Acara Khitan telah selesai dan saudara mara dekat dari Mama Azizah yang berdatangan baru saja pulang. Sedang dari pihak Papa Handy yang berdarah Jepang dan Indonesia, beberapa teman dekat dan kenalan baik sajalah yang datang. Maklum, dirinya adalah pendatang yang mengajukan menjadi penduduk di Negara Malaysia. Sedang saudar mata di negara asal sangat sibuk masing-masing. “Ma, Abang Firash akan datang boleh?” Osara yang membantu mengemas meja makan bertanya pada Mama Azizah. Wanita itu menyiapkan bubur untuk dibawa pada Firo di kamar. Sedang Fira tidur siang di kamarnya, mengeluh capek sebab ikut menyalami para tamu. “Dia menelepon?” tanya Mama Azizah dengan raut sangat cerah. “Tidak, Ma. Tetapi kirim pesan …,” sahut Osara yang kini meletak gelas kotor di wastafel. Ada asisten rumah selain Mak Zu sedang mencuci pecah belah di sana. Daishin masih duduk di meja makan memerhatikan kesibukan orang-orang di dapur termasuk Osara. Papa Handy juga masih bersantai di bersamanya. “Apa Daeha
Lelaki yang memandang Daishin dengan terperangah itu sempat berhenti melangkah. Namun, Papa Handy yang merangkul, sedikit mendorong maju punggungnya hingga terpaksa berjalan lagi. “Gerak calon suamimu sungguh cepat, Osa. Baru tadi kamu bilang, orangnya langsung datang. Mantaplah lelaki seperti ini, Osaaa!” Papa Handy berbicara hangat demi memberi support pada rencana pernikahan Osara dan Firash. Namun, sememangnya Papa Handy merasa suka dan takjub pada Firash, putra dari rekan bisnis yang gemar mewakili bisnis ayahnya hingga ke luar negara dan tidak pulang cukup lama. Maka, hari itu saat rekannya mencari pandangan siapa calon istri untuk Firash, Papa Handy sigap mempromosikan Osara. Bukan sebagai wanita bisnis, tetapi sebagai gadis baik yang baru selesai pendidikan dan tentu saja bonus cantik. Tidak disangka, setelah keluarga rekannya datang ke rumah dan melihat Osara, putra keluarga mereka yaitu Firash, seketika setuju dan menyukai si anak gadis. Namun, tidak disangka lagi
Kelebat Osara saat dirinya baru keluar kamar membuat kecewa. Niat mendatangi kamar di lantai dua untuk berbicara dengan pemilik kamar pun urung. “Gila nih cewek… cepat amat bersiap. Mandi gak dia…?!” rutuk Daishin sambil berjalan memandangi punggung Osa yang berjalan cepat. Tapi bekas dan jejaknya begitu harum akan wangi sabun dan parfum. “Cepatnya dia jalan... Semangat amat…,” gumam Daishin tak habis pikir. Sambil hidung mancungnya menghirup hawa segar berulang kali. Dirinya bahkan lelaki. Sudah buru-buru sebab berniat untuk menemui Osa di kamarnya secara diam-diam. Ingin membicarakan masalah Firash yang sebenarnya tidak sebaik anggapan gadis itu. Tetapi dirinya kalah dari Osara yang sudah turun tangga lebih cepat sekian detik saat dia keluar dari kamar. “Nah, itu Daishin!”Papa Handy berdiri menyambut anak lelaki. Diikuti Firash dan Osara yang juga tidak sempat duduk. Entah papa angkatnya itu atau justru si Firash yang tidak sabar menunggu. Yang jelas, mereka semangat dengan tur
