Langit yang tadinya cerah kini berubah gelap ditaburi bintang yang nampak begitu indah dan menenangkan. Siapapun pasti akan terpana melihat keindahan salah satu ciptaan Tuhan itu, tidak terkecuali sosok Ana yang tengah bersantai menikmati hembusan angin dan merenungi langit malam dari balkon kamarnya.
Ana duduk di sebuah kursi rotan yang berada di sisi kiri balkon dengan pikiran yang sedang menerawang jauh seraya menatap langit. Gadis itu tampak dilema dan banyak pikiran.
“Ini malam kedua aku dan Ray menjadi pasangan suami istri. Semuanya benar-benar tidak terduga. Entah aku harus bersyukur atau apa, rasanya ada banyak hal yang harus ku korbankan karena pernikahan ini. Andai saja waktu itu aku dan Ratna tidak pergi ke tempat itu, semua ini pasti tidak akan terjadi.” Ana menghela napas berat, menyesali kecerobohannya hanya untuk kesenangan sesaat.
“Apa aku pantas menyalahkan Ray atas semua yang terjadi?” Mengalihkan pandangannya kepada segelas air hangat yang mungkin telah sejuk, Ana kembali menghela napas.
Beban dipundaknya terasa begitu berat. Kehidupannya seketika berubah sejak kejadian malam itu. Andai saja waktu bisa diputar kembali, Ana tidak akan pergi ke club, tempat dimana ia menghabiskan malam bersama Ray. Hal ini lah yang membuat keluarga mereka salah paham.
Mereka beranggapan kalau Ana dan Ray telah melakukan hal yang diluar batas, sehingga pernikahan keduanya harus segera dilaksanakan. Padahal, Ana ingat betul kalau malam itu, ia dan Ratna hanya sedikit mabuk dan entah bagaimana ceritanya ia bisa tertidur di sebuah kamar bersama Ray yang ternyata juga sedang terpengaruh oleh alcohol.
Saat itu, Ana benar-benar marah, kesal, kecewa dan tidak berdaya. Tekanan kedua orangtuanya berhasil membuatnya tidak bisa membela diri. Padahal, Ratna telah bersaksi kalau ia dan Ray benar-benar tidak melakukan hal yang aneh. Mereka hanya tidur di ranjang yang sama dengan posisi saling berpelukan. Hanya berpelukan, tidak lebih!
Sialnya lagi, entah dari mana kedua orangnya bisa tahu kalau malam itu ia pergi ke club dan memergoki dirinya sedang bersama Ray. Demi Tuhan, kepala Ana terasa ingin pecah memikirkan hal tersebut.
“Ana, makan malam sudah siap. Ayo, makan.”
Suara itu berhasil menarik Ana dari lamunannya. Gadis itu lantas menoleh dan mendapati Ray yang sedang berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Ana memperhatikan Ray dengan seksama. Jas yang tadi begitu rapi membalut tubuh atletis pria itu telah dilepas dan menyisakan kemeja putih yang lengannya ditarik hingga siku. Tapi, Ana sedang tidak tertarik untuk memuji penampilan Ray yang malah terlihat semakin tampan. Ia lantas buru-buru membuka lebih lebar lagi pintu kaca balkon lalu melewati Ray begitu saja.
“Ana, kamu kenapa?”
Keluar dari kamar, Ray mengikuti langkah Ana menuruni satu persatu anak tangga yang memutar.
“Gapapa.”
“Kamu marah sama aku?” tanya Ray, lagi.
“Gak. Ngapain juga?”
Ray tidak lagi menyahut, sudah mengerti kalau Ana benar-benar sedang dalam mood yang kurang baik. Ia lantas membiarkan gadis itu berjalan lebih dulu menuju dapur tanpa mengatakan apapun lagi.
Sepasang suami yang sedang berjalan beriringan itu terlihat melewati beberapa ruangan sebelum tiba di meja makan yang berhadapan dengan dapur. Di atas meja makan berukuran besar dan memiliki 6 kursi itu tampak berjejer rapi menu makan malam yang baru saja dimasak oleh Ray.
Berbeda dari ruangan lainnya, dapur tempat dimana Ray menghabiskan waktunya untuk menyiapkan makanan itu memiliki konsep modern mewah dengan nuansa monokrom. Desain dengan kombinasi monokrom hitam putih itu menciptakan tampilan yang maskulin tanpa terlihat berlebihan. Keseimbangan antara dua warna yang kontras mencolok menonjolkan kesan mewah nan estetik secara seimbang.
