Share

Bab 62

Author: kamiya san
last update Last Updated: 2025-02-08 10:05:16

Sazlina memandang pintu kamar yang menutup sambil menangis.

“Apa dia sudah punya wanita lain…?” bisik Sazlina meratap.

Rasa sedih dan terhina membuat terus menangis. Kesal pun, harusnya tidak perlu melibatkan perasaan yang menjadikan hati berharap. Patutnya menikah hanya demi menutup status sebagai perawaan tua yang dilangkahi.

Ternyata tidak, penolakan Khaisan di malam pertama pengantin telah membuat Sazlina amat sedih. Menduga jika suaminya sudah punya wanita yang dicinta hingga tidak ingin menyentuhnya.

Meski memang lambat menikah, tetapi Sazlina percaya jika lelaki mana pun akan tergoda bila memandangnya dengan penampilan seterbuka begini . Tetapi Khaisan… bahkan sudah keluar kamar tanpa basa-basi apalagi menolehnya! Sakit, tetap saja sakit!

Di luar kamar….

Khaisan agak terkejut, mengira jika orang tuanya sudah pergi dari rumah ini, ternyata masih berbincang di depan televisi.

“Hei, Kha! Ngapain keluar? Nggak sopan ninggalin istri sendiri di kamar! Ini hampir tengah malam!
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
mommy can
kak gaya bahasa di kisah zaslina sama kasian ni kog agak kaku gtu yaa ..dibuat agak manis gtu dong..n romantis oh kasian salah paham ya ngira si Hanum udah nggak perawan padahal masih tingting...... kasian deh si kasian.. makannya duduk berdua dong ngobrol dari hati ke hati jangan asal tuduh ih..
goodnovel comment avatar
mommy can
ditunggu double updatenya Kaka
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 63

    Khaisan sedang menutup telepon dan menggeret koper saat Sazlina menyusul masuk ke dalam kamar. Berhenti setelah pintu kamar kembali menutup rapat.“Bersiaplah, kita berangkat duluan saja. Biarkan mereka menyusul!” ucapnya dengan menatap teduh pada Sazlina. Bagaimanapun memahami perasaan wanita yang sedang berusaha menahan tangisan di depannya. “Aku ingin menunggu ibuku…,” ucap Sazlina ingin menolak. Bimbang sangat besar yang dirasa. Bagaimana bisa telah menyanggupi untuk ikut lelaki yang sangat asing ke negeri orang? Sedang lelaki itu tidak mau menjamin bahagianya. Meski dia adalah suami nya sekalipun! “Tadi pagi kita sudah minta restu. Ibumu justru terlihat bahagia. Jika kita belum pergi, ibumu pasti akan kecewa!” tegas Khaisan bermaksud membujuk. “Untuk apa aku ikut…?” tanya Sazlina masih merasa ragu. “Tentu saja sebagai bukti jika aku sudah punya istri.” Khaisan menyahut cepat tanpa beban. “Jadi, hanya untuk dipamerkan?” Sazlina menahan sesak di dada. Berusaha ikhlas dan taba

    Last Updated : 2025-02-09
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 64

    Total waktu penerbangan selama dua belas jam dari Surabaya yang sempat singgah di Jakarta dengan tujuan Tokyo di Bandar Udara Internasional Narita pun berakhir. Mereka sampai di malam hari dan mendekati tengah malam. Sungguh melelahkan. “Mas bawakan koperku, aku mau ke toilet.” Clara mengulurkan koper warna kuning ke dekat Khaisan dan melenggang pergi menuju arah toilet. Sazlina yang juga ingin ke toilet pun menahan diri sebab enggan bersembang lagi dengan Clara di tempat yang seharusnya berasa nyaman dan santai. “Aku buru-buru, jika ingin ke toilet lekaslah.” Khaisan bicara seolah bisa membaca ekspresi Sazlina yang menahan rasa. “Duluan saja, nanti aku menyusul.” Sazlina menolak didesak juga tidak ingin membebani. “Aku tidak mau repot jika kamu gagal menyusulku.” Khaisan berkata tegas sambil mengedar pandangan pada banyak orang di dalam bandara saat malam. “Habis ini memang tujuannya ke mana?” tanya Sazlina tenang. Merasa jika Khaisan mungkin lupa dirinya pernah sebagai pendata

