Sazlina membiarkan diri terus dipelluk oleh lelaki yang sedang menatap heran padanya. Tangan Sazlina dapat merasa detak jantung yang laju di dadda Khaisan. Mungkin lelaki itu masih merasa terkejut dan panik saat menangkap dirinya yang hampir terjengkang. “Saz…,” ucap Khaisan sambil menatap dalam mata coklat milik wanita yang mematung di pelukan. “Iya, ada apa? Kenapa tidak fokus dan buru-buru hingga menabrak? Padahal aku sudah menepi…,” tanya Sazlina sambil bergerak dengan menepuk-nepuk lembut jas biru tua di dadaa Khaisan. Tidak ingin debaran hatinya yang kencang dirasa oleh lelaki yang rapat memeluknya. “Mereka semua sedang menunggu di taman. Kenapa kamu jadi seperti ini?” tanya Khaisan yang masih urung mengalihkan tatapan pada wajah Sazlina.“Jadi seperti ini bagaimana? Apa kamu masih merasa malu untuk membawaku ke taman? Aku sudah ke salon, kuharap aku tidak akan membuatmu malu lagi. Apa aku tidak….”“Cantik. Kamu terlihat cantik dan memesona, Saz. Terima kasih.” Khaisan memoto
Khaisan telah sedikit membungkuk satu kali pada orang-orang di meja. Mereka adalah orangnya Daishin sebagai para staff pengurus agensi model dan tour guide milik adik sepupu jauhnya itu. Sazlina sedang menyambut hadirnya dengan tatapan bersalah. “Selamat, Mas! Nggak nyangka tiba-tiba menikah …!” sambut lelaki tampan yang berdiri di samping Sazlina. Kali ini mereka tak saling angguk atau saling bungkuk, tetapi Khaisan dan Daishin telah bersalam tangan. “Kalian seperti sudah saling kenal?” tanya Khaisan tidak ingin menutup rasa ingin tahunya. Daishin telah menjauh lagi setelah berjabatan. “Tentu saja, Mas. Istrimu itu ternyata Sazlin! Perempuan Indonesia mahal yang pernah aku ceritakan waktu itu!” Daishin bicara sungguh-sungguh. Khaisan tampak terkejut. “Benarkah? Seingatku, kamu tidak pernah mengatakan tentang perempuan mahal di agensimu. Namun, aku tidak lupa kamu pernah cerita memiliki anggota wanita yang jual mahal. Jadi wanita itu istriku-kah, Daishin?” Khaisan berbicara dan
Khaisan menyipit mata pada Sazlina tetapi dengan sorot tajam. Tidak membalas senyum Sazlina yang mengandung ejekan padanya. “Seharusnya kamu sudah gendut dengan perut buncit! Bisa-bisanya makan ngebut seperti itu,” cela Khaisan untuk membalas ekspresi Sazlina yang remeh padanya. “Berapa tahun usiamu, tiga puluh tujuh tahun… selama itu tinggal di Jepang? Ternyata kalah cepat makan pakai sumpit denganku? Ha… ha…!” Tawa Sazlina lepas dan tidak dibuat-buat. Kontras dengan ekspresi Khaisan yang kaku. “Aku lahir di Indonesia. PAUD, TK dan SD pun di Surabaya. Bukan puluhan tahun di sini, usiaku juga belum tiga tujuh, Sazlina!” protes keras Khaisan. “Eleeeh, gak perlu protes, sudah di hujung tiga enam, bentar lagi pun tiga tujuh, buat apa ditutup-tutupi. Kalo udah tua sih, tua aja! Ha… ha…,” ucap Sazlina mengejek. Tawanya justru kian cekikikan. Khaisan membungkam tanpa senyum. “Aku malahan suka dibilang usia tiga puluh meski nyatanya di hitungan bulan masih jauh. Di usia tiga puluh, itu
