"Apa kemarin Pak Danyon marah? Maaf saya cerita pada beliau karena memang saya ditugaskan menjaga Anda selama beliau di sana," jelas Dika."Ya begitu, tapi tidak apa-apa, Mas, kalau begitu aku berangkat saja, Mas. Jam praktekku 15 menit lagi."Sampai pagi pesan terakhir Jenar tidak dijawab oleh Damar. Dia sungguh marah dengan sikap Jenar, kenapa bisa hal seperti itu Jenar hanya diam.***"Dokter! Kenapa malah melamun? Apa Dokter sakit?" Asri memegang bahu Jenar yang menatap kosong. Tidak hanya sehari Damar tidak memberinya kabar, tapi 3 hari ini. Jahat untuk Jenar, ketika dia dibuat bingung dan ingin sekali bertemu dengan tidak membalas atau menjawab pesan darinya."Aku baik-baik saja. Sedikit pusing, mungkin juga efek haid di hari pertama. Oh ya, apa hari ini jadwal sore diubah. Aku ingin pulang lebih cepat.""Jadwal sore ini kosong, jadi Dokter bisa pulang dan istirahat lebih cepat." Mendengar itu seperti angin segar untuk Jenar. Hari ini jujur saja dia malas untuk melakukan kegiata
"Mama–" rintihan lirih keluar dari mulut Jenar yang baru sadarkan diri. Matanya perlahan terbuka. "Apa masih terasa sakit?" Karena penglihatan Jenar belum begitu jelas, dia mengedipkan mata beberapa kali. Ingin segera pandangannya segera normal, karena penasaran suara seseorang yang ada di sampingnya begitu dia kenal. "Mas—" panggilnya lirih, aroma tubuh seseorang yang ada di sampingnya membuatnya tau siapa yang bersamanya. "Kamu itu, sudah tau sedang sakit, tapi tetap saja melakukan kegiatan. Ceroboh sekali." "Selalu saja di marahi. Apa tidak boleh aku memelukmu dulu baru marahi aku. Jahat sekali beberapa hari tidak ada kabar, dan sekarang malah marah lagi. Sudah saja usir sekalian aku dari sini," gerutu Jenar yang meluapkan kekesalannya pada Damar, suaminya. "Mau di usir ke mana? Lihat kamu sedang di mana sekarang." Mendengar itu, otak Jenar coba memproses. Dia melihat sekitar dan ada jarum infus yang menacam dilengan kirinya. Coba mengingat sedang di mana dia sekarang.
Dari cerita yang Wulan katakan pada Damar, dia harus paham kondisi Jenar yang memiliki trauma akan sikap kasar mantan kekasihnya. Jenar menerima pelukan dari Damar, seketika dia menangis. Tidak peduli lagi jika orang lain akan melihatnya atau pun terganggu mendengar tangisnya. Dia sungguh merasa sesuatu hilang ketika tidak mendapat kabar dari Damar. "Memangnya salah jika aku mulai merasa rindu padamu, Mas?" tanyanya, dia mulai terbiasa dengan sikap Damar, kedekatan dan juga perhatian dia. Namun, itu seperti Jenar rasakan sendiri, karena suaminya malah mendiami bukan malah merayu dan membuktikan cintanya. "Tidak juga. Jika kamu tidak merasa rindu, maka aku akan lebih keras lagi membuatmu jatuh hati. Sekarang, perlahan rasa nyaman itu datang. Aku harap kamu tidak menyesal hidup denganku." Masih dalam pelukan suaminya, Jenar membalas pelukan suaminya. "Sudah ah ... aku malu di dengar orang." Setelah puas menangis dan membuat kemeja Damar basah, dia mendorong pelan tubuh suaminya.