    Last Updated : 2025-02-09
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 65

    Meski ingin menangis dan nelangsa, Khaisan bersikap seperti tanpa aba-aba yang kini sudah tanpa sehelai pun benang di badan, Sazlina tidak ingkar jika semua adalah inginnya yang sadar. Telah memulai dan memancing, sengaja membangunkan buaya darat untuk siuman. Demikian juga Khaisan yang sudah siaga sekarang. Tubuh tegap sempurna tak berbaju bak pawang kolam renang itu sedikit mendekat tanpa segan pada Sazlina. Dengan burung bagusnya yang tak lagi di sarang dan telah gagah mengembang siap terbang ke awang. Khaisan menatap dalam wajah Sazlina “Kamu ingin tahu, apa guna Clara?” tanyanya dengan wajah memerah dan tegang. Tatapan dalam itu membuat Sazlina jadi gentar. Bayang jika akan diperlakukan kasar mendadak mendera. Sekali lagi sebab terlanjur basah dan pasrah sebagai istri sah pun membuatnya lebih tenang. Juga menimbang jika Khaisan adalah lelaki berwawasan dan dari keluarga baik-baik yang bahkan mamanya adalah teman baik ibunya. Setidaknya dengan fakta tersebut, lelaki good look

    Last Updated : 2025-02-10
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 66

    Khaisan berjalan cepat sebab penasaran. Perempuan berhijab serta bergamis panjang itu turun tangga dengan langkah cepat dan kini menuju ruang makan yang sama tujuan dengannya. Siapa? Clara… ah, bisa jadi, mungkin gadis itu belum mandi. Mengingat hanya dia di rumah ini yang tergerak hati untuk menutup diri dengan busana syar'i meski tidak jarang ditanggalkan. Tetapi, Clara dari mana? Bukankah kamarnya di ujung? Namun, siapa sosok pembuat penasaran itu segera terjawab saat Khaisan menarik kursi di meja makan dan menghadap perempuan itu. Sazlina…! “Akan ke mana kamu, Saz?” tanya Khaisan tidak tahan membungkam. Merasa heran dengan penampilan Sazlina yang tidak seperti biasanya. “Tidak ke mana-mana. Aku hanya ingin menutup aurat dan berbaju layak sebagai muslimah. Meski… ilmu agamaku tidak sedalam palung dan hanyalah sebatas parit.” Sazlina menyahut cepat dengan ekspresi yang biasa. Seolah kejadian menyakitkan dalam kamar mandi dengan Khaisan tidak pernah terjadi. “Siapa yang tidak b

    Last Updated : 2025-02-10
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 67

    Sazlina membiarkan diri terus dipelluk oleh lelaki yang sedang menatap heran padanya. Tangan Sazlina dapat merasa detak jantung yang laju di dadda Khaisan. Mungkin lelaki itu masih merasa terkejut dan panik saat menangkap dirinya yang hampir terjengkang. “Saz…,” ucap Khaisan sambil menatap dalam mata coklat milik wanita yang mematung di pelukan. “Iya, ada apa? Kenapa tidak fokus dan buru-buru hingga menabrak? Padahal aku sudah menepi…,” tanya Sazlina sambil bergerak dengan menepuk-nepuk lembut jas biru tua di dadaa Khaisan. Tidak ingin debaran hatinya yang kencang dirasa oleh lelaki yang rapat memeluknya. “Mereka semua sedang menunggu di taman. Kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Khaisan yang masih urung mengalihkan tatapan pada wajah Sazlina.“Jadi seperti ini bagaimana? Apa kamu masih merasa malu untuk membawaku ke taman? Aku sudah ke salon, kuharap aku tidak akan membuatmu malu lagi. Apa aku tidak….”“Cantik. Kamu terlihat cantik dan memesona, Saz. Terima kasih.” Khaisan memoto

