Khandra menyusuri wajah Evanna yang terlihat ketakutan. Air mata sudah membasahi pipinya yang pucat. Khandra tertawa sinis saat melihat keadaan Evanna yang terlihat menyedihkan.
Perempuan ini beberapa menit yang lalu bisa dengan angkuh mengejeknya dan sekarang, ia tak berdaya di bawah kungkungannya. Sekarang wajah berang perempuan itu berubah menjadi tikus yang terpojok dan menggigil ketakutan.
Namun, bukannya merasa kasihan Khandra justru menikmatinya. Perempuan ini harus diberi pelajaran supaya ingat posisinya. Kalau tidak, ia bisa menginjak-injak harga dirinya kapan saja.
“Kau bilang aku menjijikkan bukan? Aku akan tunjukkan padamu seperti apa wujud menjijikkan seperti yang kaubilang padaku tadi.”
Khandra melepas dasi yang dipakainya dengan satu tangan. Satu tangannya yang lain masih mencekal erat kedua tangan Evanna. Gadis itu memberontak, tapi tangan besar Khandra semakin erat mencengkeran kedua pergelangan tangannya.
Khandra mengikat kedua tangan Evanna dengan dasinya. Diikatnya kuat-kuat supaya Evanna tak bisa membebaskan diri dari jeratnya.
Evanna menjerit saat pakaiannya dikoyak Khandra secara paksa. Ia ingin siapa pun yang ada di luar bisa mendengar teriakannya. Namun, sayang suaranya tak akan didengar oleh siapa pun.
Penthouse apartemen Khandra ada di lantai paling atas. Seluruh unit di lantai ini hanya dihuni oleh Khandra seorang. Sekencang apa pun Evanna berteriak tak akan ada yang bisa mendegarnya.
Evanna hanya bisa menangis tergugu dan mencoba melepaskan ikatan tangannya. Semakin keras Evanna menarik tangannya, semakin menyakitkan. Kedua pergelangan tangan Evanna seperti teriris.
Khandra tak memedulikan apa-apa lagi. Ia menggeram dan menundukkan kepalanya. Bibirnya menelusuri wajah, leher, hingga dada Evanna yang terbuka menantang kelelakiannya.
“Aku mohon, hentikan,” ratap Evanna di antara isak tangisnya.
Seumur hidup belum pernah ia diperlakukan seperti ini. Ia memang kerap dihina dan dicaci. Namun, tak pernah sekalipun ia dipermalukan seperti ini. Apalagi oleh seorang yang disebut sebagai suaminya.
Khandra tak mau mendengar apalagi peduli dengan tangis Evanna. Ia muak mendengar mulut manis perempuan. Sekali ia lengah, maka mereka akan semakin jumawa menginjak-injak harga dirinya, termasuk Evanna.
“Kenapa kau takut?” ejek Khandra terkekeh.
Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Evanna. Wajah galak yang tadi diperlihatkan Evanna pada Khandra sekarang sudah berubah 1800. Evanna seperti terpidana mati di depan algojonya, meratap supaya dibebaskan.
“Hentikan, jangan seperti ini!” ratap Evanna sekali lagi.
Evanna berharap suaminya itu masih memiliki nurani. Paling tidak laki-laki itu tahu bagaimana memperlakukan istrinya sendiri.
Evanna kembali memberontak saat tangan besar dan kekar Khandra menekan dadanya kasar. Evanna melolong kesakitan sambil menjerit.
Namun, apa yang dilakukan Evanna semakin membuat Khandra kesal. Evanna benar-benar perlu diberi pelajaran. Perempuan itu sudah tak punya kekuatan melawan, tapi masih saja berteriak keras yang membuat telinga Khandra berdengung menyakitkan.
Evanna semakin berteriak keras saat Khandra juga melepas rok yang dipakainya. Dengan sekali sentak rok satin abu-abu itu sudah teronggok di sudut kamar.