Tentu saja konsep dapur tersebut dipilih langsung oleh Ray sebelum ia menikah dengan Ana. Lebih tepatnya, 1 tahun yang lalu saat rumah bergaya klasik itu dibangun. Kendati demikian, saat Ana tiba di rumah itu kemarin, Ray juga sudah menawari istrinya itu untuk mengganti desain dapur tersebut dengan desain yang ia mau, tapi Ana menolak dan tidak ingin mengubah apapun di rumah tersebut.
Setelah memastikan Ana duduk dengan tenang, Ray mulai mengisi piring di depan istrinya itu sebanyak satu sendok nasi.
“Cukup?” tanyanya, sejenak.
“Hm.”
Ray tersenyum tipis melihat Ana yang tampak malas bicara dengannya. Ia lantas membiarkan gadis itu memilih lauk pauk sendiri.
Sesaat kemudian, sepasang suami istri itu tampak menikmati makanan mereka dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Di hadapan Ray, Ana terlihat santai menyantap makanannya, padahal dalam hati gadis itu, ia sangat memuji masakan Ray yang terasa enak dan pas di lidahnya. Ana tidak menyangka kalau Ray benar-benar bisa diandalkan dalam segala hal. Kepiawaian pria itu dalam memasak membuatnya merasa insecure sebagai seorang perempuan.
Masa bodo dengan ini semua. Aku tetap benci kamu, Ray, Ana membatin.
Selesai menyantap makanannya, Ana bergegas pergi meninggalkan dapur tanpa berniat membantu Ray yang sedang merapikan meja makan dan hendak mencuci piring kotor. Ana sengaja mengabaikan semua itu. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak andil dalam melakukan pekerjaan rumah sebelum ia benar-benar menerima Ray sebagai suaminya.
Pria itu juga tidak masalah dengan hal tersebut saat Ana mengutarakan hal tersebut saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah itu pertama kali dua hari yang lalu.
Keluar dari dapur, Ana bergegas menuju ruang keluarga untuk menonton TV sembari menunggu Ray menyelesaikan pekerjaannya.
Sebagai seorang istri, seharusnya ia lah yang melayani dan merawat Ray, tapi itu tidak ia lakukan karena rasa kecewanya masih begitu besar.
“Maafin aku, Ray. Aku belum bisa nerima semua ini.” lirihnya, merasa bersalah.
Ana menyalakan TV di depannya, lalu mencari-cari siaran yang mungkin menarik untuk ditonton. Namun, sudah hampir 3 menit, ia belum juga menemukan tayangan yang cocok untuk memperbaiki moodnya yang rusak, sehingga ia memutuskan untuk memainkan ponsel dan membiarkan TV tetap menyala.
Tidak terasa sudah hampir 20 menit Ray berkutat dengan pekerjaannya di dapur. Pria itu kemudian tampak keluar dari sana dan berjalan menuju ruang keluarga tempat dimana ia mendengar suara percakapan yang berasal dari TV.
Ana yang melihat kedatangan pria itu langsung bangkit dari tempatnya.
“Bisa kita bicara sebentar, An.” Instruksi Ray, menghentikan niat Ana yang hendak kembali ke kamarnya.
Gadis itu lantas kembali duduk dan bersandar di punggung sofa yang empuk.
Ray pun begitu, mengambil tempat di samping Ana dan menyenderkan tubuhnya yang terasa letih. Bangun subuh-subuh untuk menyiapkan sarapan, mengajar hingga sore dan mengerjakan tugas tambahan hingga lembur, serta memasak makan malam dan bersih-bersih cukup membuatnya lumayan letih. Ray lantas merentangkan tangannya di punggung atas sofa, hingga membuatnya tampak seperti sedang merangkul Ana jika dilihat dari depan.
Cukup lama kedua orang itu diam, membuat Ana mulai bosan dan merasa atmosfer di sekitarnya menipis. Entah itu hanya perasaannya saja atau bagaimana, ia merasa Ray duduk semakin dekat dengannya.
“Ray, ada apa? Aku mau kembali ke kamar,” tukasnya, membuka percakapan.
“Temani aku sebentar.”
