“Mari kita menikah,” ucap Alex menawarkan diri kepada Aurora yang ternyata sudah sadarkan diri.
“Apa kau sudah memutuskan untuk menikah dengan ku? Kau yakin akan menikahi ku?” tanya Aurora, dengan dengan gelagapan ia masih tidak percaya.
Alex hanya tersenyum tidak mengeluarkan satu kata pun, dengan senang hati Aurora memeluk tubuh Alex yang masih berada di samping tersebut.
“Terima kasih, Aku berjanji akan menjadi istri yang baik lalu merawatmu dengan baik,” ucap Aurora yang terlihat sangat bahagia.
Satu bulan telah berlalu, Alex menikahi wanita tersebut yang bernama Aurora Violetta Zucca, putri sulung dari grup Zucca, yang bernama Alano Zucca. Sekarang ia masih tidak mengerti keluarga seperti apa yang ia dapatkan sekarang.
“Kenapa Tuan besar mau menikahkan tuan muda tampan itu kepada nona Aurora. Bukankah dia lebih cocok menikah dengan nona muda Gabriell, yang lebih pintar dan menggoda?” ucap pelayan rumah tersebut.
“Iya kau benar, nona Aurora dan juga nona Gabriell sangat jauh berbeda,” ucap yang lainnya.
Alex sangat kaget ternyata semua orang dikeluarga Zucca, sama sekali tidak menyukai istrinya hanya karena ia seorang kekanak-kanakan. Meskipun keluarga Zucca keluarga yang kaya, dan juga terpandan. Tetapi mereka sangat membenci Aurora, karena mereka anggap sebagai aib keluarga besar Zucca.
“Istri kecil ku kasihan sekali! Ternyata kau sungguh tersiksa tinggal di rumah ini!” ucap Alex.
“Tapi kau sama sekali tidak melawan ataupun dendam pada mereka semua,” guman Alex lalu pergi meninggalkan para pelayan tersebut.
Setelah pergi, Alex melihat Aurora yang sibuk memasak di dapur dan membantu untuk menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang. Alex melihat istrinya bekerja dengan baik dan melayaninya sepenuh hati. Alex berpikir kenapa semua orang membencinya, padahal ia tidak membuat masalah sama sekali.
“Sayang ini sarapan untuk mu,” menyiapkan sarapan untuk Alex di meja makan.
“Terima kasih.” Ucapnya dengan singkat.
Gabriell terus memandang Alex, tanpa henti di meja makan. Alex yang merasa ada yang menatapnya pun hanya pura-pura tidak tau dan mengambaikan Gabriell.
Tidak hanya menatap tangan Gabriell juga memegang tangan Alex, di balik meja makan tersebut. Sontak saja Alex kaget dan menarik tangannya.
‘Alex aku akan terus menggodamu! Kenapa kau mau menikahi wanita kekanak-kanakan seperti Aurora!’ batin Gabriell yang kesal.
“Apa kau ingin nambah?” tanya Aurora dengan nada bicara yang manja dan sedikit gelagapan.
“Tidak ini sudah cukup! Terima kasih.” Ucap Alex dengan lembut.
Aurora tau jika Gabriell menyukai suaminya, namun melihat cara Alex memandang Gabriel yang biasa saja ia tidak takut jika Alex menyukai sang adik.
Setelah selesai sarapan pagi mereka pergi dan melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya, Aurora yang selalu dimarahi oleh Gabriel karena ia tidak bisa melakukan apa-apa.
“Aurora kapan kau bisa diandalkan? Kau hanya menjadi benalu dikeluarga kita!” teriak Gabriell dengan lantang.
“Aku tidak bisa melakukan apapun Gabriell? Kau tau aku hanya wanita bodoh di rumah ini,” jawab Aurora dengan gelagapan.
Melihat suara ribut-ribut semua orang mendekati sumber tersebut dan menemukan Gabriell dan juga Aurora yang bertengkar, mereka selalu melakukan itu setiap hari.
Gabriel memang tidak suka dengan Aurora terlebih lagi ketika ia menikah dengan Alex, seorang laki-laki yang menurutnya tidak pantas menjadi milik sang kakak melainkan dirinya.