    Last Updated : 2025-02-11
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 68

    Khaisan telah sedikit membungkuk satu kali pada orang-orang di meja. Mereka adalah orangnya Daishin sebagai para staff pengurus agensi model dan tour guide milik adik sepupu jauhnya itu. Sazlina sedang menyambut hadirnya dengan tatapan bersalah. “Selamat, Mas! Nggak nyangka tiba-tiba menikah …!” sambut lelaki tampan yang berdiri di samping Sazlina. Kali ini mereka tak saling angguk atau saling bungkuk, tetapi Khaisan dan Daishin telah bersalam tangan. “Kalian seperti sudah saling kenal?” tanya Khaisan tidak ingin menutup rasa ingin tahunya. Daishin telah menjauh lagi setelah berjabatan. “Tentu saja, Mas. Istrimu itu ternyata Sazlin! Perempuan Indonesia mahal yang pernah aku ceritakan waktu itu!” Daishin bicara sungguh-sungguh. Khaisan tampak terkejut. “Benarkah? Seingatku, kamu tidak pernah mengatakan tentang perempuan mahal di agensimu. Namun, aku tidak lupa kamu pernah cerita memiliki anggota wanita yang jual mahal. Jadi wanita itu istriku-kah, Daishin?” Khaisan berbicara dan

    Last Updated : 2025-02-11
  • Istri Perawan Disangka Janda   Ban 69

    Khaisan menyipit mata pada Sazlina tetapi dengan sorot tajam. Tidak membalas senyum Sazlina yang mengandung ejekan padanya. “Seharusnya kamu sudah gendut dengan perut buncit! Bisa-bisanya makan ngebut seperti itu,” cela Khaisan untuk membalas ekspresi Sazlina yang remeh padanya. “Berapa tahun usiamu, tiga puluh tujuh tahun… selama itu tinggal di Jepang? Ternyata kalah cepat makan pakai sumpit denganku? Ha… ha…!” Tawa Sazlina lepas dan tidak dibuat-buat. Kontras dengan ekspresi Khaisan yang kaku. “Aku lahir di Indonesia. PAUD, TK dan SD pun di Surabaya. Bukan puluhan tahun di sini, usiaku juga belum tiga tujuh, Sazlina!” protes keras Khaisan. “Eleeeh, gak perlu protes, sudah di hujung tiga enam, bentar lagi pun tiga tujuh, buat apa ditutup-tutupi. Kalo udah tua sih, tua aja! Ha… ha…,” ucap Sazlina mengejek. Tawanya justru kian cekikikan. Khaisan membungkam tanpa senyum. “Aku malahan suka dibilang usia tiga puluh meski nyatanya di hitungan bulan masih jauh. Di usia tiga puluh, itu

    Last Updated : 2025-02-12
  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 70

    Akhirnya semua tamu undangan dan kerabat habis berpamitan. Kembali ke tempat tinggal yang domisili mereka pun menyebar. Beberapa dari Osaka, Kyoto, Hiroshima, Nagoya dan paling banyak adalah domisili di Tokyo. “Alhamdulillah, akhirnya…,” ucap Hana terlihat lega dengan penuh senyum lebar. Dirinya yang hendak duduk sebentar tiba-tiba berdiri. “Hei… Khaisan!” serunya pada anak lelaki yang baru berbalik dan akan berjalan pergi. “Mau ke mana kamu?! Ini Sazlina, kenapa nggak digandeng lagi heh?!” Hana sengaja berseru. Samuel, suaminya yang sudah pergi ke mushola di pojok taman, berhenti di teras mushola dan memperhatikan. Waktu sudah masuk adzan maghrib. Dari jauh pun berkumandang dari Masjid Tokyo Camii yang alunan adzan-nya kebetulan menjangkau area perumahan. “Khaisan…!” tegur Hana lagi. Sebab Khaisan hanya berdiri diam dengan tatapan datar tanpa ekspresi. “Aku buru-buru, Ma! Ingin ngambil sarung sama peci, Papa ngajak jamaah!” Khaisan menyahut tegas. Sambil melirik sekilas pada Sa

