Share

Surprise

Penulis: Zizara Geoveldy
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-15 21:10:19

Raven baru saja menginjakkan kaki di bandara setelah pesawat yang membawanya mendarat dengan selamat. Rasanya sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah. Selama hampir sepuluh hari ini ia berada di daerah guna menyelesaikan masalah sengketa lahan. Hasilnya ternyata tidak sia-sia. Raven dengan timnya berhasil memenangkan kasus tersebut.

Namun, semua tidak selesai dengan begitu saja. Raven harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit sebagai ganti rugi atas lahan yang diklaim penduduk setempat sebagai milik mereka.

“Kita ke mana dulu, Pak?” tanya Rudi yang saat itu menjemput Raven ke bandara. Pria itu ingin mengetahui apa Raven akan pulang ke rumah istri pertama atau kedua.

Raven terdiam selama hitungan detik. Saat ini ia merindukan Kanya. Setelah kejadian saat itu tidak sekali pun Raven menghubunginya sebagai bentuk kemarahannya pada istrinya itu. Lalu setelahnya Raven disibukkan oleh masalah perkebunan.

Belum sempat Raven menyampaikan jawabannya pada sang supir, suara ponselnya memb
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Debora Susana
Makin gila nich Rajendra di tinggal Livia
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Istri Pesanan CEO   Tolong Pelan-Pelan

    Kanya membiarkan mobil Davva meninggalkannya sebelum menarik langkah. Sementara Raven masih belum melepaskan tatapan dari wajahnya.Kanya tidak menyangka jika Raven akan pulang setelah sekian lama tidak mengabarinya. Kemunculan laki-laki itu secara mendadak terang saja mengagetkan Kanya. Ia belum menyiapkan jawaban apapun jika lelaki itu bertanya tentang apa yang dilakukannya.Di luar dugaan Kanya, Raven tidak berkata apapun. Pria itu melangkah duluan. Kanya mengekor di belakangnya dengan perasaan harap-harap cemas. Sepertinya Raven tidak marah. Ia masih mengunci rapat mulutnya. Namun setelah masuk ke kamar dan mengunci pintu, Raven mulai menginterogasi.“Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?” Suara Raven sama dingin dengan wajahnya.Kanya meremas ujung bajunya. Apa yang harus ia katakan?“Saya lagi nanya sama kamu, Kanya,” ucap lelaki itu lagi karena belum mendapat jawaban yang dinginkannya.Kanya tidak punya alasan untuk berkilah. Ia hanya memiliki satu pilihan, yaitu bicara s

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-16
  • Istri Pesanan CEO   Nekat

    Raven memutar badan ke arah Kanya ketika tidak merasakan pergerakan istrinya itu. Raven juga tidak mendengar suaranya sedari tadi. Lebih tepatnya sejak mereka selesai bercinta lalu berbaring dengan posisi saling memunggungi.Pemandangan yang didapatinya menampakkan seorang perempuan yang sudah terlelap. Raven tidak tahu entah sejak kapan Kanya memakai baju, berbeda dengan dirinya yang masih polos tanpa busana.Cukup lama Raven menikmati wajah jelita itu dalam diam. Gurat-gurat lelah tampak begitu jelas di sana yang membuat Raven menghela nafas panjang.Menilik perbuatannya beberapa jam yang lalu pada Kanya, ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk hatinya. Raven tidak ingin berbuat sekasar tadi. Tapi jangan salahkan Raven, salahkan saja Kanya yang telah berani lancang bertindak tanpa seizinnya.Puas memandangi wajah Kanya, Raven meninggalkan ranjang lalu membersihkan diri di kamar mandi. Jauh di dalam hatinya ia ingin menghabiskan sisa malam bersama Kanya. Namun tadi Raven sudah terlanjur b

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-16
  • Istri Pesanan CEO   Saya Tidak Kenal Anda