Khandra menjauhkan tubuhnya dan menjulang berlutut di atas tubuh Evanna. Dengan senyum miringnya ia tertawa mengejek Evanna yang penampilannya sudah tak keruan lagi.
“Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?” tanya Evanna lemah di antara isak tangisnya.
Khandra seharusnya tahu Evanna adalah istrinya dan memperlakukannya seperti ini membuat Evanna merasa ia sebagai budak Khandra, yang bisa diperlakukan semau tuannya.
“Karena kau harus diberi pelajaran supaya kau tahu posisimu. Aku tak akan pernah membiarkan perempuan sepertimu menghinaku seenak perutmu.”
“Aku istrimu,” teriak Evanna.
“Benar. Dan karena kau adalah istriku, aku bisa memperlakukanmu semauku. Kenapa kau menyesal sudah menjadi istriku? Hah, sudah terlambat! Aku bisa menikmatimu dengan cara apa pun dan kapan pun aku mau,” ucap Khandra dengan senyum licik di bibirnya.
Setelah berkata seperti itu, seperti kesetanan Khandra mengoyak pakaian terakhir Evanna yang tersisa. Di tengah jerit tangisnya, Evanna hanya bisa pasrah saat rasa sakit mengunjam tubuhnya.
٭٭٭
Angela tengah menata berkas-berkasnya di atas meja. Malam sudah semakin larut. Ia melirik jam tangan yang melingkari tangan kirinya. Sudah jam 10 malam.
Tubuhnya penat, terutama pikirannya. Melayani pasien gangguan jiwa dengan beragam masalah dan fase sangat menguras tenaganya.
Angela seorang psikiater. Ia memiliki klinik yang dikelolanya bersama beberapa rekannya sesama dokter. Kliniknya sudah sangat terkenal di seantero ibu kota, bahkan ada pasien dari luar kota yang rela mengantre untuk dapat berkonsultasi dengannya.
Angela mengambil tas hitamnya yang ada di atas meja. Ia hendak melangkah menuju pintu ruangan praktiknya saat pintu itu menjeblak terbuka.
“Berikan aku bupropion, Tante!”
Khandra masuk tanpa permisi dan langsung duduk di sofa panjang yang ada di dekat pintu masuk. Angela mengangkat alisnya heran saat melihat keponakannya itu yang datang dengan terengah-engah.
“Kenapa?” tanya Angela. Ia meletakkan kembali tasnya ke atas meja dan duduk di samping Khandra.
“Aku membutuhkannya. Sekarang!” ucap Khandra setengah berteriak.
Khandra merasa emosinya sudah naik ke ubun-ubun, napasnya cepat, dan ia merasa kepalanya sudah mau meledak.
“Aku tak bisa memberimu obat tanpa tahu apa yang terjadi. Nah, sekarang bilang padaku, ada apa?” tanya Angela lagi.
Khandra tidak menjawab. Ia malah menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan matanya.
Terbayang lagi apa yang ia lakukan sebelum meninggalkan apartemen menuju klinik tantenya itu. Kelebat Evanna yang menangis dan berteriak kesakitan kembali terekam dalam memorinya.
Khandra tak pernah sebejat itu sebelumnya dan entah kenapa malam ini ia seperti kerasukan setan. Ia tak tahu iblis dari neraka bagian mana yang bisa membujuknya melakukan perbuatan laknat itu.
Terlebih lagi saat ia melihat ceceran darah yang terpercik di atas bed cover putih ranjangnya. Khandra menyesal saat mengetahui istrinya itu masih perawan dan ia memberikan yang terburuk bagi Evanna.
Khandra cepat-cepat mengenyahkan rasa penyesalan itu dari benaknya. Tidak itu bukan salahnya. Perempuan itu yang membuatnya melakukan hal itu. Ia tak perlu menyesal sudah melakukan semua itu. Evanna pantas mendapatkan hukuman darinya.
