“Baik, Nona!”
Setelah itu telepon pun dimatikan. Kayla menggenggam ponselnya dengan erat. “Kalian pikir bisa tidur nyenyak setelah ini?” gumamnya yakin. Tidak segampang itu! Bukan hanya Rio saja, tapi mama mertua dan iparnya juga memperlakukannya dengan buruk selama ini. Jadi, siapapun di keluarga mereka tidak akan dibiarkan lolos begitu saja. Permainan pun sudah dimulai. Dia akan membuat kehidupan mereka semakin kacau. Sementara itu di dalam mobil …. Mia yang tidak sabar langsung mengambil ponselnya untuk mengadukan kejadian barusan pada saudaranya. “Halo, Kak! Baru saja aku melihat mantan istrimu di Apartemen Royal Garden. Apa kamu tahu soal ini?” cerocosnya tanpa basa basi. [Kening Rio pun bertaut mendengar hal yang sangat aneh baginya. “Apa maksudmu? Apa yang dilakukannya di sana?” ucapnya heran dengan pertanyaan yang sama seperti adiknya tadi.] “Aku juga tidak tahu! Tapi, dia bilang tinggal di sana. Apa Kakak percaya? Hahaha! Si kotor itu pasti sudah menjadi simpanan pria kaya!” ujarnya sinis. Suara gelak tawa ke luar dari mulutnya. [“Dia tidak mungkin punya uang untuk membayar, paling juga mencari pekerjaan! Lagipula kami sudah tidak punya hubungan apapun lagi, jadi aku tidak peduli!” jawabnya acuh.] “Iya, sih. Tapi, Kak! Aku ya-” Belum selesai Mia melanjutkan kalimatnya tapi telepon sudah dimatikan. “Hei! Aku belum selesai bicara! Aduh, sial!” makinya dengan bibir manyun. Di kamar, Suara manja wanita itu membuatnya tersadar. “Ada apa, Rio?” “Mia yang menelpon, bukan apa-apa kok. Ayo, kita lanjutkan ‘permainan’ kita!” seringai nakal muncul di wajahnya, membuat wanita di bawahnya mabuk kepayang. Di Rumah Keluarga Rio .… Mia melangkah dengan buru-buru saat sudah masuk ke dalam rumah. Hari sudah larut malam, namun mamanya masih di ruang tamu untuk menunggunya pulang. “Ma, di mana kak Rio?” “Di kamarnya, tapi ada Sonia. Jangan ganggu mereka!” ucapnya dengan mata mendelik tajam. Gadis itu pun mengangguk paham. Lalu teringat soal kejadian bersama Kayla. “Ma, coba tebak aku bertemu dengan siapa tadi?” adunya dengan bersemangat. “Aduh! Mama lagi tidak mood main tebak-tebakan!” Sinta sama sekali tidak tertarik. Bibir Mia mencebik. “Ih, Mama! Tadi aku bertemu si Kayla di Apartemen Royal Garden. Dia bilang tinggal di sana, aneh sekali ‘kan?” Kedua mata Sinta seketika itu juga langsung melotot. “Yang benar, Nak?” ujarnya dengan raut wajah terkejut tak percaya. Mia pun mengangguk antusias. “Iya, Ma! Aku yakin setelah bercerai dengan kak Rio dia mengincar para pria kaya di sana!” ucapnya yakin. Sinta mengibaskan tangan kanannya. “Halah! Paling juga dia datang ke sana untuk jadi pengemis! Sudahlah, Mia. Jangan pedulikan wanita miskin itu!” “Tapi, Ma! Ta-” “Mama capek mau tidur. Besok saja kita ngobrolnya!” sela Sinta cepat. Mia pun mencebikkan bibirnya, tetapi setelah itu dia memutuskan untuk kembali tidak peduli dan menganggap apa yang terjadi tadi memang tidak penting. Besok Paginya .