"Tidak, Mbak. Saya sudah bilang di sesi wawancara, karena itu Saya di sini.""Lagi pula yang dibutuhkan yang muda," kata wanita itu yang masih mencari-cari kesalahan Kae. Kae yang sudah tak lagi memakai cadar hanya bisa menghela napas. "Kalau Mbak gak puas, Mbak ke HRD aja."Wanita itu sebenarnya kesal, Kae terus-terusan menjawab ucapannya tapi ia tak bisa apa-apa karena Kae telah mematahkan semua ucapannya. "Ok, mungkin staf marketing lagi dibutuhkan banyak sehingga menerima orang diluar dari kriteria seharusnya." Begitulah cara wanita berambut panjang ini menyelamatkan wajahnya. Wanita ini kemudian melangkah ke depan dengan wajah angkuh. "Baiklah, kita mulai saja. Namaku Rika dan aku adalah Marketing Manager di sini."****Erick tengah duduk di saung yang berada di kebun tehnya. Angin sepoi-sepoi tak ia rasakan karena pikirannya tengah melayang entah ke mana. Memandangi hamparan kebun teh dan sinar mentari yang masuk sedikit ke dalam saung yang sedikit remang-remang itu. 'Kae, ap
"Sekarang aku tidak ingin main film. Kalau iklan aku mau. Oya, kamu tahu cara menghubungi penulis Dara siapa itu namanya ...." Erick mencoba mengingat-ingat nama pena istrinya. "Dara Jamilah? Entahlah. Sebentar aku cari dulu." Pria muda itu kemudian mencari nomor telepon wanita itu di ponselnya. "Ah, ada. Mas Erick mau apa?" Ia menoleh pada artis bule yang kini tampak lebih kurus dari sebelumnya. "Bisa kau suruh datang. Mmh ... mungkin bertemu di luar. Di restoran mungkin.""Kenapa? Mas, mau bertemu lagi dengannya?""Jangan beri tahu, aku yang ingin bertemu, ok?""Ok." Pria berambut cepak itu mencoba menghubungi, tapi tak seperti yang diharapkan. Nomor itu tak bisa dihubungi. "Kayaknya udah ganti nomor, Mas."Erick menghela napas. Ia menyentuh bibirnya. "Bagaimana dulu kamu mendapatkan nomornya?""Oh, aku memberikan nomorku di kolom komentar novelnya. Coba aku tanya lagi." Dani kembali menyalakan ponselnya. Ia membuka aplikasi novel tempat Kae menulis, tapi kembali ia kecewa. "Oh, s
"Eh, Saya Rika. Saya Manager Marketing di sini." Rika menyodorkan tangan pada Erick ketika para senior telah keluar ruangan. Matanya berbinar gembira saat bisa dekat dengan pria bule itu. Bukan apa-apa. Pria itu adalah aktor favoritnya. Erick menyambut tangan wanita cantik itu. "Halo, Rika.""Saya juga penggemar film-film Anda.""Oya? Terima kasih.""Sama-sama. Oya, aku akan ditemani stafku Kae untuk membantu Anda mengenal produk-produk kami.""Kak Kae, ayo cepat! Namamu disebut itu sama Manager," sahut Nana mendorong bahu Kae agar bangun dari kursinya. Wanita berjilbab itu mau tak mau bangkit berdiri dan menemui mereka. Kae melangkah dengan enggan dengan wajah sedikit menunduk. Kedua pria itu menunggu sedang Rita terlihat tak sabaran. "Ayo, Kae. Cepat. Jangan buat tamu kita menunggu," ucap Rika dengan gemas. Matanya melotot pada Kae karena jalannya sangat lamban. "Eh, iya." Walau terlihat berusaha cepat tapi juga terlihat dipaksakan. "Oh, ini yang namanya Kae. Namanya unik juga,
Erick kemudian mengambil sapu dan mengganjal pegangan pintu kamar mandi itu dengan pegangan sapu yang diletakkan melintang. Ia menoleh pada managernya. "Dani, tolong usahakan jaga jangan sampai terlepas.""Eh, iya." Walau tak mengerti, pria berambut cepak itu mengiyakan. Ia meletakkan plastik belanja di tangan ke atas meja terdekat. Erick kemudian meraih brosur yang ada di tangan Kae, dan meletakkannya di atas meja. "Ayo ikut aku!""Apa?" Kae yang kebingungan terpaksa ikut karena sang suami menariknya ke arah jendela balkon. Di sana Erick membuka pintu. Menutup jendela dengan gorden dan membawa istrinya keluar. Ia kemudian menutup pintu kaca itu. "Sekarang, katakan apa yang kamu ingin katakan.""Apa?" Kae masih belum mengerti apa maksud perkataan suaminya. "Kenapa kamu kabur dari rumah? Kenapa kamu tidak bilang padaku amnesiamu sudah sembuh? Apa aku sebagai suamimu tak berhak tahu?"Tahulah wanita itu, kenapa suaminya membawanya ke sana. Mereka tidak bertemu ruang privat di mana me