Pandangan Osa yang bingung saat dibawa Madam Lyra membuat Daishin merasa iba. Muak sekali dengan Firash yang tidak mampu menjaga perasaan calon istri sebentar saja di moment penting seperti ini. Lebih mementingkan diri sendiri. Berubah apaan?! Dasar lelaki lalai! rutuk Daishin dalam hati. Namun, Daishin membiarkan Firash dengan kelakuannya. Memilih mendatangi Osara di etalase bersama Madam Lyra untuk menemani mencoba perhiasan cincin berlian. “Madam seperti tak percaya, Firash membawa gadis secantik kamu. Kupikir dia yang dibawa.” Madam Lyra berbicara pada Osara dengan melihat ke arah Firash di sofa dan pada Daishin yang mendekat dan duduk di samping Osa. Wanita setengah baya cantik, berambut pirang dan berbibir merah menyala itu sibuk mengeluarkan set cincin berlian couple koleksi andalannya. Dia letak di baki mini pada Osara di atas etalase kristal. “Coba-cobalah pakai di jari mungilmu itu, mana yang menurutmu paling indah dan cocok, katakan ya. Jika tidak ada, masih bany
Daishin timbul iba pada Osara. Merasa jika nasibnya bukan melulu hoki dan mujur. Namun, adalah kesialan setelahnya. Mungkin saat berhasil kabur dari agensi dengan mengantongi uang pembayaran dari lelaki yang membelinya, bisa dibilang masih mujur. Tetapi setelah bertemu dan ditangkap Daishin, hukuman berat itu telah didapatnya. Kini, setelah mujur mendapat calon suami setampan dan sesultan Firash, sebentar lagi nasib menyedihkan pasti akan diterima gadis itu. “Osa, aku memang sudah tahu banyak tentang Firash. Pulang nanti, aku ingin bicara denganmu.” Daishin menjawab Osa yang bertanya sesuatu tentang Firash. “Katakan saja sekarang, Shin …. Oh, baiklah, pulang nanti saja, tapi jangan tipu, ya!” ucap Osara yang buru-buru di koreksinya sendiri. Sebab orang yang dibahas sedang mendekat. Madam Lyra yang menghampiri Firash menyuruh bangun dari sofa dan lelaki itu tampak tergeragap. Kemudian berdiri, mereka berjalan mendekat ke etalase. Langkahnya tampak oleng dan matanya sungguh mem
Osara sedang pergi ke toilet. Maka tinggal berdua di meja makan, Daishin dan Firash. Dua lelaki yang terlihat saling tegang sejak keberangkatan dari rumah Mama Azizah. Daishin menegakkan punggung menjadi lebih formal dengan gelagat akan membuka pembicaraan. “Sudah jelas kebohonganmu, Fir. Untuk apa kau tutup-tutupi. Kau tidak mungkin berubah." Daishin memulai dengan serangannya. “Apa alasanmu menikahi Osara, hah?” tanyanya lagi sebab Firas terdiam saja. Setelah ditahan, berkesempatan juga Daishin menginterogasi Firash. Meski belum tentu dijawab memuaskan oleh yang bersangkutan. “Penting?” tanya Firash sambil menaikkan sebelah alis dan tatapannya hangat. Terlihat tampan dan keren, tetapi sama sekali tidak bagi Daishin. “Jika tidak penting, untuk apa aku bertanya. Aku tidak ingin Osara, saudariku masuk dalam penjaramu.” Daishin menegaskan. Menahan sejuta kekesalan dalam hati. “Sudah kubilang, aku berharap menjadi lebih baik dengan pernikahanku dan Osara.” Firash menyahut ketus.