Kalau saja Evanna tidak mengungkit kembali kejadian memalukan yang ingin ia kubur dalam-dalam, Khandra tak mungkin akan terbawa emosi seperti itu. Ia sudah sangat terpuruk karena skandal itu. Dan Evanna dengan sesuka hatinya mengaduk-aduk lagi hal paling memalukan yang pernah Khandra lakukan.
Kalau saja Evanna tidak membuat emosinya naik sampai gelap mata, mana mungkin Khandra merudapaksanya. Perempuan seperti itu wajib diberi pelajaran supaya lebih tahu diri.
“Kau kenapa?” ucap Angela lembut, ”bukankah sudah sangat lama kau tidak memerlukan obat penenang?”
Sudah lebih dari tujuh tahun keponakannya itu terlepas dari obat-obat penenang. Dulu ia memang membutuhkan obat-obatan antidepresan karena kematian ibunya yang mengenaskan.
Namun, semakin ia bertambah dewasa, Khandra juga sudah bisa berpikir logis meskipun kadang keadaan membuatnya harus menguras emosi, tapi tak pernah ia sampai meminta obat penenang padanya.
“Bisakah Tante memberiku tanpa banyak bertanya?”
“Mana bisa. Meskipun kau keponakanku, sebagai psikiater, aku harus melakukan observasi terlebih dahulu sebelum memberi pasienku obat. Nah, sekarang apa masalahmu?” tolak Angela halus.
Khandra mengeluh putus asa. Ia ingin mendinginkan isi kepalanya saat ini juga. Dulu, ia terbiasa mengonsumsi obat penenang jika emosinya tidak stabil. Seperti saat ini, Khandra merasa emosinya sedang tidak stabil.
“Tante tak bisa membiarkanmu ketergantungan lagi. Sudah cukup. Kondisimu sudah sangat baik dalam tujuh tahun terakhir. Percaya padaku, kau tidak membutuhkannya. Kau hanya perlu menenangkan dirimu dan semua akan baik-baik saja,” ujar Angela tegas.
“Gampang sekali Tante bicara. Lalu aku harus bagaimana sekarang?” tanya Khandra semakin frustrasi.
“Pulanglah. Ada yang menunggumu di rumah. Aku hanya bertemu sekali dengan istrimu, tapi aku yakin ia bisa membuat hidupmu lebih baik. Dia perempuan yang baik menurut penilaianku. Kalau kau memperlakukannya dengan baik, ia juga akan baik padamu,” bujuk Angela.
“Itu sangat tidak membantu. Tante tidak tahu kalau perempuan itu hanya benalu,” keluh Khandra.
“Benalu? Benalu bagaimana maksudmu? Tante tidak mengerti.”
“Iya, Tante. Dia hanya benalu. Oh, tidak, bukan hanya benalu. Dia malah seperti lintah. Ya, benar lintah adalah sebutan yang paling cocok untuknya. Sama seperti yang lain, ia tidak hidup untukku. Ia hidup hanya untuk uangku. Kenapa Tante menatapku begitu? Tante tidak percaya padaku?”
