Seperti Penyiksaan Part 2Ayra segera mengepel lantai, dengan begitu serius, seraya bernyanyi nyanyi, berusaha menikmati pekerjaan barunya sebagai seorang istri, menantu juga kakak ipar. Dia tidak tahu apa yang dia kerjakan benar atau tidak, hanya berbekal buku panduan, dia berasumsi semua ini harus dia kerjakan.Mengepel buka hal berat, itu mudah, namun lelahnya tidak bisa dianggap biasa. Dia mengepel lantai bawah, lalu setelah selesai segera berganti ke lantai atas, sungguh rumah ini begitu luas dan banyak ruang yang harus selalu dibersihkan. Ayra juga membersihkan debu di perabot rumah, mengelapnya dengan pelan, lembut bahkan terasa penuh kasih.Setelah satu jam, pekerjaannya selesai. Ayra menghela nafas panjang, dia tersenyum melihat semua hasil kerjanya, lumayan bersih, rapi dan tercium aroma wangi dari sabun pel rasa sereh yang digunakan.Ayra membereskan semua perlengkapan pelnya, dia harus bergegas menyiapkan meja makan, lalu membantu Loly mandi.Ayra segera membawa makanan
Hari PertamaDari pintu depan terlihat Rose masuk ke dalam rumah, berteriak memanggil nama Loly, lalu menghampirinya dan memeluknya manja.“Adek cantik, cantikku,” ucap Rose seraya memeluk Loly."Kakak," ucap Loly ketika mendapat pelukan dari Rose."Loly wangi sekali," ucap Rose."Iya, kakak baru mengurus Loly dengan baik," ucap Loly sumringah."Kakak, kamu hebat juga, kamu bisa mengambil hati Loly dengan cepat," ucap Rose seraya tersenyum.Mata Rose melihat ke arah sudut ruang, ada koper Ayra masih tergeletak di sana."Kamu belum masuk ke dalam kamar?" tanya Rose heran."Oh itu, iya, aku bingung harus masuk ke kamar yang mana, kamu tidak memberitahuku," ucap Ayra seraya tersenyum."Ya Tuhan, aku lupa. Maafkan aku, seharusnya aku menyuruhmu istirahat dulu, aku malah memberimu jadwal pekerjaan," ucap Rose seolah menyalahkan dirinya sendiri."Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kamar kakakku," ucap Rose.Rose dan Ayra berjalan menuju ke kamar Ardian yang terletak di lantai atas."Ini kamar
Kamar PengantinAyra terlihat membantu Ardian makan, mengambilkan beberapa lauk. Ardian memakan apa yang Ayra berikan, dia memang menyukai telur gulung, itu membuatnya ingat dengan masa kecilnya."Ibu, apa ibu tidak berencana mencari asisten rumah tangga?" tanya Ayra. Mendengar hal itu tiba tiba nyonya Sisca terbatuk. Nyonya Sisca meraih segelas air putih lalu meminumnya."Ayra, kamu tahu bukan, ibu sudah berusaha mencari asisten rumah tangga, mereka tidak pernah betah tinggal di rumah ini, mereka selalu saja membuat kesalahan dan masalah, ibu bisa gila," ucap nyonya Sisca. "Apa kamu terlalu kelelahan di hari pertama sebagai menantu di rumah ini?" tanya nyonya Sisca menelisik."Bu-bukan begitu ibu, jika ada asisten rumah tangga, semua pekerjaan akan lebih maksimal, Ayra bisa mengawasinya juga membantu sebisa mungkin," ucap Ayra."Jadi begitu, baiklah, ibu akan mencari asisten rumah tangga, aku harap rumah ini lebih bersih dan meja makan lebih beragam dari sebelum sebelumnya," ucap ny
Kamar Pengantin Part 2Malam kedua seperti malam pertama. Suaminya belum menyentuhnya sedikitpun.Ayra tidak melihat keberadaan Ardian, terdengar suara guyuran air dari dalam kamar mandi, sepertinya Ardian sedang ada di dalam kamar mandi. Ayra duduk di meja rias, membersihkan wajahnya dari riasan, lalu mengganti bajunya dengan baju tidur yang nyaman. Ardian keluar dari kamar mandi, dia melihat ke arah Ayra, beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya, Ayra semakin berdebar, ini adalah pertama kalinya dia akan tidur dengan seseorang, seorang pria yang adalah suaminya.Ardian terlihat hanya memakai handuk, menutupi bagian bawah tubuhnya, lalu mengambil baju tidur dan menggantinya tepat di hadapan Ayra. Melihat hal itu Ayra memejamkan mata, ada rasa malu, dia belum pernah melihat pria telanjang, walaupun sekarang dia adalah seorang istri.Ayra terlihat menutup matanya, namun juga mengintip tipis, dia melihat Ardian merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.Ayra bergegas masuk ke kamar