Akhirnya semua tamu undangan dan kerabat habis berpamitan. Kembali ke tempat tinggal yang domisili mereka pun menyebar. Beberapa dari Osaka, Kyoto, Hiroshima, Nagoya dan paling banyak adalah domisili di Tokyo. “Alhamdulillah, akhirnya…,” ucap Hana terlihat lega dengan penuh senyum lebar. Dirinya yang hendak duduk sebentar tiba-tiba berdiri. “Hei… Khaisan!” serunya pada anak lelaki yang baru berbalik dan akan berjalan pergi. “Mau ke mana kamu?! Ini Sazlina, kenapa nggak digandeng lagi heh?!” Hana sengaja berseru. Samuel, suaminya yang sudah pergi ke mushola di pojok taman, berhenti di teras mushola dan memperhatikan. Waktu sudah masuk adzan maghrib. Dari jauh pun berkumandang dari Masjid Tokyo Camii yang alunan adzan-nya kebetulan menjangkau area perumahan. “Khaisan…!” tegur Hana lagi. Sebab Khaisan hanya berdiri diam dengan tatapan datar tanpa ekspresi. “Aku buru-buru, Ma! Ingin ngambil sarung sama peci, Papa ngajak jamaah!” Khaisan menyahut tegas. Sambil melirik sekilas pada Sa
Khaisan yang menatap datar saat Sazlina mengajak bermesraan, kini wajah tampannya berpaling. Duduk mematung tanpa mengusir gadis di pangkuan untuk turun. Membiarkan tangan lembut itu mengalung di leher dan mereka sangat dekat. Tangan halus itu tidak lagi sangat dingin, justru seperti mengalirkn hawa panas. “Dingin sekali. Apa tidak bisa membalas memeluk…,” keluh Sazlina lirih dan sengaja memancing. Berharap ada sikap balasan yang sama hangatnya. Tetapi... Khaisan tidak merespon yang kini justru menjauhkan diri dengan menumpu tangan ke belakang di ranjang. Hingga Sazlina sedikit jadi ketarik. “Kalo ingin bicara, segera saja dimulai. Sepertinya Mas Kha memang tidak tertarik untuk bermesra denganku…,” usik Sazlina mengeluh. Merasa hampa diabaikan. “Aku ingin bilang, seharusnya aku berpikir lagi untuk menikahi wanita sepertimu. Tetapi semua sudah terlanjur.” Khaisan tiba-tiba bicara. Bernada serius dengan tatapan tegas. Sazlina jadi merasa gugup dan gentar. "Apa menyesal?" tanya Sazl
Sazlina yang lelah tetapi berniat menunggu kedatangan adiknya dari Indonesia, bangun dari ketiduran sebab ketukan keras di pintu. Bergegas dicarinya kerudung yang telah tersisih di tepi bagian kaki. Buru-buru dia kenakan. Ceklerk“Adikmu datang.” Suara khas menerobos. Khaisan berbicara begitu pintu dibuka. Tetap berdiri dan tidak berbalik pergi. “Di mana? Nanti aku menyusul.” Sazlina menyahut. Kepala yang terasa berat, jadi sedikit berkurang nyut-nyutnya sebab kabar barusan. “Turun denganku,” ucap Khaisan tegas dan kaku. Melihat ketegasan saat Khaisan bicara yang mungkin ada maksud, Sazlina enggan menolak. Memilih segera ke kamar mandi untuk mencuci muka ala kadarnya. Kemudian buru-buru keluar lagi. Mengikuti Khaisan yang perlahan berbalik dan pergi menjauh dari kamar menuju arah tangga. Namun, tiba-tiba lelaki itu melambat langkah dan kini berjalan sejajar. Sazlina terkejut saat Khaisan sudah memegang tangannya dengan cepat untuk di genggam. Tangan besar itu begitu dingin terasa
Di meja makan yang hampir pukul delapan pagi, duduk lima orang dewasa di kursi masing-masing. Seorang asisten wanita lokal yang muda dan kurus, hilir mudik antara dapur dan ruang makan demi sajian terbaiknya. “Jadi, kamu ini kapan nyusul? Nggak baik ada ipar bujang yang seatap dengan pengantin baru!” usik Daehan pada Daishin yang duduk di depannya. Telah sama-sama ada nasi kukus, tamagoyaki (telur dadar digulung) dan nori (rumput laut) di piring mereka. Daishin mengangkat wajah dengan senyum masamnya. “Salah sendiri, adik beradik kalian embat sampai habis!” sahut Daishin sambil melirik Shanumi di sisi samping depan dan Sazlina di sebelah Daehan. Khaisan duduk di sebelah kanan dan berhadapan dengan istrinya. “Lha emang jumlah mereka cuma dua. Gimana gak habis! Kamunya aja yang keasyikan tukar cewek!” Daehan merasa jawaban Daishin cukup kocak. “Coba tanyain ke ibu mertua kalian, masih ada nggak satu adik mereka di rumah Indonesia. Jika masih, biar bulan depan aku datang melamar!”