Bersambung
”Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kauucapkan,” tanya Angela sambil menggelengkan kepalanya.”Evanna itu sama seperti perempuan lain yang mendekatiku. Ia hanya menginginkan uangku. Tante tahu, dia anak di luar nikah. Anak haram hasil selingkuhan bapaknya. Dia sengaja mau menaikkan derajatnya, makanya dia setuju untuk menikah denganku,” jelas Khandra berapi-api.”Oh, ya, betulkah itu?” tanya Angela lagi.”Tante nggak percaya padaku? Aku sudah mengecek latar belakangnya dan menurutku nggak ada bagus-bagusnya. Kelakuan orang tuanya yang tukang selingkuh seperti itu, pasti akan menurun ke anaknya. Kita sudah lihat salah satu contoh nyatanya,” terang Khandra meyakinkan Angela.Angela tertawa sumbang mendengar argumentasi Khandra. Ia paham hidup keponakannya itu tidak mudah. Khandra ditinggal ibunya pergi untuk selamanya sejak usia dua belas tahun. Ia terpaksa menerima kehadiran ibu dan adik tirinya dua tahun kemudian. Satu hal lagi yang membuatnya sulit mempercayai orang lain adal
Evanna beringsut ketakutan sambil memegangi selimutnya erat-erat. Dadanya naik turun dengan cepat. Tatapan mata Khandra yang tajam tanpa kedip seperti mendominasinya.Evanna masih teringat peristiwa menyakitkan tadi dan ia tak mau lagi merasakan sakit yang sama.Evanna membeliak saat suaminya itu melangkah mendekatinya. Satu lututnya sudah ia tumpu di tepi ranjang. Sudah cukup, tubuh dan hatinya tak bisa lagi menerima perlakuan Khandra yang di luar batas perikemanusiaan seperti tadi.Perlahan Evanna menggeser tubuhnya hingga punggungnya membentur headbed yang dingin. Tangannya dikatupkan di depan dada dan memegang erat selimutnya. Bibirnya bergetar saat air mata kembali menitik melalui matanya yang sembab.Evanna kembali tersentak saat Khandra menarik selimutnya keras. Ia berusaha menariknya kembali untuk menutupi tubuhnya, tapi sia-sia. Tubuh polosnya sekali lagi terekspos di depan laki-laki yang tak ubahnya monster di mata Evanna."Kau mau apa lagi?" cicit Evanna, lemah dan ketakuta
”Ini apa?” tanya Evanna. Khandra tidak menjawab. Ia membuka map itu, lalu meletakkan selembar kertas di atasnya. ”Surat perjanjian kita,” ujarnya singkat. Evanna membaca kalimat demi kalimat yang tertera dalam kertas itu. Ada beberapa klausul yang dituliskan Khandra sehubungan dengan pernikahan mereka. ”Kenapa harus pakai perjanjian?” tanya Evanna lagi. ”Kita harus mengatur segala hal, baik tentang peran, kewajiban, serta hak masing-masing dari kita selama pernikahan ini. Pernikahan ini mungkin hanya sementara. Paling cepat awal tahun depan kita bercerai. Kalau sial, mungkin dua atau tiga tahun lagi baru kita bisa bercerai,” terang Khandra yang terlihat sangat enteng menyebut kata cerai dan pernikahan sementara di depan Evanna. Evanna tersenyum miris. Ia semakin tidak mengenal suaminya itu. Perlakuan Khandra padanya sebelumnya sudah membuat Evanna kehilangan harga diri. Setelah itu, Khandra menunjukkan sikapnya yang lembut meski tak mengurangi perannya yang dominan dan suka meme