Semua Masih SamaAyra kembali ke dalam rumah, dan bergegas untuk mandi, lalu membangunkan Loly untuk bersiap ke sekolah. Hari ini dia sudah menyelesaikan kegiatan paginya, namun terlalu dini untuk berleha leha, dia masih harus mengurus Loly hingga berangkat sekolah, menyiapkan baju untuk dibawa petugas binatu, juga membereskan kamar kamar yang telah ditinggalkan penghuninya. Padahal di dalam hatinya, dia begitu ingin membicarakan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pernikahan dipercepat, apa alasan di dalamnya, menanyakan semua hal yang mengganjal di pikirannya. Ayra seperti tidak memiliki kesempatan, dia tenggelam di dalam tugas rumah yang membuatnya lebih sibuk dari pekerjaannya sebelumnya di rumah sakit. ***Nyonya Sisca terlihat menikmati makanannya, dia sungguh telah jatuh hati dengan masakan Ayra. Semua makanan itu terasa nikmat di lidah, membuatnya tidak berhenti mengunyah."Ayra, kamu benar benar jago memasak, bagaimana kamu bisa membuat nasi goreng menjadi seenak
Cinta LamaArsen adalah anak dari pengusaha ternama di kota kelahiran Ayra, Yogyakarta. Pemilik hotel juga beberapa properti mewah. Arsen lebih memilih menjadi dokter ketimbang meneruskan bisnis keluarga.Rumornya dulu dia mengambil jurusan kedokteran demi bisa satu fakultas dengan Ayra, di sebuah universitas ternama di Jakarta, namun setelah lulus S1 kedokteran, dia meneruskan S2nya di Amerika.Arsen memiliki rumah sakit sendiri, dibantu pamannya yang merupakan pengusaha ternama di Jakarta. Arsen begitu menyukai Ayra, namun tidak pernah berani mengungkapkannya karena khawatir Ayra akan menjauhinya. Arsen berusaha menjaga persahabatan mereka. Namun ketika di Amerika, Arsen kehilangan nomor ponsel Ayra, itu semua terjadi karena Arsen mengalami insiden perampokan sewaktu di bandara.Saat itu Arsen ingin menghubungi Ayra, mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di Amerika, naas, perampok mengambil ponsel juga ipadnya. "Kamu sudah menikah, apa aku harus patah hati?" bisik Arsen pada diri
Cinta Lama Part 2Ayra memasukkan semua belanjaannya ke dalam mobil, cukup banyak, ada sekitar delapan kantong.Dari jauh terlihat Arsen menaiki mobil mewahnya, melintas tepat di sebelah Ayra berdiri, di depan lobby mall."Jodoh, benarkah?" bisik Arsen dalam hati seraya melihat ke arah Ayra.Arsen terlihat mengulaskan senyum, dia begitu bahagia bisa bertemu dengan Ayra, berbincang hangat, walaupun hatinya sedikit kecewa setelah mengetahui kenyataan bahwa Ayra sudah menikah dengan pria lain.***Ayra sampai di rumah, dia mengeluarkan semua barang belanjaan dari mobil, di bantu oleh dua satpam."Wah, nyonya belanja banyak sekali, harusnya nyonya memiliki mobil sendiri untuk kegiatan harian nyonya," ucap satpam pak Mahi."Ah tidak perlu pak, saya hanya pergi sesekali," ucap Ayra seraya tersenyum."Sepertinya rumah ini akan penuh dengan aroma makanan, nyonya benar benar pandai memasak," ucap satpam Mahmud."Saya bahkan belum pernah makan makanan seenak itu nyonya. Nasi goreng yang tadi pa