… Kayla menatap pemandangan kota dari jendela kaca kamarnya. Dia mendengar bel berbunyi, lalu bergegas berjalan ke luar. “Selamat pagi, Nona!” Suara riang Nora memenuhi ruangan yang luas itu. Kayla memutar bola matanya malas. “Masuk, Nora!” Mereka pun duduk berseberangan di sofa berwarna abu tua. “Loh, Nona? Kenapa belum bersiap? Bukankah kita akan ke perusahaan utama?” tanya gadis itu heran karena melihat nona mudanya masih berpakaian santai. “Aku tidak mau! Aku belum bisa kembali ke sana. Aku memintamu datang hanya ingin dengar laporan intinya saja,” jelasnya singkat. Nora sedikit kecewa. Dia pikir Kayla akan pergi bersamanya hari ini. “Apa karena patah hati, kamu jadi begini? Sadarlah, Kayla Zania Yuditama! Mereka itu cuma sampah!” ucapnya kesal. Bahkan kali ini dia sampai menyebutkan nama lengkapnya. “Tidak, Nora! Berhenti meledekku!” sungut Kayla dengan kening berkerut kesal. Nora pun mencondongkan tubuhnya ke depan dengan wajah yang lebih serius dan mengancam. “Aku khawatir denganmu, Nona. Kamu sudah kuanggap seperti adikku, jadi putuskan segera atau aku akan beritahu soal ini pada pimpinan Black Snake!” Kayla pun sedikit terkejut mendengar itu. “A-apa benar papa dan mama baik-baik saja?” Dia memberikan pertanyaan pengalihan. Nora pun kembali ke posisi semula dan tersenyum senang. “Mereka sehat dan keadaan kelompok juga stabil. Nona juga bi-” “Cukup sampai di sana!” potongnya cepat yang membuat asistennya itu manyun. “Ah, aku ingat sekarang! Waktu di rumah, mereka bicara soal festival dan lahan investasi baru. Apa kamu tahu soal itu?” “Maksudnya, proyek pembukaan lahan di area timur? Tentu saja! Aku yang mewakili untuk pembangunan mall dan hotel di sana. Kenapa, Nona?” tanya Nora penuh selidik, karena tidak biasanya Kayla mengurusi hal seperti ini. Kayla pun mengangguk mengerti. “Oh, jadi itu tujuan mereka!” “Tapi belum diputuskan sampai festival selesai. Festival itu untuk pesta ulang tahun kota yang akan diadakan di alun-alun. Dan tentunya Tuan Besar ingin Nona juga ha-” “Aku tidak mau!” potong Kayla cepat karena tahu apa kelanjutannya. “Kenapa, Nona? Di sana banyak orang penting yang hadir dan Tuan Besar ingin Nona datang dan muncul di hadapan publik!” kali ini nada suaranya sedikit meninggi. “Aku tidak suka pesta, Nora. Aku malas melihat itu semua, jadi kalian saja yang pergi!” ucapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Nora pun tersenyum misterius. “Apa Nona yakin? Rio dan Sonia akan hadir karena termasuk sponsor acara di sana loh!” Kedua matanya membola karena mendengar itu, Kayla langsung tertarik dan setuju. “Oke, aku akan ikut!” ucapnya cepat. “Aku ingin tahu reaksi mereka saat melihatku nanti!” “Siap, Nona Viper!” gelak tawa mengejek pun pecah dari mulut Nora. Dia senang akhirnya berhasil melakukan tugas dari bosnya. *** Seminggu Kemudian …. Di Alun-alun Kota Green Leaf, Suara riuh dari para pengunjung yang ramai membuat acara festival semakin meriah. Dekorasi dan panggung megah serta bazar mengisi setiap penjuru taman yang luas itu. Kayla hanya bisa celingak celinguk dari tadi, karena Nora menyuruhnya datang lebih dulu untuk mempelajari situasi supaya mudah berbaur nanti. Dia melihat ada beberapa spanduk berisi tulisan sponsor acara. Tetapi hanya nama orang penting saja atau perusahaan yang mewakili, tidak ada nama Rio di sana. Dan ada satu nama keluarga dari sebuah perusahaan yang teringat olehnya meskipun masih ragu betul atau tidak. “Apa Nora sengaja bohong padaku? Huh!” gerutunya kesal dengan bibir