"Maaf," ucap Anti seolah tidak saling mengenal, kemudian kembali meneruskan langkah.
Nadia berdiri mematung. Tidak disangka, akan bertemu dengan orang yang paling ia hindari. Namun, dirinya merasa aneh dengan sikap Sang Ibu.
"Nad?" panggil temannya.
"Eh, iya! Yuk, jalan," ajak Nadia kemudian.
Anti dan Nadia berjalan berlawanan arah seperti orang yang tidak saling mengenal padahal, keduanya pernah menjadi satu tubuh selama sembilan bulan.
Selesai rapat, Anti tidak bergegas pergi karena tidak mau berjalan berdesak-desakan dengan wali murid yang lain. Memilih tetap duduk sambil memainkan ponsel. Perasaannya masih sakit. Bertemu dengan anak kandungnya tapi, menyapa-pun tidak berani.
"Anti!" Sebuah suara memanggil.
"Mas Tohir!" ucapnya saat melihat sosok yang berdiri di barisan kursi depannya.
"Kamu tidak sedang menghadiri undangan Nadi, 'kan?"
"Jelas tidak, Mas! Aku hadir karena permintaan Ratri."
"Baguslah
Mohon maaf,kemarin sempat uploud sama, ya? Itu karena editan belum di-approve Kakak Editor. Dan sudah saya perbaiki. Apakah isi part 14 dan 15 sudah berbeda? Mohon koreksi bila saya melakukan kesalahan ya? Terima kasih ....
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi adalah sudah menjadi ketetapan dan skenario yang digariskan Allah. Tiada satu makhluk-pun berjalan tanpa kehendak Allah. Segala sesuatu yang terjadi sudah ada Sang Pengatur Kehidupan.Anti berangkat mengikuti kajian seperti biasa di hari Minggu.Saat ini, dirinya memang fokus memperbaiki diri. Tidak ada harapan apapun tentang masa depan kehidupannya. Karena merasa bahwa yang harus ia lakukan saat ini adalah berusaha melebur dosa yang telah ia lakukan dulu.Selesai mengikuti kajian, seperti biasa, Anti berbincang dulu dengan ustadzah yang dipanggilnya dengan sebutan Umi."Mbak Anti gak pengin gitu berpikir untuk menikah lagi?" tanya wanita berwajah teduh dengan jilbab lebar itu. Mereka berdua duduk di teras samping rumah menikmati hamparan sawah yang menghijau."Sementara belum kepikiran, Umi. Entah besok," jawab Anti dengan pandangan terus menatap tanaman padi yan
Anti menunduk. Berkali-kali berjumpa dengan pria itu, selalu berujung pada rasa sakit hati. "Kamu kenapa duduk di jalan sendiri?" tanya Agung lagi setelah pertanyaan sebelumnya tidak mendapat jawaban. "Bukan urusan kamu!" cetus Anti. "Ditanya itu dijawab!" Anti memilih diam lagi. "Kamu punya mulut, 'kan?" Anti bangkit dan segera bersiap menuntun kendaraannya lagi. Mata Agung awas pada ban motor Anti yang terlihat bocor. Pria itu turun dengan seketika dan mengejar Anti. Setelah dekat, direbutnya setang motor membuat Anti sedikit terhuyung. "Apaan sih?" teriak Anti tidak terima. "Bawa motorku!" perintah Agung sebelum akhirnya dirinya sedikit berlari mendorong motor Anti menuju bengkel. Anti bergeming, menatap kendaraan roda dua yang terparkir asal di pinggir jalan. Ada rasa enggan untuk menaikinya. Bagaimanapun cara Agung berusaha menolong hari ini, tetap saja, dalam hati ibu Nadia tersimpan rasa benci karena berkali-kali
Tanpa sepengetahuan Tohir, Erina mengajak Anti untuk bertemu. Karena menurut wanita itu, ada sesuatu hal yang harus diluruskan. Dalam hati tidak percaya kalau, Anti melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji di pinggir jalan. Meskipun masa lalu ibu Nadia tidaklah baik tapi, Erina benar-benar melihat Anti telah berubah. Tidak hanya penampilan saja. Namun, perilakunya terlihat sangat berbeda.Mereka telah berjanji akan bertemu di masjid besar yang sebelah tempat wudhunya ada sebuah teras luas. Tempatnya sepi sehingga , sangat tepat untuk berbincang sesuatu yang rahasia.Erina telah lebih dulu sampai. Wanita itu duduk dengan kaki menjuntai ke bawah. Posisi teras yang tinggi dari halaman, membuatnya bisa leluasa melihat keadaan sekitar. Setelah lima belas menit menunggu, terlihat Anti berjalan dari tempat parkir. Seketika hati Erina merasa trenyuh. Menyaksikan dia yang dulu terlihat begitu sempurna penampilannya, kini berjalan dengan sedikit pincang.Dari jauh, Anti s
