Sesampainya di rumah, Rania sedikit kesal dengan jajanan yang dia bawa. Jagung manis itu tidak tumpah, tapi susu kental manisnya yang tumpah dan membasahi kantong plastik yang dia bawa. Akhirnya Rania pun menuangkan ke dua mangkuk ukuran sedang dan menambahkan sendiri susu kental manis yang dia punya. Untung saja waktu mertuanya datang dia membawa bahan banyak untuk membuat cemilan untuk Rania dan juga Abrisam. Katanya lagi mencoba resep baru dan dia ingin Rania yang mencicipinya. Terlalu sibuk menuangkan susu kentang dengan takaran ala Rania. Tanpa wanita itu sadari jika Abrisam baru saja memasuki area dapur. Pria itu baru saja sampai dan mengganti bajunya, dia hanya lelah bekerja di kantor dan meminta Bagas untuk menangani semuanya. Dia juga meminta Bagas untuk mengantarkan Abrisam pulang ke rumah, selain untuk istirahat Abrisam juga membutuhkan vitamin. "Yah … kok malah tumpah sih." gumam Rania. Wanita itu memindahkan susu kental manis setelah menutupnya. Lalu, mengambil tisu d
Rania langsung menjaga jaraknya pada Abrisam. Menarik kepalanya dan menatap Selena yang datang ke rumah ini dengan senyum yang mengembang. Rania tersenyum kecil, dia membantu Abrisam bangkit dari rebahan nya. "Loh itu Abrisam kenapa, Ran?" tanya Selena bingung, menaruh semua belanjaannya di atas meja dengan heran. "Kepala Mas Abri pusing, Mi, aku pijitin bentar tadi." jelas Rania. Selena mengangguk, dia memberikan dua paper bag warna hitam pada Rania. Itu adalah hadiah Selena untuk Rania, apalagi setelah menikah Selena belum memberi hadiah apapun pada menantunya. Mendengar hal itu, tentu saja perasaan Abrisam tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang Selena lakukan pada Rania. Bukannya apa, mendadak Abrisam juga takut jika Selena berbuat macam-macam ada Rania. Dia juga merasa trauma dengan sikap Selena pada Rania. "Muka kamu kok begitu, Bri. Kayak nggak suka banget Mami datang bawain hadiah buat Rana." kata Selena, yang sejak tadi melihat raut wajah Abrisam tidak bersahabat sama se
Keesokan paginya, Rania bangun dengan tubuh yang remuk. Pinggangnya sangat sakit karena terlalu banyak tidur miring. Begitu juga dengan kepalanya yang sakit dibuat menoleh. Mungkin setelah ini Rania akan memanggil pijat tradisional untuk men service bodynya. Dia terlalu sibuk, belum lagi liburan bersama dengan Abrisam, makanya dia merasa tubuhnya sangat lelah. Memasuki kamar mandi, Rania terkejut ketika melihat Abrisam yang meraba banyak barang dan menjatuhkannya. Pria itu seolah mencari sesuatu tapi tidak ketemu, sehingga membuang banyak barang dan juga gelas kecil untuk kumur. Padahal Rania berpikir jika Abrisam sudah pergi ke kantor bersama dengan Bagas. "Mas Abri lagi nyari apa sih, kenapa semua barangnya dibuang?" kata Rania pelan. Abrisam tersentak dia pun menarik tangannya dari benda yang ingin disentuh. "Kamu sudah bangun?" katanya, dan membuat Rania mengangguk. Meskipun Abrisam tidak tahu, tapi Rania tahu jika Abrisam pasti tahu kebiasaan Rania ketika ditanya dan tidak ada