    Pada awalnya Rudi menolak untuk mengantar Kanya. Tapi Kanya tidak menyerah dan belum berhenti. Satu kalimat pamungkas yang Kanya ucapkan membuat Rudi angkat tangan sehingga jadilah laki-laki itu mengantarkannya.“Bukankah saya juga majikan Pak Rudi? Saya istrinya Raven,” ucap Kanya tadi.“Tapi saya tidak tahu Pak Raven sedang berada di mana, Bu Kanya.”“Tolong antarkan saja saya ke rumah Aline, Pak,” tukas Kanya memaksa.Sepuluh menit kemudian mereka sudah membelah jalan raya. Kanya tidak peduli jika tindakan nekatnya ini akan membuat Raven murka. Kanya hanya ingin menunjukkan pada Raven bahwa ia juga berhak diperlakukan sebagai manusia normal.Lebih dari lima belas menit di jalan raya mereka tiba di rumah Aline. Kanya tidak melihat mobil Raven parkir di bagian mana pun di rumah itu. Mungkin masih di garasi, pikirnya.“Sepertinya Pak Raven tidak ada di sini, Bu,” kata Rudi begitu mereka berhenti.“Mungkin mobilnya masih di garasi, Pak.” Kanya berpegang teguh pada keyakinannya. Kanya m

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-16
  • Istri Pesanan CEO   Pengusiran Kanya

    “Ap—apa?” Sepasang bola mata indah Kanya membundar setelah mendengar perkataan Raven. Pria itu menolak untuk mengakuinya sebagai istri. Bagaimana mungkin Raven tega mengingkarinya? “Raven, saya tidak mengerti apa maksud kamu. Kamu sudah menikahi saya, tetapi—““Cukup, Mbak!” Raven memutus perkataan Kanya sebelum perempuan itu berbicara semakin panjang dan membeberkan semua rahasia yang selama ini dijaganya rapat-rapat. “Jangan mengada-ada dan memfitnah saya. Saya sudah punya istri dan tidak pernah menikahi siapa pun setelahnya apalagi orang seperti anda. Jadi saya minta anda pergi dari sini sebelum petugas keamanan menyeret anda dengan paksa.”Kanya memandangi Raven dengan perasaan tidak terdefinisikan. Raven mengucapkannya dengan tenang. Suara pria itu datar, tapi apa yang disampaikannya membuat hati Kanya hancur. Sudut-sudut mata perempuan itu menghangat. Sebelum bulir-bulir bening bertetesan dari sana, telinganya sudah kembali mendengar pengusiran Raven.“Apa anda tidak dengar? And

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-17
  • Istri Pesanan CEO   Bicara Dari Hati Ke Hati

    Raven memutar knop pintu kamar Kanya pelan-pelan. Namun ternyata usahanya tidak berhasil. Kanya menguncinya dari dalam.“Kanya, buka pintunya!” panggil Raven sambil mengetukkan buku jarinya di sana. Pintu berwarna coklat tersebut tidak langsung terbuka sehingga Raven harus mengetuknya dengan lebih keras.“Kanya, ini saya, tolong buka pintunya dulu!”Selang beberapa detik kemudian daun pintu terbuka, menampakkan sosok mungil Kanya yang tampak kusut dari atas sampai bawah.Raven langsung menerobos masuk melewati Kanya sambil menarik tangan perempuan itu agar ikut masuk dengannya kemudian mengunci pintu.Kanya bergeming termasuk ketika Raven mulai menyorotnya dengan dingin seperti biasa.“Sekarang jelasin ke saya apa tujuan kamu datang ke kantor saya tadi?” Laki-laki itu memulai interogasinya.Kanya masih bergeming seperti sebelumnya sambil mengarahkan matanya ke sudut lain menghindari tatapan Raven yang betah berlama-lama di wajahnya.“Saya lagi bicara sama kamu, Kanya. Apa kamu nggak