manyun. Tiba-tiba suara seseorang yang sudah tidak asing lagi tertangkap oleh telinganya. “Wah, lihat siapa ini? Seorang janda miskin rupanya!” Kayla memutar bola matanya malas dan dengan berani melipat kedua tangannya di depan dada. “Maaf ya, Nenek tua keriput. Aku tidak ada urusan denganmu!” ucapnya ketus. “A-apa? Cih! Berani sekali kamu. Aku bersyukur Rio menceraikanmu!” Ya, Sinta atau mantan mama mertua Kayla yang saat ini berdiri dengan gaya angkuh di depannya. Dia bersama dengan teman arisannya dan sengaja datang menghampiri untuk mengejek Kayla lagi. ‘Kenapa harus ketemu nenek sihir ini sih?!’ hati Kayla menggerutu. “Apa itu tas limited edition dari merek MM?” ucap salah satu teman Sinta yang tampak kaget melihat tas yang ditenteng Kayla. “Halah! Paling itu imitasi!” Sinta mengibaskan tangan kanannya sambil memanyunkan bibir. Namun dia sedikit pangling karena Kayla tidak lagi terlihat kumal seperti hari-hari sebelumnya. “Maaf, saya tidak ada waktu. Permisi!” ucap Kayla cepat. Tapi, Sinta semakin menjadi bahkan menunjuknya. “Lihat! Calon mertua Rio yang menjadi sponsor acara ini. Sonia jauh lebih baik untuk anakku, bukan gembel seperti kamu!” Sinta dan kedua temannya pun tertawa dengan kencang. Kening Kayla berkerut dan semakin geram karena wanita itu tidak pernah puas menghinanya. ‘Oh, jadi benar mereka sponsornya? Baiklah, akan aku buat mereka malu hari ini!’ Kayla malas meladeni tingkah wanita itu dan berniat untuk segera pergi, tapi tidak bisa karena tiba-tiba saja rambutnya dijambak oleh Sinta. Kayla sedikit terkejut dan karena memakai high heels membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Namun dengan cepat dia berbalik dan beralih memegang tangan mantan mertuanya. “A-aduh! Aduduh, sakit! Lepaskan aku!” pekiknya sambil meronta karena kali ini Kayla memelintir tangannya. Beberapa orang yang lewat sampai kaget saat melihat mereka. Kayla pun melepaskan sambil mendorong tubuh yang mulai renta itu. “Huh! Jangan berani lagi tangan kotormu itu menyentuhku!” ucapnya dengan mata melotot tajam. Setelah itu Kayla benar-benar pergi dari sana. Kedua teman Sinta sampai melongo dan masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Dari tadi sosok pria itu tidak melepaskan pandangannya ke arah Kayla. “Menarik! Aku yakin kalau dia pasti orang yang kita cari!”“A-apa?!” kali ini Gio sedikit meninggikan suaranya. Leon Adinata, pemuda 29 tahun itu mengangguk mantap. “Gadis itu sangat pemberani! Dia sangat cocok bukan?” Gio mengikuti pandangan Tuan Mudanya dan memperhatikan keributan kecil yang baru saja terjadi di dekat gerbang depan. Rencana Leon diam-diam datang kemari untuk mencari kelemahan musuh mereka. “Apa Tuan yakin?” ujarnya ragu tapi sekaligus percaya, karena bosnya itu tidak pernah bercanda kalau sedang bekerja. “Iya, Gio. Dia gadis yang tepat untukku ‘kan? Apa kau lihat gerakannya tadi? Itu adalah refleks yang bagus! Aku suka dengan wanita yang pandai bela diri!” jelasnya lagi. Leon menampakkan senyum kecil di sudut bibirnya. Gio pun langsung manggut-manggut mengerti. ‘Oh, sepertinya Tuan menyukai gadis itu? Ini tidak bagus!’ batinnya gelisah. Melihat Kayla yang akan berjalan melewati mereka, pemuda itu langsung bergerak mengambil kesempatan. “Maaf, apa kamu tidak apa-apa?” Leon bertanya dengan sopan. Kening Kayla berker