“Tapi ini udah 10 menit aku nemenin kamu,” sahut Ana, cepat.
“Sebentar lagi.” Ray menjawab dengan posisi kepala yang masih bersandar di punggung sofa sambil memejamkan mata.
Ana manyun mendengar jawaban tersebut, lalu membiarkan pandangannya menatap wajah Ray dengan lekat dan dalam. Dari jarak yang tidak lebih dari 30 centi meter, ia bisa melihat wajah tampan pria itu dengan jelas. Hidung Ray yang manjung. Bulu matanya yang lentik dan alis yang tebal, serta rambutnya yang hitam lurus dengan model slicked-back undercut, yang belakangan ini cukup populer di kalangan pria Indonesia. Gaya rambut tersebut membuat penampilan Ray terkesan lebih fresh dan menarik.
Saat memperhatikan wajah Ray, Ana melihat bulu mata pria itu jatuh di pipi kanan.
“Sepertinya ada seseorang yang rindu kamu, Ray,” gumamnya, pelan.
Ana kemudian berinisiatif mengambil bulu mata itu. Dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, ia perlahan mengulurkan tangan ke wajah mulus Ray. Ana bahkan refleks mengulum bibirnya dan menahan napas agar Ray tidak terusik.
Namun, belum sampai jari-jari lentik itu menyentuh kulit mulus Ray, sang empu telah mencekal tangan Ana dengan gerakan yang teramat cepat.
Terkejut. Ana benar-benar terkejut karena Ray tiba-tiba membuka mata dan menggenggam tangannya, membuatnya mematung dan membisu. Mata gadis itu membulat sempurna melihat Ray yang kini menatapnya dengan lekat dan sangat dalam.
“Ra-Ray ….”
Seakan waktu berhenti berputar, keduanya mematung dan saling menatap dengan intens dan dalam.
Tersadar akan posisi mereka yang kurang aman, Ana buru-buru melepas cekalan tangan Ray dari lengannya dan segera pindah ke sofa yang ada di seberang meja. Ana meneguk salivanya kasar. Atmosfer di ruangan itu terasa menipis hingga membuatnya gerah dan sesak. Tidak jauh berbeda dari Ana, Ray juga langsung menyibukkan diri dengan pura-pura merapikan rambutnya yang memang sedikit berantakan. Ray bahkan merasa telingannya memanas dan wajahnya memerah menahan malu yang tiba-tiba menghinggap di hatinya. Melihat Ana hendak beranjak dari tempatnya, Ray langsung menghentikan gadis itu dengan pernyataannya. “Ana, saya tau kamu belum bisa menerima semua ini. Pernikahan kita, saya tau kamu sangat tidak menginginkannya. Kamu mungkin beranggapan kalau saya pria paling jahat yang sudah merusak hidup dan masa depanmu.” Ray berhenti sejenak, melihat reaksi Ana atas perkataannya. “Kamu boleh menyalahkan saya atas semua yang terjadi, sekalipun kita sama-sam
Jam kosong tiba. Mengubah suasana kelas yang tenang menjadi riuh kala dosen yang mengajar telah pergi meninggalkan ruangan. Para mahasiswa juga demikian, segera keluar untuk menghirup udara segar atau mencari kesenangan lain yang dapat meredakan penat di kepala mereka.Sementara itu, para mahasiswi yang merupakan fans dari seorang Ray, kini bersorak heboh setelah beberapa jam menahan diri untuk tetap tenang selama proses belajar berlangsung setelah mendengar cerita dari Tasya dan Amel. Tampaknya, kedua sejoli itu telah berhasil menyebar berita yang paling ditunggu-tunggu oleh seantero kampus.“Tasya, lo harus ceritain ke gue semua yang lo tau tentang Dosen Ray. Gue gak mau tau.” Dinda dengan heboh menghampiri Tasya.Padahal biasanya gadis berkulit sawo matang itu paling anti berdekatan dengan Tasya dan Amel. Mereka sudah seperti musuh bebuyutan yang selalu cekcok hanya karena hal sepele.“Iya, Tas. Gue mau denger juga. Kalau benar Dosen Ray dan Miss Rahel jadian, kita harus ngerayain