Siang itu, di rumah Tohir terjadi kepanikan. Seorang polisi mengabarkan kalau Nadia mengalami kecelakaan hingga harus dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis. Erina dan Saroh terus menerus menangis. Menunggu Tohir mengeluarkan mobil dari garasi. Mereka bertiga menaiki kendaraan roda empat menuju rumah sakit yang disebutkan oleh polisi. "Ini semua pasti gara-gara Anti! Dia yang menjadi penyebab Nadia jadi tidak fokus. Jadi kepikiran terus masalah kelakuan dia. Makanya, naik motor jadi seperti ini. Kami juga sih, Erina! Ngapain sih, waktu itu kamu suruh-suruh Nadia buat nemuin Anti? Kalau terjadi apa-apa sama Nadia, aku juga tidak akan memaafkan kamu!" omel Saroh sambil menangis. Erina mendadak semakin sesak dadanya. Setelah kejadian Nadia menemui Anti, seringkali ibu mertuanya memojokkan dirinya terus. Sehingga tak jarang, Erina memilih pulang ke rumah orangtuanya karena merasa tidak nyaman. Terlebih jika mengingat kata-kata yang diucapkan Anti t
Tohir terduduk lemas di kursi depan meja dokter."Bapak bisa berangkat mencari darah sekarang. Sebelum keadaan terlambat," ujar dokter membuat Tohir tersadar."I-iya, Pak. Berapa kantung yang dibutuhkan?" tanyanya gagap."iniPria itu berdiri dan melangkah dengan gontai keluar ruang. Di pintu, Tohir sudah dihadang dua anggota polisi yang sedari tadi menunggu."Pak, bisakah urusan ini kita selesaikan nanti? Saya harus mencari darah dulu. Anak saya kritis dan membutuhkan banyak darah," pinta Tohir memelas."Anggota keluarga lain, Pak?" tanya salah satu dua pria berseragam cokelat."Ada istri saya sedang menenangkan Ibu. Apa tidak bisa nanti, Pak? Saya mohon kebijaksanaannya. Toh saya tidak akan melarikan diri," ucap Tohir asal."Bukan seperti itu, Pak. Ini untuk laporan karena ada korban lain yang ditabrak anak Bapak." Tohir terkesiap. Sedari datang tadi memang belum tahu bila Nadia menabrak orang lain. Pun dengan kronologi kejad
"Motor anak Ibu sekarang sudah kami amankan di kantor polisi. Pihak keluarga bisa mengurus ke sana. Selain itu juga, Ibu dan keluarga harus siap dengan tuntutan yang mungkin akan dilakukan oleh keluarga korban.""Baiklah, Pak. Seperti apapun nantinya yang akan kami hadapi, entah tuntutan ataupun proses apapun yang melibatkan pihak kepolisian, kami mohon tidak saat ini, Pak. Biarkan kami fokus dulu pada penanganan keselamatan anak kami. Setelah itu, pihak keluarga akan ada yang datang ke kantor polisi mengurus semuanya. Bapak bisa menghubungi kami setelah anak kami bisa melewati masa kritisnya bila kami belum juga datang ke sana," ucap Erina memberi keputusan. Pikirannya buntu. Hal yang ada dalam hatinya yang utama adalah keselamatan anak tirinya."Baiklah, Bu. Kami permisi kalau begitu. Nanti bila keluarga Ibu sudah siap mengurus, datanglah ke polres dan cari saya, bilang saja mau bertemu Pak Agung.""Iya, Pak," lirih Erina hampir tidak terdengar.Sepenin