    Last Updated : 2025-02-12

Latest chapter

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 156

    Memang lelaki, konon … meski tidak memakai hati, tetapi napsu dan hasrat terus menyala panas melebihi bara api. Begitu pun Daishin. Rasa kesal dengan niat sekadar menggoda, pada akhirnya seperti lupa diri. Mengakui jika tampilan Osara terlalu membuat lena yang akan menyeretnya hingga seperti gila. Benar-benar lupa dengan batasan bahwa gadis itu masih berstatus saudara baginya. Juga abai pada aturan hingga dirinya mulai membuat lagi dosa besar.Tap (Lampu kamar mandi menyala) Tap (Lampu meja di samping ranjang menyala) Tap (Lampu di depan pintu menyala) Seperti lepas posisi jantung di dadanya. Kondisi gelap gulita berubah terang benderang. Cahaya silau seperti menusuk dalam di mata Daishin yang redup. Sesaat.... Sebab rasa tertusuk dan silau oleh lampu, terganti dengan pemandangan memabukkan dari Osara yang hampir telanjangg sebab ulahnya. Hasrat dalam jiwa kembali menggelegak hingga ke ubun di kepala. Namun…. “Maafkan aku, Osa!” ucap Daishin setelah terkesiap dengan kedua mata

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 155

    “Shiin!” Seruan Osara terdengar gemetar dan ragu. Daishin tidak jadi membuka pintu kamar saat merasa kemeja piyamanya tertarik keras ke belakang hingga membuat kerahnya mencekik leher. Merasa ini perbuatan Osara yang random dan tidak cukup hanya memanggil. “Apalah kau ini, Osa!” Daishin merasa kesal dengan cara gadis itu menahan langkahnya. Bahkan kepala pun ikut mendongak ke atas. Memanggil ragu tetapi tarikan di baju kelewat kencang. Rada-rada memang. “Berapa lama mati lampu…?” tanya Osa dalam gelap. Masih menarik kuat ujung kemeja belakangnya. Ponsel Daishin sudah benar-benar tidak berdaya menyala. Sedang punya Osara diletak sembarangan dalam koper bersama tas cantiknya begitu saja sebab buru-buru. “Aku tidak tahu, biasanya lama.” Daishin menyahut susah sambil berdecak samar. Menduga Osara takut gelap seperti perempuan pada umumnya, menyimpan sikap manja terpendam. “Kamu jangan narik kemeja gini, ah! Kepalaku bisa nengkleng. Ketampananku bisa aus sebelum mencapai lansia.” Dai

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 154

    Osara tidak menyadari jika salah kamar. Bahkan dirinya hampir tertidur pulas saat Daishin menelponnya dan berkabar bahwa kamar mereka telah tertukar. Maklum, hanya dari koper pribadinya semua keperluan dia ambil. Secara kasat mata memang seperti kamar hotel pada umumnya. Serba warna putih. Namun, aroma kamar yang maskulin memang mencolok dan ini diabaikan Osara. Kini baru disadari jika isi dalam almari memang full barangan pribadi milik lelaki. Boxer, kaos dalam dan kaus kaki besar yang semua serba warna hitam. Juga beberapa piyama polos navy yang modelan lelaki. Serta T-shirt keren yang semuanya berwarna gelap khas pujaan lelaki. “Ish, ada ada saja, pria brengsek, pasti sengaja!” Osara sangat kesal hingga merutuki sambil menyeret koper keluar kamarnya. Meski lengang dan larut, terpaksa ditempuh demi sikap baiknya yang terpendam. Menuju lantai sembilan di nomor kamar yang sudah Daishin sebutkan. Meski ada rasa trauma dan takut akan kejadian waktu itu, tetapi salah kamar yang mem