Puluhan pasang mata tertuju pada kedua dosen itu. Bisikan demi bisikan terus mengalir seiring dengan datang dan perginya Ray dan Rahel dari tempat tersebut. Kedua dosen yang dirumorkan sedang berkencan itu pergi setelah menghabiskan minuman mereka tanpa menghiraukan tatapan penuh arti yang dilayangkan oleh para mahasiswa pada mereka.Tidak lama setelah itu, Ana dan teman-temannya juga tampak bergegas meninggalkan kantin. Selanjutnya, mereka naik ke lantai 3 untuk kembali mengikuti pembelajaran yang dibawakan oleh Pak Syamsuddin, atau yang sering disapa dengan Pak Syam.Tidak terasa, kelas tersebut akhirnya selesai dan dilanjutkan oleh mata kuliah lain yang dibawakan oleh dosen lain yang usianya sudah cukup tua. Mungkin, tidak lama lagi beliau akan segera pensiun. Lagi-lagi, para mahasiswa dengan tertib menyelesaikan perkuliahan tersebut hingga tibalah saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Para mahasiswa dari berbagai kelas tampak meninggalkan ruangan mereka, tapi tid
Langit sudah gelap dan Ana mulai merasa keroncongan menahan lapar. Tapi gadis itu tidak ambil pusing, karena Nicho akan segera datang mengantarkan makanan untuknya. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepada gadis itu, karena satu jam yang lalu Nicho menghubunginya dan menanyakan apakah Ana ingin makan sesuatu atau tidak, karena ia sedang luar membeli makanan untuk kedua orangtuanya. Alhasil, Ana memberitahu makanan apa yang sedang ingin ia makan tanpa rasa sungkan. Lebih tepatnya, ia sedang memanfaatkan situasi yang terjadi. “Kalau kamu bisa, kenapa aku nggak,” imbuhnya, pada Ray yang entah sedang dimana. Tidak lama kemudian, bell di rumah mewah itu terdengar hingga ke ruang tamu, sehingga Ana lekas-lekas beranjak dari sofa dan menyambut kedatangan Nicho dengan senyum mengembang. Ternyata, Nicho sangat pandai dalam mencari alamat rumahnya yang sekarang. Pintu terbuka. Sepasang mantan kekasih itu refleks saling melempar senyum terba
Hari-hari berlalu, sepasang suami istri itu belum juga menampakkan perubahan yang signifikan dalam hubungan mereka. Ray masih tetap memperlakukan Ana dengan baik, seperti biasanya. Sedangkan Ana masih menyimpan dendam dan amarah yang sebisa mungkin ia sembunyikan dari siapapun sehingga ia terlihat baik-baik saja.Bahkan sampai detik ini, tidak ada penjelasan yang Ana terima dari Ray mengenai hubungan pria itu dengan Rahel. Ia juga tidak bertanya apapun mengenai hal tersebut. Ana tidak mau ribet. Toh, ia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada suaminya itu.“Kamu gak papa kalau saya tinggal? Gimana kalau nanti Ratna gak jadi datang jemput kamu? Kita ada kelas pagi ini dan kamu gak boleh terlambat.” Ray berujar seraya memakai sepatu hitam kulitnya di teras rumah, sementara Ana berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada.“Gak papa. Nanti aku bisa naik taksi kalau Ratna gak jadi jemput. Tapi, kayaknya gak mungkin deh, dia kan udah janji,” tukas gadis itu sembari memperhatikan Ray y
Ruangan kelas seketika hening saat Ray bangkit dari kursinya dengan ekspresi yang tidak santai. Dosen titisan kutub itu langsung melayangkan tatapan elangnya kepada Tasya, Amel dan seluruh penghuni kelas. Ray nampak jelas menahan emosi. “Siapa yang meminta kalian melakukan semua ini?” desis pria itu, tajam. Sementara Rahel masih tampak bingung dan sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Tasya barusan. “Maaf, Dosen Ray. Ini semua inisiatif kami karena kami sangat senang Dosen Ray dan Miss Rahel akhirnya berkencan. Kami melakukan semua ini dengan tulus dan berharap kalian akan terus bersama,” imbuh Tasya, mulai merasa takut melihat ekspresi marah dosennya itu. “Kami mohon maaf kalau ternyata apa yang kami lakukan ini salah." Amel mengulum bibirnya membentuk sebuah garis lurus. “Saya tidak perlu permohonan maaf kalian. Saya pikir, apa yang kalian lakukan ini sudah kelewat batas. Memangnya kalian tahu pasti kalau saya dan Miss Rahel memiliki hubungan khusus? Memang