Kenyataan PahitAyra menyiapkan soto daging ke dalam wadah besar, soto yang dia buat sendiri untuk ayah mertuanya. DIa benar benar berusaha keras untuk bias menyajikan makanan yang terbaik."Aromanya enak sekali," gumam Ayra."Kakak, kakak membuat apa?" tanya Rose yang tiba tiba masuk ke dalam dapur."Soto, kamu suka?" tanya Ayra."Ini makanan kesukaan ayah, aku tidak suka," ucap Rose."Iya, kamu tidak menyukainya ya," ucap Ayra."Aku tidak terlalu suka makan berlemak," ucap Rose."Aku menyiapkan sup udang juga, mungkin kamu akan menyukainya," ucap Ayra."Wah, iya, aku akan memakannya, aku sangat suka seafood" ucap Rose yang kemudian menjatuhkan kecupan di pipi Ayra.Ayra melihat Rose, sungguh ada perasaan sejuk. Dia seperti memiliki seorang adik.“Rose, sebenarnya kakak ingin menanyakan sesuatu,” ucap Ayra.“Ah, besok saja, aku akan ke kamarku dulu,” ucap Ayra yang segera berlari ke lantai atas, menuju ke arah kamarnya.Ayra menghela nafas, mungkin memang mereka masih sangat sibuk.R
Masa Masa Sulit “Bu Ayra adalah orang yang kuat,” ucap sekretaris Edo."Ya, dia memang wanita yang kuat," ucap Arsen.“Baiklah pak, saya pulang dulu,” ucap sekretaris Edo.“Baiklah, maaf mengganggu waktu liburmu,” ucap Arsen.“Tidak apa apa pak, hubungi saya jika ada yang bapak perlukan,” ucap sekretaris Edo.“Baiklah, terima kasih,” ucap Arsen. Sekretaris Edo bergegas pergi, Arsen membawa beberapa paper bag bingkisan itu ke kamar di mana Ayra berada.“Ayra, aku membawakan semua kebutuhanmu, jika ada yang kurang sampaikan saja,” ucap Arsen pada Ayra yang terlihat mengamati pemandangan diluar jendela kamarnya. Arsen meletakkan semua bingkisan itu di lantai.“I-iya,” ucap Ayra singkat. Arsen tahu, segala hal yang menimpa Ayra tidak bisa semudah itu diterima, dia masih terguncang dan Arsen berusaha memberi Ayra ruang. "Aku ada di luar, jika kamu
Setelah peristiwa itu Pagi hari, Ayra tersadar, dia mendapati tubuhnya sudah berganti pakaian dengan pakaian hangat, tertutup selimut tebal, tangannya juga terpasang selang yang terhubung dengan cairan infus. Dia berada di sebuah kamar yang nyaman. Kepalanya terasa sakit, ada perban menempel di sana, mungkin itu adalah luka yang dihasilkan dari pertengkaran sengit tadi malam. Ayra yang masih begitu lemah hanya bisa menghela nafas lega, bersyukur Tuhan memberinya hidup kedua walaupun belum bisa membedakan ini semua hanya mimpi atau kenyataan. Samar samar dia melihat sosok yang sudah tidak asing lagi, dia adalah Arsen, iya Arsen. teman Ayra sewaktu masih duduk di bangku kuliah, yang selalu menjadi sahabat baiknya, hingga saat ini. Arsen duduk di kursi yang ada di kamar itu, tertidur, terlihat sangat kelelahan. Arsen yang menyelamatkannya, memberikan hidup kedua bagin
Misi Penyelamatan Di dalam mobil, suasana tegang benar benar terasa.“Kemana kita harus membawanya?” Tanya Ardian.“Kita buang saja, kita hanyutkan di sungai,” ucap Isabela memberi ide.“Apa?” Tanya Ardian tidak percaya.“Tidak, di jembatan akan sangat ramai sekali, kita tidak bisa membuangnya di kota,” ucap Ardian“Apa kamu yakin dia sudah mati?” tanya Ardian.“Dia masih hidup, nafasnya tipis. Kamu tidak melihat darah yang keluar dari kepalanya? Aku yakin dia tidak akan bertahan,” ucap Isabela.“Apa yang kita lakukan, kita sudah menjadi pemb-unuh,” ucap Ardian gugup dan juga takut. Isabela menggenggam tangan suaminya, berusaha memberi kekuatan.“Ini yang terbaik, kita harus menyingkirkannya, tidak ada pilihan lain,” ucap Isabela.“Pikirkan anak kita, apa kamu yakin rela menukar hidupmu yang penuh dengan kemewahan dengan hidup di penjara?” Tanya Isabela.