Saat lift terbuka, mereka masuk. Tiba-tiba Erick berkata, "Oh, ada yang ketinggalan." Ia menggerakkan kartunya pada alat pengenal kartu dan menekan nomor basemen paling bawah lalu menarik Kae keluar bersamanya. "Dani, tolong antarkan Mbak Rika, ya?"Kejadiannya begitu cepat sehingga siapa pun tak bisa menolaknya. Bahkan Kae. "Biar Kae aku yang antar," ujar pria bule itu sesaat sebelum pintu lift tertutup. Erick menggandeng sang istri kembali ke apartemennya. "Bang!" Kae menarik tangannya dengan kasar. "Apa sih?" Pria itu menoleh. "Aku mau pulang!"Erick tersenyum lebar. "Aku rindu panggilan itu. Aku rindu suaramu. Aku rindu melihat wajahmu."Wanita itu cemberut dengan pipi merah merona. "Jangan coba merayuku ya!"Kini pria itu berhadapan dengan Kae yang sebenarnya. Galak. "Lho, kenapa? Aku 'kan merayu istri halalku. Lagipula, aku gak bohong. Aku benar-benar merindukanmu.""Sudah, jangan banyak tipuan. Aku mau pulang!""Ini aku mau ambil kunci mobil, masa aku bohong sih?"Kae masih
"Ayo kalau gitu, Bang." Baru saja Kae berbalik arah, pria itu langsung merengkuhnya dari belakang. "Bang ....""Tidak bisakah kita diam sejenak dan mengabaikan perbedaan? Aku rindu padamu." Erick meletakkan dagunya di bahu sang istri dan mendekap bahu Kae dengan erat. "Bang.""Sebenarnya perbedaan itu tidak ada bila kita tutup mata," bujuk pria itu. "Bang ....""Aku mencintaimu juga berharap kau bisa menuntunku. Apa itu saja tidak cukup?"Kae menunduk. Pelukan itu sangat hangat dan teduh. Apalagi deru napas Erick saat berbicara di samping wajahnya begitu memabukkan, tapi ia harus bertahan. Melanjutkan pernikahan ini hanya akan membuat keduanya kecewa. "Bang, untuk apa memaksakan yang tidak mungkin? Abang 'kan tidak mungkin berjalan bila dengan sepatu yang kebesaran atau kesempitan.""Aku akan melepas sepatu itu, dan aku bawa bersamaku.""Sepatu 'kan gunanya untuk diinjak?""Aku takkan tega menginjakmu.""Bang, sepatu itu harus digunakan sesuai fungsinya!"Erick melepas pelukan ketik
"Manusia, 'kan tempatnya salah dan dosa, Mila. Tuhan saja mengampuni, masa kamu tidak bisa?""Walaupun itu fatal dalam agama kita?""Mila, kamu apa tidak ingat cerita tentang anjing yang masuk surga? Atau tentang pela cur yang masuk surga? Atau bahkan cerita tentang keduanya. Tidak ada dosa yang tidak terampuni asal ia benar-benar bertobat. Bertobat dan tidak melakukannya lagi.""Tapi kami punya banyak perbedaan, Bu. Rumit pula kalau ketemu Ayah."Ibu mengambil mangkuk besar dan mulai memindahkan isi panci ke dalam mangkuk porselen dengan sendok besar. "Tidak ada yang tidak mungkin, Mila, kalau Tuhan merestui. Jadi mintalah padaNya."Kae terdiam. Sebentar kemudian ia membantu sang ibu menghangatkan makanan yang lain. Setelah menghidangkannya di atas meja, ia kemudian makan malam bersama keluarga kecil ibunya. ****"Dani, aku minta nomor telepon Kae," pinta Erick dari ponselnya. "Mas, aku mau tanya. Kae itu istrimu, bukan?""Iya.""Apa?""'Kan sudah kujawab iya," sahut pria bule itu