“Bagus, Ana, bagus. Teruslah benci saya tanpa sebab.” Setelah berujar demikian, Ray mundur satu langkah menjauhi Ana seraya mengusap wajahnya kasar. “Tanpa sebab? Okey, teruslah berpikir kalau aku membencimu tanpa sebab, Ray!” “Mulai sekarang, kamu tidak perlu peduli padaku lagi. Lakukan apapun yang kamu mau dan aku juga akan melakukan apapun yang ku mau. Persetan dengan orang ketiga yang katamu gak boleh masuk dalam hubungan kita!” lanjut Ana, sedikit keras. “Okay, silahkan. Saya juga tidak akan peduli lagi pada pembohong sepertimu!” bentak Ray. Kedua bola mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Sungguh, Ana tidak menyangka Ray akan semarah ini. Andai saja Ray tahu, ia tidak akan bersikap sejauh ini kalau bukan Ray yang lebih dulu bermain api di belakangnya. Tapi sepertinya, pria itu sama sekali tidak menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. “Kalau kamu benar-benar berniat merusak pernikahan ini dengan kembali bersama Nicho, silahkan. Saya tidak akan halangi. Kamu bebas memilih
Siapa yang tidak suka bolos? Mungkin sebagian dari mahasiswa sangat menyukai hal tersebut. Bahkan, tidak sedikit juga yang rela pura-pura sakit agar bisa menghindari tugas atau dosen yang akan mengajar di kelas saat itu. Namun berbeda dengan Ana yang semakin merana karena sengaja bolos untuk menghindari berbagai pertanyaan teman-temannya. Bagaimana tidak, Ana sendiri saja sangat syok melihat wajahnya yang terlihat bengkak dan jelek karena kebanyakan menangis, apa lagi teman-temannya. Mereka pasti heran dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya. Sungguh, Ana belum bisa menerima serangan pertanyaan rudal yang mungkin akan ditujukan kepadanya. Terlebih lagi, dosen yang mengajar kali ini adalah miss Rahel, yang membuatnya semakin membulatkan tekat untuk bolos. Setelah seharian mengurung diri di dalam kamar, Ana akhirnya bangkit dari tempat tidur dan turun ke lantai dasar untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Sungguh, ia merasa sangat lapar dan kepalanya terasa pusing, sepe
Beberapa hari telah berlalu sejak Ana kembali dari rumah sakit. Kini, kondisi gadis itu benar-benar pulih dan kembali fit. Ana dan Ray juga kembali melanjutkan aktivitas mereka sebagai dosen dan mahasiswi. Mereka pergi dan pulang bersama ke tempat tujuan yang sama pula, yaitu rumah dan kampus yang menjadi saksi bisu hubungan mereka yang seperti roller coaster, naik turun yang menimbulkan rasa takut juga menyenangkan. Langit sore tampak begitu indah dari biasanya, entah itu hanya perasaan Ana saja atau apa, yang jelas kini senyum gadis itu tampak indah menghiasi wajahnya yang cantik dan mulus berseri. Ray yang sedang menyetir bahkan juga ikut tersenyum melihat hal tersebut. Pikiran Ana lagi-lagi melayang mengingat percakapannya dengan Sasa beberapa waktu lalu saat di rumah sakit. Pertanyaan Sasa mengenai apakah dirinya tidak merasa beruntung menikah dengan Ray kembali Ana tanyakan pada dirinya sendiri. Jujur saja, Ana mulai merasa sedikit bangga dan beruntung, setelah tadi ia lagi
Setelah mengenakan pakaiannya, Ray kembali melirik Ana yang sedang memainkan ponsel. Gadis itu tampak asik dengan benda pipih itu sehingga tidak menyadari kehadirannya. Lebih tepatnya, Ana sengaja mengabaikan Ray karena masih kesal pada pria itu. Ray berhemem, membasahi tenggorokannya yang kering lalu berdiri di samping kanan ranjang.“Berhenti main ponsel. Kamu harus istrirahat,” ujarnya tegas, lalu mengambil ponsel tersebut dari tangan Ana. “Ray, apa-apaan sih kamu? Balikin!” “Kamu harus istirahat.” Ulang Ray lagi, penuh penekanan. “Gak mau. Balikin dulu ponsel aku.” “Nggak.”“Balikin, Ray.”“Gak. Kamu istirahat dulu.”Ana menghembuskan napas kasar. Kedua tangannya terkepal kuat melihat kelakuan Ray. Pria itu mengabaikannya. “Menyebalkan,” gerutu Ana seraya memalingkan wajahnya.Bertepatan dengan Ana dan Ray yang saling mengabaikan, pintu di ruangan itu tampak terbuka dan menampilkan dua sosok yang begitu Ana kenal. Sontak, senyum di wajah gadis itu mengembang sempurn