Rio dan Sonia kompak menjawab saat mendengar ucapan Kayla barusan. “Hahaha!” Mereka berdua tertawa kencang membuat Kayla semakin kesal melihatnya. “Apa kamu bilang? Jangan mimpi, Kayla!” Sonia mengibaskan tangannya di depan wajah. Rio pun kembali bersikap sok dan percaya diri. “Mana mungkin orang sepertimu bisa berurusan dengan para pebisnis. Kamu itu cuma wanita miskin penjual sayur! Baru dekat dengan Pak Walikota saja kamu sudah belagu!” ungkapnya tetap tak takut. Kedua tangan Kayla mengepal dengan erat. ‘Aku harus bagaimana supaya mereka percaya? Sial!’ Laren yang tadi masih mengamati situasi, tidak tahan lagi melihat mereka semua yang berdebat di depannya. Bisa hilang wibawa dan kekuasaannya di sini. “Cukup! Kalian berdua seharusnya menaruh hormat pada kepona… eh, maksudku pada Kayla. Dia sudah banyak membantu orang!” ucapnya hampir keceplosan. “Tidak mau, Pak!” jawab dua pasangan selingkuh itu bersamaan. “Untuk apa? Apa karena dia memanggil Anda dengan sebutan paman, be
Kayla menunjuk dengan ragu, “Ka-kamu? Sedang apa di sini?” ucapnya gugup. “Tunggu dulu, apa kamu mengikutiku sampai kemari?” Kedua mata wanita itu membola, benar-benar tidak percaya kalau orang asing ini tahu tempat tinggalnya padahal mereka bertemu hanya sekilas. Kayla menelan ludahnya dengan kasar, bahaya kalau sampai orang di sini tahu statusnya sebagai anak dari penguasa kota ini. Sekarang bukan waktu yang tepat.Leon sebisa mungkin bersikap santai.“Ekhmm. Sebenarnya aku tadi tidak sengaja melihatmu masuk kemari. Apartemenku ada di seberang sana. Jadi, sekalian saja aku mampir, boleh ‘kan?” ungkapnya dengan memasang senyuman semanis mungkin.Tapi di mata Kayla, senyuman jahil lebih tepatnya.‘Sial! Bikin jantungan saja!’Kayla mencebikkan bibirnya kesal karena hampir kecolongan. Jadi, dia tidak akan basa basi lagi pada orang ini.“Ck! Apa yang kamu mau? Kalau cuma kepo tidak usah diteruskan, jika masih sayang dengan nyawamu!” ketusnya langsung.Pemuda itu cukup terkejut dengan a
Rio tidak ingin hari ini jadi berantakan dan menimbulkan masalah baru, apalagi karena hal pribadi. Dia akan membereskan hal ini karena meeting sebentar lagi akan dimulai. Dengan cepat dia meminta diri pada Donny dan rekan bisnis yang lain. Dia tidak akan membiarkan calon mertuanya melihat orang itu di sini. Kedua kakinya dengan cepat melangkah dan tangan kanannya pun menarik lengan wanita itu untuk mengikutinya menjauh dari area pintu depan. “He-hei! Lepaskan aku!” ucapnya tak terima. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana bisa kamu masuk? Apa kamu berniat mengacau?” Rio langsung memberikan semua pertanyaan yang berputar di kepalanya. Ya, wanita itu adalah Kayla! Dengan sekali sentak dia melepaskan cekalan mantan suaminya itu. “Memangnya kenapa? Apa ada larangan kalau aku tidak boleh kemari?” Kayla malah balik bertanya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tentu dia tidak mau lagi hanya diam saja saat diintimidasi dan diperlakukan seenaknya oleh pria durjana di depannya in
