkan sulit untuk dihu

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   10. POV NURA

    POV NURADengan kesal, aku segera kembali memakai semua pakaianku yang berantakan diatas tempat tidur apartemen miliknya Mas Amar. Mas Amar tega sekali, ia meninggalkan aku sendirian di apartemen-nya. Apalagi, sekarang sudah sangat malam. Aku tidak mungkin untuk pulang sekarang. Terpaksa, aku memilih untuk berdiam dulu di apartemen ini hingga pagi. Aku mencoba menelponnya, namun dengan sepihak Mas Amar mematikan panggilannya.'Benar-benar menyebalkan!'Wajahku dan rambut ku juga basah gara-gara ulah Via. Ternyata dia galak juga. Aku pikir dia wanita yang manis dan lembut seperti yang aku kenal selama ini. Aku beranjak dari tempat tidur karena ingin mengambil handuk untuk mengeringkan rambutku."Aw..sss....." Si-al. Kaki ku menginjak pecahan gelas yang Via lemparkan waktu malam tadi. Aku berjongkok sambil melihat luka di telapak kakiku. Ada sedikit darah yang keluar, namun rasanya sangat perih hingga terasa berdenyut."Akh! Dasar! Via Sialan! Awssss... Kakiku sakit banget lagi!" ce

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   11. DOKTER ITU ?

    Karena masih terasa pusing, Via memilih berangkat naik taksi untuk pergi ke rumah sakit. Rasanya tak mungkin baginya untuk menyetir mobil sendiri dalam keadaannya yang sedang tidak enak badan seperti sekarang ini.Badannya benar-benar terasa mual. "Bu, Via mau ke rumah sakit dulu ya." Ucap Via pada ibu Nazwa yang tengah membaca majalah di kursi yang ada di teras luar rumahnya. Bu Nazwa menaruh majalahnya ke meja, ia melihat pada Via dengan khawatir karena tahu keadaan putrinya tengah tidak baik-baik saja."Loh, tadi katanya mau istirahat ?" "Via gak kuat, Bu. Kayaknya ini gak bisa ditidurkan. Kepala Via rasanya benar-benar pusing. Badan Via juga terasa mual, gak enak banget.""Kalo gitu ibu antar, ya ?""Jangan, Bu. Via akan naik taksi aja." Sergah Via yang tak mau merepotkan Ibunya."Oh yaudah deh kalo itu mau kamu. Tapi kamu mesti hati-hati ya, Nak.""Iya, Bu.""Oh iya, Bu. Rasya udah pulang ya ?" tanya Via sambil melihat pada Rumah Rasya yang bersebelahan dengan rumahnya. "Ah,

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   12. TENTANG RASYA

    POV RASYASebenarnya, aku tidak mau pulang ke Indonesia. Jika saja bukan karena ayahku terkena lumpuh, aku pasti akan tetap memilih tinggal di Singapura.Aku benci pada ayahku atas apa yang dia lakukan pada ibu saat aku masih SMA. Ibuku yang bernama Almira, sampai pergi untuk selama-lamanya atas perbuatan bejatnya.Datang ke Indonesia juga membuat rasa sakit itu kembali terasa dalam hati ku. Rasa sakit ketika aku melihat ibuku sendiri meninggal di depan mata kepalaku sendiri atas perbuatan ayah ku sendiri. Perih dan pedih sekali rasanya.Namun, saat ini aku berusaha memaafkan kesalahan ayahku. Meskipun itu sangat berat. Aku berusaha ikhlas atas kepergian ibu dan menganggap itu semua memang sudah takdir. Aku berusaha baik lagi pada ayahku. Apalagi, sekarang ayahku tengah sakit. Aku tidak mau menjadi anak durhaka. Dan aku tidak mau sampai tidak ada kesempatan lagi untuk berusaha memaafkannya.Tidak hanya itu, kembalinya aku ke Indonesia juga semakin takut membuat ku tidak bisa menghilan

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   13. WANITA PELACUR ITU ?