“Ada apa lagi kalian berdua?” tanya Alano, Papa kandung mereka.
“Lihat ini Pa, nona bodoh keluarga Zucca yang tidak bisa melakukan apa-apa setidaknya belajar untuk mengembangkan bisnis bukan malas-malasan,” ucap Gabriel yang menunjuk Aurora.
Alano tidak tau harus berbuat apa untuk kedua putrinya tersebut, yang selalu bertengkar setiap hari. Bahkan, tidak pernah berdamai walaupun hanya sekali. Sementara, sang ibu hanya membela Gabriell tanpa tau siapa yang salah dan juga yang benar.
“Sudah jangan bertengkar lagi! Papa pusing tiap hari melihat kalian berdua bertengkar!” ucap Alano yang sudah kehabisan akal untuk mereka berdua.
“Kenapa papa marahin Gabriell, yang salah itu Aurora yang selalu membuat masalah di rumah kita, sudah bodoh ditambah kekanak-kanakan lagi apa yang bisa di harapkan dari dia!” teriak Victoria kepada suaminya, Alano Zucca.
Plak!
Satu tamparan mendarat dipipi Aurora yang cantik dan imut itu, Alex kaget dengan apa yang dilakukan oleh ibu mertuanya tersebut. Sementara, yang lain tidak ada yang menolong atau membela Aurora yang ditampar Victoria.
“Itu hukuman untuk mu, aku sungguh muak melihat mu di rumah in! tutur Victoria.
“Ayo sayang kita pergi,” menarik tangan Gaberiall lalu pergi meninggalkan mereka.
Semua orang pergi meninggalkan Aurora yang masih berdiri sendirian disana, Alex menatap Aurora yang terlihat sangat sedih karena perlakuan keluarganya. Meskipun terkadang ia kesal dengan sikap kekanak-kanakannya, namun tetap saja ia tidak pantas mendapatkan perlakuan tersebut.
‘Dia terlihat sangat sedih!’ batin Alex masih menatap istrinya tersebut.
“Ayo kuat Aurora, kamu pasti bisa!” ucapnya pada diri sendiri.
Alex kembali kekamar mereka berdua yang ternyata Aurora juga sudah ada di sana, dengan mata memandang ke arah luar jendela yang terlihat sangat sedih.
Alex mengingat kejadian satu bulan yang lalu, bahwa wanita yang ada di depanya sekarang inilah yang sudah menyelematkan hidupnya. Jika tidak ada dia, Alex tidak tau apa yang terjadi padanya di hari itu.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Alex yang tiba-tiba sudah berada di samping Aurora.
“Sayang,” memeluk Alex dengan erat dan juga manja.
Hiks! Hiks! Hiks!
Aurora menangis di pelukan sang suaminya tersebut, dengan puas untuk melampiaskan emosinya dan juga kesedihanya. Alex kaget tetapi ia tetap membiarkan istrinya itu untuk meluapkan emosinya dan jadi tempat berkeluh kesah.
“Menangislah sepuasmu, aku tidak mendengar apa-apa.” Ucap Alex yang mengelus-elus kepala istrinya.
“Menangislah Aurora, menangislah,” ucap Alex.
Ia masih menangis di pelukan Alex, sementara Alex hanya mendengarkan semua suara tangisannya lalu menepuk-nepuk pundak Aurora. Agar ia tetap tenang dan tidak terlalu bersedih lagi.
“Sayang apa kau juga membenciku?” tanya Aurora di sela-sela tangisannya dengan gelagapan.
“Apa maksudmu? Sudahlah jangan di dengarkan ucapan mereka,” ucap Alex menenangkan Aurora.
Aurora menangis di pelukan Alex tidak berhenti-henti, sampai ia kelelahan dan tertidur di pelukan sang suaminya, Alex menggendong Aurora lalu membaringkan tubuh istrinya secara perlahan-lahan di ranjang dan menyelimutinya.
“Aku tau semua orang di rumah sangat membencimu,” ucap Alex, lalu menyelimuti tubuh Aurora.
Seperti biasa Alex pergi ke perusahaan milik keluarga Zucca selama ia menikah dengan Aurora, Alano meminta ia untuk bekerja di kantor membantunya karena menurut Alano menantunya itu pintar dan bisa di andalkan.