"Eh?" Kae terkejut. "Lho?" Rika melongo, Erick menggandeng stafnya ke arah pintu. Kenapa bukan ia yang mendapat rezeki ini, padahal ia adalah penggemar yang berusaha membela pria bule ini dari mulut pedas Kae. "Ayo!" Dani berdiri di samping Rika, menunggu. Mau tak mau wanita cantik berambut panjang itu mengibaskan rambutnya ke belakang dan berdiri. Ia kemudian mengikuti pria berambut cepak itu mengikuti Erick. Sesampainya di kantor agensi periklanan, mereka bertemu produser yang akan memproduksi iklan itu dan mereka mendapat skrip, juga keterangan tentang syuting iklan itu. Anehnya, Erick selalu memisahkan diri dari Rika dan hanya bersama Kae, dengan alasan menghindari masalah yang akan timbul kemudian. Pria bule itu dan istrinya kadang berbisik-bisik berdua dan mengabaikan keberadaan Dani dan Rika. "Eh, aku sedang mengajarinya. Untuk bicara lebih lembut lagi," kata Erick pada Rika. Ia beralih pada Kae dengan suara sedikit tegas. "Eh, kamu sama atasan jangan sering membantah. Kapa
Sasti berjongkok dengan menahan air mata. Ia mengusap pucuk kepala Gio dengan lembut. "Jadi anak yang baik ya Kak Gio ya? Jadilah pria yang bertanggung jawab.""Awab apa? (Bertanggung jawab apa?)"Sasti memeluknya dengan lembut kemudian melepasnya. Ia tak ingin ada yang tahu air matanya mulai jatuh. Segera ia menunduk. "Assalamualaikum.""Waalaikumsalam."Kae bersandar pada sang suami dengan wajah nelangsa saat melihat Sasti pergi setengah berlari. "Apakah dia akan bekerja dengan kita lagi, Bang?""Mungkin tidak. Tapi apapun alasannya, kita tak bisa memaksa seseorang untuk mau bekerja dengan kita 'kan?" Kata-kata bijak Erick akhirnya bisa membuat Kae melepas Sasti dengan ikhlas. "Semoga dia baik-baik saja ya, Bang." Kae kembali menitikkan air mata. "Mmh."Sedang Sasti yang bergegas pergi, hanya ingin melindungi Gio. 'Mungkin semakin lama aku di sini semakin aku tak bisa berlaku adil, dan aku tidak mau orang lain curiga. Aku juga tidak ingin ayahmu mengenalmu, Gio. Aku tidak ingin ka
Sasti menoleh. Hatinya teriris. Ke manapun ia pergi, ayahnya pasti akan menghantui. Ke manapun. Adakah tempat yang aman baginya untuk bersembunyi? ****"Hah ... Abi waa ...." Erick tengah bercanda dengan sang bayi yang mulai mengoceh. Bayi itu tersenyum lebar. Kulitnya putih sehingga pipinya yang tembam pink merona. Mulutnya juga mengeluarkan air liur sambil bayi itu memasukkan jemari mungilnya ke dalam mulut. "Ih, ini pasti mau tumbuh gigi nih, Sayang. Udah gatal ngorek-ngorek mulutnya terus dari tadi," terang pria bule itu pada Kae yang sibuk mengetik di ponselnya. "Ih, Abang ganggu terus nih!" Wanita itu merengut tapi ia kemudian bersandar manja pada bahu Erick mengintip bayi Abi. Pria bule itu sibuk menarik tangan sang bayi setiap kali bayi Abi memasukkan tangan mungilnya ke dalam mulut. Akibatnya bayi itu kesal dan mengoceh panjang. "Hazbaibasababa. Hazmazazamama." Matanya membesar membuat wajahnya terlihat lucu. Erick dan Kae tertawa terkekeh. Bayi itu ternyata tengah mar
Padahal ada Sasti di sana dan coba memisahkan keduanya. Lily memang suka mengatur saat sedang bermain. "Kakak, gak boleh gitu," ucap pembantu itu dengan merentangkan tangannya di depan Gio. Lily merengut. "Dia boddoh kalau dikasih tau!" Lily berkata sengit. Kebetulan Kae masuk ke dalam dan mendengar semuanya. "Eh, Lily. Sudah berapa kali dibilang ya, gak boleh ngomong gitu sama adekmu. Bagaimana kalau Papa dengar nanti, mmh?!" Suaranya terdengar lebih tegas. Ia memang tidak bisa selembut Erick bila berbicara dengan Lily yang sifatnya keras. Seketika Lily menangis. Ia langsung mendatangi sang ibu dan memeluk pinggangnya. Sasti pun berdiri sambil menggendong Gio. Kae hanya bisa menggeleng melihat kedua anaknya menangis. Ia berjongkok dan melihat wajah Lily yang basah dengan air mata. Kae menghapusnya dengan kedua ibu jari sambil menghela napas. "Lily, bicara kasar itu tidak baik. Nanti kamu tidak punya teman." Ia mulai menasihati dengan suara lembut. Biar bagaimanapun ia harus mend