"Apa kamu biasa seperti itu, bersikap manis pada lawan jenis?""Dia teman sesama Dokter, Mas, salah lagi untuk ini? Masa iya aku memasang wajah ketus." Jenar sudah di mobil dengan Damar yang terus menggerutu."Aku bertanya, apa aku sedang mengataimu kenapa jawabanmu seperti itu.""Dari cara Mas bicara, terdengar marah. Bilang saja cemburu selesai.""Ya kalau memang cemburu kenapa, apa kamu lupa lagi arti cincin di jari manismu itu?" Damar menatap tak terima akan jawaban yang isterinya lontarkan."Ah ... bisakah besok-besok saja mendebatkan hal yang jelas tidak seperti Mas pikirkan? Moodku sedang buruk, ini hanya akan membuat kita berdebat saja." Matanya sudah berkaca-kaca, sejak tadi apa yang Damar katakan seperti menantang emosinya.Sesampainya di rumah dan membawakan masuk jajanan yang Jenar beli, Letkol tampan itu segera pamit. Sebelum pergi, dia mencium kening isterinya lama, tanpa bicara apapun. Hal itu sepertinya akan menjadi kebiasaan untuk Damar sekarang."Jam berapa besok kit
"Kalau aku membiarkanmu pergi, apa kamu tidak akan bersikap manis lagi padanya?" tanya Damar dengan tatapan tegas."Masih mau membahas itu?" Jenar mulai bete kalau Damar sudah memasang wajah kesal."Aku tidak membolehkannya." Dari raut wajah Damar, dia tidak sedang bercanda. Dia menatap Jenar dengan serius, apalagi jawabannya langsung tanpa memikirkan lebih dulu."Mas sungguh-sungguh?" Jenar yang terkejut dengan jawaban dari sang suami coba menanyakan kembali. Hanya karena dia bersikap baik, suaminya melarang untuk pergi, meskipun itu acara bakti sosial."Tentu, pergilah kalau kamu mau aku marah padamu." Ada hal yang belum Jenar tau, dan sekarang ketika apa yang menurutnya untuk kegiatan sosial, namun Damar malah tidak mengizinkan."Memangnya apa alasannya?" Tak terima dengan jawaban sang suami, dia kembali bertanya. Kenapa suaminya melarang ketika hanya karena sikap Jenar pada rekannya saja."Aku tidak suka kamu dekat dengannya, siapa tadi namanya, Dokter—" Dia saja tidak ingat, tapi
"Sudahlah, Mas, pasti pembahasan ini akan menjadi perdebatan kita. Sebaiknya aku pulang, aku lelah sekali. Besok bukankah harus menemui atasan Mas yang tidak ada tadi." Jenar berharap dia tidak terkekang dengan keputusan Damar. Traumanya menjadikan sikap Damar terlalu protektif pada pasangannya sekarang. Memang ada baiknya, namun tidak baik saat itu berlebihan. Apalagi cemburu tidak jelas, seperti Jenar tidak boleh bersikap baik pada pria lain. Entah sikap yang seperti apa itu, yang jelas untuk sekarang Jenar coba memahami bagaimana Damar. Berusaha untuk tidak lagi memikirkan apa yang menjadi keputusan Damar sedang dia lakukan sekarang. Sesampainya dia langsung bersantai setelah membersihkan rumah dan pakaian kotor, Jenar termenung dan mengingat setiap perkataan Damar. Dia sudah tau dari Wulan sikapnya seperti ini karena luka hatinya, namun tidak serta-merta dia melarang apa yang menjadi tugasnya. Dia seorang Dokter, jika seperti ini apa Jenar bisa fokus, ketika di dalam pikiran Dam
"Foto prewed di area seperti ini akan bagus. Apa Mas mau?" tanya Jenar.Dia mulai membayangkan dia mengenakan pakaian pengantin foto berdua bersama Damar dengan suasana pemandangan hijau yang terbentang."Apa saja mau mu lakukan selagi itu baik.""Kita bicarakan itu saat pulang. Oh ya, Mas, boleh aku mengundang para sahabatku setelah ijab kabul. Tidak banyak kok, hanya beberapa. Teman perempuan saja, tidak ada prianya. Ada satu tapi dia lekong." Seakan tau apa yang suaminya akan tanyakan, Jenar menjelaskan dengan detail."Undang saja. Setelah menikah kita satu rumah kan? Kamu tidak akan takut padaku?"Dia takut jika Jenar akan kembali trauma ketika tinggal bersama. Haruskah juga mereka tinggal di rumah berbeda."Kenapa harus takut. Bukankah Mas itu suamiku.""Aku takut saja ketika kita mulai tidur satu ranjang malah kamu menangis karena traumamu. Seperti sebelumnya terjadi." Damar hanya memeluk saja, tapi Jenar sudah menangis ketakutan."Benar juga, bagaimana jika seperti itu, Mas?" J
Meski tidak ada yang parah, Damar tetap harus menggunakan penyangga punggung. Dia dianjurkan menjalani terapi agar rasa sakitnya tidak terus menyiksanya."Kenapa Mas malah tersenyum?"Saat sampai di rumah dinas, Damar malah tersenyum karena harus dibantu untuk berjalan masuk hingga berbaring ke kamar."Tidak ada yang lucu, sudah istirahat dulu. Besok izin saja, aku tadi minta surat dokter juga. Jadi, Mas tidak perlu memaksakan diri. Mas—"Damar masih saja tersenyum. "Lucu saja, kemalangan menimpaku saat kita sedang istirahat.""Hari apes tidak ada di kalender apalagi membaca situasi kapan akan apes, tapi saat Mas tidak respon dengan cepat tadi, maka aku juga yang celaka.""Padahal besok ada kegiatan tradisi pindah satuan." Damar menghela nafas pelan, dia besok akan sangat sibuk, tapi malah terjadi hal seperti ini. Celaka ketika sedang istirahat di tempat yang mereka pikir aman. Memang benar kata Jenar, kemalangan tidak ada di kalender."Minimal istirahat 3 hari, Mas, jangan keras kepa
"Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b
"Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj
"Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang
"Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y
"Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu
"Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya
Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu
"Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d
"Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk