“Bibi, apa Paman Bram akan cuka cama Kai?” tanya Kai sambil menggandeng tangan Alana. “Coalnya tadi kok Paman Bram kaget lihat Kai,” imbuh Kai.“Tentu saja suka,” balas Alana, “Paman Bram kaget karena baru tahu kalau punya keponakan tampan seperti Kai,” imbuh Alana lalu mencubit pelan hidung Kai.Kai tertawa. Dia kembali menjilat es krim yang dipegangnya. Mereka sedang berjalan menuju ruang inap Bram lagi.“Kai cuka Paman Bram,” ucap Kai dengan suara khasnya yang lucu dan cedal.“Paman Bram juga pasti sayang Kai. Bibi juga,” balas Alana sambil menatap Kai yang menggemaskan dan cerdas.Di kamar Bram. Eve baru saja selesai menangis. Dia menyeka air mata yang tersisa di pipi, mata dan hidungnya merah.Eve begitu lega karena Bram tidak kambuh, bahkan sekarang sedang tersenyum padanya.“Yang berlalu, biarkan saja berlalu. Sudah, tidak usah memikirkan masa lalu lagi. Aku tidak pernah malu meski kamu hamil di luar nikah, yang terpenting sekarang kamu di sini bersama kami,” ucap Bram.Eve men
Kaivan akhirnya mengajak Dania ke rooftop karena tidak mau satu divisi tahu jika dirinya sedang membahas Eve. Apalagi Dania terus bersuara keras ketika membalas ucapannya.“Kenapa kamu harus marah-marah? Aku hanya bertanya, di mana Kai?” Kaivan bicara sambil menatap Dania yang memasang wajah masam padanya.“Kamu memang brengsek! Aku baru sadar, kupikir kamu berbeda dengan kakakku,” amuk Dania, “apa kamu mau mengambil Kai dari Eve?!” Kaivan menatap datar saat mendengar Dania mengamuk dirinya.“Jadi kamu sudah tahu kalau Kai anakku?” tanya Kaivan menebak berdasarkan apa yang Dania ucapkan.Dania terkejut. Dia langsung melipat bibir ketika baru sadar kalau sudah keceplosan bicara. Dania tidak bisa mengelak, sehingga akhirnya dia mengaku saja.“Iya, aku tahu. Eve sudah memberitahuku,” jawab Dania sambil melipat kedua tangan di depan dada.“Apa saja yang Eve katakan?” tanya Kaivan berusaha mengorek informasi dari Dania. Lagian dia tahu, jika Dania tidak bisa berbohong, itu akan terlihat da
“Aku keluar dulu beli makanan,” kata Eve sambil beranjak dari duduknya.“Tidak pesan saja?” tanya Alana.“Ada kafe di samping rumah sakit, Kak. Aku juga sekalian mau beli sesuatu,” jawab Eve.“Oh, ya sudah.” Alana mengizinkan.Eve menitipkan Kai pada Alana dan Bram. Dia mengambil tas lalu berjalan menuju pintu.Eve keluar dari ruang inap Bram. Dia sekarang sangat lega karena sudah jujur pada Bram sehingga beban yang ditanggungnya terasa berkurang.Eve ingin membeli makan siang. Dia berjalan di koridor sambil mengecek ponsel, hingga langkahnya terhenti saat melihat siapa yang ada di hadapannya.Eve tampak malas, tapi sadar tidak bisa menghindar. Dia melihat tatapan tak senang Grisel yang kini sedang menghalangi langkahnya, Eve mencoba mengabaikan dengan kembali melangkah untuk melewati Grisel.Namun, siapa sangka Grisel kembali menghalangi langkah Eve, membuat Eve terpaksa berhenti dan menatap Grisel lagi.“Kenapa kamu kembali?” tanya Grisel.“Bukan urusanmu juga, kan?” Eve malas berhu
Grisel sangat geram setelah bicara dengan Eve yang kini berani melawannya dan sangat berbeda dari dulu. Posisinya semakin terancam karena kemunculan Eve setelah Kaivan tahu kalau bukan dia yang tidur dengan pria itu empat tahun lalu. Ini sungguh membuat Grisel pusing. Dia tidak mungkin membiarkan semua orang menertawakannya, kan?Grisel berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, tapi siapa sangka dia bertemu dengan Damian yang baru saja memasuki lobi rumah sakit.Grisel terkejut dan ingin menghindar, tapi pria itu ternyata sudah melihatnya lebih dulu.Damian memperlambat gerakan kaki ketika berpapasan dengan Grisel. Dia akhirnya berhenti tepat di depan wanita itu.“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Damian dengan tatapan menyelidik, curiga.“Bukan urusanmu,” ketus Grisel sambil memalingkan muka.Ekspresi wajah Damian berubah mendengar balasan Grisel. Melihat kondisi wanita itu baik-baik saja dan tidak terlihat seperti sakit, Damian menebak.“Apa kamu ke sini untuk menemui Eve?” tanya
Eve kembali ke rumah sakit setelah mendapat panggilan dari Alana. Saat baru saja menginjakkan kaki di pintu lobi, Eve terkejut melihat Damian dan Grisel berdiri bersama saling berhadapan.Ini seperti mengorek luka lama. Eve berusaha tak acuh. Dia berjalan begitu saja seperti tak melihat dua manusia itu.“Eve.” Damian panik. Dia langsung mengejar Eve yang berjalan melewatinya begitu saja seperti dia tak terlihat.Grisel terkejut melihat Eve, dia panik dan berpikir apakah Eve mendengar ucapannya pada Damian. Namun, melihat Eve yang berjalan melewatinya begitu saja, pasti Eve tidak mendengar, kan?Grisel memandang Damian yang menyusul Eve. “Damian pasti mengejar Eve lagi. Jika benar, aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menjauhkan Eve dari Kaivan.” Grisel tersenyum miring.Bagaimanapun caranya, dia tidak akan pernah membiarkan Eve dan Kaivan bersama.Damian masih mengejar Eve, sampai akhirnya bisa mengimbangi langkah Eve.“Eve, dengarkan aku,” kata Damian.Namun, Eve tidak berhent
Eve melihat Bram dan Alana menunggu jawabannya. Dia gelagapan dan panik, lalu terpaksa menjawab, “Bukan siapa-siapa.”Bram dan Alana mau percaya, tapi mereka mendengar Kai kembali bicara.“Itu, Paman yang punya pelucahaan. Yang katanya Mami pernah kerja di caca,” celetuk Kai.Eve menelan ludah, kenapa Kai bisa tahu banyak seperti itu.“Bos lamamu?” tanya Bram menebak sambil menatap Eve.Eve tersenyum canggung sambil mengangguk.“Oh, bos kamu. Kok bisa kebetulan sama-sama alergi kacang, ya. Padahal kamu juga tidak ada alergi, kakakmu juga,” ujar Alana keheranan.“Ya, mungkin karena daya tahan tubuh mereka memang sama-sama kurang bagus menyerap protein, jadi alergi kacang,” balas Eve seadanya dengan ekspresi wajah masih panik.Bram dan Alana percaya. Kai juga sibuk makan dan tidak bicara lagi sehingga Eve agak lega.“Oh ya, kalian asal makan makanan ini, sebenarnya ini dari siapa?” tanya Eve masih penasaran.“Entah,” jawab Alana, “tapi tadi kurirnya bilang kalau makanan ini untuk Kai,” i
Hari berikutnya. Bram sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Eve menenteng tas berisi pakaian milik Bram, lalu mereka berjalan menuju pintu keluar lobi rumah sakit. Saat sampai di depan, Eve terkejut saat melihat Kaivan baru saja turun dari mobil yang berhenti di depan lobi.“Paman Kaivan!” panggil Kai sangat senang.Bram dan Alana bingung, mendengar nama yang Kai sebutkan, mereka akhirnya tahu seperti apa mantan atasan Eve dulu.Kaivan mendekat pada Kai lalu menggendongnya tanpa penolakan, membuat Kaivan senang karena Kai mudah didekati.Eve sangat terkejut, kenapa putranya sangat menurut pada Kaivan. Eve panik dan bingung.Kaivan mengangguk sopan pada Bram dan Alana, lalu menatap Eve yang memalingkan muka dari Kaivan.“Kalian mau pulang?” tanya Kaivan.“Iya,” jawab Kai masih berada di gendongan Kaivan.Kaivan menatap Eve yang masih tak menatapnya, lalu berkata, “Mau aku antar?”Eve terkejut. Dia akhirnya menatap Kaivan yang sudah memandangnya. Dia mau membalas tapi Bram bicar
“Paman tahu, Kai akan tinggal di cini cama Paman dan Bibi. Kai nggak akan pulang ke rumah Kai,” celoteh Kai saat Kaivan duduk bersama dia dan yang lain.Kaivan tersenyum menanggapi ucapan Kai.“Paman, apa Kai boleh main ke perucahaan lagi?” tanya Kai begitu antusias.Saat Kai bertanya, Eve baru saja masuk dan mendengar pertanyaan putranya itu. Secara spontan Eve membalas, “Kai tidak boleh ke sana. Perusahaan tempat orang kerja, bukan main.”Kai langsung memanyunkan bibir sambil melipat kedua tangan di depan dada, merajuk karena larangan dari sang mami.Kaivan melirik Eve yang ternyata sedang menatapnya juga sehingga keduanya beradu pandang, tapi setelahnya Eve langsung memalingkan muka dari Kaivan.“Eve, buatkan minum buat atasanmu, ya,” kata Alana. Bagaimanapun Kaivan sudah sangat baik mau mengantar mereka, sehingga mereka juga harus bersikap baik pada Kaivan.Eve terkejut mendengar perintah Alana. Jika dibuatkan minum, Kaivan pasti akan lama di sana. Namun, dia juga tidak bisa menge
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Perjuangan yang biasa dilakukan sendiri, sekarang banyak yang menemani.Selama kehamilannya, Eve benar-benar merasakan banyak perhatian banyak orang di sekitarnya, membuatnya bisa menikmati kehamilan dengan perasaan tenang dan bahagia.Pagi itu. Eve berjalan ke ruang ganti untuk menghampiri Kaivan. Usia kandungannya sudah sembilan bulan. Perutnya sudah besar dan Eve mulai kesusahan melakukan aktivitasnya.“Biar aku bantu pakaikan dasi,” ucap Eve saat menghampiri Kaivan.Kaivan menoleh. Dia melihat istrinya itu berjalan mendekat.“Kalau lelah duduklah saja, Eve.”Eve hanya tersenyum. Dia meraih dasi Kaivan dan kukuh ingin mengikat dasi.“Duduk terus juga capek,” balas Eve.Dia mengikat dasi dengan seksama.Kaivan memperhatikan Eve yang sedang mengikat. Semakin besar kandungan Eve, istrinya itu terlihat semakin cantik.“Sudah,” ucap Eve.“Terima kasih,” balas Kaivan diakhiri sebuah kecupan di kening.Perhatian Kaivan ke perut Eve. Dia mengusap lembut p
“Apa Dokter tidak salah memeriksa?”“Sudah dipastikan lagi?”Eve merasa kepalanya sangat berat. Samar-samar dia mendengar suara Kaivan dan Maria. Dia pun berusaha untuk membuka mata sampai akhirnya melihat dua orang itu berdiri di dekatnya dengan ekspresi wajah panik.“Sayang.” Eve memanggil dengan suara lirih.Kaivan menoleh ketika mendengar suara Eve. Dia segera menghampiri istrinya itu.“Bagaimana perasaanmu? Mana yang sakit?” tanya Kaivan sambil menggenggam telapak tangan Eve.Maria juga ikut mendekat ke ranjang karena sangat mencemaskan Eve.“Aku di mana?” tanya Eve dengan suara berat.“Di rumah sakit, tadi aku dihubungi kalau kamu pingsan, jadi aku membawamu ke sini,” jawab Kaivan.Eve mengangguk pelan. Dia memang masih merasa sakit kepala.Kaivan dan Maria menunggu dengan sabar sampai Eve sepenuhnya sadar. “Aku tidak tahu kenapa bisa pingsan, maaf sudah membuat kalian cemas,” ucap Eve lirih.“Untuk apa minta maaf. Kami malah cemas kalau terjadi sesuatu padamu, tapi untungnya ti