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-17
  • Istri Pesanan CEO   Keinginan Aline Untuk Berhubungan Intim

    Raven terbangun karena suara berisik yang berasal dari ponselnya. Dengan malas lelaki itu membuka matanya yang berat bagai diberi perekat. Perlahan ia mengangkat tangannya yang dijadikan Kanya sebagai bantal. Nama ibunya tertera di layar ketika Raven berhasi menjangkau ponsel yang diletakkannya di nakas. Sesaat matanya menyipit untuk melihat penunjuk waktu saat ini. Ternyata sudah jam satu malam. Raven sedikit berdecak. Menyesal tidak mematikan ponselnya sebelum tidur tadi agar tidak seorang pun mengganggu kebersamaannya dengan Kanya.“Ada apa, Ma?” tanya Raven parau setelah menjawab panggilan tersebut.“Rav, kamu di mana?”“Di rumah Kanya, Ma.”“Mama minta kamu pulang sekarang. Aline sakit lagi, kepalanya pusing, dari tadi nggak bisa tidur.”“Tapi aku lagi di rumah Kanya, Ma. Ini udah larut, aku nggak bisa pulang sekarang.” Raven menunjukkan rasa keberatannya. Sudah dua minggu Raven menahan rindu pada Kanya. Sekalinya bisa bersama, selalu saja ada penginterupsi.“Tapi Aline sakit! K

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-17
  • Istri Pesanan CEO   Dia Pembantu Saya

    Raven memejamkan mata sembari menikmati titik-titik air yang menetes membasahi tubuhnya. Ia baru bisa bernafas lega sekarang seakan baru saja lolos dari maut.Tadi Aline terus memaksa untuk melakukannya. Raven tidak bisa menghindar setelah mengajukan berbagai alasan. Aline malah menuding jika Raven tidak lagi mencintainya karena sudah ada Kanya. Pada akhirnya Raven mengalah demi menyenangkan hati Aline. Mereka mencoba melakukannya. Tapi belum apa-apa, Aline sudah merintih kesakitan. Akhirnya proses penyatuan dua tubuh itu pun terhenti begitu saja.Selesai mandi Raven kembali ke kamar. Sepasang matanya langsung dihadapkan pada pemandangan yang membuatnya menghela napas. Aline sedang meringkuk di ranjang sambil menangis.Raven berjalan mendekat lalu duduk di pinggir tempat tidur mereka. “Udahlah, Lin, nggak usah sedih.” “Gimana aku nggak sedih, aku nggak ada gunanya buat kamu. Aku cacat, aku nggak sempurna. Aku nggak bisa menjadi istri yang baik. Bahkan untuk sekadar melayani kamu aku

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-18
  • Istri Pesanan CEO   Diusir Paksa

    Kanya memandangi Raven sesaat dengan sorot meminta penjelasan. Raven membalas Kanya dengan tatapan tanpa kedip. Kanya kemudian menjadi paham apa yang Raven maksudkan. Suaminya itu ingin mereka bersandiwara.“Baik, Pak,” ucap Kanya pelan kemudian melarikan diri ke belakang bersama batinnya yang perih. Meski semua ini hanya sandiwara, namun Kanya tidak akan mengingkari jika perasaannya sangat sedih saat ini.Di ruang belakang, Kanya mengambil gelas kemudian membuatkan minuman seperti yang dikehendaki Raven.“Bu Kanya sedang apa di sini?” tegur Titik melihat keberadaan Kanya di sana.“Saya mau bikin minuman untuk tamu Raven, Bi,” jawab Kanya sembari menuangkan sirup ke dalam gelas.“Kenapa Ibu Kanya yang bikin? Biar saya saja, Bu.” Titik bermaksud untuk mengambilnya dari Kanya, tapi Kanya bertahan agar dirinya yang melakukan.“Biar saya, Bi, ini sudah hampir siap. Kalau pekerjaan Bibi sudah selesai Bibi istirahat saja di kamar."Karena Kanya terus memaksa untuk melakukannya sendiri, Titi