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 153

    Sebab tidak ingin menjadi obat nyamuk. Daishin memilih duduk di meja sendiri dan makan dengan santai tanpa perlu berhadapan dengan dua manusia yang di matanya sungguh kekanakan. Namun, membiarkan juga saat tagihan di mejanya dibayarkan oleh teman Osara bernama Tengku itu. Daishin juga acuh tak acuh saat lelaki muda itu terlihat segan yang mungkin sudah menganggapnya calon kakak ipar. “Begitu ya, kelakuanmu di luaran? Orang tua menganggap kamu gadis baik, sampai dicarikan jodoh sultan, nyatanya kamu punya laki-laki di sini?” Daishin menegur Osa setelah saling diam di sepanjang jalan pulang. Tengku adalah orang yang mengantar mereka menuju hotel dan baru saja berlalu. “Kamu kuno sekali. Makan dan ketemuan model gini bukankah lazim? Ini cuma pendekatan dan bukan lamaran. Untuk apa diakui di depan keluarga kalo cuma sebatas makan malam. Aku bukan gadis brengsek. Hari itu aku menolak Firash sebab sudah ada Tengku yang kusaka dan sepertinya dia juga sama. Aku berencana kembali ke Jepang.

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 122

    Daishin yang terbang ke Jepang lebih cepat beberapa hari daripada Osara, hari ini terpaksa kembali ke bandara untuk menjemput kedatangan gadis itu malam ini. Mama Azizah dan Papa Handy akan menyusul dua hari kemudian. Setelah dirasa kesehatan papanya benar-benar fit tanpa keluhan. Daishin baru saja berdiri di pintu kedatangan saat dari jauh terlihat calon istri dadakannya mendorong koper baru yang berwarna coklat susu. Setelah berada dekat dan mereka saling menghampiri, sangat jelas jika wajah cantik Osara sangat masam dan tanpa senyum memandangnya. “Sudah kubilang, tidak perlu jemput aku. Temanku sudah siaga menyambutku.” Osara berkata dingin seperti biasa belakangan ini. Sikapnya pada Daishin kembali ketus dan kaku setelah mereka dijodohkan. Sikap membaik saat saling dukung untuk mendapat video bukti Firash waktu lalu, kini hilang tak tersisa. “Mana temanmu? Jika siaga harusnya sudah di sini.” Daishin menyahut datar. “Dia masih dalam perjalanan. Lambat beberapa menit hingga bela

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 151

    Kamar ICU di rumah sakit terasa sungguh sunyi, hanya suara mesin pemantau jantung yang berbunyi pelan di samping ranjang. Osara duduk di kursi, matanya sembab, sementara Daishin berdiri dengan wajah muram di dekat jendela.Sama-sama sedang merasa cemas dan merasa bersalah. Terlebih beberapa kali tatapan Mama Azizah yang tajam seperti sedang mengiris dan menguliti. Di atas ranjang, Papa Handy berbaring lemah meski kesadarannya sudah kembali. Wajah memucat tetapi matanya tetap memancar sorot tegas. "Aku hanya ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi," suara Papa Handy terdengar lirih namun penuh harapan. Kembali mengungkit perkara penyebab kambuh sakitnya. Osara menggigit bibir. "Tapi, Pa ... jangan bicara seperti itu. Kumohon, mengertilah. Kami tidak saling mencintai. Aku juga tidak terpikir untuk menikah dengannya. Keinginan Papa, aku tidak bisa." Osa bersikeras pelan dan hati2. Daishin yang sudah berdiri di sebelahnya pun mengangguk. "Ini bukan hal yang bisa kami jalani beg