Setelah berjuang sendiri, sekarang ada tangan yang bisa Eve genggam erat. Dia bagai Cinderella yang akhirnya menemukan sang pangeran, diratukan dan dicintai begitu dalam oleh pria yang bahkan sekalipun tak pernah ada di dalam mimpinya.Pernikahan Eve dan Kaivan sudah satu tahun berjalan. Pagi itu Eve membantu pelayan di dapur menyiapkan sarapan, sudah menjadi kebiasaan meski para pelayan dulu sering melarang.“Ini sudah semuanya, ditata di meja, ya.” Eve memberi instruksi setelah selesai memasak.“Baik, Bu.”Eve meninggalkan dapur. Dia pergi memanggil Maria sebelum membangunkan Kai dan Kaivan.“Ibu sudah bangun?” Eve masuk kamar untuk mengecek Maria.“Sudah, Eve.” Suara Maria terdengar dari kamar mandi.“Sarapannya sudah siap, aku mau bangunin Kai dan Kaivan dulu,” ucap Eve.Setelah mendengar balasan Maria dari dalam kamar mandi. Eve segera keluar dari kamar sang mertua, lantas pergi ke lantai atas. Semalam Kai merengek ingin tidur bersama mereka, sehingga pagi ini putra mereka yang s
Kaivan baru saja keluar dari kamar mandi. Dia melihat Eve yang berbaring memunggunginya. Apa Eve sudah tidur?Kaivan naik ke ranjang. Dia bergeser mendekat ke arah Eve berbaring, lantas menyentuh lengan wanita itu.“Eve, kamu sudah tidur?” tanya Kaivan. Dia bahkan sengaja meletakkan dagu di lengan Eve.Eve sebenarnya sangat panik dan gugup. Dia berpikir untuk tidur lebih dulu sebelum Kaivan selesai mandi, tapi kenyataannya dia hanya bisa memejamkan mata dan tidak bisa jatuh ke alam mimpi, membuatnya sekarang malah semakin cemas.Ini memang bukan malam pertama baginya, tapi lamanya waktu tidak pernah berhubungan seperti itu, tentu membuat Eve merasa ini seperti yang pertama baginya..“Kamu lelah, hm?” tanya Kaivan. Dia tahu Eve belum tidur karena kelopak mata Eve tampak bergerak.Kaivan terus meletakkan dagu di lengan Eve, dia menatap gemas pada Eve yang berpura-pura tidur. Sampai akhirnya dia melihat Eve membuka mata.“Apa kamu lapar?” tanya Eve seraya menatap pada Kaivan.Kaivan meng
“Kai mau pulang cama Mami dan Papi.”Kai bersidekap dada. Dia tidak mau beranjak dari kursinya saat Maria mengajak pulang.Maria, Bram, dan Alana saling tatap, bagaimana caranya membujuk Kai agar Kaivan dan Eve bisa menikmati malam pengantin.“Atau Kai mau tidur di rumah Paman?” tanya Bram membujuk.“Ih … Kai maunya cama Mami dan Papi.” Kai turun dari kursi. Dia berlari menghampiri Kaivan dan Eve yang sedang bicara dengan Dania.“Mami, Papi. Kai mau ikut kalian, tapi Nenek cama Paman malah mau ngajak pulang!” teriak Kai begitu keras.Kaivan dan Eve menoleh bersamaan, mereka terkejut melihat Kai berteriak-teriak seperti itu.“Kenapa, hm?” tanya Eve sedikit membungkuk agar bisa menatap sang putra.“Itu, macak Kai curuh pulang cama Nenek, Kai ‘kan maunya cama Mami dan Papi.” Kai mengadu sambil menunjuk ke Maria dan Bram yang sedang berjalan menghampiri.Kaivan menoleh ke Maria, tentu dia paham dengan niatan Maria mengajak Kai pulang.“Kai, nanti Mami dan Papi akan pulang, tapi setelah me
Pernikahan Kaivan dan Eve berjalan dengan sangat lancar. Mereka sudah sah menjadi suami istri, kini tradisi melempar bunga pun akan dilakukan.Beberapa karyawan lajang yang diundang ke pesta itu sudah bersiap di depan altar, begitu juga dengan Dania yang ikut bergabung untuk mendapatkan buket bunga milik Eve. Siapa tahu selanjutnya dia yang akan menikah.Eve tersenyum penuh kebahagiaan melihat orang-orang antusias ingin merebut buket bunganya. Dia melihat Dania yang memberi kode agar dilempar ke arah Dania, membuat Eve semakin menahan senyum.Eve memunggungi para wanita yang siap menerima buket miliknya. Master Ceremony mulai berhitung, lalu di hitungan ketiga, Eve melempar buket bunga miliknya.Buket itu terlempar cukup kuat. Dania begitu antusias ingin menangkap, tapi banyaknya wanita di sana, membuat buket itu terpental beberapa kali hingga akhirnya jatuh ke tangan seseorang.Semua wanita kini menatap pada orang yang memegang buket itu.“Brian.” Eve terkejut tapi juga merasa lucu ka
