"Mbak Julia?"Suara vokal seorang perempuan, sejenak membuat Julia dan Yudhistira lantas menoleh."Karina?"Perempuan yang dipanggil Karina itu lantas menghampiri Julia, lalu mendaratkan kecupan di wajah perempuan itu. Julia tidak menyangka jika akan dipertemukan dengan adik sang kekasih di tempat seperti ini."Aku pikir, Mbak Julia jalan sama Mas Adit. Mbak Julia sama siapa?" tanya Karina penasaran.Julia lantas menoleh ke belakang. Dia tampak sedikit gelagapan. "Oh, ya Rin. Kenalkan ini atasan saya di kantor.""Yudhistira.""Saya Karina, calon adik iparnya Mbak Julia." Karina lantas menoleh ke arah Julia. "Mbak kenapa nggak bilang, sih kalau bos Mbak ganteng begini? Beda, ya sama yang Pak Mahesa itu? Mbak udah pindah divisi?""Beliau salah satu petinggi di kantor juga, Rin. Satu tim dengan Pak Mahesa juga, kok."Karina manggut-manggut, tatapannya tak lepas dari menatap Yudhistira."Single, kan Mbak?" bisik Karina lirih."Rin…" Lalu Karina terkekeh."Mbak duduk bentar, deh. Ada yang
"MBAK JULIAAAAAA!" Suara teriakan Rayya seketika menarik perhatian banyak orang yang ada di sekitarnya. Perempuan itu lantas melotot tajam ke arah Rayya, Julia benar-benar sibuk sekarang dan dia malas menanggapi ocehan Rayya dan teman-temannya."Nggak mau pakai toa sekalian teriaknya, Ray?"Rayya meringis, bersamaan dengan satu temannya di belakang menyusulnya. Bergelayut manja seperti biasa, dengan satu tujuan yang sama.“Dih, Mbak Julia sensitif amat kayak pantat bayi. Lagi PMS, ya?”“Saya kalau berhadapan sama kamu bawaannya mens terus, Ray. Udah buruan to the point saja, ada apa?” sungut Julia tak terima."Pak Mahesa sakit, ya Mbak?" tanya Rayya dengan lembut. "Sakit apa, sih? Apa ini ada hubungannya dengan kekacauan yang terjadi antara Pak Mahesa dan Pak Daniel?""Nggak ada, Ray. Bahkan saya saja belum jenguk beliau. Mana saya tahu dia sakit apa?”"Aduh, Mbak Julia. Emang mau jenguk kapan? Aku ikut, ya Mbak? Ramean gitu? Pak Mahesa suka apa? Buah? Cake? Atau—""Jangan mimpi kamu,
“Wah, kita kedatangan tamu istimewa kayaknya, nih?” Anggun kemudian bangkit menghampiri Karina dan sosok pria yang ada di sampingnya. Perempuan itu memeluk putri bungsunya, lalu beralih menatap Yudhistira. “Siapa ini, Rin?”“Teman, Ma.” Karina lantas menoleh ke arah Yudhistira. “Kenalin, Ma, Pa, Mbak Alexa, Mas Aditya, ini Mas Yudhistira.”“Selamat malam Om, Tante, dan semuanya. Maaf kalau saya jadi mengganggu acara makan malamnya.”“Eh, nggak kok.” Anggun lantas menggandeng Yudhistira, dan mengajak pria itu untuk duduk di salah satu kursi yang kosong. “Gabung aja, nggak apa-apa. Nak Yudhistira sekalian makan malam, ya?”Sementara Yudhistira tersenyum sungkan, tetapi dia tetap menuruti Anggun saat dia diajak untuk bergabung bersama mereka. Bahkan disambut hangat oleh mereka.“Kami lagi ngadain makan malam, membicarakan soal rencana pernikahannya Aditya dan Julia. Aditya ini anak kedua Tante, Nak Yudhis.”“Oh, ya Tante. Kebetulan saya kenal dengan Julia.”“Oh, ya?” Anggun menatap Julia
“Sayang…”Julia lantas mengangkat wajahnya, lalu menoleh ke belakang dan mendapati Aditya berdiri di sana. Perempuan itu sedang menunggu Yudhistira mengambil mobilnya lantaran masih turun hujan, pria itu meminta Julia untuk menunggu di sini.“Hei,” sahut Julia agak terkejut dengan sikap Aditya, pria itu lantas memeluk Julia dari belakang.“Aku padahal kangen banget sama kamu, Sayang. Kenapa, sih saat aku pengen berduaan sama kamu, ada aja gangguannya?”Entah Julia harus bersyukur atau sebaliknya.“Masih ada hari lain, Dit. Lagipula kamu harus nganterin Mbak Alexa, kan? Kasihan kalau dia nyetir sendirian.”“Kamu tahu, kan aku gampang cemburu?”Julia tersenyum kecut. Tahu ke mana arah pembicaraan Adit sekarang. “Aku sama Pak Yudhistira nggak ada apa-apa, Dit. Dia memang seperti itu wataknya.”“Saya jadi khawatir kalau dia deketin Karina. Dia sama kamu aja sok dekat gini. Apa nggak menutup kemungkinan dia dekat sama cewek lain juga?”“Nggak, Dit.” Nggak tahu lebih tepatnya.Mobil yang di