Gadis seksi bercelana jins dengan kaos mini yang terlihat perut dan pusar itu saling menghampiri dengan Osara. Mereka bersalam tangan dan saling mencium pipi kiri dan kanan. Meski mereka sama-sama cantik, tetapi penampilan keduanya sungguh bak langit dan bumi. Yang satu seksi berbaju terbuka, satu lagi menutup diri dengan baju muslimah. “Pulanglah. Bilang kalo aku pergi sama teman jika ditanya orang rumah.” Osara berbicara pada Daishin yang sedari tadi mengamati. Berdiri tidak jauh di belakangnya. “Kalian main ke mana?” Daishin menyelidik. Merasa janggal dengan penampilan sahabat Osara. “Bukan urusanmu, Shiin. Lagian aku masih lajang, sebentar lagi istri orang. Mana bisa aku seperti ini sebentar lagi. Sana, pulang!” Osara mengusir Daishin sambil menarik tangan teman. “Eh, dia siapa, Sa?” tanya si seksi dan terang-terangan memandang Daishin. Lelaki tampan yang tiba-tiba menyertai Osara. Gadis tanpa pacar dan kekasih di sepanjang pertemanan mereka selama ini. Jadi terasa aneh jika a
Daishin terkejut saat menyadari jika Osara sudah pergi. Bertukar dengan Amira yang menggelayut manja dibelakang nya. Memeluk rapat dengan kedua tangan sudah berada di celana dalam dan bibir basahnya sudah membelai lembut di tengkuk. Dhaisin seperti akan kejang saja menahan hasrat. “Stop!” Daishin menarik kasar tangan Amira hingga keluar seluruhnya. Memutar diri hingga berhadapan dengan si seksi sahabat Osara. “Di mana Osara?” tanya Daishin dengan nafas memburu. Dahi Amira berkernyit. “Untuk apa mencarinya? Kulihat sentuhanmu pada Osa tampak lain. Wajar sih, mengingat kalian hanya saudara angkat yang jauh. Apalagi Osara sangat cantik.” Amira berbicara yang sepenuhnya memang benar. “Di mana Osara?” Daishin mengulang dingin, setelah Amira terdiam dan menatap lekat di wajahnya. “Pulang.” Amira menjawab singkat. . “Tapi, dia menyerahkanmu padaku sebelum pergi. Hari ini ulang tahunku. Osara bilang… kamu bisa membuatku bahagia malam ini. Bagaimana, bisakah?” Mata Amira meredup saat be
Daehan telah memindahkan istri ke kamar rawat di klinik hotel. Menunggu dengan tegang yang membuatnya tidak mengantuk sama sekali. Padahal hari sudah larut malam. Selain tegang tidak mengantuk, rasa lapar juga terlupa. Padahal sudah kelewat lama waktu makan. Hanya kabar kejutan dari dokterlah yang membuatnya merasa terus kenyang. Seperti kabar hoax bahwa istrinya telah mulai mengandung calon anaknya. “Shanumi!” Daehan sangat girang saat tiba-tiba kelopak mata istri bergerak-gerak tanda akan siuman. Segera dicium berulang kali kening halusnya itu. Ingin Shanymi segera sadar sepenuhnya. “Mas…!” Shanumi berseru saat matanya benar- benar terbuka, wajah Daehan telah begitu dekat menyapa. Diulurnya kedua tangan dan Daehan pun sigap menyambut. Mereka erat saling berpelulan. Shanumi merasa lega luar biasa. “Alhamdulillah, Shan. Kamu sudah sadar. Bagaimana rasanya? Apa yang sakit? Kenapa sampai pingsan?” tanya Daehan beruntun yang meluah betapa cemas dirinya. “Maaf, ya. Aku sudah kelua
Lelaki India yang bertampang garang dan sangar sebab kulitnya yang gelap dengan jambang tebal, ternyata adalah wakil malaikat. Shanumi benar-benar di antar ke lobi tanpa sedikit pun punya modus. Lelaki itu telah berlalu meninggalkan hotel setelah sempat memastikan bahwa Shanumi akan baik-baik saja. Sebab sangat buru-buru, lelaki India itu pun berlalu meski belum ada titik terang. Namun…. “Benar, Kak. Tidak ada nama Tuan Daehan dalam daftar pengunjung.” Petugas resepsionis kembali meyakinkan. “Tapi aku dan suamiku benar-benar menginap di sini. Kami dari Indonesia.” Terang Shanumi penuh harap. “Kebetulan banyak sekali pengunjung dari Negara Indonesia ya, Kak. Saya sudah membacanya dengan teliti. Tidak ada nama dari suami Kakak.” Petugas berbicara lembut tetapi sangat tegas. Shanumi hidak ingin lagi mendebat. Kini menuju sofa dan duduk di sana untuk sekedar melepas lelah. Sambil berpikir keras bagaimana menemukan kamarnya. Juga mengharap Daehan mencari dan menemukannya dengan cepat
