Share

Perlahan Terbongkar

Penulis: Aldra_12
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-14 12:14:05

Kaivan memperhatikan ekspresi wajah Grisel yang gelagapan panik. Dia terus menatap dan meyakini jika kecurigaannya benar.

Kaivan mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat dia mengantar Grisel pulang ke apartemen. Dia merasa aneh dengan sikap Grisel saat ada wanita yang menemui Grisel waktu itu, apalagi Grisel menarik kasar, sampai membuat Kaivan bertanya-tanya meski dia tidak mau peduli.

Kaivan tidak langsung pulang. Dia menunggu, hingga melihat wanita tua yang menemui Grisel berjalan sambil menangis. Berniat menghentikan wanita itu, Kaivan malah hampir menabraknya.

“Anda baik-baik saja?” tanya Kaivan ketika turun dari mobil.

Wanita itu malah menangis sejadi-jadinya.

Kaivan semakin penasaran, siapa wanita itu dan kenapa menangis seperti ini.

“Kenapa Anda tidak menabrak saya saja, biarkan saja mati saja!” Ibu Grisel menangis sejadi-jadinya.

Kaivan melihat beberapa orang memperhatikannya, lalu dia berkata, “Jika Bibi ada masalah, bisa ceritakan kepadaku. Bagaimana kalau masuk mobil du
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
dasar anak durhakim kamu Gris belom kena karma kamu...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Terbongkar Semua

    Kaivan merasakan ketegangan di wajah Grisel. Dia bersikap tenang meski Grisel memperlihatkan sikap gelisah.“Aku ke kamar mandi sebentar,” ucap Kaivan lalu mengusap mulut dengan serbet.Kaivan berdiri, lalu meninggalkan meja makan.Grisel tersenyum membalas ucapan Kaivan, tapi setelahnya senyum itu menguar dan tatapan matanya tertuju pada sang ibu yang berdiri di dekat kursi Kaivan.Grisel berdiri, lantas dengan cepat menghampiri wanita tua itu.“Kenapa Ibu bisa di sini?” tanya Grisel sambil menekan suaranya yang ingin sekali meledak. Sorot matanya tajam, memperlihatkan rasa tak senang.Ibu Grisel diam. Memilih mengabaikan putrinya yang emosi.“Jawab, Bu!” geram Grisel sambil mencengkram kedua lengan sang ibu.Wanita tua itu akhirnya menatap pada Grisel.“Ibu jangan macam-macam! Jangan menghancurkan masa depanku!” Grisel bicara dengan penekanan. Dia tak berpikir jika sikapnya sekarang ini benar-benar sudah menyakiti hati ibunya.“Ibu di sini hanya kerja, kenapa kamu harus semarah itu

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-15
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Merasa Bersalah Pada Kai

    Eve baru saja keluar dari kamar Bram saat malam hari. Dia tidak bisa buru-buru pulang karena takut Bram curiga, apalagi Eve juga menolak tinggal di apartemen sang kakak.Eve berjalan di koridor dengan perasaan lega karena kondisi Bram sudah berangsur membaik. Setidaknya setelah ini Bram pasti sudah siap mendengarkan fakta yang akan Eve ungkap.Saat baru saja sampai di lobi, Eve terkejut melihat siapa yang berjalan dari luar menghampiri dirinya.“Akhirnya aku menemukanmu,” kata Damian, “kenapa kamu tidak menjawab panggilanku atau membalas pesanku?” tanya Damian saat sudah berdiri di depan Eve.“Aku sibuk mengurus kakakku yang sakit,” jawab Eve datar.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Eve berusaha bersikap biasa.“Apa lagi? Tentu saja mencarimu karena aku mencemaskanmu,” jawab Damian sambil memperlihatkan perhatiannya pada Eve.“Dari mana kamu tahu aku di sini?” tanya Eve menatap curiga.“Aku mencarimu ke apartemen kakakmu karena tidak ada kabar darimu, di sana aku dapat informasi k

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-15
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Marah atau Panik?