Evanna menikmati makan singnya di kafe yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Iced cappuccino, chocolate mousse, dan muffin sudah terhidang manis di atas mejanya. Cokelat memang hal yang sempurna untuk mengembalikan mood dan suasana hati yang rusak.Di kursi sampingnya terdapat beberapa kantong belanjaan. Evanna menghabiskan hampir setengah hari untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan juga kebutuhan kamar barunya.Toko tempatnya berbelanja pernak-pernik kamar yang ditunjukkan Khandra padanya bersedia mengantarkan barang pesanannya sampai ke apartemen. Lumayanlah, Evanna tak harus kerepotan membawa barang-barang yang tak sedikit itu.Sebelum belanja, Evanna mampir ke mesin ATM utuk mengecek saldonya. Ia melotot tak percaya melihat nominal yang tertera yang jumlahnya hampir mencapai dua kali lipat uang kuliahnya selama satu semester.Tapi Evanna harus hati-hati menggunakan uang Khandra. Siapa tahu Khandra memberinya uang itu bukan untuk satu bulan, tapi sampai bercerai hanya itu uang yang
Evanna memasuki aparteman Rakha yang ukurannya jauh lebih kecil daripada penthouse yang ditinggalinya bersama Khandra. Interior apartemen ini juga lebih minimalis. Meskipun begitu, Rakha cukup pandai memilih warna, sehingga isi apartemennya tidak terkesan suram seperti milik Khandra.”Apartemenku lebih kecil kan dibandingkan dengan punya Khandra?” tanya Rakha saat Evanna memperhatikan seluruh isi ruangan apartemen miliknya.”Kau punya apartemen bagus begini, tapi tidak kautinggali. Lalu buat apa apartemen ini?” tanya Evanna sambil mengenyakkan tubuhnya ke atas sofa coklat susu.”Dari sini ke kantor lebih dekat. Kalau aku banyak kerjaan, aku lebih memilih tinggal di apartemen ini daripada pulang ke rumah,” jelas Rakha.Rakha berjalan ke arah jendela. Dibukanya tirai lebar-lebar juga pintu kaca yang mengarah ke balkon.”Kau mau minum apa? Kelihatannya masih ada beberapa softdrink di kulkas,” tawar Rakha lagi.Evanna menggelengkan kepalanya. Ia sudah minum cukup banyak waktu di kafe tad
”Tante Angela,” sapanya pada wanita ramah itu.Angela tersenyum lebar dan memeluk istri keponakannya itu. Ia melangkah memasuki aparteman yang biasanya seminggu sekali ia sambangi.Angela tampaknya sudah sangat hapal apartemen Khandra. Ia langsung menuju ruang santai dan meletakkan paper bag yang dibawanya ke atas meja yang ada di ujung sofa.”Mumpung aku tidak terlalu sibuk, aku sempatkan mampir ke sini. Minggu kemarin aku luar biasa sibuk, bahkan satu jam sebelum pernikahan kalian ada pasien gawat yang membutuhkan pertolonganku segera. Makanya aku tidak bisa datang waktu kalian menikah,” ucap Angela sambil mengenyakkan tubuhnya ke atas sofa panjang yang didominasi warna dark grey itu.”Tampaknya tak ada perubahan sama sekali dengan apartemen ini. Kau dan Khandra apa tidak berniat mengganti furniture? Sejak lima tahun lalu Khandra menepati apartemen ini, isinya masih sama. warnanya pun terlalu monoton,” lanjut Angela.Evanna hanya tersenyum tipis mendengarnya. Mana berani ia mengubah
Khandra sampai ke apartemennya saat malam mulai menjelang. Sesampainya di apartemen, ia melangkah tergesa. Ia membuka pintu kamar Evanna tanpa permisi, lalu menjeblakkan pintunya kasar”Kenapa kau…?” pertanyaan Khandra menggantung di udara saat melihat Evanna tengah tertidur pulas.Khandra membuang napasnya kesal. Ia sudah siap dengan segudang petuah manis untuk istrinya itu. Tapi, saat melihat Evanna tengah tertidur damai, membuatnya tak bisa melanjutkan kata-katanya.Suasana kamar ini tampaknya sudah berubah dengan yang terakhir kali Khandra lihat. Warna krem dan peach mendominasi kamar yang sekarang dipakai Evanna. Warna-warna cerah yang memberikan kesan hangat.”Bangun!” Khandra menepuk bahu Evanna keras.Malam ini ada banyak hal yang harus ia konfirmasi dengan istrinya itu. Khandra bahkan rela melewatkan makan malam dengan ayahnya dan segera terbang pulang.Telepon dari Tante Angela kemarin malam membuatnya kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tantenya yang memberondongn