Senyum merekah di bibir merah itu memudar perlahan. Saat membuka kamar tidak dijumpa pemilik nama yang sentiasa tertulis di kepala dan jiwa. Di mana istrinya? Kecewa… tetapi juga resah rasanya. Lebih tidak tenang. Telepon kesayangan istri ada di bawah bantal saat coba ditelepon. Bahkan, beberapa chat yang dia kirimkan terakhir kali dan tidak centang biru dua, memang belum dibuka oleh istri. Ah, ke mana dia? "Ck, bikin khawatir saja. Sudah dipesan jangan rewel dan gak usah ke mana-mana, masih juga bendel!" Daehan mengomel dengan perasaan gelisah. Menuju balkon yang dirinya pun belum sempat menginjaknya. Meski telah malam, namun begitu terang sebab lampu bertebaran. Sepuluh menit menunggu di balkon dengan background hamparan strawberry hijau bertabur buahnya yang seperti titik-titik merah memang sesaat melenakan. Namun, kembali sangat galau sebab yang ditunggu tidak muncul. Sedang ini adalah malam yang membuat Daehan sangat waswas. ______Shanumi yang berniat akan kembali ke kamar
Daishin keluar dari party room dengan langkah tergesa. Menyusul Daehan yang ternyata macet di ruang petugas jaga. “Mana dia, Mas?” Daishin bertanya setelah menyapukan pandangan. Tidak terlihat Firash sama sekali. Apalagi posangannya.... “Aku ketinggalan, Shin. Gara-gara gayung bego yang rada-rada ini!” Daehan menuding petugas jaga yang matanya terus berkedip-kedip bingung dengan jari tengah. “Shit!” Daishin pun mengumpat setelah menyadari. “Fuck!” Daehan menambahkan umpatan lagi. “Bagi cepat ponselku, Pak Cik!” Seru Daehan tak sabar. Kesal sekali, petugas itu hanya berkedip-kedip dan terus memandangnya. “Tak, tak sudi. Calling dulu aku darling….” Petugas jaga masih sempat-sempatnya menggoda, benar-benar minta jantung. “Tak sudi! Cepatlah, Pak Cik! Kau buat lambat-lambat ni buat apa?!” Daishin yang habis sabar membentak sangat keras. Lelaki penjaga berwajah merah padam itu mungkin jadi gentar. Buru-buru diambil kotak penyimpanan ponsel dari rak penyimpanan. Daishin sudah menyam
“Beri padaku topeng Zorro!” seru Daishin pada penjaga pintu yang terus menatapnya tanpa kedip. Kode miliknya telah sukses terakses tanpa aral apapun. Hanya satu masalah besar baginya kini. Ponsel wajib dititip dan dilarang keras membawanya hingga masuk. “Lekas, beri padaku topeng kupu!” Kali ini Daehan request setelah sukses mengakses kan dirinya di mesin masuk. Bernasib sama dengan Daishin, ponselnya pun kena tahan. Apa boleh buat, dari pada diri tidak lulus masuk, lebih baik tanpa ponsel. Nanti sambil di pikirkan solusinya. “Tidak ada topeng kupu, sudah sold, Sayang. Tinggal topeng capung, bagaimana hem?” Penjaga bicara dengan gemulai dan mesra. Membuat Daehan mual ingin muntah. “Oke, capung. Cepat sikitlaaah!” Daehan tak sabar dengan gerak penjaga yang lamban. Seperti sedang mengambil perhatian. Dia sangka mereka sama-sama sehaluan. “Ni haah. Tak sabar amat lah, Sayang.” Topeng capung sukses didapat Daehan. Tetapi Daishin justru belum diberi topeng Zorro. “Mana pulak topeng Z