Sesuai janji Rania, wanita itu membawa Abrisam ke suatu tempat, seperti yang dia katakan. Kali ini, Rania membawa Abrisam ke tempat wisata, seperti kebun binatang tapi memiliki banyak wahana. Bahkan di depan tempat ini saja Rania bisa melihat gapura dengan gambar kepala banteng. "Wah Mas masih sepi." kata Rania. "Belum buka mungkin." Rania menunduk menatap arloji yang melingkar di tangannya, dan mencocokkan pada tiket yang dia bawa. Disini, tertulis jika tempat ini buka jam sepuluh pagi, dan katanya hari ini adalah opening tempat wisata ini. "Kita masuk dulu aja Mas, sambil nunggu di dalam." kata Rania. Abrisam hanya menurut saja, dia menggandeng tangan Rania sebagai alat berjalannya. Bahkan Abrusma bisa merasakan tangannya yang bergoyang kesana kemari, seiring lompatan yang Rania lakukan. Wanita itu seolah berjalan diatas trotoar yang ada, sesekali bersenandung kecil. Masuk ke lingkup tempat wisata ini, Rania benar-benar tidak melihat satu orang pun ditempat ini. Jangankan peng
Setelah berkeliling dan membutuhkan waktu dua jam. Akhirnya Rania pun memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia. Jika tadi dia sempat masuk ke ruangan, kali ini mereka berada di luar ruangan. Dekat dengan wahana air dan juga perahu. Sayangnya pengen naik pun juga tidak akan bisa, Rania mendadak takut kecebur ke dalam air itu dan melihat sesuatu yang tak ingin dia lihat. Cahaya, kuda nil dan juga ular air. "Kalau bahaya, nggak mungkin ada wahananya juga Ran. Nggak mungkin ada perahu jika ada kuda nil atau ular seperti yang kamu pikir." "Tapi Mas itu airnya nggak cerah. Kayak air sungai, bisa jadi kan kalau itu–" "Parno banget sih kamu. Nggak ada begituan, Rana." "Siapa tau Mas. Kan aku bilangnya begitu." Abrisam memilih diam, jangan sampai dia berdebat dengan Rania hanya karena ular dan juga kuda nil. Sedangkan sejak tadi Abrisam juga tidak mendengar Rania menyebut atau suara kuda nil di daerah ini. Itu tandanya tidak ada kuda nil meskipun Abrusma tidak bisa melihatnya. Duduk
"Turunnya pelan, jangan sampai ada yang rusak."Semua pekerjaan yang ada disini mengangguk antusias. Menurunkan banyak barang dengan pelan dan hati-hati, sehingga tidak ada barang yang pecah maupun rusak. Bahkan ada juga yang harus mendapat bantuan agar barangnya aman. Membutuhkan waktu nyaris dua jam, akhirnya semua properti yang mereka gunakan selesai. Mandor proyek ini tersenyum sambil membuka pintu wahana yang seharusnya susah buka dua minggu yang lalu. Sayangnya, karena kendala beberapa wahana yang belum jadi membuat wahana ini kembali tutup. Meskipun mereka sudah membuat pre-order tiket masuk dengan harga murah. Tidak kadaluarsa, mereka bisa menggunakan tiket itu setelah wahana ini buka kembali dan menggunakan tiket yang ada. Meminta semua orang membawa barang yang ada, mandor terkejut melihat dua orang yang masih terlelap dalam ruangan ini dan saling berpelukan. Mengingat kembali yang terjadi, mandor itu baru ingat jika dua orang ini kemarin sempat datang dan di usir. Sekaran
Ini kali pertama Rania datang ke kantor Abrisam setelah menikah, ada banyak orang yang berbisik tentang rania, hingga membuat wanita itu menunduk malu. Dia tahu jika dia belum mandi, rambutnya juga pasti lusuh karena tidak di sisir. Bajunya yang kucel dan juga ada sedikit noda yang ketara. Berbeda dengan Abrisam yang masih terlihat rapi dan tampan. Rania mendengus, tidak peduli tentang opini mereka Rania pun mengangkat kepalanya dan menatap satu persatu karyawan Abrisam dan mencoba menilainya. Rania juga mencoba untuk tersenyum dan menyapa mereka semua. Setidaknya image Rania tidak buruk di depan mereka, jangan sampai mereka mengira jika Rania itu wanita sombong dan angkuh. Disini Rania bisa melihat banyak model wanita yang bekerja di kantor ini. Ada yang menggunakan jilbab, ada yang menggunakan pakaian formal tapi sopan, ada juga yang menggunakan pakaian formal tapi seksi dan menunjukkan belahan dada rendah dan juga belahan rok yang tinggi. Rania menggeleng keci