“Tapi tidak mudah cari yang sama seperti golongan darah yang Nadia miliki, Bu,” ujar Tohir seperti berharap ibunya akan sedikit melunak hatinya.“Tidak akan pernah Ibu ijinkan wanita itu datang ke sini. Masih banyak cara untuk dapat darah yang sama untuk Nadia. Kita bisa bayar orang untuk itu!” kekeh Saroh.“Ya sudah kalau seperti itu, Ibu coba yang cari pendonor yang darahnya sama seperti Nadia. Aku benar-benar tidak sanggup.” Tohir menyerah.“Bu, maaf. Tidakkah bisa Ibu membedakan situasi yang genting dengan yang tidak? Tidakkah Ibu lebih memikirkan keselamatan cucu Ibu daripada rasa sakit hati karena masa lalu? Ini keadaan yang darurat, Bu ...,” tambah Erina geram. “Hanya Mbak Anti yang bisa kita mintai tolong saat ini. Dan juga, jika kita bilang sama dia Nadia butuh darah, tentu tidak perlu meminta ataupun memohon, Mbak Anti sudah paham,”“Erina! Lancang kamu membantah apa
bersiap akan menjenguk Nadia kembali."Jangan pernah datang lagi dalam kehidupan Nadia. Jangan pernah meracuni pikiran Erina! Dan jangan merasa berjasa karena telah memberikan darah kotormu pada cucuku. Aku sebenarnya tidak setuju. Karena Erina memaksa maka aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya berharap, kelakuan kamu tidak akan menular pada Nadia karena darah kotormu itu!"Anti bergeming. Terasa ada yang menusuk hati. Baru kali ini dirinya merasa, apa yang dikatakan mantan mertuanya sungguh di luar batas. Netranya mulai memanas. Namun, diusahakan agar tidak jatuh.Suasana sekitar sepi, hanya deretan kendaraan yang berjajar di halaman rumah sakit yang menyaksikan betapa seorang Saroh telah mengatakan hal yang sangat tidak manusiawi terhadap orang yang telah berjasa pada cucunya."Atau, kamu bilang saja, mau berapa? Kami siap membayar darah kotormu dengan harga yang sangat mahal. Asalkan, kamu tidak akan pernah muncul di hadapan Nadia dan mengatakan ka
Part 11 POV Dania (Ending) Lelah hati tatkala harus menghadapi banyak hal. Akhirnya aku menyerah pada keadaan. Aku tidak akan memaksakan takdir apapun sekarang. Selalu bertemu dengan orang-orang yang membuat hati ini sakit hati, membuatku semakin sadar kalau hanya keluarga Laura saja yang baik padaku. Melihat penghianatan Nindi dan juga sikap Cika yang masih dingin dan membenciku, membuat hati ini sudah memutuskan. Aku akan menghilang dari hidup orang-orang yang mengenalku. Untuk apa mempedulikan Cika yang sangat membenciku? Baginya, Ines adalah ibunya. Setelah Nindi keluar dari rumah, Laura menelpon malam-malam dan menangis. Ia mengatakan kalau pacarnya ternyata selingkuh dan dia seorang diri. Laura menanyakan perkembangan hubunganku dengan Cika, dan aku menjawab apa adanya. “Cika tidak akan pernah bisa menerimaku. Itu kenyataannya,” jawabku sudah pasrah dengan keadaan. “Dania, aku minta maaf, bisakah kamu kembali kesini? Hidup bersamaku dan aku menarik semua ucapanku kemarin,” p
Part 10Tiga hari tinggal bersama, dia tetap masih diam. Makananku tetap disiapkan, tetapi menunggu aku keluar untuk makan sendiri. Dia sama sekali tidak seperti dulu yang memanggilku, menyiapkan baju ganti dan segala keperluanku. Akhirnya, pagi ini kuberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.“Apa aku akan diusir seperti Nindi?” tanyaku pelan. Dia yang lagi-lagi berkutat dengan laptop--mengangkat wajah.“Pilihlah mana dari milikku yang akan kamu ambil, Cika! Sisanya, bila kamu tidak mau, maka akan kujual. Kamu bisa gunakan untuk keperluan hidupmu. Itu jika kamu mau,” jawabnya tanpa ekspresi ramah.Aku memainkan jari jemariku. Bingung hendak menjawab apa. Ponselnya berdering dan dia langsung mengangkatnya. Aku masih berdiri mendengarkan dia berbicara dengan orang yang kukira ada di luar negeri.Meski sudah lama tidak pernah belajar bahasa asing lagi, tetapi aku tahu apa arti dari ucapan yang disampaikan seseorang dari seberang telepon sana. Speaker ponsel yang dihidupkan membuatku bi