Sazlina sudah mundur hinggga kaki membentur kisi ranjang. Merasa gentar sebab Khaisan terus maju mendesaknya. Berpikir bahwa lelaki itu akan meminta jatah sebagai suami demi sekadar menghamili, rasa hati sakit dan justru panik luar biasa. “Tadi bilang kalo obrolan mereka soal anak sangat membosankan. Ini, kenapa jadi bertolak balik seperti itu? Mas Kha munafik!” cela Sazlina gugup. Bicaranya tersendat dan susah. Hati pun berdebar dan gundah. “Wajar kan, manusia berubah pikiran? Aku pun telah berubah pikiran," ucap Khaisan dan lalu terdiam. "Makanya, Mas Kha jangan sombong. Kena menjaga sikap dan ucapan. Jangan kasar dan jangan mudah menghakimi. Apalagi pada istri dan harta mereka yang direlakan untuk suami. Harta jiwa raga maksudku. Aku tahu, aku gak punya apa-apa. Terakhir... Doa dari hati terluka dijamin akan dinaikkan hingga semua lapisan di langit!" Sazlina bicara seperti meracau. " Iyalah...," sahut Khaisan lirih. "Tapi, Saz! Kurasa memang akan memalukan jika mereka l
Osara tidak menyadari jika salah kamar. Bahkan dirinya hampir tertidur pulas saat Daishin menelponnya dan berkabar bahwa kamar mereka telah tertukar. Maklum, hanya dari koper pribadinya semua keperluan dia ambil. Secara kasat mata memang seperti kamar hotel pada umumnya. Serba warna putih. Namun, aroma kamar yang maskulin memang mencolok dan ini diabaikan Osara. Kini baru disadari jika isi dalam almari memang full barangan pribadi milik lelaki. Boxer, kaos dalam dan kaus kaki besar yang semua serba warna hitam. Juga beberapa piyama polos navy yang modelan lelaki. Serta T-shirt keren yang semuanya berwarna gelap khas pujaan lelaki. “Ish, ada ada saja, pria brengsek, pasti sengaja!” Osara sangat kesal hingga merutuki sambil menyeret koper keluar kamarnya. Meski lengang dan larut, terpaksa ditempuh demi sikap baiknya yang terpendam. Menuju lantai sembilan di nomor kamar yang sudah Daishin sebutkan. Meski ada rasa trauma dan takut akan kejadian waktu itu, tetapi salah kamar yang mem
Sebab tidak ingin menjadi obat nyamuk. Daishin memilih duduk di meja sendiri dan makan dengan santai tanpa perlu berhadapan dengan dua manusia yang di matanya sungguh kekanakan. Namun, membiarkan juga saat tagihan di mejanya dibayarkan oleh teman Osara bernama Tengku itu. Daishin juga acuh tak acuh saat lelaki muda itu terlihat segan yang mungkin sudah menganggapnya calon kakak ipar. “Begitu ya, kelakuanmu di luaran? Orang tua menganggap kamu gadis baik, sampai dicarikan jodoh sultan, nyatanya kamu punya laki-laki di sini?” Daishin menegur Osa setelah saling diam di sepanjang jalan pulang. Tengku adalah orang yang mengantar mereka menuju hotel dan baru saja berlalu. “Kamu kuno sekali. Makan dan ketemuan model gini bukankah lazim? Ini cuma pendekatan dan bukan lamaran. Untuk apa diakui di depan keluarga kalo cuma sebatas makan malam. Aku bukan gadis brengsek. Hari itu aku menolak Firash sebab sudah ada Tengku yang kusaka dan sepertinya dia juga sama. Aku berencana kembali ke Jepang.