Khandra terdiam. Saat ia mengajukan semua syarat pada Evanna, semuanya terlihat begitu mudah. Tapi saat orang lain tahu, Khandra merasa ia harus menyiapkan banyak alasan yang semakin memojokkan posisinya.”Apa kau takut membuka kembali hatimu karena masa lalumu bersama Maira?” tanya Angela hati-hati.Sejak pertunangan Khandra dengan Maira dibatalkan, keponakannya itu memang menutup dirinya dari perempuan. Ia tak mau lagi memiliki hubungan serius dengan perempuan mana pun.”Jangan mengingatkanku lagi padanya, Tante. Dia sudah bukan siapa-siapa bagiku,” jawab Khandra.”Mengapa tak kaucoba dengan Evanna. Dia sudah sah menjadi istrimu. Kalau tak kaucoba membuka hatimu sekarang, lalu kapan lagi? Apa menunggu sampai ada mujizat baru kau mau membuka hatimu untuk istrimu?” tanya Angela.Khandra terdiam. Sakitnya dikhianati orang yang sangat ia cintai masih ia rasakan sampai saat ini. Apalagi Maira mengkhianatinya dengan Rakha. Benar-benar pukulan telak bagi Khandra.Angela merenung sejenak. E
Nisya menggertakkan gigi saat mendengar gedoran pintu kamarnya yang berulang kali. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit. Dia baru saja bersiap tidur, dan Beni, suaminya, sedang membaca buku di sampingnya. Gedoran itu kembali terdengar, lebih keras dan mendesak."Siapa sih?" desis Nisya sambil menyibakkan selimut. Beni mengangkat wajahnya dari buku, alisnya terangkat."Biar aku saja," tawar Beni, tapi Nisya sudah terlanjur bangkit dengan wajah masam."Tidak perlu. Pasti Khandra lagi," ucapnya dingin.Khandra, anak tiri Nisya, memang selalu menjadi duri dalam dagingnya. Setidaknya, begitulah yang selalu dirasakan Nisya.Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Di hadapannya berdiri Khandra dengan wajah tegang dan di belakangnya, Evanna, menantunya tampak berdiri dengan wajah tegang."Apa-apaan ini? Jam segini menggedor pintu kamar orang seperti orang kesetanan!" Nisya memandang tajam kedua orang di di depannya itu.Khandra menarik napas dalam. Matanya yang bias
Sudah beberapa hari Diva menghilang dan tidak dapat dihubungi. Orang tuanya, terutama Reni, ibunya sudah mulai khawatir. Tidak biasanya ia seperti itu. Reni sudah bertanya pada kenalan, saudara, dan teman-teman Diva, tapi tak ada seorang pun yang tahu ke mana Diva.Begitu juga dengan Rasena, ayah Diva. Selama beberapa hari ia kalang kabut mencari putri sulungnya itu. Setelah tak membuahkan hasil, Rasena pun mencoba peruntungannya dengan menghubungi Evana meski tak yakin kalau Evanna tahu keberadaan Diva.Malam itu Rasena menelepon putri bungsunya itu. Nada bicara Rasena terdengar sangat khawatir. Rasena bertanya pada Evanna apakah tahu ke mana Diva berada meskipun ia tak yakin mengingat hubungan Diva dan Evanna tak pernah baik.Seperti dugaan Rasena, Evanna tak tahu ke mana Diva. Terakhir kali Evanna bertemu dengannya saat di apartemen Evanna."Kamu yakin tidak tahu apa-apa ke mana Diva, Evanna?" tanya Rasena dengan nada mendesak.Evanna sebenarnya tahu masalah yang dihadapi Diva tapi