Part 9“Mbak Dania, aku minta maaf, Mbak, aku akui memang salah dan aku akan meminta dia untuk keluar dari rumah Mbak Dania asalkan Mbak Dania masih mengizinkan aku untuk tetap di sini. Aku akan menjaga Cika, Mbak, aku janji,” kata Nindi sambil bersimpuh dan memegang kaki dia.“Aku sudah tidak butuh siapapun lagi, Nindi. Aku akan membiarkan orang-orang yang hanya memanfaatkanku dan juga orang-orang yang tidak menyukaiku untuk pergi dari hidupku. Aku tidak akan memaksakan takdir bahagia bersamaku, jadi, kamu tidak perlu bersimpuh meminta, karena aku sudah akan menghapusmu dari daftar orang-orang yang kukenal,” jawab dia santai.Seketika aku memandang wajah cantik itu. Ada sebuah perasaan terluka di sana. Jika dia benar-benar tidak mau lagi mengurusku, maka, siapa yang akan mengurusku lagi? Tiba-tiba saja ketakutan besar menguasai hati.Wajah itu, dia tidak mau melihat padaku. Padahal, aku berharap itu.Nindi masih bersimpuh sambil menangis.“Dimana mobilku, Nindi?” tanya dia datar.“Ee
Part 8POV CikaAku memilih masuk dan duduk di atas hamparan pasir meski terik matahari terasa sangat menyengat di kulit. Benar-benar bingung hendak minta tolong dan mengadu pada siapa, maka kuputuskan untuk menangis seorang diri.“Ya Allah, kirimkan bantuan untukku. Ya Allah, ampuni aku jika aku selama ini nakal dan banyak dosa. Ya Allah, aku janji, jika aku mendapatkan pertolongan untuk masalahku ini, aku akan kembali sholat seperti saat di pondok dulu. Jika ada orang yang menolongku, maka aku akan menjadikannya sahabat,” ucapku sambil menangis.Lama aku berada dalam posisi ini, hingga leher terasa pegal, lalu aku mengangkat kepala. Saat menoleh, ternyata ada seseorang yang duduk di sebelahku dan dia melakukan hal yang sama.Menatapku.Deg.Jantungku berpacu lebih cepat tatkala mendengar orang itu memanggil namaku. Dia sosok yang kurindu, tetapi juga kubenci.“Kenapa kamu berpanas-panasan sendirian di sini?” ucapnya sambil berteriak.Aku diam, enggan menjawab. Teringat olehku Nindi
Part 7POV DaniaAku menatap tubuh Nyonya dan Tuan yang terbujur kaku di rumah sakit dengan darah bersimbah di sekujur tubuh mereka–dengan hati yang sangat hancur.Baru sebentar kembali bekerja bersama mereka yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, tetapi harus merasakan sakitnya kehilangan. Nyonya dan Tuan tewas dalam kecelakaan tunggal. Mobil yang mereka tumpangi menabrak sebuah pohon dan nyawa mereka langsung hilang di tempat itu juga.Tak tahu lagi harus berusaha tegar seperti apa. Karena mereka berdua adalah keluarga yang kumiliki saat ini dan kenapa takdir selalu tidak berpihak padaku?Mayat Nyonya dan Tuan dimakamkan dua hari kemudian setelah berbagai prosesi keagamaan mereka berdua berlangsung. Kini, saat semua pelayat pergi, aku hanya berdua saja dengan anak semata wayang Nyonya yang berusia dua puluh tahun.“Aku akan melanjutkan kuliah di negara sebelah. Kamu jika masih mau di sini, maka harus mencari pekerjaan lain. Karena aku sudah tidak bisa membayarmu. Rumahku aka