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-18

Bab terbaru

  • Istri Pesanan CEO   Happy Ending

    Raven termangu sekian lama sambil memandang nanar cincin yang diberikan Kanya langsung ke telapak tangannya.“Nggak bisa begitu, Nya. Kamu nggak bisa membatalkan pernikahan kita hanya karena Qiandra terbukti sebagai anak Davva. Kita sudah merencanakan semua ini dengan matang. Undangan sudah dicetak, gedung sudah di-booking, belum lagi yang lainnya,” tukas Raven tidak terima. Ini bukan hanya semata-mata perihal persiapan pernikahan, melainkan tentang perasaannya pada Kanya. Ia tidak rela melepas Kanya justru setelah perempuan itu berada di genggamannya.“Rav, mengertilah, aku nggak bisa,” jawab Kanya putus asa. Entah bagaimana lagi caranya menjelaskan pada Raven bahwa dirinya benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan mereka.“Kamu minta aku untuk mengerti kamu, tapi apa kamu mengerti aku? Alasan kamu nggak jelas. Kenapa baru sekarang kamu bilang nggak bisa menikah denganku? Kenapa bukan dari sebelum-sebelumnya? Kenapa setelah kedatangan Davva? Semua ini terlalu lucu untuk disebut hany

  • Istri Pesanan CEO   Cinta Saja Tidak Cukup

    Waktu saat ini menunjukkan pukul satu malam waktu Indonesia bagian barat, tapi tidak sepicing pun Kanya mampu memejamkan matanya. Adegan demi adegan tadi siang terus membayang. Saat ia bertemu dengan Davva, bicara berdua dari hati ke hati, serta mengungkapkan langsung kegalauannya pada laki-laki itu. Dan Davva dengan begitu bijak menjawab saat Kanya menanyakan apa ia harus memikirkan lagi hubungannya dengan Raven.“Aku rasa aku butuh waktu untuk mengkaji ulang hubungan dengan Raven. Aku nggak mau gagal lagi seperti dulu. Menurut kamu gimana kalau misalnya aku menunda atau membatalkan pernikahan itu?”Davva terlihat kaget mendengar pertanyaan Kanya. Ia memindai raut Kanya dengan seksama demi meyakinkan jika Kanya sungguh-sungguh bertanya padanya. Dan hasilnya adalah Davva melihat keraguan yang begitu kentara di wajah Kanya.“Aku bingung, aku nggak mau gagal lagi.” Kanya mengucapkannya sekali lagi sambil menatap Davva dengan intens.“Follow your heart, Nya. Ikuti apa kata hatimu. Dan ja

  • Istri Pesanan CEO   Kesadaran Yang Menghampiri

    Kanya tersentak ketika mendengar ketukan di depan pintu. Pasti itu Raven yang datang, pikirnya. Beberapa hari ini memang tidak bertemu dengan laki-laki itu. Bukan karena mereka ada masalah, tapi karena Kanya sedang butuh waktu untuk sendiri.Mengayunkan langkah ke depan, Kanya membuka pintu. Tubuhnya membeku seketika begitu mengetahui siapa yang saat ini berdiri tegak di hadapannya. Bukan Raven seperti yang tadi menjadi dugaannya, tapi ...“Dav ...”Davva membalas gumaman Kanya dengan membawa perempuan itu ke dalam pelukannya.“Aku baru tahu semuanya dari Raven. Aku minta maaf karena waktu itu ninggalin kamu. Aku nggak tahu kalau kamu hamil anak kita,” bisik Davva pelan penuh penyesalan.“Kamu nggak salah, Dav, aku yang salah. Aku pikir Qiandra anak Raven,” isak Kanya dalam dekapan laki-laki itu.Kenyataan bahwa Qiandra adalah darah daging Davva membuat Kanya begitu terpukul. Beberapa hari ini ia merenungi diri dan menyesali betapa bodoh dirinya yang tidak tahu mengenai hal tersebut.