Diva tertegun, kedua kakinya seolah terpaku ke aspal. Di hadapannya berdiri Rakha, pria yang selama ini mengingkari keberadaan nyawa yang tengah tumbuh dalam rahimnya. Sorot mata Rakha sedingin es, sangat berbeda dari tatapan lembut yang dulu membuatnya jatuh cinta."Rakha?" Diva terengah-engah, masih berusaha menormalkan napasnya. Darah mengalir dari luka gores di lengan dan pipinya akibat ranting-ranting tajam yang menyayat kulitnya selama berlari menembus hutan."Diva," suara Rakha terdengar datar, tanpa emosi. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini."Di kejauhan, Diva masih bisa mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah hutan. Pria yang mengejarnya tadi belum menyerah. Dalam keputusasaan, Diva berlari ke arah Rakha."Tolong aku," pintanya dengan suara gemetar. "Ada seseorang yang mengejarku di hutan. Dia—dia mencoba menyakitiku."Rakha tidak bergeming. Tatapannya masih dingin, seolah Diva hanyalah orang asing yang tidak berarti."Masuklah," ujar Rak
Pria berjaket hitam itu diam-diam mengikuti Diva ketika ia keluar dari kafe. Jalanan sudah mulai gelap, dan Diva berjalan sendirian menuju parkiran mobilnya. Ia sibuk dengan ponselnya, tidak menyadari langkah kaki yang semakin mendekat di belakangnya.Saat ia hendak membuka pintu mobil, sebuah tangan kuat tiba-tiba menutup mulutnya. Diva memberontak, mencoba berteriak, namun suara teredam oleh sapu tangan yang menempel di wajahnya. Bau tajam menyerang hidungnya, dan perlahan, kesadarannya mulai memudar.Ketika Diva terjatuh tak berdaya, pria berjaket hitam itu mengangkatnya ke dalam sebuah van hitam yang telah menunggu. Pintu tertutup rapat, dan kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan parkiran.Selang beberapa jam kemudian, Diva terbangun dalam keadaan terikat di sebuah ruangan gelap dan lembap. Jantungnya berdebar kencang, dan kepalanya terasa pusing. Ia mencoba berteriak, tetapi mulutnya dibekap lakban.Suara langkah kaki mendekat, dan pintu berderit terbuka. Dalam kegelapan, ia
Diva mulai menjalankan niatnya untuk meneror Rakha. Setiap hari, ia mengirimkan pesan dan menelepon Rakha tanpa henti. Ia mengancam akan menyebarkan berita ke media, menghubungi keluarganya, bahkan mendatangi rumah Rakha jika pria itu terus mengabaikannya. Rakha yang awalnya mencoba menghindari konflik, mulai merasa terdesak."Perempuan gila ini makin tak tahu diri," gumam Rakha dalam hati.Ia tidak mungkin membiarkan hidupnya hancur karena seorang wanita yang seharusnya hanya menjadi kesenangan sesaatnya.Ponsel Rakha kembali berbunyi. Benar digaannya, Diva semakin gila. Ia mengirimkan foto hasil USG ke nomor Rakha, menulis pesan panjang penuh kemarahan dan ancaman."Kamu pikir bisa lolos dari ini? Aku akan membuatmu membayar mahal, Rakha!"Rakha meremas ponselnya dengan marah. "Perempuan brengsek. Kau benar-benar menyulitkanku, Diva."Otak Rakha berpikir keras. Ia tak bisa membiarkan Diva menerornya seperti ini. Mungkin sudah saatnya Rakha melenyapkan Diva, seperti Maira dulu.Rakha
Diva menyusut air mata yang menganak sungai di pipinya dengan kasar. Tak mudah bagi Diva untuk menerima kenyataan dirinya sekarang. Ego dan harga dirinya yang tinggi membuatnya enggan menerima apa pun perkataan Evanna.Diva yang selalu menjadi yang pertama dan utama tak bisa menerima begitu saja nasibnya yang malang. Ia tak mau terlihat tak berdaya di depan Evanna.Diva menggigit bibirnya kuat-kuat, tangannya mengepal di atas pahanya. Ia menatap Evanna dengan mata yang penuh dengan bara kemarahan dan tekad yang menyla-nyala. Bibirnya gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang nyaris meluap tak terkendali."Aku tidak akan membiarkan Rakha lolos begitu saja," gumamnya, suaranya bergetar. "Dia pikir aku akan menerima begitu saja perlakuannya? Aku bukan perempuan bodoh yang bisa dipermainkan, Evanna!"Evanna menarik napas dalam. Ia sudah menduga reaksi ini, tapi melihat langsung betapa Diva diliputi oleh amarah dan kekecewaan membuatnya sadar bahwa kakak tirinya benar-ben