Perjalanan menuju Genting Highlands tidak pernah membosankan. Tentu saja, sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Malaysia, perjalanan penuh pesona pasti dijumpa di kanan dan kiri sepanjang jalan. Terletak di ketinggian kurang lebih 1.800 meter di atas permukaan laut, sudah membuat hawa sangat dingin. Bahkan mobil pun tanpa AC lagi semenjak memasuki kawasan menuju puncak. Genting Highland sungguh-sungguh menyajikan perpaduan sempurna antara alam pegunungan yang menawan dan modernitas masa kini yang gemerlap.Di sepanjang perjalanan, hutan hujan tropis yang rimbun mengapit jalan. Pepohonan tinggi menjulang dengan dahan-dahan yang membentuk kanopi alami dan seolah memayungi para pengunjung di jalanan dari panasnya mentari dan hujan. Burung-burung liar berkicau, mengiringi perjalanan dengan alunan suara alam yang menenangkan. Berwarna-warni yang bebas, terlihat tidak takut dan tidak tertekan. Terbang dan loncat yang berpindah ke sana ke sini sesuka ingin burung itu. Beda
Sedikit lega, Papa Handy sudah dipindahkan untuk istirahat di kamar. Daishin hingga berkeringat dan terengah setelah kerja berat dini hari. Maklum, tubuh papanya masuk dalam kategori size jumbo. Perlu tenaga besar meski untuk sekadar memapah sang papa. Tidak ingin semua merasa lelah yang bisa jadi justru akan jatuh sakit, Mama Azizah menganjurkan agar Osa dan Daishin lekas istirahat di kamar masing-masing. Wanita baik dan lembut asli Melayu mantan perawat itu memastikan jika kondisi Papa Handy tidak masalah dan akan berangsur lebih baik. Dokter langganan keluarga pun bersedia datang dan sebentar lagi akan tiba. Osara mengikuti Daishin yang tidak pergi ke kamarnya, melainkan ke dapur dan duduk di meja makan. Menuang segelas air putih yang lalu diminum sekaligus. Lagi-lagi Osara pun meniru yang memang rasa diri sungguh dahaga. “Apa ingin kubuat teh, kopi atau apa untukmu, Shin?” tawar Osara tulus. Merasa iba dengan tampang Daishin yang kusut. Meski ketampanannya cenderung ti
Setelah pembicaraan panjang, keduanya sama-sama saling diam. Daishin yang melirik gadis berbulu mata lentik dan basah oleh air mata itu teringat sesuatu. “Osa…!” Panggilnya pada pemilik mata yang memejam. Osara yang meletak kepala di sandaran dan membuang muka ke samping menoleh. “Ada apa?” tanyanya memandang Daishin. “Mana bajumu saat berangkat tadi? Bajumu seperti itu … apa Papa dan Mama tidak masalah?” tanya Daishin. Memandang baju seksi Osa yang jaketnya sedikit melorot ke lengan. Menampakkan bahu mulus dan cerah tanpa sedikit pun ada cacat celanya. Sangat menggoda di bawah temaram lampu mobil. “Oh, benar… Terima kasih. Aku lupa…!” Osara terlihat sedikit panik sambil membuka tas. Terlihat lega yang seluruh baju masih ada di dalamnya. Tanpa segan, buru-buru dilepaskan jaket dan memakai gamis tanpa melepas baju seksinya. Lalu memakai kerudung juga dengan kilat. Sepertinya Osara sudah sangat terlatih melakukan hal ini. Daishin menghembus napas yang tak sadar tertahan di dada. Me
Hawa AC dalam mobil kian menggigit. Mereka bisu hingga ratusan meter perjalanan. Hingga Daishin tidak tahan. “Osa, sebenarnya aku sangat kesal denganmu. Berapa kali hari ini kamu menipuku. Menipu memang sudah bakatmu.” Daishin menahan agar bicaranya tidak kasar dan mengumpat. Dibenarkan posisi duduk hingga benar-benar lurus punggung lebarnya. “Menipumu, emang apa saja yang sudah kubuat?” Osa justru bertanya. Pikirannya sedang kosong dan tidak bersemangat. “Katamu pulang, ternyata bohong. Di club, kau pikir aku barang? Kau berikan pada Amira untuk hadiah ulang tahun. Nggak sopan kamu.” Meski kesal, ucapan Daishin rendah saja. Tidak ingin driver keluarga akan mudah dan jelas mendengar. “Oh, kupikir kamu butuh. Maaf jika kebaikanku ternyata justru salah.” Osara berbicara pelan juga. Menyadari situasi yang ada telinga lain selain mereka berdua. “Tentu saja aku butuh, tapi tidak sembarang perempuan aku mau. Apalagi perempuan muda kayak Amira. Aku tidak selera.” Daishin menjawab t