Eve berada di salah satu kamar yang terdapat di hotel tempat pesta pernikahan diadakan. Dia datang lebih awal karena harus dirias oleh MUA yang sudah ditunjuk oleh Kaivan.Alana menemani Eve di kamar. Dia terus memperhatikan Eve yang sedang dirias sampai akhirnya siap.“Kamu sangat cantik,” puji Alana seraya menghampiri Eve yang baru saja selesai dirias.Eve menatap Alana dari pantulan cermin. Dia tersenyum malu karena mendapat pujian dari kakak iparnya itu.Alana menatap cukup lama pada Eve, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawanya.Eve memperhatikan. Tidak tahu apa yang akan diberikan oleh kakak iparnya itu.“Kakakmu dan aku sepakat memberikan ini sebagai hadiah pernikahanmu, memang tidak mewah dan mahal, tapi kami berharap ini cukup berkesan untukmu,” ujar Alana memberikan kalung dengan liontin berinisial E.Eve sangat terkejut. Dia sampai menggeleng kepala pelan karena tak bisa menerima hadiah itu. Dia tahu kondisi ekonomi kakak dan kakak iparnya sedang susah, tapi
Hari pernikahan Eve dan Kaivan tiba. Malam sebelum acara pernikahan, Eve berada di kamar sedang istirahat setelah makan malam.“Eve, boleh aku masuk?” tanya Alana setelah sebelumnya mengetuk pintu.“Masuklah, Kak.”Alana membuka pintu kamar Eve. Dia melihat adik iparnya itu sedang duduk memegang ponsel.“Ada apa, Kak?” tanya Eve sambil menggeser posisi duduknya di ranjang untuk memberi tempat agar Alana bisa duduk.Alana duduk di dekat Eve. Dia menatap pada adik iparnya itu.“Besok kamu akan menikah. Aku dan kakakmu selama ini menyadari, belum pernah memberikan yang terbaik, terutama aku yang sering sekali bersikap tak baik karena rasa iri padamu. Tapi, semua sudah berlalu. Aku tidak bisa memberi apa pun selain mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaanmu,” ucap Alana sambil menggenggam erat telapak tangan Eve.Bola mata Eve berkaca-kaca. Dia mengulum bibir untuk menahan tangisnya.“Tidak memberi apa-apa bagaimana, Kak? Aku bisa kuliah dan tumbuh juga karena usaha kalian. Ya, meski Kak
Siang itu Eve pergi ke perusahaan Kaivan. Dia mengantar makanan karena Kaivan berkata jika sangat sibuk.“Kamu masih sibuk?” tanya Eve saat masuk ruangan Kaivan.Kaivan menatap pada Eve. Melihat calon istrinya itu datang, Kaivan langsung menutup tirai dinding kaca agar para staff tak melihat apa yang dilakukannya.“Kenapa tirainya ditutup?” tanya Eve keheranan.Kaivan mendekat pada Eve, lalu mengecup pipi wanita itu.“Biar mereka tidak melihat ini,” jawab Kaivan.Eve terkejut sampai memukul lengan Kaivan karena gemas.Eve mengajak Kaivan duduk. Dia membuka pembungkus makanan agar Kaivan bisa segera menyantap makan siang.“Aku sebenarnya masih harus memilah berkas, sepertinya tidak bisa makan siang dulu,” kata Kaivan.Eve menatap pada Kaivan, lalu membalas, “Kamu tetap harus makan meski sedang sibuk. Kamu memilah berkas, biar aku yang menyuapi.”Senyum mengembang di wajah Kaivan saat mendengar ide Eve. Dia mengajak Eve ke meja kerja, memosisikan kursi lain di samping kursi kerjanya agar