Tiga hari Arsha di Ho Chi Minh dan hanya satu hari ia pergi keluar kamar hotel yaitu mengunjungi galeri, selebihnya ia mendekam di kamar hotel atau hanya menikmati fasilitas kolam renang dan gym. Terkadang Arsha makan siang sendiri di restoran atau minum kopi di cafe yang masih berada di gedung hot
“Maksud aku, tadi malam itu pertama kali kalian melakukannya karena waktu ulang tahun Presiden kalian hanya tidur satu kamar saja, tidak melakukan apapun ... ya khaaaaan?” Arsha mengarahkan telunjuknya pada Fabian dan Nufaira. Keduanya saling melempar tatap lalu kompak menggelengkan kepala. Dan su
Arsha sudah mengisi waktu luangnya dengan melukis semenjak beberapa minggu atau bulan yang lalu dan Kama baru menyadarinya beberapa hari terakhir. Pernah suatu malam ketika pulang bekerja, Kama mendapati pintu kamar Kalila terbuka sebagian kemudian mengecek ke dalamnya dan ia menemukan sang istri t
Ia sudah banyak melihat berbagai karya seni terkadang Arsha bereksperimen dengan menggabungkan karakteristik dari berbagai aliran seni lukis. Terdapat kepuasan sendiri bagi Arsha jika eksperimennya berhasil menjadi sebuah karya, akan tetapi pandangan setiap orang pasti berbeda-berbeda dan bagi Arsh
Seperti seorang Manager pemasaran yang diberi target untuk pencapaiannya setiap bulan, Arsha juga memberi target dalam menghasilkan karyanya. Setiap harinya minimal harus dua ataupun tiga lukisan yang berhasil dibuat padahal bagi seorang pelukis untuk menghasilkan satu karya dalam waktu berbulan-bu
Arsha mendapat kabar jika Kakek dan Nenek sang suami beserta kedua mertuanya akan datang ke Vietnam. Tentu saja Arsha bahagia karena mereka jarang bertukar kabar melalui sambungan telepon tidak seperti dengan keluarganya sendiri, bahkan dengan Opa Beni saja—Arsha sering menanyakan kabar melalui pes
“Trus apa kata Abang?” sang Nenek yang bertanya. “Kata Abang, Abang mau tidur di hotel aja ... bawa cewek mungkin,” jawab Arsha melebihkan meski nyatanya Kama meminta pengertiannya “Wah, Kakek pecat jadi cucu!” sang Kakek mengultimatum. “Siapa yang dipecat jadi cucu?” suara bariton Kama menggeleg
Sengaja Arsha memberikan tatapan tajam ke arah sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk pada pinggangnya. “Mesti ya mandi malem-malem, sok pamer otot segala ... gue ‘kan jadi pengen,” Arsha membatin namun raut wajahnya ia buat segarang mungkin. Selama member