    Amar sampai di rumah ibunya Via---Bu Nazwa. Ia menutup pintu mobilnya dan melihat ada Bu Nazwa yang tengah di teras luar. Berkali-kali Amar menghela nafasnya untuk berusaha berani menanyakan Via pada Bu Nazwa."Kamu harus berani, Mar. Kamu itu lelaki, kamu harus gentle!" batinnya berucap menguatkan dirinya sendiri.Bu Nazwa yang tengah ada diluar menunggu kedatangan Via langsung berdiri begitu melihat Amar datang. Ia merasa sangat kecewa atas apa yang Amar lakukan pada putrinya."Assalamualaikum, Bu." Ucap Amar sambil menjulurkan tangannya setelah menghampiri Bu Nazwa. Ia ragu-ragu melakukan hal itu, karena meyakini jika Bu Nazwa juga akan kecewa padanya."Wa'alaikum salam." Sambil meraih uluran tangan Amar, Bu Nazwa menjawabnya. Meskipun dia merasa kecewa, ia merasa tetap harus bersikap dengan baik."Bu, Maaf saya mau ketemu Via. Via pasti ada disini 'kan, Bu ? Saya mohon ijinkan saya untuk bertemu dengan Via, Bu." Pinta Amar dengan penuh harap. Perasaannya sangat malu sekali karena

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   14 LUKA YANG TAK TEROBATI

    BUGH! "Se-tan! Ngapain Nura ke rumah segala!" Amar memukul setir mobilnya dengan keras dan penuh rasa marah begitu melihat Nura sudah ada di teras depan rumahnya. Ia merasa semakin pusing dengan kehadiran Nura dalam kondisi dirinya seperti ini. Lelaki itu merasakan hidupnya benar-benar hancur saat ini. Semua terasa berat untuk dia jalani.Nura yang sudah menunggunya sejak tadi. Ia langsung berdiri begitu melihat mobil Amar masuk ke gerbang dan berhenti di bagasi. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada karena sangat marah pada Amar yang tak bisa dihubungi. Ia tidak terima dengan perlakuan dingin Amar terhadapnya.Dengan perasaan yang terasa mumet, Amar turun dari mobilnya. Ditambah lagi dengan kehadiran Nura yang semakin menambah rasa marah dalam hatinya."Bagus ya, kamu! Aku telpon berkali-kali nomor kamu gak aktif! Ke kantor juga gak datang! Dan waktu malam kamu ninggalin aku sendirian di apartemen! Maksud kamu apa cuekin aku, Mas ?!" tanpa aba-aba Nura langsung menyambar Ama

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-20
  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   15. CINTA TERPENDAM

    Bu Nazwa tertegun melihat Rasya, anak dari Bu Almira--sahabatnya itu. Bu Nazwa sangat pangling dengan perubahan Rasya yang begitu menakjubkan."Bu. Masih ingat Rasya ?" Sambil menjulurkan tangannya, Rasya tersenyum ramah menatap wanita dihadapannya."Ya Allah... Ini beneran Rasya ? Jadi Nak Rasya beneran pulang ke Indonesia ? Ibu sampai pangling." Bu Nazwa meraih uluran tangan Rasya sambil tersenyum penuh kagum akan perubahan Rasya yang semakin bersih dan tampan.Ia mengelus-elus punggung Rasya saat punggung Rasya masih membungkuk menyalami punggung tangannya. Rasya sudah dianggap seperti anak sendiri baginya. Yang paling membuat Bu Nazwa takjub, sikap rendah hati Rasya yang tidak pernah berubah. Meskipun sudah delapan tahun tidak bertemu, Rasya tetap tidak melupakan dirinya. "Ibu sama bapak gimana kabarnya ?" tanya Rasya setelah kembali menegakkan punggungnya."Alhamdulillah.. ibu baik sama bapak baik, Nak. Ayahnya Via itu sibuk terus. Ia tengah ada kerjaan proyek di luar kota. Kamu

    Terakhir Diperbarui : 2023-02-21

Bab terbaru

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   136. END

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - ENDDua hari kemudian, Pak Bram di operasi jantung. Rasya sendiri yang memilih untuk mengoperasi ayahnya itu sebagai bakti pada ayahnya. Operasi berjalan dengan lancar. Jantung Bu Sinta sudah berhasil dicangkokkan pada tubuh Pak Bram. ***Dua bulan kemudianSudah sekitar dua bulan lamanya, Amar tidak berani keluar rumah. Ia trauma dipenuhi penyesalan atas kepergian keluarganya gara-gara dirinya. Dan ia juga malu dengan keadaan wajahnya yang sekarang. Bi Darmi yang merupakan asisten rumahnya, membantu Amar untuk bisa kembali seperti sebelumnya. Keadaan psikisnya cukup terganggu. Usaha restorannya juga tidak dijalankan. Ia memilih menutup usaha barunya itu. Setiap kali ia melihat restoran tersebut, Ia selalu teringat pada semua kesalahannya yang sudah menyebabkan semua keluarganya meninggal dan juga teringat pada wajahnya yang sekarang menjadi tidak setampan dulu lagi. Ia teringat pada kejadian saat Lidiya menyemburkan air keras itu pada w

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   135. KEADAAN AMAR

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Keadaan AmarSatu Minggu kemudian...Sekarang, Amar membuka matanya setelah melewati masa kritis yang cukup lama. Di ranjang pasien, Tatapannya melihat ke atas, mengingat dimana ia sekarang, dan apa yang sudah terjadi padanya. "Aku, di rumah sakit ?" tanyanya sendiri, Setelah melihat ruangan tersebut. Tak lama ia tersadar pada semua kejadian sebelumnya. Perasaannya mendadak pedih. Ia menghela nafasnya. Rasanya semua yang terjadi padanya begitu berat untuk ia terima."Huh... Aku baru sadar, Aku kehilangan Keluargaku, dan yang terakhir, aku bertemu Lidiya, dan...." Ia teringat apa yang dilakukan Lidiya pada wajahnya. Mendadak ia membangunkan tubuhnya hingga posisi duduk dengan panik. Amar langsung memegangi wajahnya yang masih dienuhi per-ban itu dengan kedua tangannya. "Wajah aku ?! Lidiya menyemburkan air keras pada wajahku! Apa wajahku baik-baik saja ?! Batinnya gelisah." Ia mencari keberadaan dokter. "Dok!!! Dokter!!! Dokter!!!" Teriak

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   134. HANCUR!

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Hancur!"Ternyata dia disini!" Batinnya geram.***"Ternyata aku gak perlu susah payah untuk menyerahkan kamu ke polisi!" ucap Amar. Lidiya membalikkan badannya, Melihat pada seorang lelaki yang sudah membuatnya tergila-gila jatuh cinta juga sudah membuat dirinya hancur sehancurnya. Ia tersenyum sinis dengan kedatangan Amar. "Akhirnya kamu datang juga, Mas." Lidiya mengucapkannya dengan santai. Berbeda dengan Amar yang sudah dipenuhi amarah."Kamu benar-benar perempuan tidak waras! Kamu sudah membunuh semua keluarga aku!" Pekik Amar dengan tatapan ta-jam tanpa basa-basi."Benar-benar gi-la! kamu, Lidiya" Lagi-lagi Lidiya hanya tersenyum sinis dengan santainya. Ia senang melihat Amar begitu marah atas perbuatannya. "Aku memang gi-la, Mas. Aku menjadi gi-la seperti ini karena kamu. Apa yang aku lakukan, Semua itu karena kamu sendiri, Mas. Kamu sendiri yang menyebabkan semua ini terjadi. Bukankah aku sudah pernah bilang sama kamu, Aku akan m

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   133. POV LIDIYA

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - POV LidiyaSetelah beberapa menit kemudian, Nura mulai sekarat. "A... A.. " lirihnya kesakitan. Semua orang yang ada disana panik. Amar segera menggenggam telapak tangannya dan menatapnya lirih."Ma-af, Mas... A-ku ha-rus per-gi.." Amar tak berkata apapun. Ia hanya menangis mesti siap kehilangan Nura, setelah ia kehilangan anaknya. "Ikuti aku, Ra..." ucap Via. Ia mendekati Nura dan menurunkan kepalanya untuk membisikan kalimat syahadat ke telinga Nura. "Asyhadu a La ilaha ilallah.... " Ucap Via. Dengan susah payah Nura berusaha mengikuti."Asyh-- ha.. du a... La- i-lah-ha-i-la-lah...." Ucap Nura."Wa.. asyha du an... na.. Muhammadar.... Rasulullah....." Ucap Via lagi. Nura kembali berusaha mengikuti. "Wa.. asyh.. ha..du..an..na..Mu-ha-mad-dar... Ra-su-lu-lah... Huh....." Ucapnya hingga kemudian hembusan nafasnya berakhir. Nura sudah tiada. Air mata pun mengalir dari pelupuk mata Via dan Bu Sinta, juga Amar. Sedangkan, Rasya dan Diana ha

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   132. MAAF

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Maaf (132)"Ya Allah, Tolong jangan ma-tikan aku dulu sebelum aku meminta maaf pada Via dan ibu. Aku ingin menuntaskan dulu semuanya...." lirihku dalam hati dengan sungguh. Selama ini, Aku sangat jarang sekali berdoa apalagi shalat. Aku benar-benar sombong dan telah tertipu oleh segala ujian dunia hingga aku menjadi manusia yang begitu ja-hat.***Nura juga teringat pada Amran. "Amran... Dimana dia ?" Batinnya. Hingga kemudian ia baru tersadar ada suara seorang lelaki yang menangis sesenggukan dan terdengar begitu terpuruk. Hii..hii..hii... Tangis tersebut adalah tangisan Amar yang masih meratapi Amran yang sudah tiada. Amran dirawat di ruangan IGD di sebelah Nura. Mereka hanya terhalang oleh sebuah tirai hijau. Mendengar tangisan Amar, Nura dalam keadaan sangat lemah itu, menjadi cemas. "Apa yang terjadi dengan Amran ?" batinnya lagi. "Ma-s!" Nura pun berusaha memanggil Amar. Namun Amar tak dapat mendengarnya karena suara tangisnya se

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   131. Detik-Detik Terakhir

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Detik Terakhir[Halo.... Sayang. Aku Lidiya. Sekarang aku ada dirumah kamu. Dalam hitungan menit, kemungkinan kamu akan kehilangan semua keluarga kamu] Jawab seseorang yang ada ditelpon yang langsung diakhiri begitu saja dari sana. Suara wanita yang tidak. asing itu, seketika membuat Amar terkejut. Ia panik. "Lidiya ?! Keluargaku!" ucapnya syock.***Amar segera berdiri, kemudian mengambil kunci mobilnya. "Mereka dalam bahaya!" Ucapnya, sembari melangkahkan kaki keluar pintu ruangannya. Ia segera menuju mobilnya, dengan cepat langsung masuk kedalam mobil, dan tak lama kemudian ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat. Ia panik, pikirannya kacau takut terjadi apa-apa pada keluarganya. Di sisi lain, Nura masih meringis kesakitan. Pikirannya kalut, apalagi begitu mendengar suara pecah Alasaka yang semakin membuatnya panik, takut terjadi hal buruk juga pada ibunya dan Amran. "Apa jangan-jangan ka-mu masukan ra-cun ke ma