Ray kembali memasuki ruangan serba putih itu setelah kembali dari rumah mengambil ponsel dan perlengkapan yang mungkin akan dibutuhkan oleh Ana. Kali ini, pria itu tidak datang sendiri, melainkan bersama kedua orangtua Ana yang juga baru tiba. Ray sudah mewanti-wanti dirinya akan menerima amarah dari keluarga Ana, tapi hal itu tidak kunjung terjadi setelah hampir setengah jam mereka berada di ruangan tersebut.“Ray, kamu sudah makan malam, Nak?” Lela, mama Ana, mendekati Ray yang duduk di sofa sudut lalu ikut bergabung bersama pria itu sebelum melontarkan pertanyaan. “Sudah, Ma, tadi sore di kantin kampus.”Ray kembali khawatir, takut mama mertuanya bertanya lebih lanjut.“Kamu gak perlu takut. Kami tidak akan menyalahkan kamu atas apa yang terjadi pada Ana. Ini bukan yang pertama kalinya dia seperti ini, tapi mungkin ini yang paling parah. Sejak kecil, Ana memang susah diatur dalam urusan makan, hingga membuatnya terkena mag dan jadi separah ini.”Ray menatap wajah mertuany
“Ana, bangun, An. Ana, sadar.” Ray panik, buru-buru mengangkat tubuh Ana yang terkulai lemas ke atas tempat tidur. “Ana, kamu dengar suaraku? Tolong sadarlah, An.” Ray menepuk-nepuk lembut pipi Ana agar gadis itu segera membuka matanya. Ray bingung. Bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada gadis itu. Seraya berupaya menyadarkan Ana, Ray mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar tersebut. Tatapannya kemudian tertuju pada kaleng-kaleng dan kotak minuman yang ada di atas meja depan sofa. “Kita harus ke rumah sakit sekarang.”Tidak buang-buang waktu, Ray langsung menggendong Ana ala bridal style dan membawa gadis itu keluar kamar. Sepertinya, Ray mulai tahu apa yang sedang terjadi kepada istrinya itu.Takut, cemas dan khawatir menjadi satu memenuhi perasaan dan tubuh Ray. Dengan rasa gelisah, ia mengendari mobil dan membelah kegelapan malam agar segera sampai ke rumah sakit terdekat. Ray yang sedang mengemudi sesekali menoleh ke belakang, melihat Ana yang terkulai lemas di ba
Siapa yang tidak suka bolos? Mungkin sebagian dari mahasiswa sangat menyukai hal tersebut. Bahkan, tidak sedikit juga yang rela pura-pura sakit agar bisa menghindari tugas atau dosen yang akan mengajar di kelas saat itu. Namun berbeda dengan Ana yang semakin merana karena sengaja bolos untuk menghindari berbagai pertanyaan teman-temannya. Bagaimana tidak, Ana sendiri saja sangat syok melihat wajahnya yang terlihat bengkak dan jelek karena kebanyakan menangis, apa lagi teman-temannya. Mereka pasti heran dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padanya. Sungguh, Ana belum bisa menerima serangan pertanyaan rudal yang mungkin akan ditujukan kepadanya. Terlebih lagi, dosen yang mengajar kali ini adalah miss Rahel, yang membuatnya semakin membulatkan tekat untuk bolos. Setelah seharian mengurung diri di dalam kamar, Ana akhirnya bangkit dari tempat tidur dan turun ke lantai dasar untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Sungguh, ia merasa sangat lapar dan kepalanya terasa pusing, sepe