    Keesokan harinya. Eve sudah bangun dan sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Kai dan Dania.“Senangnya ada yang menyiapkan sarapan, biasanya aku hanya makan roti atau beli di jalan,” celoteh Dania saat melihat Eve sibuk di dapur.Eve menoleh Dania sambil tersenyum.“Ya, mau bagaimana lagi. Masa aku tidak melakukan yang berguna untukmu di sini, padahal sudah diberi tumpangan,” seloroh Eve.“ish … kenapa bicaranya seperti itu? Aku tidak butuh balasan, kamu mau tinggal di sini saja aku sudah sangat senang ada temannya,” balas Dania.Eve hanya tersenyum.“Oh ya, kapan kamu akan memperkenalkan Kai pada kakakmu?” tanya Dania. Dia mengambil potongan wortel di mangkuk lalu memasukkan ke mulut sambil menunggu jawaban Eve.“Mungkin besok atau lusa. Kemarin kondisi Kak Bram sudah sangat baik, semoga Kak Bram siap mendengar fakta soal Kai,” ucap Eve penuh harap meski ada rasa sedih karena takut Bram kecewa padanya.“Kenapa? Kamu takut kakakmu marah kalau tahu kamu punya anak di luar nikah?” tan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-15
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Memang Benar

    Kai berada di mobil bersama Kaivan. Dia duduk sambil memperhatikan jalanan yang dilewati mereka. Kai menoleh Kaivan, melihat pria itu sedang mengecek tablet pintar.“Kita mau ke mana?” tanya Kai penasaran.Kaivan menoleh pada Kai. Dia meletakkan tablet pintar di pangkuan, lalu menjawab, “Bertemu temanku sebentar, lalu setelahnya menuruti semua keinginan Kai.”Kai mengerutkan alis penasaran.“Kai mau minta apa?” tanya Kaivan, “akan aku turuti semua permintaan Kai.”Kai berpikir. Ekspresi wajah bocah itu sangat lucu saat ini.“Kai mau ketemu Papi,” jawab Kai sambil menatap Kaivan seraya mengedipkan mata lucu.Kaivan terdiam.Akan tetapi sedetik kemudian Kai tertawa.“Paman pasti nggak tahu di mana papinya Kai. Kai hanya bercanda,” ucap bocah laki-laki itu, “belikan Kai cokelat saja, tapi jangan yang ada kacangnya.”Kaivan mengangguk.Setelah beberapa saat. Mereka akhirnya sampai di sebuah apartemen. Kaivan mengajak Kai menemui temannya yang ternyata seorang dokter.“Aku terkejut kamu ma

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-16
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Tidak Ada Hubungan

    Eve sudah di rumah sakit. Dia melihat Bram yang baru saja diperiksa dokter.“Kondisi Pak Bram sudah membaik, kalau bisa bertahan seperti ini, besok atau lusa sudah boleh pulang,” ucap dokter setelah memeriksa.Eve merasa sangat lega, begitu juga dengan Alana.“Terima kasih, Dok.” Eve bicara dengan senyum di wajah.Setelah dokter dan perawat pergi. Eve duduk di kursi samping ranjang Bram.“Eve, setelah aku pulang, tinggallah di apartemen bersama kami,” pinta Bram sambil menatap sendu pada Eve.“Iya, Eve. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi,” timpal Alana yang memang sudah sangat menyesal pernah menyakiti Eve.Eve bingung karena memikirkan Kai, dia mau bicara tapi belum siap karena Bram baru saja membaik.“Kak, sebenarnya ada yang mau aku sampaikan, tapi mungkin besok saja,” kata Eve agak ragu.“Besok? Kenapa tidak sekarang? Apa itu hal penting?” tanya Bram penasaran.“Besok saja,” jawab Eve sambil tersenyum agar Bram tidak cemas.Bram menatap Alana yang mengangguk mengisyaratkan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-16
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Ketahuan

    “Kai ingat, kan? Jangan beritahu Mami kalau pergi denganku,” kata Kaivan saat mereka berada di mobil menuju perusahaan.“Kenapa tidak boleh bilang? Paman cama Bibi Cantik ngajarin Kai bohong, ya?” Kai menatap Kaivan curiga.Kaivan cukup terkejut mendengar ucapan Kai, tapi juga kagum karena Kai memang cerdas.“Bukan berbohong, tapi hanya takut Mami marah saja. Nanti aku pasti bilang kalau mengajak Kai, tapi tidak sekarang. Kai anak cerdas, pasti paham maksudku,” ucap Kaivan menjelaskan.Kai diam sesaat, lalu kemudian mengangguk-angguk pelan.Mereka turun dari mobil yang berhenti di depan lobi. Kai sangat senang mendapat buku gambar dan crayon baru. Dia berjalan menggandeng Kaivan sambil memegang lolipop, sedangkan barangnya dibawa Kaivan.“Nanti di ruanganku dulu, Bibi Cantik akan menyusul Kai saat jam makan siang,” kata Kaivan saat mereka berjalan menuju lift.“Iya.” Kai mengangguk.Saat pintu lift terbuka, Kaivan melihat Grisel yang baru saja akan keluar. Kaivan menatap dingin pada wa