"Eh tidak.""Katakan saja. Kami mendengarkan.""Eh ... bapaknya Sasti galak," ucap pembantu itu sedikit enggan. "Oh ... apa kamu takut bertemu dengannya?""Bukan, tapi aku takut saat ke sana, aku bertemu ayahnya."Kae tersenyum lebar. "Bukankah itu artinya sama saja?""Eh, iya ya?" Rani menggaruk-garuk dahinya. "Sebenarnya aku takut, saat aku tanya Sasti, ayahnya ikut campur."Erick mengerut dahi. "Kenapa?""Orangnya agak aneh," ucap pembantu itu dengan kepala miring. "Maksudnya?" Pria bermata biru itu penasaran. "Aku tidak bisa mengerti cara berpikirnya. Dia bisa tiba-tiba ikut campur dan marah-marah.""Darah tinggi atau pemabuk?""Pemabuk!""Pantas." Erick berpikir sejenak. "Tapi apa kau mau menanyakannya?""Ya ... sudah. Mudah-mudahan tidak ketemu bapaknya."****Rani berdiri di depan sebuah rumah petak berukuran sedang dengan cat dinding yang mulai terkelupas di sana sini. Dari luar tampak sepi. Ia membuka pagar dari bambu dan mengetuk pintu. Tak lama pintu dibuka oleh pria yan
Lily kemudian ke kamar mandi bersama Sasti. Gio terlihat sudah tak sabar. "Gio, kamu mau juga? Sini Mama bukain bajunya."Bocah laki-laki itu mendatangi Kae, tapi bertepatan dengan itu terdengar tangis bayi dari kamar sebelah. "Biar Gio sama aku saja." Erick menarik Gio ke arahnya. Sang istri terlihat lega. Ia kemudian keluar kamar. ****Sasti mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Ia rajin bekerja terutama mengurus anak-anak. Tidak butuh waktu lama, Lily dan Gio mulai dekat dengannya. Walaupun begitu, Lily tetap menjaga jarak, sama seperti Mukid. Karena terlalu dekat dengan kakeknya, sedikit banyak ia meniru tingkah laku pria paruh baya itu. "Mbak, baju kaosku yang warna pink mana?" Lily mencarinya di dalam lemari. "Mungkin masih belum kering, Kakak," sahut Sasti yang sibuk menemani Gio bermain. "Jadi, aku pakai yang mana?""Pakai yang lain, 'kan banyak. Bagus-bagus lagi." Gadis itu akhirnya berdiri dan mencoba mencarikan. "Ini bagaimana?" Ia memperlihatkan baju yang lain berwarn
Lily mengintip ibunya menyusui sang bayi. Ia terlihat heran. "Kenapa Mama nyussu adek? Kenapa Gio enggak?"Kae tersenyum. "Karena kalau keluarnya dari rahim Mama, itu sudah dikasih Allah plus sussunya," bisiknya. "Oh ...."Bayi Abi sedikit terganggu hingga berhenti menyussu. Ia melirik sang ibu dan Lily, tapi tak lama kembali menyussu. Pipinya mulai tembam dan betah menyusu lama. Di kulitnya yang mirip Kae, ia punya manik mata sedikit kecoklatan. Tangannya mempermainkan kerah baju ibunya, sedang dahinya tampak mulai berkeringat. "Ma, Dedek Abi kok keringetan? Memangnya sussu Mama anget?" bisik Lily penasaran. Kae kembali mengulum senyum. Memang anak kecil seusia Lily keingintahuannya banyak hingga banyak bertanya. Kae tentu saja akan memberikan informasi sebisa mungkin dengan tidak berbohong karena itu ia membekali dirinya dengan pengetahuan. "Bukan sussunya yang anget tapi badan Mama. Jadi dengan sendirinya sussunya jadi anget."Lily mengangguk-angguk dan memperhatikan bayi itu.