Rio heran dengan sikap calon mertuanya. Dilihatnya benda yang ada di hadapan mantan istrinya itu.“Ada apa, Pak? Kenapa kaget begitu?” tanya Rio dengan kening berkerut.Donny tidak menghiraukan ucapan Rio barusan, lebih tepatnya tertarik dengan benda kecil yang memiliki simbol kepala ular di ujung gagangnya.Kayla benar-benar berhasil menarik perhatian semua orang kali ini. Dia tetap berusaha untuk bersikap tenang dengan senyuman manis yang mengembang sempurna di wajahnya.“Nah, aku punya sesuatu yang bisa mengukuhkan kalau proyek ini di bawah kendaliku!” ujarnya dengan ceria sambil menunjuk stempel khusus yang ada di atas meja kaca itu.Suasana pun kembali riuh saat melihat benda itu.“Itu stempel seperti milik Nona Nora! Tidak mungkin kamu juga punya!” celetuk salah satu di antara mereka. Donny semakin terkejut mendengar itu.“Ti-tidak … ini mustahil!” ucap Donny sangat tidak menyangka. “A-apa kamu pikir dengan benda itu bisa membuat kami takut, hah?” sambungnya lagi mencoba untuk t
Kayla tersenyum puas mendengar itu. Semua orang pun akhirnya paham siapa sebenarnya Kayla dan bertepuk tangan untuk memberikan selamat, kecuali Rio dan Donny. Mereka pun percaya kalau Kayla bukan penipu seperti yang dituduhkan Donny karena tidak mungkin Nora sembarangan memilih orang.“Meeting hari ini selesai. Terima kasih semuanya!” ucap Nora mengakhiri keputusannya dan bangkit berdiri dari duduknya.Setelahnya satu persatu perwakilan perusahaan menyalami Kayla untuk memberikan selamat. Kayla menerimanya dengan baik dan tersenyum ramah. Hal itu wajar karena mereka tidak tahu kalau Kayla sebelum ini menikah dan hidup miskin, yang mereka tahu sekarang kalau Kayla adalah perwakilan dari keluarga Yuditama, tetapi tidak dengan Rio yang masih tidak terima dengan semua ini.Kayla pun mengajak Nora untuk sedikit menjauh dari keramaian.“Jadi, bagaimana sekarang?” ucapnya pelan.“Nona jangan khawatir! Setelah dokumennya selesai kita akan melihat ke lokasi dan mulai mengerjakan pembangunan da
“A-apa?!”Kayla terpekik tak percaya. Kedua matanya membulat sempurna mendengar itu. ‘Apa maksud pria ini? Seenaknya saja mengaku pacarku!’Sonia dan Rio pun saling pandang.“Oh, pahlawan kesiangan rupanya. Pergi dari sini! Jangan ikut campur!” Rio berkata ketus dengan tatapan sinis ke arah Leon.‘Apa benar pria ini pacarnya? Sialan!’ batin Rio penasaran. Ada sedikit rasa cemburu dan tidak terima karena pemuda itu terlihat lebih tampan dan gagah. Ya, Rio terpaksa harus mengakui hal itu.Leon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan tetap tenang. “Aku tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya, tapi aku tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya!”Dia sengaja melakukan ini untuk melindungi Kayla, padahal namanya saja dia belum tahu.“Apa yang kamu lakukan di sini?” Kayla tidak tahan lagi untuk bertanya karena penasaran. Pria ini seperti ada di mana-mana atau cuma kebetulan saja.Sonia pun tersenyum sinis, lalu dengan tatapan penuh ejekan gadis itu pun berjalan ke arah Ka