“Bukankah itu Alex yang akan berangkat ke kantor? Aku harus mengambil kesempatan ini.” Ucap Gabriell yang pergi menuju ke arah Alex.
“Alex! Bolehkah aku ikut pergi kekantor bersama mu,” ucap Gabriell yang penuh dengan semangat.
“Alex! Bolehkah aku ikut pergi ke kantor bersama mu,” ucap Gabriell, penuh dengan semangat.“Mobilmu, bukankah kau punya mobil sendiri?” tanya Alex.“Lagi di bengkel,” jawab Gabriell dengan santai.Melihat Alex yang ingin pergi ke kantor, Gabriel mengambil kesempatan untuk pergi bersama dengan kakak iparnya tersebut dengan alasan tidak membawa mobil, Alex menerima tawarannya dan mereka pergi bersama.“Terima kasih sudah mau pergi bersama,” ucap Gabriell.“Iya, kita satu kantor juga!” jawabnya ketus.Selama diperjalanan Alex hanya diam dan tidak bicara satu katapun kepada adik iparnya tersebut, dia hanya fokus menyetir.Sementara, Gabriell yang merasa sangat bahagia dan juga tidak ingin menyia-yiakan kesempatan. Ia terus mempercantik dirinya dengan memakai lipstik kembali agar Alex tergoda oleh dirinya.“Alex menurut mu lipstik mana yang cantik,” menunjukan dua lipstik ke pada Alex.Alex merasa terganggu namun, dia juga tidak mungkin mengabaikan Gabriell akhirnya Alex pun menjawab. “Se
“Maaf aku tidak sengaja menabrak seseorang, untung saja tidak apa-apa,” ucap Aurora.“Kenapa bisa menabrak mereka?” tanya Alex kepada istrinya.Aurora hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut. Tetapi Alex yang menggambil kotak P3K berhenti melangkahkan kakinya ketika tidak ada jawaban dari sang istrinya.Setelah menggambil kotak tersebut, Alex pergi kearah Aurora yang duduk di sofa. Tatapan tajam A;ex seakan-akan ingin menelan Aurora hidup-hidup, Aurora yang takut dengan tatapan tersebut langsung menundukan kepala tidak berani menatap Alex.“Kenapa diam, aku bertanya padamu?!” tanya Alex dengan nada sedikit marah.“Aku… mengantuk,” jawab Aurora berbohong.Mendengar jawaban itu, Alex hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak tau harus berkata apa lagi. Alex membuka kota obat tersebut, lalu mengambil kapas dan menggoleskan betadin di kapas.“Jika kau mengantuk kenapa pergi ke kantor, kau bisa istirahat di rumah,” ucap Alex, menggoleskan obat di dahi Aurora yang
"Tema apa yang akan diambil kali ini?” tanya Genaro, kepada Florenza yang massih fokus dengan komputernya.“Aku tidak tau, lebih baik kau tanyakan saja kepada tim desain sendiri. Aku masih sibuk dengan pekerjaan, di tambah gagalnya kita mendapatkan investor tersebut!” jawab Florenza, dengan sedikit ketus.Genaro hanya bisa menarik napas panjang mendengar jawaban dari sang kekasihnya itu, lalu ia pergi dari ruangannya dan menuju ke ruangan tim desain.Saat berjalan menuju ke ruangan tim desain, tiba-tiba Genaro merasa bahwa ia pernah melihat wanita Aurora. Namun, ia lupa kalau pernah melihat Aurora dimana.“Apa perasaan ku saja ya, tapi aku merasa pernah melihatnya. Tetapi dimana ya?” tanya Genaro kepada dirinya sendiri, lalu melajutkan tujuannya keluar dari ruangannya tersebut.“Tunggu… bukankah wanita itu mirip sekali dengan… tapi tidak mungkin,” ucap Genaro yang bingung dengan dirinya sendiri.Genaro masuk kedalam ruang desain Romano Grup, ia melihat direktur desain yang masih sibuk
“Tidak ada hal yang harus aku jawab,” ucap Aurora, lalu pergi meninggalkan Alex yang masih berada di toilet tersebut.Alex berjalan menggikuti Aurora dari belakang, ia ingin melihat kemana istrinya tersebut akan pergi. Kali ini Alex juga ingin tau apa rencana Gabriell untuk mencelakai Aurora.“Dia sangat keras kepala, aku sungguh tidak bisa melakukan apa-apa,” ucap Alex yang masih kesal dengan tingkah Aurora.Gabriell melihat Aurora dan Alex yang terlihat berjalan beriringan, dia yang sangat penasaran akhirnya mengikuti mereka berdua. Tidak sampai di sana, Gabriell juga melihat raut wajah sanga kakak yang terlihat sangat sedih, membuat dia sangat bahagia.Menurut Gabriell kebahagiannya adalah melihat sang kakak yang menderita dan dibenci oleh orang di sekitarnya. Ditambah sang Nenek dan juga seluruh keluarga besar Zucca tidak menyukainya.“Ini baru permulaan Aurora, kau tunggu saja hal menarik dan kejutan untukmu akan segera tiba!” ucap Gabriell yang masih memandang Aurora dan juga A
“Ada apa, apa yang kau temukan?” tanya Leon penasaran, lalu mendekati Renzo.“Oh Tuhan… apa ini nyata?” ucap Leon, masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.Mereka bertiga masih menggali informasi tentang sniper tersebut, ternyata selama ini sniper tersebut yang belum berhasil ditundukan oleh Genaro. Achilleo Cammaro, seorang laki-laki keturunan Afganistan. Ia adalah seorang tentara angkatan udara, yang difitnah lalu pergi dari Afganistan, dan menjadi anak buah Alex pada beberapa tahun yang lalu.“Renzo, coba lihat dengan teliti lagi. Mungkin kita bisa menemukan tempat tinggalnya sekarang,” ucap Roman.“Informasinya sudah tidak ada lagi, tidak mungkin kita akan menemukannya dengan mudah. Kau tau pekerjaannya itu berurusan dengan nyawa,” jawab Leon.“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Renzo.Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk meretas data pribadi Achilleo Cammaro lebih dalam lagi, setelah selesai mereka menemukan petunjuk tentang Achilleo.Achilleo adalah
“Di mana Alex, kenapa dia belum pulang sampai sekarang,” Aurora yang masih menunggu Alex yang belum pulang.“Apa dia pergi bersama dengan Gabriell, dia juga belum pulang,” ucap Aurora, yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya.Aurora yang masih terus menunggu kedatangan suaminya, tiba-tiba ibu tirinya datang menghampiri, ia tau bahwa anak tirinya tersebut menunggu kepulangan sang menantu.Dengan sedikit tersenyum ia berkata, “Untuk apa kau menunggu suamimu pulang, dia belum pulang sekarang karena pergi bersama Gabriell,” ucap Victoria.Aurora yang dari tadi mondar mandir tiba-tiba berhenti dan menatap tajam sang mama, “Apa yang mama katakan,” tanya Gabriell dengan gelagapan.“Apa kau tuli, mereka berdua pergi bersama,” ucapnya sekali lagi.“Kemana, kanapa aku tidak tau,” tanyanya kembali.Victoria tidak menjawab pertanyaan Aurora, ia langsung masuk kedalam rumah dan meninggalkan Aurora sendirian kembali.‘Kemana dia pergi, apa benar yang diucapkan oleh Mama, kenapa Alex tidak memberitah