Medan Perang Ardian membawa Ayra ke apartemennya, penthouse mewah yang bahkan memiliki lift sendiri. Ayra hanya diam, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Dia bahkan belum percaya bahwa dirinya akan mengalami hal semacam ini, bertemu dengan selingkuhan suaminya. Mereka sampai di depan pintu apartemen, Ardian membuka pintu itu.Di dalam apartemen sudah ada Isabela, duduk dengan santainya di sofa yang ada di sana.Hati Ayra bergetar hebat.“Wanita itu,” gumam Ayra. Ayra menatap wanita itu dalam dalam, bahkan matanya nyaris keluar. Isabela mengulaskan senyum, seolah sengaja melakukan itu. Dia berdiri, lalu mendekat kearah Ayra.“Apa kamu kaget?” Tanya Isabela, berusaha terlihat tenang.“Kamu?” Tanya Ayra.“Isabela?” tebak Ayra. Ardian mengerutkan dahi, dia bahkan tidak menyangka jika Ayra mengenal Isabela.“Ya, orang yang selalu kalah dari
Peristiwa Mengerikan Mulai TerjadiPart 2 Mobil Ardian masuk ke dalam lingkungan apartemen.“Itu mobil mas Ardian, ya, itu mobilnya,” ucap Ayra yakin.Ayra segera berlari mengikuti mobil itu hingga ke area parkir bawah tanah dan berhenti. Dengan nafas tersengal sengal, Ayra berhenti tepat di depan mobil Ardian.“Ar-Ardian,” ucap Isabela gugup.“Ada apa?” Tanya Ardian yang belum menyadari kehadiran Ayra.“Di-dia,” ucap Isabela seraya menunjuk ke arah Ayra berdiri. Ardian melihat kearah itu, dia kaget, ada istrinya di sana.“A-Ayra,” ucap Ardian.“Isabela, sebaiknya kamu bawa Amora naik, aku akan menemuinya,” pinta Ardian.“I-iya,” ucap Isabela yang segera keluar dari mobil, berusaha menyembunyikan wajahnya dan masuk ke dalam area apartemen. Ayra melihat wanita itu, dengan perasaan campur aduk yang luar biasa. Ayra berusaha menstabilka
Peristiwa Mengerikan Mulai Terjadi Ayra menginjakkan kaki di apartemen itu, apartemen mewah yang harganya pun tidak biasa. Ayra memegang dadanya, menguatkan hati juga pikirannya. Jantung itu berdegup dengan kencang, seperti genderang perang, dia bahkan kesulitan untuk menstabilkan deru jantungnya.“Kamu harus kuat Ayra, apapun yang akan kamu dapatkan di tempat ini,” ucap Ayra. Dengan yakin dia memasuki apartemen itu, mendekat ke arah resepsionis sebagai jalan pintas dari pada harus mencari cari tidak jelas.“Se-selamat siang,” sapa Ayra.“Selamat siang ibu, ada yang bisa saya bantu?” Tanya resepsionis yang terdengar begitu ramah.“Ma-maaf saya mau Tanya, apa benar bapak Ardian Herlambang tinggal di salah satu unit penthouse?” Tanya Ayra. Mendengar hal itu, petugas resepsionis bernama Naira itu mengerutkan dahi. Ayra menangkap sinyal keragu raguan.“Oh, maaf, saya hanya mau mengantarkan pesanan kado,