Part 6POV CIKAAku menatap rumah besar itu, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Meski keberadaanku tidak diakui di sini, tetapi nyatanya, belasan tahun diriku hidup di sana.Walaupun tanpa kenangan indah, tetapi aku bisa melakukan apapun di rumah itu. Kini, aku harus melangkah pergi untuk yang terakhir kalinya. Hati benar-benar sadar, jika memang diri ini tiada lagi diharapkan oleh mereka. Kehadiranku di rumah itu hanya untuk mengukir kisah sedih.Hari ini aku pergi dengan naik taksi. Pulangnya, memilih berjalan menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang semuanya memiliki pagar yang tinggi. Sengaja memilih berjalan kaki, hanya sekadar ingin menikmati rasa yang sangat menyesakkan dalam dada ini. Rencananya, nanti akan pulang dengan naik bus. Di dekat gerbang perumahan ini ada sebuah halte.Langkah kaki ini berjalan lambat. Aku sadar kini aku sudah benar-benar sendiri, dan sebentar lagi, bisa saja harus tiba-tiba hidup dengan sosok yangtidak kukenal sama sekali. Aku Cika, harus ber
Part 5Sebuah ketukan di luar pintu kamar membuat Cika beranjak dari tempat tidurnya. Ia yang sudah setengah mengantuk terpaksa bangun untuk menemui orang yang sudah pasti itu Nindi. Dengan memicingkan mata, Cika menatap perempuan yang masih lajang itu yang sudah siap dengan koper besar.“Mbak Nindi mau pergi?” Seketika mata Cika yang semula setengah mengantuk terbuka sempurna.“Iya,” jawab Nindi singkat dan ragu.Napas Cika mulai narik turun. Antara takut dan kaget.“Mbak Nindi, aku sama siapa di sini?” tanya Cika mulai menampakkan ketakutannya.“Sudah saatnya kamu belajar hidup mandiri , Cika. Tidak mungkin aku akan terus bersama dengan kamu. Ibu kamu saja sudah pergi. Dan keluarga kamu saja sudah tidak memperdulikan keberadaanmu lagi. Masa aku yang bukan siapa-siapa kamu harus bertahan di sini? Aku punya impian untuk menikah, aku punya keluarga yang harus aku rawat. Jadi, aku akan pergi sekarang dan mulai saat ini, kamu hidup di sini sendiri,” jelas Cika.“Mbak Nindi, tidak bisakah
Part 4 Cika merasa sangat kesepian dengan hidup yang dijalani saat ini. Bingung karena setiap hari yang dilakukan hanyalah makan dan tidur saja. Hendak keluar untuk sekadar mencari kesenangan bersama teman-temannya pun susah dilakukan karena rumah yang ditempatinya saat ini cukup jauh dengan rumah kawan semasa ia sekolah. Bermain ponsel juga membuat kepalanya pusing. Nindi juga lebih banyak menghabiskan waktu di kantor. Jika malam minggu tiba, gadis yang sudah dewasa itu akan keluar bersama dengan sang kekasih dan pulang jika sudah dini hari saat Cika sudah terlelap dalam mimpi. Dua bulan sudah dilalui Cika hidup seorang diri di rumah besar peninggalan Dania. Di suatu pagi, Cika yang baru saja bangun menemui Nindi yang tengah sarapan pagi. Dengan langkah berat dan kepala tertunduk berjalan pelan menghampiri Nindi yang sedang sarapan. “Kenapa?” tanya Nindi saat Cika sudah sampai di hadapannya. “Pembantu yang katanya mau datang itu, apa tidak ada kabarnya?” tanya Cika ragu. Sikap ke
Part 3Langit mulai gelap. Tidak ada bintang satupun di sana. Aku mulai menoleh ke kanan dan kiri mencari sebuah tumpangan yang bisa membawaku pulang. Entah pulang kemana. Dalam keadaan bimbang, aku membuka ponsel. Ternyata Rindi menelpon banyak ke nomorku. Ia juga berkirim pesan. Aku membukanya, tetapi hanya di bagian akhir yang kubaca.[Kamu kemana saja?][Kenapa belum pulang?][Cika, balas pesanku!][Cika, kamu kemana? Cepat pulang]Aku takut, tetapi tidak mungkin aku mengatakan kalau saat ini sedang di bandara. Akhirnya, aku memilih mencari taksi dengan berjalan keluar bandara. Tidak ada tempat lagi untuk pulang selain rumah Dania dan aku berharap Rindi sedang menungguku di sana. Aku sangat takut.Seketika bernapas lega saat kulihat Rindi tengah menungguku dengan cemas. “Dari mana saja kamu?” tanyanya cemas dengan wajah marah.Kali ini aku tidak akan melawannya. Dia satu-satunya orang yang masih peduli berada di sisiku. Aku diam sambil memainkan ujung kuku.“Cika, kamu dari mana?”