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-16
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Pengumuman

    Buku ini akan terus update setiap hari sampai tamat, terima kasih yang sudah membaca kisah ini dan terima kasih atas dukungannya 🙏

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-17
  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Jujur Pada Dania

    Dania sedang sibuk dengan pekerjaannya, di saat ponselnya berdering. Dia melihat nama Eve, membuatnya langsung menjawab. Namun, alangkah terkejutnya Dania saat mendengar suara Eve.“Kai kamu titipkan di mana?” tanya Eve lagi.Dania gelagapan panik karena Eve terdengar marah.“Itu, Kai di perusahaan karena dia tidak mau dititipkan di sana,” jawab Dania jujur.“Kalau bisa, ajak dia segera pulang, aku tunggu di apartemen,” kata Eve dari seberang panggilan.“Kamu tidak mampir ke sini?” tanya Dania memastikan, siapa tahu Eve ingin bernostalgia di perusahaan itu.Hening, tidak ada balasan dari Eve, lalu beberapa saat kemudian Dania mendengar Eve bicara.“Tidak.”Dania mendengar Eve menjawab, tapi setelahnya panggilan itu diakhiri. Dania berpikir Eve pasti sangat marah, sehingga membuat Dania merasa tidak enak hati dan merasa bersalah karena sudah tak jujur.Dania juga berpikir, kenapa Eve tidak mau mampir ke perusahaan padahal hanya berjarak beberapa meter. Bahkan jawaban Eve terdengar sang

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-13

Bab terbaru

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Bonus Chapter 5~Selesai

    Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjuangan yang biasa dilakukan sendiri, sekarang banyak yang menemani.Selama kehamilannya, Eve benar-benar merasakan banyak perhatian banyak orang di sekitarnya, membuatnya bisa menikmati kehamilan dengan perasaan tenang dan bahagia.Pagi itu. Eve berjalan ke ruang ganti untuk menghampiri Kaivan. Usia kandungannya sudah sembilan bulan. Perutnya sudah besar dan Eve mulai kesusahan melakukan aktivitasnya.“Biar aku bantu pakaikan dasi,” ucap Eve saat menghampiri Kaivan.Kaivan menoleh. Dia melihat istrinya itu berjalan mendekat.“Kalau lelah duduklah saja, Eve.”Eve hanya tersenyum. Dia meraih dasi Kaivan dan kukuh ingin mengikat dasi.“Duduk terus juga capek,” balas Eve.Dia mengikat dasi dengan seksama.Kaivan memperhatikan Eve yang sedang mengikat. Semakin besar kandungan Eve, istrinya itu terlihat semakin cantik.“Sudah,” ucap Eve.“Terima kasih,” balas Kaivan diakhiri sebuah kecupan di kening.Perhatian Kaivan ke perut Eve. Dia mengusap lembut p

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Bonus Chapter 4

    “Apa Dokter tidak salah memeriksa?”“Sudah dipastikan lagi?”Eve merasa kepalanya sangat berat. Samar-samar dia mendengar suara Kaivan dan Maria. Dia pun berusaha untuk membuka mata sampai akhirnya melihat dua orang itu berdiri di dekatnya dengan ekspresi wajah panik.“Sayang.” Eve memanggil dengan suara lirih.Kaivan menoleh ketika mendengar suara Eve. Dia segera menghampiri istrinya itu.“Bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit?” tanya Kaivan sambil menggenggam telapak tangan Eve.Maria juga ikut mendekat ke ranjang karena sangat mencemaskan Eve.“Aku di mana?” tanya Eve dengan suara berat.“Di rumah sakit, tadi aku dihubungi kalau kamu pingsan, jadi aku membawamu ke sini,” jawab Kaivan.Eve mengangguk pelan. Dia memang masih merasa sakit kepala.Kaivan dan Maria menunggu dengan sabar sampai Eve sepenuhnya sadar. “Aku tidak tahu kenapa bisa pingsan, maaf sudah membuat kalian cemas,” ucap Eve lirih.“Untuk apa minta maaf. Kami malah cemas kalau terjadi sesuatu padamu, tapi untungnya ti