"Jadi beneran mau godain aku? Untung aku nggak lihat." kata Abrisam. Rania menoleh menatap Abrisam bingung. "Apa sih. Siapa juga yang kau godain Mas. Lagian ya Mas, baju kamu semuanya kemeja sama jas, nggak ada kaos atau apapun selain itu. Dan lagi, celana juga panjang semua. aku nggak mungkin pakai celana panjang kamu itu, yang bisa dijadikan kemben. Ada pun celana pendek juga cuma ini Mas yang muat aku pakai. Cuman, bajunya aja yang kebesaran." cerocos Rania. "Ya tapi kenapa keluar tadi? Kan bisa di dalam sana dulu." Ya Rania yang tidak tahu jika ada rapat, memutuskan untuk pergi dan ingin menghampiri Abrisam. Tapi karena dia belum menyadari situasi nya, dan lebih sibuk memiliki minuman apa yang ingin dia minum, dia mengabaikan banyak orang yang menatap dirinya dengan pikiran mereka masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Rania saat ini. "Mas tadi kan cuma ada aku Bagas sama kamu doang. Aku tinggal mandi kenapa jadi beranak? Mas juga nggak bilang kalau ada penting
Karena Abrisam mengaduh lapar, akhirnya Rania memutuskan untuk meminta Bagas untuk membelokkan mobilnya ke sebuah tempat makan terdekat. Dia tidak tega jika harus melihat Abrisam kelaparan setelah mengantarkan dirinya jalan-jalan seharian ini. "Mas Abri mau pesen apa? Menunya banyak banget, seafood kesukaan Mas juga ada." ucap Rania. Satu persatu wanita itu membaca menu yang ada di depannya dengan seksama. Dia juga menyebutkan banyak sekali masakan, sayangnya ada masakan yang sulit sekali disebut. Lidahnya begitu kaku untuk membaca tulisan itu yang menurut Rania aneh. Yang ada Rania hanya menunjuk tulisan itu dan memberitahu pelayanan, jika dia memesan itu dia porsi untuk dirinya dan juga Abrisam. Tak hanya itu, Rania juga langsung memberikan daftar menu yang ada di tangannya pada Bagas. Meminta Bagas untuk memilih makanan yang dia ingin makan malam ini. "Oh ya, habis ini kita ngapain?" tanya Bagas akhirnya. "Pulang. Tau capek nggak?" ucap Abr
Meskipun tidak piknik atau apapun itu, hari ini Abrisam mengajak Rania untuk jalan-jalan sebentar. Dia meminta apapun yang Rania inginkan, akan Abrisam belikan. Hanya saja istrinya ini begitu lucu, dia hanya meminta dua cup teh dan terus mengajak Abrisam jalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan ini. Keliling-keliling nyaris satu jam dan tidak membeli apapun, membuat kaki Abrisam pegal.“Ini kamu yakin nggak mau beli apapun?” tanya Abrisam memastikan. Jika tidak ingin beli apapun lebih baik mereka pulang saja. Kalau jalan terus menerus tentu saja Abrisam yang lelah, tau kan wanita itu kalau di suruh keliling pusat perbelanjaan ini mau lima puluh kali pun tidak akan membuat dia lelah. Beda cerita kalau itu pria, bahkan baru saja masuk sudah merasa kesal.“Boleh minta cincin?” “Boleh, tadi kan aku sudah bilang kamu pengen apa aku beliin.”Rania mengangguk, dia pun langsung menarik tangan Abrisam pelan untuk masuk ke salah satu toko perhiasan. Rania mengamati satu persatu cincin yang