  • Istri Pesanan CEO   Pulang

    Davva menegakkan duduknya lalu memfokuskan pendengarannya pada Raven yang menelepon dari benua yang berbeda dengannya.“Sorry, Rav, ini kita lagi membicarakan siapa? Baby girl apa maksudnya?” Davva ingin Raven memperjelas maksud ucapannya. Apa mungkin Raven salah orang? “Ini aku Davva. Kamu yakin yang mau ditelepon Davva aku? Atau mungkin Davva yang lain tapi salah dial?”“Aku nggak salah orang. Hanya ada satu Davva yang berhubungan dengan hidupku dan Kanya, yaitu kamu," tegas Raven.Perasaaan Davva semakin tegang mendengarnya, apalagi mendengar nada serius dari nada suara Raven.“Jadi maksudnya baby girl apa? Kenapa kasih selamat sama aku?” tanya Davva tidak mengerti. Justru seharusnya Davvalah yang menyampaikan ucapan tersebut pada Raven karena dialah yang berada di posisi itu.“Aku tahu semua ini nggak akan cukup kalau hanya disampaikan melalui telepon. Ceritanya panjang. Tapi aku harus bilang sekarang kalau Qiandra adalah anak kandung kamu, Dav. Dia bukan darah dagingku. Hasil tes

  • Istri Pesanan CEO   Karena Darah Lebih Kental Daripada Air

    Kanya mengajak Raven keluar dari ruangan dokter. Mereka tidak mungkin berdebat apalagi sampai bertengkar di sana.“Jawab pertanyaanku, Nya, siapa bapak anak itu?” Raven kembali mendesak setelah mereka tiba di luar.Kanya menggelengkan kepala. Bukan karena tidak tahu, tapi juga akibat syok mendapati kenyataan yang tidak disangka-sangka.“Jadi kamu nggak tahu siapa bapak anak itu? Memangnya berapa banyak lelaki yang meniduri kamu, Nya?” Kanya membuat Raven hampir saja terpancing emosi.“Jangan pernah menuduhkku sembarangan, Rav! Aku bukan perempuan murahan yang akan tidur dengan laki-laki sembarangan! Aku masih punya harga diri,” bantah Kanya membela diri.“Tapi hasil tes itu nggak mungkin berbohong, Kanya!” ucap Raven gregetan. “Ini rumah sakit internasional, tenaga medis di sini juga profesional. Mereka nggak akan mungkin salah menentukan hasil tes. Jangan kamu pikir mamaku yang mengacaukan agar hasilnya berbeda. Ini kehidupan nyata, Kanya, bukan adegan sinetron!”Suara tinggi Raven m

  • Istri Pesanan CEO   Hasil Tes DNA

    “Kanya, aku rasa sudah saatnya kita lakukan tes DNA. Aku nggak mau menunggu lagi. Aku nggak bisa melihat kamu mengurus anak-anak kita sendiri.”Kanya menolehkan kepalanya kala mendengar ucapan Raven.Hari ini baby Qiandra berumur satu bulan. Kanya sudah sejak lama pulang dari rumah sakit. Kondisinya pasca persalinan juga sangat baik.Setelah saat itu Raven datang ke rumah sakit, Davva pergi tiba-tiba. Padahal Raven ingin mengucapkan terima kasih padanya.“Siang ini aku harus pulang ke NY, Nya.” Itu alasan Davva saat Kanya menelepon menanyakan keberadaannya.“Tapi kenapa kamu pergi nggak bilang aku dulu?”“Maaf banget ya, Nya, aku ada panggilan mendadak dan nggak sempat bilang ke kamu.”Setelah hari itu Kanya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Davva. Davva sibuk dengan pekerjaannya, Kanya juga sedang menikmati hari-harinya memiliki buah hati yang baru.“Kanya! Gimana?” tegur Raven meminta jawaban lantaran Kanya tidak menjawab.“Harus banget ya tes DNA itu?” Kanya masih merasa keber