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Bonus Chapter 3

    Setelah berjuang sendiri, sekarang ada tangan yang bisa Eve genggam erat. Dia bagai Cinderella yang akhirnya menemukan sang pangeran, diratukan dan dicintai begitu dalam oleh pria yang bahkan sekalipun tak pernah ada di dalam mimpinya.Pernikahan Eve dan Kaivan sudah satu tahun berjalan. Pagi itu Eve membantu pelayan di dapur menyiapkan sarapan, sudah menjadi kebiasaan meski para pelayan dulu sering melarang.“Ini sudah semuanya, ditata di meja, ya.” Eve memberi instruksi setelah selesai memasak.“Baik, Bu.”Eve meninggalkan dapur. Dia pergi memanggil Maria sebelum membangunkan Kai dan Kaivan.“Ibu sudah bangun?” Eve masuk kamar untuk mengecek Maria.“Sudah, Eve.” Suara Maria terdengar dari kamar mandi.“Sarapannya sudah siap, aku mau bangunin Kai dan Kaivan dulu,” ucap Eve.Setelah mendengar balasan Maria dari dalam kamar mandi. Eve segera keluar dari kamar sang mertua, lantas pergi ke lantai atas. Semalam Kai merengek ingin tidur bersama mereka, sehingga pagi ini putra mereka yang s

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Bonus Chapter 2

    Kaivan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat Eve yang berbaring memunggunginya. Apa Eve sudah tidur?Kaivan naik ke ranjang. Dia bergeser mendekat ke arah Eve berbaring, lantas menyentuh lengan wanita itu.“Eve, kamu sudah tidur?” tanya Kaivan. Dia bahkan sengaja meletakkan dagu di lengan Eve.Eve sebenarnya sangat panik dan gugup. Dia berpikir untuk tidur lebih dulu sebelum Kaivan selesai mandi, tapi kenyataannya dia hanya bisa memejamkan mata dan tidak bisa jatuh ke alam mimpi, membuatnya sekarang malah semakin cemas.Ini memang bukan malam pertama baginya, tapi lamanya waktu tidak pernah berhubungan seperti itu, tentu membuat Eve merasa ini seperti yang pertama baginya..“Kamu lelah, hm?” tanya Kaivan. Dia tahu Eve belum tidur karena kelopak mata Eve tampak bergerak.Kaivan terus meletakkan dagu di lengan Eve, dia menatap gemas pada Eve yang berpura-pura tidur. Sampai akhirnya dia melihat Eve membuka mata.“Apa kamu lapar?” tanya Eve seraya menatap pada Kaivan.Kaivan meng

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Bonus Chapter 1

    “Kai mau pulang cama Mami dan Papi.”Kai bersidekap dada. Dia tidak mau beranjak dari kursinya saat Maria mengajak pulang.Maria, Bram, dan Alana saling tatap, bagaimana caranya membujuk Kai agar Kaivan dan Eve bisa menikmati malam pengantin.“Atau Kai mau tidur di rumah Paman?” tanya Bram membujuk.“Ih … Kai maunya cama Mami dan Papi.” Kai turun dari kursi. Dia berlari menghampiri Kaivan dan Eve yang sedang bicara dengan Dania.“Mami, Papi. Kai mau ikut kalian, tapi Nenek cama Paman malah mau ngajak pulang!” teriak Kai begitu keras.Kaivan dan Eve menoleh bersamaan, mereka terkejut melihat Kai berteriak-teriak seperti itu.“Kenapa, hm?” tanya Eve sedikit membungkuk agar bisa menatap sang putra.“Itu, macak Kai curuh pulang cama Nenek, Kai ‘kan maunya cama Mami dan Papi.” Kai mengadu sambil menunjuk ke Maria dan Bram yang sedang berjalan menghampiri.Kaivan menoleh ke Maria, tentu dia paham dengan niatan Maria mengajak Kai pulang.“Kai, nanti Mami dan Papi akan pulang, tapi setelah me