Abrisam akhirnya turun ke bawah, dia sudah mengenakan baju lengkap. Begitu juga dengan Rania yang sudah mengenakan baju lengkap juga, tidak seperti pagi tadi yang hanya menggunakan bathrobe saja. Sungguh, dia begitu malu melihat ibu mertua dan juga keluarganya yang tiba-tiba saja datang ke rumah, sedangkan dia datang juga tidak menelpon atau memberi kabar lebih dulu. Untung saja Rania bangun lebih awal, dia sudah mandi dan juga membereskan rumah yang sempat berantakan karena ulah Abrisam. Coba saja jika belum, sudah dipastikan ibu mertuanya itu pasti akan memiliki pemikiran yang luar biasa untuk Rania dan juga Abrisam. "Kemarin perasaan bilangnya dua hari, ini kenapa baru sehari sudah pulang?" ucap Abrisam. Rania yang duduk di depannya pun langsung mengkerut kan keningnya heran. "Haa? Masa sih? Mereka pergi kemana?" Tentu saja Abrisam tidak akan memberitahu Rania mereka pergi kemana. Itu rahasia publik, dan hanya Abrisam saja yang tahu. Rania tidak dipe
"Hari ini kita … pulang ke rumah Abrisam." ucap Selena.Semua orang menatap Selena heran, dia pun langsung menatap satu persatu barang yang sempat mereka bawa ketika meninggalkan rumah Abrisam. Dan pagi ini, dengan semangat mereka pun kembali ke rumah Abrisam. "Mau menginap lagi di rumah kita?" tanya Alfa memastikan. Selena menggeleng, "Kita balik aja kesana, sampai Mami punya cucu baru pulang." Alfa memutar bola matanya malas, padahal Selena tahu sendiri jika dia tidak akan mendapatkan apapun dari hasil yang dia perbuat saat ini. Tapi tetap saja wanita itu masih ngeyel dan berharap jika dia akan menerima cucu suatu saat nanti. Dan pagi ini, Selena sengaja ingin kembali ke rumah itu pagi-pagi, karena tahu Abrisam maupun Rania belum juga bangun tidur. Biasanya mereka akan bangun terlambat, apalagi malam itu malam yang panjang untuk mereka. Tidak mungkin kan kalau mereka tidak melakukan apapun jika berdua saja? Selena juga memastikan semua cctv rumah untuk tidak melihat apa yang mere
Makan malam yang seharusnya masih hangat menjadi dingin karena ulah Abrisam. Pria itu tiba-tiba saja mengurung Rania di dalam kamar selama dua jam, sehingga masakan Rania menjadi dingin dan tidak enak kembali. Belum lagi, ketika mereka turun dan menikmati makanan mereka. Abrisam malah menolak masakannya untuk dipanasi. Sungguh, dia tidak ingin Abrisam sakit perut hanya karena makanan dingin. Rania juga sudah membuatkan teh hangat untuk Abrisam dan juga dirinya. Setelah ini mereka akan tidur nyenyak, Rania sudah capek dan lelah. Badannya sangat lelah dan remuk akibat ulah Abrisam. Untung saja rumah ini benar-benar sepi coba saja jika tidak? Akan ada banyak orang yang mendengar suara Rania yang mendadak menggelegar akibat ulah Abrisam.Selesai makan, akhirnya Rania pun langsung membersihkan meja makan ini dengan cepat agar terlihat rapi dan bersih. Dia juga meminta Abrisam untuk menunggunya di ruang tengah, mungkin pria itu ingin mendengarkan suara televis
Merasakan sebuah pelukan, Rania pun teringat kaget akan hal itu. Tak biasanya Abrisam memeluknya dari arah belakang ketika dirinya tengah masak. Biasanya pria itu akan memanggil namanya jika memang dia membutuhkan sesuatu. Tapi kali ini … "Kenapa Mas?" pertanyaan itu lolos dari bibir Rania. Dia yang sempat menghentikan potongan wortel nya, kembali memotong dadi wortel itu sebagai isian. "Jangan marah." Memangnya wanita mana yang tidak marah setelah melihat suaminya memangku wanita lain? Sedangkan selama ini Rania saja tidak pernah duduk di atas pangkuan Abrisam. "Nggak." hanya jawaban itu yang bisa Rania berikan pada Abrisam. Dia tidak tahu antara marah atau cemburu melihat suaminya seperti itu. Tapi sebisa mungkin, Rania menahan perasaannya untuk tidak menciptakan jarak diantara mereka. Jika saja nanti, suaminya memang masih memiliki perasaan itu pada Claudia, Rania bahkan siap untuk melepaskan suaminya untuk bahagia dengan wanita yang dia cintai "Aku tau kamu marah." Tersenyu