Tok! Tok!“Mungkin itu Alex dan Gabriel sudah pulang Ma,” ucap Aurora, lalu pergi menuju kepintu masuk untuk membukanya.Mereka berdua pergi menuju ke arah ketukan pintu tersebut, Aurora berharap yang pulang tersebut Alex meskipun ia harus kecewa karena akan melihat Gabriel yang pulang bersama suaminya.Klek!Benar apa yang ia pikirkan ternyata Alex pulang bersama Gabriel, mereka berdua sama-sama mabuk. Supir pribadi Papanya yang mengantarkan mereka berdua pulang, karena tidak memungkinkan untuk mereka berdua menyetir mobil sendiri.“Nyonya, Nona. Nona muda dan Tuan muda mabuk dia masih ada di dalam mobil,” ucap sang supir tersebut, karena ia membawa Gabriel terlebih dahulu untuk keluar mobil.“Baiklah, terima kasih sudah mengantarkannya pulang dengan selamat,” ucap Aurora, dengan suara gelagapan dan dengan nada yang ditekan menahan air mata.Victoria membawa putrinya masuk kedalam bersama dengan sang supir tersebut, sementara Aurora mengangkat Alex yang terlihat masih tak sadarkan d
“Gabriel sangat ceroboh sekali, seharusnya yang mabuk cukup Alex tapi kenapa dia juga mabuk!” gerutu Victoria yang sedikit kesal dengan Gabriel.Victoria menarik nafas panjang sebelum masuk ke dalam kamar, lalu ia membuka pintu tersebut dengan pelan-pelan dan tersenyum melihat suaminya yang masih sibuk dengan leptop.“Pa, kenapa belum tidur?” tanya Victoria, pergi mendekati suaminya yang duduk di atas ranjang.“Belum, Papa masih nungguin Mama. Gabriel itu sudah dewasa jangan di manja terus,” ucap Alano, menasehati Victoria.Mendengar ucapan sang suami yang tidak suka itu, Victoria merasa tersinggung dan marah kepada suaminya yang menganggap dirinya memanjakan Gabriel.“Apa maksud papa, bicara seperti itu. Suka-suka mama mau manjain anak mama atau tidak?!” tanya Victoria penuh dengan emosi.“Loh kok mama emosi, papa cuman bilang,” jawab Alano.“Tapi mama tidak suka cara Papa bicara,” ucap Victoria dengan ketus.Victoria hanya langsung tidur memunggungi suami tersebut, melihat tingkat i
"Dasar anak tidak tau diri! Beraninya kau membentak ku, setelah apa yang sudah kau lakukan kepada kita semua?” ucap Allano dengan lantang dan keras.“Maksud Papa?” tanya Aurora yang masih tidak mengerti.Terlihat wajah kesal Allano kepada putrinya itu, ia sungguh sudah muak melihat wanita tersebut. Aurora pura-pura atau hanya memang tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Allano.Tanpa basa basi lagi, Allano menarik tangan wanita tersebut. Ia membawa wanita itu kelantai atas, lalu ia melempar wanita itu masuk kedalam ruangan yang rahasia. Dimana ruangan itu tidak pernah dibuka selama sepuluh tahun.“Papa… ruangan apa ini? Kenapa Papa membawa Aurora kedalam ini?” Aurora terus bertanya-tanya sang Papa, tetapi laki-laki itu menjawab apapun.“Kau akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan keluarga Zucca!” ucapnya dengan tegas, tanpa melihat kearah wanita itu.“Papa….!”“Diam!”Allano melepar sebuah buku kearah putrinya tersebut, disana banyak aturan-aturan yang tertulis untuk keluarg
"Kenapa... k-kau peduli padaku!" tanya Aurora, ketika Genaro memeluk tubuhnya itu.“Kau… mengingatkan aku kepada seseorang di masa lalu! Sudahlah, tidak perlu bertanya lagi. Sekarang aku tidak akan mendengarkanmu!” ungkapnya.Setelah mendengar ucapan dari laki-laki tersebut, Aurora menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan hangat itu. Ia merasa lebih baik, karena ada orang lain yang peduli padanya.Di sisi lain, Gabriel mengambil beberapa foto pelukan dan bersamaan yang terlihat romantis itu. Ia akan menggunakan itu sebagai alat untuk membuat Aurora dan juga Alex berpisah, dan tidak akan bersama untuk selamanya.“Foto ini akan berguna untukku, sebentar lagi kau akan benar-benar sendirian Aurora! Tunggu saja!” ungkapnya, penuh dengan senyuman licik.“Apa kau sudah selesai melakukannya, jika ia ayo kita pulang sekarang?” ucap Victoria kepada putrinya itu.Mereka berdua pergi dari makam tersebut, sehingga hanya tersisa mereka berdua. Aurora sungguh sangat sedih, ia tidak tau apa yang akan