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 150

    Orang-orang di ruang tamu terbelalak. Bahkan juga Osara. Tetapi semua bungkam dan mematung memandang Daishin. Pengakuannya barusan terdengar tidak masuk akal bagi Papa Handy dan Mama Azizah. Osara sungguh heran, tidak menyangka Daishin tiba-tiba mengaku yang sebenarnya. Waswas pada Papa Handy, takut jantung di dada tua itu kembali bermasalah. Lagi-lagi itu membuatnya merasa selalu jadi penyebab segala ketidaknyamanan belakangan ini. Padahal, Osara berharap semua berlalu begitu saja tanpa perlu mencium bangkai dalam rumah di keluarganya. Justru kecewa dan sangat terkejut akan pengakuan Daishin yang tiba-tiba. Sayang, tidak ada kesempatan untuk melarang Daishin membuat pengakuan. “Duh, Shin …. Bicara apa kamu ini? Ucapkan istighfar. Sana ucap istighfar, Nak. Hal begitu tidak boleh buat candaan dan main-main,” Mama Azizah yang akhirnya memecah kebisuan. Memang sama sekali tidak percaya. “Iya, ngomong apa sih? Kamu nggak lihat keadaan! Bercanda nggak kira-kira!” Osara ikut nenimpali

  • Istri Perawan Disangka Janda   Ban 149

    Sebab ucapan Firash, Papa Handy seperti sedang kebakaran jenggot. Sangat tidak terima dan menganggap tuduhan itu hanyalah alibi Firash yang mengada-ngada. “Jangan ucap fitnah secara ceroboh demi menutup aibmu sendiri, Firash.” Papa Handy bicara dengan nafas yang seolah hanya sampai di tekak. Terlalu marah hingga susah berkata-kata. Napasnya pun memburu tiba-tiba. “Siapa yang berkata fitnah, Om? Ha ha ha, aib anak orang di seberang benua sebesar gajah. Aib anak sendiri di lubang hidung tak terendus. Pandai sangat ya Osara kau?!” ucap Firash tampak puas dengan senyum lebarnya pada Osara. Lelah menatap marah pada Firash, kini tatapan Papa Handy bergeser pada Osara. Anak angkat yang sedang diperjuangkannya itu justru menunduk dengan tangisan. Seketika tatapan Papa Handy berubah nyalang sebab perasaannya tiba-tiba tidak enak. Bukan marah, menyangkal atau mengumpat tidak terima, tetapi Osara justru menangis. Ah, respon macam apa itu?! Papa Handy merasa harus terbiasa menghadapi Osara.

  • Istri Perawan Disangka Janda   Bab 148

    Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi matahari belum terbit di bumi jiran, Malaysia. Maklum, waktu subuh pun tiba sekitar pukul enam pagi. Meski perbedaan waktu hanya 1 jam lebih cepat dengan waktu di Indonesia bagian barat, tetapi perbedaan waktu ini sungguh mencolok. Namun, sebenarnya waktu di Malaysia ini memberi kemudahan kepada seluruh warga. Khususnya bagi muslim. Kenapa? Tentu jatuh waktu begini lebih membuat ringan. Bisa bangun pagi sekalian shalat subuh sambung pergi kerja. Sebab, waktu efektif kerja pun dimulai pukul tujuh pagi. Berbeda tantangan dengan di Indonesia bagian barat. Serba nanggung rasanya, subuh pukul empat lebih, sedang waktu efektif kerja pukul tujuh. Habis subuh tidur dulu. Alhasil bangun tidur kepala jadinya pening! Apa kamu pun begitu? Namun, ada waktu di Indonesia yang bersamaan dengan waktu di Malaysia. Yakni di wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah. Tidak ada selisih waktu dengan di Malaysia! Osara turun tangga dengan penampilan yang sudah rapi da

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status