Sebelum itu, di kantor polisi …“Benar sekali, Pak! Dia sudah melakukan penyerangan pada kami berdua. Lihat? Ini buktinya! Calon suami saya sampai berdarah dan saya juga didorong hingga terjatuh!” ucap gadis itu sambil menangis tersedu-sedu.Sementara Rio hanya diam saja membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau.“Baik, Bu. Kami akan segera menangkap pelakunya!” ucap petugas itu dengan tegas.Walaupun awalnya petugas itu tidak bersedia karena kurang bukti, tetapi Sonia sudah menyiapkan sejumlah uang yang besar untuk membayar mereka.Gadis itu tersenyum licik di sela-sela tangisnya. Kali ini dia akan melakukan segala cara untuk menjebloskan Kayla ke penjara. ‘Tunggulah, Kayla! Sebentar lagi semua orang akan membencimu! Hahaha!’Kembali ke apartemen …Kening Kayla tampak berkerut mendengar itu.“A-apa maksud kalian? Aku tidak melakukan apapun. Kalian sudah salah orang!” jawabnya dengan tegas.Namun mereka berdua tidak peduli apa yang diucapkan Kayla dan langsung memaksanya untuk
Setelah beberapa puluh menit, mobil Rio memasuki parkiran salah satu apartemen mewah. Tekadnya sudah bulat untuk datang kemari. Dia pun bergegas masuk ke apartemen itu dan langsung menuju ke meja resepsionis.“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa gadis itu dengan tersenyum ramah.“Halo! Aku memang butuh bantuanmu, Cantik!”Tak lama setelah itu telepon interkom yang ada di ruang tamu berdering nyaring.“Siapa ya? Baru kali ini aku dengar telepon di kamar ini berbunyi? Apa ada hal penting dari pihak manajemen?” gumam pemuda itu dengan kening berkerut.Dia heran sebab tidak ada memesan makanan atau layanan apapun sebelumnya.Dengan gerakan cepat dia mengangkat gagang telepon itu. “Halo? Siapa ini?”[“Katakan pada Leon, aku tunggu di Cafe Town Coffee di depan apartemennya ini. Sekarang juga!” ucapnya dengan suara dingin.]Mata Gio terbelalak geram. “Siapa kau? Beraninya menyuruh tuanku!”[Rio tersenyum sinis. “Bilang padanya ini soal Kayla!”]Belum sempat pemuda itu menjaw
Di mansion Yuditama …,Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dengan tubuh tegapnya sedang menikmati segelas whisky sambil menatap keluar jendela kaca.Pintu ruangannya terbuka lalu suara langkah kaki terdengar mendekat.“Selamat malam, Tuan Besar. Saya ingin melaporkan hal yang Tuan minta,” ucap pemuda itu memecah keheningan.Kevin pun berbalik dan menatap anak buahnya sekilas lalu meneguk minumnya sampai habis dan meletakkan gelas itu ke meja.“Jelaskan!” “Baik, Tuan Besar!” jawabnya cepat.Pemuda itu mengangkat tabletnya dan mulai membaca.“Informasi yang saya dapat, pria itu membeli mobil secara cash, lunas dengan uang tunai. Dia datang kemari dengan temannya atau mungkin juga asistennya. Dia sedang mencari lahan atau tempat yang membutuhkan investor juga konselor bisnis. Semua memakai data temannya itu. Tinggal di apartemen Paradise Hills berseberangan dengan Nona muda, Tuan!” ungkapnya dengan lugas.Kevin manggut-manggut paham.“Begitu ya? Jadi dia bukan orang miskin?” ujarn
Plaakkk!!!Gio memegang pipinya yang ditampar oleh Nora.Tapi, suaranya kok–“Hei! Halo!” Nora melambaikan tangannya di depan wajah pemuda itu.Gio pun tersadar. “Hah? A-apa?!” ucapnya tergagap.Rupanya semua itu tadi hanya khayalan.Nora mencebikkan bibirnya karena kesal.‘Sialan! pria ini malah melamun!’Gio jadi malu dan serba salah. Dia berharap semoga Nora tidak menyadari apa yang ada di pikirannya barusan.“Maaf, Nona. Sepertinya aku terlalu sibuk bekerja jadi tidak fokus,” ucapnya asal.Nora susah payah menahan emosinya.“Jadi, apa kamu mau bengong di sini seharian?” Gio jadi ciut juga karena suaranya terdengar ketus.“Ya, tidak juga. Aku juga butuh ditemani, Nona. Nanti kalau tersesat di rumah sebesar ini bagaimana?”Nora melongo. “Ya sudah! Makanya ikut aku!”Wajah pemuda itu langsung berubah lega dan berbinar bahagia.‘Sial! Merepotkan sekali pria ini! Kenapa aku harus berakhir ciuman dengannya kemarin!’Nora hanya bisa merutuki dirinya sendiri yang terlewat ceroboh.Setela