Khandra pulang kantor menjelang malam. Mood-nya sangat buruk hari itu. Lebih-lebih dengan kekacauan yang terjadi akibat ulah Rakha, adik tiri sialannya itu.Khandra melihat Evanna tengah duduk di ruang santai lantai dua. Khnadra mengempaskan tubuh penatnya di sofa dengan wajah gelap. Membuat Evanna yang tengah menonton acara televisi berjengit kaget.."Ada apa?" tanya Evanna, menyadari ekspresi suaminya yang jelas-jelas sedang kesal.Khandra menghela napas panjang, meraih cangkir teh Evanna yang masih mengepulkan uap dan menyeruput isinya."Kakak tirimu, Diva, datang ke kantorku tadi pagi."Evanna tertegun, ia menatap wajah Khandra lekat-lekat, "Oh? Untuk apa dia ke sana?"Khandra menatap istrinya seolah mencari informasi yang Evanna ketahui tentang Diva. Nada suaranya tegas saat menjawab pertanyaan Evanna."Dia datang dengan membawa masalah pribadinya. Tentang Rakha. Dia pikir aku bisa menyelesaikan kekacauan yang mereka buat."Evanna mengerutkan kening, mencoba mencerna informasi it
Pagi itu, Diva melangkah memasuki gedung kantor Khandra. Sekarang atau tidak sama sekali. Diva tak mau hanya meratapi nasib dan merasa kalah telak dari Evanna.Gaun hitam di atas lutut yang ia kenakan tampak rapi, meski raut wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa cemas yang entah mengapa kini semakin merayapi hatinya.Memasuki lobi kantor, ia melihat para pegawai yang berlalu-lalang. Tak ada yang meliriknya. Mereka hanya berlalu dan memasuki pintu lift yang akan membawa mereka ke ruangan yang dituju.Diva melangkah menuju meja front office untuk menyampaikan maksud tujuannya. Dan berbekal hubungan keluarga yang ditegaskannya berulang kali, akhirnya Diva dapat sampai di depan pintu ruangan Khandra. Sekretaris yang seusia dengannya mempersilakan ia masuk setelah memperoleh persetujaun Khandra.Diva menyiapkan senyum paling manis yang selalu dapat memikat kaum Adam. Dilihatnya, Khandra yang sedang sibuk memeriksa dokumen di mejanya mendongak dengan alis terangkat, jelas tidak menyangka d
Diva masih terduduk di lantai di depan pintu apartemen Rakha. Tangisnya tak kunjung reda, namun ia tahu ia tak bisa terus seperti ini. Napasnya terengah-engah saat ia bangkit berdiri dengan kaki gemetar. Dengan langkah terseok, ia menuju lift di ujung lorong. Air matanya mengalir deras, meskipun ia mencoba menyekanya.Tiba di depan lift, Diva memencet tombolnya dan menunggu. Suasana sunyi lorong hanya dihiasi suara isakannya yang tertahan. Pintu lift terbuka perlahan, dan saat itu juga dunia Diva serasa runtuh untuk kedua kalinya hari itu.Di dalam lift, berdiri seorang wanita dengan gaun elegan berwarna merah tua. Wajahnya cantik, bersih, dan bercahaya seperti biasanya. Evanna, adik tirinya.Diva menelan ludah, tubuhnya seketika tegang. Ia buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangannya, meskipun jejak tangis masih jelas terlihat di wajahnya. Evanna memandangnya, awalnya dengan kebingungan, tapi kemudian matanya menyipit, seolah ia ingin tahu apa yang sedang terjadi."Diva?" p