Daishin yang terbang ke Jepang lebih cepat beberapa hari daripada Osara, hari ini terpaksa kembali ke bandara untuk menjemput kedatangan gadis itu malam ini. Mama Azizah dan Papa Handy akan menyusul dua hari kemudian. Setelah dirasa kesehatan papanya benar-benar fit tanpa keluhan. Daishin baru saja berdiri di pintu kedatangan saat dari jauh terlihat calon istri dadakannya mendorong koper baru yang berwarna coklat susu. Setelah berada dekat dan mereka saling menghampiri, sangat jelas jika wajah cantik Osara sangat masam dan tanpa senyum memandangnya. “Sudah kubilang, tidak perlu jemput aku. Temanku sudah siaga menyambutku.” Osara berkata dingin seperti biasa belakangan ini. Sikapnya pada Daishin kembali ketus dan kaku setelah mereka dijodohkan. Sikap membaik saat saling dukung untuk mendapat video bukti Firash waktu lalu, kini hilang tak tersisa. “Mana temanmu? Jika siaga harusnya sudah di sini.” Daishin menyahut datar. “Dia masih dalam perjalanan. Lambat beberapa menit hingga bela
Kamar ICU di rumah sakit terasa sungguh sunyi, hanya suara mesin pemantau jantung yang berbunyi pelan di samping ranjang. Osara duduk di kursi, matanya sembab, sementara Daishin berdiri dengan wajah muram di dekat jendela.Sama-sama sedang merasa cemas dan merasa bersalah. Terlebih beberapa kali tatapan Mama Azizah yang tajam seperti sedang mengiris dan menguliti. Di atas ranjang, Papa Handy berbaring lemah meski kesadarannya sudah kembali. Wajah memucat tetapi matanya tetap memancar sorot tegas. "Aku hanya ingin melihat kalian menikah sebelum aku pergi," suara Papa Handy terdengar lirih namun penuh harapan. Kembali mengungkit perkara penyebab kambuh sakitnya. Osara menggigit bibir. "Tapi, Pa ... jangan bicara seperti itu. Kumohon, mengertilah. Kami tidak saling mencintai. Aku juga tidak terpikir untuk menikah dengannya. Keinginan Papa, aku tidak bisa." Osa bersikeras pelan dan hati2. Daishin yang sudah berdiri di sebelahnya pun mengangguk. "Ini bukan hal yang bisa kami jalani beg
Orang-orang di ruang tamu terbelalak. Bahkan juga Osara. Tetapi semua bungkam dan mematung memandang Daishin. Pengakuannya barusan terdengar tidak masuk akal bagi Papa Handy dan Mama Azizah. Osara sungguh heran, tidak menyangka Daishin tiba-tiba mengaku yang sebenarnya. Waswas pada Papa Handy, takut jantung di dada tua itu kembali bermasalah. Lagi-lagi itu membuatnya merasa selalu jadi penyebab segala ketidaknyamanan belakangan ini. Padahal, Osara berharap semua berlalu begitu saja tanpa perlu mencium bangkai dalam rumah di keluarganya. Justru kecewa dan sangat terkejut akan pengakuan Daishin yang tiba-tiba. Sayang, tidak ada kesempatan untuk melarang Daishin membuat pengakuan. “Duh, Shin …. Bicara apa kamu ini? Ucapkan istighfar. Sana ucap istighfar, Nak. Hal begitu tidak boleh buat candaan dan main-main,” Mama Azizah yang akhirnya memecah kebisuan. Memang sama sekali tidak percaya. “Iya, ngomong apa sih? Kamu nggak lihat keadaan! Bercanda nggak kira-kira!” Osara ikut nenimpali
Sebab ucapan Firash, Papa Handy seperti sedang kebakaran jenggot. Sangat tidak terima dan menganggap tuduhan itu hanyalah alibi Firash yang mengada-ngada. “Jangan ucap fitnah secara ceroboh demi menutup aibmu sendiri, Firash.” Papa Handy bicara dengan nafas yang seolah hanya sampai di tekak. Terlalu marah hingga susah berkata-kata. Napasnya pun memburu tiba-tiba. “Siapa yang berkata fitnah, Om? Ha ha ha, aib anak orang di seberang benua sebesar gajah. Aib anak sendiri di lubang hidung tak terendus. Pandai sangat ya Osara kau?!” ucap Firash tampak puas dengan senyum lebarnya pada Osara. Lelah menatap marah pada Firash, kini tatapan Papa Handy bergeser pada Osara. Anak angkat yang sedang diperjuangkannya itu justru menunduk dengan tangisan. Seketika tatapan Papa Handy berubah nyalang sebab perasaannya tiba-tiba tidak enak. Bukan marah, menyangkal atau mengumpat tidak terima, tetapi Osara justru menangis. Ah, respon macam apa itu?! Papa Handy merasa harus terbiasa menghadapi Osara.