“Berani sekali kau mengencani putriku?!”Baik Kayla dan Leon sama-sama terkejut saat mendengar suara Kevin yang tiba-tiba menggelegar di ruangan itu. Kedua sejoli itu terpaku. Bahkan Laura sampai memegangi dadanya. Mama Kayla mengerti raut wajah Leon yang tertekan.“Sini, Sayang. Ayo, Nak tampan duduklah di sini!” ajak Laura sambil melambaikan tangannya. Menatap bergantian pada putri dan pria di sampingnya.“Kalian belum kenal, tapi kenapa kamu ramah sekali padanya?!” ujar pria itu ketus.Laura melihat wajah Kevin yang berubah masam lalu dengan cepat dia melotot tajam pada suaminya. Membuat pria itu mendengus.“Ayo, Sayang!”Mereka mendekat bersama lalu Kayla duduk di sebelah mamanya sementara Leon mendudukkan tubuhnya ke sofa tunggal di sebelah kanan papa Kayla.Kevin bahkan sudah menampakkan diri sebagai orang tua yang protektif. Kayla khawatir kalau papanya tahu mereka sudah tidur bersama, Leon pasti akan tinggal nama setelah ke luar dari rumah mereka. Lihat saja duduknya bak kais
Mata Kayla mengerjap beberapa kali seolah masih belum sadar dari rasa terkejutnya.Leon pun menarik tubuh Kayla untuk berdiri menghadapnya. Dia menyelipkan rambut panjangnya ke belakang telinga.“Iya, Honey. Apa kamu mau?” tanya Leon sekali lagi.“Mau!” Kayla mengangguk cepat berkali-kali. “Aku mau, Sayang!” sambungnya lagi.Dia memeluk Leon dengan perasaan senang yang membuncah. Ini sangat berbeda saat Rio memintanya menikah, seolah ini adalah lamaran pertama di hidupnya. Pria ini begitu romantis dan lembut dalam berkata-kata. Sikapnya yang gentle sebagai seorang pria tentu meluluhkan kerasnya dinding yang sempat Kayla bangun.Leon melerai pelukan mereka dan menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang, namun terdapat kegelisahan di sana.“Tapi, hal itu masih lama untuk bisa terwujud. Tidak apa-apa 'kan?”Kening Kayla langsung berkerut heran. “Apa maksudmu?”Helaan napas kasar terdengar. “Aku masih belum mapan, Kayla. Aku malu kalau bertemu papamu nanti. Belum ada yang bisa kubanggak
Kedua mata Kayla membulat sempurna mendengar penjelasan dokter kandungan itu.“Dokter tidak bohong ‘kan?” Wanita itu mencoba tersenyum meskipun sedikit tersinggung. Dia seorang dokter yang berintegritas tinggi dan profesional di rumah sakit ini. Tidak mungkin dia memberi keterangan palsu. Apalagi pasiennya adalah orang berkuasa seperti Kayla. Profesi dan rumah sakit ini dipertaruhkan olehnya.Kayla jadi tidak enak dengannya tapi itu disebabkan dia sangat terkejut. Dia merasa belum puas dan ingin memastikan sekali lagi.“Ma-maaf! Saya tidak bermaksud menyepelekan, Dok! Saya tidak mandul ‘kan?” Kayla bertanya dengan gugup.Dokter itu tersenyum dan menggeleng cepat. “Tidak, Bu Kayla. Jika seseorang belum kunjung hamil itu bukan berarti dia mandul. Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Bisa karena capek, lelah, stress, pola hidup tidak sehat atau suami yang merokok sehingga cairan yang dihasilkan kurang bagus,” jelasnya dengan sabar.Dia teringat selama menikah sibuk bekerja dan mengurus