“Julie…”Suara Yudhistira yang terdengar berat menyapa indera pendengaran perempuan itu. Terlebih saat dress yang dikenakan Julia sudah merosot ke lantai dan kini hanya menyisakan pakaian dalam hitamnya. Dan detik itu juga Yudhistira hampir menggila.Seolah tidak mengacuhkan peringatan yang meluncur dari bibir pria itu, Julia lantas melingkarkan tangannya ke belakang tengkuk leher Yudhistira, kemudian dia berjinjit, dan selanjutnya perempuan itu mencium bibirnya lebih dulu.Barangkali ini adalah pertama—atau lebih tepatnya, kedua kalinya Julia berciuman dengan pria asing. Gerakan bibirnya yang terasa lembut seketika membuat Yudhistira luluh lantak.Dibalasnya ciuman itu dengan sedikit menuntut. Kedua tangan Yudhistira sudah melingkar di pinggang Julia. Lidahnya saling berkelit satu sama lain, seolah tengah berlomba-lomba ingin menunjukkan bahwa dialah yang lebih lihai dalam hal ini.Yudhistira jadi yang pertama menarik diri. Napas keduanya terengah-engah, keningnya saling beradu sambi
Tidak ada yang bisa menjabarkan seperti apa yang saat ini tengah dirasakan Julia. Jantungnya berdebar kencang, sensasi mendebarkan di dalam dadanya seolah hampir meledak sekarang.Bibirnya yang saling bertautan, membimbing langkah mereka menuju pada sebuah ruang yang gelap. Mereka membiarkan pintu itu tetap terbuka, agar lampu dari dapur sana sedikit membias di ruangan itu.Di sana, Yudhistira meninggalkan bibir Julia. Lalu dia merebahkan tubuh ringkih perempuan itu dengan tatapannya tak lepas darinya. Napas keduanya masih terengah-engah, dalam kebingungannya kali ini Yudhistira sudah mulai kehilangan kendali.“Kenapa?” tanya Julia menyentak lamunan pria itu.Yudhistira terlihat gamang, seolah ragu untuk melanjutkan apa yang akan dilakukannya setelah ini.Meskipun tubuhnya justru berkata lain. Yudhistira begitu menginginkan Julia sekarang. Dia ingin merasakan bercumbu dengannya, ingin sekali memujanya, dan juga mendambanya.Pria itu tidak pernah merasa setersiksa ini saat menginginkan
“Mahesa akhirnya bangun.”Dengan napasnya yang terengah-engah, Arjuna yang berlari dari lobi menuju lantai lima puluh dua, lantas masuk ke dalam ruangan Yudhistira. Di sana ketiga sahabatnya tengah bercengkrama bersama.“Lo serius?” tanya Bayusuta memastikan.Arjuna mengangguk. “Keajaiban banget. Gue sampai ampek waktu lihat alat bantu kehidupan Mahesa dilepas dan Sasi menangis di ruang rawatnya. Dan tiba-tiba si Anak Singa itu bangun. Asli, gue sampai merinding, Nyet.”“Maksud lo apaan?” tanya Yudhistira tampak heran. "Duduk lo!"Arjuna lantas menarik kursi yang ada di depan meja, lalu duduk di sana. Tatapannya masih sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.“Rama sempat bilang sama gue kalau harapan hidup Mahesa nggak ada dua puluh persen. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menyerah. Tapi tadi, Mahesa benar-benar bangun. Sumpah! Gue masih nggak percaya aja gitu.”“Jadi Mahesa sekarang udah sadar dari koma?” sahut Antasena bertanya.Arjuna mengangguk. “Dia bangun sete
[Tante Anggun: Sayang, Tante udah dapat tanggal buat pernikahan kamu sama Adit. Kira-kira tiga bulan lagi. Terlalu cepat, nggak? Kalau menurut Tante nggak, sih. Kalau kamu udah oke, Tante sama Om dan Aditya, bakalan terbang ke Jogja untuk melamar kamu secara resmi. Gimana?]Lalu sedetik kemudian Julia sudah kehilangan kata-kata."Julie, Are you okay?"Julia lantas menyimpan ponselnya ke belakang, lalu menoleh ke arah Yudhistira yang kini tengah menatapnya."Ada apa?" tanyanya sekali lagi.Perempuan itu lantas menggeleng, lalu mengulas senyum kecil. "Nggak ada apa-apa, Pak.""Kamu yakin?"Julia mengangguk. "Iya.""Kalau begitu kita makan siang ke kantin dulu, ya? Baru setelahnya kita jalan ke rumah sakit.""Emangnya harus banget, ya Pak saya ikut ke rumah sakit?""Kenapa? Kamu udah ada acara?""Nggak ada, Pak. Cuma harus banget perginya bareng sama Bapak, ya?""Oh, jadi kamu mau bilang, kalau kamu nggak mau pergi sama saya, begitu?"Julia membelalak. "Nggak gitu. Nanti kalau yang lainn