Sudah hampir pukul tujuh pagi, tetapi matahari belum terbit di bumi jiran, Malaysia. Maklum, waktu subuh pun tiba sekitar pukul enam pagi. Meski perbedaan waktu hanya 1 jam lebih cepat dengan waktu di Indonesia bagian barat, tetapi perbedaan waktu ini sungguh mencolok. Namun, sebenarnya waktu di Malaysia ini memberi kemudahan kepada seluruh warga. Khususnya bagi muslim. Kenapa? Tentu jatuh waktu begini lebih membuat ringan. Bisa bangun pagi sekalian shalat subuh sambung pergi kerja. Sebab, waktu efektif kerja pun dimulai pukul tujuh pagi. Berbeda tantangan dengan di Indonesia bagian barat. Serba nanggung rasanya, subuh pukul empat lebih, sedang waktu efektif kerja pukul tujuh. Habis subuh tidur dulu. Alhasil bangun tidur kepala jadinya pening! Apa kamu pun begitu? Namun, ada waktu di Indonesia yang bersamaan dengan waktu di Malaysia. Yakni di wilayah Waktu Indonesia bagian Tengah. Tidak ada selisih waktu dengan di Malaysia! Osara turun tangga dengan penampilan yang sudah rapi da
Alarm yang sudah diatur menjelang subuh telah berbunyi nyaring. Menggelitik telinga pemiliknya di atas tempat tidur. Hingga menggeliat dan diam sejenak yang tidak lekas bangun. Termenung di atas bantal hingga bunyi alarm benar-benar terasa memuakkan. Daishin terpaksa bangkit dari kenyamanan dan menghempas kemalasan. Tidak ingin lebih mengulur waktu. Setelah mandi dan tunai subuhnya, segera keluar kamar demi niat menemui papanya. Tidak lupa sambil membawa ponsel. Bahan bukti penyemangatnya pagi ini. “Sudah bangun, Shin? Semalam pulang jam berapa?” tegur papanya di ruang keluarga yang biasa. Daishin sudah menduga, tiap subuh, Papa Handy memang selalu sudah siaga di luar kamar. Biasanya pergi ke halaman untuk jalan sehat keliling atau jalan santai di luar pagar pada jalan utama. Namun, sebab sedang kurang enak bodi, papanya hanya melangkah-langkah pelan di dalam rumah luas ini. Dalam hati, Daishin terus memohon agar papanya segera diberi sehat kembali. “Pulang jam sebelasan, Pa.”
Perjalanan dari Genting Highland menuju kota Kuala Lumpur yang menelan waktu hampir dua jam pun berakhir. Daishin sampai di rumah Mama Azizah kembali tepat pukul sebelas malam. Suasana sepi dan lengang itu terkikis dengan pintu rumah yang tiba-tiba terbuka. Osara yang sudah tahu bahwa video bukti berhasil didapat, tentu saja sangat senang dan tidak mungkin pergi tidur. Kini menyambut kedatangan Daishin di teras dengan membukakan pintu rumah. “Assalamu'alaikum.” Daishin melempar salam sebelum melewati Osara di pintu. “Wa'alaikumsam.” Osara menyahut. “Terima kasih ya ….”Osara menjawab salam disusul ucapan terima kasih dengan memandang Daishin sebentar. Kemudian berpaling dan pura-pura akan menutup pintu. Tatapan elang itu membuatnya salah tingkah. Antara lega juga merasa bersalah. “Sebaiknya lekas istirahat saja. Papa Handy dan Mama Azizah baru saja tidur. Mereka sama-sama sedang minum obat. Mama pun tidak enak badan tiba-tiba. Mungkin sedang banyak pikiran. Maaf….” Osara kembali