Besok paginya …,Kedua mata Nora perlahan terbuka. Lalu reflek dia duduk dengan cepat dan melihat sekeliling.Dia berada di kamarnya!“Sial!” umpatnya sambil memijat kepalanya yang berdenyut pusing.Dia yakin Damar akan marah kalau tahu semalam pulang dalam keadaan mabuk. Untung saja anak buah mereka selalu menjaganya.Padahal semalam ayahnya yang menggendong dari mobil sampai ke kamar. Mengelus rambutnya dengan sayang dan menyelimutinya.Damar melirik sekilas jaket kulit yang putrinya pakai. Bohong kalau dia tidak tahu, apalagi aroma parfum pria menguar dari sana. Saat ke luar kamar dia bertanya kenapa Nora mabuk, anak buahnya menjelaskan dia cuma banyak minum dan tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena stress sebab kemarin ada masalah di proyek baru. Damar mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Keduanya kompak merahasiakan apa yang terjadi pada Nora. Biarlah itu jadi urusan pribadi Bosnya.Tiba-tiba ingatan Nora saat di club semalam kembali berputar di kepalanya. Meski samar tapi di
Di Club M One …,Gio duduk di kursi yang ada di depan bar dan memesan minumannya. Dia memilih tempat ini karena berbekal dari informasi anak buahnya yang mengikuti Nora. Wanita itu sesekali datang kemari saat malam, mungkin ini tempat favoritnya.Mata pemuda itu memindai setiap sudut ruangan yang bising dengan hingar bingar musik berdentum keras. Pas di meja ujung, meski penerangan lampu samar-samar, Gio yakin kalau itu adalah Nora.Dia tersenyum senang saat melihat wanita itu duduk sendiri.Ini adalah malam keberuntungan!Gio pun mengambil gelas whisky di meja dan meneguknya setengah. Dia butuh keberanian penuh untuk menghampiri wanita dingin seperti Nora.Pemuda itu berjalan mendekat ke meja masih memegang gelasnya. Berani datang sendirian, mengantarkan nyawa mungkin?“Berhenti!”Kaki Gio reflek mengikuti suara pria berbadan besar yang menghadangnya.“Siapa kau? Dilarang mendekat!” tegas pria itu lagi.Gio merasa kepalang tanggung jadi dia terobos saja.“Nona Nora, mau kutemani?” te
Sebelum itu …, Kayla menekan nomor telepon khusus dan tersambung ke rumahnya. [“Halo, Nona Kayla! Ada yang bisa saya bantu?” jawab seseorang di seberang sana.] Dia tersenyum karena tanpa perlu bicara, orangnya sudah tahu kalau itu nomor teleponnya. “Oke, aku minta bantuanmu untuk mencari nomor kamar atas nama Leon Adinata atau Gio di apartemen Paradise Hills. Secepatnya!” pintanya cepat. [“Tentu, Nona. Ada lagi?”] “Itu saja. Aku tunggu!” Kayla menghela napas panjang. Dia pun bergegas menuju kamar mandi. Setelah bersiap dia akan langsung mendatangi pria yang sedang menghindarinya itu. Kembali ke waktu sekarang, Setahunya dia tidak memesan makanan dan juga tidak punya teman di sini. Jadi, daripada menduga terus lebih baik mengecek langsung. Gio tentu terkejut saat melihat siapa yang mengetuk pintu apartemen. Pemuda itu bahkan tidak berkedip melihat sosok yang ada di hadapannya. Wanita cantik itu memakai long coat coklat berdiri di depan kamar mereka dengan kedua tang