“Bagus, Ana, bagus. Teruslah benci saya tanpa sebab.” Setelah berujar demikian, Ray mundur satu langkah menjauhi Ana seraya mengusap wajahnya kasar. “Tanpa sebab? Okey, teruslah berpikir kalau aku membencimu tanpa sebab, Ray!” “Mulai sekarang, kamu tidak perlu peduli padaku lagi. Lakukan apapun yang kamu mau dan aku juga akan melakukan apapun yang ku mau. Persetan dengan orang ketiga yang katamu gak boleh masuk dalam hubungan kita!” lanjut Ana, sedikit keras. “Okay, silahkan. Saya juga tidak akan peduli lagi pada pembohong sepertimu!” bentak Ray. Kedua bola mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Sungguh, Ana tidak menyangka Ray akan semarah ini. Andai saja Ray tahu, ia tidak akan bersikap sejauh ini kalau bukan Ray yang lebih dulu bermain api di belakangnya. Tapi sepertinya, pria itu sama sekali tidak menyadari kesalahan yang telah ia lakukan. “Kalau kamu benar-benar berniat merusak pernikahan ini dengan kembali bersama Nicho, silahkan. Saya tidak akan halangi. Kamu bebas memilih
Ruangan kelas seketika hening saat Ray bangkit dari kursinya dengan ekspresi yang tidak santai. Dosen titisan kutub itu langsung melayangkan tatapan elangnya kepada Tasya, Amel dan seluruh penghuni kelas. Ray nampak jelas menahan emosi. “Siapa yang meminta kalian melakukan semua ini?” desis pria itu, tajam. Sementara Rahel masih tampak bingung dan sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Tasya barusan. “Maaf, Dosen Ray. Ini semua inisiatif kami karena kami sangat senang Dosen Ray dan Miss Rahel akhirnya berkencan. Kami melakukan semua ini dengan tulus dan berharap kalian akan terus bersama,” imbuh Tasya, mulai merasa takut melihat ekspresi marah dosennya itu. “Kami mohon maaf kalau ternyata apa yang kami lakukan ini salah." Amel mengulum bibirnya membentuk sebuah garis lurus. “Saya tidak perlu permohonan maaf kalian. Saya pikir, apa yang kalian lakukan ini sudah kelewat batas. Memangnya kalian tahu pasti kalau saya dan Miss Rahel memiliki hubungan khusus? Memang
Hari-hari berlalu, sepasang suami istri itu belum juga menampakkan perubahan yang signifikan dalam hubungan mereka. Ray masih tetap memperlakukan Ana dengan baik, seperti biasanya. Sedangkan Ana masih menyimpan dendam dan amarah yang sebisa mungkin ia sembunyikan dari siapapun sehingga ia terlihat baik-baik saja.Bahkan sampai detik ini, tidak ada penjelasan yang Ana terima dari Ray mengenai hubungan pria itu dengan Rahel. Ia juga tidak bertanya apapun mengenai hal tersebut. Ana tidak mau ribet. Toh, ia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada suaminya itu.“Kamu gak papa kalau saya tinggal? Gimana kalau nanti Ratna gak jadi datang jemput kamu? Kita ada kelas pagi ini dan kamu gak boleh terlambat.” Ray berujar seraya memakai sepatu hitam kulitnya di teras rumah, sementara Ana berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dada.“Gak papa. Nanti aku bisa naik taksi kalau Ratna gak jadi jemput. Tapi, kayaknya gak mungkin deh, dia kan udah janji,” tukas gadis itu sembari memperhatikan Ray y
Langit sudah gelap dan Ana mulai merasa keroncongan menahan lapar. Tapi gadis itu tidak ambil pusing, karena Nicho akan segera datang mengantarkan makanan untuknya. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepada gadis itu, karena satu jam yang lalu Nicho menghubunginya dan menanyakan apakah Ana ingin makan sesuatu atau tidak, karena ia sedang luar membeli makanan untuk kedua orangtuanya. Alhasil, Ana memberitahu makanan apa yang sedang ingin ia makan tanpa rasa sungkan. Lebih tepatnya, ia sedang memanfaatkan situasi yang terjadi. “Kalau kamu bisa, kenapa aku nggak,” imbuhnya, pada Ray yang entah sedang dimana. Tidak lama kemudian, bell di rumah mewah itu terdengar hingga ke ruang tamu, sehingga Ana lekas-lekas beranjak dari sofa dan menyambut kedatangan Nicho dengan senyum mengembang. Ternyata, Nicho sangat pandai dalam mencari alamat rumahnya yang sekarang. Pintu terbuka. Sepasang mantan kekasih itu refleks saling melempar senyum terba