“Kehilangan seseorang yang sangat disayangi, sungguh sangat sakit Dok! Hiks… hiks…!” ucap Aurora kepada Dokter tersebut, dengan menangis sesegukan.“Nona… jangan bersedih, setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Tuhan-Nya!” mencoba untuk menenagkan Aurora.Dalam runagan tersebut sungguh sepi. Sehingga suara tangisan Aurora terdengar dengan jelas. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Tetapi, tetap saja tidak berhasil.Dokter tersebut masih menemani wanita malang itu, ia menghapus air mata wanita itu yang terus mengalir. Ia sungguh prihatin melihat Aurora. “Nona, apakah saya perlu memanggil keluarga anda?” tanya dokter tersebut. “Mungkin mereka bisa menjaga dan menghibur anda,” ucapnya.“Tidak perlu dok, saya tidak apa-apa. terima kasih Dok, sudah menenangkan hati saya,” ucap Aurora berterima kasih.Dokter tersebut pergi meninggalkan Aurora yang masih berdiam di dalam ruangan tersebut. Aurora menatap dirinya sendiri, yang seperti orang gila.Begitu banyak hal sudah terjadi, har
“Cukup Gabriel! Jaga ucapan mu itu, jangan sampai tangan ku ini menampar mu lagi,” teriak Aurora, ia sangat marah dengan perkataan Gabriell.“Apa! kau mau mengancamku! Aku tidak pernah takut padamu Aurora! Bagiku kau hanyalah seekor semut yang tidak berguna!” jawab Gabriell.“Sudah cukup!”Allano benar-benar sakit kepala melihat kedua putrinya itu terus bertengkar, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengalah. Bahkan pada situasi seperti sekarang juga mereka maasih terus berdebat.Alex hanya diam saja, ia tidak ingin ikut campur urusan keduanya. Meskipun ia masih suaminya Aurora, tetapi setiap orang memiliki privasi dan juga kehidupan yang tidak semua orang tau.“Apa kalian berdua tidak malu hah! Lihatlah siapa wanita yang terbaring itu… dia ibuku… dan juga nenek kalian…,” ucap Allano.“Sekarang terserah kalian berdua saja! Aku akan kerumah sakit,” pergi meninggalkan semua orang yang ada di sana.Alex mengikutii sang Papa mertua untuk pergi kerumah s
"Nenek… apa yang harus Aurora lakukan? Bagaimana… Aurora menjelaskan semuanya! Hiks!""Aurora akan membawa nenek pulang! Kita pulang ya Nek!" Ucap Aurora, berusaha menggendong wanita yang sudah tidak bernyawa itu.Wanita muda itu frustasi, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia sudah kehilamgan orang yang sangat ia sayang. Begitu cepat waktu berlalu.Aurora mengambil telponya lalu menelpon nomor seseorang. Ia, orang itu adalah suaminya sendiri, Alex."Pa… Aurora memberitahu ku… k-kalau nenek meninggal!" Ucap Alex dengan hati-hati, ia takut Allano kaget."Apa yang kau katakan Alex, becanda mu tidak lucu, menantu!" Jawab Allano, dengan raut wajah tersenyum tidak mempercayai perkataan sang menantu.Alex terdiam tidak bicara apa-apa lagi. Ia masih membeku di samping Allano yang sibuk dengan pekerjaannya. Sesaat kemudian, Alano sadar mungkin apa yang di katakan menantunya itu bener. Ia berdiri sejajar dengan Alex, lalu menatap laki-laki itu."Apa yang kau katakan itu bener Alex? Kau tidak.