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   130. DENDAM LIDIYA

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Dendam LidiyaLidiya membawa makanan-makanan sup daging sapi yang sudah berisi racun itu ke meja makan. Sedangkan, mangkuk berisi makanan untuk dirinya dan Alaska, sengaja masih ia simpan di dapur agar tidak tertukar dengan makanan-makanan yang sudah dicampur dengan racun. Dengan ramah, ia menaruh satu persatu mangkuk berisi sup sapi itu ke depan Bu Sinta dan Nura. Untuk Amran, Amran makan berdua dengan Bu Sinta, sehingga di satu mangkuk-an, karena Amran mesti disuapi. Aroma lezat dari sup itu membuat siapapun yang menci-umnya, langsung merasa lapar. Hingga tak ada sedikitpun rasa curiga dari Bu Sinta dan Nura pada Lidiya."Aduh, Nak Lidiya. Ibu jadi gak enak gini, sampai disiapkan segala. Makasih ya." ucap Bu Sinta dengan ramah. Lidiya membalasnya dengan berpura-pura tersenyum. "Iya, Bu. Gak papa. Malahan saya seneng banget bisa kumpul sama kalian semua. Saya udah berasa sama keluarga kalo sama kalian. Tahu sendiri, Mas Robby 'kan sibuk

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   129. BOTOL RACUN

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Botol Racun"Nura, Kamu masih marah sama ibu ? Sudah lama kamu diamkan ibu terus... Ibu tidak tau harus bagaimana lagi untuk bisa mendapatkan maaf kamu, Ra..." ucap Bu Sinta disaat Nura tengah duduk memainkan ponselnya berselancar di sosmed. Sedangkan Amran sudah tidur, setelah ditidurkan oleh Bu Sinta sejak beberapa menit yang lalu. Dan Amar masih berada di restaurant untuk mengecek usaha barunya itu. Itu sebabnya, Sekarang di rumah hanya ada Bu Sinta dan Nura. Dan bagi Bu Sinta, Ini waktu yang tepat untuk ia berbicara serius dengan Nura. Mendengar itu, Nura langsung meletakkan ponselnya ke meja. Suasana hatinya mendadak kesal. Kemudian ia menoleh dengan sengit menatap ibunya itu. "Apa dengan kata ma-af, Ibu bisa membuat aku tidak menjadi anak dari seorang perempuan yang pernah menjadi wanita malam ?!" Bu Sinta hanya terdiam pilu. Sedangkan Nura langsung berdiri. Perasaannya mendadak penuh amarah juga sedih."Apa ibu tau, Hati aku sakit,

  • KELAKUAN SUAMI DAN SAHABATKU   128. MENGOBATI

    MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU - Mengobati (128)Rasya mendorong Pak Bram yang sekarang tengah ada dikursi roda, usai diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia melangkah masuk, Sedangkan Via yang menggendong Adiba, dan Pak Padli yang menggendong Aqila, juga Bu Nazwa, berjalan dibelakang mereka. Hari ini adalah hari penuh bahagia bagi mereka, Karena Rasya dan Pak Bram bisa memiliki hubungan yang baik kembali. "Ayah, Nanti ayah tidur dikamar bawah ya, biar lebih mudah kalo mau ke dapur. Nanti bibi juga akan bantu ayah. Rasya juga akan terus periksa keadaan ayah." Pak Bram mengangguk diiringi senyum.***Hingga kemudian, Pak Bram dan yang lainnya berbincang diruang tengah. Rasya meminta ayahnya itu untuk istirahat, Namun Pak Bram ingin berkumpul dulu dengan keluarganya. "Mas, Aku mau masak dulu, ya ?" ucap Via pada Rasya yang tengah duduk di sampingnya."Oh, Iya. Adiba biar aku yang gendong." Rasya mengambil alih Adiba dari pangkuan Via. "Adiba, Sama ayah dulu ya." Adiba

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status