  • Istri Pesanan CEO   Tahu Diri

    Pria itu baru saja keluar dari mobil lalu menarik langkah cepat. Ia mengangguk sepintas pada seseorang saat berpapasan. Entah siapa orang itu tidak terekam di benaknya. Ia hanya ingin segera tiba secepatnya di kamar lalu beristirahat sepuasnya.Smart lock kamarnya berbunyi kecil saat mendeteksi kesesuaian. Pintu kamar pun terbuka.Raven—lelaki itu langsung masuk. Begitu melihat hamparan kasur ia langsung menghambur. Hari ini begitu melelahkan. Pertemuan serta dengar pendapat dengan pemerintah daerah tadi siang berlangsung dengan alot. Pemerintah setempat memberi banyak tuntutan yang kurang masuk akal kepada para pengusaha yang sebagian besar tidak bisa mereka penuhi.Tatapan Raven berlabuh pada benda seukuran telapak tangan yang terselip di antara bantal. Ternyata Raven lupa membawa ponselnya yang ternyata berada dalam keadaan mati.Sambil berbaring Raven menyalakannya. Beberapa detik kemudian setelah mendapat sinyal, notifikasinya berdenting. Raven terkesiap ketika membaca pesan dari

  • Istri Pesanan CEO   Segalanya Untuk Kanya

    Sedikit pun tidak terlintas di pikiran Kanya bahwa dirinya akan menghadapi hal menakjubkan di dalam hidupnya, yaitu melakukan persalinan sendiri tanpa bantuan tenaga medis dan terjadi di tempat yang sama sekali tidak disangka-sangka.Setelah melahirkan di toilet SPBU ditemani Davva, Kanya mendapat pertolongan dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Cerita tentang persalinan di toilet tersebut menjadi buah bibir di sekitar tempat itu, tapi untung tidak sampai viral, karena Kanya tidak ingin populer dengan cara tersebut.Setelah proses observasi, saat ini Kanya berada di ruang rawat. Kondisi Kanya masih terlihat lemah karena kehilangan banyak energi. Tapi perasaan bahagia yang begitu dalam menyelimuti hatinya melihat bayi perempuan yang dilahirkannya begitu sehat, normal, serta lengkap seluruh organ tubuhnya. Bayi mungil itu saat ini berada di dalam box yang diletakkan di samping tempat tidur Kanya.Monic begitu gembira karena pada akhirnya keinginan anak itu untuk memiliki adik perempuan m

  • Istri Pesanan CEO   Melahirkan Anakmu Bersamamu

    “Kanya, maaf sekali, aku nggak bisa menemani kamu lahiran.”Kanya yang saat itu sedang menyesap juice apel refleks memandang ke arah Raven kala mendengar ucapan laki-laki itu. Bagaimana tidak, mereka sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Bahkan Raven sudah mem-booking rumah sakit terbaik untuk proses persalinan Kanya. Lalu dengan seenaknya sekarang Raven mengatakan tidak bisa.Raven mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa ia akan menjelaskan alasannya pada Kanya sebelum perempuan itu mengajukan aksi protes.“Aku baru mendapat telepon dari asistenku di daerah. Dia bilang ada undangan untuk pertemuan dari pemerintah daerah setempat, dan itu nggak bisa diwakilkan. Bukan hanya aku tapi semua pengusaha sawit yang berada di sana,” jelas Raven menyampaikan alasannya.Kanya memahami argumen Raven. Dalam hal ini ia tidak boleh egois dengan memikirkan dirinya sendiri. Ia juga harus mendukung karir Raven.“Nggak apa-apa, Rav, pergilah,” jawab Kanya merelakan.Raven memindai wajah Kanya, mencoba

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status