Curiga yang mengakar Arsen sampai di rumah tante Farida, dia terlihat duduk di ruang tengah dengan perasaan kesal tergambar jelas di wajahnya."Arsen sayang, kamu sudah datang," sapa nyonya Farida."Iya tante, ini Arsen bawakan cake coklat dari JIM Mall," ucap Arsen seraya menunjukkan cake coklat yang dibawanya."Terimakasih Arsen, itu cake kesukaan tante," ucap nyonys Farida sumringah. Tante Farida melihat ke arah Arsen, sepertinya ada yang aneh, wajah Arsen mengisyaratkan kekesalan juga kesedihan."Arsen, ada apa? Apa ada masalah di kantor?” Tanya tante Farida.“Apa kamu ingin kembali menjadi dokter? Apa menjadi presdir rumah sakit dan hotel sangat melelahkan?” Tanya nyonya Farida menelisik.“Tapi, di hotel, banyak yang membantumu, kamu hanya menjadi presdir, semua staff adalah professional,” gumam nyonya Farida.“Tante,” ucap Arsen.“Jangan mengkhawatirkan Arsen, Arsen
Mirip Pembantu Pagi harinya, tepat pukul sepuluh pagi, Ayra sudah berada di supermarket untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, kali ini dia berusaha dengan cepat supaya dia masih memiliki waktu untuk mengunjungi pusat kecantikan, itu yang direncanakan."Aku harus cepat, aku sudah melakukan ini selama bertahun tahun, aku bisa melakukannya walau dengan mata tertutup," ucap Ayra yakin. Dengan cekatan, Ayra mengambil seluruh barang yang akan dibeli, barang kebutuhan rumah tangga, seperti bahan makanan juga kebutuhan lain yang seluruh anggota keluarga butuhkan. "Semua sudah beres, bahan makanan, perlengkapan kebersihan, aneka makanan ringan, aneka minuman, minyak goreng, hmmm sudah semuanya," gumam Ayra. Lalu dia bergegas mendorong troli ke arah kasir. Dari jauh Arsen terlihat mengamati Ayra, hal ini sudah Arsen lakukan sejak lama. Dia tahu jadwal Ayra, kapan dia akan mengunjungi supermarket. Arsen bahkan ta
Berusaha Menahan Sesak Ayra sibuk menyiapkan makan malam di dapur, dia masih menjalankan semua kewajibannya, berusaha tidak mengingat hal buruk yang baru saja menimpanya. Ayra menyentuh pipinya, rasa nyeri, panas dan perih mungkin sudah memudar, tidak lagi dia rasakan, namun luka di dalam hatinya sungguh itu tidak lagi menemukan obat yang tepat. "A-Ayra," ucap nyonya Sisca lirih. Nyonya Ayra terlihat mendekat kearah Ayra berdiri."I-ibu, ibu perlu apa? apa ibu mau air dingin? Ayra akan mengambilkannya," ucap Ayra, selalu dengan sikap sigapnya dalam memberikan pelayanan pada semua orang."Ti-tidak, ibu tidak butuh apa apa, ibu hanya ingin minta maaf karena ibu sudah sangat keterlaluan, mungkin karena sebelumnya ibu sudah sangat emosi dengan masalah ibu sendiri, ibu benar benar minta maaf, ibu tidak seharusnya mengatakan hal buruk seperti itu," ucap nyonya Sisca seraya menggenggam tangan Ayra.“Ibu benar ben