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Semua Bahagia

    Pernikahan Kaivan dan Eve berjalan dengan sangat lancar. Mereka sudah sah menjadi suami istri, kini tradisi melempar bunga pun akan dilakukan.Beberapa karyawan lajang yang diundang ke pesta itu sudah bersiap di depan altar, begitu juga dengan Dania yang ikut bergabung untuk mendapatkan buket bunga milik Eve. Siapa tahu selanjutnya dia yang akan menikah.Eve tersenyum penuh kebahagiaan melihat orang-orang antusias ingin merebut buket bunganya. Dia melihat Dania yang memberi kode agar dilempar ke arah Dania, membuat Eve semakin menahan senyum.Eve memunggungi para wanita yang siap menerima buket miliknya. Master Ceremony mulai berhitung, lalu di hitungan ketiga, Eve melempar buket bunga miliknya.Buket itu terlempar cukup kuat. Dania begitu antusias ingin menangkap, tapi banyaknya wanita di sana, membuat buket itu terpental beberapa kali hingga akhirnya jatuh ke tangan seseorang.Semua wanita kini menatap pada orang yang memegang buket itu.“Brian.” Eve terkejut tapi juga merasa lucu ka

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Hari Pernikahan

    Eve berada di salah satu kamar yang terdapat di hotel tempat pesta pernikahan diadakan. Dia datang lebih awal karena harus dirias oleh MUA yang sudah ditunjuk oleh Kaivan.Alana menemani Eve di kamar. Dia terus memperhatikan Eve yang sedang dirias sampai akhirnya siap.“Kamu sangat cantik,” puji Alana seraya menghampiri Eve yang baru saja selesai dirias.Eve menatap Alana dari pantulan cermin. Dia tersenyum malu karena mendapat pujian dari kakak iparnya itu.Alana menatap cukup lama pada Eve, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya.Eve memperhatikan. Tidak tahu apa yang akan diberikan oleh kakak iparnya itu.“Kakakmu dan aku sepakat memberikan ini sebagai hadiah pernikahanmu, memang tidak mewah dan mahal, tapi kami berharap ini cukup berkesan untukmu,” ujar Alana memberikan kalung dengan liontin berinisial E.Eve sangat terkejut. Dia sampai menggeleng kepala pelan karena tak bisa menerima hadiah itu. Dia tahu kondisi ekonomi kakak dan kakak iparnya sedang susah, tapi

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Ketinggalan

    Hari pernikahan Eve dan Kaivan tiba. Malam sebelum acara pernikahan, Eve berada di kamar sedang istirahat setelah makan malam.“Eve, boleh aku masuk?” tanya Alana setelah sebelumnya mengetuk pintu.“Masuklah, Kak.”Alana membuka pintu kamar Eve. Dia melihat adik iparnya itu sedang duduk memegang ponsel.“Ada apa, Kak?” tanya Eve sambil menggeser posisi duduknya di ranjang untuk memberi tempat agar Alana bisa duduk.Alana duduk di dekat Eve. Dia menatap pada adik iparnya itu.“Besok kamu akan menikah. Aku dan kakakmu selama ini menyadari, belum pernah memberikan yang terbaik, terutama aku yang sering sekali bersikap tak baik karena rasa iri padamu. Tapi, semua sudah berlalu. Aku tidak bisa memberi apa pun selain mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaanmu,” ucap Alana sambil menggenggam erat telapak tangan Eve.Bola mata Eve berkaca-kaca. Dia mengulum bibir untuk menahan tangisnya.“Tidak memberi apa-apa bagaimana, Kak? Aku bisa kuliah dan tumbuh juga karena usaha kalian. Ya, meski Kak

  • Jatuh di Pelukan CEO Dingin   Saling Mendukung

    Siang itu Eve pergi ke perusahaan Kaivan. Dia mengantar makanan karena Kaivan berkata jika sangat sibuk.“Kamu masih sibuk?” tanya Eve saat masuk ruangan Kaivan.Kaivan menatap pada Eve. Melihat calon istrinya itu datang, Kaivan langsung menutup tirai dinding kaca agar para staff tak melihat apa yang dilakukannya.“Kenapa tirainya ditutup?” tanya Eve keheranan.Kaivan mendekat pada Eve, lalu mengecup pipi wanita itu.“Biar mereka tidak melihat ini,” jawab Kaivan.Eve terkejut sampai memukul lengan Kaivan karena gemas.Eve mengajak Kaivan duduk. Dia membuka pembungkus makanan agar Kaivan bisa segera menyantap makan siang.“Aku sebenarnya masih harus memilah berkas, sepertinya tidak bisa makan siang dulu,” kata Kaivan.Eve menatap pada Kaivan, lalu membalas, “Kamu tetap harus makan meski sedang sibuk. Kamu memilah berkas, biar aku yang menyuapi.”Senyum mengembang di wajah Kaivan saat mendengar ide Eve. Dia mengajak Eve ke meja kerja, memosisikan kursi lain di samping kursi kerjanya agar

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status