Beberapa saat kemudian, Kae dipindah ke ruang perawatan. Ia dipasang infus setelah siuman. Wajahnya terlihat pucat. "Mau dengar yang mana dulu? Berita baik atau buruk?" Erick terlihat bingung mendengar pertanyaan sang dokter. "Maksudnya apa, dok?""Ada satu masalah lagi yang menyebabkan kami sedikit lama memeriksanya.""Iya?" Namun ketika dokter itu masih terdiam dan memberi reaksi untuk memilih, pria bule itu terpaksa memilih. "Bagaimana kalau kabar buruknya dulu.""Istri Anda dalam kondisi lemah. Rahimnya tidak kuat. Hampir saja dia keguguran.""Apa?" Erick melebarkan kedua mata. "Ke ... guguran?" Ia melongo. "Iya, untung saja selamat. Jadi ....""Yang benar, dok?" Erick meraih bahu dokter pria itu dan mengguncang-guncangnya. Terukir senyum di bibir pria bule ini. "Istri Saya hamil ... istri Saya hamil?" "Iya, Pak. Iya. Tapi dia harus bed rest karena kondisi rahimnya yang lemah. Dia tak boleh turun dari tempat tidur untuk waktu yang lama.""Baik, dok, akan aku usahakan."Dokt
"Itu 'kan waktu pertama kali kita bertemu." Erick menggelengkan kepalanya. Rasanya sulit bicara dengan Tarra karena wanita itu bicara berdasarkan situasinya. "Apa menurutmu dia mau tinggal dengan orang asing?" "Aku 'kan ibunya." "Apa dia bicara denganmu semalam?" "Oh, belum saja." Pria bule itu mendengus mendengar jawaban-jawaban dari Tarra. "Begini." Erick mengangkat kedua tangan. "Apa kau pernah bertemu dengan buyutmu?" Wanita cantik itu mengerut kening. "Oh, mereka sudah tidak ada ketika aku lahir." "Kalau misalnya mereka masih hidup, Maukah kamu tinggal dengannya?" "Aku 'kan belum pernah bertemu?" Hidung wanita cantik itu berkerut. Begitulah bicara dengan wanita cantik ini. Butuh usaha keras karena Erick selalu kesulitan bicara, bahkan untuk hal yang mudah karena otaknya tak sampai. Sesuai dengan yang banyak dibicarakan orang, bahwa wanita cantik itu tidak pintar. "Seandainya. Seandainya nih ... kamu punya kesempatan bertemu dengan buyutmu. Maukah kau tinggal
Rumah Tarra sangat mewah. Mirip istana walau hanya gedung dua lantai. Rumah itu dihiasi dengan barang-barang mahal dan bergaya Renaisans. Bahkan langit-langitnya dilukiskan dengan gambar orang-orang jaman itu. Wanita itu membawa mereka ke sebuah ruang makan dengan meja kayu besar berukir. Ada sebuah lukisan buah-buahan di salah satu dinding dengan meja tertata rapi dengan peralatan makan dan lauk. Tarra mempersilakan Erick dan keluarganya untuk duduk. suami-istri itu duduk dengan mengapit kedua anaknya. Seorang pria bule berambut hitam kecoklatan turun lewat anak tangga sambil memegangi pagar besi yang diukir indah. Ia melangkah sambil memperhatikan tamu yang sudah datang. Pandangannya tertuju pada anak perempuan berkerudung yang duduk di samping Erick. Gio yang berkulit sedikit gelap, sulit terlihat dari meja karena kurang tingginya hingga luput dari pandangan. Saat suami Tarra berdiri dekat meja, barulah ia bisa melihat bocah laki-laki itu. Sang pria tersenyum lebar, membuat waja