"Kita tidak bisa melawan mereka semua? Wanita itu meminta bantuan dari luar! Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanua salah satu pelayan tersebut, mereka sangat panik dan juga gelisah."Tidak ada pilihan lagi! Ayo kita lawan mereka semuanya!""Iya... kita hanya bisa melawan sekarang! Jika kita gugur itu lebih baik... daripada kita pergi!" Ucap sang nenek, kepada para pelayan-nya tersebut.Mereka pergi keluar dari kamar itu, Nenek mengambil pistol yang selalu tersedia di setiap kamar. Ia mengisi peluruh, lalu menembakan kearah musuh-musuhnya itu.Dor! Dor! Dor!Suara genjatan tersebut mengelilingi Villa itu, seoalah-olah sebuah pertunjukan. Semua para bodyguard di rumah hanya tersisa sedikit begitu juga para pelayan."Hallo... wanita tua bangka!" Sapa Flo, ketika mereka slaing berhadapan dengan menodongkan senjata."Dasar wanita Iblis... kau akan di hukum dengan apa yang sudah kau perbuat!" Ucap sang nenek.Dor! Dor!Mendengar ucapan hukum, Flo sangat marah. Ia melayangkan 2 tembak
"Maafkan kami Nona... setelah bangun tidur Nenek sudah seperti ini! Dia banyak diam dan juga meminta ada orang yang selalu berada di sampingnya," ungkap pelayan tersebut kepada Aurora."Pasti ada yang salah! Nenek kamu kenapa? Apa ada yang salah atau nenek sakit? Apa Sekarang nenek dalam situasi bahaya," Aurora bertanya, berharap ada jawaban dari sang Nenek.Aurora binggung dan tidak tau apa yang akan di lakukan, namun, dia tidak ingin meninggalkan nenek sendirian.Flo sangat senang melihat Nenek tua bangka itu menderita, padahal ia belum memulai rencannanya. Tetepi, sang nenek sudah mulai tidak sehat.'Kalau sudah tua bangka, aku tidak perlu menyakitinya lagi. Tapi... kenapa dia tidak langsung mati saja!' Batin Flo, ketika memandang Aurora yang bersama dengan sang Nenek."Nenek ayo istirahat di kamar! Aurora akan menemani nenek."Aurora memapah sang nenek menuju kekamarnya, nenek terlihat seperti orang yang kebinggungan dan tidak tau arah. Namun, terkadang dia terlihat normal-normal
“Bagaimana dengan wanita sialan itu, aku sungguh muak melihat mukanya Ma!” ucap Gabriel, kepada sang Mama.“Kau tidak perlu khawatir sayang! dia pasti akan mama singkirkan! Sekarang pikirkan dulu kebahagian mu!” ucap Victoria, kepada putri kesayangannya tersebut.Mereka berdua sunguh tidak tahu malu, Victoria melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Aurora.Sementara, Aurora akan terus berusaha tetap bertahan. Ia tidak ingin semua hak miliknya di ambil ahli oleh wanita ular tersebut."Firasatku tidak enak! Apa akan terjadi sesuatu kepada Nenek. Jika aku menghubunginya, pasti dia tidak akan menerima telponku!" "Besok aku akan bertemu Nenek, harus di pastikan dia baik-baik saja."Matahari mulai bersinar, dari jendela yang tirainya tidak tertutup. Wajah tampan Alex begitu bersinar ketika sinar matahari pagi berhasil menembus kaca jendela tersebut. Sudah saatnya ia bangun, karena hari sudah pagi.Ketika melihat jam di handphone-nya, Alex segera bergegas menuju kamar mandi. Hari ini,
“Bunuh dia! Apapun itu, ambil nyawanya!” “Ma. Apa Mama yakin dengan ucapan, Mama?” tanya Genaro, untuk memastikan ucapan sang Mama-nya tersebut.“Iya. Tidak ada kata-kata yang lain, yang ingin Mama dengar, Genaro!” ucap Lettizia, menekankan suaranya. Sehingga terdengar sedikit bernada marah, dan menyeramkan.Genaro tidak habis pikir dengan rencana Mama-nya untuk membunuh wanita tua itu. Sepertinya sang Mama benar-benar ingin menghabisi wanita itu.Flo juga kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Lettizia. Meskipun dia suka membunuh orang, tetapi tidak untuk seorang Nenek tua bangka yang tidak bisa melawan itu. Bukankah itu di namakan pecundang, ketika hanya bisa melawan orang-orang lemah tidak berdaya.“Tante! Apakah tante yakin dengan keputusan ini?” tanya Flo dengan sedikit ketakutan, menyinggung perasaan Lettizia.“Iya saya yakin! Aku hanya ingin wanita tua bangka itu mati! Meskipun dia mati, rasa sakit hatiku tetap saja tidak akan bisa hilang!” ungkap Lettizia.Mendengar ucapan it