Helaan nafas keluar dari bibir Rania, dia menatap dua kotak makan siang dengan tempat berwarna merah muda. Kotak itu berniat ingin Rania bawakan untuk kantor Abrisam. Dan itu adalah permintaan Abrisam juga sebelum dia pergi ke kantor. Tapi, mendengar pagi tadi membuat Rania berpikir. Apa mungkin mantan kekasih suaminya itu akan datang ke kantor hanya untuk mengantar makan siang? Jika iya? Terus gunanya Rania datang kesana untuk apa? Selena yang melihat kegundahan Rania pun mendekat. Menawarkan diri untuk mengantar Rania ke kantor Abrisam, siapa tahu dia kesepian datang ke kantor Abrisam seorang diri. Tapi yang ada Rania menolak, dia bisa pergi sendiri lagian dia juga ada janji dengan Gaby untuk pergi bersama. Jadi, kalau nanti Selena ikut takutnya Selena akan merasa bosan. "Ya sudah, pokoknya hati-hati ya." Rania mengangguk, dia pun mengambil kotak itu dan membawanya ke dalam mobil. Disana sudah ada satu sopir yang biasanya mengantar Alfa ke kantor, dan kali ini orang itu yang akan
Suara bel rumah ini membuat Rania yang baru saja turun dari tanggal menoleh. Dia menatap pintu putih tinggi di depannya yang lumayan jauh dengan kening yang mengkerut. Ini masih jam sembilan pagi, dan sudah ada tamu yang datang? Wanita itu ingin membuka pintu rumah ini yang terus saja berbunyi, seolah sangat tamu tidak sabaran untuk masuk ke dalam rumah. Namun, mbok Atun lebih dulu berlari ke arah pintu dan membuka pintu rumah besar ini dengan lebar. "Selamat pagi Mbok Atun." sapa orang itu, yang masih bisa didengar oleh Rania. Mbok Atun berdiri dengan kaku, ketika tahu siapa tamu yang datang ke rumah ini. Orang yang entah sudah berapa tahun, tidak pernah muncul dan sekarang kembali muncul. "Non Claudia … " Mendengar namanya, Rania yang penasaran pun mendekat. Berdiri di balik tubuh gemuk Mbok Atun dengan bingung. Dia menatap wanita di depan pintu itu dengan heran. Pagi begini bertamu ada apa? Bahkan kalau dilihat Rania seolah pernah melihatnya tapi dimana? "Maaf, mau cari siapa
Abrisam pulang ke rumah tepat jam tujuh malam, dia merasa bersalah dengan Rania karena tidak bisa datang makan siang bersama dengannya. Dan kali ini Abrisam juga tidak bisa makan malam bersama dengan Rania kembali, karena dipaksa harus menemani Claudia makan malam. Tentang wanita itu, dia adalah tunangan Abrisam dulu, dia adalah wanita yang pernah Abrisam cintai dalam hidupnya. Dia adalah wanita yang pernah mengandung anaknya dulu. Dia adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki Abrisam. Sayangnya, wanita itu meninggalkan dirinya demi pria lain, karena malu memiliki kekasih buta seperti Abrisam setelah mengalami kecelakaan. Tentu saja itu menyakitkan, hubungan mereka juga terbilang sangat lama sedangkan ingin ke jenjang yang lebih serius yang ada dia pergi. Dan sekarang dia kembali? Untuk apa? Mengacak rambutnya, Abrisam merasakan kasur sampingan melesak, sekolah ada seseorang yang duduk di samping Abrisam. "Mas ini kenapa bajunya ada